Will of The Heart (Chapter 2)

Will of The Heart (Chapter two: Strom)

 

 

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Yoon Sohee (Oc)

                    Oh Sehun (Exo)

                     Luhan (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

 

Length:            chapter 2/4

 

Genre:             romance, action, friendship

 

Rating:             NC-17

 

Author note: RATINGNYA SENGAJA NC 17 TAHUN BUKAN KARENA ADEGAN SEKSUALNYA, TAPI ADEGAN KEKERASANNYA. Hunhan shiper mana nihh?? Heheheheh.. Okesiip, hanya ituu..

afterfocus_1391760945647

Keempat orang itu berjalan dengan santai menuju salah satu club malam yang berada di tengah kota Seoul. Dengan gampangnya memasuki club tersebut setelah salah satu dari mereka membisikkan sesuatu pada penjaga yang berdiri di pintu masuk club.

“hei, bagaimana kau melakukannya?” Jongin bertanya pada Baekhyun yang sudah bergelayut manja pada lengan besar Chanyeol.

Baekhyun memutar bola matanya kesal “milik eommaku!” Jongin mengangguk mengerti.

“mulai dari sini, kita berpencar” ujar Sehun dan menatap satu persatu temannya itu. Ketiganya mengangguk dan bejalan berpencar.

Sehun seperti biasa berjalan dengan santai, tak lupa ekspresi datar yang terpasang di wajahnya, mengacuhkan beberapa yeoja dengan pakaian mini yang menatapnya seolah siap menerkamnya kapan saja. Bau alcohol, asap rokok, dentuman music khas sebuah club selalu berhasil membuatnya mual. Sebebas apapun dirinya, sedingin apapun dirinya, bagaimana pun orang mengatakan bahwa ia tidak memiliki hati, Sehun tidak suka berada di tempat seperti ini jika hanya untuk mengisi waktu luangnya. Walapun tekadang dia dan Jongin selalu mengunjungi tempat seperti ini tapi ada alasan yang kuat, entah melaksanakan tugas seperti ini,  atau Kris yang meminta pertemuan mereka dilakukan di tempat seperti ini.

Matanya dengan liar menatap sekililingnya seorang yeoja yang berpakaian cukup minim mendekatinya dan mengusap lembut lenganya, Sehun mengernyit saat mencium bau alcohol dari tubuh sang yeoja. Berusaha untuk tidak menghiraukannya saat matanya menangkap sosok yang dicarinya tengah berjalan dengan tergesa menuju salah satu ruangan di sudut club. Dihempaskannya tubuh yeoja yang menempel padanya itu kasar dan menulikan telinganya dari makian sang yeoja. Dengan perlahan berjalan mengikuti incarannya itu. Matanya mengawasi sekitarnya menunggu namja incarannya tadi keluar dari toilet dan mengawasi sekitarnya. Sehun berdiri bersedekap menyilangkan kedua tangannya di dada, berbicara pada earphone di telinganya “aku sudah menemukan satu”

“menyusul sayaang!” lengkingan suara Baekhyun dan dengusan khas milik Jongin menanggapinya.

Sehun mengeluarkan pistol dari balik jas semi formal yang dikenakannya, merogoh saku belakang celananya mengeluarkan peredam pistol dari sana dan memasangnya di ujung pistolnya. Sebenarnya bisa saja Sehun masuk dan menghabisinya di dalam, tapi pasti akan repot jika ada seorang yang memergokinya jadi pilihannya jatuh pada menunggu. Lalu menyeretnya dan menghabisinya di tempat yang sulit ditemukan.

Sehun menodongkan pistolnya di pelipis namja yang baru saja keluar dari toilet itu, menyeretnya pada salah satu sudut ruangan.

“habisi dia Sehun, jangan ada yang tersisa!” perintah Jongin dengan nada yang datar.

“Jangan lupa sisakan satu untuk dimintai keterangan!” suara berat Chanyeol terdengar di earphone Sehun dan di tanggapi dengusan kesal dari Jongin.

“Ikuti saja apa kata Chanyeolku!” suara halus namun tajam milik Baekhyun menggantikan dengusan Jongin.

Sehun menatap datar pada mayat namja yang tergeletak bersimbah darah di hadapannya. Berjongkok dan memeriksa tubuh namja itu berusaha mencari sesuatu di sana. Sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya.

“tidak perlu Chanyeol-ahh, habisi semua” ujar Sehun dingin pada earphonenya.

***

Baekhyun berjalan dengan santai, sesekali mengerling pada namja yang menatapnya kagum. Tubuh rampingnya di balut dengan dress ketat yang membentuk sempurna pada tubuhnya, bahu dan paha mulusnya terekspos, high heels yang menghiasi kaki jenjangnya membuat setiap namja yang menatapnya menelan ludah. Matanya tertuju pada satu namja yang sedang berjoget dengan liar. Baekhyun memulai aksinya dengan mendekati namja itu, mengajaknya berdansa dengan meliukkkan tubuhnya pada namja itu. Namja itu menyeringai lalu menarik Baekhyun semakin dekat..

“bisakah tidak di sini?” bisik Baekhyun tepat di telinga namja itu seduktif. Membuat namja iu menyeringai yang sontak membuat Baekhyun mual dengan bau alcohol yang menguar dari mulut namja itu. Baekhyun menyeret namja itu kesalah satu sudut, saat dirasanya sudah sepi menghajar namja itu habis-habisan dengan tangan kosong lalu berjalan meninggalkan tubuh namja yang terkapar begitu saja di lantai. Baekhyun besiul kecil lalu berlalu dan terkejut saat seorang mencengkram pundaknya kuat.

