All Flower In China (Chapter 5)

All Flowers In China (part 5)

 All Flowers In China (1)

Author : Carla??? (@babycarl308)

Rate : PG

Length : Chaptered

Genre : Romance, Angst, Sad, Sad Romance.

Cast:

EXO-M Chen / Kim Jong Dae

Kimberley Chen / Chen Fang Yu (can imagine as yourself)

Support cast : EXO members and many more

Chapter 5 released! Enjoy your imagination and Happy reading ^^)/

P.s : RCL and don’t copy without permission!!!

Please kindly check my site : carlaslittletrinkets.weebly.com / carlaslittletrinkets.wordpress.com for more fiction stories by me ^^

“Suddenly I feel a little scared, ?Love and everything to do with living”

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Kris POV ( support cast )

Sudah 3 bulan lebih sejak kejadian itu Chen menghilang pergi ke China demi yeoja nya. Kudengar yeoja itu sakit parah. Apa sampai separah itu hingga Chen tidak pulang-pulang? Entahlah, aku merindukan bocah itu yang biasanya selalu meramaikan suasana berkumpul kami. Lihat, kurang ajar sekali anak itu. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Lagipula, ini juga bukan salahku sampai-sampai yeoja nya itu sakit tapi mengapa aku masih merasa bersalah karena setelah acara taruhan konyol usulanku itu tiba-tiba saja Chen langsung berangkat ke China untuk menemani yeoja itu.

Ah, jinjja. Apakah ini rasanya berdosa terhadap orang lain? Pusing. Hanya itu kalimat yang ada di otakku sekarang ini. Member lain sekarang pergi olahraga dan aku? Aku lebih memilih di apartemenku, mengurung diri. Entah kenapa malas sekali rasanya. Dan aku menyesal sekarang, lebih baik aku ikut olahraga, menyibukkan diri sambil membuang kalori itu lebih baik daripada memikirikan dosa-dosa ku ini.

Klimaks. Kuputuskan untuk menelepon Chen. Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa penasaran dan apalah itu namanya.

Tutナ tutナ tutナ

Aihh lama sekali diangkatnya. Anak ini kemana sih.

Tutナ tutナ tutナ

“Yeoboseyo hyung?” nah, akhirnya aku mendengar suara ini setelah sekian lama.

“Chen, kau apa kabar?”

“Uh-oh, aku baik-baik saja disini. Kau hyung? Dan bagaimana member yang lain?”

“Baguslah jika begitu. Aku baik, dan semuanya baik. Kau tenang saja. Oh ya, bagaimana dengan yeoja-mu?”

“Jeongmalyo? Baiklah, aku lega sekarang mendengar kalian baik-baik saja. Lily? Dia baru saja siuman, hyung. Dia pingsan lagi 3 hari yang lalu,” kudengar hembusan nafas kencang seperti orang menyerah dan kelelahan. Ini membuatku semakin khawatir dan merasa bersalah.

“ナナナapakah ia masih sakit?” aku gugup.

“Yaaa begitulah hyung. Terlihat sehat padahal tidak, dibilang sakit juga tidakナ”

“ナナナapa perlu aku kesana untuk menemanimu? Ya, mungkin sekedar membantu?”

“Tidak hyung. Jangan. Aku tidak mau merepotkanmu, dan bagaimana dengan member lain? Nanti kalau tidak ada kau kan jadi kacau,”

“Suho hyung bisa diandalkan, bukan aku saja. Dan kau tidak merepotkanku sama sekali, aku hanya ingin membantumu, aku tahu kau lelah,”

“ナナナjangan kesini hyung, akhirnya nanti kau menyita waktu hanya untuk membantuku,”

“Kita sudah seperti saudara sekarang, tidak ada kata-kata merepotkan lagi. Aku akan membantumu sebisaku. Dan besok pagi aku akan berangkat kesana, kau hanya perlu mengirimkan pesan singkat berisi alamat rumah sakit dan apapun yang perlu aku ketahui, dan satu lagi, kau tidak perlu menjemputku ke bandara, arraseo?”

“ナナナterserah hyung saja. Aku tidak bisa melawan. Gomawo hyung, hati-hati ne, akan kutunggu,”

“Baiklah, kurasa kau perlu tidur. Aku tahu kau lelah, tidurlah dan istirahat, sampaikan salamku pada Lily, arraso?”

“arrata, hyung. Neomu gomawo. Jaljja-” PIP. Sambungan telepon terputus.

