Who’s My Destiny? (Chapter 3)

whos my destinyTitle                             : Who’s My Destiny? (Chapter 3)

Author                        : Kim Lizzie

Genre                          : Romance, Rival

Length                        : Multi-chapter

Main Cast                   : Kim Jongin / Kai (EXO-K); Park Miyeon (OC); Wu Yifan / Kris (EXO-M)

Summary        : Miyeon, seorang gadis kelas 2 SHS ini memiliki teman, gebetan, maupun musuh sekalipun. Musuh atau rival nya dari ia masih JHS ini membuatnya kesal dan ia sangat menyesalinya karena telah mengenal rival nya ini, Jongin. Mendekatkan mereka berdua? Itu tidak mungkin. Lalu bagaimana cara nya agar mereka bisa akur?

***

“Gimana kencan kecil-kecilannya sama Kris?”, tanya Hyomin dengan senyum mengejek. “Hehehe sukses dong. Menurut mu kenapa ya dia tiba-tiba begitu? Coba deh kamu perhatiin, dia ngga pernah melakukan aku sama seperti yeoja lain kan? Atau memang Jongin sehebat itu menjodohkan aku dengan Kris?”, bingung Miyeon.

“Iya sih… Mungkin dia ada perasaan sama kamu, Yeon. Tapi kamu jangan terlalu geer ya, nanti kalau ternyata dia ngga seperti yang diharapkan, kamu bakal sakit loh”, kata Hyomin mengingatkan. “Iya aku selalu mencoba. Tapi tidak bisa… Aku sendang sekali setiap kali mengingat senyum nya pada ku, aku harus berterimakasih banyak pada Jongin”, kata Miyeon sambil senyum-senyum. 

“Ya sudah sana mandi, terus kerjain tugas sekolah kita ya”, kata Hyomin, Miyeon hanya membalas dengan ancungan jempol.

***

Hari Sabtu pun tiba. Miyeon sudah siap sekali tinggal menunggu Kris. “Apa kau yakin ini cocok dengan ku?”, tanya Miyeon sambil mengaca. “Iya Yeon. Pakaian  yang ngga ribet itu lebih cocok sama kamu”, kata Hyomin sambil tersenyum. “Hmm, begitu ya? Kau sendiri mau ke mana Hyo? Kau mau pergi juga ya?”, tanya Miyeon yang keheranan melihat Hyomin berpakaian rapi.

“Ah… Eung… Iya aku mau ke toko buku, kebetulan aku sudah selesai membaca novel ku yang part 1 nya hehe”, kata Hyomin berbohong. “Oke deh kamu hati-hati ya”, kata Miyeon. “Iya kamu juga ya dan have fun”, kata Hyomin sambil tersenyum lebar. Tiba-tiba handphone Miyeon bergetar di kantong jaket nya.

“Aaaaa ini Kris! Dia pasti sudah sampai”, kata Miyeon. “Halo?”, “Ayo turun, aku sudah di depan ya”, kata Kris. “N… Ne…”, tut tut tut Miyeon menutup teleponnya. “Ya sudah, aku berangkat dulu ya, doakan aku yang terbaik ya Hyo!”, kata Miyeon sambil tersenyum.

“Pasti Yeon… dadaaah”, kata Hyomin lalu Miyeon pergi. Hyomin langsung lari ke jendela, untuk melihat Miyeon sudah pergi atau belum. Akhirnya Miyeon dan Kris pun pergi, langsung saja Hyomin menelepon Jongin. “Halo Jongin?”, kata Hyomin. “Ya Hyo, kau langsung ke bawah saja, jangan sampai kita ngga bisa mengikuti nya”, kata Jongin.

“Oke baiklah”, kata Hyomin, Hyomin langsung mematikan teleponnya dan berlari keluar kos-kosannya.

Sesampai nya di festival

“Wah ramai sekali ya”, kata Miyeon sambil melihat-lihat stan makanan Jepang yang bau nya sangat menyengat. “Iya… Kita makan takoyaki yuk”, kata Kris. “Yuk, aku juga sudah lapar nih karena bau makanannya hehehe”, kata Miyeon sambil mengelus-elus perutnya, mereka pun pergi ke stan takoyaki.

