Snow Baekkie and Seven Dwarfs

apples

Snow Baekkie and Seven Dwarfs

Main Cast: All EXO Member | Lenght: Oneshot | Genre: Friendship, Comedy, Bromance | Rating: [G]

Desclaimer:

This story adapted from the most popular storytale from Germany —‘Snow White and Seven Dwarfs’

Summary:

Mirror, mirror in the wall, siapa wanita tercantik di negeri ini?”

“Pada suatu hari, dahulu kala hiduplah seorang ratu yang sangat cantik, dia ratu tercantik di negeri itu hingga ia punya cermin ajaib yang dapat menjawab pertanyaannya. Dan suatu pagi, ratu itu bertanya pada cerminnya.”

Mirror, mirror in the wall, siapa wanita tercantik di negeri ini?” Tao berbicara pada sebuah cermin yang tergantung di dinding.

Hening.

“Yixing, giliranmu.” bisik Jongdae sambil menyenggol lengan Yixing.

Yixing berdeham, “You’re, my Queen. Kau yang tercantik di negeri ini.” ujarnya lantang

Chanyeol kembali pada naskahnya.

“Suatu hari di pertengahan musim dingin saat salju-salju selembut kapas turun dari langit, seorang ratu dari kerajaan berbeda sedang duduk di jendela sambil menjahit, tiba-tiba salah satu jarinya tertusuk jarum dan tiga tetes darahnya jatuh di atas salju. Saat itu dia benar-benar ingin mempunyai seorang anak dengan kulit seputih salju, bibir semerah darah dan rambut sehitam bingkai jendela. Hingga suatu hari ratu itu benar-benar memiliki anak perempuan dengan kulit seputih salju, bibir semerah darah dan rambut sehitam ebony yang bernama.. emm.. Byun Baekhyun?” Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, kemudian melanjutkan, “Dia ting—“

“Nama Byun Baekhyun tidak cocok untuk seorang putri.” potong Kyungsoo.

“Iya, sih. Perutku rasanya agak mual membaca narasi ini.” ucap Chanyeol sambil memegangi perutnya.

“Mungkin bisa diganti Snow Baekkie?” celetuk Sehun.

Baekhyun membawa pandangannya menerawang udara di atas kepalanya, satu tangan di pinggang dan satunya lagi memegang lembar-lembar naskah. Dia sedang berpikir.

Not bad, walaupun seperti nama anak anjing.” Baekhyun memutuskan.

“Kau kan memang baby Baekkie-ku.” ujar Chanyeol gemas dan Baekhyun mengerling padanya.

Hyung menjijikkan.” Sehun bergidik. (Oke, aku setuju padamu, Sehun.)

“Ayo lanjutkan latihannya sebelum eyelinerku luntur.”

Baekhyun mengangkat sedikit gaunnya yang melebihi mata kaki lalu kembali berjalan ke posisinya semula—diantara raja dan ratu.

 

Seorang Baekhyun memakai gaun dan eyeliner?

Tampak menjijikkan tapi pria manapun pasti terpesona dan gadis-gadis pasti iri padanya. Kulit putih pucat, wajah yang lembut, dan matanya yang menyerupai burung Phoenix membuat Baekhyun seratus persen cocok menjadi Snow White ehem! Snow Baekkie maksudnya dan tentu saja dia yang paling ahli memakai eyeliner.

 

***

Chanyeol membacakan narasi sementara yang lain sibuk memainkan peran masing-masing sesuai narasi, dan mereka tiba pada adegan dimana sang raja meninggal dunia.

Hyung, ayo pura-pura mati.”

“Tidak.”

“Tapi kau mati disini.” Chanyeol menunjuk naskah yang dipegangnya.

“Tidak!”

Ya Tuhan, Kris. Chanyeol mendengus kesal, dia sudah cukup kepanasan dengan kostum pohon yang dia kenakan sejak sejam yang lalu dan sekarang Kris membuat masalah di tengah-tengah latihan. Chanyeol bersumpah ia tidak akan pernah mau lagi jadi ketua kelompok drama. Kapok.

“Oke, oke. Kita bisa bertukar peran, aku jadi raja dan kau jadi narator sekaligus pohon. Bagaimana?” tawar Chanyeol. Anggota kelompok yang lain hanya mengamati.

“Aku? jadi pohon? Tidak ada pohon setampan aku.”

“Karena itu, kau jadi raja karena kau yang paling tampan. Lalu apa masalahnya?”

“Aku hanya muncul di awal lalu mati? Aku bukan cameo, Chanyeol.” protes Kris.

“Kau bisa jadi pemburu nanti, kau punya dua peran dan..”

“Pemburu juga cameo, Channie.” Kris benar-benar protes.

