Unfathomable Friends (Chapter 4)

Title: Unfathomable Friends

Scriptwriter: autumndoor

Main Cast: You (Park Min Gi), Luhan, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo

Support Cast: Park Chanyeol, Oh Sehun, OC (Kim Hyemi)

Genre: Romance

Duration (Length): Multi Chapter

Rating: PG-17

Part 4 – Helper

Langit hari ini tidak begitu bersahabat, sore ini hujan turun sebelum aku tiba di apartemen. Aku baru saja selesai mewawancarai seorang pemilik panti asuhan sebagai salah satu tugas kuliahku minggu ini, dan rekanku Jongdae yang sangat tidak bertanggung jawab memilih pulang terlebih dahulu meninggalkanku, sehingga yang tersisa aku yang duduk tertegun memandangi hujan yang semakin deras dibalik kaca jendela sebuah cafe yang terletak tepat di depan panti asuhan.

Aku mengalihkan pandanganku pada secangkir coklat panas didepanku dan mulai meminumnya perlahan merasakan cairan hangat tersebut mengalir di tenggorokanku. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di kaca jendela, hujan semakin deras percikannya yang membasahi kaca jendela membuatku pengelihatanku tidak jelas pada namja yang berdiri di luar sana, ia mengelap percikan air hujan tersebut dengan telapak tangannya, “Luhan” gumamku.

***

Luhan mengambil duduk di depanku dengan secangkir Kopi di tangannya. Rambut dan bajunya terlihat sedikit basah.

“Min Gi-ah apa yang kau lakukan disini?” Luhan bertanya

“Aku? Aku menunggu hujan reda. Aku baru saja selesai melakukan wawancara dengan pemilik panti asuhan itu” Jawabku sambil menunjuk gedung di seberang cafe. “Dan kau?”

“Aku baru saja akan pulang, apartemenku di dekat sini” Luhan mengelap air hujan di keningnya dengan telapak tangannya.

“Lalu, apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak segera pulang?” Aku memegang cangkir coklat panasku dengan kedua telpak tanganku, merasakan kehangatannya.

“Aku melihatmu sendiri disini, kurasa akan lebih menyenangkan menghabiskan sisa sore ini denganmu” Luhan mulai menyeruput kopi yang dibawanya.

Luhan berhasil membuat moodku kembali dengan sempurna. Aku begitu merindukan waktu – waktu bersama Luhan, dan tentu saja percakapan dengannya. Luhan tidak menjadi orang lain, Luhan tetaplah Luhan yang dulu, memberikan tatapan hangatnya dan senyum manisnya. Aku selalu menyukai setiap perkataan dan pelakuannya padaku meskipun itu adalah hal kecil seperti yang terjadi sore ini, dan pada akhirnya aku menyadari  aku masih berada pada titik itu, titik dimana aku menemukan bahwa aku bukan hanya mengagumi, tapi ingin lebih mengerti dan memahami.

“Luhan, kenapa kau tidak pernah menghubungiku setelah kau pergi dari China?” Inilah pertanyaan yang kusimpan selama berhari-hari setelah bertemu Luhan.

“Hmmmmm itu karena sesuatu….” Luhan meletakkan cangkir kopinya.

“Luhaaaaaaaan, kau tau aku penjaga rahasia yang sangat baik” Aku mendesah.

“Itu karena orangtuaku melarangku, mereka melarangku menghubungi siapapun yang ada di China” Luhan memandang sisa kopi di cangkirnya, menjawab dengan nada suara yang pelan nyaris tak terdengar.

“Wae?” Tanyaku penasaran

“Karena orangtuaku melarikan diri Min Gi, kami bersembunyi” Luhan mengangkat kepalanya menatapku.

“Oke, aku sangat percaya jika kau dan keluargamu bukanlah seorang kriminal atau buron–”

“Buronan, mungkin itu cukup pantas” Luhan mengalihkan pandangannya pada jendela cafe.

“Luhan, maaf, maafkan aku, aku tidak bermaksud–” Aku mulai panik menyadari ada yang salah dengan perkataanku.

“Min Gi, kau harus percaya tentang yang mungkin semua orang katakan ketika kami pergi. Orangtuaku sudah tidak mampu membayar semua hutangnya-” Suara Luhan bergetar.

