Forelsket First Kiss (Chapter 1)

Title     : Forelsket First Kiss (Chapter 1)

Author : Blue Calla

Genre  : Romance, School life, (little bit) comedy, friendship

Length : Chaptered

Rating  : PG-15

Cast     : Oh Sehun (EXO K)
Yoon Jae In (OC –sorry for the girl in poster, i’ve no idea ><)
Park Chanyeol (EXO K)
And other supporting cast

Untitled

“Hey , mengapa kau tak menjawabnya?” gadis kecil itu memiringkan wajah, menatap penuh rasa ingin tahu.  Ia bertahan dalam beberapa detik sampai anak lelaki disampingnya menyelesaikan simpul terakhir pada tali sepatunya.

Mwo?” anak itu balik bertanya dengan wajah polos.

“saat Cho songsaenim bertanya tentang cita-citamu,”

“ah, itu. Karena ..aku malu mengatakannya”

Gadis kecil itu, -Yoon Jae In- menautkan kedua alisnya, tidak mengerti mengapa seorang anak dengan peringkat satu berturut-turut  sepanjang tahun bahkan malu untuk mengatakan cita-citanya.

Apa .. dia ingin jadi profesor dan malu akan kebotakannya dimasa depan? Jae In kecil mengira-ngira.

Wae? Memangnya apa cita-citamu?”

Anak lelaki itu mendongak, mengitarkan pandangan keseluruh area lapangan sekolah yang sudah sepi dengan wajah waspada.

“berjanjilah untuk tidak menceritakannya pada siapapun,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.  Matanya sipitnya melebar tanpa bisa membentuk sebuah lingkaran sempurna. Menatap Jae In didepannya yang kemudian mengangguk penuh semangat.  Anak itupun  beralih, menelungkupkan tangannya pada daun telinga sang gadis kecil yang siap mendengarkan cita-cita rahasianya dengan seksama.

Anak lelaki itu berbisik pelan,  –pelan sekali- ,

“Aku ingin mencium seorang gadis”

Ia menjauhkan tubuhnya, menunjukkan sederetan gigi-gigi kecil  tersenyum yang diikuti eye-smile ciri khasnya  kemudian berlari secepat kilat. Meninggalkan Jae In kecil yang mematung tanpa ekspresi serta semburat merah muda tertinggal di kedua pipinya.

_________

Aku menyandarkan kepala di jendela bus sepanjang perjalanan. pemandangan lalu lintas diluar yang sedang tidak begitu menarik membuatku bosan melihatnya, meskipun tidak ada rasa kantuk, aku mencoba memejamkan mata sejenak. Barangkali saat aku terbangun tahu-tahu bus ini sudah sampai di depan sekolah. Dan tiba-tiba saja, anak-anak bodoh itu mampir lagi untuk mengejekku.

Aku tidak tahu kenapa. tapi setiap kali otakku sedang kosong, kenangan tentang suatu sore di tujuh tahun lalu itu selalu terputar tanpa sengaja. Kebetulan otakku ini sering sekali kosong –jadi, kau tahu artinya kan? Hampir setiap saat, apalagi ketika aku bertemu bocah itu, aku merasa telah dipengaruhi. Ya, aku- Yoon Jae In- yang saat itu masih suci bersih dan polos tanpa noda terpengaruh oleh perkataan bodoh seorang bocah ingusan yang bahkan tidak punya terlalu banyak teman di  sekolah dasar.

Jadi, ini semua bukan salahku. Ketika aku harus tumbuh dengan bayangan itu dan tersugesti oleh kalimat mesum seorang anak lelaki berumur sembilan tahun. Ya ampun, apa jadinya anak ini jika pada umur sekecil itu ia sudah ingin mencium seorang gadis?

_________

Ssssh..

Pintu depan bus terbuka diiringi suara mendesis, Para penumpang yang kebanyakan merupakan murid-murid Sekolah menengah Hansou berdesakan dengan anarkis untuk cepat-cepat turun. Setelah melirik sebentar jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lewat, Jae In menerobos antrean, membuat beberapa orang menggerutu akibat kelakuannya.

