All Flowers In China (Chapter 4)

All Flowers In China (part 4)

All Flowers In China

Author : Carla蓝梅花 (@iCarla3008)

Rate     : PG

Length  : Chaptered

Genre   : Romance, Angst, Sad, Sad Romance.

Cast: EXO-M Chen / Kim Jong Dae

Kimberley Chen / Chen Fang Yu (can imagine as yourself)

Other cast : EXO members and many more

Chapter 4 released! Enjoy your imagination and Happy reading ^^)/

Please kindly check my weebly site : carlaslittletrinkets.weebly.com for more fiction stories by me ^^

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

“Will you tell the world that I am belongs to you?”

Kimberley POV

“Cha, sudah selesai,” ucap seorang dokter yang telah selesai menginfusku. Ya, benar. Hari ini aku memulai perawatan transfusi darah. Memang kelihatannya di rumah sakit ini lebih terlihat canggih daripada di Korea.

Chen Oppa memasuki ruanganku dengan tersenyum, setelah menungguku selama beberapa menit diluar tadi.  “Eotte? Apakah sakit? Eodi appayo?” ia duduk disebelahku dan aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia meraih pergelangan tangan kananku dan mengusapnya lembut penuh sayang.

TOK TOK TOK

“Lily? Ah, bagaimana proses transfusi darahnya? Apakah sakit?” tiba-tiba bibi Wu datang dan membuka pintu ruanganku. Ia tersenyum dan membawa beberapa barang yang dapat kutebak itu makanan atau buah-buahan.

“Bu, bu tong, (tidak, tidak sakit sama sekali). Ni gei le wo shen me? (kau membawakanku apa?)”

“Oh, ini, makanan untukmu Chen,” bibi memberikan sekotak makanan kepada Oppa

“Ah? Untukku? Xie xie, Wu ai (terima kasih, bibi Wu)”

“Eum, bu ke qi. Lily, ini bibi bawakan beberapa buah-buahan dan makanan kecil kesukaanmu. Kau harus makan yang banyak, mingbai ma?” bibi mengusap kepalaku dan kami semua tertawa pelan

“Wo mingbai le, ai. Duo xie,”

“Ah, sepertinya aku harus berangkat kerja sekarang. Lily, aku pergi dulu ya? Chen, kupercayakan dirimu menjaganya,”

“Tenanglah, ai. Aku akan menjaga keponakan cantikmu yang satu ini,” ujar Chen Oppa sambil terkekeh pelan, entahlah, sekarang aku tak bisa menyembunyikan semburat merah di kedua pipiku.

“Lily, lihat, ahjumma Wu membawakan kau banyak sekali makanan. Kau mau yang mana?” tegur Chen Oppa sambil mengacak-acak isi kantung plastik yang bibi Wu bawa tadi

“Hm, aku mau pie. Apakah ada?”

“Nah! Ada, ini dia. Biar kusuapi. Aaaaanggggg~” pinta Chen Oppa dan aku membuka mulut, mengunyah kue pie kesukaanku dengan gembira

“Neomu johahaeyo,” kataku sambil terus mengunyah. “Lagi, aaaaaaang~” aku meminta satu suapan lagi dan ia menyuapiku dengan senang hati.

“Oppa, aku takut,” kusandarkan kepalaku di bahu Oppa. Aku dan Oppa sedang duduk di bangku taman di sekitar rumah sakit ini.

“Hm? Takut apa?” kugerak-gerakkan kakiku kedepan dan kebelakang mengikuti arah angin yang terus berhembus menyejukkan dan menenangkan diriku

“Bagaimana kalau penyakitku semakin parah dan tidak ada yang dapat menyelamatkanku lagi, Oppa?” ia memajukkan badannya sehingga kepalaku yang sedari tadi bertengger di bahunya refleks hampir terjatuh

“Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?” tanyanya menginterogasi

“Aniya, tidak ada,”

“Kau ini bodoh atau apa? Kau pasti akan sembuh, yakinkanlah itu, Lily-ah!” suaranya mulai melengking, ekspresinya terlihat kecewa dan marah. Aku hanya dapat mendudukkan kepalaku. Lily, kau bodoh, rutukku dalam hati

“Mianhae Oppa,”

“Tsk, kau ini. Kau mau lihat Oppa bersedih kalau kau tak sembuh, hm?”