“Cukup Luhan, aku mengerti kau tidak perlu melanjutkannya” Tanganku bergerak menggenggam kedua tangan Luhan yang tergeletak bebas diatas meja.

Luhan menarik nafas panjang dan mebuangnya ke udara, menatapku dan kembali tersenyum. Aku merasa sangat bersalah dengan pertanyaan bodohku, itu hanya membuat Luhan kembali mengingat masa – masa yang buruk baginya.

Aku mencari ide apa yang harus aku lakukan agar Luhan melupakan perkataanku tadi, akhirnya aku mengeluarkan kamera dari tasku, memperlihatkan beberapa foto yang ku ambil selama di panti asuhan tadi dan foto pemandangan yang kuambil di pinggiran Sungai Han beberapa hari yang lalu. Luhan terlihat senang melihat foto-foto yang kutunjukkan, Luhan mendadak berhenti menekan tombol next ketika ia sampai pada sebuah foto, fotoku bersama Baekhyun tengah tersenyum menunjukkan deretan gigi di pinggiran Sungai Han dengan latar belakang kerlap – kerlip lampu kota. Ini

“Kau semakin cantik” Luhan mengalihkan pandangannya padaku yang masih memperhatikan foto dalam kamera dan mencubit pipiku.

Seketika suhu tubuhku meningkat, aku merasa detak jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya, kurasa pipiku sudah bersemu merah sekarang, rahangku mengeras, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, mataku terasa berat untuk membalas tatapannya.

“Min Gi-ssi” Suara itu berasal dari seseorang dihadapanku dengan mata bulat dengan senyum heart-shaped-lipsnya.

“Kyungsoo-ssi” Kehadiran Kyungsoo sukses membuatku keluar dari suasana kikuk beberapa menit yang lalu bersama Luhan.

“Oh, Luhan kau disini? Kebetulan aku tidak membawa kunci apartemen” Kyungsoo berdiri di samping Luhan.

“Kalian tinggal bersama?” Tanyaku

“Ne” Kyungsoo mengangguk.

“Duduklah! ” Luhan menarik kursi disebelahnya mempersilahkan Kyungsoo untuk duduk.

Hujan sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk pulang, malah turun semakin deras, suasana cafe semakin padat dipenuhi pengunjung yang memiliki tujuan sama denganku, menunggu hujan reda. Kyungsoo dan Luhan berbincang mengenai proyek yang sedang mereka kerjakan, sementara aku sibuk membalas pesan yang dikirimkan Appa.

‘Min Gi-ya, Appa akan sedikit terlambat mengirim uang bulananmu, Eomma harus membeli obat tambahan. Jika kau membutuhkan sesuatu datanglah pada Halmonim, Appa sudah menghubunginya ’

‘Ne, Appa. Apa penyakit Eomma semakin parah sehingga harus membeli obat tambahan?’ 

Aku memutar-mutar handphoneku menunggu balasan pesan dari Appa. Oke aku dalam masalah sekarang, uang kuliahku harus dibayar akhir minggu ini, uang tabunganku bahkan hanya mencukupi setengahnya. Menghubungi Halmonim? Halmonim sudah terlalu memikirkan banyak hal dengan mengurusi dua sepupuku yang ditinggalkan ayahnya entah kemana, jika aku menhubunginya hanya akan menambah beban pikirannya. Apa yang harus aku lakukan???

“Eotokkhe” gumamku mengubur wajahku kedalam dua telapak tanganku.

“Min Gi, wae?” Tanya Luhan.

“Ah, gwenchana gwenchana” Aku tersenyum palsu.

“Ani, katakan padaku ada apa?” Luhan tentu saja menyadari keresahan yang terpancar dari wajahku.

“Hmmmmmmmmmmm” Aku setengah hati menceritakan masalahku pada Luhan, tetapi mungkin dia bisa membantu “Aku butuh uang, untuk membayar uang kuliahku, Appa bilang ia akan terlambat mengirimiku uang, sedangkan aku harus membayar akhir minggu ini” aku mendesah.

“Gunakan saja uangku” Tawar luhan dengan nada yang semangat.

“Tidak, tentu saja tidak bisa” Aku menggeleng.

“Min Gi-ah, sungguh ini tidak apa – apa” Luhan mencoba meyakinkanku.

