There is No Rainbow Without Rain (Chapter 5)

KaiHyo Story

“There Is No Rainbow without Rain”

[Chapter 5]

rainbow kai 5

Author             : Inhi_Park a.k.a. RahmaRiess (@Inhi_Park)

Main Cast        : Kim Jongin a.k.a. Kai & Kim Hyora

Support Cast   : Yoon Jia, Lee Chunji and others

Genre              : Sad, Drama, Angst

Length             : Multichapter

Rating             : PG-15

Disclaimer       : I do own nothing but the story and OC.

Summary         :

Just like the diamond that needs to be shaped before it becomes wonderful,

Likewise our love,

That storm will only make our love more beautiful.

Because I believe, that there is no rainbow without rain.

~***~

 

After you left, I lost control

I become drunk every night and stumble around

Spit out curses because I think of you, who was cold

I feel dirty

I overflow in anger, and scream

Your face that appears in the cracked mirror

It seems like our love that’s broken into many pieces

I stand at the end of this tiring cliff, and

Rip apart the memories I had with you

I don’t have it

 

What can I do? What can I do?

I get lost in a maze and stay in that spot

What can I say? What can I say?

It’s becoming blurred

I can’t see your face

 

I can’t move in the darkness

I can’t feel anything

Tears fall down

I’m trapped in memories of you, no

Please hold onto my hand, so that I can wake up

Please don’t go

 

You not being here not being by my side

My heart stops it’s the same as being dead

I can’t breathe living without you

I don’t even want to think about it

Believe me, I can’t if it’s not you

It hurts so much

 

~COMA by B.A.P~

 

 (Author’s side)

Benda hitam mengkilat itu melesat kencang menembus jalanan kota Seoul. Dengan lincah, beberapa mobil yang tengah berjalan pelan dilewatinya begitu saja. Sekilaspun dapat dipastikan kalau sang pengendara tentu orang yang sangat berpengalaman, bukan sembarang orang yang mau dengan suka rela menawarkan nyawanya di jalanan.

Dibalik helm full-face hitam itu tersembunyi seraut wajah yang menyiratkan kemarahan dan keputusasaan. Bibirnya terkatup rapat dengan rahang bawah yang mengeras. Sementara selaput bening di manik mata, yang membuat pandangannya sedikit buram, seketika menghilang setelah ia berkedip dan lalu menjatuhkan setetes cairan bening dari mata cokelatnya.

Ia menangis.

Kai.

~***~

Di sisi lain, seorang gadis tengah berjalan pelan seorang diri di trotoar jalanan distrik Yangchun, tepat nya di pinggir trotoar, benar-benar di pinggir, karena jika sedikit saja dia oleng ke sebelah kiri, maka Hyo, nama gadis itu, akan langsung menjejakkan kaki di jalanan yang kini sedang sangat ramai itu.

Langkahnya gontai. Sesekali ia berhenti sejenak, sekedar untuk menghela nafas, lalu kembali berjalan. Kepalanya tertunduk cukup dalam hingga rambut dark brownnya tergerai indah menutupi separuh wajah tirusnya. Pipi yang memerah, mata yang sembab dan isakan yang sesekali terdengar membuat siapapun tahu kalau gadis itu baru saja tenggelam di kesedihan yang dalam hingga meninggalkan sisa airmata yang mengering di sudut matanya.

Sekali lagi, langkahnya terhenti. Ia berdiri tegak sambil menengadahkan kepalanya menghadap langit, berharap dengan begitu airmatanya tak akan jatuh lagi.

Namun nampaknya ia lupa dimana kakinya berpijak saat ini. Cahaya keemasan matahari sore yang cukup menyilaukan membuatnya kehilangan keseimbangan. Kakinya kehilangan pijakan yang sempurna hingga ia terpeleset dan tubuhnya terhuyung kesebelah kiri.

“Akh…” Seketika ia terhenyak. Sempat terlintas di pikirannya kalau mungkin ia akan benar-benar mengakhiri semuanya saat ini juga sampai akhirnya ia merasakan seseorang menggenggam perlegangan tangannya lalu menariknya ke tepian.

“Kau pikir nyawamu ada berapa, huh? Kau sudah bosan hidup?”

Hyo menemukan sosok seorang pria berkulit putih dengan mata sipit yang kini sedang menatap tajam kearahnya. Chunji.