Aku menghempaskan tubuhku sekeras-kerasnya keatas kasur empuk ini. Penat, pening, gugup, khawatir. Campur aduk semua menjadi satu dibenakku sekarang ini. Please. Aku baru mengetahui rasanya bersalah terhadap orang lain. Sombongnya sikapku saat mengumumkan taruhan itu. Cih, sekarang aku menjadi jijik dengan tingkah lakuku di waktu itu.

Oh, God, bantulah aku untuk mencari jalan keluar masalah ini. Apakah seberat ini dosaku sampai-sampai hatiku seperti tertohok benda tajam, sesak sekali rasanya. Bernafas pun layaknya tidak mampu. Ini kali pertamanya aku merasakan seperti ini. Merasa bersalah. Walaupun sebenarnya tidak.

Entahlah, lebih baik aku tidur siang yang lama, kalau perlu aku berhibernasi sampai besok pagi aku berangkat ke bandara untuk menemui Chen di China.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

@ Incheon Airport

Kulirik malas jam tangan Rolex yang melingkar di tangan kiriku. Jam 7.30 pagi waktu KST dan aku sudah sampai di airport. Pesawatku menuju China akan lepas landas kira-kira 90 menit lagi. Kulihat orang-orang berlalu lalang disekitarku, pagi-pagi begini airport sudah ramai saja.

Sekarang, aku berdiri di loket check in bandara. Tidak terlalu panjang sih, tapi mengapa sangat lama untuk sampai ke tempat loket. Huh. Dan sekarang apa? Semua orang memperhatikanku dengan pandangan kagum seakan-akan mata mereka berubah menjadi bintang setelah melihatku. Ya ya ya, aku tahu aku ini tampan, lalu mau diapakan?

Aku hanya menaikkan sudut bibirku kesamping sambil menatap mereka. Bangga. Ya, sangat. Terlahir dengan wajah tampan itu menyenangkan namun kadang ada susahnya, aku selalu ditarik-tarik untuk berfoto bersama. Hey, aku ini bukan artis. Tapi ya apa boleh buat hahaha.

Aku sampai di loket check in. Aku memberikan pasporku kepada agashi (nona) penjaga loket ini. Ia menyuruhku menaikkan koperku ke tempat penimbangan koper disampingnya, dengan penuh tenaga seorang Kris Wu, aku mengangkatnya. Tidak berat, itu bukan apa-apa untuk ku.

12,5 kg. Ya, aku tidak membawa terlalu banyak barang, hanya yang tertentu saja, aku juga belum tahu aku akan stay disana berapa lama, kan? Jadi, daripada aku harus di charge karena timbangan koper yang terlalu berat, lebih baik aku membawa lebih sedikit. Toh, aku juga bisa beli disana tanpa perlu translator untuk membantuku bicara dalam bahasa Mandarin. Hey, aku ini bisa 5 bahasa dan aku juga keturunan China.

Selesai. Petugas locketing telah selesai memeriksa paspor, tiket dan barang bawaanku. Ku menganggukan kepalaku sedikit sebagai tanda ucapan terima kasih untuk nona petugas itu. Aku berjalan ke ruang tunggu pesawat sambil menenteng backpack ku. Baru kuingat sedari pagi tadi aku belum sarapan karena terlalu pagi aku bangun. Hah, pantas saja lapar begini. Kuputuskan untuk mampir ke sebuah caf← yang cukup terkenal di seluruh dunia. Aku memesan 1 cangkir Caramel Machiatto panas dan 1 buah sausage croissant yang kuminta untuk di panggang sebentar. Setelah semua kupesan dan kubayar, aku mencari tempat duduk. Kuedarkan pandanganku kesekeliling. Ah! Hari yang beruntung, akhirnya aku dapat tempat duduk.

Hmm, menikmati sarapan pagi hari kali ini lebih luar biasa dari hari-hari sebelumnya hahaha. Sudah sejak kapan aku tidak sarapan seperti ini? Hm, entahlah. Yang pasti aku merindukannya sekarang.

TING DONG TING DONG

“Perhatian kepada seluruh penumpang China Airlines Boeing 724 untuk segera masuk ke pesawat anda. Gamsahamnida”

Uhuk uhuk. . .

Sial. Suara pengumuman itu membuatku kaget dan tersedak. Kuambil tisu dan membersihkan mulutku. Kurasa ini waktunya untuk segera ke China. Kuraih tasku dan meninggalkan caf← itu, berjalan menuju ruang menuju ke pesawat. Goodbye Seoul, see you soon!