“Hmm takoyaki nya lezat ya. Gurita nya juga besar-besar”, kata Miyeon sambil melahap takoyaki. “Iya… aku senang sekali kalau ada festival makanan seperti ini, pasti penjualnya tidak pelit”, kata Kris. “Hahaha begitu ya? Aku baru pertama kali ke festival makanan, itu pun karena diajak kau hehe”

“Wah rugi banget, kau harus sering-sering datang ke festival makanan seperti ini. Ya walaupun selalu ramai, tapi kau ngga bakalan rugi”, kata Kris sambil tersenyum menatap langit. “Makasih info nya ya Kris hehehe”, kata Miyeon sambil senyum-senyum. “Oh ya, Hyomin ke mana? Dia di rumah saja?”, tanya Kris.

“Ngga kok. Dia pergi ke toko buku hari ini hehe”, kata Miyeon. “Oohh..”, kata Kris sambil menganggukkan kepala nya.

“Mereka ngobrolin apa sih?”, tanya Jongin yang keheranan. “Aku juga ngga tau. Nah sekarang gimana cara nya biar kita bisa bikin mereka makin dekat?”, tanya Hyomin. “Oh aku tau!”, kata Jongin lalu ia membisikkan rencana nya pada Hyomin, Hyomin menganggukkan kepala nya setuju.

~~

“Ayo beli beli!!”, teriak seorang penjual dengan jubah hitam dan kepala nya ditutupi dengan hoodie. “Itu jualan apa ya?”, tanya Miyeon. “Jualan boneka? Ini kan festival makanan, kok ada yang jualan boneka ya?”, kata Kris heran, Miyeon hanya mengangkat bahu nya. Karena penasaran, Kris ingin menghampiri penjual tersebut.

“Hmm Yeon, kita mau berpencar dulu ngga? Aku ada urusan nih”, kata Kris tiba-tiba. “Oh uh… Baiklah”, kata Miyeon lalu mereka berpencar. “Kris mau ngapain sih? Atau jangan-jangan dia mau beli boneka itu lalu memberikannya pada ku dan menyatakan perasaannya? Aaaa”, teriak Miyeon kesenangan.

“Permisi, itu boneka apa ya?”, tanya Kris kepada si penjual. “Hohoho, lebih baik kau beli nak. Jika kau beri boneka ini kepada orang yang kau suka, maka dia akan langsung suka pada mu”, kata penjual itu, suara nya seperti bapak-bapak. “Wah serius, ahjussi?!”, kata Kris excited.

“Iya… Ayok dibeli nak. Tidak mahal kok”

“Baik lah aku beli satu ya”, kata Kris lalu mengeluarkan uang nya.

“Semoga beruntung nak hohoho”, Kris hanya membalas dengan ancungan jempol.

~~

“Ramalan Cina?”, kata Miyeon sambil membaca tulisan di depannya. “Setau ku kalau ramalan Cina itu sering akurat. Hmm, aku coba ah”, kata Miyeon lalu ia memasuki sebuah ruangan ramalan Cina itu. “Selamat sore…”, kata Miyeon lalu membungkukkan badannya. “Ya… silakan duduk”, Miyeon pun duduk di depan sebuah meja.

“Siapa nama mu?”, kata si peramal itu. “Park Miyeon”, jawab Miyeon. “Tanggal lahir mu?”, tanya peramal itu lagi.

“20 Juni 1997”, jawab Miyeon.

“Pagi/siang/sore/malam?”

“Malam”

“Hmm, kau ini orang yang pemberani, tidak takut untuk memperjuangkan hak diri mu. Dan kau adalah orang yang konsisten. Kamu bukan orang yang membosankan dan kau juga tidak suka dengan hal yang membosankan”, kata peramal itu.

“Wah bener banget! Hm, kalau soal jodoh ku gimana? Ciri-ciri jodoh ku bagaimana?”, tanya Miyeon, ia berharap sekali bahwa ciri-ciri nya tersebut mengikuti ciri-ciri Kris.

“Hmm, jodoh mu tinggi, dia pintar tetapi malas, dan dia adalah orang yang kau benci saat ini”

“Mwo?! Aku lagi benci sama siapa ya… Aku kan ngga benci sama Kris. Berarti jodoh ku bukan Kris dong?”, gumam Miyeon.