“Aku melihatmu di ujung jalan sana. Kau terlihat linglung, jadi aku memutuskan untuk mengikutimu. Dan benar kan, kau hampir bertindak bodoh.” Tuturnya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Air mata Hyo yang kembali menetes sudah cukup mewakili semua kata-kata yang mungkin terucap untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.

Dan Chunji mengerti. Ia tak bertanya lebih banyak lagi.

Pria itu mengantarkan Hyo pulang dengan motor besarnya. Perasaanya berkecamuk mendapati gadis yang dicintainya terluka seperti sekarang. Hatinya ikut terluka.

~***~

(Kai’s side)

Seperti malam-malam sebelumnya, aku menghabiskan waktu dengan mengendarai motor besarku berkeliling kota tanpa arah dan tujuan. Yang ada di kepalaku hanyalah membebaskan diri dari segala hal yang membebaniku, dan ini satu-satunya cara yang kutahu.

Tidak seperti biasanya, malam ini aku mengakhiri perjalananku di suatu tempat yang membuatku membuka lagi segala kenangan yang cukup lama terbungkus rapi di salah satu bagian memoriku.

Setelah sekian lama, tanpa sekalipun terlintas di benakku, akhirnya aku kembali ke tempat ini. Untuk sejenak aku terpaku. Inikah tempat ‘bermain’ ku 7 tahun yang lalu? Batinku.

Udara dingin dan lembab, kepulan asap serta deruan mesin motor yang sangat memekakkan telinga bergemuruh di sekelilingku. Beberapa motor balap melintas di hadapanku dengan kecepatan yang luar biasa. Motor-motor itu berhenti beberapa belas meter dari tempatku berdiri. Tepatnya di garis finish.

Aku sedikit mempertanyakan tindakanku sendiri. Entah kenapa, pada akhirnya aku berujung di tempat ini. Tapi sungguh aku tak menyesali semua ini. Mungkin ini memang tempat yang tepat buatku saat ini. Mungkin di tempat ini aku bisa sejenak melupakan kesakitanku. Ya, aku harus bisa melupakannya. Dan sepertinya aku tahu apa yang bisa membantuku.

Kulangkahkan kaki mendekati kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul mengerubungi dua pembalap yang baru saja melakukan aksinya. Aku menghampiri seorang pembalap yang menjadi pemenang di balapan kali ini.

“Aku ingin melawanmu.”

Kalimat singkat yang meluncur begitu saja dari mulutku sukses membungkam suara semua orang. Seorang laki-laki muda, sang pemenang, yang umurnya mungkin sama denganku itu menyambut ajakanku dengan menunjukkan smirk-nya.

“Oke.” Jawabnya tak kalah sederhana.

Setelah mengumpulkan sejumlah uang untuk taruhan balapan kali ini, aku dan pria yang bahkan tidak kuketahui namanya itu segera berjalan menuju kendaraan kami masing-masing.

Kami bersiap di garis start.

Kepulan asap yang cukup tebal mulai mebumbung ke udara saat kami mulai memutar gas, bersiap untuk melesat menuju garis finish yang tidak lain adalah tempat dimana kami sedang bersiap saat ini.

Tepat pada hitungan ketiga, sebuah syal merah yang di lambai-lambaikan oleh seorang wanita berpakaian super mini itu ia terbangkan sebagai tanda kalau balapan di mulai. Seketika itu juga ku putar gas motor hitamku ini lebih dalam.

Kami melesat dengan kecepatan tinggi. Posisiku kini ada tepat di belakangnya. Dari sudut pandangku, aku bisa melihat kalau kemampuan rivalku itu memang tidak main-main. Buktinya ia dapat melewati belokan tajam yang baru saja kami lewati itu dengan sangat mudah.

Lintasan ini. Aku masih cukup ingat kejadian saat terakhir kali aku berada di atas motor di lintasan ini.

“Kim… Hyora…”

Bayangan wajahnya yang memang tidak pernah bisa lepas dari ingatanku barang sedetikpun itu kembali tercitra dengan jelas.

Kim Hyora, tidak tahukah kau kalau kehadiranmu dalam hidupku adalah takdir tuhan yang paling aku syukuri. Dulu, sebelum kau masuk kedalam hidupku, aku bahkan tidak pernah berani untuk sekedar membayangkan akan seperti apa masa depanku. Kehadiranmu memberikan arah dan tujuan dalam hidup. Sebuah jalan lurus bahkan telah kurancang dengan indah untuk kita lalui berdua, tapi kini, kau bahkan pergi begitu saja dari hidupku.