“wanita jalang!” maki namja yang babak belur itu. Baekhyun terkejut tubuhnya kaku tapi hanya sesaat, ketika tubuh namja itu kembali terjerembab dengan kepala yang berisimbah darah di hadapannya Baekhyun tersenyum. Siapa yang mampu menembakkan senjatanya dengan cepat dan tepat tanpa disadari siapapun dari jarak yang cukup jauh?

“thank you, Yeollie!” ucap Baekhyun manja pada earphonenya.

“welcome honey” sahut Chanyeol dan terkekeh.

“menggelikan!’ dengus Sehun kesal.

Baekhyun tidak menghiraukannya dan berjalan dengan santai menuju tempat yang sudah dijanjikan untuk berkumpul kembali.

***

Chanyeol mengawasi sekitarnya,  sebelum matanya tertuju pada lantai dansa di bawah sana, mengawasi gerak gerik Baekhyun yang berjalan santai. Tangannya dengan lincah merakit senjata laras panjang buatannya yang sudah dihafalnya di luar kepala. Lalu menyeringai saat Baekhyun berhasil menyeret salah satu incaran mereka ke salah satu sudut, dalam hitungan detik Baekhyun meninggalkan tempat itu. Tapi mata Chanyeol dengan sigap menangkap pergerakan di belakang Baekhyun. Menyadari Baekhyun dalam bahaya diarahkannya senjatanya, lalu menarik pelatuk denga cepat peluru melesat dan mengenai tepat pada kepala namja itu lalu menyeringai.

“thank you, Yeollie!” suara lembut Baekhyun memenuhi telinganya.

“welcome honey!” jawabnya dengan seringai. Dan mengacuhkan gerutuan Sehun.

Matanya kembali mengawasi sekitarnya, menatap tajam pada sosok Jongin yang  berjalan dengan santai di antara kerumunan orang. Matanya mengawasi dengan tajam.

“aku tau kau mengawasi Yeol, jangan mengganggu kesenanganku, oke!” suara Jongin terdengar di earphonenya.

“terserah kau saja” sahut Chanyeol. Dan dengan lincah kembali mempreteli seluruh bagian senapan laras panjangnya. Meletakannya di tas dan berlalu dari tempatnya.

***

Jongin berjalan santai, dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Berjalan tanpa mengacuhkan sekitarnya, menulikan telinganya dan makian orang yang disenggolnya. Tatapannya hanya tertuju pada satu. Seorang namja ang tengah duduk di salah satu ruang VIP dikelilingi yeoja seksi dan minuman beralkohol. Jongin menatapnya garang dan berjalan ke arahnya dengan mengatupkan rahangnya kuat. Jongin maju dan mencengkram kuat ke arah baju namja yang setengah mabuk itu, dan meninju wajah namja itu tepat di wajahnya. Yeoja yang ada di sekitar Jongin terpekik. Beberapa orang yang lewat tidak menghiraukan mereka. Di sini club bukan? Perkelahian semacam itu wajar, bisa saja masalah wanita atau apalah itu, Jongin menghajar namja itu habis-habisan, wajahnya sudah tidak terbentuk lagi. Sesaat Jongin lengah namja itu menggapai sebuah botol kosong dan menghantamkannya tepat di kepala Jongin. Jongin mengernyit saat dirasakanya sesuatu mengalir dari kepalanya melewati pelipisnya. Jongin menyeringai pada namja di hadapannya saat menyadari kepalanya mengeluarkan darah segar lalu menghajar namja itu tanpa ampun. Setelah puas diseretnya tubuh namja itu keluar, menuju tempat kawannya menunggu.

“apa yang bisa ditanyakan pada namja yang sudah nyaris meninggalkan dunia ini!” protes Baekhyun dan mengerucutkan bibirnya lucu.

“tunggu sampai sadar” sahut Jongin dingin.

Dengan kasar Sehun menampar wajah namja yang tergeletak di hadapannya. Tapi tidak ada respon.

“brengsek” maki Sehun dan Doorr! Peluru pistolnya menembus batok kepala namja itu dan semua isi dari kepala itu berhamburan dengan darah yang menggenanginya. Beberapa cipratan darah bahkan mengenai wajah Sehun yang datar tanpa ekspresi itu.

“kenapa kau melakukanya!” bentak Jongin kesal

“tidak ada yang bisa diharapkan darinya! mereka hanya penjahat kelas teri yang entah suruhan orang tua dari siapa!” sahut Sehun datar lalu mengusap wajahnya menghapus cipratan darah di sana. Baekhyun dan Chanyeol mengangguk.

“jadi, siapa yang akan melapor pada Kris?” suara baritone Chanyeol memecah keheningan keempatnya saling pandang. Hal yang paling dibenci oleh keempat orang ini setelah melaksanakan tugas adalan melapor pada ketua mereka. Mereka terdiam cukup lama saling tatap dan bersiap mengambil ancang-ancang.

“gunting, batu, kertas!” seru mereka berempat dan mengayunkan tangan mereka ke depan.

Jongin menyeringai, “Chanyeol, Baekhyun, kalian yang melapor!”