“Tidak Luhan, aku tidak ingin merepotkan siapapun” Aku kembali menolak tawarannya.

“Min Gi kau dapat mengembalikannya kapanpun” Luhan berbicara dengan nada lembut.

“Tidak Luhan, aku harus memperolehnya sendiri” Aku tetap menolak tawaran Luhan.

Perdebatan kami berakhir dengan diam, Luhan sepertinya sedang berpikir mencari cara agar aku mau menerima tawarannya. Akhirnya Kyungsoo memecah keheningan diantara kami.

“Kalau begitu bagaimana dengan bekerja paruh waktu Min Gi-ssi?” Tawar Kyungsoo

Aku berpikir sejenak tentang tawaran Kyungsoo, jadwal kuliahku sudah tidak terlalu padat, beberapa hari kedepan kurasa aku hanya akan disibukkan dengan latihan drama musikal, ya tentu saja aku dapat melakukan pekerjaan paruh waktu.

“Ya Kyungsoo-ssi, tentu saja aku bisa!” Seperti mendapat titik terang dari masalah ini, dengan penuh semangat aku menerima tawaran Kyungsoo.

“Sebenarnya aku juga melakukan paruh waktu di sebuah cafe, minggu kemarin salah satu pegawainya resign, dan hingga sekarang kami belum mendapat penggantinya. Jika kau mau besok kau bisa datang ke cafe jam 1 siang” Jelas Kyungsoo

“Arraseo, bisakah kita pergi bersama?” Aku menatap Kyungsoo penuh harap.

“Mwo?” Kyungsoo membulatkan matanya

“Iya pergi bersama, Kyungsoo-ssi aku tidak tahu letak cafe itu” Aku mengecilkan volume suaraku, memandang Kyungsoo dengan tatapan kecewa terhadap reaksinya.

“Min Gi, Kyungsoo adalah orang yang agak pemalu apalagi dengan seseorang yang baru dikenalnya” Luhan berinterupsi diantara percakapan kami sambil menepuk pundak Kyungsoo.

“Wae? Kyungsoo-ssi aku ini benar-benar tidak akan melakukan hal buruk padamu, apa aku terlihat menyeramkan seperti seorang penculik?  Lalu, aku akan menjualmu?” Aku tertawa.

“Ah ani” Kyungsoo menggeleng dan tersenyum. “Baiklah karena besok aku juga pergi ke universitasmu, kita bertemu jam 12.30 di depan perpustakaan, arra?”

“Okay” Aku tersenyum bahagia, mengangkat dua jempolku dihadapan Kyungsoo dan Luhan.

***

Hujan baru reda ketika aku sudah menghabiskan dua jam bersama Kyungsoo dan Luhan. Langit hampir gelap, aku dalam perjalanan menuju apartemenku bersama Luhan. Luhan memutuskan mengantarku pulang, dan membiarkan Kyungsoo pulang ke apartemen terlebih dahulu. Setelah turun dari bis, sekarang aku berjalan berdampingan bersama Luhan menuju apartemen, kami berjalan menyusuri trotoar jalan yang sedikit becek ditemani udara dingin sehabis hujan yang membawa keheningan diantara kami. Sesekali aku melihat kesamping kananku melihat bagian wajah Luhan dari samping, aku tidak pernah merasa soreku menjadi seindah ini, bertemu dengan Luhan kembali seperti menemukan kepingan puzzle yang selama ini hilang dari hidupku, kuakuin bertemu kembali dengan Luhan memang ada di bagian doa-doaku. Pertemuanku dengan Luhan membuatku menyadari satu hal yang kurasakan selama bertahun-tahun kehilangan sosoknya, kehilangan Luhan membuatku menyadari pentingnya dia bagiku.

“Lu, kukira kau hanya bercanda ingin mengantarku pulang, padahal kau bisa saja langsung pulang ke apartemenmu” Aku memasukan kedua tanganku pada saku mantelku.

“Aku ingin tahu dimana kau tinggal, sehingga aku bisa mengunjungimu kapan-kapan” Luhan memiringkan wajahnya menatapku.

“Hmmmm” aku mengangguk mengerti.

Kami tiba di depan pintu apartemenku, aku mengeluarkan kunci apartemen dari tas hendak membuka pintu.

“Lantai 4 nomor 7” Luhan mengangguk.

