Really I Didn’t Know

Untitled

 

Really I didn’t know

Author: syasa adinda(@syasaadinda)

Maint cast

–          kris

–          Yui (you)

–          Anggota exo lainnya

 

Genre: romance, sad, trailer.

Note: cerita ini pernah di publish di http://fakhrunnisadinda.wordpress.com/ happy reading:D

 

 

Tercium aroma basah pagi hari menyentuh hidungku. Dengan tongkat putih yang mengetuk setiap jalan, aku memegang benda tersebut dengan erat. Tiada kata untuk menyerah, tiada waktu membuat ku terjatuh.

Dengan suara ku melihat. Dengan sentuhan ku merasa, dengan mencium melewati hidung ku tau suasana.

mata?’

Hanya kabut berwaran abu-abu. Seperti layar buram yang memenuhi dunia. Tiada kejelasan, tiada penyimpulan arti dari penglihatan ku.

dia?’

Ya, kau tau siapa dia? Aku sangat ingin tau siapa dia. Setiap pagi aku berjalan dan pulang pada tengah malam. orang itu selalu berada di samping maupun di belakang ku. tidak bicara, tidak melakukan interaksi. Siapa dia? Aku bisa merasakan aroma parfum dan pergerakannya yang selalu berjalan pelan dan hati-hati.

Memberiku jalan yang layak, tidak membuat terluka atau menghalangi ku untuk lewat. Semua jalan seperti sebuah jalan mulus untuk ku ketuk dan berjalan.

kris prov

Ku pandang tubuh seorang wanita yang terus mengetuk-ngetuk jalan dengan tongkatnya. Dengan perlahan aku berjalan di belakangnya, berhati-hati untuk tetap terjaga. Seperti biasa, jam 10.45 pagi dia akan duduk menunggu di halte bus.

Dengan sigap aku berjalan cepat menuju halte, membersihkan tempat duduk yang biasa dia pilih. Dan membuang semua benda yang akan membahayakan dia berjalan. Dan tepat sekali, dia berjalan dengan senyuman yang indah menuju halte bus ini.

Duduk di tempat yang ku bersihkan. Apa dia tau? Itu aku. apa dia merasakan keberadaan ku? ku harap jangan. Jika iya, ku mohon tetap lah berpura-pura aku tidak ada.

Sesekali angin menutup wajah cantiknya, ingin rasanya meyetuh dan membenarkan rambut yang menutupi wajahnya itu. tapi tangan ku selalu terhenti tepat 5 centi dari wajahnya. Tangan ku selalu terhenti 5 centi dari tangannya. Tangan ku selalu terhenti 5 centi dari tempatnya.

5 centi itu, apa akan menjadi jarak yang dekat? Atau malah akan menjadi jarak yang begitu jauh?. Aku takut jika aku memperkecil 5 centi itu akan membuat nya berubah akan keberadanku. Lebih baik begini, lebih baik seperti ini. sangat lebih baik tetap seperti ini.

“selamat malam” gumamku pelan melihatnya masuk kedalam rumah.

Tunggu sedikit lagi, tunggu sebentar lagi. Cukup sebentar saja, untuk menenangkan gundahku setiap meninggalkannya sendirian.

Bip,

“gelap” gumamku kembali.

Ruangannya yang pertama terang kini sudah gelap menandakan orang yang didalam sudah tidur. Rasanya sulit bagiku beranjak pergi jauh dari tempatnya.

“tunggu aku, besok aku akan kembali” gumamku kembali beranjak meninggalkan tempatnya.

 

__oOo__

 

Terlihat coret-coret garis hitam pinsil dari tanganya. Ku coba beranjak dari sampingnya mengarah ke jendela. Sekarang ku berada di sebuah tempat lukis, yang biasa ku datangi bersamanya setiap hari ke3 dari seminggu.

“mendung” gumamku melihat  langit.

Ku coba berbalik dan melihat wanita itu. terlihat dia mencoba berdiri dan mencuci tangannya. Sepertinya dia sudah siap melukis. Karena penasaran dengan apa yang dia lukis. Ku coba mendekat pada sebuah kanvas besar.