Chanyeol bersumpah lagi, cukup sekali ini saja dia berkelompok dengan Kris. Chanyeol memegangi kepalanya yang berdenyut, poninya sudah basah karena keringat dan rasanya sangat lengket.

“Kris, bisakah kau diam dan mainkan saja peranmu? Kau sudah cukup beruntung mati di awal cerita daripada harus berjalan menggunakan lututmu selama pertunjukkan!” bentak Minseok.

“Dan kau dapat dua peran.” tambah Yixing. (Please, kau juga dapat dua peran, Yixing.)

Demi Tuhan, Minseok bukan seorang pemarah tapi dia terlalu gemas dengan Kris yang protes tentang perannya sejak awal latihan hanya karena mati di awal, sedangkan Minseok harus berjalan menggunakan lutut selama pertunjukkan. Bukan hanya Minseok, tapi Kyungsoo, Luhan, Yixing, Jongdae, Suho, dan Sehun juga. Mereka jadi kurcaci.

Dan akhirnya Kris kalah, dia memutar bola matanya sebal lalu berbaring di lantai dengan err.. garpu yang ceritanya menancap di jantungnya, mereka tidak mungkin menggunakan pisau, terlalu mengerikan.

“Ayaahhh!” Baekhyun menjerit.

“Itulah akibatnya jika kau berani melampaui kecantikanku.” Tao si ratu jahat tersenyum sinis. Dia melakukan perannya dengan baik.

Sebelum Baekhyun tertangkap Tao, dia sudah melarikan terlebih dulu. Dia terus berlari, berlari, berlari dan tanpa sadar dia sudah berada di dalam hutan yang gelap. Tidak ada siapa-siapa, hanya lumut yang tumbuh di dinding pohon tua, suara gesekan dedaunan, dan sulur-sulur berduri di sisi kiri dan kanan. Tenang, itu hanya properti dan Baekhyun tidak benar-benar ada di dalam hutan.

 

***

“Wow, kostum pemburu bagus juga.” ujar Kris kagum.

Hyung,berhenti mengagumi dirimu, lanjutkan latihannya.” kali ini Junmyeon yang protes.

Untungnya Kris menurut, dia memainkan perannya, mengejar Baekhyun ke tengah hutan yang gelap dan mengerikan hingga Baekhyun terpojok dan tidak bisa lari lagi.

Kris tertawa licik, “Mau kemana, putri?” ia menyeringai sambil menodongkan pistol mainannya pada Baekhyun.

“Kumohon, lepaskan aku tuan pemburu.” Baekhyun memohon dengan wajah ketakutan.

“Tambahkan tampan.” bisik Kris lalu dia kembali pada posisinya. Baekhyun menurut saja daripada Kris mogok latihan.

“Kumohon, lepaskan aku tuan pemburu tampan.” ulang Baekhyun dan Kris tersenyum puas.

 

Apa? Tampan? Pemburu tampan?

 

Chanyeol hampir saja protes jika Jongin tidak menahannya, lebih baik seperti itu daripada mereka harus latihan sampai pagi lagi karena Kris mogok latihan lalu Junmyeon yang harus menggantikannya.

Pemburu itu melepaskan Snow Baekkie karena tidak tega membunuh putri secantik Snow Baekkie, kemudian pemburu itu memutuskan untuk membunuh seekor rusa dan membawa jantung rusa tersebut pada ratu jahat.

Snow Baekkie terus berlari ke dalam hutan tanpa sepatu, gaunnya sobek dan kotor. Dia kelelahan dan sangat lapar tapi dia tetap berlari, hingga akhirnya dia melihat sebuah rumah kecil di tengah hutan. Rumah satu-satunya dan tidak terlalu mengerikan. Dan terbuat dari kardus buah karya Kyungsoo..

 

Dengan sangat hati-hati dan secuil rasa takut, Snow Baekkie mengetuk pintu rumah itu.

Tok..tok..tok..

Tidak ada jawaban.

 

Tok..tok..tok..

Hening.

 

Tok..tok..tok..

“Ada orang di rumah?”

Tetap sama, tidak ada jawaban.

Tanpa sengaja dia mendorong pintu itu dan terbuka. Perlahan Snow Baekkie masuk ke dalam rumah itu, temboknya kusam dan lantai kayunya berdecit, tidak ada ruang tamu hanya tujuh kursi kecil mengelilingi sebuah meja bundar dan ada tujuh ranjang kecil dengan selimut warna berbeda di tiap ranjang. Aneh, tapi Snow Baekkie terlalu lelah untuk memikirkan kenapa selimut itu berbeda warna dan kenapa lantai rumahnya berdecit.