“Ah, sial!” umpatnya sambil berlari dengan tenaga penuh. Hari baru saja dimulai namun seragamnya sudah basah oleh keringat. Namun pikirnya tak apa-apa, selama ia bisa masuk dan tidak menyia-nyiakan waktu belajarnya di sekolah elit ini Ia akan berusaha sekeras mungkin.

Murid lain sudah tertinggal jauh dibelakang, kecuali seorang namja tinggi yang berjalan beberapa meter di depannya. Anehnya, ia berjalan dengan santai. Sedikitpun tak terburu-buru mengejar waktu

Jae In mengamati orang itu,

Oh Sehun

Gadis itu menghentikan langkahnya. Nafasnya tersengal-sengal diiringi detak jantung lebih cepat empat kali lipat.

“Aigoo.. manusia sepertinya bisa terlambat juga, padahal setahuku ia sudah berangkat ketika aku barusaja masuk kamar mandi.” Batinnya sambil tertawa meremehkan, mencoba mengira-ngira mengapa Sehun terlambat. Mungkin ia begadang,

“Hei, tunggu!  Bukankah hebat jika aku mengalahkannya untuk pertama kali?”

Selama ini, Appa selalu mengomelinya dengan membandingkan Jae In dengan Sehun. Ia bilang, mengingat jarak dari rumah ke sekolah yang sama, jika Jae In terus saja terlambat mengapa Sehun tidak?

Wush!

Tanpa berpikir lagi Jae In kembali melesat, berupaya menyusul namja didepannya yang hampir mencapai pintu gerbang. Jarak antara keduanya menipis ketika Jae In berlari tepat satu meter dibelakang Sehun.

Deg!

Dan saat itu, bagi Jae In waktu seakan berhenti. Kau tahu, ketika dengan gerakan lambat seorang namja tampan bernama Oh Sehun menoleh dan menatap tepat padamu, Waktu benar-benar terasa berhenti.

Ah! Hentikan, Jae In nyaris saja lengah jika ia tak cepat-cepat mengalihkan pandangan pada pintu gerbang yang berdiri tepat di depan matanya. Ia berhasil. Berhasil menyusul dan mengalahkan seorang Oh yang  nyaris sempurna dalam segala hal. Sebuah kebanggaan.

Gadis itu menggenggam jeruji pintu gerbang erat-erat. Ia berhenti, menampakkan senyum penuh kemenangan di wajahnya diam-diam.

__________

Apa gadis itu bodoh?

Ah, iya. Aku lupa kalau ia memang bodoh.

Aku baru saja melihat Yoon Jae In melewatiku. Kacau sekali. Sebelah tali ranselnya melorot hingga membuatnya nampak konyol ketika ia berlari. Rambut hitam sebahunya berantakan, dan kali ini tanpa dikepang. Mungkin ia lupa atau kehilangan ikat rambut dan sebagainya. Aih! Lupakan, memangnya aku peduli?

yang aku khawatirkan saat ini adalah diriku sendiri. Meskipun ia nampak seburuk itu, jantungku mendadak tersentak ketika kami bertatapan dalam sedetik saat gadis itu berlalu. Entah karena apa, namun tetap saja aku tak ingin menyukai gadis dungu macam Yoon Jae In yang susah payah berlari meski jelas jelas pintu gerbang sudah ditutup.

Akhirnya aku tiba juga. Kulihat Jae In berdiri di sana. Menempel pada pintu gerbang dan menggenggam jeruji seperti seorang narapidana mengenaskan. Diam-diam aku tertawa membayangkan ekspresi gadis itu ketika tahu bahwa upaya marathonnya sia-sia. Tapi kemudian, aku berhenti. Jae In membalikkan badan dan menatap ke arahku. Tubuhku terasa kaku seketika.

Aku sendiripun baru tersadar, bahwa setelah sekian lama terdiam, akhirnya kami benar-benar berhadapan. Aku terjebak dengan gadis yang kuhindari selama ini. Kami berdua. Aku, dan Yoon Jae In.

Sial, Aku benci keadaan seperti ini.

