Jealous!

Jealous!

Author : Nurfadeer

Genre : Hurt, Romance, Yaoi

Pairing : Hunhan, Sulay, Baekyeol, Xiuchen, Taoris, Kaido

Main cast : All member EXO

Length : Oneshoot

Note:

Annyeong…

Saya kembali dengan FF kedua saya yang dijamin pasti bikin sakit kepala saking banyaknya kata-kata yang sebenarnya gak efektif sama sekali dengan alur yang berbelit-belit ini

Saya cuma ingin menyalurkan hobi menulis FF saya di sini

Saran dan kritik sangat saya butuhkan

Happy reading!

Sehun menatap bulan keperakan di atas kepalanya. Seiring sinarnya yang menembus langit gelap Seoul, warnanya berubah menjadi merah jingga. Itu mengingatkannya pada sesuatu. Ah bukan, tapi pada seseorang.

“Sehun-ah cepat masuk! Ini sudah masuk musim gugur, kau bisa kedinginan nanti,” pemilik suara itu menepuk pelan pundak Sehun. Sehun berbalik, menatap Suho dan mengangguk. Tak sepatah kata pun ia keluarkan.

“Kau tak apa?” Suho bertanya dengan suara serak. Nada cemas sangat kentara ketika ia melontarkan pertanyaan itu. Ia tahu jadwal EXO yang padat membuat semua membernya kelelahan begitu pun dirinya. Tapi ia tahu, ada yang berbeda dari Sehun.

Kaki Sehun membawanya jauh hingga memasuki Dorm. Dengan pikiran yang mengembara entah kemana, ia mengangkat kepalanya dan menatap sekeliling. Tak pula ia menghiraukan Suho yang berada di sampingnya, menatapnya dengan kening berkerut. Sehun merasa aneh, kenapa tempat yang sekarang ia pijak tak sebising biasanya? Senyap… Sehun merasa ini lebih dari sepi. Tak ada suara apapun.

Suho menelisik gerak-gerik Sehun hingga hal terkecil sekalipun. Manik matanya tak bisa lepas dari langkah gontai Sehun yang menuruni tangga Dorm. Ia cukup memaklumi Sehun yang sama sekali tak menanggapi pertanyaan darinya. Tapi, ia takkan memaklumi alasan apapun yang membuat maknae EXO itu seperti ini.

Aroma teh dan roti menghangatkan suasana hati kesepuluh pemuda di ruangan tersebut. Suara tawa dan suara kecil dari drama televisi yang tak mereka hiraukan menggema ke seluruh ruangan. Mereka duduk di sofa setengah melingkar itu dengan pasangan masing-masing.

“Chanyeol-ah, jangan ganti channelnya! Tadi ada noona cantik yang lewat,” Baekhyun setengah berteriak, menarik lengan kemeja yang tengah di pakai Chanyeol. Sedetik terlewat dan suara tawa yang menanggapi ucapan Baekhyun. Membuat Baekhyun merengut.

“Ya, kenapa kalian semua tertawa, huh?” Baekhyun berteriak lagi dan balik menatap Chanyeol.

“Kenapa melihatku seperti itu? Aku tampan? Aku manis? Suaraku bagus? Aku imut kalau tertawa?” Chanyeol berkata tanpa jeda dengan dagu terangkat ke atas.

“Yah, kalau itu aku sudah tah…” Chanyeol menghentikan kata-katanya. Bukan karena ia kehilangan kepercayaan dirinya. Tentu saja bukan. Tapi, karena mulutnya tersumpal dengan roti yang di jejalkan secara paksa oleh Baekhyun.

“Ya, Baekhyun-ah!” Chanyeol berteriak. Ia hampir berdiri ketika Suho datang dengan Sehun di belakangnya. Chanyeol menunduk dan kembali menghempaskan dirinya ke sofa.

“Kenapa? Kau takut padaku, ya?” suara Baekhyun melengking diiringi suara tawa member lainnya.

