Our Story (Chapter Three : The Real Us)

PhotoGrid_1391954298059

 

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Yoon Sohee (Oc)

                     Oh Sehun (Exo)

                     Do Kyungsoo (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

 

Length:            chapter

 

Genre:             romance, friendship, family

 

Rating:             PG-15

 

Author note:      this is chapter three.. enjoy it…

 

 

 

 

 

 

From: mylovelyTwin

Noona, aku tidak bisa pulang bersamamu, ada kegiatan club. cari orang lain saja!

Sohee menghembuskan nafasnya pasrah saat membaca pesan dari Sehun. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi, tapi Sohee masih menunggu kepastian dengan siapa ia akan pulang. Diliriknya Kyungsoo yang masih sibuk merapikan bukunya. Kemudian berbalik memutar tubuhnya menatap Chanyeol dan Baekhyun di kursi belakang yang tampak sedang berdebat kecil. 

“Oppa, pulang bersamaku, ne?” Pintanya pada Chanyeol dan Baekhyun. Mereka menghentikan kegiatan mereka lalu menatap sohee, “mianhae Sohee, aku ada kegiatan club!” Jawab Baekhyun lalu menunjukkan seragam hipkidonya pada Sohee. Begitu pula Chanyeol yang mengangkat busur panahnya tepat di depan wajahnya. “Ya sudah!” Ucap Sohee pelan lalu kembali melirik Kyungsoo. Merasa dirinya di perhatikan, Kyungsoo balik menatap Sohee.

“Wae?” Tanya Kyungsoo, Sohee tersenyum lebar.

“Aku sedang menunggu kabar dari Jongdae tentang jadwal club kami!” Jelas Kyungsoo yang sudah mengerti maksud dari senyum lebar Sohee. Sohee cemberut lalu menjatuhkan dirinya duduk di kursinya kembali.

“kami pergi dulu, ne!” Ujar Baekhyun lalu berjalan keluar kelas bersama Chanyeol. “Ah, ya! Kalau tidak ada yang menemanimu pulang, tunggu kami saja!” Tambah Chanyeol

 Sohee mengangguk. Lalu di rogohnya saku blazernya mengeluarkan ponsel menghubungi Suho.

“Oppa, ayo kita pulang bersama!” Seru Sohee saat teleponnya di angkat

“…”

“ahh, ada rapat, ne? Ya sudah!”

“…”

“Ne, arraseo!!!! Aku tidak akan pulang sendirii!” Ucap Sohee setengah berteriak. Diputuskannya sambungan telepon lalu dengan kasar memasukkan kembali ke dalam sakunya.

Kelas begitu sepi, hanya Sohee dan Kyungsoo di kelas. Sekolah juga sudah tampak sepi, hanya sesekali terdengar suara langkah kaki di koridor.

“Kyungsoo, ayo kita keluar!” Ajak Sohee pada Kyungsoo. Kyungsoo hanya mengangguk lalu berjalan keluar dan disusul oleh Sohee.

Sesekali Sohee melirik Kyungsoo yang berdiri bersandar pada tiang yang berjejer di koridor sekolah. Sudah 15 menit mereka  berdiri menunggu Jongdae membawa kabar, sikap bosan juga sudah berkali-kali diperlihatkan Sohee. Tapi Kyungsoo hanya berdiri diam mematung menatap kosong pada lapangan di depannya.

“aku lelah, aku pulang sendiri saja!” Seru Sohee lalu berjalan meninggalkan Kyungsoo.

“Andwae!” Kyungsoo menahan Sohee.

“Aku lelah! Aku mengantuk, aku lapar!!” Ucap sohee setengah berteriak.

Kyungsoo menarik nafasnya, sebenarnya Kyungsoo juga cukup kesal tapi dia menahannya “5 menit lagi ne!” Kyungsoo berusaha meyakinkan Sohee. Sohee hanya mengangguk pasrah dan kembali melirik Kyungsoo yang kembali terdiam, bukan tanpa alasan Kyungsoo ataupun sahabatnya yang lain tidak membiarkannya pulang sendiri. Ada alasan yang cukup membuat Sohee dan sahabatnya trauma walaupun kejadian itu berlangsung sudah cukup lama.

