28 In The Spring (Chapter 1)

28 in the spring by pinkfairy

28 In The Spring

{제 1 화}

by

pink

(@fajriamuli)

visit my wp: https://pinkeueunmazing.wordpress.com

***

|| Park Chanyeol & Jung Eunji ||

|| Romance–Angst–Hurt/Comfort ||

PG-13 || Chaptered

Disclaimer!

Plot hanyalah karya fiksi yang 100% murni karya saya. Tokoh milik tuhan, kedua orang tuanya, exo stan, dan pink panda bersama. Dibuat semata-mata hanya untuk hiburan. Jangan dibawa serius. Kesamaan tokoh atau cerita yang mungkin terjadi karena ketidak sengajaan/kebetulan, bukan tindakan plagiat.

If you don’t like the pairing, or anything else from this ff, don’t bash. Respect me as the author. Read, Comment, Like is necessary. Thanks and happy reading!^^

~**~

‘When god took person that you love the most, just believe that he’ll replace it with a better one.’

~**~

Author’s POV

Hatchiiii… ohh, aku benci sekali musim ini, merepotkan… hatchiii.

Malam hari itu di awal musim semi, seorang yeoja terus menerus mengelurkan suara bersin. Sebuah masker menutupi setengah bagian dari wajahnya. Ia memasuki apotek di kawasan gangnam. Jung Eunji baru saja keluar dari kantornya yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat ia berada sekarang lima belas menit lalu.

“Tolong berikan aku obat peringan alergi serbuk bunga.” Pinta Eunji pada seorang apoteker yang berdiri di balik counter. Hidungnya yang sensitif membuatnya mudah terkena alergi. Apalagi ketika awal musim semi udara bertiup kencang hingga membawa serbuk sari dari para bunga yang baru mekar.

Setelah menunggu beberapa saat apoteker itu memberikan sebungkus obat. Eunji langsung menerima dan berjalan menuju meja kasir. Ia mengeluarkan dompet berwarna coklat dari tasnya dan mengambil beberapa uang lembar. Ketika sedang menunggu kembalian dan struk, suara handphone Eunji berdering. Buru-buru ia mencari di dalam tas setelah menaruh dompetnya di meja. Namun sangat sulit karena sepertinya Eunji menaruh di tempat yang menyelip. Eunji sampai terpaksa mengeluarkan seluruh isi tasnya di atas meja kasir saat itu juga.

“Ini kembaliannya Agassi(nona).” Si penjaga kasir menyodorkan kembalian pada Eunji.

“Ahh ne, taruh saja dulu diatas meja.” Ujar Eunji yang masih terfokuskan pada pencarian handphone.

Seorang namja berpakaian gelap beserta syal abu-abu, kacamata hitam, juga topi yang berwarna senada datang untuk membayar obatnnya. Membuat Eunji harus minggir sedikit dari tempatnya. Namja itu langsung mengeluarkan dompet coklatnya dan mengeluarkan selembar uang yang bernominal terlalu besar untuk barang yang ia beli.

“Maaf tuan, apa tidak ada uang kecil?”  Tanya petugas kasir dengan sopan.

“Uang kecil?” Namja itu mengulang perkataan petuga kasir. Ia menaruh dompet yang ada di genggamannya keatas meja kasir yang sudah bertebaran dengan barang-barang Eunji agar dapat leluasa mencari uang di saku jeans.

Tak membutuhkan waktu lama ia sudah menemukan uang kecilnya. Setelah mendapat struk dan kembalian ia langsung menyambar dompet coklat yang ada di atas meja kasir dan bergegas pergi sambil menenteng plastik berisi obat.

Eunji akhirnya menemukan handphonenya yang sudah dalam keadaan mati. Terpampang di layar tulisan ‘1 new misscall from Eomma’.  Ia mendengus kesal karena kurang cekatan. Buru-buru Eunji merapihkan dan memasukkan kembali seluruh barang.

Joesonghaeyo (maafkan aku)…” Eunji membungkuk sopan lalu bergegas pergi setelah mengambil kembalian dan obat.

Yeoja itu berdiri di pinggir jalan bersiap memberhentikan taksi yang lewat. Tak perlu menunggu lama Eunji sudah dapat masuk kedalam sebuah taksi yang akan mengantar ia menuju apartemennya. Ia kembali membuka tas untuk mengambil dompet dan berniat menaruh uang kembalian obat tadi kedalam.

Ketika membuka bilik tengah yang merupakan tempat uang, matanya sempat terbelalak untuk beberapa saat melihat uang yang berada disana sangat melampaui jumlah uangnya. Dalam keadaan yang sudah panik Eunji memeriksa isinya dan mencari kartu identitas. Seketika Eunji merasa tubuhnya lemas. Ia menemukan kartu identitas atas nama seorang artis, Park Chanyeol, lengkap dengan fotonya. Otaknya pun menarik kesimpulan kalau dompetnya telah tertukar dengan orang berpakaian tertutup tadi. Eunji juga baru ingat kalau dompet milik namja tadi sangat mirip dengan miliknya.