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Chen POV

Hoamナ

Jam berapa sekarang? Kulirik jam tanganku. Hm, jam 7 pagi. Aku kesiangan. Mataku serasa berkabut sehingga aku harus mengedipkan dan mengucek nya berkali-kali. Hoamナ aku menguap tanpa ada rasa malu. Toh, tidak ada yang lihat.

Baru kusadar aku tertidur di sofa lagi. Ya, memang seperti biasa. Kalau Lily masuk ke rumah sakit lagi, aku tidur di sofa, menemaninya. Aku beranjak berdiri, jalan kea rah tempat tidurnya. “Good morning, chagiya,” aku mencium keningnya lembut dan kuusap rambutnya pelan. Ia masih tertidur. Lengkungan bibirku membentuk senyuman memperhatikan wajah cantik nan pucatnya. Walau bibirnya masih terlihat berwarna putih dan wajahnya pucat pasi, tapi ia masih terlihat cantik, as always.

Kuputuskan untuk ke kamar mandi, sekedar membersihkan diri. Setelah selesai, aku segera mengganti pakaian dan merapihkan selimutku yang tergeletak di sofa. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tapi apa ya? Hmナ tunggu sebentar. Ah! Geuraeyo. Aku baru ingat kalau hari ini Kris ge akan berangkat ke China. Lebih baik kutelepon.

BEEP BEEP BEEPナ

“Wei, Chen?”

“Ne gege, ini aku! Kau sudah sampai dimana?”

“Ah ye, aku baru saja masuk ke pesawat. Sebentar lagi akan take off,”

“Wah, pagi juga ya, ge. Aku baru saja bangun. Kau mau aku jemput di bandara?”

“Sirheo, tidak perlu. Aku bisa sendiri kok. Kalau aku sudah sampai, nanti aku kabari. Kau tak perlu repot dan khawatir, aku tinggal di rumah pamanku,”

“Oh jinjja? Kukira kemarin kau akan menumpang di rumah bibi nya Lily. Yasudah, kau hati-hati ya, jangan lupa kabari aku,”

“Hm, ne. Jangan khawatir. Pesawatnya sudah mau take off, kumatikan handphoneku ya, sampai ketemu nanti. Annyeong!”

“Ne, ge. Annyeong,”

BEEP

Hah~ untung saja aku tidak lupa kalau hari ini Kris ge akan pergi kesini. Kuhela nafasku pelan dan melempar sembarangan ponselku ke sofa. “Oppaナ” tiba-tiba kudengar suara lirihan yang sudah tak asing lagi bagiku.

“Lily-ah, kau sudah bangun?” aku menghampirinya, mengusap keningnya. Ia mengangguk. “Bagaiman tidurmu semalam, hm?” tanyaku pelan.

“Nyenyak, oppa,” ia tersenyum. Wei shen me hen mei li (kenapa terlihat sangat cantik).

“Bagaimana dengan tidurmu, Oppa?” tanyanya mengagetkanku, mengusap tanganku perlahan, membuyarkan lamunanku dengan mengagumi kecantikannya.

“Tidurku juga nyenyak, apa kau menemukanku di mimpi?” ia terkekeh pelan mendengar jawabanku membuatku ingin mencubit pipinya gemas.

“Ne, Lily bertemu seorang pangeran tampan,”

“Benarkah? Siapa dia?” kataku penasaran

“Neo, wo de wang zi” ia mencolek hidungku dan tertawa riang.

“Baguslah, kukira kau akan bermimpi namja lain,” aku mem-pout-kan bibirku.

“Aniyo, itu tidak mungkin!” jawabnya sambil mengernyit pelan.

“Hehehe, arrata, arrata. Kau mau minum susu? Biar Oppa ambilkan,” tawarku sambil tersenyum

“Ne, oppa. Aku mau,” ia bangkit untuk duduk, refleks aku membantunya duduk dan meletakkan bantal di belakang punggungnya, supaya ia merasa nyaman. Lalu kusiapkan susu untuknya, lalu memberikan kepadanya.

“Gomawo oppa,” ia meraih gelas yang kuberikan dan meminum susunya dengan perlahan. Aku menarik kursi di belakangku agar mendekat ke tempat tidurnya.

“Oppa, apakah aku terlihat seperti yeoja kurang ajar?” choked. Dia mengagetkanku.

“Ya! Kenapa kau berkata seperti itu? Aniyo, kau bukan yeoja kurang ajar. Kau yeoja yang baik, Lily-ah” jawabku tegas. Ia menundukkan kepalanya.