Dengan hati-hati ku coba melangkah tanpa suara. Ku sentuh kanvas tersebut dan melihat gambarnya secara detail.

DEG’

Gambar ini.

Apa dia yang menggambarnya?

Tidak mungkinkan ini terjadi?

Dia menggambar..

“aku?”

Mataku membulat seketika. Apa dia bisa melihat ku? bukankah dia buta?. Sebuah  tangan menyentuh pundak ku. membuatku Tersadar dari segudang pertanyaan di kepalaku.

“apa kau menyukainya?”

Ku coba berbalik dan melihat sosok yang bertanya.

dia’

Dia wanita yang ku kenal, wanita yang ku jaga, wanita yang ku lindungi. Wanita yang selalu ku ikuti kegiatannya. Dia bertanya dengan senyuman di wajahnya. Aku hanya terdiam tidak bicara seperti biasa, dia mulai menyerit dahi. Sepertinya dia bingung karena lawan bicaranya tidak merespon.

“kau tidak suka ya? Apa lukisan ku jelek?”

“a-a-ani-yeo”

Dia, tersenyum LAGI.  Ini seperti sejarah, ini adalah pertama kalinya kami bicara. Walau tidak dengan menatap mata. Ku rasa ini sudah cukup, ini cukup membuat ku senang.

“saengil cukkae hamnida, ini hadiah dariku untuk mu”

DEG’

Dari mana dia tau aku ultah hari ini.

“terima kasih telah menjagaku selama ini. walau aku tidak tau siapa kau. Ku rasa kau orang yang baik. Tapi aku takut, aku akan selalu merepotkan mu. Aku ta-“

Sebelum sempat dia melanjutkan kalimatnya. Aku meraihnya dalam dekapanku. Ku peluk erat tubuhnya.

“biarkan seperti ini, sedikit lebih lama” gumamku pelan di telinganya.

Jangan seperti ini, ku mohon jangan seperti ini. ini akan berat, ini akan membuatku semakin sulit membuat semuanya kembali seperti semula. Tidak seperti ini yang ku mau, lakukanlah yang buruk kepadaku. Karena aku pantas menerimanya.

Jangan seperti ini, rasanya terlalu sakit untuk ku terima. Aku bukan orang baik, aku adalah orang jahat. Aku sangat jahat YUI. Aku adalah orang yang jahat YUI.

“YUI” gumamku pelan.

“ne, kau tau namaku?”

Terasa sedikit basah di kedua pipiku. Aku tidak sanggup lagi untuk bicara. Sepertinya kata-kata tidak akan membuat ku menjadi orang yang di maafkan. Dadaku terasa sakit dan sesak. Hari itu hanya terdengar sedikit isakkan tangis yang menyelimuti.

 

__oOo__

 

 

Oo-Flashback-oO

“aku ingin berhenti”

“tidak bisa, kris hyung. Kau tidak bisa melakukannya”

“kai-ssi. Aku ingin menjadi orang yang normal. Yang yang hidup dengan damai, tanpa ada bertumpahan darah dan suara tembakan”

“kau kira, hanya kau yang ingin hidup seperti itu. bukan hanya kau, tapi aku. ah, tidak. Bukan aku. kita semua juga mau hidup seperti itu hyung”

“jadi aku berhenti”

“tidak bisa”

“wae?”

“kau tau arti dari kertas putih di atas mejaku hyung”

“aku tidak mau membunuh lagi kai”

“kau tidak sendiri hyung, kau akan di tugas kan bersama anggota B-105”

“B-105? Bukankah biasanya aku bersama anggota A-202?”

“A-202 adalah anggotamu yang terbaik. Tapi mereka sedang menjalankan tugas sekarang. Setidaknya dengan anggota sehun kau kan lebih mudah”

“huh, sehun adalah junior ku”

“tapi kemampuannya bisa di percaya”

“baiklah, ini untuk terakhir. Setelah itu aku berhenti.”