Ia mendesah dengan sisa tenaga dan mengacak rambut frustasi.“Ahjussi(paman), tolong putar balik arah! Cepat antar aku ke Seocho-gu Real Estate! Hatchiii..” Seru Eunji tanpa berpikir panjang lagi seusai melihat sederet kalimat yang bertuliskan alamat di kartu identitas tersebut.

~***~

                “Kepalamu masih sakit?” Tanya salah seorang di dalam mobil van yang sedang mengendalikan kemudi.

“Hmm.. begitulah. Tapi sebentar lagi juga obatnya bekerja.” Yang ditanya menjawab. Ia bersandar pada kursi penumpang tengah dengan mata terpejam.

“Seharusnya kau tidak terlalu mensortir dirimu pada film itu, Chanyeol. Kau tahu sendiri kan akibatnya jika kau terlalu lelah akan begini.” Si pengemudi yang tak lain adalah Xi Luhan, manajer seorang artis terkenal bernama Park Chanyeol, memberi nasihat.

“Aku hanya terlalu bersemangat untuk film ini hyeong. Ceritanya sangat menarik.” Jawab Chanyeol masih dalam posisi yang sama.

Luhan melirik Chanyeol dari kaca spion dalam. Walau keadaan malam gelap ia dapat melihat namja yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu lelah. “Tapi jangan lupa diri. Memangnya penyakit sakit kepalamu tak bisa disembuhkan?”

“Sepertinya tidak. Dokter saja tidak bisa menemukan otakku bagian mana yang bermasalah.”

“Omong-omong, apa kau benar-benar akan menjalankan permintaan orang itu? Lagipula sudah empat tahun berlalu semenjak kejadian itu dan kau belum menemukan yeojanya juga.”

Pertanyaan Luhan barusan membuat Chanyeol langsung menegakkan dudukknya dan balik menatap Luhan dari kaca spion. Chanyeol mendesah. “Hyeong, dia sudah sangat berjasa padaku, tentu saja aku akan menjalankan permintaannya. Ya.. aku hanya bisa berharap semoga kami secepatnya bertemu. Jujur saja, akhir-akhir ini aku sering memimpikan yeojanya menangis karena kejadian itu dan aku merasa semakin bersalah jika tidak segera menemukannya..”

“Sudahlah, itu bukan salahmu Chanyeol-a.” Luhan berusaha meyakinkan Chanyeol.

“Ya, aku tahu. Tapi tetap saja itu semua terasa seperti salahku sepenuhnya.” Chanyeol mengalihkan pandangan keluar jendela menatap jalanan yang sedang lengah oleh kendaraan.

“Hmm… aku bisa mengerti. Ohh ya, mumpung besok kau tidak ada schedule, bagaimana jika kita berkunjung ke klinik Joonmyun hyeong? Sudah lama sekali tidak kesana.”

“Boleh, sekalian aku juga ingin memeriksa wajah.”

Luhan mengangguk. “Mau langsung pulang atau ada tempat yang ingin kau kunjungi?”

“Langsung pulang saja. Aku ingin segera beristirahat.”

“Baiklah Park baewoo (aktor Park).”

Setelah perjalanan dua puluh menit akhirnya mobil van yang mengangkut Chanyeol dan Luhan tiba di depan sebuah rumah mewah bermodel minimalis. Luhan memakirkan mobil milik agensi itu di pinggir jalan.

Hyeong mau mampir dulu?”

“Kurasa tidak, biar kau bisa langsung istirahat.”

“Begitukah? Yasudah, terima kasih hyeong. Hati-hati di jalan.” Chanyeol kemudian turun dan memberi lambaian tangan saat  mobil van tersebut mulai bergerak. Terlihat Luhan yang balik melambaikan tangan dari balik kaca mobil yang gelap.

Mobil van yang dikemudikan Luhan baru saja menghilang ketika sebuah taksi tiba-tiba berhenti di depan rumah Chanyeol. Seorang yeoja turun dari sana dan tak lama taksi pun pergi. Yeoja itu, Eunji, mendekati pintu pagar dan memencet bel yang tersedia di sana.

Chanyeol yang tadi di turunkan di seberang jalan menghampiri orang asing yang sekarang sedang memencet bel rumahnya itu.

“Permisi agassi, kau mencari siapa?” Chanyeol menepuk pundak Eunji dari belakang.

Eunji terlonjak kaget. Ia merasa jantungnya hampir saja copot karena gerakan tiba-tiba Chanyeol ditambah keadaannya yang sedang panik. Eunji terengah-engah.” Astaga.. k-kau yang tadi di apotek bukan?

“Ahh ne. Ada apa?”

Eunji merogoh isi tas lalu tangannya terlihat memegang sebuah dompet coklat dari dalam sana. Ia membukanya kemudian mengambil kartu identitas. Karena pikirannya yang sudah lelah ia dengan lancang melepas kacamata hitam Chanyeol.

