Destiny (Sequel) [Chapter 7 – END]

Judul : Destiny (Sequel)
Nama author : Goseumdochi
Genre : Romance Drama
Length : > 1000
Rating : T
Main Cast : Baekhyun and You (as Park Hana)

Hai aku kembali dengan sequel Destiny~ karena banyak yang merequest untuk dibuat sequelnya dengan cepat, jadi aku membuat ini. Mohon maaf jika penulisannya kurang baik dan feelnya kurang dapat. Karena aku buatnya buru – buru disela tugas. Hehehe, anyway read and review ya~ No review, no next part #lah?

Disclaimer : Baekhyun. Actually he’s mine *digeret EXO fans*

This story is mine. Aku membuat cerita ini setelah membaca article yang bilang sasaeng fans mengganggu acara pernikahan kakaknya Baekhyun. Kasihan abang Yuyunku. Anyway, read and review ya.

Untuk yang belum baca Destiny, silahkan klik : https://exofanfiction.wordpress.com/2013/11/12/destiny-4/ Atau bisa juga di wp aku Let’s begin the story!

Destiny (Sequel)

Part Seven (End)

Hana POV

Sore ini kangdongnim menjemputku untuk pergi ke acara temannya tersebut. Sepanjang perjalanan kangdongnim dan aku seperti biasa bercanda. Mungkin kalau orang yang tidak mengerti kami berdua pasti berpikiran kami sedang bertengkar saat ini.

“Hana, bagaimana menurutmu?” tanya kangdongnim sambil melemparkan sebuah kotak kecil kepadaku. Aku membuka kotak tersebut yang ternyata berisi dua buah cincin yang sangat cantik dengan ukiran nama Young do dan Haerin dimasing – masing bagian dalamnya.

“Cincin pernikahan?!” pekikku setelah menyadari ini bukan cincin biasa. 

Kangdongnim mendengus sebal,”Seperti biasa responmu lama sekali.”

“Yaish. Ini cantik….” gumamku sambil memegang cincin – cincin itu. Ya.. tidak kusangka lelaki kejam semacam iblis ini memiliki selera yang bagus juga.

“Aku tahu seleraku selalu bagus.” ujarnya bangga. Oh please dia mulai lagi.

Akhirnya setelah kurang dari satu jam kami sampai ke tempat tujuan. Aku dan kangdongnim diperiksa oleh penjaga didepan sana. Peraturannya ketat sekali, kami dilarang membawa tas apalagi kamera dalam bentuk apapun kedalam sana. Untung saja kangdongnim dan aku sama sekali tidak membawa apapun. Semua barang kami, kami tinggal di mobilnya. Tapi tetap saja penjagaan terlalu berlebihan.

Kami memasuki ruangan pesta yang lumayan megah. Keren….

“Ya!” seru kangdongnim sambil memukul kepala seorang laki – laki dengan seenaknya.

“Ya!” seruku bersamaan dengan orang yang baru saja dipukul oleh kangdongnim. Aku memukul tangan kangdongnim karena seenaknya kepada seseorang seperti itu.

“Ya! Apa ini ulang tahun presiden? kenapa banyak sekali aturan didepan sana eo?!” omel kangdongnim sambil menunjuk – nunjuk wajah pria didepan kami ini.

“Ada alasan khusus untuk itu.” jawabnya singkat.

“Ya…. Seperti biasa, bukannya selamat ulang tahun malah pukulan yang kudapatkan darimu eo?” lanjutnya lagi.

Kangdongnim tertawa lalu menyerahkan sesuatu yang sangat tipis mirip selembaran untuk pria tersebut. Kangdongnim bilang itu adalah hadiah ulang tahun dan pernikahan untuknya beberapa bulan yang lalu.

“Ah! Ini Park Hana, adikku.” seru kangdongnim sambil menepuk punggungku keras. Benar – benar….

“Annyeong haseyo, Park Hana imnida.” ujarku sopan seraya membungkukan badan.

“Ah aku-“

“Kau tidak perlu tahu siapa dia.” ujar kangdongnim memotong perkataan pria itu dengan cepat.

