Dreams Jourrnal : A Lie and the Liar (Chapter 2A)

Title : Dreams Jourrnal : A Lie and the Liar

Author : MinKi

Rating : G

Length : Two Shot

Genre : Romance, hurt, friendship, family

Cast :

  • Park Chanyeol
  • Im Yura
  • Lee bokyung
  • Oh Sehun

 

Disclaimer : Ini FF original buatan Minki, OC punya Minki juga, Chanyeol dan Sehun punya Tuhan, Orang Tua, para fansnya dan Minki {{}} DO NOT PLAGIARISM

 

*** 

“Ya! Bokyung-ah, dasar lambat” Ucap seorang gadis. Mereka sedang berkemas, sepertinya mau pergi berkemah. Gadis gadis itu kembar identik, sehingga sulit sekali membedakan satu sama lain. “Hankyung-ah, bisa tolong bawakan ini. Aku tidak kuat.” Gadis yang dipanggil Bokyung itu tidak menghiraukan. Ia tetap berjalan membawa barangnya kemobil. “Chanyeol-ah, bisakah kau membantuku.”  Seorang berumur sebaya datang dari arah pintu masuk kamar Bokyung. “Oh, Bokyung-ah, biar aku yang mengangkatnya.”  Bokyung bersama seorang nam sebaya dengannya itu menuju mobil yang sudah ditempati Hankyung. “Annyeong Hankyung-ah.” Sapa nam yang bernama Chanyeol itu.

 

Dua keluarga itu berada dalam satu mobil yang sama sekarang. Mereka menuju sebuah hutan, dengan tujuan berkemah. Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya mereka sampai. Ibu dari keluarga Lee dan Park itu merapikan alat – alat memasak. Sedangkan kedua ayah mendirikan tenda masing – masing. Lee Bokyung, Lee Hankyung dan Park Chanyeol juga mendirikan tenda mereka. Hankyung terlihat sedang kesulitan memasang badan – badan tenda. “Kau kesulitan? Biar aku bantu”tawar Chanyeol. Gomawo Yeollie.” Hankyung tersenyum. Bokyung jua tersenyum. Tiba – tiba kepala Bokyung terasa sakit. Ia segera mengambil obat ditasnya.

 

“Sayang, sakitnya kambuh lagi” Tanya ibu Bokyung. “Aniyo eomma, hanya sedikit pukulan seperti biasa.” Ibu Bokyung menghela nafas lega lalu mengelus lembut rambut Bokyung. “kau istirahat saja sayang. Biarkan Hankyung dan Park Chanyeol yang mendirikan tendanya.” Bokyung mengiyakan. Karena sakitnya belum juga berhenti. “Hankyung-ah, aku istirahat dulu, kau bisa mengerjakannya sendirikan?” Tanya Bokyung. “Ani, aku tidak bisa melakukannya sendiri.” Teriak Hankyung. “Hankyung-ah, kakakmu sakitnya kambuh lagi, Lagi pula Chanyeol bisa membantumu.” Ucap ibunya. “Eomma, Bokyung hanya berpura – pura.” Tolak Hankyung. “Sudahlah Hankyung, kalau kau juga lelah biarkan ayah yang melakukannya, jangan memperpanjang masalah kecil ini.” Ujar ibunya lagi.

 

Hankyung tetap mendirikan tendanya dibantu Chanyeol. “Hankyung-ah, kau tahu apa yang paling aku takuti didunia ini?” Tanya Chanyeol. “Molla” jawab Hankyung tidak bersemangat. “Saat aku melihat Hankyung cemberut dan marah” Chanyeol tersenyum. “Ya! Kau fikir aku seorang monster jika marah menakutkan.” Hankyung memukuli Chanyeol diselingi tawanya. Bokyung tersenyum lagi melihat kelakuan sahabat dan saudaranya tertawa seperti itu.

 

Yura bangun dari lamunan panjangnya. Ia menggelengkan kepalanya. Tak mau lagi mengingat masa lalu itu.

Hari ini ia dan teman barunya itu akan jalan – jalan. Mereka bejanji bertemu di ‘coffe tofee’ sebuah kafe kopi. Yura sudah menunggu Chanyeol selama 30menit tapi Chanyeol belum juga datang. Akhirnya, setelah satu jam menunggu, Chanyeol datang.