________

“Bin Rae-ya.. apa Sehun begitu membenciku?” Jae In mengaduk-ngaduk supnya dengan malas. Selera makannya sedikit berkurang mengingat wajah datar Oh Sehun ketika menatapnya tadi pagi. Lelaki itu membuang muka. dan setelahnya, ia sama sekali tak menatap Jae In sedetikpun hingga satu jam kemudian mereka diperbolehkan masuk.

Gadis bertubuh tinggi bernama Bin Rae itu berhenti menyesap susu kalengnya, “Mana kutahu, Kau ini teman masa kecilnya, jadi kaulah yang seharusnya lebih mengerti,” ujarnya dengan wajah kesal.

“Mwo?”

Bin Rae memutar bola mata, ia menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Jae In dan menjelaskan dengan perlahan. “Apa kau pernah berbuat salah tanpa disadari? di masa lalu mungkin?”

Jae In menggeleng kuat-kuat. Tidak pernah kecuali ketika suatu hari Ia membiarkan Sehun tak mempunyai Tim dalam lomba lari estafet saat pelajaran olahraga. Saat masih di taman kanak-kanak, Jae In menganggapnya sebagai suatu kejahatan. Namun tentu saja ia tak akan menceritakan hal itu pada Bin Rae.

Sahabat baiknya itu menyerah, “Mungkin Oh Sehun melakukannya tanpa sebab,” simpulnya asal.

“Tidak adil! Kalau begitu aku juga akan membencinya!”

“Apa kau bisa?” Bin Rae bertanya dengan nada menantang.

“Mengapa pula aku tidak bis-”

“ –Tentu saja,  karena kau sudah terlanjur menyukainya!”   Bin Rae memotong dengan suara meninggi. Beberapa orang di kafetaria menoleh, menatap dua orang gadis yang terlihat seakan-akan sedang bertengkar di depan umum itu.

Jae In maupun Bin Rae sama-sama diliputi rasa gugup dalam beberapa detik. Beruntung, sesuatu mengalihkan perhatian orang-orang ketika suara riuh bersahutan di dalam ruangan. Kedua gadis itu bertatapan satu sama lain.

Dari pintu masuk Kafetaria, sekumpulan murid prep berjalan masuk dengan bangganya. Sang leader, siswa kaya asal Kanada –Kris- melangkah dengan gaya berkuasa. Kapten tim basket Zhi Tao, Jun Myeon si berandalan berkharisma, serta Kai –junior yang  dikenal sebagai playboy-

Dan disamping Kai, adalah pusat dari perhatian para gadis akhir-akhir ini. Seorang namja tampan dan berprestasi yang dijuluki Ice Prince, Oh Sehun.

Bin Rae menggenggam tumit Jae In, bersiap-siap jika barangkali Gadis itu pingsan melihatnya.

_________

Apa aku sudah menceritakannya?

Ya, tentang namja itu. Oh Sehun.

Dialah bocah mesum yang bermimpi mencium seorang gadis tujuh tahun lalu. Anak tunggal keluarga Oh yang tinggal tepat di samping rumahku, pendeknya –ia tetanggaku-, Ia mengekoriku sejak taman kanak-kanak hingga lulus sekolah dasar. Entah aku terkena kutukan atau apa, kami kemudian bersekolah di sekolah yang sama hingga saat ini, kami berumur 17

Hhh.. pikiran itu membawaku lagi ke masa lalu, Dulu kami seperti sepasang kakak-beradik, -meski aku berada di posisi kakak karena Sehun dulu begitu kurus dan tak setinggi sekarang- Ia anak yang sangat pintar, selalu membawa bekal dari rumah dan –dengan kikirnya tidak pernah mau berbagi dengan anak-anak lain- . Kau tahu, pada akhirnya mereka menjauh dan mengejek Sehun secara keroyokan. Membuatnya jadi mudah menangis dan menyendiri.

Dan dari situlah, aku menjelma menjadi seorang preman yang ditakuti seluruh anak.

***

-Enam tahun lalu, musim panas-.

“Diam kau bocah cengeng!  Wajahmu seperti ayam! Hahahaha!”

