Forget Me Not (Chapter 4)

Forget-Me-Not | Chapter 4|

 Request-Poster-Forget-Me-Not (1)

Main Cast          :  Park Chanyeol  & Kang Ha In (OC)

Genre                 :   Romance, Drama, Marriage Life

Length               : Chaptered

Author               :    IsshikiSaika

Cover by            : http://cappuccinohistorie.wordpress.com/

The moment I recognized this love
It was the most difficult time for me
It was unavoidable, so I faced it
I couldn’t even step aside, so I accepted it

             ~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Ha in  POV

Aku mengerjapkan mata pelan, sinar matahari yang menyilaukan menerpa penglihatanku. Sepertinya aku benar-benar tertidur pulas tadi malam karena aku tidak ingat sama sekali  bagaimana aku bisa berada di kamarku sekarang. Aku turun dari ranjang  kemudian berjalan ke kamar mandi. Aku menatap pantulan diriku di cermin, astaga, bahkan aku masih memakai dress kemarin ketika tertidur, oh, jangan-jangan yang membawaku kesini laki-laki itu? ya ampun, aku ingat sekarang. Semalam kami terkurung di dalam lift dan aku sudah tertidur bahkan sebelum lift itu selesai diperbaiki. Jadi apakah Chanyeol yang membawaku sampai di kamar? Aku menghela napas. Entah mengapa aku merasa tidak enak padanya. Setelah mandi dan berpakaian aku langsung turun dari kamarku.

Aku menegok sekilas ke kamar Chanyeol yang terbuka, tapi orang itu tidak ada disana. Apa dia sudah berangkat? Ah tentu saja ini sudah mau jam sembilan pagi. Ada sebersit perasaan bersalah yang menghampiriku, aku bahkan tidak membuatkan sarapan untuknya pagi ini. Aku berjalan menuju dapur dan yang kutemukan di meja adalah sebuah piring dengan beberapa potong sandwich dan secarik kertas.

Hei, nyonya Park, aku berangkat lebih awal hari ini. Kubuatkan kau sandwich terlezat sedunia karena sepertinya kau masih lelah, untuk itu beristirahatlah. Anyeong !

Suami tampan.

Park Chanyeol.

Aku tertawa miris membaca tulisan itu. Bahkan di dalam surat pun dia terlihat sangat percaya diri dan konyol. Ckckck. Aku menarik kursi lalu duduk di depan meja makan. Perlahan aku mencicipi sandwich buatannya, tanpa sadar aku menghabiskan semua sandwich yang ada di piring itu. Sepertinya dia benar, sandiwch ini benar-benar sandiwch terlezat sedunia.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Author  POV

Ha In memutuskan untuk membereskan flatnya. Dia tidak ingin ke kampus dulu untuk hari  ini. Jadi setelah menghabiskan sarapan buatan Chanyeol, dia mencuci piring lalu membersihkan flat mulai dari dapur sampai kamar Chanyeol. Ternyata kamar Chanyeol cukup berantakan, Ha In menghabiskan sebagian besar waktunya di ruangan itu untuk mengatur lemari pakaian dan meja Chanyeol yang sudah tertumpuk dengan berbagai kertas-kertas dan buku.

Ketika sedang mengatur beberapa berkas, pandangan Ha In jatuh pada selembar foto yang terselip diantara sebuah buku tebal yang terbuka. Ha in mengambil foto itu lalu memerhatikannya dengan seksama. Wajahnya nanar ketika melihat seseorang yang sangat dikenalinya ada difoto itu sedang berdiri dengan seorang anak laki-laki yang tidak lain adalah Chanyeol dan seorang gadis kecil yang terlihat seperti dirinya? Ha In mengernyit, dia berusaha mengingat kapan foto ini diambil, memori bersama oppanya beberapa tahun silam berkelabat dengan cepat seperti potongan-potongan film yang tidak teratur. Ha In memiliki amnesia ringan sejak kecelakaan yang dialaminya beberapa tahun lalu. Kecelakaan itulah yang merenggut nyawa ayah dan kakaknya, Baekhyun.