“terserah dengan keputusan mu hyung”

Dengan bermodalkan 2 benda hitam terletak di antara kaki dan pinggangku. Malam ini akan menjadi akhir dari semuanya.

tunggu aku sedekit lagi, sedikit lagi aku akan datang yui’

Sebuah rumah mewah anggota perwakilan Negara yang menjadi incaran kami malam ini. kami mulai telusuri setiap lorong dan kamar. kenapa rumah ini begitu besar? Aku tidak sabar untuk menuntaskan tugasku malamini.

Besok, adalah hari baru untukku. Aku tidak kan menunda, aku tidak akan  menunggu lagi. Seorang wanita menyadarkan ku, sorang wanita membuatku berubah. tapi cukup sulit bagiku mengakui tentang perasaanku. Dengan status pekerjaan yang hina ini. setidaknya besok sudah berakhir.

DOOR..

BUG, BUG.

Terdengar keras tembakan-tembakan dan pukulan dari ruangan utama.

“selesai” gumamku melihat darah yang mengalir leluasa mengiasi dinding-dinding dan lantai ruangan besar ini.

Terakhir kami membakar tempat mewah ini dengan ledakan kecil yang kami buat. Sehingga membuat kejadian ini seperti kecelakaan. Bukan pembunuhan.

“AAAAAAAAAKKKKHHHHHHHHHH..”

Dengar teriakan melengking dari atas, apa ada lagi orang di atas?

“hyung, ada yang masih hidup.”

“jeongmal?”

“tadi aku mendengar teriakan. Bukankah kita sudah meledakkan rumahnya”

“ biar aku cek”

“tapi hyung”

“cukup bahaya, kau yang pergi sehun. Bawalah anggota lain ke markas, biarkan aku yang menyelesaikan yang ini”

“baiklah hyung. Semuanya kita kembali kemarkas.”

Ku coba memanjat dinding dan dengan sedikit lompatan. Aku sudah berada di sebuah kamar.

BRAK.

Terdengar seperti pecahan kaca menyentuh lantai, aku melihat sosok yang terduduk di lantai dengan meraba-ramba sekitarnya.

“APPA? EOMMA?” teriaknya

Dengan perlahan ku coba mendekat dan menyentuh pundaknya.

DEG’

Dia?

Sudah ku pastikan hari esok adalah hari terburuk untukku. Hari esok adalah hari penyesalanku.

“yui” gumamku pelan

“siapa disana? Appa? Apa itu appa?”

Aku hanya menutup mulut dan menahan isakkan tangis yang akan keluar dari bibirku.

Terlihat sangat jelas, rambut panjang yang sedikit menutupi wajahnya. Dengan darah yang terus mengalir dari kedua matanya. Aku terus merutuki diriku. Kris pabo, kris pabo, kris pabo. Bagaimana bisa kau tidak tau ini rumahnya. Bagaimana kau tidak tau mereka adalah keluarganya.Lihatlah disana, wanita yang kau cintai. Wanita yang menjadi hari esok mu adalah hari yang baru. Wanita yang merubahmu, wanita yang menyadarkan mu. Kau mengubah dunianya dengan sekejap.

“aku pantas mati” rutukku dalam hati.

Maaf, maafkan aku. tidak, jangan maafkan aku. ku mohon jangan maafkan aku. aku orang yang jahat, aku orang yang membunuh keluargamu, aku membunuh kehidupan cerah mu Dan aku adalah orang yang membunuh penglihatanmu. Aku tidak pantas akan cintamu.

__oO flash back End Oo__

Ku coba mengadahkan kepala keatas, terasa air yang mengalir keluar dari pelupuk mataku. Dengan mantap aku berjalan pelan mendekati seorang wanita yang terus mengetuk jalan penyebrangan.

“hijau” gumamku melihat lampu lalu lintas.

Masih dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, apa begitu senangnya kah dia sehingga tidak berhenti tersenyum.

“hei, ajjusi”

“ne, cho-cho ch-cho neun?”

“ne, neo ajjusi. Aku tidak tau nama mu, apa boleh aku boleh tau sekarang siapa namamu ajjusi?”

Aku terdiam.

Cukup lama membuatnya menunggu, sepatah kata pun tidak ada menjawab pertanyaannya.