“Aniya! Tentu saja aku tidak mau!” sontak aku menggelengkan kepala dan berteriak seperti itu. Ia hanya tersenyum dan kemudian menarikku kepelukan hangatnya

“Berjanjilah padaku kau akan sembuh, arra?” ucapnya lembut sambil membelai rambutku dan aku mengangguk menyetujuinya.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Author POV

Ni de bi de pan li kai ni you yi dian gu dan

 

Hui dao wo men de Neverland

 

Hui yi dou hai zai wo men bi zhi ning wang wei xiao dou hai zai

 

“Yeoboseyo?” pagi itu Chen mendengar ponselnya berbunyi dan segera mengangkatnya. Siapa pagi-pagi begini meneleponku, batinnya.

“Oh, ne hyung aku di China, waeguraeyo?”

“Ah jinjjayo? Kenapa cepat sekali? Wah, chukkae hyung! Salam buat noona mu ne? Arrata, annyeong~”

PIP.

Sambungan telepon terputus. Chen kemudian menjatuhkan lagi tubuhnya keranjang karena memang belum sepenuhnya ia terbangun. Tak lama kemudian, Lily membuka pintu kamar itu dan tersenyum. Memang hari ini bukan jadwal Lily untuk transfusi darah. Ia menghampiri Chen dan duduk di sampingnya, mengusap wajah Chen penuh sayang.

Chen hanya terkekeh dalam hati. Memang ia tidak sepenuhnya juga tertidur, tapi ia tetap membiarkan matanya terpejam dan berpura-pura tidur. Sungguh, ia sangat suka moment seperti ini.

“Oppa, aku tahu kau sudah bangun. Siapa yang meneleponmu tadi hm?” DEG. Apa? Dia tahu aku berpura-pura tidur? Rutuk Chen dalam hati. Segera Chen membuka mata dan melihat Lily yang sedang menahan tawa. Sontak ia menyipitkan mata dan melihat Lily dengan tatapan apa-yang-kau-tertawakan.

“Wae? Aku tahu kau suka diperlakukan seperti itu. hihi, kau itu kurang pintar berakting, oppa!” sungut Lily sambil mencubit hidung mancung namjachingunya

“Cih, kau ini. Suka sekali mengerjaiku eoh? Nappeun yeoja!” sesaat kemudian ia mengangkat tubuh Lily dan membantingnya ketempat tidur, lalu menggelitiki pinggang Lily, refleks Lily tertawa terbahak-bahak meminta ampun

“KYAH!!! Oppa, andwae hahahaha ah andwae hentikan! Oppa! HUAHAHAHAHA hentikan!” bak suasana negara api menyerang, Chen semakin brutal mengerjai Lily, sekedar membalas dendam kesumatnya tadi.

Tak beberapa lama, mereka berdua kelelahan dan tergeletak lemas di atas tempat tidur. Nafas mereka tersengal-sengal seperti orang yang mengejar pencuri hidung belang yang mencuri emas di siang bolong.

“Kau balas dendam ya? Sungguh kejam,” gumam Lily sambil tetap mengatur nafasnya, begitu juga Chen yang sekarang sedang menatap Lily dengan seksama

“Kau pikir?” mendengar jawaban itu, Lily mengerucutkan bibirnya kesal. Ide licik mulai timbul di otaknya. Ia menaikkan sedikit badannya, berbalik badan sehingga dapat melihat Lily dengan jelas dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lily.

“Omo. Yak! Apa yang kau lakukan?” ujar Lily sambil menatap aneh terhadap namja di depan wajahnya yang memang sangat dekat jaraknya, dekat, dekat sekali. Kira-kira tidak sampai satu jengkal jaraknya. Chen tidak menjawab sepatah katapun. Ia malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Lily.

GLEK. Lily menelan air liurnya gugup. Menutup matanya erat-erat dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Dekat, dekat dan semakin dekat………

TAK!

Jitakan halus mendarat dengan selamat di kening Lily. Ini semua pasti ulah namja idiot ini. Lily membuka mata, mukanya merah menahan amarah karena telah dikerjai oleh anak idiot dan bodoh ini.