“Kau cukup memanggilnya Byun.” lanjutnya santai.

“Ya!” protes orang itu sambil memukul bahu kangdongnim. Kangdongnim langsung membalasnya, kemudian pria itu membalasnya lagi dan dibalas lagi oleh kangdongnim. Lama kelamaan gerakan saling memukul mereka semakin cepat. Mereka itu teman apasih….

“Ya! Yeoboya! Youngdoah! Kalian mulai lagi seperti anak kecil!” seru seorang wanita yang sangat cantik sambil melerai mereka berdua lalu memukul keduanya.

“Ah wae?! Dia duluan yang memukulku.” seru kangdongnim sambil mengusap lengannya.

“Mwo?Ya! Kau-“

“Ya! Shikereo!” seru wanita itu memotong perkataan pria yang disebut Byun oleh kangdongnim. Dia kemudian melihatku lalu tersenyum dan memperkenalkan dirinya.

“Yang ini istrinya dia, kau harus memanggilnya mrs. Byun.” jelas kangdongnim dengan gaya sok tahunya. Aku mengangguk mengerti lalu memanggilnya mrs. Byun yang langsung membuat mereka bertiga tertawa, dan aku tidak mengerti kenapa mereka tertawa. Apa ada yang lucu?

“Ah! Dia sangat cantik Youngdo ya….” seru wanita itu sambil memegang kedua sisi bahuku.

“Apanya.” ujar kangdongnim datar sambil menyingkirkan kedua tangan wanita itu dari bahuku.

“Ya!” desisnya sambil memukul lengan kangdongnim lagi.

“Kau harus kuperkenalkan dengan adikku yang tampan. Ah dimana dia? Apa dia datang?” dia melirik kekanan dan kekiri mencari wujud yang dia maksud adiknya tersebut.

“Ah! Itu dia!” serunya sambil melambaikan tangannya memanggil orang yang dia maksud.

“Ya! Byun Baekhyun!” Aku langsung membeku mendengar nama tersebut dipanggil olehnya.

Byun… Baekhyun?

Aku langsung melirik kebelakang memastikan itu bukan orang yang kukenal dulu. Tapi tidak… itu dia….

Dia baru saja melewati pintu masuk ruangan ini. Kulihat ia menggunakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai sesiku tangannya. Terlihat sangat casual tapi tampan.

Entah kenapa aku jadi merasa sedih melihatnya saat ini. Dengan pakaian secasual itu saja dia terlihat seperti seorang bintang. Berbeda dengan Lee Shin yang terlihat biasa saja walaupun tetap menawan. Kemana mataku selama ini?!

Aku jadi merasa saat ini ada jurang yang memisahkanku dengannya, membuatku sadar dia bukan Lee Shin….

Dia langsung tersenyum saat melihat wanita disebelahku ini melambaikan tangan kepadanya, menyuruhnya untuk datang kesini. Dia sempat menghentikan langkahnya sesaat saat menyadari ada aku disini, tapi dia langsung memperbaiki raut wajahnya senormal mungkin lalu kembali berjalan ke tempat kami berdiri.

“Ah~ Dia gugup melihatmu.” goda mrs. Byun sambil menyenggol bahuku.

Ya, gugup karena bertemu dengan musuhnya.

“Baekhyunah! Kenalkan ini Hana.” seru mrs.Byun sambil menarik tanganku dan tangannya untuk berjabat tangan.

“Annyeong haseyo, Byun Baekhyun imnida.” dia tersenyum sambil menjabat tanganku lembut. Aku hanya tersenyum sekilas lalu dengan perlahan melepaskan jabatan tangannya tersebut.

“Eiii, apa ini sesi perjodohan.” seru kangdongnim tidak suka. Dia langsung menjauhiku dari ketiga orang itu.

“Aku lapar, boleh aku ambil makanan?” tanyaku polos. Sejujurnya aku hanya ingin pergi menjauh dari orang dihadapanku ini, Baekhyun.

“Pergilah.” Aku langsung tersenyum setelah mendengar perkataan kangdongnim. Dengan langkah cepat aku pergi menjauhinya. Aku muak harus bertemu dengannya lagi. Fate? Omong kosong.