 

“Mianhae Yura-ah, tadi ibuku. . . .”

Yura tersenyum, “Gwecanha, tidak perlu menjelaskannya. Kajja, kita ketaman bermain, aku mau main rollercoaster.

 

Mereka masuk ke arena bermain yang letaknya cukup jauh itu. Wahana yang pertama kali mereka mainkan adalah Rollercoaster. Dalam hidup Yura, ini adalah kali kedua ia naik Rollercoaster. Mereka memainkan hampir semua permainan di wahana itu. Mereka kelelahan dan duduk sebuah kursi dibawah pohon. “Kau bahagia?” Tanya Yura. “Ne?” Chanyeol bingung. “Aku bahagia.” Jawabnya lalu. “Bisakah aku mempercayainya?” Tanya Yura lagi. Chanyeol diam sebentar. “Percaya apa yang kau percaya.”

“Kau mengikuti kata – kataku.” Chanyeol mengangkat bahunya. Yura menyandarkan kepalanya kebahu Chanyeol. “Sudah lama aku ingin melakukannya, ternyata baru sekarang aku bisa menyandarkan kepala beratku ini disini.” Yura memainkan jari – jari Chanyeol. Tiba – tiba kepala Chanyeol terasa sakit. Ia menggenggam tangan Yura yang sedang memaikan jari – jarinya. “Chanyeol-ah, gwencanha?” Kepala Chanyeol masih sakit. “Aku tidak apa – apa.” Ujar Chanyeol. “Baiklah, kita pulang saja, aku tidak yakin kau akan baik – baik saja jika kita lanjutkan.” Chanyeol mengangguk.

 

* * * * * * *

 

Eomma, kapan kalian pulang” tanya Bokyung ditelpon. “Kami akan pulang dalam bulan ini, bukankah sudah ibu beritahu? Memangnya ada apa?”

“Mmm,Aku rindu kalian.”

“Ibu dan ayah juga, jaga kesehatanmu baik – baik ya, sayang.”

Bokyung menutup telpon. “Eomma jeongmal bogoshipeo

Bokyung pergi ke kasurnya. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah itu ke kasur pink miliknya. Disana ada Sehun. “Tidurlah, aku akan pulang setelah kau tidur.” Kata Sehun. Bokyung hanya diam dan menutup matanya. Rambutnya dielus lembut oleh pacarnya itu. “Kau pasti sangat lelah” ujarnya.

 

Hankyung terbangun dari tidurnya karena tidak biasa tidur ditenda. Ternyata Chanyeol juga ada diluar. “Chanyeol, tidak tidur?” Tanyanya. “Kau sendiri?” Hankyung diam. Chanyeol membelai rambut Hankyung lalu Hankyung menyandarkan kepalanya dibahu Chanyeol. “Kau pasti sangat lelah.” Ucap Chanyeol. Bokyung melihatnya dari dalam tenda lalu menangis tanpa suara. Hankyung tersenyum penuh kemenangan.

 

Bokyung berhenti melamunkan masa lalunya dan berusaha tidur.

 

* * * * * * *

 

Yura dan Chanyeol sampai didepan rumah Chanyeol. “Jangan langsung pulang, masuk dan minum dulu” Yura mengiyakan ia masuk dan duduk diruang tamu milik Chanyeol. “Tunggu, aku menyediakan minum dulu” kata Chanyeol. Tak lama seorang ajumma yang sepertinya ibu Chanyeol masuk kedalam rumah. Yura berdiri dan memberi salam pada ajumma itu. “Annyeonghasimnika” ibu Chanyeol menganggukkan kepalanya sekali dan berjalan masuk. Tiba – tiba ia berhenti dan memperhatikan wajah Yura dengan seksama “Lee Hankyung? Ah ani Bokyung-ah?” Tanya ibu Chanyeol. “Ne? Aniyo nama saya Im Yura. Waeyo?” Ibu Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Tidak apa- apa, hanya saja kau mirip sekali dengan anak temanku. Baiklah, Ajumma kekamar dulu.” Yura mengangguk.

 

Chanyeol datang dengan membawa dua buah gelas berisi air. “Ibumu masih cantik ya” ujar Yura. “Ne?” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. “Maksudku, diumur anaknya yang sudah sebesar ini, ia masih terlihat muda.” Mereka tertawa. Setelah cukup lama berbincang – bincang, Yura pulang kerumahnya.