“Orang yang kau benci tapi kau tak mau kehilangan dia”, kata peramal itu lagi.

Tiba-tiba Miyeon teringat oleh perkataan Kris pada nya. Kata Kris, “Kalau dia sampai pergi dari hidup mu, kau pasti akan merindukannya, dan menyesali kepergiannya”. “Jongin?!”, Miyeon spontan berteriak. Peramal itu tersenyum kecil. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”, tanya peramal itu. “Hmm, aku sedang dekat dengan namja dan dia teman sekelas ku. Apa aku bisa jadian sama dia?”, tanya Miyeon. “Hmm. 60% tidak 40% iya”, kata peramal itu membuat Miyeon kesal.

“Huh, gomawo”, kata Miyeon ketus lalu ia keluar dari ruangan itu, peramal itu hanya tersenyum kecil. “Peramal itu pasti ngaco! Aku ngga mungkin jodoh sama Jongin. Hmm, mungkin saja suatu saat nanti aku akan membenci Kris, lalu Kris akan menjadi jodoh ku hahahahaha. Tapi aku ngga mungkin bisa kesal sama Kris”, kata Miyeon entah bicara sama siapa.

“Aku yakin sekali kalau peramal itu tidak akurat. Masa hanya 40% kemungkinan aku bisa jadian sama Kris? Menyebalkan! Tau begini aku tidak usah minta diramal”, kata Miyeon lalu kembali berjalan.

“Jongin, aku yakin sekali, pasti Kris akan memberikan boneka itu pada Miyeon”, kata Hyomin sambil tertawa kecil. Jongin membuka hoodie penutup kepala nya, “Hahaha tenang saja Hyo. Aku yakin 100% pasti nanti di kosan mu kamu melihat boneka yang tadi ku jual”, Hyomin hanya menganggukan kepala nya.

***

Sesampai nya di kos-an

Ting tong

Hyomin membukakan pintu untuk Miyeon. “Cie…”, kata sambutan dari Hyomin. “Ah kau ini apa sih hehe”, kata Miyeon tersipu malu lalu masuk ke dalam kamar kos-annya. “Bagaimana? Kamu ditembak sama dia hari ini?”, kata Hyomin pura-pura tidak tau apa-apa.

“Belum… Tapi aku dikasih ini sama dia”, kata Miyeon sambil memamerkan gigi nya dan boneka nya.

“Waaahh lucu bangettt. Dia romantis ya”, kata Hyomin lalu tersenyum melihat boneka itu.

“Iya… Aku ngga nyangka bakal sejauh ini. Padahal awal nya dia jutek dan dingin sekali pada ku”

“Benci kan bisa jadi cinta hehe”

“Hahaha dasar kamu”, kata Miyeon lalu Hyomin pergi ke kamar mandi meninggalkan Miyeon.

Tiba-tiba kata ‘benci kan bisa jadi cinta’ terngiang-ngiang di kepala Miyeon dan kata peramal tadi juga tiba-tiba muncul di kepala Miyeon, ‘Hmm, jodoh mu tinggi, dia pintar tetapi malas, dan dia adalah orang yang kau benci saat ini’. “Aniyaaaa!”, teriak Miyeon tiba-tiba, Hyomin menghampiri Miyeon karena khawatir. “Kenapa Yeon? Ada apa?!”, tanya Hyomin khawatir. “Jo… Jodoh ku bukan Jongin kan?”, tanya Miyeon tiba-tiba, Hyomin hanya mengerutkan alis nya tidak mengerti. “Maksud mu?”, tanya Hyomin. “Benci ngga bisa jadi cinta kan?! Kalau cinta baru bisa jadi benci. Iya kan?!”, kata Miyeon sambil menggoyang-goyangkan badan Hyomin.

“I… Iya Yeon”, kata Hyomin sambil mengangguk ketakutan, Hyomin menjawab ‘iya’ biar cepat saja. Miyeon benar-benar tidak mau kalau sampai jodoh dia adalah Jongin.