Aku berjalan tak tentu arah sejak tadi, sampai akhirnya aku menemukan sebuah pintu. Pintu yang cukup aneh karena berada dibelakang tirai. Mungkin ini pintu khusus karyawan. Karena aku orang yang penasaran, kumasuki saja pintu itu secara diam – diam. Ternyata itu adalah pintu lain menuju sebuah taman dengan banyak lampu hias dipohonnya.

“Wa….” takjubku melihat taman ini. Aku melihat lampu berwarna – warni itu dari dekat. Ya… ini benar – benar keren sekali.

Ternyata taman ini berhubungan dengan tempat pesta, tapi kenapa tidak ada yang mau kesini? Mungkin karena orang berpikir udara diluar dingin. Tapi tidak juga, disini terasa hangat….

“Aku tidak seharusnya berada disini.” gumamku sendirian. Aku kemudian berbalik ke pintu tadi untuk kembali ke ruang pesta.

Tidak bisa dibuka.

“Ya.” panikku seraya mencoba memutar kenop pintu berulang kali. Sial, terkunci dari dalam.

“Baiklah, mungkin aku harus berada disini lebih lama.” gumamku pelan lalu melihat sekelilingku.

“Ya…. Ige mwoya?!” seruku saat melihat sebuah kolam dengan air mancur ditengahnya. Aku langsung menghampiri kolam tersebut dan duduk disebelahnya. Aku tertawa kecil saat aku memainkan air dalam kolam tersebut. Ya… Apa ini negeri dongeng?!

Aku berkeliling tempat ini untuk menjernihkan pikiranku. Perasaanku campur aduk sejak melihatnya hari ini. Sedih? Sangat… Tapi menangis? Hah.. Airmataku sudah habis karenanya! Tapi aku tidak pernah bisa marah kepadanya. Entahlah… aku juga tidak mengerti.

Kudengar ada suara orang yang sedang berbicara dibalik semak tinggi didepanku. Sepertinya pembicaraan antara dua orang. Yang satu terdengar seperti suara wanita yang menahan, marah….

Ah… mungkin mereka sedang bertengkar. Ini bukan urusanku, aku harus pergi.

“Eomma,” lirih suara seseorang.

Suara ini.. mungkinkah?

“Baekhyun ah,”

Deg.

“Kenapa kau datang kesini eo?” dengan jelas kudengar wanita tersebut berkata seperti itu dengan sarkastiknya. Ya! Apa dia benar – benar eommanya? Kenapa dia bertanya seperti itu kepada Baekhyun?!

“Eomma,” ujar Baekhyun pelan. Aku mengintip sedikit dibalik pohon untuk melihatnya. Wajahnya terlihat sangat tersakiti karena pertanyaan eommanya barusan. Dia terlihat seperti ingin menangis….

“Bukankah eomma sudah bilang padamu kau tidak usah datang kenapa kau masih datang ke acara ini hah?!” pekik eommanya penuh emosi.

“Ya! Apa kau bodoh?! Tidakkah kau lihat semua tamu menatapmu kesal?! Kau ingin membuat eomma marah?! Eomma sudah bilang kau tidak usah datang kenapa kau masih saja datang?!!” teriaknya frustasi. Aku langsung menutup mulutku melihat kejadian ini.

“Aku… merusak pernikahan kakakku.”

Sekilas perkataan Shin dulu melintas dipikiranku, apa ini yang kau maksud…. Baekhyun?

“Pergi.” ujar wanita itu penuh penekanan.

Baekhyun tersenyum miris dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya,”Apa karena aku artis?”

“Ya Byun Baekhyun. Kau tahu statusmu sekarang. Kau adalah artis, bukankah sebaiknya kau beristirahat daripada datang kesini disela jadwalmu itu? Bagaimana kalau fansmu itu datang lagi dan mengacaukan pesta seperti waktu itu?!” ujar eommanya dengan penuh emosi.

“Eomma.. mereka tidak bisa masuk kesini.” jelas Baekhyun sambil mencoba memegang tangan eommanya, namun dihempaskan begitu saja oleh wanita itu.