Gemuruh sorakan dan teriakan penonton langsung membahana saat kami berdua sampai di garis finish. Aku terpaku diatas motor tanpa tahu dan peduli siapa yang berhasil memenangkan balapan ini.

Kesadaranku seketika terkumpul saat sebuah lengan mendarat di pundakku.

“Cukhae…”

Pria yang yang tadi menjadi lawan balapku itu memberiku selamat dengan aksen Busan yang sangat kental. Dan setelah itu, beberapa orang bergantian memberiku selamat atas kemenangan yang bahkan tidak kusadari itu.

Euforia kemenangan serta sorak sorai dan ucapan selamat atas kemenanganku telah usai. Dan seketika rasa sepi itu kembali menyergap perasaanku. Kesenangan ini tidak berlangsung lama karena aku bahkan merasakan rindu yang lebih dalam akan keberadaan Hyo yang dulu pasti langsung menemaniku setelah aku melakukan semua ini.

Tanpa mengambil uang taruhan yang kumenangkan, aku memacu motor hitamku kembali ke jalanan. Aku meninggalkan tempat itu dan mengarahkan motorku ke tempat yang lain. Tempat yang mungkin bisa membantu membuatku merasa lebih baik.

Hingar bingar musik langsung tertangkap oleh pendengaranku saat aku melangkah masuk. Butuh waktu sepersekian detik untukku menyesuaikan diri dengan keadaan ruangan dengan penerangan yang redup ini.

Aku melangkah masuk lebih dalam kearah beberapa set meja dan kursi tersebar di beberapa sudut. Aku berjalan menghampiri meja panjang tempat seorang bartender terlihat sedang sibuk meracik minuman dengan alat yang entah apa namanya. Ia melirikku sekilas. Lalu tak berselang lama, segelas minuman berwarna bening kebiruan tersaji di hadapanku. Nampaknya ia sudah sangat mengingatku meski ini baru ketiga kalinya aku datang ke tempat ini.

Aku menenggak perlahan minuman yang aku sendiri tidak tahu apa namanya itu. Rasanya manis agak asam bercampur pahit dan setelah meminumnya aku akan merasa sangat ringan dan rasanya semua beban dalam diriku menguap entah kemana.

Kutinggalkan mejaku lalu berjalan menuju toilet setelah aku menghabiskan gelas keenamku. Badanku terasa sangat ringan, aku bahkan sudah tidak bisa mengontrol diriku sendiri sampai beberapa kali aku menabrak orang saat aku berjalan.

Aku berdiri menghadap cermin besar. Mataku menatap lurus kearah pantulan diriku sendiri. Aku tidak tahu kalau aku memiliki toleransi yang cukup tinggi pada alcohol karena setelah minum sebanyak itu harusnya aku sudah tidak sadarkan diri, tapi kini aku malah masih sadar sepenuhnya. Dan bahkan aku masih mengingat alasan kenapa aku datang ke tempat seperti ini.

Kim Hyora.

Rasanya, semakin aku memikirkannya, semakin ingin aku membencinya yang sudah dengan mudah menyerah pada keadaan dan meninggalkanku.

Tapi kenyataannya, semakin keras aku mencoba, semakin aku sadar kalau aku terlalu mencintainya.

~***~

(Hyora’s side)

Berkali-kali layar TV di hadapanku menampilkan berbagai gambar yang berbeda karena mungkin sudah lebih dari sejam yang lalu aku hanya memainkan remote control di tanganku. Saat kulirik jam yang menempel di salah satu sisi dinding rumah, aku cukup terkejut mendapati kedua jarum penunjuk waktu itu telah melewati angka 12. Dan itu artinya aku terdiam disini bukan hanya 1 jam, tapi 3 jam.

Aku selalu benci saat-saat seperti ini. Saat rasanya waktu di sekitarku berputar sangat lambat dan membuat memori-memori yang kadang ingin di lupakan secara tiba-tiba, dan dengan tidak sopannya, kembali berlompatan di dalam ingatan.

Tiga hari telah berlalu. Ku pikir semuanya akan membaik sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata tidak. Kenyataannya, semakin aku mencoba melupakannya, semakin bayang-bayang itu menempel kuat di ingatanku.

Atau memang belum waktunya aku melupakan semua ini.

Terlalu cepat.