Dia menguap lebar dan kelopak matanya terasa berat, dia terlalu lelah dan lapar. Tidak ada makanan tapi setidaknya ada tujuh ranjang disini, walaupun kecil setidaknya dia bisa tidur sebentar dan pergi sebelum si pemilik rumah datang, tak akan ada masalah. Lagipula, Snow Baekkie hanya tidur..

 

Hanya tidur..

 

Sampai malam..

 

Dan..

 

Pemilik rumah kembali!

 

Snow Baekkie mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar melihat tujuh wajah dengan topi warna-warni mengelilinginya. Dia benar-benar terkejut dan hampir melompat.

“Ka-kalian s-siapa??” tanyanya gugup. Wajah-wajah itu melihatnya dengan sangat tidak menyenangkan, terutama yang bertopi hijau. Tubuh mereka tidak tinggi, mungkin hanya satu meter.

“Harusnya kami yang bertanya kau siapa!” bentak yang bertopi merah.

“Kenapa kau masuk seenaknya?” tanya yang bertopi biru dengan nada tinggi.

“Darimana asalmu?” kini giliran yang bertopi oranye.

Yang bertopi hijau kini menatapku, wajahnya merah padam dan jika dia makan manusia, dia mungkin akan menjadikanku makan malamnya hari ini.

“DAN KAU TIDUR DI RANJANGKU!” pekik si topi hijau.

O’ow, Snow Baekkie benar-benar dalam masalah. Dia seperti menciut jadi lebih kecil dari tujuh manusia kerdil ini, dia benar-benar ketakutan.

“Kau pencuri, ya?” selidik yang bertopi kuning.

“Ti-tidak! Aku bukan pencuri.” sergah Snow Baekkie.

“Tapi kau cantik.” puji yang bertopi merah muda dan dia tersenyum, kemudian yang bertopi hijau mencubitnya. “aw!”

Snow Baekkie harus meluruskan semuanya, sebelum makhluk-makhluk kerdil ini benar-benar marah dan menjadikannya sup. Mengerikan.

Dia bangkit dari ranjang kecil dengan selimut hijau itu. Tujuh manusia kerdil yang tadi mengelilinginya langsung bergerak menjauh, mereka berkumpul dan tubuh mereka gemetaran. Tapi, wajah mereka tetap marah walaupun ada segelintir perasaan takut, kecuali si topi merah muda.

Snow Baekkie merapikan tempat tidur kecil milik si topi hijau dan dia mendelik pada Snow Baekkie. Selesai. Kini ranjang si topi hijau sudah rapi kembali.

“Umm.. Pertama maafkan aku soal tidur di ranjangmu.” Si topi hijau membuang muka. Snow Baekkie menggigit bibir. “Aku kelelahan setelah berjalan jauh, aku belum makan, lalu menguap dan aku tidur di ranjangmu.” Ia meringis, “Maaf, tuan.”

“Luhan. Namaku Luhan.” koreksi si topi hijau.

“Baiklah maafkan aku, Luhan.” ulang Snow Baekkie dan wajah Luhan sedikit mengendur, alisnya tidak lagi bertaut dan wajahnya tidak lagi merah padam.

“Tidak semudah itu, pen-cu-ri.” tegas si topi kuning.

“Aku bukan pencuri, lihat tidak ada satupun barang dari rumah ini yang hilang.”

Si topi kuning mengamati rumahnya, pandangannya memburu setiap sudut rumahnya dan memang tidak ada satupun barang yang hilang. Benci mengakuinya, tapi gadis bergaun cantik ini sepertinya bukan pencuri.

Snow Baekkie menunggu respon si topi kuning. “Bagaimana?”

“Lalu siapa kau?” si topi merah bertanya.

“Aku Snow Baekkie.” ujar Snow Baekkie sambil tersenyum. Dia cantik.

Snow Baekkie?

Ketujuh manusia kerdil itu saling berpandangan, mengernyitkan alis, dan berbisik satu sama lain. Kemudian si topi biru bertanya lagi.

“Kenapa kau masuk seenaknya, Ba..Baekkie?” dia tidak terlalu ingat nama gadis di hadapannya.

“Aku lelah dan kakiku sakit, sepatuku pergi entah kemana dan perutku lapar. Aku dikejar pemburu yang ingin mengambil jantungku, tapi aku berhasil lolos dan menemukan rumah kalian. Aku sudah mengetuk pintu tiga kali tapi tidak ada jawaban, jadi aku masuk saja, pintunya juga tidak dikunci.”

“Pemburu?” si topi merah muda mendelik, yang lain juga. Snow Baekkie mengangguk.

Detik itu juga, ketujuh manusia kerdil itu melunak seperti sepotong mentega di atas pancake hangat. Mereka yakin kalau Snow Baekkie bukan orang jahat, lagipula gadis secantik Baekkie tidak mungkin mencuri di rumah yang temboknya kusam dan lantai kayu berdecit, gaunnya saja sepertinya mahal dan indah jika saja tidak robek di bagian lengannya.