“Ehem…” Suho berdehem pelan. Dan semua member tahu siapa pemilik suara itu. Mereka menoleh hampir bersamaan dan salah satu dari mereka berkata, “Suho hyung kau dari mana saja?” ia lalu beralih memandang Sehun dengan tatapan matanya yang kosong.

“Dari atap gedung. Lay, kau ikut denganku sebentar!” balas Suho pada penanya itu. “Dan kau Sehun, kau bisa bergabung dengan mereka. Kalau kau terlalu lelah, kau boleh istirahat dulu.” Suho mengacak pelan rambut pelangi milik Sehun. Dengan Lay satu langkah di depannya, Suho menatap cemas pada Sehun yang balas menatapnya tanpa arti.

Setelah Suho dan Lay menghilang di balik pintu, mata Sehun beralih pada sesuatu. Ketika mata sipit itu bergerak, ia menangkap sosok orang itu. Yah, karena hanya orang itu yang mampu di tangkap matanya sekarang.

Sehun tersenyum tipis, orang itu sedang menyesap tehnya. Meneguk cairan hangat itu dengan pelan seolah akan melukai tenggorokannya jika sedikit terburu-buru. Di sisi lain hatinya merasa sesak, orang itu sama sekali tak menoleh padanya yang berdiri mematung. Apa ia tak menganggap Sehun ada?

“Sehun-ah, kenapa kau masih berdiri di situ? Cepat kesini!” Tao memanggil Sehun dengan gerak tangannya.

Sehun mendengar Tao memanggilnya, tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Andai itu dulu, pasti ia akan segera mengangguk dan dengan bahagia menggabungkan dirinya dengan mereka.

“Ya Oh Sehun! Kenapa masih melamun saja?” Tao berkata lagi dan Sehun hanya mendengarnya. Disaat yang sama orang itu juga menoleh padanya. Tersenyum sekilas lalu menoleh pada orang di sampingnya.

“Luhan hyung, aku mau roti itu!” Kai menunjuk roti di depannya pada orang di sampingnya. “Aku mau kau yang menyuapiku…” Kai merengek pada orang yang dipandangi Sehun. Ya, Xi Luhan, pemilik nama itu.

Sehun tahu apa yang akan dilakukannya. Ia berbalik menatap Tao dan tersenyum miris. “Aku mau istirahat dulu.”

“Sehun tunggu, kau bahkan belum memakan makan malammu tadi. Kau bilang mau istirahat?” Kyungsoo berdiri dari duduknya dan mendekat kearah Sehun.

“Tidak apa-apa hyung, aku tidak lapar. Kau tidak perlu khawatir.”

“Sehun, jangan keras kepala. Ini seperti bukan dirimu, kenapa kau seperti menghindari kami?” kini giliran Kris yang angkat bicara. Kris dengan wajah datarnya memandang Sehun penuh kekhawatiran. Sama seperti yang lain.

“Kau mau ku ambilkan bakpao yang baru ku beli tadi, Sehun? Aku membeli banyak, jadi tidak apa-apa kalau aku memberikannya satu padamu,” ucap Xiumin diiringi senyuman lebarnya. Bukan jawaban langsung Sehun yang ia terima, tapi sebuah pukulan pelan yang mendarat di kepalanya. Dan ia langsung menggembungkan pipinya yang memang sudah bulat itu.

“Sehun, makan saja pipi Xiumin hyung, ini sudah terlihat seperti bakpao.” Chen menarik pipi Xiumin yang tengah digembungkan dengan gemas. Yah, Chenlah yang mendaratkan pukulan kecil itu ke kepala kekasihnya sendiri.

Kris berdecak sekali dan langsung membuat ke semua member diam. Chanyeol dan Baekhyun yang hampir membuka mulut hanya melongo, menatap sebal kearah Kris.

Kris tidak tahan dan ia langsung berdiri. “Kau kenapa Sehun. Kita adalah satu keluarga, jadi ceritakan semuanya pada kami!”

Sesaat Sehun merasa bersalah. Kenapa ia membuat semua hyungnya mengkhawatirkannya? Harusnya ia lebih kuat, menahan perasaannya sendiri dan berpura-pura tegar. Tapi kenapa ia harus berpura-pura? Ya, karena ia tidak ingin mengkhawatirkan siapa pun.