“cihh, brengsek” maki Baekhyun. Chanyeol merangkulnya dan Sehun hanya tersenyum tipis.

***

“mau ke mana?” Tanya Sehun pada Jongin yang tapak konsentrasi dengan jalanan di hadapannya.

“ke suatu tempat”

“tapi kepalamu!”

“tidak apa!”

Jongin menghentikan mobilnya dan turun dari mobil, sementara Sehun hanya mendengus kesal.

Jongin mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menghubungi seseorang.

***

Sohee berbaring terlentang di ranjangnya jam di mejanya menunjukan pukul 02.00 malam tapi matanya enggan terpejam. Matanya terus menatap cincin manis yang melingkar di jarinya. Tubuhnya tersentak saat ponselnya berbunyi nyaring. Dengan cepat disambarnya ponselnya yang terletak di samping nakas tempat tidurnya.

“yoboseyo”

kau sudah tidur” Tanya Jongin di seberang.

“mmm, hampir” jawab Sohee ragu. Jongin terkekeh.

keluarlah menuju balkon kamarmu!” suara husky milik Jongin kembali memenuhi indra pendengarannya.

Dengan cepat Sohee berjalan ke arah balkon membuka pintu geser yang terbuat dari kaca. Melangkahkan kakinya menuju pagar pembatas.

Menunduk” perintah Jongin di ponselnya.

Sohee mengikutinya, dan tertegun mendapati Jongin yang berdiri di bawah sana, dengan tangan kanan memegang ponsel dan tangan kiri dimasukkan ke dalam saku celananya mendongak menatapnya.

Aku merindukanmu” gumam Jongin. Sohee mengangguk, ponselnya masih berada di telinganya.

Saling bertatapan dalam diam hanya deru nafas yang terdengar dari ponsel masing-masing. Tangan Sohee yang bebas mencengkram kuat pagar pembatas dan matanya menatap sayu ke arah Jongin di bawah sana yang juga menatapnya. Rasa ingin berlari keluar rumah dan berhambur kepelukan Jongin begitu besar padahal baru beberapa jam saja mereka bertemu tadi, tapi mengingat ini sudah lewat tengah malam, Sohee hanya terdiam menatap Jongin di bawah sana membiarkan semilir angin berhembus menerpa wajah dan rambutnya.

“Jongin” panggil Sohee pelan.

ne?” sahut Jongin.

“aku, aku belum mengatakannya, Jongin, aku.. aku mencintaimu” ucap Sohee di ponselnya dengan mata yang masih menatap Jongin yang sedang tersenyum lebar di bawah sana.

ya, aku tau! Aku juga mencintaimu!” sahut Jongin juga tanpa mengalihkan tatapanya pada Sohee.

sekarang, masuklah di luar dingin!” seru Jongin dan tersenyum saat Sohee mengangguk.

“sampai bertemu besok, Jongin..”

yah, mimpi indah chagi” keduanya mematikan ponsel masing-masing.

Jongin melambai pada Sohee yang masih berdiri di balkonnya, terus menatap Jongin yang berjalan menjauh dan menghilang di ujung jalan. Sohee memandang ponselnya dan berjalan masuk meninggalkan balkon kamarnya.

***

“jadi? Siapa gadis itu Jongin?” Tanya eomma Jongin yang berdiri mengacak pinggang di ambang pintu kamar Jongin. Jongin tidak menghiraukan eommanya  sementara Sehun membersihkan luka di kepala Jongin hanya tersenyum tipis.

“siapa?” eommanya itu mulai merengek.

“aku tidak akan memberitahu!”

“Siapa!!”

“sampai matipun tidak akan kuberi tahu!!”

Tidak mendapat apapun dari Jongin, eommanya beralih pada Sehun.

“hunnie!!!”

“…”

“Sehun-ahh!”

“…”

Eomma Jongin cemberut karena tidak mendapat respon dari keduanya dan berlalu begitu saja meninggalkan kamar Jongin dengan menggerutu.

***

Bel makan siang baru saja berbunyi dan Sohee sedang menikmati makan siangnya bersama Raejoon, partnernya dalam olimpiade sains yang tinggal hitungan minggu saja. Baru Sohee akan menyuapkan makan siangnya, Jongin menghempaskan dirinya duduk di samping Sohee. Segera setelahnya suara bising terdengar dari arah belakang Sohee.

“kenapa pagi tadi kau tidak menungguku?” Tanya Jongin sambil menyangga dagunya dengan menggunakan tangannya yang bertumpu pada meja.

“aku terlambat” jawab Sohee singkat.

“kenapa?” Tanya Jongin lagi.

“semalaman aku tidak tidur, tugasku banyak!” jawab Sohee lagi.

“benarkah?” Sohee mengangguk.

Tidak sepenuhnya benar, setelah pengakuannya pada Jongin di balkon Sohee tidak bisa tertidur. Sepanjang malam Soheee hanya berteriak histeris dan meredam suaranya menggunakan bantal setelah Minseok dua kali masuk ke dalam kamarnya dan memarahinya. Matanya baru terpejam saat jam menunjukkan pukul lima pagi. Dan dengan sukses melakukan semua dengan singkat saat terbangun pada pukul tujuh pagi.

“apa kau tidak tertidur karena lamaranku semalam?” Jongin menekankan kata lamaran saat mengucapkannya. Kantin yang cukup ramai itu mendadak hening. Sementara Sohee menundukkan kepalanya enggan menatap Jongin.