“Kenalkan aku Junmyeon dan aku pakai topi merah.”

“Aku Yixing, sedikit pelupa dan topiku berwarna ungu.”

“Dia jago menari.” Si topi merah muda menambahkan dan Yixing tersenyum bangga.

“Namaku Minseok, wajahku bundar dan syukurlah topi biru ini terlihat cocok denganku.”

“Hei, aku Jongdae. Aku punya suara indah dan aku dapat bagian topi ungu.”

“Aku Kyungsoo, pancake buatanku yang paling enak dan warna topiku..” dia bergidik sebentar, lalu melanjutkan. “..kuning.”

Hyung, bisakah aku mengganti topiku dengan warna lain? Warna kuning membuatku terlihat seperti bunga matahari.” Kyungsoo berusaha menawar Chanyeol.

“Maaf, Kyungsoo, tapi topinya habis.” Chanyeol menggigit bibir. Kyungsoo mendesah.

“Ayo lanjutkan.” ujar Chanyeol.

Yixing mengangkat tangan.

“Apa lagi?” tanya Chanyeol malas.

“Umm.. aku mau pipis, lanjutkan saja latihannya. Aku sudah memainkan bagianku.”

“Oke, kau bisa pergi. Tapi cepat kembali.”

Yixing mengacungkan jempolnya lalu pergi. Semua kembali fokus pada latihan.

“Kau sudah tahu namaku kan? Kau bisa lihat sendiri, topiku hijau dan aku tidak suka siapapun tidur di tempat tidurku.”

Oke, Luhan. Maafkan Snow Baekkie.

“Dan aku Sehun! Warna topiku merah muda karena aku si bungsu, mereka bilang aku terlihat imut dengan warna merah muda. Padahal aku lebih suka biru muda.”

“Senang mengenal kalian semua, kuharap kita bisa jadi teman.” Snow Baekkie tersenyum dan seolah menyihir ketujuh manusia kerdil itu, Snow Baekkie membuat ketujuh manusia kerdil itu menyukainya, ingin melindunginya.

Mereka makan malam bersama hari ini. Bukan, bukan Snow Baekkie menu utamanya tapi jamur, Kyungsoo dapat jamur yang banyak hari itu di hutan dan tentu saja tujuh manusia kerdil itu mengijinkan Snow Baekkie tinggal di rumah mereka dengan satu syarat, Baekkie harus menjaga dan membersihkan rumah mereka selama tujuh manusia kerdil itu pergi mencari makanan di hutan.

“Ini tidak bisa dimakan.” Sehun menggigit jamur dari kertas di tangannya.

“Ini hanya drama, Sehun. Kau hanya perlu pura-pura memakannya.”

Lalu Sehun mengeluarkan potongan kertas itu dari mulutnya, Ya, Tuhan. Kepala Junmyeon rasanya berdenyut.

 

***

“Lututku pegal.” keluh Jongdae. Dia duduk di sebelah Minseok.

“Iya, aku juga.” lutut Minseok sedikit biru.

Mereka menunggu giliran selanjutnya setelah Snow Baekkie menggigit apel dari si nenek sihir, itu artinya tujuh orang yang berperan jadi kurcaci bisa beristirahat, melemaskan lutut, dan minum air. Ah, lega.

“Chanyeol, kepalaku sakit karena terus menjatuhkan diri ke lantai dan berpura-pura mati. Dan sisir ini merontokkan beberapa helai rambutku.” protes Baekhyun sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.

“Dan jubah ini, membuat kulitku gatal.” Tao menggaruk lehernya yang berkeringat. Rasanya agak perih dan gatal.

“Kalian pikir kostum pohon ini tidak membuat kepalaku sakit dan kulitku gatal? Bahkan seluruh kausku sudah basah karena keringat.” balas Chanyeol, Tao dan Baekhyun hanya bisa mengela nafas dan kembali melanjutkan latihan.

Tok..tok..tok..

Seorang nenek tua berjubah hijau kusam mengetuk rumah para kurcaci, dia membawa sekeranjang apel berwarna merah segar. (Kali ini apel sungguhan.)

“Siapa di luar?” tanya Snow Baekkie.

“Aku hanya ingin menjual apel-apelku, nona.” ucap nenek tua itu dengan suara parau.

“Tapi aku tidak boleh membukakan pintu pada orang asing.”

“Sungguh sayang sekali, nona. Padahal apel-apel ini rasanya sangat segar dan manis.” rayu si nenek.

Snow Baekkie berpikir sejenak, menimbang-nimbang tawaran nenek itu dan Baekkie ingin sekali makan apel. Mungkin dia harus memberi kesempatan pada nenek itu dan melihat apel-apelnya yang segar, hanya sebentar tak akan jadi masalah.