Keesokannya…

Seperti biasa di Hari Minggu, Miyeon selalu lari pagi. Kali ini ia lari pagi sendiri tanpa Hyomin kerana Hyomin sedang tidak enak badan. Miyeon lari pagi sambil mendengarkan lagu menggunakan earphone. Entah kenapa, perasaannya kali ini aneh, seperti takut tapi senang, Miyeon juga ngga mengerti. Mungkin ini efek karena tidak ada Hyomin yang biasanya menemani nya lari pagi.

Miyeon pun duduk di salah satu bangku di taman, dia beristirahat sebentar. Tiba-tiba dia melihat sesosok orang yang tidak asing di mata nya. “Kris?!”, kata Miyeon lalu ia tersenyum senang dan datang menghampiri Kris. “Hey Kris, sedang apa kamu di sini?”, tanya Miyeon. “Ah… Eung… Nah kebetulan, sini ikut aku”, kata Kris lalu menarik tangan Miyeon ke kursi yang tadi didudukin Miyeon.

“Hmm… Aku hanya minta jawaban mu ya”, kata Kris sambil mengumpatkan sesuatu dibalik badannya. “Hmm, oke. Kamu mau nanya apa?”, tanya Miyeon, jantung nya berdebar kencang. “Kamu cukup jawab mau/engga”, kata Kris membuat jantung Miyeon berdebar sangat kencang. “Duh, aku malu hahaha”, kata Kris, Miyeon hanya bisa nyengir.

Kris mengeluarkan tangannya dari balik badannya, dan terdapat sebuket bunga di tangannya, mulut Miyeon menganga melihat bunga di tangan Kris. “Kau mau tidak…..”, omongan Kris terpotong. “Kau mau tidak, memberikan bunga ini pada Hyomin?”, tanya Kris. “M…Mwo?”, Miyeon benar-benar tidak percaya.

“Iya… Kau setuju kan kalau aku bersama Hyomin?”, tanya Kris tanpa dosa. “K… Kau sedang becanda ya?”, tanya Miyeon tidak percaya. “Kau ini ngga peka amat sih. Selama kita pergi bersama, aku kan selalu tanya-tanya tentang Hyomin. Aku ini ingin tau banyak tentang Hyomin lewat kau. Maka dari itu… Kau setuju kan aku sama Hyomin?”, tanya Kris sambil senyum.

Miyeon benar-benar sakit hati. “Ah ne… Kris dan Hyomin cocok sekali hahaha. Pasti kalian akan jadi pasangan yang bahagia. Ya sudah aku mau melanjutkan lari pagi ku ya”, kata Hyomin lalu ia beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan Kris. “Eh tunggu… Bunga nya bagaimana?”, teriak Kris, tapi Miyeon tidak menjawab, ia terus berlari. Tak terasa Miyeon meneteskan air mata nya.

Miyeon terus berlari sampai ia berhenti di sebuah jembatan dan duduk di pinggirnya. Ia memeluk lutut nya sambil terus menangis. Tiba-tiba saat sedang menangis tersedu ada koin jatuh di depannya. Ia dongakkan kepala nya ke atas. “Jongin?!”, Miyeon semakin kesal karena melihat tampang Jongin.

“Maaf, ku kira kau gembel yang minta-minta di jalan huahaha”, kata Jongin sambil tertawa-tawa. Miyeon tidak peduli, ia kembali menunduk dan menangis. “Heh, tumben kau ngga ngomel?”, tanya Jongin, Miyeon terus menangis, ia tidak menanggapi pertanyaan Jongin. “Hey, kau kenapa?”, tanya Jongin lalu Jongin jongkok di dekat Miyeon.

“Siapa sih sebenarnya yang disukai Kris?!”, tanya Miyeon sambil menatap Jongin. “Waduh, bisa nangis juga kau? Huahaha. Aku tidak tau, tapi dia pernah bilang ke aku kalau dia mau mendekati kau. Wae?”, tanya Jongin santai. “Tadi aku ketemu dia, lalu dia memberikan bunga pada ku. Ku kira itu bunga untuk ku, tapi ternyata dia bilang ‘bisa kau kasih ini ke Hyomin?’ Jadi selama ini dia mendekati ku karena dia ingin mengetahui tentang Hyomin. Hiks. Tapi kenapa harus begini cara nya?!”, cerita Miyeon.