Dalam hati Sohee menghitung detik demi detik dari jarum jam yang dikenakannya.

“Noona!” Sohee berbalik menatap orang yang memanggilnya. Jongdae setengah berlari ke arahnya, Sohee merengut. Entah sudah berapa kali Sohee mengatakan pada Jongdae untuk tidak mengikuti Sehun memanggilnya noona, tapi Jongdae tetap saja melakukannya.

“Lama sekali sihh Cheen!” Sohee mulai protes.

“Mianhae, aku ada sedikit urusan dengan ketua club!!” Kelas Chen.

“Jadi?” Kyungsoo mulai bersuara.

“Kita bisa pulang. Kajja!!” Ucap Jongdae bersemangat dan menggandeng tangan Sohee. Sohee cemberut tapi tetap saja melangkahkan kakinya diikuti Kyungsoo yang berjalan santai di belakangnya.

“Kyungsoo!” Panggil Sohee, Kyungsoo mengadah menatap Sohee. Lalu Sohee mengulurkan tangannya di hadapan Kyungsoo Kyungsoo tersenyum dan kembali menggenggam tangan Sohee, menyelaraskan langkah mereka.

***

Sinar matahari sore masuk melalui pintu kaca balkonku yang sengaja  kusingkapkan tirainya. Aku bangkit dari tidur, menatap bayangan diriku di cermin, hahh, eomma bisa marah padaku melihatku tidur menggunakan seragamku. Dengan cepat aku menggantinya dan berjalan keluar kamar.

Saat berjalan menuruni tangga, Samar-samar  aku mendengar suara televisi dari ruang keluarga. “Oppa!” Panggilku pada Suho oppa yang duduk di sofa dengan setoples kripik di tangannya.

“Hmmm” jawabnya dengan desahan.

“Mana eomma?” Tanyaku lalu ikut duduk di sampingnya menatap televisi yang sedang menampilkan acara Running Man.

“Eomma di klinik!” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

“appa?” Tanyaku lagi dan meraup keripik di tangannya.

“Menemani eomma di klinik!” Jawabnya dan menjauhkan kripiknya.

“Sehun?”

“Entahlah, dari tadi aku tidak melihatnya”. Aku mengangguk mendengar jawaban darinya.

“Tadi eomma mencarimu, tapi kau tertidur seperti kerbau!” Tambahnya lalu tertawa terbahak-bahak. Aku memutar bola mataku, tanda kesal.

“Kau pulang jam berapa tadi?” Tanyanya dan kali ini menatapku.

“Entahlah” jawabku lalu berusaha merebut remote darinya, tapi gerakanku dapat dibaca olehnya. Aku cemberut.

“Ah, ya! Jongdae, dia memintaku memberitahumu untuk menemuinya di rumahnya kalau kau sudah bangun!” Ujar Suho oppa dan meletakkan remote di bawah bokongnya. Aku mendengus lalu bangkit dari dudukku, berjalan ke dapur membuka kulkas dan meneguk susu strawberry langsung dari kartonnya. Masih bisa kudengar suara tawa Suho oppa yang membahana.

“oppa! Aku ke rumah Jongdae dulu!” Seruku dan berlari keluar rumah.

“Soheee!!!!” Chanyeol memanggilku dari halaman rumah Kris, tempat kami biasa berkumpul. Sehun, Tao, dan Lay sedang bermain basket.  Sementara sisanya aku tidak tau sedang melakukan apa. Aku hanya melambai. Dan kembali berjalan menuju rumah jongdae.

“ahjummaaaa!!” Panggilku pada eomma Jongdae. Eomma Jongdae mengangkat wajahnya menatapku, dan tersenyum, garis wajah yang memang cantik masih sangat tergambar jelas di wajahnya. Eomma Jongdae sudah seperti  ibu keduaku. Saat aku masih kecil dan eomma masih bertugas di rumah sakit, eomma selalu menitipkanku dan Sehun padanya.