Ya, pasti akan butuh waktu lama untuk melupakan semua ini, dan juga menyembuhkan luka ini.

Ku hela nafas berat, semoga dengan ini beban di hatiku sedikit berkurang, meski pada akhirnya aku tahu itu sama sekali tidak membantu.

Aku benar-benar lelah. Mataku perih karena sampai hari ini pun aku masih sering menangisi kejadian di hari itu. Tubuhku juga terasa pegal semua. Aku sungguh butuh istirahat, tapi hati dan pikiranku yang terus tak tenang bahkan tak sedikitpun memberiku waktu untuk bernafas lega.

Entah sebenarnya apa yang terjadi, namun perasaanku terasa sangat tidak enak.

Saat kelopak mataku hampir dapat ku ajak kompromi untuk bisa terpejam, ketukan pintu yang cukup keras sukses menggagalkan usahaku. Entah orang iseng atau siapa yang mengetuk pintu sekeras dan sekasar itu.

Aku melangkah menuju pintu depan. Ya, seharusnya aku khawatir dan takut karena orang itu mengetuk pintu seperti orang gila di tengah malam seperti ini. Tapi rasa kesalku pada orang itu membuatku kehilangan rasa takut hingga tanpa melihat melalui jendela aku langsung membuka pintu.

“Ya Tuhan… Jia-ssi… Kai…” Mataku hampir melompat dari tempatnya saat melihat sosok dua orang itu depan rumahku, malam hari, dengan Kai yang dalam keadaan sangat kacau.

Sekali lagi, Kai dalam keadaan yang sangat kacau.

“Eonni, tolong bantu aku…”

Tanganku refleks menarik lengan kanan Kai dan menyampirkannya di bahu.

“Kai…” Gumamku.

Puluhan, bahkan ratusan, tanda tanya bermunculan di kepalaku. Apa yang terjadi pada Kai sampai ia tidak sadarkan diri dengan luka lebam di wajahnya serta bau alcohol yang sangat menyengat tercium dari nafas serta menempel di pakaiannya.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyaku setelah sukses membaringkan tubuh besar itu di sofa.

“Entahlah, aku juga tidak tahu eonni.” Kata Jia dengan suara bergetar. Aku yakin kalau dia juga masih percaya tidak percaya dengan kondisi namja di depan kami saat ini.

Tanganku terulur mengelus pundak gadis itu. Mencoba menularkan sedikit ketenangan padanya.

“Satu jam lalu, saat aku sudah hampir tertidur, handphone ku berbunyi. Panggilan dari Jongin oppa. Saat kuangkat, ternyata bukan dia yang bicara melainkan seorang pria yang katanya pegawai sebuah bar. Pria itu menghubungiku karena memang aku sempat berkali-kali menghubunginya namun tidak di angkat.” Terangnya. “Aku pergi ke tempat yang dikatakan pria tadi tanpa sepengetahuan ahjumma. Dan setelah aku tiba disana, aku menemukan Jongin oppa dalam keadaan seperti ini.” Matanya menatap nanar kearah Kai. “Mabuk berat dengan luka lebam di wajahnya.” Tambahnya. “Pria yang menelponku tadi menjelaskan kalau Jongin oppa minum sangat banyak lalu tiba-tiba membuat kekacauan dengan berkelahi dengan seorang pria disana.”

Kudengarkan setiap penuturan Jia dengan tidak melepaskan pandanganku dari namja yang tengah tertidur gelisah di sofa di hadapanku.

“Dan, aku membawanya kesini karena sepanjang perjalanan, dia terus menerus menggumamkan namamu.” Seketika aku memalingkan pandanganku pada gadis itu.

“Ku pikir dia memberitahuku untuk membawanya ke rumahmu.”

Jia, dia benar-benar gadis yang polos.

“Bantu aku membawanya ke kamarku. Biar dia beristirahat disana saja.”

Kuputuskan untuk mengistirahatkan Kai di kamarku. Dan dengan susah payah aku dan Jia menyeret tubuh besar yang semakin terasa berat karena dia sedang tidak sadarkan diri itu kelantai 2 tempat kamarku berada.

Dengan cekatan aku membuka jaket kulit hitam juga sepatu kets yang ia kenakan, sementara Jia hanya berdiri di sampingku mengamati.

“Jia-ssi, kau bisa membantuku kan? Tolong ambilkan air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan luka-lukanya.”