Ha In memejamkan mata, selama ini dia cukup tersiksa dengan semua itu. Bagaimana tiba-tiba potongan kecelakaan yang pernah dialaminya itu melintas didalam pikirannya , melihat dengan jelas wajah sekarat kakak dan ayahanya, kemudian bagaimana tubuhnya yang sudah terhujam dengan serpihan kaca terasa kebas ketika berlari mengejar tubuh ayah dan kakaknya yang dilarikan ke rumah sakit, dan potongan-potongan kejadian itu masih terus berputar dalam pikirannya sampai saat ini. Semenjak kecelakaan itu ada beberapa memori yang dimiliki Ha In hilang, termasuk seperti apa hubungannya dengan Park Chanyeol dulu dan sedekat apa persahabatan Baekhyun dengan Chanyeol, semua itu menjadi sangat buram dalam ingatan Ha In. yang jelas, dia mengenal Chanyeol karena sewaktu di sekolah dasar dulu Chanyeol adalah kakak kelasnya yang bandel. Ha In segera melanjutkan kegiatannya. Bagaimanapun, gadis itu sudah berjanji pada kakaknya untuk tidak menangis lagi setelah kejadian itu. ya, gadis itu sudah berjanji, sama halnya dengan Chanyeol yang juga sudah menjanjikan sesuatu pada Baekhyun dulu, jauh-jauh hari sebelum kecelakaan itu terjadi.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Ha In ingin memasak menu yang berbeda hari ini. Sebagai ucapan terima kasih pada Chanyeol untuk kemarin malam dan juga untuk sandiwch buatannya pagi ini. Ha In mondar mandir di dapur sejak lima menit lalu, dia belum menemukan menu apa yang cocok untuk hari ini. Gadis itu baru menyadari kalau dia tidak tahu makanan apa yang disukai Chanyeol , ah tidak hanya makanan, cukup banyak hal yang belum diketahui  atau lebih tepatnya belum diingat oleh gadis itu tentang Chanyeol. Padahal, Chanyeol sepertinya sudah mengetahui sebagian tentang dirinya, seperti dia selalu mematikan mesin pendingin di flat itu ketika sore hari karena Ha In kurang suka suhu dingin ketika menjelang malam, lalu Chanyeol yang kadang-kadang membuatkan cappuccino ketika dia sedang sibuk melukis, setahu Ha In dia tidak pernah mengatakan pada Chanyeol kalau dia suka meminum jenis kopi itu ketika sedang melukis.

Ha In termenung di depan meja makan. Matanya menatap kertas tulisan Chanyeol yang didapatinya pagi tadi.

“apa kau memang sudah mengetahuinya sejak dulu? Hmm.” Ha In menghela napas pelan.  Ha In merogoh ponselnya lalu memutuskan menelpon seseorang.

“yeboseyo? Eoni?” ujar Ha In begitu panggilannya dijawab.

“ne, Ha In? “ ujar Chae Ren dari seberang telepon.

“eoni, apa kau sedang sibuk sekarang?” tanya Ha In.

“ah, tidak juga. Waeyo?” Chae Ren balik bertanya.

“eoni, aku ingin bertanya tentang sesuatu padamu.” Ujar Ha In.

“tentang Chanyeol? Katakan apa yang ingin kau ketahui.” Suara Chae Ren terdengar riang.

“emm. Makanan kesukaannnya, eung dia suka makanan jenis apa?” Ha In merutuki dirinya yang tiba-tiba gugup.

“aah, kau ingin memasakkan makanan favoritnya? Hmm, dia suka semua jenis sup, daging panggang, tteobokki juga, kalau manisan jenis parfait dan salad buah, oh satu lagi, spongecake. Kau bisa memilih beberapa diantaranya.” Tutur Chae Ren. Ha In mencatat semua yang disebutkan Chae Ren tadi dengan cepat.

“oh, baiklah, gomawoyo eoni. Eoni, bisakah kau merahasiakan hal ini dari Chanyeol? aku ingin-” perkataan Ha In terputus.

“haha, ne, ne, kau akan memberikan surprise kan? Huaaah kalian romantis sekalii. “ Chae Ren memekik senang sementara Ha In hanya tertawa salah tingkah.