 

Chanyeol masuk kekamarnya. Ia mencari Dream Journalnya, biasanya buku itu terletak diatas meja belajarnya. “Eomma, eomma kau melihat buku yang berada diatas meja belajarku?” Tanyanya. “Apa bukunya berwarna biru tua?”  Chanyeol mengangguk. “Oh, buku itu ibu letakkan di ruang kerja ayah. Dilemari berkasnya. Ibu fikir itu milik ayah”

“oh geurom, Gomawoyo eomma.”

 

Chanyeol mencari-cari. Ada dua lemari berkas disana. Ia mencari dilemari pertama. Tidak ditemukannya. Ia melihat ada sebuah amplop coklat tebal. Ia membuka amplop itu ternyata hanya ada berkas-berkas ayahnya. Tapi, ada satu tumpukan kertas yang menarik perhatiannya. Itu adalah berkas catatan kesehatannya. Chanyeol menemukan sesuatu yang menarik dicatatan kesehatannya. Ia tidak membacanya secara rinci, hanya dipegangnya dan melanjutkan mencari Dream Journalnya dilemari kedua. Dilemari itu ia melihat ada banyak album foto dan disana ia menemukan Dream Journalnya. Ia penasaran dengan album foto itu. Dibawanya 3 album foto dan catatan kesehatannya serta Dream Journalnya kekamarnya.

 

Ia mulai dengan membuka album foto yang pertama. Ada foto – fotonya sewaktu di sekolah menengah pertama. Dialbum itu ia banyak berfoto dengan dua gadis kembar. “Siapa mereka.” Tanyanya dalam hati. Ia mengambil satu foto yang ada dua gadis kembar itu. Didalam foto itu sepertinya mereka sedang berada dihutan. Dibelakang foto itu ada tulisan

’26 Oktober 2010. Dengan dua sahabat cantikku. Lee Hankyung dan Lee Bokyung ♡’

‘Chanyeol si tiang listrik – Bookyung’

‘Chanyeol si tampan – Hy’

 

“Lee Bokyung?”

 

-+-+-+-+-+-+-

 

Rasanya sakit sekali. Bahkan bibirku tidak bisa berbicara. “Bokyung-ah? Apa kau masih hidup? Kalau kau masih hidup bersembunyilah, pura – pura mati saja. Aku membencimu sampai ketulangku. Kau tahu ibu juga merasa terbebani dengan penyakitmu yang tidak pernah sembuh itu. Jadi jangan kembali untuk selamanya. Itu akan meringankan beban kami semua. Kau boleh membenciku sekarang. Pergilah, pergi yang jauh. Hilangkan jejakmu.” Bukannya membantuku Hankyung malah mnginginkan aku menghilang dihidupnya. Tiba tiba aku teringat percakapan Ibu dengan Ny.Park diluar kamar rumah sakit. “Kenapa kau tidak mati saja. Kau membebani ayahmu. Sekarang keuangan kita tidak stabil dan kau masih sakit.” Ibu terisak. “Ya Jung hye seong, jangan berbicara seperti itu. Kami masih bisa membantu biaya operasi Bokyung.”  Aku menangis mendengarnya. Dan aku fikir ucapan Hankyung ada benarnya. Lebih baik menghilang dari semua orang.

 

Aku fikir aku dapat keberuntungan. Seseorang membantuku. Ia membawaku kerumah sakit. Aku mendapat perawatan. Wajahku yang setengah hancur karena jatuh dari bukit itu dioperasi. Aku mendapat wajah baru. Wajah baru ini membuatku terlihat tidak menarik. Tapi, meskipun wajah ini tidak menarik setidaknya ini membuatku terlihat sedikit berbeda dengan orang yang membuangku,saudara yang selalu iri dengan apa yang aku miliki.

 

Orang yang membantuku itu, sekarang menjadi orang tua baruku. Aku punya satu kakak laki – laki dari orangtua yang mengangkatku. Aku diberi nama Im Yura. Lee Bokyung berubah menjadi Im Yura.