Jongin langsung berkata dalam hati, “Benar kan kata ku. Kris pasti mendekati Miyeon karena suatu alasan”. “Tapi aku sudah sangat menyukai Kris…”, kata Miyeon lalu tiba-tiba ia memeluk Jongin, Jongin sangat terkejut dengan sikap Miyeon. Tangisan Miyeon meledak di bahu Jongin. “Hah, kau ini. Kalau menangis sangat melas ya, aku jadi tidak tega”, kata Jongin, tapi Miyeon terus menangis.

“Jongin… aku harus bagaimana? Bagaimana cara ku untuk melupakan Kris? Aku benar-benar sudah dibuat terbang oleh nya”, kata Miyeon sambil terus memeluk erat Jongin. “Ya… Ya aku tidak tau. Ya sudah, aku antar kau pulang. Kau istirahat ya, kau harus tenangi diri mu dulu. Sudah, jangan cengeng begini”, kata Jongin lalu Miyeon melepaskan pelukannya.

“Maaf Jongin, baju mu jadi basah”, kata Miyeon sambil mengelap air mata nya. Mereka pun berjalan menuju kos-kosan Miyeon.

Sesampainya di kos-an

Jongin mengantar sampai depan kamar kos-an Miyeon. Tapi langkah mereka berhenti saat melihat Kris dan Hyomin ada di depan pintu. Terlihat Kris sedang memberi bunga pada Hyomin dan Hyomin hanya menatap bunga itu kebingungan. Tangan Miyeon mengepal kuat, rasa nya ia ingin menonjok Kris. Miyeon langsung bergegas menghampiri Kris, tapi langkah nya dihalangi oleh Jongin. “Jangan… Kau harus tanya dia baik-baik”, kata Jongin pelan, sementara muka Miyeon sudah merah padam menahan amarah. Jongin dan Miyeon akhirnya menghampiri mereka.

“Kris, kau ini kenapa sih? Kau mendekati aku dan melakukan hal-hal yang special pada ku. Kau sudah membuat aku terbang dan membuat perasaan ku semakin bertumbuh pada mu. Kalau kau ingin mendekati ku karena Hyomin, kau bisa bilang pada ku dari awal. Ini benar-benar cara yang salah. Aku tidak apa-apa jika kalian jadian, tapi apa Hyomin mau menerima kamu? Karena selama ini yang kamu dekati adalah aku, bukan Hyomin”, kata Miyeon sambil menahan kesal.

“Iya Kris, kalo kamu dari awal ngga ada perasaan apa-apa sama Miyeon, kenapa kamu mau mengantar Miyeon pulang? Kenapa kamu paksa Miyeon untuk datang ke rumah mu? Kenapa kamu mengajak Miyeon jalan-jalan? Kenapa juga kamu berikan dia sebuah boneka? Kamu sangat memperlakukannya berbeda dari yeoja lain, Kris”, kata Hyomin.

“Oh soal boneka itu? Aku sebenarnya tidak memberikan dia boneka itu”, kata Kris yang membuat Miyeon, Hyomin, dan Jongin tidak mengerti.

-Flashback-

“Jongin, aku yakin sekali, pasti Kris akan memberikan boneka itu pada Miyeon”, kata Hyomin sambil tertawa kecil. Jongin membuka hoodie penutup kepala nya, “Hahaha tenang saja Hyo. Aku yakin 100% pasti nanti di kosan mu kamu melihat boneka yang tadi ku jual”, Hyomin hanya menganggukan kepala nya.

“Astaga, Hyo! Itu Miyeon… Kita harus kabur dari sini”, kata Jongin panik. “Ah iya, ayuk cepat lari”, kata Hyomin lalu mereka lari meninggalkan tempat mereka bersembunyi, tetapi salah satu boneka yang dibawa Jongin saat ia berjualan tadi tak sengaja terjatuh, tetapi Jongin tidak menyadari nya dan terus berlari.

“Kris mana sih? Hari sudah gelap…”, kata Miyeon lalu pandangannya terhenti pada sebuah boneka yang ada di depan kaki nya sekarang, lalu Miyeon mengambilnya. “Ini kan boneka yang dijual sama orang tadi? Oh… Atau jangan-jangan ini kode dari Kris? Pasti Kris di sekitar sini”, kata Miyeon sambil melihat ke sekeliling nya.