“tenang saja, aku tidak akan memberitahu anak itu. Hwaiting Ha In-ah!” ujar Chae Ren

“gomawo eoni. Anyeong.” Ha In tersenyum senang lalu memutuskan sambungan telepon. Baiklah, menu hari ini sup, daging panggang dan salad buah. Ha In bergegas keluar flat dan membeli semua bahan-bahan yang diperlukannya.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Ha In melirik jam dinding untuk kesekian kalinya, jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan Chanyeol tidak juga pulang. Ha In bertanya-tanya dalam benaknya, apakah orang itu akan lembur sampai larut malam? Lalu mengapa dia tidak memberitahu? Dia sudah setengah mati berusaha memasakkan makan malam khusus untuknya, namun Chanyeol malah tidak pulang sampai sekarang. Ha In menatap hidangan yang disajikannya di meja makan dengan lesu. Apa Chanyeol begitu sibuknya sampai tidak ada waktu untuk sekedar memberitahu kalau dia akan lembur?

Bagaimanapun juga, Ha In merasa khawatir. Ha In mendengus kesal, sejak kapan dia mulai bertindak seperti ini? Mencemaskan Chanyeol sekaligus merasa begitu kesal karena laki-laki itu tidak memberi kabar sedikitpun.  Ha In berusaha untuk tidak menelpon Chanyeol karena pasti orang itu akan besar kepala. Pernah suatu kali Ha In menelpon Chanyeol  karena eommanya yang waktu itu sedang berkunjung ke flat ingin bicara dengannya , dan reaksi Chanyeol ketika mengetahui Ha In menelponnya cukup berlebihan. Laki-laki itu bahkan berceletuk bahwa Ha In terlihat seperti benar-benar istrinya ketika menelpon dan menanyakannya pada sekertarisnya waktu itu.

Ha In berjalan ke dapur dan memasukkan semua makanan itu ke dalam lemari makanan. Sepertinya Chanyeol akan pulang sangat larut dan tentu saja dia sudah makan malam di kantornya. Ha In kembali melirik jam dinding, sekarang sudah pukul sebelas tepat. Ha In belum merasa kantuk, jadi dia memilih untuk menonton Tv dan menunggu Chanyeol pulang. Gadis itu belum melihat Chanyeol hampir seharian dan itu membuatnya cemas.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Ha In POV

Aku mengerjapkan mata, astaga ini sudah setengah dua belas malam, dan Chanyeol belum juga pulang. Aku mendecak kesal, ini sudah larut dan dia tidak memberi kabar sedikitpun. Aku berdiri dari sofa lalu berjalan ke dapur, namun langkahku sontak terhenti ketika pintu flatku menjeplak terbuka kemudian menampakkan sosok Chanyeol disana. Matanya melebar ketika melihatku.

“Ha In? kau belum tidur?” pertanyaan bodoh itulah yang dikatakannya begitu melihatku.

“menurutmu apa aku bisa tidur kalau sampai larut seperti ini kau tidak juga pulang dan bahkan tidak memberi kabar?” Tanyaku  ketus. Chanyeol terperangah.

“kau, mencemaskanku? Maaf, aku tidak sempat menelpon karena banyak agenda yang aku kerjakan tadi.” Kata Chanyeol.

“geundae, kau bisa menyuruh sekertarismu, Hyunjae-ssi itu untuk memberitahukan agendamu padaku, aku bahkan sudah memasakkan banyak makanan dan sekarang mungkin kau sudah tidak ingin makan malam lagi.” Aku terengah-engah, rasanya sudah lama sekali aku tidak mengomeli orang seperti ini. Ah, ya, itu karena seingatku dulu Baekhyun oppa lah yang hampir setiap hari ku omeli.

“aah, mianhae. Kau bahkan memasakkan makanan untukku? Hei siapa bilang aku tidak ingin makan? Aku sangat lapar sekarang, terakhir aku makan siang tadi.” Ujar Chanyeol sambil mengelus perutnya dengan ekspresi meminta belas kasihan. Aku mendecak kesal.