“Tidak apa-apa hyung. Aku hanya sedikit lelah, aku akan beristirahat sebentar. Setelah itu bangun dan makan masakan Kyungsoo hyung,” Sehun menoleh pada Kyungsoo. “Atau aku akan meminta bakpaonya Xiumin hyung.”

Hati kris melunak dan semua member merasa lega. Setidaknya mereka berpikir apa yang dikatakan Sehun adalah yang sebenarnya. Tapi berbeda dengan Luhan yang kini menunduk, sedikit meremas celananya hingga kusut.

Kai mengamati tingkah Luhan. “Hyung kau terlihat gelisah? Kau mau istirahat juga?” tanyanya pada Luhan. Kesembilan pemuda itu lalu mengalihkan pandangan mereka pada Luhan.

“Hyung, kau tak apa? Wajahmu sedikit pucat?” Kai bertanya lagi. Tapi Luhan sama sekali tak merespon. Ia menatap pantulan dirinya sendiri pada lantai keramik warna putih itu. Betapa ia berpikir bayangan orang itu sangatlah menyedihkan. Padahal orang itu adalah dirinya sendiri.

“Hyung…” Kai berteriak cemas untuk yang ketiga kalinya. Luhan lagi-lagi tak mendengarkannya, seakan-akan telinganya telah sepenuhnya tuli. Dan semua member lalu mendekat kearahnya.

“Luhan jawab aku!” Kris mencengkram bahu Luhan dengan agak kasar. Membuat pemilik bahu itu sedikit mengerang dan mendongak.

“Ada apa denganmu? Ah, kenapa sekarang kau yang membuat kami khawatir setelah Sehun? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian, tapi jika ada sesuatu yang harus kalian selesaikan, cepat selesaikan dan jangan membuat kami semua khawatir. Kalian paham?” Kris mengakhiri ucapannya ketika Suho dan Lay kembali.

“Ada apa? Kenapa semuanya mengerumuni Luhan hyung?” Lay yang baru saja sampai bertanya entah pada siapa. Semuanya menoleh padanya tetapi tak ada yang menanggapinya. Lay yang akan bersuara lagi melihat Sehun menyeret kakinya dengan lemas menuju kamar.

“Hyung aku akan istirahat dulu…” ucap Sehun sebelum menutup pintunya dengan gerakan pelan.

Angin musim gugur di luar ruangan mendesau rendah mengetuki jendela. Sehun yang terbaring menghadap jendela menurunkan kakinya. Berjalan dengan langkah pasti menuju jendela tersebut. Ia menyibak perlahan tirai biru gelap dan membuatnya membingkai jendela di sisi kiri dan kanannya. Sinar bulan langsung menyeruak masuk menerangi kamar gelap itu.

Sehun mendesah panjang. Dadanya terasa nyeri dan kepalanya seperti dihantam benda berat. Ingin ia kembali ke ruangan dimana seluruh hyungnya berkumpul itu. Menanyakan apa hyung kesayangannya─Luhan baik-baik saja?

Hening menyelimuti ruangan yang beberapa menit lalu ramai itu. Suara desahan angin musim gugur merayap meniupi tengkuk mereka. Suasana yang memang sudah kaku dan dingin itu semakin mencekam. Beberapa dari mereka bahkan mendecih dalam hati. Kenapa suasana seperti ini yang mengisi kebersamaan mereka sekarang?

Kai menggenggam tangan Luhan dan meremasnya pelan. Luhan menoleh dan tersenyum lalu menepuk pelan punggung tangan Kai. Seolah itu isyarat yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tentu saja bahwa itu bohong.

“Selain Luhan, Suho dan aku, silahkan pergi dari tempat ini. Kalian boleh melanjutkan kegiatan kalian lagi. Tapi aku memperingatkan kalian untuk tidak ke sini sebelum kami selesai bicara. Apa kalian mengerti?” kata Kris tenang. Ia sama sekali tak memikirkan bahwa member lainnya akan menolak perintahnya itu.