“Sohee, lihat aku!” perintah Jongin.

“n.. ne!” Sohee mengangkat kepalanya menatap Jongin yang tersenyum padanya.

“apakah efek dari lamaranku semalam membuatmu tidak bisa tertidur?” Sohee terdiam.

“jawab aku!” bisik Jongin di telinga Sohee. Sohee memejamkan matanya merasakan hembusan nafas Jongin di telinganya. Lalu menatap Raejoon yang sedari tadi menunduk bergantian menatap Sehun yang tampak sibuk menikmati bubble tea di tangannya.

“tidak! Maaf saja, lamaranmu itu tidak berhasil sama sekali” ucap Sohee lantang. Dan sukses membuat beberapa orang tertawa. Sementara Jongin terpengarah.

Jongin bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan kantin. Diam-diam Sohee menghela nafasnya lega.

Sebelum benar-benar meninggakan kantin, Jongin berbalik dan berteriak “tapi aku, benar-benar mencintaimu nyonya Yoon Sohee! ah tidak, kurasa aku akan menggantinya menjadi Kim Sohee” lalu menyeringai dan kembali melanjutkan langkah meninggalkan kantin.

Sohee? memejamkan wajahnya pada meja menahan rasa malu, bahagia? Sudah pasti. Sementara semua yang berada di kantin menatapnya dengan memicingkan matanya, menilai dengan teliti seperti apa sebenarnya Sohee itu, yang membuat Jongin jatuh cinta padanya setengah mati.

***

Sohee tampak serius pada buku di hadapannya, kacamata bacanya bertengger dengan manis di wajahnya, rambutnya tergulung ke atas dengan beberapa helai anak rambut yang tergerai di leher jenjangnya membingkai wajahnya dengan pas. Tangan kanannya memainkan bolpoin dengan memutarnya di sela jari. Sementara tangan kirinya digenggam kuat oleh Jongin yang menyandarkan wajahnya pada meja. Suara dengkuran halus Jongin terdengar bersamaan dengan deru nafasnya yang beraturan menandakan ia telah terbang ke  alam mimpinya.

Sohee meletakkan bolpoinnya dan melepaskan kacamata bacanya lalu menatap wajah Jongin yang terlelap dengan damai. Diulurkannya tangannya mengusap rambut Jongin pelan dan ikut menyandarkan kepalanya pada meja berhadapan langsung dengan wajah Jongin. Entah efek dari tidak tidurnya semalam ataukah efek dari suasana perpustakaan yang nyaman, perlahan Sohee memejamkan matanya dan terlelap.

Cahaya jingga masuk di antara sela-sela fentilasi yang terbuka, Sohee perlahan membuka kedua matanya dan dengan cepat mengangkat kepalanya saat tidak mendapati sosok Jongin di hadapannya.

“Kau sudah bangun?” suara husky milik Jongin terdengar dari arah belakang. Sohee berbalik menatap Jongin yang berdiri menyandar pada rak buku di belakangnya.

“Jam berapa ini?” Tanya Sohee panic.

Jongin melirik jam tangannya, “Jam tiga tepat!”

“omooo, aku melewatkan kelas guru Cho!” pekik Sohee kaget.

Jongin menggeleng, “guru Cho tidak masuk” sahutnya enteng dan berjalan mendekati Sohee.

“ayo pulang!’ ajak Jongin dan menarik tangan Sohee agar berdiri dari duduknya.

“tapi tasku..” gumam Sohee. Jongin mengangguk pada benda yang teronggok di meja tidak jauh dari Sohee. Sohee tersenyum dan menyambar tasnya.

Dengan perlahan keduanya berjalan melewati lorong di antara rak-rak buku di perpustakaan. Sohee berjalan dengan menundukkan kepalanya di belakang Jongin tertinggal beberapa langkah.

“Sohee, cepatlah!” panggil Jongin dan menghentikan langkahnya berbalik menatap Sohee yang masih berjalan dengan menundukan kepalanya dan terus saja berjalan tanpa tau Jongin yang berdiri terdiam di hadapannya.

“eh, Jongin?” Sohee mendongak pada Jongin yang nyaris ditabraknya.

“ada apa?” Tanya Jongin dan menatap Sohee dengan memiringkan kepalanya. Sohee menatapnya ragu.

“apa?” desak Jongin

“eh? Tidak kok, anu. Ituu.. “ Sohee tergagap.

“anu itu apa?” Tanya Jongin kesal

“anu, i.. itu..” Sohee menghela nafasnya tidak melanjutkan perkataannya.

“ya, apa?” Jongin penasaran.

“anu, itu. Yang tadi, aku minta maaf!” ucap Sohee dengan menundukkan kepalanya menatap ujung sepatunya.

“yang mana?” Tanya Jongin dan melangkah mendekati Sohee memotong jarak di antara mereka.

Sohee mendongak saat matanya juga menangkap ujung sepatu Jongin di lantai. Jaraknya dengan Jongin sangat dekat, Sohee bahkan bisa merasakan hembusan nafas Jongin pada wajahnya.

“itu, tadi siang, di kantin” kata Sohee dan kembali menunduk. “itu bohong, aku.. aku berbohong, aku bahagia kau melamarku!” lirih Sohee pelan namun Jongin masih bisa mendengarnya. Jongin tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya menyangga dagu Sohee agar mendongak menatapnya.