“Lalu apa keluarga besar kita itu peduli? Mereka tetap kesal karena kejadian waktu itu dan kau tetap berani datang kesini?!” Baekhyun langsung tertunduk setelah mendengar perkataan ibunya tersebut.

Setelah berdiam cukup lama, wanita itu pergi dari hadapan Baekhyun meninggalkan laki – laki itu sendirian dengan punggung yang terlihat bergetar.

Dia membalikan badannya dan melihatku yang sedang berdiri dibalik pohon memandangnya sejak tadi. Dia terdiam menatapku dengan air mata yang sudah terlihat dipelupuk matanya. Aku mengalihkan pandanganku darinya, aku bingung harus bagaimana karena ketahuan olehnya menguping sejak tadi.

“Kau… sejak tadi disitu?” tanyanya dengan suara bergetar. Aku hanya dapat terdiam menatap matanya kembali.

Dia tersenyum miris lalu ia mengebelakangkan poninya dengan tangannya.

“Kau mendengar semuanya?” tanyanya lagi.

Aku menggigit bibir bagian bawahku tuk menahan tangis karena melihatnya yang seperti ini. Dia terlihat.. hancur..

Dia tersenyum miris seolah mengejek dirinya sendiri lalu menarik nafas dalam seolah menahan tangis. Airmata terlihat jatuh dipipinya, tapi dia langsung menghapusnya dengan tangannya.

Entah gerakan dari mana aku melangkahkan kakiku kearahnya lalu sedikit berjinjit untuk memeluknya.

“Hana….” ujarnya dengan suara bergetar. Airmataku langsung jatuh saat kurasakan dia membalas pelukanku lebih erat. Dia menangis dibalik bahuku.

Baekhyun ah…. Inikah yang kau tanggung selama ini?

Normal POV

Kini Baekhyun dan Hana duduk disebuah bangku disebelah kolam dengan air mancur ditengahnya, tempat Hana bermain air sendirian tadi.

Mereka hanya terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing – masing. Hanya genggaman tangan yang seolah sudah mewakili semuanya. Dari perkataan… sampai perasaan mereka.

“Aku senang bisa memegang tanganmu seperti ini lagi.” ujar Baekhyun sambil tersenyum kearah Hana.

Hana mendengus sebal lau mencoba melepaskan genggaman tangan Baekhyun ditangannya tersebut,”Ya…. Lepaskan.”

“Shireo.” bisik Baekhyun tepat didepan telinga Hana. Ia lalu tersenyum jahil setelah melihat wajah Hana yang mulai terlihat memerah karena perlakuannya barusan.

“Setelah mendengar semuanya, apa kau mengerti kenapa aku membohongimu?” tanya Baekhyun dengan serius. Hana hanya terdiam lalu mengalihkan pandangannya dari Baekhyun, tidak mau membahas kejadian lalu.

Baekhyun menghela nafasnya keras lalu meletakan tangan kanannya yang bebas keatas kepala Hana, Ia mengacak rambut Hana pelan sambil tersenyum.

“Aku tidak ingin kau mengusirku seperti eommaku tadi.” lirihnya dengan tatapan kosong. Raut wajahnya terlihat sendu mengingat kejadian yang baru saja terjadi padanya.

“Mianhae….” ujarnya tulus. Hana yang tadinya terpaku melihatnya langsung buru – buru mengalihkan tatapannya lagi.

Baekhyun tersenyum melihat respon Hana yang hanya diam setelah mendengar perkataannya tadi.

“Dalam kamusku diam berarti iya.”

“Baiklah lalu apa kau menyukaiku?”

“……… Mwoya?!”

“Hahahahahahaha kau menyukaiku~”

Sekilas percakapan mereka dulu saat mereka bersama terlintas dipikiran Baekhyun saat ini, membuatnya langsung tersenyum sendirian hanya karena memikirkannya.

“Kenapa kau tersenyum sendiri?” tanya Hana dengan polosnya.

Laki – laki tersebut hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya,”Ani. Ah, kenapa kau bisa ada disini? Kupikir semua pintu sudah sengaja ditutup oleh hyungku.”

“Hyungmu menutup semua pintu?!” pekik Hana.