“Tidak! Kau bilang kita satu keluarga. Kami akan tetap disini dan menyelesaikan masalah apapun yang ingin kalian bicarakan itu,” sahut Kyungsoo. “Kami juga ingin membantu sebisa kami.” Lalu mereka semua menganggguk sebelum Kris hendak buka mulut.

“Tidak apa-apa.” Suho menepuk pundak Kris dan tersenyum padanya. “Ini masalah maknae kita, Oh Sehun. Apa menurut kalian dia berperilaku aneh akhir-akhir ini?”

Semuanya mengangguk lalu Suho melanjutkan. “Menurut kalian apa yang menyebabkannya begitu?”

Semuanya nampak berpikir keras terkecuali Luhan yang makin menunduk. Ia menekan dirinya sendiri untuk mencoba tak menunjukkan kepeduliannya pada Sehun. Ia tersenyum meremehkan dan mengangkat kepalanya.

“Aku tak merasa ada yang aneh dengan Sehun. Kalian terlalu melebihkan sesuatu. Aku tidak ingin membuang waktuku untuk memikirkan hal seperti ini, aku akan tidur lebih dulu.” Setelah Luhan mengucapkan kata-kata yang tak pernah ia pikirkan itu, hatinya seperti teriris. Sulit baginya untuk menghirup nafas dan berpikiran jernih. Ia langsung saja bangkit dari duduknya dan melangkah pergi sebelum seseorang menahan lengannya.

“Kau bilang tidak ada apa-apa dengan Sehun? Kau merasa dia baik-baik saja, huh? Dan kita terlalu melebihkan sesuatu? Apa menurutmu ini hal sepele, hanya lelucon bagimu?” suara Suho setengah membentak. Membuat semua member membulatkan matanya dengan reaksi yang diberikan leader mereka tersebut.

Suho melepaskan lengan Luhan dan beralih meremas kerah bajunya. Suho menatap tajam kearah Luhan yang lagi-lagi hanya tersenyum meremehkan. “Ini semua karenamu. Kau yang paling dekat dengannya bahkan tidak menyadarinya. Aku ragu bahwa selama ini kau mendekatinya karena ketulusanmu.”

“Suho hyung lepaskan! Masalah ini tidak akan selesai kalau diselesaikan dengan cara seperti ini,” kata Lay menggenggam tangan Suho lalu melepaskannya dari kerah baju Luhan.

“Sebenarnya apa salah Luhan hyung dengan tingkah aneh Sehun?” Chanyeol mulai bersuara. Dengan wajah polosnya ia membuat semuanya kembali tenang.

“Bukan! Itu bukan salah Luhan hyung. Aku yang membuat Sehun berpikir bahwa Luhan hyung menghindarinya,” Kai menghentikan kata-katanya lalu meremas sofa dengan kasar. Sangat sulit baginya untuk meneruskan perkataannya lagi. Ia juga ingin dipandang oleh seorang Xi Luhan. Saling berbagi perasaan diantara mereka dan ia berpikir bahwa ia juga berhak mendapatkan itu.

Semuanya menoleh kearah Kai dengan wajah bingung. Tak terkecuali Kyungsoo yang menyadari bahwa tubuh Kai bergetar. Sepertinya ia sedang menahan sesuatu. Kyungsoo membatin ‘Apakah dia menahan dirinya untuk tidak menangis?’

“Kai hentikan! Ini bukan salah siapapun. Mereka hanya sedang melebihkan sesuatu, padahal Sehun yang bilang sendiri kalau dia hanya kelelahan. Yang dibutuhkannya hanya istirahat.” Luhan menyahut.

BRAK…

Pukulan yang tidak bisa dibilang lembut itu mendarat di pipi kanan Luhan. Dengan nafas yang masih naik turun ia mencoba menahan amarahnya. Pelaku pemukulan itu berjongkok lalu meremas kerah baju yang dikenakan Luhan. Semua member yang panik langsung menahan tangan pelaku pemukulan itu.