“aku tau!” gumam Jongin. Dalam kepalanya berteriak frustasi betapa imutnya Sohee saat menatapnya dengan mata yang berkedip. Jongin memajukan wajahnya mengecup bibir Sohee singkat lalu menyeringai melihat Sohee yang cemberut.

“ayo pulang!” ajaknya dan berbalik.

Sohee tidak bergeming dan menarik ujung kemeja Jongin agar kembali berbalik padanya.

“apa?” Jongin kembali berbalik menatap Sohee.

Sohee mencengkram kuat pundak Jongin dan berjinjit, menempelkan bibirnya pada bibir Jongin yang tampak terkejut. Sohee menjauhkan wajahnya dan kembali tertunduk, Jongin tersenyum dan kembali mengangkat wajah Sohee menggunakan telunjuknya, mengusap bibir Sohee dengan ibu jarinya. Dan perlahan memajukan wajahnya membunuh jarak di antara mereka, kembali mencium bibir Sohee dengan mata terpejam, melumat bibir Sohee dengan lembut, merasakan lekukan bibir Sohee yang tampak pas dengan bibirnya, merasakan hembusan nafas Sohee yang beraroma vanilla mint di wajahnya. Seharusnya waktu berhenti saat ini juga, seharusnya dirinya terus berada sedekat ini dengan Sohee, seharusnya hidupnya normal-normal saja seperti remaja seusianya. Seharusnya.. Dengan sedikit terpaksa Jongin melepas tautan bibirnya dan menatap wajah Sohee yang masih memejamkan matanya. Dan kembali mengusap bibir Sohee dengan ibu jarinya dan dengan sekali hentakan menarik Sohee dan mendekapnya ke dalam pelukannya.

***

“Terima kasih telah mengantarku!” Ucap Sohee pelan tanpa menatap wajah Jongin di hadapannya, dia masih terlalu malu untuk kembali menatap Jongin.

“Sohee?” Panggil Jongin pelan.

“N.. ne?” Jongin hanya tersenyum menatap tingkah Sohee.

Ketiganya bediri tepat di depan rumah Sohee. Sohee yang menunduk enggan menatap Jongin, Jongin yang tersenyum menatap tingkah Sohee, dan Sehun yang dengan nyaman menyandarkan tubuhnya pada badan mobil menatap kosong pada tanah yang dipijaknya.

“Sohee?” Seseorang memanggil Sohee. Sohee yang sangat familiar dengan suara itu mendongak menatapnya.

“Luhan unni” lirih Sohee saat mendapati Unninya berdiri di depannya dengan kantung belanja di tangannya.

“Apa yang kau lakukan..” Luhan tidak melanjutkan perkataanya saat matanya melihat Sehun dan Jongin.

Jongin menatap Sohee seolah bertanya.

“Mmm, Jongin, Sehun, ini unniku, Luhan!” Seru Sohee mengerti akan tatapan Jongin. Jongin mengangguk “Anneyeong haseyo!” Sapanya lalu membungkuk.

“Anneyeong!” Sahut Luhan dan tersenyum pada Jongin. Jongin mengangkat alisnya, seolah menyadari sesuatu dan berbalik melirik Sehun yang terpana menatap Luhan. Oh, tidak, batinnya saat melihat Sehun menggigiti bibir bawahnya.

“Kenapa temanmu tidak diajak masuk?” Tanya Luhan pada Sohee.

“Ani, tidak perlu noona! Kami akan pergi!” Sergah Jongin cepat.

“Kalau begitu aku masuk” ujar Luhan dan melangkah masuk ke dalam rumah.

“Dah, Jongin!” Seru Sohee dan mengekor pada Luhan. Jongin hanya terkekeh dan kembali menatap Sehun yang masih menatap pada sosok Luhan.

“Sehun kau mau kutinggal?” Kata Jongin setengah berteriak. Sehun yang tersadar dari lamunannya segera membuka pintu mobil di sampingnya.

Jongin tampak fokus pada jalanan di hadapannya, namun sesekali memerhatikan Sehun dengan ekor matanya yang menatap jalanan di sampingnya.

“Aku tidak tau kalau Sohee memiliki saudara!” Kata Jongin memecah keheningan. Sehun menoleh padanya sekilas lalu kembali menatap jalan di sampingnya.

“Dia sangat mirip dengan Hye..”

“Jangan, jangan sebut namanya!” Bentak Sehun dan membuat Jongin terlonjak kaget.

“Tidak, mereka sama sekali tidak mirip!” Lirih Sehun, tatapan tajamnya berubah sayu dan menyiratkan kesakitan. Jongin meneguk ludahnya dan perlahan mengangguk.

“Aku ingin tidur, bangunkan aku jika sudah di rumah!” Kata Sehun datar dan menyandarkan kepalanya pada kaca mobil lalu memejamkan matanya.

***

“Oh Sehun, jika kau melangkahkan kakimu selangkah saja,jangan harap kau bertemu lagi denganku!”

 

“aku harus pergi noona! Maaf!”

 

“Sehuuun, awaaaass!!!”

 

“noonaaa”

 

Dorr! Terlambat, sebuah peluru bersarang di dada yeoja itu demi melindunginya.