“Ahh, Sohee!” Suara lembutnya tidak berubah sama sekali saat menyebut namaku.

“Mana Jongdae?” Tanyaku lalu duduk di sampingnya.

“Sedari tadi dia di kamar” jawabnya dan memperbaiki kacamatanya yang melorot.

“Ne, ahjumma sedang apa?” Tanyaku lagi.

“Merajutkan sarung tangan untuk Jongdae” aku menggangguk dan berdiri, berjalan masuk menuju kamar Jongdae. Saat akan menaiki tangga menuju kamar Jongdae, aku berpapasan denganya.

“Noona? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Suho oppa bilang, kau memintaku ke rumahmu!”

“Hyung benar-benar memberitahumu? Padahal aku hanya basabasi tadi!”

“Aiiishhhhh!!!” gerutuku kesal lalu berbalik menyusul Jongdae yang berjalan keluar.

“Eomma, aku ke depan dulu!” Ucap Jongdae pada eommanya.

“Ne, jangan lupa cepat pulang!” Balas eommanya.

“Eomma tinggal berteriak memanggilku!” Tambah Jongdae lalu mengecup pipi kiri eommanya. Aku hanya diam memandangnya dari depan pintu. Bukankah sudah ku bilang Jongdae itu anak tunggal, harta paling berharga eomma dan appanya, mereka sangat menyayangi Jongdae bahkan menuruti semua yang diingankannya, untung saja Jongdae anak yang baik, sehingga dia menyikapinya dengan baik juga dan tidak memanfaatkan kebaikan orangtuanya. Aku melangkah mendekat pada ahjumma, “cup” mengecup pipi sebelah kanannya dan tersenyum lebar sambil memandang kedua ibu dan anak di hadapanku.

“Aihh, kalian sudah besar, tapi masih saja melakukannya!” Seru eomma Jongdae sedikit tersipu. Aku dan Jongdae tertawa, dan kemudian menarik tangan Jongdae untuk keluar dari rumahnya.

“kami pergi duluu ahjumma, anneyong!” Teriakku.

***

Sohee duduk bersila di pinggir lapangan basket tepat di depan rumah Kris dan Tao. Sehun, Tao Luhan  dan Lay bermain basket dan Jongdae yang baru saja bergabung, di teras rumah Kris, Chanyeol dan Kyungsoo bersama-sama mengutak-atik gitar yang entah milik siapa. Sementara di sisi lain, Kris sedang memegangi Baekhyun yang berusaha menjaga keseimbangannya di atas skateboard milik Chanyeol. Tidak berapa lama, Lay berhenti bermain dan posisinya digantikan Kris yang sedikit cemberut karena mendapat makian dari Baekhyun yang hampir saja terjatuh dari skateboard saat Kris melepas pegangannya.

“Kenapa berhenti oppa?” Tanya Sohee saat Lay ikut duduk di sampingnya.

“Aku tidak boleh terlalu lelah!” Jawab Lay dan menyeka keringat di wajahnya. Sohee mengangguk dan berbalik menatap sahabatnya itu, kulitnya tampak pucat memar biru keunguan yang di lihatnya beberapa hari lalu sudah memudar sebagian.

“Jadi, kau memutuskan masuk club apa?” Lay kembali membuka pembicaraan.

Sohee menghembuskan nafasnya “entahlah oppa!” Desahnya, lalu didongakkannya kepalanya menatap langit yang sedikit berwarna jingga lalu melambai pada Kyungsoo yang sedang tersenyum padanya.

“Oppa bilangkan ikuti kata hatimu!”

“ne?” Sohee menoleh menatap Lay karena tidak fokus pada apa yang dikatakan Lay.