“kau ganti pakaian saja dulu, biar aku hangatkan makanannya.” Kataku lalu meneruskan langkah menuju dapur. Chanyeol mengangguk lalu kemudian masuk ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan aku sudah selesai menyiapkan makanannya.

“ini makanlah.” Aku menyodorkan mangkuk sup padanya. Dia terperangah.

“kau memasak sup? Dan daging? Waah, sepertinya kau sudah tahu makanan kesukaanku. Good job yeoboo.” ujar Chanyeol dengan wajah riang yang terlihat sangat konyol di mataku. Dia mulai bertingkah lagi. Aku hanya menatapnya datar dan menyuruhnya segera makan. Aku beranjak dari dapur  tapi  tiba-tiba lenganku ditahan  Chanyeol .

“bisakah kau menemaniku makan?” pintanya sambil menatapku. Aku mengangguk pelan lalu menarik kursi didepannya dan duduk.

“waaah, ini enak sekali. Jjang!” ujarnya riang, aku tersenyum lebar. Tidak sia-sia aku mempelajari buku resep pemberian Minri kemarin. Aku memerhatikan  Chanyeol yang melahap supnya, sepertinya dia benar-benar kelaparan.

“kau tidak makan?” tanya Chanyeol, aku segera mengalihkan  pandanganku darinya begitu dia memandangku lalu menggeleng cepat.

Setelah itu Chanyeol kembali meneruskan makannya, aku mulai merasa canggung, duduk berhadapan dan hanya melihatnya menghabiskan makanan, kemudian sesekali tersenyum menimpali celotehannya, ini terasa sangat aneh.

“kau seharian membersihkan flat dan membuat ini ?” tanya Chanyeol. aku mengangguk pelan.

“istri yang baik.” Ucapnya lalu tersenyum melirikku. Aku hanya diam, berusaha mengatur detak jantung dan wajahku yang memanas ketika mendengar ucapannya tadi.

“apa kau menemukan sesuatu ketika membereskan barang-barang dikamarku tadi?” pertanyaan Chanyeol kali ini terdengar serius, dia mengangkat wajahnya dan memandangku.

“aku menemukan foto itu.” jawabku.

“kau ingat?” tanya Chanyeol. Aku hanya menggeleng pasrah.

“itu diambil ketika kita pergi ke kebun binatang, eomma yang mengambil fotonya.” Jelas Chanyeol. Meskipun Chanyeol sudah menjelaskan, aku tidak bisa memanggil kembali ingatan itu, tetap saja aku tidak merasa hal itu benar-benar terjadi. Ingatan masa kecilku tentang kami bertiga terasa hambar. Aku menghela napas, berusaha membendung air mataku. Aku tidak boleh menangis.

“apakah kau dan oppa sangat dekat?” suaraku terdengar serak. Chanyeol menatapku lekat.

“kami sangat dekat, dia sering membawamu ke rumahku ketika akhir pekan, dia bahkan mengajakmu ke perkemahan musim panas kelasku dulu dan kita memancing bersama.” Chanyeol kembali menjelaskan.

“kau sangat cerewet dan lucu, aku bahkan sering meledekmu.” Chanyeol terkekeh pelan. Aku tersenyum getir, dia mengingat jelas semuanya, dan aku sama sekali tidak.

“lalu, apakah waktu itu oppa pernah memarahiku? Kado apa yang dia berikan waktu aku ulang tahun-“ aku tidak meneruskan pertanyaanku karena sekarang Chanyeol menarik tanganku dan menggenggamnya erat.

“kau akan mengingatnya. Kau pasti mengingatnya. Gwaenchana Ha In-ah.” dia mengelus lembut tanganku, aku tercenung. Chanyeol tersenyum menatapku. Beberapa saat kemudian aku menatap canggung tanganku yang masih dalam genggamannya. Chanyeol segera tersadar dan melepaskan tangannya.

“tidurlah. Ini sudah larut.” Ujarnya pelan. Aku mengangguk lalu berdiri. Ketika berjalan menuju tangga Chanyeol kembali memanggilku. Aku berbalik dan melihatnya berjalan ke arahku dalam hitungan detik dia merangkulku, aku terhenyak.