 

***

Sehun berbaring terlentang di ranjangnya menatap kosong langit-langit kamarnya. Dan dengan sekejap bangkit berdiri, berjalan menuju sebuah meja yang terletak di sudut kamarnya. Menarik sebuah majalah yang terselip di antara buku-bukunya. Membuka tiap lembarnya, matanya tidak terfokus pada tulisan-tulisan di majalah melainkan pada sosok yang tersenyum dengan berbagai pose yang elegant. Tangannya berhenti pada sebuah halaman di mana terselip selembar foto, dirinya dan seorang yang berada dalam rangkulannya tengah tersenyum manis. Matanya kembali menatap sang model majalah bergantian dengan lembar foto itu.

“Kalian mirip, kalian benar-benar mirip!” Lirihnya. Dan setelahnya pertahanannya runtuh, airmatanya menetes mengalir melewati pipi putihnya. Hanya saat seorang diri dia bisa menjadi dirinya, menangisi dirinya, mengenang yeoja yang dicintainya dan mengasihani jalan hidupnya. Isakannya semakin terdengar, tangannya membekap mulutnya sendiri berusaha meredam suara tangisnya.

Jongin yang berdiri di balik pintu kamar Sehun dengan menyandarkan punggungnya pada pintu, memejamkan matanya dan menajamkan pendengarannya, lirihan Sehun, suara isak tangisnya samar terdengar di telinganya. Airmatanya mengalir  seolah merasakan kesakitan Sehun.

***

Sehun berjalan dengan santai, matanya menyapu jalanan di hadapannya. Membayangkan dinginnya bubble tea mengalir di tenggorokannya semakin mempercepat langkahnya. Dan saat ia berbelok memasuki sebuah kedai bubble tea, seorang dengan tergesa berjalan keluar tanpa memperhatikan Sehun dan menabraknya menyebabkan Bubble tea di tangannya tumpah mengenai baju Sehun.

“Maaf, maafkan aku!” Ucapnya dan membungkuk beberapa kali kemudian mengeluarkan sapu tangan dari tasnya membersihkan tumpahan bubble tea pada baju Sehun.

“Tidak, tidak apa!” Sahut Sehun gugup. Yeoja itu -orang yang menabrak Sehun- mendongak menatap Sehun.

“Eh?”

“Sehun?”

“Luhan noona?”

Dan di sinilah Sehun duduk manis pada sebuah kursi di salah satu ruang pemotretan yang di penuhi kru  yang berlalu lalang di hadapannya dan kilatan kamera.

Matanya terfokus pada sang Model yang tersenyum pada kamera dengan mengganti bermacam-macam pose.

Sehun menghela nafasnya, entah mengapa mengikuti permintaan Luhan yang ingin mentraktirnya minum teh setelah kejadian tadi dan memintanya dengan ber-aegyo agar Sehun harus tetap bersamanya dan begitulah seterusnya hingga Sehun berada dia sini, menunggu Luhan menyelesaikan pekerjaannya.

***

Keduanya berjalan bersama keluar dari kedai. Luhan yang berjalan dengan sedikit menunduk dan Sehun yang berjalan dengan santai memasukkan lengannya pada saku celananya dan menatap datar jalanan di hadapannya. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka menatap kagum pada mereka, Luhan yang tampak cantik mengenakan rok panjang dengan bahan yang lembut dipadu dengan tanktop berwarna putih dilapisi dengan rompi renda berjalan di samping Sehun yang menggunakan kaus putih dengan noda bubble tea yang telah mengering dan celana jeans hitam, terlihat casual tanpa menghilangkan kesan tampan dari wajah dinginnya.

“jadi, sejak kapan noona menjadi seorang model?” tanya Sehun memecah keheningan.

Luhan mendongak menatap Sehun “sejak tahun kedua kuliahku dan sekarang aku memasuki tahun ketiga, kurang lebih satu tahun” Sehun terdiam membuat suasana kembali hening

Luhan kembali menundukkan kepalanya. Tangan Sehun mencengkram kuat tangannya dan menariknya ke sisinya saat seorang namja bejalan dengan tergesa dan hampir menabrak Luhan.

“terima kasih!” gumam Luhan. Sehun hanya mengangguk.

Diam-diam Sehun melirik Luhan yang berjalan di sampingnya, bahu mereka berdempetan membuat detak jantung Sehun berpacu lebih cepat. Mereka terus berjalan di sepanjang jalan kemudian Luhan menghentikan langkahnya dan menatap toko bunga di hadapannya dengan mata berbinar. Sehun yang mengikuti arah pandang Luhan memutar bola matanya malas tapi hatinya memberontak “tunggu sebentar!” serunya pada Luhan dan berjalan menuju toko bunga itu.

Memilih dengan asal, membayar pada kasir dan berjalan keluar ke tempat Luhan menunggunya dengan seikat bunga mistletoe di genggamannya. Seharusnya Sehun mengetahui bahasa di balik nama bunga berwarna merah cerah itu paling tidak menanyakan bunga apa yang diberikan untuk Luhan pada sang florist saat melihat wajah Luhan yang memerah saat menerima bunga dari Sehun dan enggan menatapnya, tapi toh semuanya sudah tidak berguna Sehun begitu dingin unutk sekedar memusingkannya, mereka kembali melangkahkan kaki mereka, berusaha mengindahkan tatapan dari orang yang berpapasan dengan mereka. Sehun berbalik menatap Luhan yang sedang menghirup aroma bunga di tangannya tanpa disadarinya Sehun menjilat bibir bawahnya. Tangannya perlahan menggapai tangan Luhan dan menautkan jemari mereka merasakan kehangatan Luhan yang menjalar dari telapak tangannya.