“Tao hentikan! Apa yang kau lakukan, huh?” geram Kris. Ia menahan tubuh Tao dengan kedua lengan panjangnya yang melingkar di pinggang Tao. “Tenangkan dirimu Tao. Aku tidak akan menemanimu mandi kalau kau begini,” dengan cepat Kris membalikkan tubuh Tao dan memeluknya. Yah sekarang semua member sedang menyaksikan TAORIS moment.

Luhan lagi-lagi hanya tersenyum. Membuat semua member kebingungan, tidak pernah mereka melihat Luhan keras kepala seperti ini. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan dengan tiba-tiba ia terisak. Punggungnya naik turun karena menangis.

Semuanya menjadi lebih bingung karena tingkah mendadak Luhan. “Hyung bagaimana ini? Kenapa semuanya jadi kacau?” tanya Lay pada Suho.

“Tidak apa-apa,” balas Suho kemudian mendekati Luhan. “Selesaikan urusan kalian. Maafkan kami karena memaksamu dengan cara ini.”

Luhan mendongak pada Suho, masih dengan air mata yang mengalir dipipinya. Luhan mengerti apa yang ingin dilakukannya. Ia tak akan mencoba lagi untuk menghindari Sehun. Tak akan pernah lagi. Kemudian Luhan bangkit dan berjalan menuju kamar Sehun.

Setelah Luhan menutup pintunya, Suho dan Lay hanya tertawa. “Kau hebat hyung. Rencanamu berhasil, tapi ada sedikit kekacauan di sini,” ucaap Lay sembari melirik Tao yang tengah dipeluk Kris dan beralih melihat semua member yang kebingungan.

“Apa maksudnya hyung? Rencana apa?” Baekhyun bertanya.

“Rencana menyatukan HunHan kembali,” Suho tersenyum dan menggenggam tangan Lay yang menggantung di sisi kirinya.

“Jadi ini bagian dari rencanamu? Kau membuat Tao dan Kai salah paham. Dua maknae kita yang lain menjadi merasa bersalah pada HunHan karenamu. Ck, dasar kau ini,” Kris menjitak kepala Suho yang balas tertawa kecil padanya.

“Itu salah Kai sendiri hyung. Kenapa sudah punya Kyungsoo tapi masih mendekati Luhan hyung?” Chanyeol yang kini menyahut.

Kyungsoo tersenyum lalu menghangatkan Kai dengan pelukannya. “Tidak apa-apa. Bocah labil sepertinya memang begitu, dia masih belum mengerti arti cinta,” Kyungsoo berkata sambil mengusap lembut kepala Kai. Kai tersenyum dalam pelukan Kyungsoo yang nyaman dan balas memeluknya dalam diam.

Sehun mendengar suara pintu terbuka. Walaupun kenop pintu dibuka dengan perlahan, ia bisa mendengar jelas suara berkriet dari engsel pintu yang tidak berkarat. Lalu ia mendengar lagi suara langkah kaki seseorang mendekat menuju arahnya. Sehun tidak peduli siapa itu dan ia tidak ingin berbalik.

Greb…

Sehun merasa seseorang tengah memeluknya dari belakang. Seseorang yang hanya beberapa centi lebih pendek darinya. Tapi ia masih tidak peduli dan tidak bergeming dari posisinya menghadap bulan.

“Maaf…” suara itu? Sehun merasa ia berhalusinasi karena mendengar pemilik suara itu dari dekat. “Maafkan aku Sehun. Maafkan aku…” kemudian ia merasa tubuh orang itu naik turun di punggungnya. Ia menangis.

Sehun menulikan telinganya dan mencoba menutup matanya dari kenyataan. Ia yakin ini hanya mimpi, jadi ia tidak harus peduli dengan orang di belakangnya.

“Kenapa kau hanya diam Sehun. Apa kau mulai membenciku sekarang?” Luhan semakin terisak sesekali diikuti dengan suara sesengggukan.

Sehun tak tahan lagi mendengar suara tangis itu. Walaupun ia menyumpal telinganya sendiri, nyatanya ia tetap berbalik dan balas menatap Luhan di depannya.