“Kau seperti anak TK yang sedang belajar membaca, Lu” Aku tertawa mengejek. “Masuklah” Aku membuka pintu mempersilahkan Luhan masuk.

“Hmmmm, Min Gi-ah lain kali aku akan berkunjung kesini, sekarang aku harus pulang ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan” Luhan masih berdiri di depan pintu.

“Ah, sayang sekali” aku mempoutkan bibirku.

“Aku bilang aku akan mengunjungimu nanti, beristirahatlah Digimin” Luhan meengelus puncak kepalaku.

“Aish, mengapa kau senang sekali memanggilku dengan sebutan itu?” Aku memutar bola mataku.

“Karena hanya aku yang memanggilmu dengan sebutan itu, hanya aku” Luhan tersenyum

Aku terpaku, mencoba mencerna maksud perkataan Luhan.

“Anyeong Min Gi-ah” Luhan membungkuk berpamitan padaku.

“A-a-anyeong” Aku membungkuk kembali pada Luhan. Luhan berjalan menuju tangga setelah berpamitan padaku, pemandangan punggung Luhan tetap menjadi pemandangan yang tidak bisa dilewatkan bagiku, Luhan berbelok hendak menuruni tangga dan berbalik kearahku yang masih terpaku didepan pintu apartemen yang sudah terbuka, Luhan tersenyum dan melambaikan tangannya. Senyumnya hampir membuat kakiku kehilangan keseimbangan, beruntung masih ada gagang pintu yang masih dapat aku pegang untuk mempertahankan posisiku.

***

Aku menutup pintu apatemen, kemudian bersandar padanya. Tangan kananku memegang dadaku, aku menghela nafas beberapa kali, ‘Ada apa denganku, ada apa dengan perasaan terhadap Luhan, apa aku…. aku menyukainya?’  Aku menggelengkan kepalaku, menangkupkan kedua telapak tanganku pada wajahku ‘tidak, dia memang pernah menjadi cinta pertamaku dulu, dan itu dulu tidak sekarang. Lalu apa yang kurasakan ini, bagaimana aku sendiri dapat mendefinisikankanya? ’

Aku menghabiskan beberapa menit untuk merenungkan hal tersebut, akhirnya aku mulai membuka sepatuku, menggantinya dengan sandal. Ketika aku menaruh mantelku diatas sofa, seseorang mengetuk pintuku ‘Luhan’ satu – satunya yang ada dipikiranku, apa yang membuatnya kembali. Aku bergegas menuju pintu dan membukanya.

“Baek” Aku melongo mendapati Baekhyun yang tersenyum lebar di depan pintu.

“Anyeong Min Gi-ah” Baekhyun langsung masuk kedalam tanpa mempedulikan aku yang masih berdiri diambang pintu, ia membuka sepatunya asal menggunakan sandalku yang masih tersedia di rak yang tentu saja terlalu kecil untuknya, membuka jaketnya dan melemparnya asal keatas meja. Baekhyun merebahkan dirinya diatas sofa dengan kepala dan lutut yang terletak di kedua tangan sofa. Well, badan Baekhyun lebih tinggi kurang dari panjang sofa.

“Baek, ambil jaketmu, letakkan pada tempatnya!” Aku menutup pintu dan menyentak Baekhyun.

“Min Gi-ah, aku dehidrasi, berikan aku segelas air, jebaaaaaaaaal” Baekhyun menengadahkan kepalanya menghadap langit dengan mata terpejam.

“Tidak! Setelah kau datang tanpa diundang dan menaruh benda tidak pada tempatnya” Aku berjalan ke samping sofa, bertolak pinggang memandang Baekhyun.

“Kau juga bahkan meletakan mantelmu diatas sofa!” Tanpa kusadari mantelku sekarang telah dijadikan bantal oleh Baekhyun.

“Ayolah baek, bangun!” Aku menarik tangan Baekhyun.

“Bawaakan aku segelas air Min Gi, jebaaaaaaal” Baekhyun berbicara dengan suara yang di serak-serakan dan aigoo dia mencoba menunjuka aegyo-nya padaku. Alien yang satu ini memang alien terlucu yang pernah kulihat, dan terpaksa kali ini aku harus luluh untuknya. Aku berjalan menuju dapur diseberang ruang tengah, mengambil segelas air untuk Baekhyun.