“Oh, nde. Baik eonni.” Katanya yang langsung bergegas mengambilkan apa yang ku minta.

Kai bergerak gelisah.

Dan saat itulah hatiku seketika mencelos.

“Hyo…”

Ia menggumamkan namaku dengan suara paraunya.

“Kai…” Lirihku. “Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti ini?”

Baru beberapa saat tadi tangisanku berhenti, kini air mata yang kukira sudah habis itu kembali menetes. Melihatnya seperti ini terasa jauh lebih sakit dibanding saat aku harus dengan sangat terpaksa mengucapkan kata-kata perpisahan waktu itu.

“Ini eonni.”

Dengan sigap ku hapus setetes cairan bening yang terlanjur meluncur dengan mulus di permukaan pipiku saat suara Jia terdengar. Kuulurkan tanganku untuk menerima baskom kecil berisi air hangat, juga selembar handuk kecil yang disodorkan olehnya.

Jia berdiri di sampingku. Tanpa harus dilihatpun aku yakin kalau saat ini ia sedang dengan seksama memperhatikan gerakanku yang sedang membersihkan luka-luka di wajah Kai.

“Eonni, dia tidak apa-apa, kan?” Tanyanya.

Aku sedikit melirik kearahnya. Dan kau tahu, aku bahkan tidak percaya seorang yang biasanya sangat riang bisa menunjukkan ekspresi wajah seperti itu. Sedih, khawatir, cemas. “Tidak apa-apa. Dia hanya sedang tertidur sekarang.” Kataku. “Oh iya, Jia-ssi, tolong kau telpon eommonim… ah, maksudku eomma nya Kai, katakan kalau malam ini kalian akan menginap dirumahku.” Pintaku. “Kita tidak mungkin mengantarnya pulang dalam keadaan seperti ini.” Jelasku saat melihat ia sedikit ragu untuk melakukan permintaanku.

“Eoh… Nde, eonni.”

Mataku kembali terfokus pada Kai yang kini sedang tertidur pulas di kasurku. Aku mengangkat lengan kanan Kai lalu mengusapkan handuk kecil yang sudah ku basahi dengan air hangat pada luka yang juga terdapat di punggung tangannya. Dari bercak darah yang sudah mengering ditangannya, aku hampir yakin kalau ia pasti habis melayangkan tinjunya ke sesuatu yang sangat keras.

Dan lagi, air mata ini kembali menetes saat tanpa sadar ku daratkan tangan penuh luka itu ke pipiku.

Tuhan, aku harus bagaimana?

~klek~

Jia sudah berdiri di ambang pintu saat aku menoleh kearahnya sesaat setelah dengan tergesa-gesa ku hapus air mataku.

“Sudah?” Tanyaku.

“Eung… Katanya tidak apa-apa.”

Aku tersenyum. “Jia-ssi, sebaiknya kau istirahat juga. Kau bisa tidur di kamar adikku di sebelah sana. Biar aku yang menjaga Kai.” Usulku.

“Emh… Apa tidak apa-apa eonni?”

Aku mengangguk pelan. “Aku tahu kau juga pasti lelah. Tidurlah…”

Jia melangkah meninggalkanku yang masih sibuk mengusapkan cairan antiseptic ke luka-luka di wajah dan tangan Kai.

Seperti déjà vu.

Aku pernah mengalami kejadian seperti ini.

7 tahun yang lalu.

“Kai…” Lirihku.

Menjaganya di rumahku di tengah malam dengan luka-luka sisa perkelahiannya seperti ini, persis seperti yang sering ku lalukan kala itu. Saat Kai masih senang dengan dunia balapan liar.

Entahlah, sepertinya aku sudah kehilangan kendali atas diriku sendiri. Tanpa bisa tahan aku kembali menangis. Sungguh, ini sangat menyakitkan.

“Jangan seperti ini Kai.” Kataku. “Ku mohon… Jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini.”

Aku terduduk di lantai, menenggelamkan wajahku ke tangan kanannya yang telah kuperban.

“Kau membuat posisiku menjadi semakin sulit.” Kataku sambil terisak.

Hatiku kembali mencelos saat melihat satu titik cairan bening meluncur dari sudut matanya.

Bahkan dalam tidurnya pun ia menangis. “Sedalam itukah aku menyakiti hatimu, Kai?” Batinku. “Mianhae… Jeongmal…”

~***~

=================================================================

5 pemikiran pada “There is No Rainbow Without Rain (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s