“Ikuti kata hatimuu!” Ulang  Lay tepat di hadapan wajah Sohee, Sohee mengangguk lalu kembali menatap Kyungsoo dan sedikit kecewa saat Kyungsoo tidak menatapnya lagi.

“Sohee, giliranmuuu!!!” Seru Tao dan melempar bola basket padanya. Sohee menangkapnya dengan wajah cemberut.

“Kau taukan aku tidak bisa!” Teriak Sohee lalu berdiri dan kembali melempar bola itu pada Tao.

“coba saja noona, three point!” Tambah Sehun.

“Ayolah noona, kau pasti bisa!” Seru Jongdae menyemangati.

“Baiklah!” Ucap Sohee dan berjalan ke tengah lapangan mengambil ancang-ancang dan saat bola dilempar, lemparannya meleset. Hingga ketiga kali Sohee melakukan shoot, tidak satupun bola itu lolos melewati ring. Sohee cemberut, “sudah kubilangkan!”

Tanpa aba-aba Kris berjalan maju mendekati Sohee, mencengkram pinggang Sohee dan mengangkatnya beberapa Centimeter dari tanah.

“Cepat lempar!” Ucap Kris yang tampak setengah mati menahan berat badan Sohee. Sohee memejamkan matanya sesaat dan kembali melempar bola dan blaasssshh dengan suksesnya bola masuk melewati ring.

“Woohhoooooo!!!!” Sohee berteriak senang. Masih dalam posisi yang sama Kris mengaraknya keliling lapangan diikuti yang lain dan mengelu-elukan nama Sohee.

“Turunkan aku!” Pinta Sohee setengah meronta. Kris yang memang sedikit kewalahan menurunkannya dan kemudian berbaring terlentang di lapangan diikuti yang lain. Sohee ikut berbaring di samping Sehun.

“Noona!” Sehun berbalik menghadap pada Sohee yang memejamkan matanya.

“Hmmm?” Desah Sohee.

“kapan terakhir kita mandi bersama?” Tanya Sehun yang sontak membuat mata Sohee terbelalak.

“Yakk!” Kalian berdua! Yadooong!” Teriak Baekhyun di sisi lain.

“Wae?” Tanya Sohee balik tanpa menghiraukan mulut jahil temannya yang lain.

“Sudah lama sekali bukan? Kapan kita sadar bahwa itu sudah tidak bisa kita lakukan lagi?” Sehun kembali bertanya.

“Entahlah!” Jawab Sohee.

“Sebenarnya, apa yang kalian bicarakan?” Protes Chanyeol yang tampak nyaman dengan lengan kris sebagai bantalannya.

“Diamlah Chanyeol, biarkan mereka!” Jongdae membela.

“Entahlah, aku hanya berpikir, apa kita akan selamanya seperti ini?” Ujar Sehun sedikit serius. Kyungsoo yang sedari tadi diam bangkit duduk menatap Sehun.

“Apa maksudmu Sehun-ahh?” Luhan bertanya dan mengikuti Kyungsoo bangun dan duduk menatap Sehun.

“Maksudku, sampai kapan kita akan seperti ini? Bukankah ada saatnya di mana kita akan berpisah dan menjalani hidup kita masing-masing??” Perkataan Sehun dengan nada seriusnya membuat semua bangkit dan duduk menatapnya, kecuali Sohee masih berbaring dan kembali memejamkan matanya.

“Aku tidak mengerti” lirih Jongdae, mendengar kata berpisah membuatnya sedikit bergidik, demi apapun hampir seluruh hidupnya ia habiskan bersama sahabatnya ini.

Sehun menghembuskan nafasnya, “kau Chanyeol, kapan terakhir kali kau menyembunyikn barang ibumu sampai ibumu panik mencarinya? Kris hyung, kapan terakhir kali kau mencoreti dinding rumah kami dengan crayonmu? Kyungsoo kapan terakhir kali kau menangis karena terus kalah dalam bermain DDR?? Dan kita semua, kapan  terakhir kita bermain kejar-kejaran di bawah hujan, bergumul di kubangan lumpur demi menangkap kodok?”  Jelas Sehun.