“Baek! Bangun!”Aku kembali dengan segelas air di tanganku. Baekhyun akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk, aku pun duduk disampingnya.

“Ah, coba saja setiap hari kau berlaku manis padaku seperti ini” Baekhyun menghabiskan segelas air dengan satu tegukan, luar biasa.

“Sejak kapan aku berbuat jahat padamu ha?” Aku menyolot.

“Kau pikir membuatku diare karena masakan percobaanmu, itu tidak jahat ha?” Baekhyun meletakkan gelas di atas meja.

“Baek, itu hanya kecelakaan” Jawabku datar.

“Jadi membuatku terkunci sendiri di studio musik, itu juga kecelakaan? Atau kebetulan? ” Baekhyun balik menyolot padaku.

“Itu karena kau mengunciku terlebih dahulu disini!” Aku berteriak di depan wajah Baekhyun.

“Hmmmmmm, itu hanya kecelakaan” Baekhyun mengulang jawaban datarku beberapa saat yang lalu kemudian tertawa kecil.

“Baek, aku bersumpah akan mengusirmu sekarang juga” Aku menunjukan death glareku.

“Aniyooooo” Baekhyun merengek, menggelayut di lenganku. “Sebentar lagi Chanyeol datang” Baekhyun melanjutkan kata-katanya.

“Mwo? Kupikir aku juga tidak mengundangnya datang kesini” Aku melepaskan lenganku dari tangan Baekhyun.

“Aku yang menyuruhnya datang kemari” Ucap Baekhyun.

“Hmmm, tentang drama musikal?” Tanyaku.

“Ne” Jawab Baekhyun.

Selama menunggu Chanyeol datang, Aku dan Baekhyun duduk diatas sofa sambil menonton televisi, sebenarnya tidak ada siaran yang menarik sekarang, beberapa kali aku mengganti saluran televisi untuk mencari siaran yang menarik. Baekhyun yang mulai bosan, akhirnya meraih tas kameraku yang tergeletak diatas meja. Aku hanya melirik dia sekilas, kurasa dia hanya ingin melihat foto-foto di kameraku. Baekhyun mengangkat sebelah alisnya ketika memandangi layar di kameraku.

“Kau bilang hanya pergi ke panti asuhan?” Baekhyun bertanya

“Hmmm” Aku mengangguk.

“Kau pergi ke cafe bersama Jongdae?” Baekhyun memiringkan badannya menghadap aku yang masih setia menonton televisi tanpa sedikitpun melihatnya balik.

“Ani” Aku menggeleng

“Kau melakukan selca? Hey Park Min Gi kau pikir kau selebriti huh?  Berharapa jika beberapa saat kemudian muncul artikel Park Min Gi, took a cute selca in cafe ” Baekhyun tertawa keras.

Aku menaruh remote televisi yang kupegang diatas meja, bebalik menghadap Baekhyun yang sedang tertawa puas, aku mengambil kamera ditangan Baekhyun melihat apa yang ia tertawakan, kulihat layar di kamera ku disana ada foto diriku di cafe yang tadi kukunjungi dengan bibir yang sedikit monyong, seperti sedang mengatakan kata dengan akhiran vokal ‘u’, ah aku ingat ini ketika Kyungsoo datang dan aku tentu saja tahu siapa yang dengan sengaja mengambil foto ini.

“Luhan yang melakukannya, aku sama sekali tidak melakukan selca” Aku meletakkan kamera diatas meja dan kembali mengalihkan perhatianku pada layar televisi.

Tiba – tiba Baekhyun menghentikan tawanya “Kau pergi bersama Luhan?” Ia menaikan sebelah alisnya.

“Min Gi-ah, Min Gi-ah” Terdengar sayup-sayup suara berat milik Chanyeol dari balik pintu

“Ah, Uri Yoda is coming” Aku beranjak dari sofa menuju pintu. Aku berbalik menghadap Baekhyun “Ne, aku bertemu Luhan tadi sore, wae?”

Baekhyun terdiam beberapa saat sambil memandangku yang sedang berdiri di depan pintu.

“Tidak, aku hanya bertanya” Baekhyun menggeleng.

Iklan

14 pemikiran pada “Unfathomable Friends (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s