“Ne, kecuali pintu itu.” jawab Baekhyun sambil menunjuk pintu dibalik semak tempat dia dan eommanya masuk tadi.

“Hyungku bilang diluar dingin, jadi pintu sengaja dikunci.” lanjutnya lagi.

“Pantas aku tidak bisa keluar tadi.” gumam Hana pelan.

“Ne?”

“Aniya…. Aku tadi terkunci, saat aku ingin kembali masuk, pintu itu tidak bisa terbuka.” jelas Hana sambil menunjuk pintu tempat dia masuk tadi. Baekhyun langsung tertawa geli mendengar penjelasan Hana.

“Ah wae?!” seru Hana sambil memukul bahu Baekhyun.

“Ya… Apa hidupmu selalu sial?” tanya Baekhyun disela tawanya.

“Ya mana aku tahu hyungmu akan menutup semua pintu!” protes Hana sambil memukul – mukul bahu Baekhyun karena mengejeknya sial.

Baekhyun menghela nafasnya lalu tersenyum ke Hana,”Apa ini takdir?”

“Ne?”

“Aku rasa perkataan abeojiku dulu sedang terjadi.” ujar Baekhyun lalu tersenyum geli, Hana hanya terdiam menatapnya bingung karena tidak mengerti.

Flashback~

Semua punya tujuan, apapun yang terjadi pasti ada tujuannya. Reason…”

“Atau destiny?” gumamnya ragu dengan perkataannya sendiri.

“Ya abeoji! Kau mulai sok bicara bahasa Inggris lagi eo?” seru seorang laki – laki pendek dengan polosnya setelah mendengar perkataan bijak ayahnya.

“Yaish jinjja!” omel laki – laki yang disebut sebagai abeoji oleh anak tersebut sambil memukul punggung anak itu. Anak tersebut bukannya meringis malah tertawa karena sikap ayahnya barusan.

“Kau akan mengerti suatu saat nanti, Baekhyunah. Mungkin kau akan berhadapan dengan masalah yang sangat besar. Sanking besarnya sampai – sampai keluarga ini tidak bisa menolongmu, termasuk aku.”

“Tapi mungkin kau akan menemukan penolongmu disaat masalah itu terjadi. Atau mungkin itu cintamu yang sesungguhnya.” lanjutnya lagi dengan tatapan lurus tanpa melihat anaknya tersebut, seolah  sedang menerawang kedepan.

“Bagaimanapun juga, anakku harus kuat. Arasso?”

Anak kecil itu mendengus sebal lalu meletakan salah satu tangannya dipundak ayahnya tersebut,”Apa abeoji tau? Abeoji bicara seolah sedang sekarat saat ini.”

“Ya!” teriak ayahnya tersebut didepan wajahnya. Anak itu kemudian berlari sambil tertawa karena dikejar oleh ayahnya dari belakang.

Back to the real time.

“Memang dia bicara apa?” tanya Hana.

Baekhyun masih tersenyum karena mengingat kejadian masa lalunya.

“Ani.” jawab Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya.

Hana mendengus sebal lalu menengok kearah lain sambil bergumam pelan karena kesal dengan Baekhyun sejak tadi. Baekhyun tertawa kecil melihat tingkah gadis didepannya tersebut.

“Hana,” panggil Baekhyun tiba – tiba.

“Ne-” Baekhyun langsung menempelkan bibirnya di bibir Hana tepat disaat Hana menolehkan kepalanya ke Baekhyun. Hana membulatkan matanya karena shock dengan perlakuan Baekhyun yang tiba – tiba tersebut.

Dengan perlahan Baekhyun melepaskan tautan bibirnya dari bibir Hana lalu membuka matanya. Ia tersenyum melihat ekspresi Hana yang masih terkejut karena perlakuannya barusan.

“Saranghae.”, bisik Baekhyun tepat didepan telinga Hana.

The End

Yehei~ akhirnya the end. Maaf feelnya kurang. Kurang greged. Author lagi pusing-_-v anyway comment yaaaw :3

11 pemikiran pada “Destiny (Sequel) [Chapter 7 – END]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s