“terima kasih sudah menungguku pulang dan menyiapkan makan malam. Terima kasih karena kau berusaha menerimaku. Selamat malam Ha In.” bisiknya tepat ditelingaku. Aku hanya bisa mengangguk lalu menatap sosoknya yang berjalan kemudian menghilang dari balik pintu kamarnya.

“terima kasih juga karena kau akhirnya pulang dan berhenti membuatku cemas, dan juga, untuk semua penjelasanmu.” Aku hanya menggumamkan kata-kata itu. Kemudian aku berjalan masuk ke kamar dan merebahkan diriku. Perasaanku hari tercampur aduk.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Flashback~

Chanyeol merapikan beberapa tumpukan kayu, sementara Baekhyun sibuk mendirikan tenda mereka.

“oppaaa, aku ingin memancing. Pasti banyak sekali ikan di kolam itu.” pekik Ha In, gadis itu berlari-lari kecil ke arah Baekhyun.

“hei, kau tahu disana tidak hanya ada ikan, tapi kura-kura raksasa juga ada.” Chanyeol berceletuk lalu tertawa melihat Ha In yang berjengit ngeri.

“hahaha, baiklah, kita akan ke kolam dan memancing ikan dan kura-kura raksasa itu sekalian” kata Baekhyun.

“oppaa aku tidak ingin memancing kura-kura raksasa, biarkan saja Chanyeol oppa yang memancingnya aku hanya ingin mendapatkan ikan.” Gerutu Ha In dia mengerucutkan bibirnya. Sementara Baekhyun dan Chanyeol hanya menimpalinya dengan tertawa. Ha In berlari kecil ke arah kolam.

“oppa, cepat kesinii! Lihat disana ada banyak sekali ikan. Huaah!” Ha In bersorak senang.


“Chanyeol-ah kau dulu yang kesana dan temani dia memancing, nanti aku akan menyusul, oke?” kata Baekhyun.

“kau yakin? Apa dia mau aku menemaninya?” tanya Chanyeol ragu.

“ah, tentu saja, dia pasti mau, asal kau tidak meningglkan dia sendirian.” Jawab Baekhyun Chanyeol mengangguk.

“gurae. Aku akan menemaninya, Baekhun-ah adikmu sangat lucu, kalau dia besar akan seperti apa ya dia? Bagaimana kalau di masa depan aku yang menjadi suaminya?” tanya Chanyeol sambil mengatur kail dan ember. Baekhyun terkekeh.

“kalau seperti itu kau benar-benar harus berjanji untuk menjaganya dan tidak boleh meninggalkannya.” Ujar Bekhyun sambil menatap Chanyeol serius.

“tentu saja, Baekhyun-ah, aku kan menyayanginya.” Ucap Chanyeol lalu berjalan ke arah Ha In.

“Ha In-ah, kajaa, kita tangkap semua ikan di kolam ini!” pekik Chanyeol riang.

“ya! Oppa andawee, aku tidak ingin punya ikan sebanyak itu, lagi pula kau bertugas menangkap kura-kura raksasa yang kau bilang tadi dan yang menangkap ikannya adalah aku.” Timpal Ha In.

“ne, ne, arasseo, oppa akan menangkap kura-kura dan kau ikannya.” Kata Chanyeol.

“ baiklah, kaja kita mulai. Han- dul set huaaa!” Ha In memekik kencang begitu kail mereka sudah terlempar ke kolam. Baekhyun berjalan menghampiri mereka lalu ikut menyoraki adiknya dan sesekali membantu Ha In menarik kailnya, mereka tertawa dan bersorak riang menikmati suasana siang itu. Tidak ada yang tahu, liburan musim panas ini adalah liburan terakhir yang dimiliki Baekhyun bersama Ha In.

~~~~~~~~~~<><><><><><>~~~~~~~~~~

Holaaaaa~

Chapter empat berakhir dengan scene kemunculan Baekhyun di masa lampau  >,<

Sorry for late post , typo and the absurd story .-.

I’m just an amateur writer, and I really wanna know your respon. So, don’t forget to leave comment and review ^^

 

 

Iklan

23 pemikiran pada “Forget Me Not (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s