“Hyung…” Sehun berkata lirih, seperti suara desahan angin yang terhapus badai. “Aku yakin aku sedang bermimpi melihatmu sedekat ini denganku. Aku yakin sedang bermimpi. Tapi kenapa dalam mimpiku pun kau menangis hyung?”

Luhan membulatkan matanya. Sehun berpikir bahwa dirinya hanya ilusi, hanya mimpi. Dan bagi Luhan ilusi dan mimpi itu sama saja. ‘Apa aku terlalu menjauh darinya hingga ia berpikir bahwa aku hanyalah mimpi baginya?’

“Tidak! Ini aku Sehun. Ini aku…” Luhan menggenggam kedua tangan Sehun dan meletakkannya di kedua sisi wajahnya. “Aku memang egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku berpikir bahwa menghindarimu akan membantuku untuk melupakanmu. Membantumu untuk melupakanku. Aku pikir setelah kita berbeda panggung lagi, kita akan menjauh dengan sendirinya. Dan aku tak ingin membuatmu menangis ketika harus menghadapi kenyataan itu.”

“Dari awal kita sudah tahu kalau kita akan sulit berada di panggung yang sama. Dan ini akan terjadi lagi setelah promo album kita ini selesai. Aku tahu itu, jadi karena itu… karena itu aku menghindarimu. Maafkan aku Sehun,” Luhan semakin terisak dan itu membuat hati Sehun sakit.

Sehun tertegun sesaat kemudian memeluk tubuh mungil Luhan. “Tidak hyung, ini bukan salahmu. Harusnya aku tahu kalau ini alasanmu yang sebenarnya. Harusnya aku tahu ini salah satu bentuk perhatianmu. Harusnya aku tahu.”

Sehun semakin mendekap Luhan dalam pelukannya. “Aku yang tidak berpikir dewasa dan hanya menuruti emosiku. Menuruti kecemburuanku saja…”

Luhan sedikit melonggarkan pelukan Sehun, tapi bukan ingin melepaskannya. “Kau bilang kau cemburu? Cemburu pada siapa?” Luhan bertanya dengan wajah polosnya. Memandang mata Sehun dengan dalam mencoba membaca matanya.

Sehun menggelengkan kepalanya. Ah, kenapa hyungnya ini begitu polos? “Menurutmu siapa? Kau selalu menghindariku dan selalu dekat-dekat dengannya. Aku tidak suka itu…” Sehun mengerucutkan bibirnya lucu.

Luhan tertawa dan berpura-pura berpikir. “Lay? Xiumin hyung? Atau… jangan-jangan kau cemburu dengan Kai?” Luhan menahan tawanya ketika menatap Sehun yang merengut.

“Aku tidak suka hyung dekat dengan sipapun selain aku. Kalau kau menghindariku lagi seperti tadi, aku tidak akan membelikanmu bubble tea.”

“Hahaha baiklah. Sekarang kau harus makan! Kau belum makan apapun sejak siang tadi, kau membuatku khawatir saja,” Luhan berbalik dengan menggandeng tangan Sehun, tetapi Sehun hanya diam ditempatnya.

“Aku jadi berselera memakan sesuatu hyung…” Sehun mendekati Luhan dengan seringai tipis.

“Benarkah? Jadi, apa yang ingin kau makan?” Luhan bertanya tanpa menyadari seringai Sehun yang makin terpampang jelas. Tanpa menjawab apapun, Sehun langsung mendorong tubuh mungil Luhan pada kasur di sampingnya.

“Aku ingin memakan Luhan hyung!” Sehun tersenyum dan mendekati Luhan yang masih kebingungan. Tapi ketika ia akan mencium bibir mungil Luhan itu, ia melihat sudut bibir milik Luhan berdarah. Ia memandang Luhan sesaat dan menyentuh pelan bibir milik Luhan dengan ibu jari miliknya.

“Kenapa bibirmu berdarah hyung? Apa yang terjadi padamu?” Sehun bertanya dengan khawatir.