Kemudian Snow Baekkie membuka pintu dan seorang nenek berjubah hijau kusam dengan sekeranjang apel di tangan tersenyum padanya.

“Silahkan nona manis.” Nenek itu mengulurkan sebuah apel berwarna merah dan besar yang kelihatannya sangat segar dan manis.

“Darimana aku bisa tahu kalau apel ini tidak beracun? Aku hampir mati tertusuk sisir beracun kemarin.”

Nenek itu tersenyum lagi lalu menggigit apel di tangannya. Baekkie menunggu.

Tidak ada reaksi apapun, nenek itu tetap baik-baik saja. “Bagaimana, nona? Apel-apelku sungguh lezat dan tentunya tidak beracun.”

Oke, kali ini Snow Baekkie percaya. Nenek itu mengambilkan sebuah apel lagi untuk Baekkie. Lebih besar dan warnanya lebih merah mengkilat, sangat menggiurkan. “Silahkan, nona.” Nenek itu mengulurkan apel di tangannya dan menyeringai.

“Terima kasih, nek.” Baekkie tersenyum dan menerima apel yang diberikan si nenek lalu menggigitnya.

Hmm.. rasanya manis tapi..

“Akh!” Snow Baekkie menjatuhkan apel di tangannya lalu memegangi lehernya yang terasa terbakar. Nafasnya tercekat dan rasa panas merayapi kerongkongannya. Kepalanya berdenyut dan keringat dingin mengucur deras membasahi pelipis serta tengkuknya. Seketika pandangannya kabur dan Snow Baekkie terjatuh ke lantai dalam keadaan tidak sadar.

Nenek itu tertawa cekikikan lalu berubah menjadi sang ratu jahat. Pandangannya penuh kebencian dan kini dia merasa sangat puas, kemenangan ada di tangannya. Kini Snow Baekkie benar-benar mati, tidak ada lagi yang menyaingi kecantikannya. Snow Baekkie sudah tamat!

 

***

Tujuh manusia kerdil itu pulang ke rumah, tapi saat Jongdae membuka pintu, “Ya, Tuhan! Snow Baekkie!”

Mereka menemukan Snow Baekkie tergeletak di lantai, Junmyeon sudah berusaha membangunkannya tapi nihil. Tidak ada hembusan nafas dari hidungnya, nadinya tidak lagi berdenyut, dan matanya terus tertutup. Yixing mengambil sebuah apel tak jauh dari mayat Snow Baekkie, ada bekas gigitan disana.

“Pasti apel ini penyebabnya..” suara Yixing bergetar.

“Snow Baekkie, bangun.” Sehun mengguncang tubuh Baekkie, tapi Baekkie tak bergeming sedikitpun.

“Dia sudah pergi..” Luhan membuka topinya, meremasnya di dada dan sebutir air mata jatuh dari sudut matanya.

 

Ketujuh kurcaci itu menangis, mengelilingi tubuh Snow Baekkie yang kaku dan dingin tapi wajahnya tetap cantik dan bibir serta pipinya tetap berwarna merah. Snow Baekkie sangat cantik bahkan saat mati. Mereka berdoa bersama malam itu dan berencana membuat peti untuk Baekkie.

“Kita tidak bisa menguburnya di dalam tanah.” ujar Junmyeon setengah terisak. Yang lainnya mengangguk setuju.

“Bagaimana kalau kita buatkan Snow Baekkie peti dari kaca?” usul Minseok.

“Benar, dengan begitu kita bisa selalu melihat Snow Baekkie, walaupun..” kalimat Yixing terpotong disana, ia menghambur ke pelukan Kyungsoo lalu menangis.

Malam itu mereka sepakat membuat sebuah peti dari kaca untuk Snow Baekkie.

 

Kasihan Snow Baekkie..

 

Sementara itu..

Mirror, mirror in the wall, siapa wanita tercantik di negeri ini?” Tao berbicara pada sebuah cermin yang tergantung di dinding.

“Tentu saja kau ratuku, tidak ada siapapun yang bisa mengalahkan kecantikanmu.”

Dan ratu jahat tertawa puas menggema memenuhi seluruh penjuru kerajaannya. Tidak ada lagi Snow Baekkie yang menyaingi kecantikannya, hanya dia yang tercantik.

Benar-benar licik!

 

***

Pagi itu, ketujuh kurcaci berkumpul di depan rumah mereka, berdiri mengelilingi peti kaca yang berisikan tubuh Snow Baekkie sembari menggenggam topi masing-masing di dada. Hingga pagi ini pun, rona merah di pipi Snow Baekkie tetap ada, dia seperti tertidur. Rangkaian bunga mawar dan krisan menghiasi peti tersebut, sangat cantik.