“Tapi, tapi kau menghabiskan waktumu hanya untuk mengurusku. Kau tahu kan aku ini bukan siapa-siapa yang penting dan berharga,” ia menghembuskan nafasnya perlahan, begitu juga denganku.

“Chagiya, sudah berapa kali aku bilang, kau tidak boleh berkata seperti itu lagi. Oppa ini namjachingu mu, dan aku berhak untuk menjagamu. Tidak pernah ada namja yang membiarkan yeoja nya menderita, kau mengerti itu?” kuusap kepalanya perlahan, ia mengangguk tanda setuju. Refleks aku menariknya kepelukanku, menenangkannya.

“Kau tidak perlu khawatir, Oppa selalu ada disini untukmu. Tidak boleh ada orang yang boleh menggangumu, jika ada, ia akan langsung berhadapan denganku, arrachi?”

“Ne, oppa, wo zhi dao le” ia tersenyum senang dan membenamkan kepalanya di dadaku.

KLEK

“Zao an, waktunya kami memeriksa nona Lily,” seorang suster datang tiba-tiba tanpa mengetuk dan itu refleks membuatku melepaskan pelukanku dari Lily dan menjauh dari nya. Dasar gila, tidak bisa apa mengetuk dulu? Cih.

“Keadaanmu belum 100% membaik, nona. Ni bi xu zhao gu hao zi ji deng hao, hao bu hao? (kau harus jaga dirimu lebih baik, mengerti?)” ucap suster itu sambil mencatat perkembangan kondisinya. Tunggu, tunggu. Dia bilang apa? Kondisi Lily masih belum membaik? Bagaimana bisa? Padahal ia minum obat dengan teratur.

“En, wo ming bai le. Wo keyi hui fu, dui bu dui? (saya mengerti. Apakah saya bisa sembuh?” kata Lily sambil mengernyit pelan memperhatikan suster itu

“dang ran ke yi, dan ni bixu chi ni de yao, xiu xi yi ji. (tentu bisa, kau harus rajin minum obat dan istirahat yang cukup” mereka terlihat asik mengobrol. Aku hanya mengerti beberapa kalimat dari yang suster itu ucapkan. Hah, susah sekali rasanya belajar bahasa asing.

“Hao, wo zhi dao la,” aku masih memperhatikan mereka berdua dan mencoba mencerna apa yang mereka bicarakan.

“Hao, sudah selesai. Sebentar lagi makan siangmu akan diantarkan. Nanti ada dokter Li yang akan memeriksamu. Jaga dirimu dan makan yang banyak ya? Aku permisi,” kata suster itu sambil berlalu pergi, aku membungkukkan badanku sedikit kepadanya.

“Kau masih belum membaik?” kuhampiri Lily dan mengusap rambutnya dengan lembut.

“Ne, oppa. Aku juga bingung. Padahal aku kan sudah makan obat dengan teratur,” ia menghela nafas pelan, kusentuh tangannya dan mengecupnya pelan.

“Berarti kau harus lebih banyak istirahat dan kamu tidak boleh meminta yang macam-macam untuk dimakan,”

“Ya! Aku kan hanya ingin. Itu juga sekali-sekali, kok. Lagipula kau juga memberikannya,” ia mengerucutkan bibirnya kesal. Aigoo, neomu kyeopta! Kucubit pipinya dan mengacak pelan rambutnya

“hey, kau ini manja sekali. Kalau aku tidak membelikannya, kau bisa memohon dari pagi hingga ke pagi lagi, tau?”

“Ishhh baiklah, aku tidak akan minta yang aneh-aneh lagi,” aku tertawa pelan, ia sungguh menggemaskan.

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Author POV

Chen dan Lily masih berbincang-bincang di dalam ruangan Lily di rumah sakit. Namun tak lama setelah itu, Lily memegang dada nya yang rasanya sesak. Ia kambuh lagi, dan lagi. Chen yang panik langsung memanggil dokter yang bertugas dan segera menanganinya.

Chen hanya mampu duduk diam dan menghela nafas. Kenapa ini harus terjadi lagi, pikirnya. Ia memijit pelipisnya pelan, pusing, sedih, takut, semua bercampur jadi satu. Chen hanya ingin Lily sembuh, tapi takdir selalu berkata lain. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mungkinkah ini karma karena telah mempermainkan perasaan yeoja malang itu? Entahlah, yang pasti, keinginan membuat Lily sembuh sangatlah besar dalam hatinya. Apapun caranya akan ia coba pikirkan, hanya untuk Lily.