“Hey!” Seru Chanyeol spontan.

Kemudian mata Chanyeol dan Eunji bertemu tanpa ada penghalang apa pun. Seketika Eunji lupa dengan apa yang akan ia katakan dan malah memandang mata Chanyeol lekat. Hatinya tiba-tiba terenyuh dan rindu dengan seseorang. Beberapa menit sempat berlalu hanya dengan seperti itu.

“Ada apa ya?” Chanyeol mengulangi pertanyaan. Ia ingin segera mengakhiri perjumpaan ini dan mengistirahatkan diri diatas tempat tidur.

Eunji langsung tertarik kembali kealam sadarnya. “Maaf lancang, aku hanya ingin memastikan orang yang ada di kartu ini kau. Karena kalau memang benar itu tandanya dompet kita tertukar.” Ia menunjukkan kartu itu pada Chanyeol.

Omo, itu benar kartu identitasku.” Chanyeol buru-buru merogoh saku jeansnya dan memeriksa isi dompet yang terdapat disana. ia membukanya dan mendapati wajah familiar yang terpampang di kartu identitas yang katanya milik yeoja di depannya itu.

Kini Chanyeol menatap Eunji dalam. “B-benar ini kau?” Tanya Chanyeol hati-hati sambil menyodorkan kartu itu kehadapan Eunji.

Eunji mengangguk. Ia membuka masker yang sejak tadi masih dipakainya dan menatap Chanyeol dengan tatapan ‘memang kenapa?’.

Chanyeol memandang Eunji dan kartu identitas yang ada di tangannya secara bergulir. Setelah puas dengan kartu identitas, kini mata hitam bulatnya balik menatap manik mata Eunji dalam. Seakan mencari kebenaran dari dalam sana. Seketika senyuman lebar merekah di wajah tampan itu.

“Ekhemm.. jadi, bisakah kau segera mengembalikan dompetku?” Tanya Eunji cepat. Ia merasa kikuk mendapat pandangan semacam itu.

“Ah ya, tentu saja. Wah dompet kita sama persis ya, haha.” Chanyeol kembali memasukkan kartu itu kedalam dompet Eunji dan menyodorkannya pada yeoja tersebut.”Ini milikmu Eunji-ssi.”

“Iya kebetulan sekali. Terima kasih.” Eunji mengambil miliknya dan balik menyerahkan kacamata, dompet, beserta kartu milik Chanyeol. “Maaf mengganggu di malam hari.” Kemudian ia membungkuk hormat.

Chanyeol mengulurkan tangan untuk menerimanya.

Tiba-tiba angin kencang berhembus. Ranting pohon sakura yang terdapat di dekat rumah Chanyeol bergesekan membuat serbuk bunganya beterbangan. Hidung sensitif Eunji mendeteksi tanda serangan dan mulai terasa gatal. Semakin lama gatalnya makin parah dan membuat ia bersin-bersin.

Yang lebih memalukannya lagi lendir bening yang ada di hidungnya terasa keluar dari tempat persebunyian. Eunji panik bukan main. Ia kembali mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari tisu dengan satu tangan dan tangan lainnya yang menutupi hidung.

Ige.. pakai saja dulu.” Chanyeol dengan senyuman malaikatnya menyodorkan sebuah sapu tangan putih.

Karena tak ada pilihan lain, Eunji pun menerimanya dan segera berbalik badan untuk membersihkan hidung. Kemudian kembali mengahadap Chanyeol dengan wajah yang tertekuk, malu.

“Terima kasih. Akan kukembalikan nanti setelah dicuci.” Eunji lagi-lagi membungkukkan badannya memberi hormat.

Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah lucu yeoja itu. “Mau mampir sebentar?” Tawarnya.

Dengan cepat Eunji melambaikan tangannya. “Tidak usah. Ini sudah malam aku harus segera pulang. Lagipula tak baik jika ada orang yang tahu, bisa-bisa kau terkena skandal.”

“Oh begitu ya? Bagaimana kalau kuantar pulang?” Chanyeol kembali memamerkan kebaikannya.

“Kurasa itu juga tidak perlu. Kau pasti habis melewati hari yang melelahkan jadi lebih baik tidak usah merepotkan diri. Aku bisa pulang dengan taksi kok.”

Chanyeol tersenyum puas. Ternyata Eunji telah lulus penilaian sebagai yeoja baik-baik di matanya. Yeoja baik-baik mana yang dengan mudah menerima tawaran untuk mampir ke rumah atau diantar seorang lelaki yang belum dikenalnya apalagi di malam hari?

“Yasudah aku pergi dulu. Selamat malam, Chanyeol-ssi.” Eunji melambaikan tangan singkat dan berbalik untuk pergi.

Jamkkan (Tunggu dulu)! Boleh aku meminta…. nomor ponselmu?” Tanya Chanyeol ragu-ragu.

Eunji kembali berbalik menghadap Chanyeol dan nampak berpikir sesaat. “Baiklah.”