Hingga mereka mendengar suara derap langkah yang semakin lama semakin mendekat. Seorang pangeran berkuda putih (dari karton) muncul dari balik pepohonan, dia berhenti tepat di depan peti Snow Baekkie.

“Siapa kau?” tanya Kyungsoo. Wajahnya cemberut.

“Ya! Kyungsoo, ada apa dengan wajahmu?” teriak Kris. Chanyeol mengangguk setuju.

“Tidak adil, aku menjadi kurcaci dan Jongin berpasangan dengan Baekhyun.” Kyungsoo makin mengerucutkan bibirnya. Dia sudah protes sejak awal pembagian peran hingga detik ini, Kyungsoo tetap tidak rela Jongin berpasangan dengan Baekhyun.

“Jangan banyak bicara! Ini sudah jam sebelas malam dan latihan kita belum selesai, besok kita harus tampil. Aku ngantuk, Kyungsoo.” balas Kris.

“Harusnya kita pakai cerita Three Musketeers saja.” Kyungsoo tetap kukuh.

Chanyeol mengusap wajahnya, “Kyung—”

“KYUNGSOO! JANGAN BANYAK BICARA! KOTAK INI PENGAP SEKALI!” Baekhyun menyeruak dari dalam peti dan keringat benar-benar mengucur deras di kulitnya. Dia benar-benar seperti semangkuk lasagna di dalam microwave.

Kyungsoo menggigit bibir, rasanya ingin menangis.

Hyung, besok kutraktir es krim. Kita bisa makan es krim bersama.” rayu Jongin.

“Tanpa Baekhyun?” Kyungsoo memastikan. Baekhyun memutar bola matanya sebal lalu kembali ke dalam kotak.

Jongin mengangguk, “Tentu.” dan Kyungsoo akhirnya tersenyum. Mereka kembali pada latihannya.

 

“Aku Jongin, pangeran dari kerajaan seberang.”

“Pangeran?” Sehun mengernyitkan alisnya.

“Apa maumu?” tanya Luhan.

“Siapa nona cantik ini? Dan kenapa kalian meletakkannya di dalam peti kaca?” Jongin menatap Snow Baekkie di dalam peti kaca dan hampir menyentuhnya.

“Jangan sentuh!” Jongdae memperingatkan.

“Jauhkan tanganmu dari Snow Baekkie! Dia sudah meninggal.” tambah Minseok, raut kesedihan kembali menyelimuti wajahnya.

Snow Baekkie?

Sejak pertama kali Jongin melihat Baekkie, ia merasakan jantungnya berdegup kencang, dia jatuh cinta pada Snow Baekkie yang tak bernyawa. Kedengarannya mengerikan, tapi Jongin sangat mencintai Baekkie walaupun ini pertama kalinya mereka bertemu. Jongin ingin membawa Baekkie ke kerajaannya.

“Ijinkan aku membawanya pulang. Aku akan memberikan apapun yang kalian mau. Kitchen set, sepatu baru, rumah baru, kebun bunga matahari, poster SNSD, pokoknya apapun.”

“Tidak! Kami tidak ingin berpisah dengannya!” pekik Junmyeon.

“Tidak! Snow Baekkie milik kami!” pekik Sehun.

“Jangan bawa Snow Baekkie pergi!” pekik Kyungsoo. Bawa aku saja, Jongin..

“Tapi sepatu baru kedengarannya bagus juga.” celetuk Yixing.

Dan mereka berenam memarahi Yixing, “YIXINGG!”

Ops, sorry.

 

“Oke, oke. Aku tidak akan memisahkan kalian dengan Snow Baekkie, aku akan membawa kalian ikut ke kerajaanku dan menganggap kalian seperti saudaraku. Tolonglah, aku benar-benar jatuh cinta padanya.” Jongin memohon.

Ketujuh kurcaci itu saling berpandangan, mereka merasa iba karena pangeran ini benar-benar terlihat mencintai Snow Baekkie.

“Baiklah, tapi jaga Snow Baekkie baik-baik.” pesan Junmyeon. Ada perasaan kecewa dan tidak rela yang begitu besar di dalam hati mereka masing-masing. Sehun menangis dan Luhan merangkulnya.

Sebelum Jongin membawa Baekkie pergi, mereka membuka peti itu sekali lagi untuk melihat wajah Snow Baekkie yang terakhir kalinya. Wajahnya tetap segar dan cantik, dia lebih mirip tidur daripada mati dan itu benar-benar menyayat hati ketujuh kurcaci itu. Mereka kembali mengelilingi peti Baekkie dan menangis.

Entah apa yang merasuki Jongin, tiba-tiba ada segelintir perasaan yang muncul mendorongnya untuk mencium Snow Baekkie.

