Forget Me Not (Chapter 3)

Forget-Me-Not | Chapter 3|

 forget-me-not

Main Cast          :  Park Chanyeol  & Kang Ha In (OC)

  Genre                 :   Romance, Drama, Marriage Life

 Length               : Chaptered

 Author               :    IsshikiSaika

 Cover by            :  http://alittlestoryfrompiechie.wordpress.com/

Whenever I am in front of you I prepare myself to say this
But I always say the opposite thing, Turn around and regret it,
But now I will declare to you That I have loved you from the start~

                ~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Mobil yang dikemudikan Chanyeol akhirnya berhenti tepat di depan flat. Ha In keluar terlebih dahulu, ia merasa cukup jengah dengan suasana di dalam mobil selama lima belas menit tadi. Ha In memasuki flatnya yang diikuti oleh Chanyeol.

“ kau bersiap-siaplah. Setengah jam lagi kita berangkat.”  Kata Chanyeol sebelum masuk ke kamarnya, Ha In hanya bergumam sekilas. Dia tidak ingin mendebat lagi permintaan Chanyeol karena percuma, laki-laki itu selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, termasuk memaksa gadis itu untuk mengikuti semua skenario pernikahan mereka. Begitu yang dipikirkan Ha In. Setengah jam kemudian Ha In keluar dari kamarnya kemudian turun ke ruang tengah. Chanyeol sudah duduk di sofa dengan mengenakan tuxedo abu-abu.

“ah, kau sudah selesai? Kaja. “ ujar Chanyeol  lalu bangkit berdiri dan terpana menatap Ha In. Mengapa dia baru sadar Ha In tampak sangat cantik ketika menggunakan dress ? aroma vanila manis gadis itu menerpa penciuman Chanyeol.

Ha In mengangguk sekilas sambil merogoh  clutch yang di pegangnya, bermaksud menempatkan ponselnya.

“ apa aku pernah mengatakan kalau kau tampak berkali-kali lipat lebih cantik ketika menggunakan gaun seperti ini?” Chanyeol tersenyum  simpul sambil menarik lengan Ha In. Ha In terperangah, dia bisa melihat kilatan jenaka di mata Chanyeol.

“jangan merayuku dengan cara seperti itu karena  itu tidak membuatku terkesan sama sekali Park Chanyeol.” Kata Ha In ketus, tapi Chanyeol   terkekeh pelan, mengapa gadis ini sulit sekali percaya kalau dia mengatakan yang sejujurnya? Mereka sudah berdiri di depan mobil Chanyeol.

“ itu bukan rayuan Ha In, hanya pujian pada istriku yang tampil menawan sore ini. “ kata Chanyeol tenang dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Ha In, samar-samar ada semburat merah menjalari pipi gadis itu. Ha In menghela napas, ia harus terbiasa dengan tingkah charming dan perlakuan manis apapun yang diberikan Chanyeol padanya. Untuk saat ini, dia masih bisa bertahan dan mengabaikan itu semua, namun jika hal ini berlangsung terus menerus sepertinya akan berbahaya. Ha In menggelengkan kepalanya berusaha menjernihkan pemikirannya yang mulai mengalami distorsi.

Beberapa saat kemudian , mereka tiba di lokasi peresmian resort tuan Park yang tidak lain adalah ayah Chanyeol. Ternyata sudah banyak tamu yang hadir. Chanyeol menarik lengan Ha In lalu menggenggam tangannya. Ada sengatan kecil ketika jari mereka bertaut, baik Chanyeol maupun Ha In merasakan itu. Ha In kembali menghela napas. Benar-benar harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini.

“ anyeong, akhirya kalian tiba. Appa ingin bertemu dengan kalian.” Chae Ren, kakak perempuan Chanyeol menghampiri mereka lalu menunjukkan jalan ke tempat tuan Park.

Sementara Chanyeol tetap tidak melepaskan genggaman tangannya pada Ha In, Ha In mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan megah itu, berusaha mengalihkan fokusnya . beberapa saat kemudian  akhirnya mereka bertemu dengan tuan Park.

“anyeonghaseyo, appa.” Sapa Ha In sambil membungkuk. Tuan Park tersenyum lalu mengajak Chanyeol dan Ha In memasuki ruangannya.