Mereka terus berjalan tanpa merasa lelah dan berhenti tepat di depan rumah Luhan. Bagi keduanya waktu terasa begitu cepat berlalu, Sehun melepaskan genggamannya pada tangan Luhan yang telihat sedikit kecewa.

“Sehun-ahh” panggil Luhan dan menatap Sehun yang tampak salah tingkah.

“n, ne?”

“kau tau bahwa tiap bunga memiliki arti dan makna di balik namanya?” Tanya Luhan dan menatap bunga di genggamannya.

Sehun menggeleng “tidak”

Luhan tersenyum “baiklah” dan sebelum berbalik meninggalkan Sehun, Luhan berjinjit mengecup singkat bibir Sehun lalu berbalik meninggalkan Sehun yang terperangah, darahnya berdesir hebat, sementara jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Tangannya terangkat memegang pipinya yang panas sebelum berbalik meninggalkan tempatnya berdiri, dikeluarkannya ponselnya di saku, mencari makna dan arti di balik nama bunga. Mistletoe yang berarti pernyataan cinta dan bisa juga berarti ‘cium aku’.

“Bodoh!” gumamnya dan merutuki dirinya sendiri tetapi bibirnya dengan sempurna melengkungkan sebuah senyuman.

***

Sehun berdiri di samping Jongin yang duduk pada sofa dan menatap datar pada undangan berwarna silver di tangan Jongin.

“ulang tahunku, kalian harus datang! Hanya pesta kecil-kecilan!” jelas Baekhyun yang duduk dengan manis di hadapan Jongin tangannya memeluk lengan kekar Chanyeol yang duduk di sampingnya.

Di salah satu sofa Kyungsoo menyeringai, “kecil-kecilan? Waktu itu saja kau bilang hanya syukuran, tapi kenyataannya? Baaang!” Baekhyun cemberut.

“aku akan datang! Hei, sudah lama kita tidak berpesta bukan?” suara berat Kris menanggapi dan membuat seisi ruangan terdiam. Seorang Kris yang biasanya hanya terdiam memberikan respon membuat ketujuh orang di hadapannya terbengong.

“ck, jika itu yang dikatakan seorang pemimpin kita harus mengikutinya” ujar Suho memecah keheningan.

Jongin dengan kasar melempar undangan itu pada meja di hadapannya. Dan menyandarkan tubuhnya malas.

“Kau juga harus datang tuan besar Jongin, kalian tidak perlu membawa kado, cukup dengan kedatangan kalian!” tambah Baekhyun dan bangkit dari duduknya diikuti Chanyeol dan sebelum melangkah berbalik menatap keenam orang di belakangnya. “Jongin, bawa pacarmu, aku ingin melihatnya!” Pinta Baekhyun dengan beraegyo. Jongin menghela nafasnya malas lalu memijit pelipisnya dengan kedua jarinya saat suara langkah Baekhyun menggema di tengah ruangan.

“Jongin, apa kau yakin hubunganmu dengan pacarmu itu akan baik-baik saja?” Tanya Suho lembut. Lagi Jongin menghela nafasnya.

“Aku tidak pernah seyakin ini hyung!” Jawabnya pelan.

“Aku hanya tidak ingin nasibnya sama seperi Hyurin” lirih Suho pelan nada suaranya menyiratkan kesakitan.

“Juga Hyejin dan Hyesoo” tambah Kyungsoo dengan nada menerawang.

Jongin dapat merasakan tubuh Sehun menegang di sampingnya saat Kyungsoo menyebut nama Hyesoo.

“Aku, akan berusaha menjaganya!” Sahut Jongin lagi.

“Dia hanya akan menjadi kelemahanmu Jongin-ahh!” Tambah Kris. Jongin berbalik menatapnya dan membenarkan perkataan Kris dalam hati.

“Sehun, ayo pulang!” Ajak Jongin pada Sehun dan bangkit dari duduknya.

Di mobil, Jongin terdiam sepanjang perjalanan terus terngiang perkataan temannya.

“Kau akan mengajak Sohee pada pesta Baekhyun?”

“Mengapa tidak?” Jawab Jongin mantap.

Sehun menghembuskan nafasnya “aku akan mengajak Luhan noona!” Kata Sehun.

Jongin menatapnya dengan Senyum lebar di wajahnya “pergerakan yang bagus Sehun!”

Sehun hanya mendengus menanggapi.

***

Sohee baru saja keluar dari dapur dengan segelas susu di tangannya saat dirinya berpapasan dengan Yixing yang baru saja berlatih. Sohee mengernyit saat melihat Yixing membawa karangan bunga matahari di tangannya.

“Bunga lagi?” Tanya Sohee.

Yixing mengangguk dan menetap karangan bunga di tangannya.

“kali ini apa?” Tanya Sohee lagi. Sohee sudah tau bahwa beberapa waktu belakang ini, unninya ini selalu mendapat karangan bunga dari seorang penggemar yang selalu meletakkan bunganya tepat di depan pintu ruang latihan unninya itu.

“bunga matahari yang berarti, aku selalu mengawasimu! Bukankah itu manis?”

Sohee memutar matanya “manis? Entah mengapa bagiku itu mengerikan!” sahut Sohee. Yixing cemberut dan menghilang ke dalam kamarnya.