“Dok, apakah ia tidak apa-apa?” Chen bertanya pada dokter yang menangani Lily dengan broken-chinese-language.

“Shi, ia tidak apa-apa, saya permisi dulu, jika ada perlu, bisa hubungi saya lagi,” ucap dokter itu dan Chen hanya dapat memahami beberapa kata, ia membungkuk hormat sambil memperhatikan punggung dokter itu yang semakin lama semakin menjauh.

Chen berjalan mendekati ranjang Lily, dan mengusap rambutnya dengan lembut. Lily tertidur, dokter itu memberinya obat yang membuatnya sedikit terlelap agar ia tenang. Ditatap wajah yeojachingu nya, pucat namun terlihat cantik.

Belakangan ini mereka berdua sudah sangat jarang sekali pergi ke taman atau membeli jajan di sekitar sana sejak Lily jatuh sakit dan dirawat lagi. Chen ingin bermain ke taman bunga kesukaan Lily lagi. Ia senang melihat yeoja-nya tertawa ceria dan seakan melupakan semua beban pikiran dan penyakitnya.

Kembang api. Tiba-tiba terlintas dipikiran Chen tentang kembang api. Ya, malam festival kembang api, tempat dimana penyakit Lily kambuh dan pingsan sehingga dilarikan ke rumah sakit. Seharusnya, malam itu menjadi malam yang sangat indah hingga kembang api itu selesai. Namun, mimpi itu bertolak belakang.

Kapan lagi aku bisa membawanya melihat kembang api itu lagi dan melihat wajahnya tersenyum dan bersinar berkat percikan cahaya kembang api yang memantul di wajah halusnya? Apakah masih ada waktu yang tersisa untuk itu? Apakah aku masih bisa membuatnya bahagia walaupun untuk yang terakhir kali? Apakah aku–tunggu.. apa yang sebenarnya aku pikirkan?! Ishhh kau ini bodoh sekali, rutuk Chen dalam hati.

Sementara itu, di tempat lain, Kris yang masih dalam perjalanannya menuju China, terduduk manis di pesawat dengan sepasang earphone terpasang di kedua telinganya. Sudah kurang lebih 2 jam waktu yang terlewatkan, berarti setengah jam lagi pesawat akan mendarat di China.

Ia merasa bosan duduk membusuk di pesawat yang semakin lama kursinya terasa sempit dan panas. Kris berusaha untuk membuat dirinya tidak bosan dengan mengambil gambar awan-awan yang terlihat seperti permen kapas, atau melakukan self-camera. Baiklah, yang satu ini adalah hal menjijikan, ia bermain dengan bonekanya, Ace. Mungkin hanya Ace yang tidak membuatnya bosan. Apakah ini terlihat memalukan? Entahlah aku tak peduli, ucap Kris dalam hati.

“Dear all passengers, please back to your seat, don’t use toilet and fasten your seatbelt. We are going to landing in 10 minutes. Thank you,”

Oh! Tuhan sungguh baik, teriaknya dalam hati. Berarti tidak lama lagi ia akan berpisah dengan kursi yang membosankan ini dan akan mengakhiri masa bosan dirinya juga. Dia sangat tidak sabar rasanya untuk melihat Lily–errrrナmaksudnya melihat China, ya, China, dia juga merindukan kampung halamannya ini.

20 minutes laterナナナナナナナナナ

Kris POV

Ah! Akhirnya aku sampai. Rasanya seperti habis melepas masa lajang yang menyesakkan hati. Koper sudah kuambil, tidak ada yang tertinggal. Hmm, apa lagi ya? Oh yaampun, aku harus menelepon Chen. Bisa-bisa dia khawatir nanti. Kutekan angka 8 sebagai speed dial yang langsung menghubungkan ke nomor Chen.

“Dang wo zheng zuo de feng zai ni de shi jie jiang luo, bai se de feng–yeoboseyo, hyung?”

“Oh, hai Chen! Aku sudah sampai,” ujarku kepadanya

“Benarkah? Baiklah kalau begitu, kukira kau lupa untuk menghubungiku,”

“Hahaha, bodoh. Tentu tidak. Aku akan mengambil taxi dan kerumah bibiku dulu, ne. Setelah itu kita bertemu dimana?”