Jujur saja, saat itu mungkin tertawaku agak berlebihan. Aku terus saja mengoceh sambil sesekali menjilat es krim yang mulai meleleh akibat terik matahari musim panas tahun itu. Sedangkan Sehun sama sekali tak berselera dengan es krim vanillanya, ia membiarkan tetes demi tetes cairan putih membasahi jari-jarinya.

“Ya!! Jangan mengucapkannya berulang-ulang! Kau membuatku kesal saja,” sungutnya tak terima. Tentu saja aku pasti membuatnya marah. Namun saat itu, mengungkit masa sekolah dasar Oh Sehun yang ironis dan penuh penindasan adalah kegiatan yang menyenangkan bagiku. Namanya juga abege.

“Habisnya, aku tak bisa melupakan tragedi itu. Wajah Bong Sun sangat konyol saat mengatakannya, kau tahu?” Aku menoleh pada sehun yang masih cemberut, lalu mengacuhkannya dan mulai bicara lagi.

“Dia mengataimu ayam. Cih! Yang benar saja, ia bahkan tak sadar wajahnya seperti babi” 

Ya Tuhan, aku baru sadar bahwa saat itu cara bicaraku tak seperti seorang gadis.

“Untung saja saat itu aku segera datang, kau tidak akan lupa bagaimana aku menyelamatkanmu dan menghajar anak-anak sinting itu.” Lanjutku dengan bangga.

Tak kusangka aku saat remaja begitu cerewet. Bahkan aku tak menyadari bahwa selama perjalanan pulang, aku mendominasi percakapan. Membirakan Oh Sehun diam dengan perasaan terhina akan masa lalunya.

“Kudengar Park Bong Sun bersekolah di SMP Tamgeuk. Semoga saja dia tidak jadi penindas disana,”

Aaaarggh! Sadarlah Yoon Jae In. Kau hanya membuat telinga Sehun memanas.

Pluk!

Sebenarnya,  aku benar-benar tak ingin mengingat bagian ini.

Sehun melemparkan es krimnya dengan sekali gerakan cepat. Membuatku terperangah seketika saat ia kemudian melirikku dengan tatapan dinginnya. Wajahnya yang dipenuhi peluh merah padam. Membuatku agak sedikit ketakutan karena tanpa berbicara, tiba-tiba saja ia seperti itu.

“Ya! Oh Sehun! Ada apa denganmu, eoh?” ucapku tak percaya. Tapi Sehun tidak menjawab pertanyaanku, ia malah mematung. Menatap nanar es krim vanilla yang sudah mencair di aspal jalanan yang mendidih.

Saat itu, kupikir ia menyesal dan menginginkan es krimnya kembali.

Tapi bukan, Sehun malah menginjaknya kuat-kuat hingga benda itu meninggalkan bekas. Lalu ia berlari meninggalkan aku yang berteriak Memanggil –manggil namanya dengan suara melengking.

Kukira, itulah awal dari semua ini. Mulai hari itu Sehun menjauhiku meski sampai saat ini aku tak tahu kenapa. Bahkan saat itu aku mengejarnya, menyerah di sebuah persimpangan jalan dan menangis.

Bagaimana aku mendapatkan ciuman Oh Sehun jika baru saja aku melepaskannya, -Cinta pertamaku-?

­­­­­­­__________

 

Gadis itu percaya bahwa setiap manusia terlahir dengan karmanya masing-masing. Dan kali ini, ia benar-benar merasakannya.

Jae In melangkahkan kaki untuk segera keluar dari Kafetaria. Ia jengah melihat pemandangan yang hampir selama ini mengganggu aktivitas makan siangnya. –Kedatangan murid-murid populer beserta teriakan histeris para gadis yang membuat kupingnya panas-. Belum lagi ketika tak sengaja didengarnya pujian-pujian untuk Sehun yang selalu sukses membuat hatinya merasakan sakit.

Mungkin ini karmaku, pikirnya sambil terus berjalan dengan hentakan-hentakan keras.

Mungkin ia ingin memutar balik keadaan.

Mungkin ia ingin menunjukkan padaku bahwa ia tak membutuhkanku lagi.

Jae In terus saja memikirkan berbagai macam kemungkinan. Hatinya gelisah, bahkan sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas Hansou.