Chanyeol langsung mengambil handphonenya dan bertukar nomor dengan Eunji. Ia juga sempat mengirim misscall untuk memastikan kalau nomornya benar. Tak lama setelah itu Eunji benar-benar pamit pulang dan meninggalkan Chanyeol sendiri yang masih terus memandang ponselnya dengan perasaan lega. Sekarang seluruh rasa lelahnya seperti lenyap begitu saja.

~***~

                Krekk..

Waktu menunjukkan pukul 22.00 KST. Salah satu pintu apartemen di lantai 15 tersebut tertutup. Eunji duduk bersandar di balik pintu menatap kosong kedepan. Pertemuan ia dan Chanyeol beberapa saat lalu kembali membuat Eunji teringat seseorang. Mata Chanyeol juga sorotannya begitu familiar bagi Eunji. Tak terasa butiran bening meleleh dari sudut matanya.

Ia mengutuk dirinya sendiri yang dengan mudah memberikan nomor ponsel kepada Chanyeol. Itu artinya ia membuka peluang agar dapat berkomunikasi lebih lanjut dengan namja itu. Padahal dulu ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau sampai akhir hayatnya ia tak akan mau berhubungan dekat dengan seorang dari dunia entertain. Dunia tersebut mengingatkannya dengan masa lalu.

Dengan sisa tenaga Eunji merangkak menuju lemari dekat televisi. Ia meraih sebuah bingkai berisi foto sepasang kekasih dimana ia menjadi salah satu pelaku disana. Dua orang itu tersenyum penuh kebahagiaan. Eunji memeluk benda itu erat dan menangis makin jadi.

Sudah beberapa hari ini air matanya selalu terkuras setiap malam. Musim semi, musim dengan kenangan paling pahit di hidupnya. Ia sangat membenci musim ini juga tanggal 28 Maret dimana semuanya berakhir begitu saja tanpa ia sangka. Dan kenyataannya Eunji harus melewati tanggal itu di esok hari ia membuka mata.

Eunji membuka tas lalu mengambil handphonenya. Jarinya menekan speed dial nomor 3 yang langsung tersambung ke nomor beratas namakan sahabatnya, Yoon Bomi. Tak butuh waktu lama orang disebrang sana mengangkatnya dan Eunji pun langsung menceritakan hal yang baru saja ia alami beberapa jam lalu beserta efek pertemuan itu pada perasaannya.

~***~

                “Wah lama sekali kita tidak bertemu sampai rasanya rambutku sudah memutih.” Gurau Kim Joonmyun –dokter dermatologi sekaligus pemilik sebuah klinik terkenal. Dokter itu sedang menerima tamu di ruangannya.

Chanyeol dan Luhan yang duduk berhadapan dengannya di sofa tertawa kecil.

Hyeong berlebihan sekali. Kalau rambut hyeong memang sudah memutih lantas mengapa tidak cepat-cepat mencari istri, eoh? Hyeong mau mati sebagai perjaka tua? Hah, dua hyeongku ini sama saja tidak pernah ingat umur.” Perkataan Chanyeol barusan menimbulkan gelak tawa satu ruangan.

“Aish.. Park Chanyeol kau mau mati ya?!” Seru Joonmyun dan Luhan yang entah kenapa bisa bersamaan setelah berhasil mengendalikan tawa.

“Ampun!” Chanyeol memasang cengiran khas miliknya dan jari yang ia bentuk menyerupai V.

Joonmyun dan Luhan bertatapan sesaat kemudian terkekeh.

“Bagaimana film barumu? Kapan akan dirilis?” Tanya Joonmyun ke topik baru.

“Kira-kira akhir musim semi ini. Hyeong wajib nonton! Kalau tidak kau bukan hyeongku lagi.” Tukas Chanyeol. Ia merebahkan punggungnya yang sejak tadi dalam keadaan tegak di sandaran sofa.

Joonmyun terkekeh.”Ya! Memangnya kapan aku pernah tidak menonton film-film mu, eoh? Bahkan film yang kau-nya hanya numpang lewat saja sudah kutonton, Park Chanyeol.”

Hyeong lihatlah fansku yang satu ini setia sekali.” Chanyeol menyikut lengan Luhan pelan.

Luhan dan Chanyeol kini tertawa.

“Luhan, aku salut sekali pada kesabaranmu menjadi manajer bocah tengik satu ini.” Joomnyun berdecak dan menunjukkan ekspresi simpatik.

“Ya, begitulah. Terkadang aku lelah sekali sampai hampir mati rasanya.” Desah Luhan.

Hyeong aku tak seburuk itu.” Gerutu Chanyeol.

Tokk.. tokk.. tiba-tiba saja pintu ruangan Joonmyun diketuk dari luar.

“Masuk.” Joonmyun mempersilahkan.

Kemudian pintu terbuka, menampakkan Eunji bermasker dari sana sedang memegang papan jalan yang mengapit beberapa lembar kertas.