“HYAAAAAAA OPPA!!!!!!! You shall die!!!!” teriak Lily sekencang-kencangnya, ia melempar bantal-bantal dan guling disekitarnya kearah Chen yang buru-buru berlari ke kamar mandi, menghindar dari perang dunia ke 3 yang akan terjadi setelah ini.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

“Oppa, ppaliwa~” teriak Lily yang semakin riang mengayuh sepedanya menyusuri taman di sekitar daerah rumah bibinya.

“Nde, tunggu aku. Aishh kau ini cepat sekali!” balas Chen yang semakin kesal karena tertinggal jauh oleh Lily. Lily yang mendengarnya hanya mampu tertawa geli.

“Oppa kau ini lamban ya, seperti siput. Ralat, seperti siput yang kurang makan, hahahaha!” Lily tertawa dengan terbahak-bahak setelah mereka berdua sampai di kursi taman untuk beristirahat

“Ya ya ya! Kau ini mulai berani mengataiku ya? Arrata, aku tak mau mentraktirmu es krim lagi,” sungut Chen

“Aihh Oppa jangan begitu~ Lily hanya bercanda,” ia mengguncang-guncangkan tangan kanan Chen dengan manja, berharap Chen akan menarik ucapannya

“Tapi Oppa tidak bercanda padamu, babo,” satu jitakan mendarat mulus di kening Lily, alhasil Lily semakin cemberut ibarat seorang anak kecil yang kehilangan lollipop nya

“Oppa, jebal, mianhae~”

“Tidak mau”

“Ya, oppa~”

“Tidak”

“Op-“

“Arraso, arraso. Aku memaafkanmu”

“Jinjja, Oppa? Oh yeay, kalau begitu, belikan aku ice cream!” mata Lily berbinar-binar dan tersenyum dengan innocent-nya

“Apapun untukmu, chagiya,” ujar Chen sembari mengacak pelan rambut Lily dan pergi beranjak ke toko es krim yang tak jauh dari situ.

“Chagiya, igeo” kata Chen setelah kembali membeli es krim, ia memberikan 1 bucket sedang blueberry ice cream untuk Lily.

“Oppa, gomawo. Sini kusuapi, aku tak mungkin makan sebanyak ini. Kajja, aaaang~” Lily pun menyuapi Chen dan dengan senang hati Chen membuka mulutnya. Mereka terlihat sangat romantis dan imut saat memakan es krim itu. Tak jarang, orang-orang di sekitar melihat mereka yang sedang bermesraan di bangku taman yang memang sedang sepi.

Sesaat mereka selesai bercanda ria di taman itu, mereka kembali mengayuh sepeda dan pergi menuju hutan kecil yang menyambungkan  pantai dan matahari terbenam.

Mereka sampai disana dan langsung terpesona dengan sunset yang baru dimulai ini. Warna orange kemerah-merahannya sangat kontras, sinar matahari yang mulai meredup terpantul dengan air laut yang biru mengkilat, sungguh pemandangan yang indah.

“Apakah ini juga salah satu tempat favoritmu sewaktu kau kecil, Lily?” tanya Chen setelah mereka duduk di bawah pohon rindang dan di depan mereka terpampang jelas matahari yang sangat besar dan mulai terbenam itu

“Ne, oppa. Ini adalah tempat yang sering kukunjungi jika aku sedang sedih maupun senang. Aku juga pergi kesini disaat melihat jasad appa dan eomma dibunuh dengan kejinya oleh berandalan-berandalan itu. Aku menangis sejadi-jadinya entah kemana aku harus menumpahkan ceritaku. Matahari hanya satu, bukan? Jadi, apakah mungkin dia melupakan orang-orang yang dengan rela datang menjenguknya? Aku percaya, dia akan mengingat satu persatu orang yang datang kesini dan pasti ia akan mengingat cerita orang-orang tersebut” curhat Lily dengan tersenyum getir, matanya yang mulai berair menatap sayu ke arah matahari itu berada

“Jadi, jika kita berdua pergi kesini lagi di waktu yang akan datang, matahari itu akan tetap mengingat kita?”

“Tentu, Oppa. Mau percaya atau tidak, dia tidak akan semudah itu melupakan orang-orang disini maupun di dunia ini,” senyum Lily mengembang, begitu pula Chen. Kedua insan itu duduk memeluk lutut mereka dengan erat, menutup mata, merasakan hembusan angin yang menyegarkan menerpa wajah mereka masing-masing.