“duduklah. “ kata Tuan Park pada mereka berdua. Chanyeol  menarikkan kursi untuk Ha In kemudian setelah gadis itu duduk Chanyeol ikut duduk disampingnya. Tuan Park tersenyum melihat kejadian kecil yang berlangsung  itu.

“appa  memanggil kalian kesini hanya ingin mengatakan kalau urusan administrasi untuk melanjutkan studi Ha In di Swiss sudah selesai.  Jadi sekarang tinggal mengurus administrasi di universitas tempat Ha In sekarang dan kalian bisa berangkat ke Swiss minggu depan, selain itu, anak perusahaan yang berada disana akan sepenuhnya di urus oleh Chanyeol.” Jelas Tuan Park.

Ha In diam sejenak, berusaha mencerna satu persatu penjelasan tuan Park barusan. Jadi sebentar lagi dia akan ke swiss dan melanjutkan studi disana, dan Chanyeol juga mengurus perusahaan keluarga disana, itu berarti mereka akan tinggal bersama. Ha In tidak memikirkan hal ini sebelumnya, yang ada dipikirannya sewaktu perjodohan ini dimulai adalah dia hanya akan tinggal bersama dengan Chanyeol ketika di Korea saja, dan selanjutnya ketika dia melanjutkan studi di Swiss Chanyeol dan dia tidak akan tinggal bersama lagi. Namun keputusan Ayah Chanyeol kali ini kontan mengubah semua yang dipikirkan Ha In.

“jadi kalian akan tinggal bersama disana sampai Ha In menyelesaikan studinya dan kemudian kalian akan kembali lagi ke Korea. Bagaimana, kau setuju Ha In-ah?” tanya tuan Park sambil tersenyum pada Ha In. Ha In mematung sejenak, kemudian dia menoleh pada Chanyeol yang sedang menatapnya lekat, seolah laki-laki itu juga sangat menantikan jawaban Ha In.

“ ne. Aku setuju appa.” Entah pikiran sebelah mana yang membuat Ha In untuk mengatakan itu pada tuan Park . Ha In tersenyum pasrah. Sepertinya mulai sekarang dia harus berhenti untuk mencoba menghindari pernikahan ini dan berusaha menjalani semuanya sesuai dengan aturan keluarga. Ha In menatap sekilas pada Chanyeol dan ketika mata mereka bertemu Ha In bisa melihat ekspresi lega dari laki-laki itu.

“ baiklah kalau begitu, appa rasa hanya itu yang perlu disampaikan, jadi kalian bisa bersiap-siap dari sekarang.” Ujar tuan Park, Chanyeol dan Ha In mengangguk pelan.

“kalau begitu, kalian boleh menkmati pesta dan menyapa keluarga yang baru datang sore ini dari Jerman. Chanyeol, sepupumu juga ada disini.” Kata tuan Park Lagi.

“ah, ne appa, kami kan menyambut mereka sekarang. Kami pergi dulu.” Kata Chanyeol lalu dia dan Ha In keluar ruangan.

“ jadi  apa kau tidak keberatan dengan keputusan appa?” tanya Chanyeol pada Ha In begitu sudah berada di luar ruangan tuan Park. Mereka berjalan berdampingan menuju ball room tempat acara peresmian dilaksanakan.

“ aku tidak punya pilihan selain menyetujuinya bukan?” suara Ha In terdengar pasrah. Chanyeol menghela napas pelan.

“apa kau begitu terpaksa melakukan ini semua? aku bisa membatalkan rencana appa untuk memindahkanku ke Swiss, jadi kau bisa-“

“tidak perlu seperti itu Park Chanyeol. Aku menerima semuanya.” Sergah Ha In. Dia menolehkan wajahnya pada Chanyeol, laki-laki itu menatapnya dalam. Sebersit perasaan bersalah muncul dihatinya.

“Ha In, kau hanya perlu berterus terang dengan apa yang kau pikirkan. Aku sama sekali tidak akan keberatan.” Kata Chanyeol, ada nada getir di ujung suaranya.

“aku berpikir kalau aku tidak keberatan dengan keputusan appa. Jadi bisakah kau berhenti mencoba membuatku mengubah pikiranku?” Ha In menekankan perkataannya. Chanyeol terhenyak beberapa saat, laki-laki itu lalu menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum samar.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

 

“ hei, Chanyeol oppaaaaaa” pekikan itu terdengar dari arah belakang mereka. Chanyeol  yang terlebih dulu membalik badannya seketika terkejut.