“Terserah kau saja, hyung. Paling tidak kau tahu daerah sini,”

“Aku langsung ke rumah sakit saja, ya? Aku takut kau tersesat nanti,”

“Baiklah, kau telepon aku saja hyung kalau sudah dekat, nanti aku jemput di depan,”

“Arraso, sampai jumpa. PIP–”

Baiklah, selesai menelepon lalu yang harus aku lakukan selanjutnya adalah mencari taxi. Aku berjalan keluar dari bandara. WOW udara ini, aku merindukannya! Haha. Padahal udaranya tidak jauh beda dengan Korea tapi entahlah aku merindukannya. Hm, kuedarkan pandanganku ke sekitar. Kenapa sepi ya? Mungkin di sebelah sana. Ah! Itu dia. Aku berlari menghampiri taxi itu,

“Shu shu, wo xiang qu — ni neng dai wo zou ma? (paman, saya akan pergi ke — bisakah kau mengantar saya?)” ujarku sopan kepada supir taxi ini

“Hao, dang ran ke yi. Jin lai ba,” dia menyuruhku untuk masuk, aku tersenyum senang dan langsung membuka pintu dan duduk dengan nyaman. Huh~ hari keberuntunganku, bisakah kusebut seperti itu?

Taxi mulai berjalan menuju rumah bibiku. Kulihat pemandangan dari kaca, aku masih ingat betul jalan ini. Sewaktu aku kecil aku sering lewat sini dari bandara untuk pulang ke rumah lama bersama mama dan papaku untuk sekedar menengok keadaan kampung halaman setelah lama berdiam di Kanada. Ah, aku jadi teringat orangtuaku di Kanada. Kapan-kapan aku harus kesana untuk menjenguk mereka.

“Er ji, wo men yi qing dao le, (kita sudah sampai)” ujar paman itu tiba-tiba yang mengagetkanku.

“Oh, zhen de ma? Ah ye, shu shu, zhe shi ni de qian, xie xie ni shu shu (benarkah? Oh benar, paman, ini uang nya, terima kasih)” kataku sambil memberikan beberapa lembar uang dan segera keluar dari taksi.

OH MY GOD. Rumah bibi kenapa sedikit berubah? Kenapa jadi bagus seperti ini? Apa aku tak salah jalan? Tapi ini aku ingat rumah disampingnya. Hm, lebih baik kutekan bel saja.

TING TONG TING TONG.

“Deng yi deng! Shi shei a? (tunggu sebentar, siapa disana?)” omo. Itu suara bibi. Yaampun lebih baik aku tidak perlu jawab, supaya dia terkejut melihat keponakan tampannya ini datang menjenguknya tanpa bilang terlebih dahulu hehehe.

CKLEK. Pintu terbuka. Dan bibi keluar dengan pakaian formalnya.

“Ni shi shei?” katanya sambil menyipitkan mata dan melihatku dengan seksama.

“Tebak saja,” aku tersenyum licik

“Tunggu sebentarナHmmm Kevin? Ah oh–YIFAN! Yaampun, zhe shi ni?!” teriak bibi yang membuatku terlonjak kaget namun tak beberapa saat aku tersenyum dan menganggukan kepala.

“Oh, yaampun yaampun, kau kenapa tidak bilang mau datang oh? Kau kapan sampai? Kau kapan–” yaampun, bibiku ini sangat cerewet. Baru saja di depan pintu, aku sudah dihujani dengan 1000 macam pertanyaan.

“Hahaha, aku baru sampai, dan ini adalah kejutan,” kataku sambil cengar-cengir

“Cih kau ini, kenapa tidak membawa papa mamamu?”

“Aku kan berangkat dari Korea, mereka sibuk, dan mereka tidak tahu aku kesini,” aku masuk ke rumahnya dan duduk di sofa ruang tamu. Wah, ini seperti nostalgia bagiku. Di sofa ini, tempat biasanya aku menghabiskan bakpao bikinan bibi. Hohoho, apakah dia sedang membuat bakpao ya? Hmm~ aku jadi penasaran.

“Oh, begitu. Padahal aku sudah merindukan kalian, sangat merindukan. Eh, ngomong-ngomong kau ada perlu apa ke China?” katanya sambil menyuguhkan secangkir teh untukku.

“Umm, pacar temanku sakit dan dirawat jadi aku memutuskan untuk kesini sekedar menjenguknya,”

“Erm, aku mengerti sekarang. Oh ya, kau sudah punya kekasih? Kenapa kau tak kenalkan pada bibi, hm?” tanyanya sambil mengguncang-guncangkan tubuhku penasaran. Astaga, pertanyaan macam apa ini.