“Chagiya, kau ingin kemana habis ini?” ucap Chen membuyarkan lamunan mereka yang sedari tadi masih menatap sunset yang sebenarnya sudah berakhir entah kapan.

“Uh-oh? Apa? Oh, bagaimana kalau kita ke festival fireworks malam ini?” Lily kaget, ia baru tersadar dari lamunannya sehingga menjawab dengan sedikit gugup.

Chen tertawa melihat Lily menjawab seperti itu, wajahnya sangat lucu jika kelagapan seperti sekarang, membuat Chen ingin mencubit kedua pipinya.

Akhirnya mereka berdua kembali mengayuh sepedanya, menuju ke tempat festival kembang api yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi. Memang kesannya terlalu pagi untuk pergi kesana sekarang, tapi apa salahnya jika mereka berdua sekedar bermain, jalan-jalan dan makan makanan yang dijual disana sampai kembang api itu dimulai, bukan? Lagipula, mereka juga tidak ada kegiatan hari ini.

Seperti sebelumnya, Lily mengayuh sepeda lebih dulu daripada Chen. Chen tidak menghiraukan itu, lagipula dia harus tetap menjaga Lily dari belakang, dia tidak ingin jika terjadi apa-apa pada yeoja nya ini jika Chen membiarkannya mengayuh sepeda di belakangnya.

“Oppa, aku lelah,” ucap Lily ketika mereka berdua berhenti di depan kios penjual bebek panggang. Lily mengusap peluhnya yang berceceran dari keningnya. Melihat itu, Chen mengambil sapu tangannya, dan memberikannya pada Lily.

“Kurasa aku ingin memakan bebek panggang lagi. Lily, kau mau?” tanya Chen sambil melihat-lihat menu makanan di kios itu. “Kalau Oppa mau, Lily juga mau, aku lapar,” ia tersenyum gummy dan menepuk-nepuk perutnya pelan layaknya seorang anak kecil yang sedang meminta makanan kepada orang tuanya. Sungguh menggemaskan.

“Baiklah, kau yang pesan. Kau tahu kan aku tidak bisa berbicara apa-apa disini?” mendengar itu Lily tertawa terbahak-bahak sehingga hampir semua orang di kios itu melihat dirinya dengan tatapan -ada-apa-dengan-gadis-itu.

“Berhenti tertawa, babo. Kau ingin semua orang berpikir dan menganggapku mempunyai yeoja aneh, eoh? Ppali, aku lapar,” sontak Chen malu dan menyentil kening Lily dengan pelan. Ia menepuk paha kiri Lily dengan punggung tangannya mengisyaratkan untuk cepat-pergi-dan-pesan-makanan-itu. Lily hanya mampu memutar bola matanya malas dan beranjak berdiri menemui bibi pemilik kios tersebut.

‘Kau memalukan saja, Oppa,” kata Lily dalam hati.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

“Ya! Kau ini rakus sekali? Makan pelan-pelan, Oppa!” tegur Lily gemas karena melihat Chen yang makan dengan sembrononya. Oh, baiklah, dia memang seperti bebek saat ini. Makannya sangat berantakan. Ish, akan kukutuk kau menjadi bebek jika aku bisa sekarang juga, rutuk Lily dalam hati.

“Kau tahu? Ini enak, bodoh,”

“Tapi jangan senorak itu Oppa! Kau ingin orang berpikir aku mempunyai kekasih jelmaan pasien rumah sakit jiwa, huh?” mendengar petir menyambar di telinganya, ia tersedak. Segera ia mengambil minum dan langsung meminumnya tanpa ba-bi-bu. Chen sontak membuka matanya dengan lebar, menatap Lily dengan horornya.

“Kau mengikuti ucapanku dan mengataiku. Berani sekali eoh?”

“Habisnya kau seperti orang yang sudah tidak makan sejak lahir, sih. Benar-benar bodoh,” balas Lily sebal, ia memakan sepotong daging bebek panggang itu lagi dengan ekspresi yang kesal dan kelihatan seperti dipaksa.

“Nah, kan, kau mengataiku lagi. Terserah kau saja, aku tak peduli, aku masih lapar,” Chen langsung mengambil sumpitnya dan melanjutkan acara-makan-berantakan ala dirinya sendiri tanpa menggubris Lily yang semakin gondok.