“opppaaa, beogoshipta” seorang gadis berperawakan tinggi dengan dress merah selutut berlari ke arah Chanyeol dan kemudian memeluk laki-laki itu dengan erat. Baik Ha In maupun Chanyeol terkejut melihat kejadian itu.

“ya! Rena? Sejak kapan kau disini?” ujar Chanyeol yang berusaha melepaskan pelukan gadis yang tidak lain adalah sepupunya itu. sementara itu Ha In hanya menatap kedua orang itu dengan wajah datar. Ha In tidak menampakkan gejolak emosi dalam bentuk apapun.

“ opaa, aku akan berkuliah di Kyunghee tahun ini. Jadi kita bisa sering bertemu opaa.” Ujar Rena sambil tersenyum centil. Chanyeol meringis.

“wah, sayang sekali, minggu depan aku harus pindah dengan istriku ke Swiss, sepertinya kita bertukar tempat tinggal Rena.” Ujar chanyeol sambil tertawa renyah. Dia menoleh ke arah Ha In yang hanya tersenyum kikuk. Panggilan “istriku” itu sedikit membuatnya tidak nyaman.

“yaa! Oppaa andwaee. Mengapa kau tidak cerita padaku? Unnie, apa kalian akan benar-benar  tinggal disana?” tanya Rena lalu menoleh ke arah Ha In.

“eh? Iya.” Jawab Ha In sekenanya. Rena memberengut.

“Chanyeol sudah menjadi suami orang sekarang Rena, dia akan membangun keluarga kecilnya disana.” Tiba-tiba Chaeren menghampiri mereka, dia mengedipkan mata meledek Chanyeol. Sementara Ha In hanya tersenyum canggung. Keluarga kecil? Astagaa skenario apalagi itu? pikirannya kembali bermonolog.

“ jadi berhentilah untuk menempel seperti itu padanya gadis kecil.” Ujar Chaeren lagi pada Rena sambil mencubit pipi Rena.

“aish, uniie, aku bukan anak kecil lagi. Lagi  pula, aku akan tetap ingin dekat dengan Chanyeol oppa sampai kapanpun. Dia sudah menjadi guardianku .” ujar Rena cuek, Chanyeol hanya menimpali dengan tertawa, dia memang dekat dengan sepupunya itu sewaktu kecil. Ha In tertegun mendengar kata-kata itu. sekelabat ingatan kembali melintas dipikirannya.

“Oppaa, kau tidak boleh pergi sekarang”

“opaa, kau kan guardian-ku”

“ah ne, ne. Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu senidrian Ha In-ah. Tenang saja. oppa ada disini, jadi berhenti merengek seperti itu.”

Ha In mengalihkan pendangannya ke arah lain. Berusaha mengatur napasnya yang terasa mulai sesak. Chaeren menoleh ke arah Chanyeol.

“sepertinya kau dan Ha In harus menyapa tamu-tamu lain.” Ujar Chaeren berusaha mengubah suasana yang tiba-tiba hening itu. Chanyeol mengangguk lalu menarik pelan lengan Ha In.

“kaja, kita kesana.” Ujar Chanyeol, Ha In tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke arah Chanyeol.

“ah, kaja.” Ujar Ha In lebih pada bergumam. Setelah itu mereka menyapa para tamu keluarga dan kolega Chanyeol. Selama acara itu Ha In hanya tersenyum dan diam, pikirannya berkecamuk sehingga gadis itu tidak bisa menyapa para tamu dengan basa basi seperti yang dilakukan Chanyeol.

“hei, apa kau baik-baik saja? “ tanya Chanyeol menghampiri Ha In yang berdiri tidak jauh di  belakangnya. Ha In hanya mengangguk pelan.

“kau terlihat pucat, apa kau lelah? kalau begitu kita pulang saja.” ujar Chanyeol.

“apa tidak apa jika kita pulang sekarang?” tanya Ha In. jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, dan acara makan malam bersama baru akan dimulai setengah jam lagi.

“tidak apa-apa, aku akan menelpon nuuna nanti. Kaja.” Chanyeol mengajak Ha In berjalan keluar gedung lalu mengambil mobilnya.

“aku lupa kau belum beristirahat sejak dari kampus tadi. Mianhae.” Kata Chanyeol menatap Ha In dengan perasaan bersalah. Mereka sudah dalam perjalanan pulang sekarang.