“Oh, Jung songsaenim (dokter Jung)?” Senyum Joonmyun melebar. Ia bagkit dari sofa.

Luhan dan Chanyeol yang duduk membelakangi pintu menolehkan kepala kebelakang. Napas Chanyeol seketika tercekat dan matanya melebar melihat siapa yang datang. Chanyeol tahu siapa itu walau ia memakai maskernya sekalipun.

“Permisi songsaenim, saya ingin menyerahkan hasil pemeriksaan.” Eunji berjalan mendekati Joonmyun.

Bola mata Chanyeol bergerak seiring dengan langkah Eunji. Tatapannya tak lepas sedikit pun dari yeoja itu. Luhan memandang Chanyeol tak mengerti.

Eunji yang masih tak sadar dengan keberadaan Chanyeol tetap melanjutkan tujuannya menghampiri ruangan ini. Ia menyerahkan laporan itu ke tangan Joonmyun. Joonmyun menerimanya dan membulak-balikkan halamannya sambil membaca setiap rentetan kalimat. Situasi masih berlangsung sama selama kurang lebih tiga menit.

“Hmm… Chanyeol wajahmu baik-baik saja. Masih bagus dan tidak perlu banyak perawatan.” Joonmyun membacakan hasil laporan sambil tersenyum puas kearah Chanyeol yang terfokus pada Eunji. Ia tak menyimak sehuruf pun yang terucap dari Joonmyun.

Eunji mendengar Joonmyun memanggil nama seseorang yang ia kenal. Yeoja itu menoleh kearah sofa yang sejak tadi ia tak sadari ada dua orang duduk disana, untuk memastikan. Tatapan Eunji dan Chanyeol bertemu. Napas Eunji kembali tercekat melihat mata bulat itu.

“Eunji-ssi..” Chanyeol bersuara.

A-annyeonghaseo Chanyeol-ssi.” Eunji membungkuk hormat.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Chanyeol.

“A-aku bekerja disini.”

“Wah, kau seorang dokter?”

Ne..”

Dua manusia itu bercakap seakan hanya ada mereka di tempat tersebut.

“Wah kalian sudah saling kenal ya?” Joonmyun melirik Eunji dan Chanyol bergantian.”Padahal baru saja aku ingin mengenalkan kalian. Chanyeol, Luhan, Jung Eunji ini dokter dermatologi baru di klinikku. Ia baru bergabung lima bulan lalu.”

Chanyeol dan Luhan sama-sama bangkit dari duduk dan memberi bungkuk hormat yang kemudian dibalas oleh Eunji. Tiba-tiba Eunji bersin secara bertubi-tubi.

“Maaf..” Yeoja berponi itu tertunduk karena merasa tidak sopan telah bersin-bersin di dekat atasannya.

“Jung songsaenim, apa kau sudah merasa lebih baik dari hari kemarin?” Joonmyun mengangkat dagu Eunji dengan tangannya. Ia memperhatikan setengah bagian wajah Eunji yang terlihat merah dan matanya terlihat sayu.

Sebenarnya sejak ia bangun tidur pagi ini, kepalanya malah jadi pusing dan ia makin sering bersin. Nampaknya sakitnya bertambah parah karena kelelahan. “Songsaenim, kalau boleh, saya ingin meminta izin pulang cepat hari ini. Sepertinya alerginya tidak bertambah baik.”

“Tentu saja saya mengizinkan. Pulanglah secepatnya dan beristirahat. Saya tidak mau terjdi apa-apa padamu,” Joonmyun tersenyum ramah. “Perlu saya antar?”

Eunji merasa sangat beruntung mempunyai atasan seperti Joonmyun. Namun itu tak membuatnya pernah berniat untuk memanfaatkan Joonmyun sedikit pun. “Tidak usah songsaenim. Songsaenim masih harus bekerja, terima kasih banyak.” Ia menolak dengan halus.

Chanyeol mulai berinisiatif untuk mengambil langkah.”Kalau aku antar saja bagaimana? Kebetulan aku dan Luhan hyeong juga sudah akan pamit pulang.” Kemudian ia melirik Luhan yang sejak tadi lebih mirip orang bodoh yang tak tahu apa-apa.

Luhan mengangguk bingung. “Eh i-iya, kami juga ingin keluar. Lebih baik kau bersama kami saja, Eunji-ssi.”

Eunji menatap ketiga namja itu bergantian sambil menimang-nimang keputusan.

“Sudahlah kau ikut saja Jung songsaenim. Andai kata kau kenapa-kenapa di tengah jalan, setidaknya ada yang bisa menolong.” Joonmyun ikut membujuk Eunji.

Akhirnya Eunji yang memang merasa tidak kuat lagi dan ingin segera beristirahat mengangguk singkat. Chanyeol tersenyum simpul. Mereka bertiga pun berpamitan dengan Joonyum. Kemudian berjalan menuju parkiran mobil setelah sebelumnya mengunjungi ruangan Eunji untuk mengambil barang milik yeoja itu.