Jongin mencondongkan tubuhnya sedikit hingga dia bisa memajukan wajahnya, dia menatap Baekkie yang masih tetap menutup matanya, tak bergeming sedikitpun.

Lalu dia semakin mendekat..

Mendekat.

Semakin mendekat.

Kyungsoo menutup wajah dengan telapak tangannya, mengintip diantara jari-jarinya. Sungguh Baekhyun, aku iri padamu. Kyungsoo menggigit bibir.

Wajah Jongin sangat dekat hingga Baekkie bisa cium aroma anggur dari tubuhnya. Jongin menyisakan beberapa senti jarak diantara bibir mereka.

Baekhyun tidak tahan, perutnya bergemuruh. Dia meringis dan Chanyeol meremas naskah di tangannya, “My precious Baekkie..” ada secuil perasaan tidak rela.

Jongin berpaling ke kanan dan mencium pipi Baekkie. Syukurlah.. walaupun Kyungsoo dan Chanyeol tetap tidak rela.

Tiba-tiba, Snow Baekkie membuka matanya. Mengerjap berkali-kali dan kepalanya terasa sedikit berdenyut begitu juga hatinya.

“Kau siapa?” Snow Baekkie menyadari Jongin di dekatnya.

“Snow Baekkie!” pekik ketujuh kurcaci dan mereka bersorak.

“Syukurlah kau bisa kembali membuka matamu, seseorang memberikanmu apel beracun dan kau meninggal.” Minseok menjelaskan, dia menangis karena terharu.

“Meninggal?” Snow Baekkie benar-benar tidak percaya. Semua terasa seperti mimpi dan sebuah ciuman hangat di pipinya membangunkan Snow Baekkie dari tidurnya. Hey! Dia tidak tidur, dia mati.

“Lalu siapa pria tampan ini?” tanya Baekhyun, dia tersipu karena Jongin terlalu tampan dan karismatik. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Jongin tersenyum lalu memperkenalkan dirinya, “Aku Kim Jongin, nama kerenku Kai. Aku pangeran dari kerajaan seberang. Aku hanya iseng, tidak, aku kabur dari rumah dan sampai kesini lalu aku melihatmu tertidur di dalam peti kaca penuh bunga, dan..” Jongin terhenti sejenak, “..aku jatuh cinta padamu.”

“Dan kau terbangun setelah pangeran ini menciummu.” celetuk Sehun.

“Benarkah?” Snow Baekkie benar-benar tidak percaya. Jongin mengangguk malu-malu, pipinya dihiasi semburat merah. (Kau benar-benar manis, Jongin!)

“Maukah kau menikah denganku?” Jongin berlutut dan mencari-cari sesuatu yang mirip cincin di sekitarnya, dia tidak bawa cincin. Ini terlalu mendadak.

Me..Menikah?

Tunggu, apa pangeran ini sedang melamarnya?

(Ya! Dia melamarmu Baekkie dan Kyungsoo adalah orang yang paling iri denganmu saat ini.)

Lalu Kyungsoo menyerahkan sebuah cincin yang terbuat dari bunga krisan, dia yang merangkainya.

Harusnya Jongin memberikannya padaku, bukan Baekhyun.. batin Kyungsoo. (Sudahlah, Kyungsoo! Ini hanya drama.)

Jongin berlutut dengan sebuah cincin dari bunga di tangannya, mengulurkan pada Snow Baekkie dan menunggu jawabannya.

Baekkie terdiam, menimbang-nimbang tawaran Jongin. Tak butuh waktu lama, dia menganggukkan kepalanya malu-malu.

“Yaaaay!” Semua bersorak, tapi Kyungsoo tak benar-benar bersorak. Jongin..

Jongin menyematkan cincin itu di jari manis sebelah kanan Baekkie, sangat cocok dengan kulit putih dan jari-jari lentiknya. Lalu membantu Baekkie turun dari peti kaca tersebut.

Semua kurcaci bersorak dan mengelilingi Jongin dan Baekkie yang baru saja akan memulai hidup mereka yang bahagia selamanya.

 

Sementara itu ratu jahat tetap bertanya pada kaca ajaibnya di dinding. Dia mengambil sebuah apel merah yang paling besar mengangkatnya setinggi lalu menyeringai. Wajah penuh kemenangan dan kepuasannya karena berhasil membunuh Snow Baekkie tepat di depan kedua bola mata birunya. Ratu jahat tertawa licik, menggema keseluruh penjuru kerajaannya lalu menggigit apel di tangannya. Mengunyahnya, merasakan setiap rasa manis yang menyentuh lidahnya, memberikan rasa kemenangan untuk dirinya sendiri.