“Nah benar kan… Itu dia Kris. Kris, aku di sini!!”, panggil Miyeon, Kris menolehkan kepala nya lalu menghampiri Miyeon. “Akhirnya ketemu juga, kau kema…”, “Aku tau ini pasti dari kamu kan? Makasih ya Kris”, kata Miyeon sambil menunjuk boneka yang ia pegang.

“Eh?”, Kris memasang wajah nya yang kebingungan.

“Aku tau pasti tadi kamu kasih kode kan ke aku? Hehe bisa aja kamu”, kata Miyeon sambil cengengesan.

“Ah, ne…”

“Hmm, itu kantong nya isi apa Kris?”, kata Miyeon sambil menunjuk kantong plastic yang dipegang Kris.

“Ah eung ini makanan hehe… Untuk aku makan malam”, kata Kris gugup. Padahal sebenarnya itu boneka yang Kris beli sebelum nya. “Ohhh… Hehe ya sudah yuk kita pulang saja”, kata Miyeon sambil menatap langit. “Yuk”, kata Kris lalu merangkul Miyeon.

-Flashback end-

“Aku melihat penjual boneka itu berlari dan salah satu boneka yang dijualnya terjatuh, tapi Miyeon mengira kalau aku yang menaruh boneka itu di dekat kaki nya. Sebenarnya boneka itu aku beli untuk Hyomin, karena kata penjual itu kalau aku bisa kasih boneka itu ke seseorang, orang itu akan menyukai kita balik”, kata Kris.

Jongin dan Hyomin langsung bertatap-tatapan, Jongin hanya bisa menenggak ludah nya. “Terserah. Pokok nya aku ngga mau kenal kamu lagi Kris. Semoga suatu saat ada yeoja yang memperlakukan mu sama seperti kau memperlakukan aku”, kata Miyeon dengan tatapan sinis lalu masuk ke dalam kamar kos-kosannya.

“Kau kenapa minta aku mendekati kau dengan dia?”, tanya Jongin kesal. “Ya karena aku ingin dekati dia untuk mengetahui segala tentang Hyomin dan bisa mendekati Hyomin juga. Lagian dia itu ke ge-er an sekali sih”, kata Kris, entah mengapa Jongin kesal mendengar itu. “Aku ngga ngerti sama jalan pikiran mu”, kata Jongin lalu ia pergi meninggalkan Kris dan Hyomin.

Kris dan Hyomin pun bertatapan. “Tolong Hyo, terima bunga ini”, kata Kris lalu mengulurkan tangannya yang sedang memegang bunga. “Maaf Kris, aku tidak bisa menerima nya”, kata Hyomin lalu ia masuk ke kamar kos-kosannya.

Sebenarnya saat Kris mengetahui Hyomin sedang di toko buku Hari Sabtu kemarin, Kris langsung SMS Hyomin.

Kris: Kau di toko buku, Hyo?
Hyomin: Iya Kris… Wae?
Kris: Mau ku jemput ngga?
Hyomin: Loh bukannya kau sedang pergi sama Miyeon?
Kris: Iya, setelah pulang aku akan jemput kau
Hyomin: Ah tidak usah, lagian aku sudah di jalan pulang hehe

Hyomin menghampiri Miyeon yang sedang duduk di dekat jendela dan melihat keluar jendela. “Yeon… Kau mau minum?”, tanya Hyomin halus. “Tidak usah Hyo hehe. Aku sekarang sadar Hyo, aku juga salah. Seharus nya aku ngga boleh ke ge-er an begini”, kata Miyeon lalu ia menunduk.

“Bukan salah kamu lah Yeon”, kata Hyomin sambil mengelus bahu Miyeon, “Semua yeoja pasti akan merasa begitu kalau namja memperlakukannya special. Kecuali memang dari awal yeoja itu sudah membenci namja itu”. “Hyo, apa kau menyukai Kris? Atau kau sempat menyadari kalau Kris menyukai mu?”, tanya Miyeon, Hyomin pun terdiam sejenak.

TBC

2 pemikiran pada “Who’s My Destiny? (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s