Di sepanjang jalan tidak banyak yang dibicarakan kecuali Chanyeol menanyakan alamat Eunji karena yeoja itu terlelap. Hari ini Chanyeol tidak memakai van agensi karena ini bukan perjalanan kerja. Jadi ia lebih memilih memakai mobil sedan miliknya sendiri yang dikemudikan oleh Luhan. Luhan dan Chanyeol sama-sama duduk di bagian depan sedangkan Eunji duduk sendiri di jok belakang agar ia lebih leluasa beristirahat.

Tiga puluh menit kemudian mobil itu berhenti di parkiran apartemen daerah Songpa-gu. Eunji yang sudah bangun sejak beberapa menit lalu baru saja akan berniat keluar. Namun tubuhnya limbung dan tidak bertenaga ketika turun dari mobil. Chanyeol dengan cepat menawarkan bantuan. Walau sempat ditolak oleh Eunji tapi apa boleh buat, Chanyeol tetap memaksa.

Chanyeol yang lupa membawa alat penyamarannya hanya memakai kacamata hitam. Sepanjang jalan ia menundukkan kepala agar meminimalisir kemungkinan terlihat orang-orang. Sesuai petunjuk dari Eunji, keduanya menuju lantai 15 dengan lift. Tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya dua orang itu sampai di tempat tujuan.

“Cukup sampai sini saja, Chanyeol-ssi. Terimakasih atas semua bantuanmu sejak kemarin.” Eunji menekan kode nomor di samping pintu apartemennya dan kunci pun terbuka.

“Senang bisa membantu. Langsung istirahat, ne?” Pesan Chanyeol.

Eunji yang hendak menutup pintu memandang bayang mata Chanyeol dari balik kacamata coklat sesaat. Kemudian senyumnya mengembang disusul oleh perasaan tak karuan membuncah di dadanya.“ Algess-seubnida (baiklah).”

Mereka melambaikan tangan satu sama lain dan Chanyeol pun segera pergi. Eunji berjalan menuju tempat tidurnya dan langsung merebahkan diri. Ia tak mengerti kenapa setiap kebaikan dari Chanyeol terasa seperti seluruh perhatian yang dulu seseorang sering berikan padanya. Kini kondisi hatinya terasa sangat baik walau tubuhnya berkata lain.

Di tanggal 28 Maret ini, Eunji merasaka kehadiran ‘dia’ yang kembali lagi pada sisinya.

~***~

                “Sepertinya ada yang tidak aku ketahui disini.” Luhan berkacak pinggang.

Chanyeol baru saja kembali dari mengantar Eunji. Ia duduk di jok samping Luhan sambil memandang kedepan seakan sedang menerawang. “Hyeong, tolong datang ke kantor sipil dan cari semua informasi tentang Jung Eunji.”

Luhan mengangkat sebelah alisnya. “Untuk?”

Namja yang sudah menggeluti dunia entertain selama empat tahun terakhir ini menolehkan pandangannya ke Luhan dan memasang senyum simpul. “Kurasa aku sudah menemukan yeoja itu.”

“Maksudmu Jung Eunji?” Luhan memastikan.

“Aku belum bisa mengatakan iya, maka dari itu aku meminta hyeong agar mencari tahu info tentangnya untuk memastikan.”

Luhan mengangguk sambil menstarter mobil.” Lalu dimana kau bertemu dengan Eunji?”

Klik. Suara seat-belt Chanyeol yang terpasang.”Hyeong percaya tidak? Kemarin aku bertemu dengannya di apotek ketika ia sedang sibuk membongkar tasnya. Lalu dompet kami yang sama persisi tertukar dan saat sampai rumah kemarin ia datang untuk menukarkan miliknya.” Ia tertawa kecil mengingat ekjadian kemarin.

“Awal yang lucu.” Luhan ikut tertawa kecil lalu mobil sedan keluaran terbaru itu pun melesat sesaat setelah si pengemudi menginjak gas.

Jung Eunji’s POV

                Perkenalan tak disengajaku dengan Park Chanyeol terasa masih tak bisa dipercaya. Maksudku, hey bagaimana bisa aku, seorang yeoja biasa, berkenalan, mengobrol, mendapat bantuan, bahkan bertukar nomor ponsel dengan seorang aktor terkenal di Korea Selatan? Dan semuanya terjadi begitu saja dalam waktu yang singkat. Seperti keberuntungan yang kudapat ini salah alamat mengingat aku bukan fans dari Park Chanyeol.

Pagi hari ini aku masih bangun dengan hidung yang terasa sangat gatal dan berlendir juga tenggorokan perih. Untung saja sekarang akhir pekan dimana aku tak memiliki jadwal praktek dan dapat dimanfaatkan untuk beristirahat. Juga Bomi yang baru datang ini sangat membantu.