 

Yura membaca halaman awal diarynya. Lalu ia membuka halaman kosong didiarynya dan mulai menulis

 

 

6 Februari 2014

 

Aku sangat berterimakasih padamu Hankyung-ah, kau menghidupkan diriku yang mati dan kau melenyapkan dirimu sendiri. Aku tahu kau pintar sekali berbohong. Tapi aku tidak tahu kau sepintar itu. Tapi kenapa kau tidak mengenal kloningan wajahmu yang hanya dipermak sedikit ini. Bodoh. Bukan, aku ragu kau bodoh, mungkin saja kau pura pura bodoh. Kenapa mau berubah menjadi seorang Bokyung yang penyakitan dan bahkan tak seorangpun selain ibu yang bisa diajak curhat dan bermain. Bahkan Park Chanyeol yang sudah mengenal kita, ia menyukaimu. Kenapa bukan aku? Waktu itu wajah kita mirip sekali hingga tidak ada celah untuk perbedaan.

 

Park Chanyeol sepertinya sudah tidak mengidap penyakit hilang ingatan tiga menit sejak  6 bulan yang lalu. Tapi sayangnya ingatannya selama ini belum juga kembali. Aku harap ingatan itu tidak pernah kembali. Aku tidak akan membiarkan Chanyeol membenciku lagi. Sekarang aku sudah tidak penyakitan lagi. Chanyeol mungkin bisa meneimaku.

 

 

Yura menutup bukunya lalu bersiap untuk tidur.

 

* * * * * * * * * * * *

 

Bel pulang sekolah berbunyi. Chanyeol langsung bergegas pergi menuju sekolah Yura. Ia ingin memberi tahu apa yang dilihatnya kemarin.

 

“Yura-ah, bisakah kau mendengarku sebentar.” Yura mengangguk. Mereka menuju atap sekolah. Biasanya pulang sekolah atap ini sudah kosong. Jadi Chanyeol bisa berrbicara dengan nyaman. “Ada apa?”

“Kau mengenal baik Lee Bokyung kan? Bisakah kau tanyakan siapa dia sebenarrnya. Lihat foto ini. Bokyung ada disana dan sepertinya gadis satunya itu saudara kembarnya. Aku tidak ingin meenanyakannya langsung, aku takut ia berbohong lagi.”

Yura meelihat foto itu lalu tersenyum.

 

“Aku akan menanyakannya.”

“Kau baik sekali. Gomawoyo

“Tapi, kau yakin mau memulihkan ingatanmu?”

“Kau…kau…bagaimana kau tahu?”

 

Yura menjelaskan beberapa hal pada Chanyeol

 

“Aku tahu semua penyakitmu. Sejak kecelakaan itu, kau tidak mengingat segalanya lagi. Tak lama, kau mngidap penyakit ingatan tiga menit. Kau pasti sedang bertanya – tanya, siapa aku? Untuk sekarang kau tidak perlu mengetahuinya. Yang perlu kau ketahui hanya foto itukan? Itu adalah foto kau Lee Bokyung dan Lee Hankyung. Yang memakai topi adalah Bokyung. Foto itu diambil sebelum kalian bertiga mengalami kecelakaan. Biar aku beritahu satu hal yang penting. Dari kalian semua hanya Bokyung yang menghilang. Bokyung yang kau lihat sekarang adalah Hankyung. Ia berpura pura menjadi Bokyung yang penyakitan agar ibunya lebih menyayanginya. Tapi selama ini ia memilih jalan yang salah. Tidak seorangpun menyukai bokyung, orang – orang sebenarnya hanya memperdulikan Hankyung yang sehat, berprestasi dan tidak membebani. Mereka semua termasuk dirimu hanya memasang muka kedua dihadapan Bokyung. Meskipun Bokyung tidak sepintar Hankyung. Tapi ia tidak sebodoh itu. Ia tahu kalau kalian semua berbohong.”

 

“Kecelakaan apa? Siapa kau sebenarnya?”

 

“Kecelakaan mobil. 26 oktober 2010 , saat itulah semuanya menjadi berantakan. Kau kehilangan memori menyenangkanmu.”

 

“Im Yura, siapa kau sebenarnya.”

 

Yura diam lalu tersenyum dengan wajah aegyonya. “Aish, kau datang hanya untuk menanyakan itu, kau tidak merindukanku?” Yura mengalihkan pembicaraan. “Tunggu disini, aku akan membeli minum untukmu” Yura turun kebawah. Tak lama akhirnya ia datang. “Ini untuk mu, dan ini untukku.” Yura memberikan Chanyeol coklat panas. “Bagaimana kau tahu?” Yura mengankat bahunya.