“em, arraseo kalau kau masih tidak mau mengatakkannya”

Ku lihat dia coba berjalan.

Tidak, tunggu dulu. Lampu masih hijau. Apa yang dia pikirkan.

“hey, apa. hey apa kau lakukan. Jangan. Hey, jangan berjalan sekarang. HEY !!!”

Teriakku menangkap tubuhnya.

Tiiiiiiiiiiinnn.. Tiiiiinnnn………….

BRAAAKKKK..

gelap’

Semuanya tampak gelap, dekapan ku mengendur. Tidak terasa apa pun.

“ajjusi.. ajjusi.. ajjusi..”

Samar-samar aku mendengar panggilan. Panggilan seorang wanita, wanita yang sangat ku cintai. Tunggu aku sebentar, aku akan kembali. Tunggu sebentar, rasanya sulit untukku bergerak. Perlahan ku buka kedua mataku .

Terlihat seorang wanita yang tengah menangis meraba-raba jalan. Dia terus berteriak. Ah, tidak. Lihatlah. Kepalanya berdarah.

“yui” gumamku pelan.

“ajjusi, ajjusi”

Dia mendekat dan tetap meraba jalan.

“neo gwecahan ajjusi”

Perlahan ku buka jas yang ku kenakan dan mencoba menghentikan darah yang keluar dari kepalanya.

“setidaknya ini membuatku tenang” gumamku pelan

“ajjusi, neo gwechana?”

Tiiinnnnnnn.. Tiiinnnnn..

Samar-samar ku lihat kembali cahaya yang jauh datang mendekat. Kenapa harus datang lagi? Perlahan ku genggam tangannya erat dan berbisik pelan kepadanya.

“gwechana, tunggulah aku yui. Tunggulah aku sedikit lebih lama. Aku akan kembali. Aku janji semuanya akan baik-baik saja. Tapi Ada satu permintaan ku”

“apa itu?”

“maukah kau berhitung sampai 10. Setidaknya itu akan membuat perasan mu akan tenang”

“ne,”

“1… 2… 3..”

“bagus”

Ucapku mengelus rambutnya, dengan perlahan cahaya itu semakin dekat mengarah pada yui. Ku coba berdiri dengan sedikit merintih. Dan mengarah pada cahaya tersebut. setidaknya ini akan menebus semua kesalahan ku.

“yui” gumamku melihatnya.

Masih terdengar hitungannya yang sudah mencapai pada akhir.

“6.. 7.. 8..”

Tiiin… Tiiin…

tunggulah aku sedikit lebih lama yui.’

“9…”

Tiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnn….

ini akan lebih lebih baik’

BRAAAKKKKK..

“10…”

Terasa sedikit basah di bagian kepalaku, sudah bisa di pastikan seluruh tubuhku berbau amis. Sakit, tubuhku sulit untuk di gerakan. Semakin lama semakin berat dan menjadi GELAP.

yui prov

Aku hanya terduduk, mengetuk-ngetuk jalan dengan tongkat.

“apa dia tidak datang lagi?”

Sudah lima hari sejak kejadian aku menghitung sampai 10, aku berteriak memanggilnya. Dia tidak menjawab. Hanya  tercium aroma amis yang menyengat menyentuh bagian kakiku.

“apa itu darah?” gumamku dalam hati.

Aku terus duduk di tangga rumahku. Entahlah sudah berapa jam aku terduduk disini. Aromanya, bau parfum atau tanda dari pergerakannya tidak ada lagi ku rasakan.

kemana dia?’

“yui”

DEG’

Itu dia.

“ajjusi”

Dia terdiam. Cukup lama, hingga sebuah buku terjulur mengarah ke tanganku.

“apa ini ajjusi”

“buku, dan ku rasa sosok yang kau cari bukan aku yui”

“maksud mu?”

“ah, akan lebih baik aku perkenalkan diri. Yui, perkenalka namaku luhan. Aku adalah sahabat dari orang yang kau cari. Apa kau tau namanya?”

“ajjusi itu”

“ajjusi? Kurasa itu sebutan itu belum pantas untuk kris”

“k-k-kris?”