“Ini aku belikan bubur.” Bomi datang menghampiriku yang sedang duduk di sofa depan televisi dengan semangkuk bubur, segelas air, dan sebugkus obat pereda alergi di tangannya. Ia lalu menyodorkan mangkuk yang terasa masih hangat padaku sedangkan benda lainnya ditaruh diatas meja depan sofa.

“Ahh aku benci bubur… Kenapa tidak kau belikan saja aku ramyun pedas atau samgyetang? Hatchiii…

“Sudahlah jangan banyak alasan. Yang penting makan,’kan?” Bomi melangkah menuju dapur lagi.

Aku mendesis pelan. Dengan terpaksa aku menyendokkan ke mulut juga dengan tak berselera. Sebenarnya bukan benci, hanya saja, kalian pasti mengerti kan jika berada di posisiku? Saat tubuh sedang sakit rasanya memakan bubur setara dengan ketika kau memakan muntahan. Menjijikan.

Bomi lalu kembali lagi bersama segelas coklat panas dan baskom air hangat beserta sapu tangan yang nantinya digunakan untuk mengompres hidungku. Ia menaruhnya ditempat yang sama dengan benda lain.

Selama beberapa saat hanya ada suara dari para pemain drama It’s You yang disiarkan ulang oleh KBS setelah tayangan perdananya selesai tahun lalu, juga sesekali suara bersin yang ditimbulkan olehku. Kami berdua sama-sama berkonsentrasi menyimak jalan cerita drama ini dengan aku yang tetap menyuap bubur dalam suapan besar agar cepat habis. Iklan produk kosmetik Kim songsaenim yang baru itu tiba-tiba saja muncul disusul dengan cf lainnya. Padahal tadi hampir saja sampai ke adegan seru!

“Omong-omong, Kim songsaenim itu atasan yang baik sekali ya. ia juga tampan. Eunji-ya, kau beruntung sekali disukai oleh orang semacam itu. Jika kau menikah dengannya, kujamin hidupmu bahagia.” Bomi kembali bersuara. Kuyakin setelah ini ia tak akan pernah berhenti berbicara lagi sebelum drama kembali mulai. Itu pun tak menjamin.

Oh ya, aku lupa, Bomi juga seorang dokter dermatologi di klinik Kim songsaenim.

“Kau sudah mengatakan hal itu berkali-kali, Yoon Bomi. Bagaimana pun, belum terbukti, kan, kalau Kim songsaenim menyukaiku? Itu, sih, hanya firasatmu saja.” Jawabku acuh sambil menaruh sisa bubur yang tak habis di meja. Tanganku menjulur untuk meraih gelas air hangat dan obat. Kemudian meminumnya dengan cepat.

“Kalau ia tak menyukaimu, untuk apa Kim songsaenim memberimu perhatian lebih? Sorot tatapannya itu menunjukkan ada perasaan yang mendalam setiap kali memandangmu.” Celoteh Bomi. Tangannya ikut bergerak membentuk gestur yang membuatnya terlihat mendrama.

Sambil mengompres hidung, aku menjawabnya. “Mana kutahu. Lagipula sudah kubilang berkali-kali juga bukan, kalau aku sudah tak mau membuka hati lagi untuk siapa pun?”

“Kau gila?! Memangnya kau pikir kau bisa hidup begini seumur hidup? Terus-menerus hidup dengan bayangan masa lalu?!” Suara Bomi meninggi setengah oktav. Kepalanya menoleh kearahku bersama matanya yang melebar.

Aku hanya menggendikkan bahu. Aku tak mau membahas hal seperti ini lebih lanjut. Yang ada hanya mencongkel luka yang belum sembuh lebih dalam lagi.

“Tolong mengerti.” Gumamku.

Bomi mendesah,“Aku hanya tak mau kau begini terus..”

“Iya aku tahu… terima kasih Bomi-ya. Kau yang terbaik.” Aku tersenyum lirih. Bomi pun balas tersenyum singkat. Kalau sudah begitu artinya ia sedang berusaha mengerti situasi.

Detik berikutnya drama It’s You yang entah mengapa lama sekali mengambil jeda, akhirnya mulai kembali. Mempertontonkan adegan klimaks antara aktor Byun Baekhyun sebagai Shin Junho dan aktris Kim Taeyeon sebagai Yoo Ina yang akhirnya mengakui perasaan satu sama lain setelah diam-diam saling pura-pura acuh. Cara pernyataan cinta dari Junho sungguh romantis. Bomi yang menonton histeris sedniri layaknya ialah si pemeran yeoja.

Beberapa menit kemudian adegan berganti. Melihatkan seorang namja dengan tinggi menjulang dan berkuping caplang. Bukankah itu…… Park Chanyeol?

“Itu memang Park Chanyeol. Dia kan yang berperan sebagai Jo Kwangjin, si fotografer yang sering memotret Ina secara diam-diam.” Cicit yeoja disampingku ini.

Ternyata tanpa disadari tadi aku telah menyuarakan pikiranku sendiri.

“Benarkah?” Tanyaku memastikan.