“Belum, bi. Aku masih sibuk dengan kuliah, jadi aku belum berencana untuk melepas masa lajangku, hehe,” jawabku sambil mengusap-usap tengkuk

“Ah, kebiasaan kau itu. Ingat umurmu sudah 23, kau harusnya mencari seorang kekasih. Ngomong-ngomong, kau berapa lama akan tinggal disini?”

“Tapi aku malas, bi. Membuang waktu saja. Oh, berapa lama ya? Hm, aku tidak tahu, kuliah juga sedang libur jadi mungkin aku akan tinggal disini lebih–”

“Ah! Yaampun, ini kesempatan bagus, kau mau tinggal berapa lama juga silahkan, aku sangat merindukanmu, Yifan!”

“Ya, bibi memotong pembicaraanku. Aku kan belum selesai bicara. Oh ya, Cherry kemana? Belum pulang?” Cherry adalah anak bibi, dia masih SMA, menurutku dia adalah sepupu yang paling baik maka dari itu aku merindukannya.

“Iya, dia ada latihan pemandu sorak hari ini. sebentar lagi juga pulang.” Ucap bibi.

“Baiklah, oh ya, bi. Aku mau ke tempat temanku dulu ya, nanti malam aku pulang lagi,”

“Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, kalau ada perlu telpon aku saja,”

“wo ming bai le (saya mengerti) zai jian, a-yi!” kulangkahkan kakiku keluar rumah dan segera mencari bus di persimpangan jalan. Huh, aku hampir saja lupa, gara-gara asik berbincang dengan bibi aku sampai lupa untuk ke rumah sakit menjenguk Lily.

Segera aku naik bus dan mengambil ponselku untuk mengirim pesan singkat untuk Chen.

‘Chen, maaf aku telat, tadi aku beres-beres dulu di rumah bibiku. Aku di jalan sekarang, mianhae.’

TING DONG

Tidak sampai 1 menit balasan dari Chen sampai, katanya,

‘Gwaenchana, hyung. Santai saja, aku juga baru selesai makan. Hehe, hati-hati ya, hyung.’

Aku tidak membalas lagi pesannya. Ini sudah hampir sampai. 5 menit kemudian, aku sampai di halte Zhu Yi Yuan (rumah sakit Zhu) dan tepat di perempatan adalah rumah sakitnya. Aku melangkahkan kakiku dan sampai di lobby rumah sakit. Hal pertama yang kupikirkan adalah haruskah aku menelepon Chen untuk bertanya kepadanya di ruangan berapakah Lily atau aku hanya pergi ke loket informasi dan bertanya? Ah, lebih baik aku pergi dan bertanya.

“Qing wen, Lily xiao jie de fang jian shi ji hao? (permisi, kamar nona Lily nomor berapa?)” aku bertanya pada penjaga di loket itu

“Shi zu ne? (marga nya)”

“Bai,”

“Oh, dia ada di ruang 283 di lantai 2,” ucapnya kepadaku. “Hao, xie xie,” aku langsung bergegas naik ke lantai dua tanpa ba-bi-bu lagi. Sampai. Kamar nomor 283. Aku dapat melihat Chen dari jendela kecil di pintu ruangan ini. Kuputuskan untuk mengetuk pintunya. TOK TOK TOK.

“Nuguse–hyung! Kau sudah sampai? Kau tahu darimana nomor ruangan ini?” Chen keluar dan ia kaget setengah mati dan aku hanya tersenyum “Aku bertanya pada suster di depan, kau tenang saja. Lily sedang apa?” ia mengajakku masuk ke dalam kamar Lily “Ia sedang tidur, hyung. Tadi asma nya kambuh lagi dan diberi obat oleh dokter yang membuatnya sedikit terlelap,” Chen tersenyum pahit. Deg. Aku jadi merasa seperti seorang pembunuh disini. Aku melihat Lily terbaring pucat pasi dan terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Tuhan tolong aku, aku harus apa.

“Dia tidak tahu aku kesini, ‘kan?” tanyaku dan Chen hanya menggelengkan kepalanya. “Tetapi, keadaannya lebih baik kan?”

“Setelah menjalani beberapa perawatan lumayan lebih baik, hyung. Tapi entah kenapa dokter terus menyarankan untuk operasi, aku bingung harus bagaimana,” ujar Chen panjang lebar. Aku yang mendengarnya hanya merasa hatiku seperti di remas. Jadi seperti ini rasanya menjadi seorang jahat. Ini karmanya. Aku hanya mampu menepuk pundaknya dan menenangkannya.