Mereka menatapi langit tanpa sepatah katapun. Mungkin terbawa suasana tidak nyaman tadi. Kepala Chanyeol sakit lagi. Kali ini sangat sakit sampai ia merintih. “Arrgghh” Yura langsung mendatangi Chanyeol. Ia membawa Chanyeol turun dan memanggil taxi. Yura membawa Chanyeol ke rumah sakit.

 

* * * * *

 

“Bagaimana keadaannya dokter?” Tanya ibu Chanyeol khawatir. “Mungkin itu efek kecelakaannya beberapa tahun silam.” Jelas dokter. Yura menggigit jari telunjuknya. “Kau tidak ikut masuk Yura-ah?” Ny.Park mengajak Yura. Yura menggeleng. Ia membiarkan Orang tuanya dulu saja yang masuk.

 

Ny.Park dan Tuan Park keluar dari kamar Chanyeol. “Yura-ah, kau mau menemui Chanyeol?” Yura mengangguk. “Kamsahamnida Ny.Park”

 

“Chanyeol-ah? Gwenchana?” Chanyeol mengangguk. “Nan gwenchana, Bokyung-ah” Yura mengangkat sebelah alisnya. “Lee Bokyung, sekarang adalah Im Yura”

“Apa yang kau bicarakan?” Yura bingung. “Kenapa kau berpura – pura selama ini? Kenapa kau berubah menjadi Im Yura, wae Bokyung-ah?”

“Aku? Berubah?”

“Sudahlah ceritakan saja padaku, aku sudah mengingat semua hal. Kenapa kau baru muncul sekarang?”

Yura meninggalkan kamar Chanyeol. “Ya! Aku belum selesai bicara” teriak Chanyeol

 

 

Yura pulang kerumahnya. “Yura-ah, sudah makan? Ayah membuatkan makanan kesukaanmu” Yura datang kemeja makan dan makan “Ayah, apa penyakitku akan kembali lagi?” Ayah Yura menelan makanan dimulutnya lalu menjawab. “Karena tumor itu sudah diangkat, akan sangat tipis kemungkinan penyakitmu tumbuh lagi.” Yura tersenyum tipis. “Kalau penyakut itu datang lagi, mereka akan segera kubunuh.” Sehun menyambar lalu duduk disamping Yura. “Memang kau harus melakukannya” ujar ayahnya. “Bagaimana bisa membunuh, dengan tikus saja oppa takut hahaha”

“Ck, anak ini”

 

= = = = = = = = = = = =

 

Oppa, bolehkah aku tidur disampingmu? Aku takut” Sehun tersenyum. “Tentu saja.”

“Sehun oppa, menurutmu Bokyung itu bagaimana?” Tanya Yura pada Sehun yang sedang membaca buku. “Kau tidak pernah menanyakannya sebelumnya, kenapa sekarang kau menanyakannya.” Yura mengangkat bahunya.

 

“Bagaimana ya, Bokyung itu Cantik, Menarik, dan dia seksi. Dia perhatian, bersemangat dan lucu.” Yura mengangkat selimutnya sampai menutupi bibirnya. “Bagaimana jika Bokyung punya penyakit sepertiku dulu, apa dia tetap menarik” Sehun menutup bukunya. “Entahlah, kenapa kau menbicarakan hal aneh seperti itu, cepat tidur”

***********

 

Meskipun fisik mereka terlihat sama, tapi didalam bokyung dan hankyung berbeda. Bokyung orang yang selalu tersenyum, ia pendiam dan selalu menerima kenyataan. Hankyung? Dia orang yang bersemangat, sering sekali mengeluh dan cerewet. selain bentuk fisik, ada satu lagi yang sama, Mereka sama sama pintar berbohong.

Kenapa selalu Bokyung? Pertanyaan itu sering sekali diucapkan Hankyung. Kenapa kami tidak sama? Sedangkan yang satu itu sering sekali keluar dari bibir mungil Bokyung.

 

.

.

.

.