Memang, aku tak begitu mengikuti jalan cerita drama ini jadi tak begitu tahu siapa saja yang berperan. Tidak seperti Bomi yang maniak sekali terhadap drama apa pun. Ia sangat update dan tahu hampir segalanya.

Bomi mengangguk. “Oh ya, kudengar dari Kim songsaenim, kemarin kau pulag diantar oleh Park Chanyeol. Benar?!”

Ne. Ia yang menawarkan.”

Seketika teriakan Bomi menggema di ruangan apartemenku. “Astaga, kau beruntung sekali! Sudah bertemu dengan artis terkenal, diantar pulang olehnya,bertukar nomor ponsel, nanti apalagi?!”

“Kuharap tidak ada lagi karena aku tak mau berhubungan dekat dengan entertainer. Siapa pun itu.” Tegasku.

Arasseo… arasseo, Jung Eunji.” Sungut Bomi. Ia meraih handphonenya dan mulai menyeret jari-jarinya keatas dan kebawah di atas layar touch screen itu.

Selagi Bomi asik sendiri dengan kegiatannya, aku meminum coklat panas yang mulai mendingin. Keadaan masih sama selama beberapa menit. Tiba-tiba saja Bomi memekik (lagi).

“Eunji! Eunji! Bwayo(lihatlah)!” Dengan tergesa-gesa Bomi mengeser duduknya lebih dekat dan menyodorkan handphonenya. Di layarnya menampilkan halaman daftar artikel baru berjudul ‘Siapa Wanita yang Bersama Park Chanyeol itu?’ dan ‘Sebenarnya Apa Hubungan Park Chanyeol Dengan Yeoja Misterius Itu?’

Awalnya aku biasa saja karena secara, Park Chanyeol itu public figure. Wajar-wajar saja jika ia bersama dengan seorang atau mungkin segudang wanita. Tidak ada yang salah sampai jari Bomi membuka artikel pertama dan meng-scroll halaman kebawah. Saat itu juga coklat hangat yang niatnya ingin kutelan malah tersembur keluar ketika melihat foto si wanita yang hanya terlihat profil bagian kirinya. Walaupun begitu, aku bisa mengenali si wanita dengan baik karena itu… aku?

Mataku bergerak membaca setiap rentetan kalimat.

Park Chanyeol terlihat bersama seorang yeoja di depan rumahnya pada 27 Maret lalu di malam hari. Keduanya nampak saling tersenyum senang seakan ada sorot spesial dari tatapan mereka. Apakah hubungan kedua orang ini sebenarnya? Dan siapakah yeoja itu?

                Dan artikel kedua, dengan fotoku dan Chanyeol yang sedang berjalan di lobi.

Kemarin, 28 Maret aktor muda Park Chanyeol tertangkap oleh seorang netizen sedang bersama yeoja yang sama pada tanggal 27 lalu di gedung sebuah apartemen. Walaupun ia memakai kacamata gelap tetapi tidak membuat netizen ini tidak mengenalinya. Park Chanyeol terlihat sedang memapah yeoja tersebut yang memakai masker menuju lift yang menuju lantai atas. Sayangnya identitas yeoja itu belum bisa terkuak mengingat terbatasnya akses ke lantai atas.

Disusul oleh beberapa komentar netizen yang kulihat, seperti:

Ilyeol                     : Siapa yeoja itu? Awas saja kalau ia berani merebut oppaku!

                Foreverpcy          : Ayo kita cari tahu siapa dia!

                Cylovers               : Apa perempuan itu menggoda oppa?! Apa ia gila?!

                Yeolja                    : Hey menjauhlah dari pacarku!!! Aku akan mencari tahu identitasmu, nona!

                Chanswifey        : Perempuan jalang, apa yang kau lakukan di malam hari besama suamiku?!

                Puppyboy           : Ini wajar-wajar saja. Hyeong kan juga punya kehidupan pribadinya. Tolong mengerti.

Kenapa bisa begini?! Netizen pasti benar-benar tak akan tinggal diam. Mereka akan mencari tahu tentangku dan ini BERBAHAYA! Aku bahkan tak melakukan kesalahan apa pun dan sekarang terlibat dalam artikel yang sudah masuk golongan hot news.

“Yoon Bomi, aku harus apa…”

*** To Be Continue ***

Gimana? Kepanjangan gak? Absurd yaaa? Aneh? Jelek? Huhu maaf ya maklum masih amatir T_T

Tapi makasih banget buat yang udah baca apalagi sampe nyempetin ngekomen dan ngasih dukungan.

I really appreciate it /spread love/♡♡♡♡

Kalo yang ngekomen banyak mungkin part selanjutnya bisa cepet selesai. Itu juga kalo aku gak sibuk hehe..

Iklan

28 pemikiran pada “28 In The Spring (Chapter 1)

  1. yuuaaa…aku bru tau ada ff ini lucu loo….apalagi chayeol..kak author..ayooo lanjutannya ya…please..pleasee……keep healty kak..jjanngg…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s