Sohee kembali berjalan menuju sofa dan menghempaskan dirinya duduk di samping Minseok dan menyodorkan gelas berisi susu yang sisa setengah pada oppanya itu.

“aku pulang!” suara khas milik Jongdae menggema. Berjalan masuk dan berhenti saat melihat Sohee dan Minsoek dan ikut bergabung dengan keduanya.

***

Luhan berjalan keluar dari studio pemotretan, hari semakin gelap lampu jalan kota Seoul sudah menyala menerangi jalanan. Dengan langkah tergesa berjalan menuju halte bis saat mengingat dirinya memilik janji dengan Sohee.

Dengan sabar menunggu datangnya bis saat sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Semuanya tampak terjadi dengan cepat saat seorang berpakaian serba hitam keluar dan menyeretnya paksa masuk ke dalam mobil dan membekap mulutnya lalu perlahan Luhan kehilangan kesadarannya.

***

Sohee dengan kesal menghentak-hentakkan kakinya keluar dari sebuah supermarket. Luhan yang berjanji akan menemaninya berbelanja keperluan sehari-hari tidak menepatinya. Minseok yang akan diminta menemaninya tampak sibuk dengan tugas akhirnya sementara Yixing dan Jongdae belum pulang dan memutuskan untuk pergi seorang diri.

Sohee berjalan dengan kantung belanja di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegangi ponselnya sedang memebalas email Jongin yang sedang ngotot untuk menjemputnya. Sohee tersenyum membaca email Jongin saat sebuah tangan besar membekap mulutnya, Sohee berusaha meronta kantung belanjaannya terlepas dari tangannya dan menumpahkan segala isinya. Sohee menggigit tangan yang membekap mulutnya dan sang empunya tangan berteriak kesakitan dan Sohee berusaha lari sekuat tenaganya, tetapi salah satu dari rekan sang pembekap berhasil menangkap Sohee kembali.

“lepaskan!” pekik Sohe.

Plakk!

Sohee merasakan telinganya berdengung saat orang yang menangkapnya menampar wajahnya, bibirnya pun terasa perih dan sedikit mengeluarkan darah, seandainya saja Sohee bukan seorang wanita tamparan itu tidak berarti sama sekali, tetapi bagi Sohee, tamparan itu mampu membuatnya kehilangan kesadarannya.

***

“breeengseeeekk!’ maki Jongin dan membanting ponselnya ke lantai. Sontak benda persegi itu pecah berkeping-keping. Jongin kembali mengacak rambutnya frustasi. Sehun yang berdiri disampingnya juga memasang wajah tegang. Kejadian hampir sama pada dua tahun lalu kembali terulang. Namun kali ini dialami oleh Luhan. Luhannya dan Sohee.

“Jongin” lirih Sehun dan menyentuh pundak Jongin

“Sehun, aku.. aku..” suara Jongin menggantung. Bahunya berguncang hebat dan isakannya mulai terdengar.

“apa yang kulakukakn! Soheeku..” lirihnya pelan.

“Jongin! Tenanglah!” ucap Sehun padahal di dalam hatinya pun dirinya sudah kacau balau.

“mereka meminta kita datang Sehun!”

Sehun mengehembuskan nafasnya. “baiklah kita datang!”

Jongin menegapkan tubuhnya dan menatap yakin ada Sehun.

***

Perlahan Sohee membuka matanya, hal pertama yang diingatnya adalah kantung balanjaannya. Sohee meringis saat merasakan tangan dan kakinya terikat kuat sama sekali tidak mampu menggerakkan keempatnya. Sohee memejamkan matanya, dirinya diculik dan dijadikan Sandera. Bagaimana jika sang penculik meminta tebusan pada kedua orangtuanya. Bagaimana jika Sohee akan di jual, bagaimana. Sohee membuka matanya saat merasakan pergerakan tidak jauh dari tempatnya terduduk.

“Luhan unni!” lirihnya pelan. Sohee tau betul sosok yang sedang tersungkur tidak jauh dari tempatnya. Rambut pirang milik unninya dan pakaian yang dikenakan unninya itu membuatnya semakin yakin.

“Sohee!” gumam Luhan pelan. Suaranya bergetar menahan tangisnya.

Sohee bringsut dari tempatnya dengan susah payah mendekati Luhan yang tampak sangat kacau. Mata dan hidungnya sudah memerah, rambutnya tampak berantakan dengan kedua tangan dan kakinya terikat sama seperti Sohee.

“apa yang terjadi?” Tanya Sohee saat berhasil mendekat pada Luhan yang sudah kembali menangis.

“aku tidak tau, mereka membawaku saat aku..” Luhan tidak melanjutan perkataannya.

Sohee menghela nafasnya, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain meratapi nasibnya. Matanya menyalang menatap sekelilingnya, puluhan drum dan aroma laut yang begitu terasa serta suara desiran ombak. Sohee yakin dirinya saat ini berada tidak jauh dari laut.

Tiba-tiba Sohee teringat akan email Jongin yang ngotot untuk menjemputnya, seandainya dia tadi menunggu Jongin.. tapi dia kembali teringat ponselnya yang diletakkanya di sakunya.

“unni!” bisik Sohee.

Luhan mendongak menatapnya.

“ponselku, ponselku di saku. Kau harus bisa mengambilnya! Ucap Sohee dan kembali mendekat pada Luhan

***

Iklan

11 pemikiran pada “Will of The Heart (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s