 

Sehun sudah terlelap, Yura yang sedari tadi tidak bisa tidur, beranjak dari kasur menuju kamarnya. Sebenarnya, takut hanya alasannya saja agar bisa menanyai pertanyaan yang sangat ingin ditanyakannya sejak lama. Yura menyobek rapi kertas dari buku diarynya. ia menulis sesuatu dikertas itu. Dilipatnya, lalu dimasukkan kedalam sebuah amplop yang sudah sengaja ia siapkan

 

.

.

.

.

Sudah satu minggu ini, Bokyung tidak melihat Yura, Sehun juga tidak ada menghubunginya. Chanyeol pun begitu, ia menanyakan kabar Yura kepada Bokyung, yang artinya Chanyeol pun tidak tahu keberadaan Yura. Hari ini Bokyung berencana datang kesekolah Yura, kalau tidak ada, ia akan kerumah Yura.

Bokyung menanyakan pada teman – teman Yura. Katanya Yura sudah tidak hadir sejak 2 hari yang lalu. Ia terus mencoba menghubungi Sehun dan ayah Sehun juga. Tapi tak ada jawaban. Terakhir kali ia menelpon handphone mereka bertiga sudah tidak aktif. Ia sampai didepan rumah Sehun. Seorang anak kecil keluar dari rumah Sehun. Yura menanyakan apakah ada Sehun, ternyata anak itu bilang Kakak yang bernama Oh Sehun sudah pindah rumah dan sekarang ia tinggal bersama ibunya. “Eonnie, namamu siapa?” Bokyung menjawab, anak itu menyuruh Bokyung masuk dan menunggunya mengambilkan sesuatu. Anak itu memberikan surat. “Bokyung eonnie. Eonnie mancung itu menyuruhku memberi surat pada orang yang bernama Lee Bokyung.” Bokyung membuka surat itu lalu membacanya

 

Bokyung meremas kertas itu. Ia keluar rumah tanpa sepatah katapun.

 

**********

 

Chanyeol menghempas gumpalan kertas ketempat sampah. Wajahnya memerah karena menahan marah. “Sekarang apa yang kau coba lakukan? Apa yang sedang kau rencanakan?”

 

6 bulan kemudian

 

Chanyeol meneteskan airmatanya. “Bagaimana bisa kau melakukan ini? Aku baru saja ingin memulainya”

Ibu Bokyung menangis dihadapan foto Bokyung. Tuan Lee memeluk Ny.Lee. “Tidak, anakku, kau tidak boleh pergi sebelum ibu pergi” Suara tangisan Ny Lee membuat suasana menjadi semakin haru. Bokyung memandangi cermin sambil tersenyum dengan airmata. “Kita, kita adalah gadis cantik. Mianhae Bokyung-ah, mianhae”

 

 

ToBeCon

 

A/N:  fiuh~ akhirnya, kalo bingungn tanya aja nanti MinKi jawab kok.Hehe. sebenarnya udah separoh jalan ffnya waktu yang chapter 1 nya dipost tapi gak bisa ngelanjutin soalnya Minki TO

Seneng juga bisa nyelesaiin. Yang Chap 2 ini MinKi bagi jd 2 bagian part a dan part b soalnya kalo digabung, jd panjangan. Sebenarnya, bingung juga kenapa jadi panjang banget, rencana awalnya mau two shot eh kebablasan jadinya dibagi 2 part hehe. Yaudahlah. Kalo ada typo mohon maaf banget ya. Minki minta komentarnya ya~~~ Kamsahaeyo ^o^

Iklan

6 pemikiran pada “Dreams Jourrnal : A Lie and the Liar (Chapter 2A)

  1. Akhirnya, dah nunggu lama nih thor

    Kykny disini bnyk flashback ya thor?
    ternyata Yura sama bokyung itu kembar ya. Trus hankyung berubah jd bokyung. Dari chap1 udah rada pusing hehe

    Ditunggu Chap2b nya thor^^

  2. Jadi Yura itu Bokyung
    Bokyung itu Hankyung
    Yura kembaran sama Bokyung
    Hankyung pura pura JD Bokyung
    Bokyung ganti nama jadi yura.
    Good job

    Sukses biking gue scroll up scroll down
    Sumpah bingung, tapi pas udah memahami keren~
    Oke Jan lama lama ye Thor lanjutannya biar lebih ngerti >.< hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s