“Jangan menyerah, kita bersama-sama berharap dan berdoa, supaya Lily sembuh, bukankah begitu lebih baik?” kataku menjelaskan, ia mengangguk.

“Ya, hyung. Kau benar. Itu adalah hal yang terbaik yang harus kita lakukan,” ia tersenyum. Tak lama, tubuh Lily bergerak. Kurasa dia telah bangun. “Oppa~” ia bergumam pelan dan itu membuat Chen tersadar dari lamunannya.

“Eh, Lily, kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu?” tanya Chen kepadanya

“Mashisseoyo,” jawab Lily dengan tatapan yang masih sayu karena baru saja bangun tidur. Dia memiringkan kepalanya dan mengusap matanya berkali-kali. Kurasa, dia mencoba untuk menerawang siapakah aku. “Oppa, ta shi shei (dia siapa)” kata Lily kepada Chen dengan takut-takut. “oh, aku lupa memberitahumu. Ini Kris, kau ingat dia kan?” tanya Chen lagi yang membuatnya semakin mengernyit bingung. Tapi sepersekian detik setelahnya ia membuka matanya lebar, “Ah, ya, aku ingat. Kris gege, annyeonghaseyo,” sapanya ramah. Duh. Dia masih mengingatku ternyata. Bagaimana ini? Apakah ia akan marah kepadaku?

Aku membalas dengan anggukan dan tersenyum tetapi hatiku masih bertanya-tanya. Apakah dia dendam padaku? Aish. Menyebalkan.

“baguslah kalau kau ingat. Kau sudah tidak apa-apa?” ujar Chen sambil mengusap kening Lily. “Ne, gwaenchana Oppa,” jawab Lily.

“Hyung, aku ingin keluar sebentar ne. Tolong jaga Lily sebentar ya, Lily, oppa keluar dulu,” kata Chen tiba-tiba yang membuatku dan Lily mengangguk mengerti dengan serentak. Eh, tunggu. Ah, kenapa aku bodoh. Kalau Chen pergi berarti aku sendirian disini dengan Lily, apakah Lily akan mencaci-maki ku atau bagaima– “gege, kau kenapa ke China?” tiba-tiba Lily memotong pemikiranku yang tak berujung akhirnya.

“Uh-oh, a-aku. A-aku kesini untuk menjengukmu. Ya, menjengukmu. Mewakili anak-anak yang lain,” jawabku seadanya sambil tergagap dan menggaruk-garuk tengkukku yang tidak terasa gatal sama sekali. Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Huh, baguslah dia tidak bertanya yang aneh-aneh.

“Bagaimana keadaanmu, apakah membaik?” tanyaku tiba-tiba tanpa dipikir dahulu. Oke, ini salahku, aku yang memulai percakapan duluan.

“Oh, aku sudah tidak apa-apa, gege. Hanya saja belum terlalu pulih. Kau ke China sendirian?”

“Ah, aku mengerti. Hm, iya sendirian. Tidak ada yang mau ikut denganku,”

“Hmm, ming bai le (aku mengerti). Kau menginap dimana?” tanyanya lagi.

“Aku? Aku menginap di rumah bibi ku. Untung saja aku masih punya sanak saudara disini, jadi aku tak perlu merepotkan siapa-siapa,” percakapan kami semakin panjang dan sepertinya kami menjadi akrab. Ternyata dia adalah gadis baik, ramah, cantik dan—oh, sadarlah Yifan. Dia ini milik Chen. Baiklah, siapa juga yang mempunyai niat untuk merebutnya. Aku hanya menyukai gadis seperti ini.

Kami terus mengobrol dan mengobrol sampai Chen datang ke kamar dengan wajah lesunya. Aku yang melihatnya pertama langsung menghampirinya dan bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia mengajakku keluar dan pamit sebentar dengan Lily.

“Ada apa sampai kau mengajakku keluar?” tanyaku dengan panik

“Lily akanナナナナナナナナナナナナナナナナ.ナナナ..”

TO BE CONTINUEDナ

Holla readersdeul!!! Mianhae aku post nya lama, kemarin tabrakan(?) sama jadwal UTS ;;___;; jadi terbengkalai deh. Please support FF ini lagi ya, janji bakal di lanjutin kalau sorakannya meriah. HIP HIP HOORAY!!

P.S: Jangan lupa Read, Comment, and like nya ya chingudeul :* chu~ HWAITING! ❤ Lots XOXO Cx

4 pemikiran pada “All Flower In China (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s