‘Orang ini, apakah sebegitu laparnya dia sampai-sampai tidak mau mendengarkan ucapanku, huh?’ berontak Lily dalam hati. Sungguh, rasanya ia ingin menjambak rambut bocah satu ini agar tahu rasa. Tapi, tunggu dulu, ia juga tidak ingin di cap sebagai yeoja kurang ajar yang menjambak rambut kekasih sendiri di hadapan semua orang, bukan? Ingat, semua orang. Dan disini sangat ramai. Tidak. Ia harus berpikir lagi. Bagaimapun ia masih punya rasa malu dan harga diri sebagai seorang yeoja.

“Kau tidak makan?” tanya Chen dengan idiotnya setelah memakan potongan daging bebek yang terakhir yang harus masuk ke dalam perutnya.

“Sudah selesai dari tadi, kok. Kau saja yang tak memperhatikanku,” Lily masih sebal, mulutnya masih cemberut dan ia malah memperhatikan langit dari luar jendela kios tersebut, menunggu kapan kembang api itu akan menyala.

“Tapi kulihat kau makan sedikit tadi. Apakah sudah begitu kenyang, eoh?” tegur Chen lagi.

“Hei, kau marah ya?” ia menyenggol bahu Lily. Tidak ada respon dari gadis disebelahnya. Chen tersenyum. Ia tahu ia salah tadi. Ia mendekatkan tubuhnya ke Lily, merangkul bahu gadis itu dan mengusap bahunya.

“Chagiya, kau marah? Mianhae,” ia meletakkan kepalanya di bahu Lily. Masih tak ada respon dari Lily. Ia masih menatap langit dari tempat duduknya, kelihatannya langit tersebut daripada namja disampingnya.

“Aku tidak marah, hanya sebal saja kau seperti tidak menganggapku,” Chen meringis mendengar ucapan Lily. Akhirnya yeoja ini membuka mulut, tapi bukan itu yang ingin ia dengar. Dan, bukan seperti itu maksud dirinya sebenarnya.

“Anieyo, Lily. Mianhae, aku tak bermaksud untuk mengacuhkanmu, aku lupa akan segala hal jika rasa laparku lebih mendominasi, maafkan aku chagiya,” ucap Chen tulus. Memang kedengaran konyol, bukan? Coba saja kalian bayangkan jika ada berita di koran berjudul “seorang namja mengacuhkan yeojanya karena sangat lapar”. Tapi yah, mau bagaimana lagi, memang benar itulah yang ia rasakan tadi. Lapar.

“Arrata, arrata. Aku tak ingin ribut denganmu dan akhirnya merusak rencanaku untuk menonton festival kembang api malam ini. Kajja kita pergi, acaranya akan mulai sebentar lagi,” mendengar itu kedua pipi Chen tertarik membentuk ukiran senyum tulus. Ya, ia tersenyum. Ia tersenyum melihat yeoja nya bisa berubah-ubah di lain waktu.

Kadang ia bertingkah seperti yeoja imut nan menggemaskan. Namun di sisi lain, ia bisa bertingkah layaknya wanita dewasa yang tegas dan Chen tahu benar, Lily hanya ingin ia berubah menjadi namja yang lebih baik dan membuat Lily bangga mempunyai dirinya sebagai penjaga dan penyemangat di dalam hidupnya.

DUAR!

Suara apa itu?!

Oh, tenanglah, itu hanya awal dan tanda bahwa festival kembang api akan segera dimulai. Lily dan Chen tersenyum bahagia, mereka berdua semakin bersemangat mengayuh sepeda mereka dan ingin cepat-cepat sampai ke tempat tujuannya.

“Oppa, ppali ppali!” teriak Lily setelah memarkirkan sepedanya, ia berlari menarik tangan Chen untuk segera beranjak pergi melihat kembang api yang sudah ditunggu-tunggu Lily dari pagi.

Lagi-lagi Chen tersenyum, benar kan kataku, yeoja ini memang berbeda dari yeoja lain, ia begitu menarik dan menggemaskan, seperti yang kalian lihat, ia bertingkah seperti anak kecil lagi sekarang, ucap Chen kagum dalam hati.

DUAR! DUAR! DUAR!