“gwaenchana. “ ujar Ha In pelan. Chanyeol dan Ha In berjalan kelantai dasar flat lalu memasuki lift. Chanyeol melihat jam tangannya, masih jam delapan malam tapi mengapa flat sangat sunyi? Tidak ada orang di dalam lift kecuali dia dan Ha In. apa semua orang sedang berlibur akhir pekan? Chanyeol masih sibuk mengira-ngira lalu tiba-tiba pintu lift berhenti bergerak dan seketika itu lampu dalam lift padam. Ha In memekik tertahan.

“Ha In-ah ,  Gwaenchana? “ tanya Chanyeol sambil memegang bahu Ha In yang terasa bergetar.

“ada apa ini? Lift ini tidak pernah seperti ini sebelumnya.” Ha In berusaha mengatur napasnya. Gadis itu tidak suka ruangan gelap dan sempit seperti ini.

“tenanglah Ha In. petuga pasti akan segera datang. Duduklah dulu.” Kata Chanyeol sambil mengajak gadis itu duduk. setidaknya lift kaca ini masih bisa memperlihatkan pemandangan Seoul dibelakangnya, kerlip lampu-lampu diluar sana menjadi penerang samar-samar  di lift itu.

Ha In menatap keluar lift dengan pemandangan kosong. Dia tidak menyadari Chanyeol sedari tadi memandanginya. Chanyeol menyandarkan kepalanya ke dinding lift tanpa melepas pandangannya dari Ha In.

“Hei Ha In.” panggil Chanyeol. Suaranya memecah kesunyian yang mengungkung lift itu.

“hmm.”

“Ha In.”

“mm.”

“hei, Ha-

“sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?” Ha In menoleh ke arah Chanyeol, dalam penerangan yang terbatas ini dia tidak bisa menangkap ekspresi yang dikeluarkan Chanyeol. Apa laki-laki itu akan membulatkan matanya karena terkejut? Atau malah tersenyum seperti orang bodoh. Ah, sejak kapan dia mengingat detail ekspresi Chanyeol? Ha In mendengus pelan.

“kau sangat galak nyonya Park.” Kata Chanyeol kemudian. Ha In hanya tersenyum sekilas, Chanyeol bisa melihat itu.

“bagaimana kalau kita bermain truth or dare saja? otte? “ tawar Chanyeol dengan nada ceria.

“kau pikir dalam kondisi seperti ini kita bisa melakukan jenis dare macam apa? “ tanya Ha In ketus. Laki-laki disampingnya ini kadang-kadang tidak berpikir dulu ketika berbicara. Aish. Pabo.

“ah, iya juga ya.  Bagaimana kalau truth saja?”

“shireo.”

“bagaimana dengan tebak- tebakkan?

“Chanyeol kita bukan anak kecil lagi.” Ujar Ha In kesal.

“aish. Sudahlah.mengapa kau sulit sekali diajak bersenang-senang?  Setidaknya kita tidak akan berkarat disini karena menunggu petugas selesai meperbaiki lift ini.” Kata Chanyeol sambil menggerutu.

“kita tidak akan berkarat. Apa kau pikir kita besi ?  Pabo.” Kata Ha In tanpa sadar membuat Chanyeol tertawa.

“hahaha, lucu sekali nyonya Park. Selera humormu sangat unik.” Kata Chanyeol sambil mengatur napasnya.

“aku tidak sedang bercanda, Tuan Park.”

“hei, sejak kapan kau memanggilku begitu? “ tanya Chanyeol

“apa aku tidak boleh memanggilmu begitu? Kau selalu seenaknya memanggilku dengan nyonya Park.” Ujar Ha In cuek.

“seenaknya bagaimana? hei kau tumben sekali berbicara banyak seperti ini. Ah, sepertinya aku berhasil  mebuatmu tidak hanya berbicara dnegan kuasmu. Ahaha” ujar Chanyeol riang.

“terserah kau.”  Ha In tersentak ketika dia merasakan kepala Chanyeol bersandar dibahunya.

“ya! Apa-apa-“

“ssst. Kau tidak boleh protes nyonya Park.” Ujar Chanyeol pelan. Ha In mengerjap beberapa kali. Kalau saja lampu lift sedang terang benderang, wajah merahnya akan sangat kelihatan sekarang.