Mirror, mirror in the wall, siapa wanita paling cantik di negeri ini?” tanyanya dengan penuh percaya diri sambil tetap mengunyah apel dimulutnya.

I’m so sorry my Queen, it’s not you. Dia Snow Baekkie, putri bekulit seputih salju, rambut sehitam ebony¸dan bibir semerah darah yang tinggal bersama tujuh manusia kerdil dan dia adalah calon istri dari pangeran Jongin.” jawab kaca ajaib dengan lantang.

Ratu jahat merasa geram, dia mendelik menatap kaca ajaib penuh amarah, dengki dan dadanya terasa begitu panas, dia sangat siap untuk meledak. Dia menggenggam apel di tangannya kuat-kuat dan tubuhnya bergetar, bola mata birunya kini terbungkus kebencian, keindahannya pudar.

“Kau! Kaca tol—“ Kalimatnya terhenti disana. Dia merasakan sesuatu di tenggorokkannya, menyumbat setiap oksigen yang berusaha masuk. “Akkhh!”

Tenggorokannya terasa panas, begitu sesak, bagai terlilit tentakel gurita yang lengket dan terus menggeliat mencekik lehernya. Simple saja, dia tersedak potongan apel di mulutnya saat berusaha menghardik si kaca ajaib.

“Ratu jahat akhirnya terjatuh dan meregang nyawa bersama seluruh kedengkiannya, dendam, dan kelicikannya. Dia membunuh seseorang dengan apel beracunnya, tapi dia sendiri jugalah yang membunuh dirinya sendiri dengan seluruh keegoisan dan kelicikannya.” Chanyeol membalik kertas naskahnya.

“Dan kini Snow Baekkie hidup bahagia bersama pangeran Jongin dan tujuh kurcaci. Tamat.”

***

 

Riuh tepuk tangan mengiasi ruang latihan drama tengah malam itu saat Chanyeol membacakan kata ‘tamat’. Itu artinya mereka bisa istirahat malam ini dan Chanyeol bisa melepaskan kostum pohonnya. Seluruh tubuhnya sudah basah karena keringat dan dia butuh mandi.

“Akhirnyaaaa.” Minseok membaringkan tubuhnya di lantai, diikuti enam orang yang lainnya.

“Lututku sakit sekali.” keluh Jongdae.

“Aku juga.” Sehun setuju.

Baekhyun dan Tao melepas gaun masing-masing dan Kris hanya duduk menunggu sambil memainnya ponselnya.

“Oke, teman-teman. Dengarkan aku.” Chanyeol si ketua kelompok menepuk tangan mengambil alih perhatian teman-temannya.

“Terima kasih sudah bekerja keras dan besok adalah hari pertunjukkannya, kuharap semua bisa bermain dengan serius dan lancar. Tidak ada lagi menukar topi kuning walaupun terlihat seperti matahari, tidak lagi ijin ke kamar mandi, tidak lagi merengek karena mati di awal. Oke?” Yang lain mengangguk mengerti, terutama Yixing, Kris, dan Kyungsoo.

Well, aku butuh mandi sekarang. Aku yang pakai kamar mandi duluaaan.” Chanyeol lalu melengos pergi diikuti Sehun, Luhan, dan Kris.

“Ya! Chanyeol! Aku duluan!” Kris berlari menyusulnya.

 

Jongin mendekati Kyungsoo yang masih cemberut. “Hyung?”

“Hm?”

“Kita bisa makan es krim besok, jangan cemberut.” Lalu Jongin mencium pipinya jahil dan berlari pergi.

“Ya!! Kim Jongin!” Pekik Kyungsoo dan dia tersipu malu.

 

END

 

a/n: Oke, fics ini juga pasti garing dan basi banget karena siapa sih yang gak tau Snow White? Dan semua pasti tahu alur ceritanya. Entahlah itu Snow Baekkie, atau Kyungsoo yang cemburu sama Baekhyun, dan Kris yang rewel, aahhh.. aku harap masih ada yang suka karena ini pertama kalinya aku nulis fics lagi setelah sekian lama (baca: beberapa minggu) gak nulis.

Dan semoga aku bisa menyelesaikan Believe in Miracle secepat mungkin.

Thank you for reading! 😀

17 pemikiran pada “Snow Baekkie and Seven Dwarfs

  1. aku suka suka, komedinya pas gak lebay, pokoknya ceritanya enak ! :3
    aaa pengen deh liat baekhyun pake gaun kkkkk
    keep writing thor ^^

  2. Aku suka koook, snow white versi exo. Ceritanya ringan, mudah dipahami juga karna alurnya emang sama kaya cerita asli. Karakter membernya yg bikin seru, konsepnya juga latihan drama aku suka 😉

    Keep writing author 🙂

Tinggalkan Balasan ke minseokhoon Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s