Suara gaduh kembang api membuat semua orang terpesona dan mendongakkan kepala penasaran ingin melihat rupa kembang api itu. Kembang api tersebut menyala di atas langit yang gelap, warnanya sangat kontras dengan awan yang gelap sebagai backgroundnya. Bentuk kembang api itu sangatlah indah dan dapat menyita perhatian semua orang disitu, tak memandang tua atau muda, mereka semua senang dapat melihatnya.

Demikian juga kedua insan kita ini, mereka berpegangan tangan sambil tetap mendongakkan kepala ke atas langit, mengagumi kembang api yang menyala dan menyinari langit dengan indahnya.

Lily, lihatlah wajahnya. Bersinar akibat pantulan cahaya kembang api tersebut. Mulutnya membentuk senyuman lebar dan sesekali terbuka karena terlalu kagum akan kembang api tersebut. Chen memandang yeojanya dari samping. Neomu yeppeo. Sangat sangat sangat cantik. Dia sangat beruntung mempunyai yeoja seperti Lily.

Chen mengeratkan genggaman tangannya dan tangan Lily. Chen memasukkan kedua tangan mereka kedalam saku jaketnya yang memang ukurannya besar. Chen tersenyum. Jika ia bisa, ia ingin terus menjaga Lily dan membuatnya bahagia seperti sekarang.

DUARRRR! DUARRRR!

Masih, kembang api tersebut masih menyala dan menimbulkan suara yang menggelegar. Acara tersebut telah berlangsung selama 10 menit. Entah kapan kembang api tersebut akan berhenti.

Tiba-tiba, Chen mendekatkan wajahnya ke pipi kanan Lily, mengecupnya pelan. Lily sadar akan itu, ia menolehkan kepalanya, melihat Chen, dan kemudian menunduk menyembunyikan kedua pipinya yang memerah dan terasa panas. Chen terkekeh geli dalam hati. Yeoja ini benar-benar.

DUARR! DUARRR!

Terus begitu, suara tersebut masih membuat orang-orang terpesona akan keindahannya. Namun tidak untuk Lily. Kedua keningnya mengernyit tiba-tiba, tangan kirinya mengepal menahan sesuatu. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya tertutup, wajahnya tiba-tiba berubah pucat pasi. Seketika itu juga, ia merasakan seluruh tubuhnya menahan rasa sakit yang menjalar ke semua urat-urat saraf yang saling menempel di dalamnya.

Ia masih bertahan. Tidak ingin memberitahukan kepada Chen, membuka suarapun tidak. Mau bagaimana? Sakitnya lebih mendominasi dan seakan tenggorokannya kering dan bibirnya kelu, tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Semua yang ada di sekelilingnya seakan berputar. Tangan kanannya yang masih setia bergandengan tangan dengan Chen, semakin keras dan erat meremas tangan Chen. Aneh, Chen merasakan sesuatu yang aneh.

Ia menolehkan kepala nya kesamping, melihat keadaan Lily. Ia kaget, kaget setengah mati melihat Lily yang kelihatan sekali sedang menahan sakit walaupun menunduk seperti itu. Chen panik, ia melepas genggaman tangannya. Ia memegang kedua bahu Lily dan berjongkok melihat wajah kekasihnya ini. Pucat, tak berdaya dan sudah tidak merespon walaupun sudah ditanya berkali-kali oleh dirinya apa yang terjadi.

Kepalanya semakin pusing, tangannya tak kuasa menggapai apapun. Dirasakan kakinya tak dapat berpijak lagi di atas tanah. Lemas dan seperti tak bernyawa. Detik berikutnya, tubuh lemah seorang Kimberley runtuh, jatuh ke tanah dan semuanya gelap, tak ada lagi kembang api yang menyala, suara gaduh kembang api itu pun tak dapat terdengar lagi…

TO BE CONTINUED

Iklan

3 pemikiran pada “All Flowers In China (Chapter 4)

  1. Terima kasih sudah di post, admin-nim. Buat para readers, ini link wordpress aku ya : carlaslittletrinkets.wordpress.com banyak FF baru dari aku sendiri loh disana 😀 karena yang weebly udah ga aku gunain atau aku post sesuatu lagi jd ke WP aja ya. Gamsahamnida buat yg mau baca ^^ have a nice day ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s