Luhan tersenyum manis dan meraih wajah Sehun mendekati wajahnya. “Tidak apa-apa. Kau bilang kau ingin memakanku? Kenapa tak cepat kau lakukan sebelum aku berubah pikiran?” Sehun kaget mendengar pernyataan Luhan. Tapi ia hanya balas tersenyum dan mendekatkan wajahnya lagi pada wajah Luhan. Ketika ia menutup matanya, seseorang menyalakan saklar lampu dan menghentikan aktifitasnya.

Ah tampaknya bukan hanya seorang yang memasuki kamar Sehun dan Luhan. Tapi, kesepuluh member EXO tengah menatap mereka dengan mulut menganga selebar yang mereka bisa.

“Hyung apa yang mereka lakukan?” Tao bertanya polos pada Kris yang masih menganga dengan mulut lebar. Ia menoleh pada Tao lalu menggandeng tangannya dan pergi dari kamar itu. “Mereka hanya sedang bermain. Kalau kau mau kita bisa bermain bersama.”

“Benarkah? Baiklah, ayo cepat hyung!” Tao mengangguk polos dan mengekori Kris yang menyeringai. Sekarang, tinggal kedelapan member yang masih menatap HunHan moment dengan perasaan campur aduk.

“Kenapa kalian masih disitu, huh? Cepat pergi!” Sehun berteriak sambil melayangkan bantal pada kedelapan member tersebut. Semuanya lalu berhambur keluar kamar dan berjalan dengan gontai.

“Baekhyun hyung, ayo kita ke kamar saja!” kata Chanyeol pelan. Ia merasa tubuhnya sangat lemas. Baekhyun mengangguk lalu keduanya pergi ke dalam kamar mereka sendiri.

“Aku mau menghabiskan bakpaoku saja!” sahut Xiumin diikuti Chen di belakangnya. “Hyung… tunggu aku juga mau ikut…” Chen merengek dan menggandeng tangan kanan Xiumin yang menggantung lemas.

“Aku juga mau tidur. Baiklah kalian berdua juga boleh tidur sekarang,” intrupsi Suho pada pasangan KaiDo. “Lay kau tidak terlalu lelah hari ini, kan? Boleh aku minta itu?” Suho berkata dengan nada manja membuat Lay hanya memutar bola matanya. “Terserah saja hyung.”

“Baiklah kau boleh tidur duluan Kai. Aku akan mengambil air putih dulu, apa kau juga mau?” tanya Kyungsoo pada Kai yang hanya mengangguk.

“Hyung tunggu!” Kai menahan tangan Kyungsoo yang hendak berbalik.

“Ya? Kau membutuhkan sesuatu?” Kyungsoo bertanya dengan halus dan Kai semakin memperkuat keputusannya.

“Aku ingin meminta maaf. Maafkan aku karena mencoba berpaling darimu. Maafkan aku karena tak pernah sekali pun membalas kasih sayang yang kau beri padaku. Maafkan aku untuk apapun. Tolong?”

Kyungsoo balas tersenyum mendengar kata-kata dari Kai. Bahkan kata-kata yang hampir ia dengar berkali-kali dari drama televisi itu membuatnya merinding. Dadanya berdegup kencang dan Kai mengeratkan genggamannya pada tangannya.

Kyungsoo mengangguk. “Baiklah. Jangan diulang lagi, oke?” Kai tersenyum lalu memeluk tubuh Kyungsoo lebih erat.

END

Iklan

17 pemikiran pada “Jealous!

  1. Cie sehun cemburu -3- lol, kris apaan dah ngancem tao gaje banget xD parah ya nyatuin hunhan nyampe jotos2-an (?) gitu -3- heung kai sih udah punya dyo malah selingkuh /jitak/ nice fic ! Keep writing ya authornimm !

  2. Ohmyy! Moment”nya bikin diabetess! Sweet banget ffnyaa
    Apalagi kristao, kris meluk tao maygatt! *fangirling* *kibar banner kristao*
    Yey, akhirnya hunhan baikan lagi~
    Masalah long-distance itu gabakalan ngerubah perasaan kita kalo emang kita mencintainya dengan tulus #cielah
    Ffnya manis manis kaya gulaa!
    Keep writting author-ssi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s