Semua terdiam.

“Bukankah itu sudah lewat?” Tao menimpali.

“Benar, tanpa sadar fase itu sudah kita lewati. Dan melupakan fase terakhir dalam hidup kita!”

“Maksudmu?” Tanya Kris tidak mengerti.

“Entahlah, bukankah ada saat di mana kita menemukan jati diri kita dalam hal ini menjadi dewasa, dan jika itu terjadi bukankah kita tidak akan selamanya seperti ini lagi?” Sehun semakin serius dengan perkataannya. “Entahlah, lupakan aku bicara apa!” Tambahnya menutup pembicaraan. Semua terdiam. Hening.

“Aku tidak peduli!” Seru Sohee memecah keheningan  dan kembali duduk bersila di samping Sehun. “Kalaupun aku harus kembali mandi bersamamu lagi, bermain di kubangan lumpur bersama kalian, apapun itu asalkan kita bersama aku tidak masalah!” Tambahnya lalu menekuk lututnya dan menelungkupkan wajahnya di sana. Awalnya hanya Sehun yang merangkul pundak saudaranya itu, lalu Kyungsoo bergeser memeluknya, Lay merangkul Kyungsoo, Luhan memeluk Sehun, Chanyeol dan Baekhyun pindah tepat di belakang Sohee dan memeluknya, diikuti jongdae, Kris dan Tao masing-masing merangkul Lay dan Luhan

“Ya, asalkan kita bersama semua pasti terlewati tanpa kita merasakan apa-apa!” ucap Jongdae dan setujui dengan anggukan oleh yang lain.

“dan sekarang, lepaskan aku! Kalian bauuu!!!!” Protes Sohee berusaha melepaskan dirinya.

“Ah, ne ayo kita pulang! Sudah mulai gelap!” Jongdae mengadah ke langit.

“Ayooo!” Seru mereka bersama dan membubarkan diri. Kris dan Tao masuk ke rumahnya dengan membawa bola basket, Lay berjalan ke arah rumahnya bersama Luhan tanpa menoleh sama sekali. Jongdae menghampiri eommanya yang sudah menunggunya di depan teras, Chanyeol menggunakan skateboardnya diikuti Baekhyun yang berlari mengejarnya, Sehun berjalan lebih dulu meninggalkan Sohee dan Kyungsoo yang menenteng gitar di tangannya.

“Bagaimana lagumu?” Tanya Sohee pada Kyungsoo dan menyentuh gitar di tangan Kyungsoo.

“Belum rampung, aku stuck!”

“Aku orang pertama yang akan mendengarnyakan?” Tanya Sohee lagi. Kyungsoo hanya mengangguk.

“Sampai besok!” Pamit Sohee.

Sohee terkejut saat Kyungsoo kembali menahan tangannya dengan menggenggam tangannya.

“Oh sohee!” Panggil Kyungsoo.

“Ne?”

“Sampai besok!” Kyungsoo tersenyum dan perlahan melepaskan genggamannya pada tangan Sohee lalu berbalik berjalan ke rumahnya.

Sohee terdiam menatap sosok Kyungsoo di hadapannya.

“Sohee, apa yang kau lakukan! Cepat masuk!” Teriak Sehun di ambang pintu. Sohee berbalik berjalan ke rumahnya dan dalam hati menerka apa maksud Kyungsoo.

***

Aku mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk, piyama yang kugunakan sedikit sempit membuatku susah bergerak. Dengan malas aku berjalan keluar kamar, melirik sebentar ke arah pintu kamar Sehun yang sedikit tidak rapat dan berjalan turun tangga.

Di ruang keluarga, aku melihat appaku sedang duduk di sofa dan menonton berita olahraga, eomma sedang mengupas buah-buahan di samping appa dan Suho oppa duduk di lantai sedang sibuk mengetik di laptopnya.

“mana Sehun?” Tanyaku pada eomma.