Ia tetap seorang Oh yang pendiam, Jarang tersenyum, pintar dan  hanya berbicara seperlunya. Sejak awal namja itu sama sekali tak merubah sesuatu apapun –kecuali- Potongan rambut baru serta pergi ke sekolah tanpa kotak makan siang, dan tentu saja, ia bukan anak kecil cengeng lagi. Begitu tahun pertama dimulai, Sehun benar-benar fenomenal. Tanpa berusaha untuk menjadi populer ditambah kepribadiannya yang dianggap sexy oleh para gadis, Ia menjadi idola sekolah. Hingga pada akhirnya, kepopuleran tersebut menarik perhatian The Prep lainnya yang tidak kalah terkenal di Hansou. Kris, Tao, Jun Myeon, Kai, serta antek-anteknya, meminta Sehun bergabung dalam perkumpulan tak jelas mereka.

Yang mebuat Jae In semakin gusar adalah, beberapa anggota cheers yang seringkali terlihat mengekor di belakang namja-namja itu. Ia baru saja melihatnya di kafetaria, Go Hara –Senior nya yang berwajah cantik- bergelayut manja pada lengan Sehun.

“Mereka pikir mereka siapa?” Jae In bergumam sambil terus berjalan. Ia bermaksud menuju toilet karena Bin Rae pasti akan mencarinya setelah selesai makan siang.

Jae In membuka pintu Toilet dengan tendangan maut penuh emosi, untung saja tidak ada seorangpun di dalamnya saat itu. Ia yang tidak sedang ingin buang air memutuskan untuk berdiri disana. Menatap bayangannya di cermin dan mulai berbicara pada diri sendiri.

“Kau tahu? Mereka tidak sedikitpun mengenalmu!” ucapnya lantang, seakan menumpahkan kekesalan yang ditahannya sejak tadi. Ia benar-benar marah. Tangannya mencengkram sisi-sisi wastafel didepannya

“Aku mengenalmu sejak kecil! Hanya aku yang tahu segala sesuatu tentang-!

Brak!!

Sebuah suara mengagetkan Jae In lebih dari apapun hingga membuat jantungnya nyaris copot. Nampak memantul dari cermin seorang namja –Ya, namja– membuka pintu ketiga kamar kecil  yang berada tepat di belakangnya. Fakta bahwa manusia sialan itu adalah seorang lelaki benar-benar membuatnya ingin mati di tempat.

Dan sedetik setelah Jae In mengumpulkan nafas untuk berteriak sekencang mungkin, orang itu menyergapnya dari belakang. Membekap mulutnya yang mulai meracau tak karuan. Gadis itu berusaha berontak. Mencoba  melepaskan tubuh jangkung seorang pria yang berhasil menyeretnya masuk kedalam pintu toilet nomer tiga.

Dalam sekilas, ia tak sengaja melihat nametag bertuliskan huruf Hangeul bertengger pada jas hitam namja tersebut.

Park..

Chan-

yeol

Park Chanyeol.

___________

Aku baru saja membuka resleting celanaku yang entah kenapa tiba-tiba macet di saat genting seperti ini-.-  Aku ingin pipis. Sangat ingin. Kupikir gara-gara sebotol teh manis yang diberikan Xiumin secara Cuma-cuma padaku. Disela-sela pertandingan futsal pada jam istirahat tadi aku mengalami dehidrasi akut. Aku menghampiri semua orang yang kukenal di lapangan untuk mengemis meminta minum –seteguk saja- .Tapi nihil, manusia-manusia kikir itu menggeleng kecuali Xiumin, ia datang bak malaikat dengan menyodorkan sebotol cairan yang nampak menggiurkan.

“Hmm.. Apa ini?” Ucapku basa-basi sambil memandang botol tersebut agak lama.

“Itu Teh manis, aku membawanya dari rumah” Jawabnya sumringah. Aku mengernyitkan mata, bertanya-tanya mengapa orang ini begitu bangga membawa teh manis. Apa karena ia orang China? Lalu kenapa? Ah entahlah, aku tak peduli. Sikat saja, Park Chanyeol!

mau bagaimana lagi. Aku haus, dan aku harus mensyukuri teh manis ini. Tak kusangka rasanya segar juga sampai aku menghabiskannya dengan sengaja. Bodohnya lagi, Xiumin tidak sedikitpun marah.