“ne, namanya kris. Orang yang kau cari namanya kris”

Kris, aku tau sekarang. Siapa dia, orang yang selalu meminta nasehat ku. orang yang selalu melihatku tanpa menyapa. Orang yang selaluku nanti, orang yang selalu ku tunggu. Selama ini dia tidak pergi. Dia tidak menghilang.Dia selalu di samping ku.dia tidak jauh, dia dekat denganku. Dia selalu menjagaku.’

“kau-kau tau dimana dia sekarang luhan-ssi”

Orang yang ku ajak bicara hanya terdiam, dan menarik tangan ku pelan.

“ne, akan ku tunjukkan tempat dimana dia sekarang”

“gamsahamnida luhan-ssi”

maafkan aku kris’ rutuk luhan dalam hati.

__oOo__

 

“disini tempat kris sekarang yui”

“disini”

“ne, kau bisa sedikit berjongkok dan merasakannya”

“ne, arraseo”

Ku coba berjongkok dan dengan tuntunan dari tangan luhan aku merasakan sedikit yang berbeda.

“maaf, luhan-ssi.bukan kah ini gundukan tanah”

Orang yang ku ajak bicara hanya terdiam.

DEG’

Seketika ku dengar sedikit isakan tangis yang keluar dari bibir luhan.

“maafkan aku yui. Aku tidak bisa bisa mengontrol perasaan ku sekarang”

“ne, menangis lah” ucapku beriringan dengan tetasan air mataku .

kris oppa’

Aku hanya terdiam mendengar isakan tangis luhan yang tanpa terkontrol menjadi raungan. Dengan mantap ku tarik nafas dalam-dalam dan mulai mengeluarkan sepatah kata.

“kris oppa, annyeong. Aku yui, maaf jika selama ini aku memanggil mu ajjusi” ucapku sedikit tertawa.

“habisnya kau tidak bilang itu kau. Kau tidak pernah bicara padaku” lanjut ku sedikit tercekat

“mianhae, aku merepotkan. Mianhae, aku menjadi buta. Mianhae,mianhae.” Aku sedikit menangis dalam diam. Ku seka air mata dan melanjutkan kalimat ku lagi.

“oppa, mianhae. Mianhae selama ini aku berpura tidak tau. Mianhae selama ini aku membuat mu menjadi orang yang terburuk. Mianhae. Kau pernah bertanya padaku sehari sebelum kejadian hari itu”

‘kau bertanya: apa aku akan di maafkan?’

“gwechana, gwechana. Dari jauh hari, sebelum kau mendampingi ku setiap saat. Aku sudah memaafkan mu.” Ucapku lirih.

Air mata ini tanpa bisa ku kendalikan terus keluar beriringan dengan kalimat yang ku lontarkan.

“cukup kau berada disisiku itu sudah cukup. Kau megatakan padaku, untuk menunggu sedikit lama. Sedikit lebih lama dan biarkan seperti ini. apa kau tau oppa semua ini tidak akan lama. Aku akan berada  disisi mu lagi. Kau akan berada di samping ku lagi. Jadi tungggulah aku, tunggulah aku oppa. Mungkin ini akan sedikit lama. Tunggulah aku datang” ucapku.

Mataku sedikit basah akibat cairan bening yang terus turun. Aku sudah berusaha menutup mulut ku untuk tidak mengeluarkan isakkan tangis. Semakin lama aku menutupnya, semakin besar rasa sakit yang ku rasa. Semakin lama ku redam tangisku semakin besar sesak menghujam ku.

Tunggu aku. tunggu aku sedikit lebih lama.

 

__oO END Oo__

11 pemikiran pada “Really I Didn’t Know

  1. FFnya keren, thor!
    Thor, aku mau kasih saran boleh ya?
    waktu aku baca ffnya, ada bbrapa tanda baca yang harusnya ga ditempatin disitu, malah ada disitu. Jadi aku pribadi bacanya agak pusing juga. Tapi, over all udah bagus ko, Thor.

    Lebih semangat lagi, Author-nim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s