“ hei, apa kau masih ingat dulu kita sering mengumpulkan buah  berry  di belakang sekolah?” tanya  Chanyeol beberapa saat kemudian.

“hmm.”

“ah, kau pasti sudah lupa. Waktu itu kau baru berumur enam tahun.” kata Chanyeol.

“aku ingat, kau juga hampir selalu jatuh terjerembap waktu petugas Kim mengejarmu dengan teman-temanmu ketika kalian meloncat pagar untuk membolos.” Kata Ha In pandangannya menerawang ke masa belasan tahun silam itu.

“ah, syukurlah kau ingat. Jadi aku tidakbegitu asing untuk menjadi suamimu.” Ujar Chanyeol. Ha In menghela napas. Gadis itu mulai mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya pelan di dinding lift.

“sebenarnya aku berniat membatalkan perjodohan ini ketika pertama kali keluargaku memberitahu.”  Kata Chanyeol. Ha In menggerakkan kepalanya , berusaha terjaga namun tetap saja rasa kantuk itu menyerang tubuhnya secara total, hampir seharian dia tidak beristirahat.

“lalu?” Ha In berusaha menimpali meskipun dia sudah tidak fokus dengan apa yang diceritakan Chanyeol.

“ aku melihat fotomu di meja appa dan ternyata gadis yang akan dijodohkan denganku itu adalah kau. Aku tidak begitu yakin tapi kemudian aku mengiyakan rencana mereka.” Kata Chanyeol. Kesadaran Ha In sepenuhnya hilang dan gadis itu tertidur.

“haah. Sepertinya aku baru saja mengatakan perasaanku. Kau tidak perlu merasa terbebani Ha In-ah. Jadi tetaplah bersikap seperti biasa, ara? “ Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah Ha In, dia tersenyum kecil ketika mendapati gadis itu sudah tertidur. Suara napasnya yang teratur menerpa wajah Chanyeol perlahan. Chanyeol mengangkat kepalanya dengan gerakan perlahan, berusaha tidak membuat Ha In terbangun. Dia kembali duduk  kemudian perlahan menyandarkan kepala Ha In di bahunya.

“aku harap suatu saat kau akan tahu alasanku mempertahankan pernikahan ini. Ternyata benar kata orang itu. Kau gadis yang tegar, hanya saja terkadang kau tidak mampu menemukan kekuatanmu itu.”  Chanyeol tersenyum. Beberapa saat kemudian lampu lift menyala dan pintu lift kembali bergerak dan berhenti dilantai yang mereka tuju. Ha In masih tetap tertidur ketika pintu lift terbuka. Chanyeol menyelipkan tangannya di bawah lutut Ha In dan menahan bahunya kemudian menggendong Ha In ke dalam flat. Begitu sampai di kamar Ha In Chanyeol segera membaringkan gadis itu lalu menyelimutinya. Chanyeol beridri menatap wajah pulas Ha In.

“jaljayeo. Selamat malam Ha In.” ujar Chanyeol lalu menyalakan lampu tidur kemudian keluar menutup pintu kamar Ha In.

Chanyeol berjalan menuruni tangga dengan pikiran berkecamuk.  Mengapa sangat nyaman ketika berada disamping gadis itu tadi? Dia tampak dingin tapi sebenarnya tidak seperti itu. Gadis itu orang yang menyenangkan.

“ya! Park Chanyeol, apa kau sudah benar-benar menyukainya? kenapa bisa secepat ini? Aiish.” Chanyeol mengacak rambutnya lalu memasuki kamar dan berusaha memejamkan mata. Dia harus tidur sekarang sebelum pikirannya kembali dikuasai gadis itu.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Fiiuh~

Akhirnya Chapter 3 selesai~

Anyeong readers ^^

Semoga kalian masih tetap menantikan fic ini..

Sorry for late update , dan ke-absurd-an yang ada dalam cerita ini, juga typo yang bertebaran. ‘/\’

Comments and review are welcome ^^

*ppyong*

 

 

 

9 pemikiran pada “Forget Me Not (Chapter 3)

  1. aduuhh,akhirnya update juga^^
    chapter ini romantis bgt apalagi pas scene di lift itu,huaaa>< disitu secara gk langsung yeol udh ngasih kode tuh ke Ha In,tapi si Ha In malah tidur-_-"
    yaudah,ditunggu ne chapter selanjutntya!! hwaiting :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s