“Habiskan saja,” ujarnya santai ketika cairan itu mengaliri tenggorokanku yang terasa kering. Dan pada akhirnya, aku keluar di tengah pertandingan karena tak sanggup lebih lama menahan pipis. Mengabaikan teman-temanku yang mulai ricuh karena sang keeper hengkang dari lapangan begitu saja.

“Arrggh!” aku menaik-turunkan resleting sialan itu. Namun tiba-tiba saja..

Brakk!!

Aku melonjak kaget selama sekian sedetik. Entah kenapa pikiranku langsung tertuju pada Kim Jun Myeon. Hanya pria itu yang biasanya melakukan aksi marah-marah sendiri seperti ini. Membanting segala macam benda dan berteriak teriak seolah ia paling menakutkan. Ya, biasanya begitu. Pria itu hobi menggertak.

Tapi yang kudengar lain. Yang kudengar malah suara cempreng khas seorang Yeoja berteriak marah-marah.

Tunggu! Yeoja!?

Apa-apaan ini? Apa yang dipikirkan gadis itu sampai-sampai ia berani masuk kedalam toilet pria? Apa ia tidak tahu apa jadinya jika hal semacam ini terjadi? Apa ia tak mengerti perasaanku sebagai seorang laki-laki normal!? Aish! Sungguh tidak bisa diterima!

Sesuatu mendorongku untuk membanting pintu cepat-cepat. Mungkin ini naluri. aku hanya bermaksud menyelamatkan gadis itu, tidak bermaksud mengagetkannya apalagi melakukan hal yang macam-macam.

Brak!!

Selama sepersekian detik gadis itu memandangku lewat pantulan cermin dengan mulut menganga. Lalu dengan sigap ia berbalik, dan kau tahu –ia menarik nafas dalam-dalam sehingga aku tahu persis apa kelanjutannya. Jadi sebelum terjadi salah paham, sejurus kemudian aku membekap mulutnya yang terus saja mengeluarkan pekikan tertahan, Bibirnya yang lembap menyentuh telapak tanganku,

Ini menggelikan.

Namun, Aku berhasil membawanya masuk kedalam toilet nomer tiga meskipun ia terus saja meronta-ronta seperti sapi gila.

“sssstt..” Kutempelkan telunjuk di bibirku setelah mengunci pintu, menyuruhnya diam.

Tidak kusangka ia menurut, gadis itu berhenti meracau –atau lebih tepatnya, berhenti meludahi telapak tanganku-.

Aku melepaskan bekapanku perlahan. Kini aku dapat melihat wajahnya secara keseluruhan. Ia memiliki bentuk wajah ideal dengan dua pasang mata bulat berwarna kecoklatan. Hidungnya sempurna, dan bibir mungil itu berwarna seperti buah cherry yang segar. Ah, ya sesegar air ludahnya yang baru saja membuat telapak tangannku jadi lengket begini.

“Hey! Apa yang sedang kaupikirkan hah!?”  sungutnya tiba-tiba ketika tanpa sadar aku mengamatinya terlalu lama. Gadis itu mendorong bahuku dengan kasar,

“Aku tidak memikirkan apapun, jangan berprasangka buruk, eoh?” Aku mencoba menjelaskan dengan halus, yeah, untuk menghilangkan kesan jahat .-. Meskipun sebenarnya sekelebat pikiran buruk merasukiku selama beberapa detik.

“Bagaimana tidak!? Kau menyusup kedalam toilet wanita dan menyuruhku untuk berfikir positif, hah!? Yang benar saja!? Dasar cabul!!”

JDERR!!!

Apa katanya?? Menyusup!? Toilet wanita!? Cabul!?

Yeoja ini, benar-benar membuatku kehilangan selera untuk pipis.

Aku sedikit memicingkan mata padanya, meminta penjelasan atas kata-kata kotornya barusan, dan tentu saja Itu semua tidak benar. Oh ya, malah berarti sebaliknya. Dasar yeoja bodoh, kalau saja dia bukan seorang wanita sudah kucelupkan wajahnya kedalam kloset sejak tadi.