“Di kamarnya!” Jawab eommaku tanpa mengalihkan pandangannya pada buah yang dikupasnya.

“Apa yang sedang dilakukannya yahh!” Tanyaku pada diri sendiri.

“mungkin mengerjakan tugas sekolah. Kau tidak ada tugas??” Tanya appa. Aku mengangguk, seingatku memang tidak ada.

“Joonmyun-ahh!” Eommaku memanggil Suho oppa dan menyodorkan garpu berisi potongan apel. Suho oppa berbalik dan langsung membuka mulutnya melahap potongan apel pada garpu.

“Kau mau Sohee?” Tawar eommaku.. Aku menggeleng, selain strawberry aku tidak begitu suka buah.

“Ah, eomma tadi membelikanmu strawberry, ada di kulkas!” Kata eommaku dan kembali menyuap Suho oppa bergantian dengan appaku. Aku hanya diam berjanji akan memakannya nanti dalam hatiku dan memutuskan untuk naik ke kamar sehun.

“mau ke mana?” Tanya eommaku saat aku berdiri.

“Sehun!” Jawabku lalu berlari menaiki tangga.

Dengan hati-hati aku membuka pintu kamar Sehun yang memang tidak rapat, dan berdecak saat mendapati Sehun sedang berbaring di kasurnya dengan earphone di telinganya. Kulirik meja belajarnya, sebuah buku cetak dan buku tulis tampak berantakan di sana dan laptop yang masih menyala.

Perlahan aku merangkak naik di kasurnya dan berbaring tepat di sampingnya.

“Sehun!” Panggilku.

“Oh Sehuun!” Panggilku lagi saat tidak ada respon darinya.

“Oppaaaaaa!!!” Teriakku tepat di telinganya.

“Hmmm!!!”

“Sehun oppa!!!” Panggilku lagi dan mengguncang tubuhnya.

“Wae, Sohee-yaa? Aku mendengarmu!!!” Ucap Sehun dan melepas earphone di telinganya.

“Tidak jadi!!” Seruku dengan wajah cemberut. Ranjang sedikit bergoyang dan mengeluarkan suara berdecit saat Sehun berbalik memutar posisinya menghadapku aku mengikutinya dan saling berhadapan seperti ini membuatku merasa seperti melihat sosokku sendiri dengan cover yang berbeda.

“Wae, noona?” Tanya Sehun. Aku mengendikkan bahuku. Sehun menawariku sebelah earphonenya aku menerimanya dan memasangnya di telingaku, hentakan lagu secret milik One Republic memenuhi indra pendengaranku.

“Sehun-ahh, kita tidur bersama ne?” Pintaku padanya. Sehun hanya mengangguk mengiyakan.

“Sehun-ahh, kau sudah pernah jatuh cinta?” Tanyaku membuka pembicaraan. Dengan mata terpejam Sehun menggeleng.

“wae?”

“Mmm, aku belum menemukan yeoja yang cantik. Karena menurutku, di dunia ini hanya kau dan eomma wanita yang paling cantik!” Jawabnya masih dengan mata terpejam.

“Aiisshh, aku serius!!” Protesku lalu memukul kepalanya pelan.

“Aku juga serius noona! Sudahlah, tidur saja! Aku mengantuk!!”

Kuhembuskan nafasku pasrah dan memutuskan berhenti berbicara saat mendengar tarikan nafas yang teratur milik Sehun menandakan dia sudah terbang ke alam mimpinya. Aku bangun dari tidurku, perlahan turun dari ranjang menggapai remote ac, menaikan suhu dan mematikan lampu. Jujur saja aku takut gelap, tapi jika bersama Sehun aku merasa aman. Dengan perlahan aku kembali merangkak ke ranjang, berbaring dan menarik selimut menyelimuti Sehun. Meringkuk seperti bayi dan menatap wajah terlelap Sehun, perlahan aku terlelap dan memejamkan mataku.

Iklan

8 pemikiran pada “Our Story (Chapter Three : The Real Us)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s