Aku baru saja mau menjelaskan perihal ‘meyusup’ dan ‘toilet wanita’ ketika suara derit pintu terdengar. Disusul suara-suara berat yang memenuhi ruangan seketika, perbincangan mengenai pertandingan futsal dan ini–itu. Lalu, para namja itu tertawa puas.

Kulihat gadis itu menahan nafas. Aku hanya bisa mengatakan padanya lewat isyarat mata dan sebuah senyuman –kau-tahu-apa-maksudku-.

“See?”

Ia tertundku malu, menyadari kesalahpahamannya dan melontarkan sebuah tatapan meminta maaf padaku.

“Kau. Masuk. Toilet.Pria” tegasku sambil melipat tangan di dada. Wajahnya memerah, lucu sekali.

Kami akhirnya bungkam selama beberapa menit sambil menunggu orang-orang itu pergi. Dan aku, baru saja menyadari bahwa  ini benar-benar Awkward moment, ketika aku bersandar pada dinding dan berhadapan dengan seorang yeoja tak dikenal dalam diam, di sebuah kubikel toilet sempit. Hanya kami berdua.

“Ekhem” aku berdeham tanpa sadar, membuat ia yang sedang melamun menatapku dengan aneh.

aku langsung pura-pura menggaruk tenggorokan, .

Dan semua ini, membuatku teringat suatu hal penting.

“Hey! Bukankah tadi aku mau pipis?” ucapku spontan. Gadis itu tentu saja menatapku dengan heran. Lagi pula, kenapa aku bertanya padanya?

“j-jangan bilang, kau..”

“Ya,  Kau mengagetkanku tadi, aku jadi lupa” lanjutku dingin sambil menepuk nepuk jidat. Dan kurasa, gadis itu mulai ketakutan. Mungkin tampangku seperti psikopat sekarang ini.

Aku serius bahwa aku benar-benar harus pipis dan aku tak peduli. Sekalipun ada seorang yeoja dibelakangku yang akan melihat adegan hina ini lalu ketakutan, aku sungguh tak peduli. Ia tak bisa membiarkanku pipis di celana, itu akan tampak lebih memalukan.

Dan resletingku, kini lancar-lancar saja. Ketika aku baru akan melakukannya mata gadis itu hampir saja meloncat keluar. Ia nyaris saja berteriak ketika aku menyadarkannya bahwa diluar sana masih ada para lelaki dan ia tak mungkin bersuara atau semuanya akan terbongkar. Tapi mungkin, kurasa malaikat tengah berpihak padanya. Karena mereka meninggalkan toilet setelah suara-suara itu tak terdengar lagi.

Gadis itu sesegera mungkin membuka kunci pintu dan membantingnya dengan keras.

“Hey, kau!” entah kenapa aku memanggilnya. namun ia kelihatan sangat marah, atau mungkin,  malu.

Tapi gadis itu telah pergi, berlalu dengan langkah-langkah menghentak yang masih  bisa kudengar hingga kedalam sini.

 

——To Be Continued——-

 

32 pemikiran pada “Forelsket First Kiss (Chapter 1)

  1. Maap telat comment, author mau mau berterimakasih yang sangat banyak untuk admin Nisha_bacon627 yang sudah ngepost (secepat ini pula) ^^ kamshaaaa

  2. ya ampun thor, bagus banget sumpah! lucu banget deh adegan yg sama chanyeol itu, alurnya bener2 gak terduga ^^
    lanjuuuut thor, jgn lama2 ya! 😀

  3. ya Allahh chinguuu…kerenn bgt chap 1.nyaa gak nyangka bakal seseru iniii
    ..menariik bgt ceritanyaa,,pdhl tadi aq mo mandi loo..tp nyempetin baca dikit pengen tau dikit potongan ceritanya tu kek apa siihh,.bagus enggaa..
    & ternytaaa..huaaa sampe keasikan baca,,tbc dehh..dilanjut nanti lagi dehh., kekek keburu dimarahin mama..
    harus cepet”.mandii..
    ..maaf telat bacanya..tp aku malah seneng,.kan bisa baca panjanggggggg…kekeke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s