Empat Lima Huruf (Chapter 6)

Empat Lima Huruf

 

Title                        : Empat Lima Huruf – Chapter 6

Author                    : Vio (@violarosaliya)

Main casts             : Oh Sehun, Aira Miranda

Supporting casts  : Find it out through the stories

Genre                    : Romance, school life

Rated                     : General

Length                   : Multichapter

Disclaimer             : Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note        : I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you.

Summary               : Tidak mudah menyatakan cinta. Sungguh tidak mudah.Terkadang itu butuh waktu.Jangankan untuk menyatakannya, untuk menyadari dan meyakinkan diri bahwa hatimu telah lumpuh karenanya pun tidaklah semudah yang kau kira.Terkadang hati sulit menerima penolakan.Atau itu karena kau merasa tidak yakin pada hatinya.Hatinya yang mungkin juga jatuh pada hatimu.

(Sehun POV)

So Ra noona berteriak begitu histeris ketika melihat Kai pulang bersama Eun Hee dalam keadaan muka lebam dan dibantu berjalan oleh Eun Hee.Spontan kami berempat mendekati mereka berdua. Aku dan namja bernama Kris itu membantu Kai untuk masuk kedalam sedangkan Kyungsoo membawakan ransel dan skateboard Kai yang kelihatannya berat itu.

Aku dan Kris hyung mendudukkan Kai di sofa ruang tamu.Kami duduk mengelilinginya.So Ra noona terlihat sudah menyiapkan kapas, alkohol, dan obat.Ia duduk menggantikan Eun Hee yang beranjak menuju lantai atas. Tiba-tiba Kai bertanya apa kakaknya tidak apa-apa. So Ra noona malah berteriak pada Kai dan mengatakan bahwa seharusnya dia yang menanyakan itu pada Kai. Terlihat ia menyeka air matanya yang keluar. Mungkin dia sebegitu khawatirnya pada adik satu-satunya itu.Mereka memang sering bertengkar karena itulah noona sangat khawatir pada Kai.Lebih baik dia saling menjahili masing-masing daripada harus melihat adiknya pulang dengan muka lebam seperti itu.Iaakhirnya juga memarahi aku dan Kyungsoo.

“Kalian berdua tahu kalian sudah membuatku hampir kena serangan jantung” katanya sambil melotot padaku dan Kyungsoo.

Ne, maaf, noona, kami tadi juga sama paniknya karena dia sama sekali tidak menjawab telepon” aku mencoba membela diri.

“Ya sudah, kalian berdua bantu Kai keatas ya. Aku mau siapkan makan malam” titahnya.

Aku dan Kyungsoo akhirnya membantu Kai naik ke kamarnya untuk mengganti seragamnya yang sudah kotor dan terdapat noda darah di beberapa bagian.Tidak seperti biasanya, dia sedikit terlihat melamun saat aku dan Kyungsoo bahkan sedang berbincang dengan serunya.Kami berdua yang akhirnya menyadari kalau dia ternyata sudah melamun sedari tadi di sebuah sofa besar yang menghadap jendela kamarnya.

Namja itu.Siapa dia Kai?Apa dia pacar So Ra noona?” tanyaku.

“Tapi kenapa Eun Hee yang menemuinya?Apa mereka sudah kenal sebelumnya?”Kyungsoo menambahkan.

“Aku juga sedang menanyakan hal yang sama pada diriku, Sehun-ah, Kyungsoo” kata Kai.

“Jadi kau sama sekali tidak tahu siapa namja itu?Siapa tau dia sainganmu, Kai” kataku sengaja membuat mimik wajah serius dan itu sedikit menakutinya.

“Kau jangan menakutiku, Sehun-ah” katanya lagi.Aku tersenyum sedikit menggelikan mendengarnya berbicara seperti itu.

“Berarti kau harus bergerak cepat, Kai. Kau tidak mau semuanya terlambat kan?” kata-kata Kyungsoo bijak.

Tiba-tiba kami bertiga mendengar suara Eun Hee dari bawah.

“Eonnie, Kris oppa sudah mau pulang” katanya sedikit berteriak pada So Ra noona yang masih berada di dapur.Kami bertiga keluar dari kamar dan menyelinap di antara tangga untuk memantau kondisi terbaru.

Jinjja? Apa kau tidak mau makan dulu bersama kami?” tanya So Ra noona.

“Next time ya So Ra. Aku benar-benar harus pulang sekarang” kata namja yang berbadan tinggi itu. Aku melihat Kai tersenyum itu mungkin karena namja itu akan pergi dari sini sebentar lagi. Terlihat Eun Hee dan So Ra noona mengantarnya sampai ke pintu rumah.

“Aku pulang ya, So Ra” dia berpamitan.

“Bye, Eun Hee” katanya pada Eun Hee sambil mengacak-ngacak rambut yeoja itu dan Eun Hee hanya tersenyum. Wajah Kai yang semula tersenyum terlihat bersungut-sungut karena adegan spontan yang sama sekali tidak ingin dia lihat itu.

Namja itupun berlalu.Terdengar mobilnya menderu menjauhi kediaman kami.Kami bertiga yang masih di tangga buru-buru naik ke kamar takut ketahuan kalau kami menyelinap.Sesaat dikamar kami langsung mengambil posisi masing-masing.Tiba-tiba Eun Hee muncul dari balik pintu kamar.

“Ayo semua makan malam sudah siap” katanya pada kami bertiga.Spontan aku dan Kyungsoo berlari keluar kamar untuk turun ke dapur meninggalkan mereka berdua.So Ra noona sedikit kaget mungkin karena kecepatan kami dalam merespon ajakan makan yang super cepat itu. Kami melesat dari kamar mungkin kurang dari lima detik saja tanpa memperdulikan Kai yang sepertinya minta bantuan untuk bisa turun menuju dapur. Namun, selain karena otak kami berdua yang sudah penuh oleh satu tujuan sepertinya meninggalkan Kai dan Eun Hee berdua saja bukan ide yang buruk juga. Mungkin Kai bisa lebih mendekatkan diri pada yeoja  yang dia diam-diam sukai itu.

Lima menit kemudian saat kami sudah hampir menghabiskan satu piring spaghetti mereka berdua baru saja turun menuju meja makan. Seketika kami berdua menghentikan proses makan kami karena adegan yang tiba-tiba saja kami saksikan. Eun Hee tidak hanya membantu Kai turun dari lantai dua dan mendudukkan Kai di kursi tetapi juga membantunya mengisi spaghetti ke piring untuk Kai dan mengambilkan sebuah mangkuk untuk sup. Kami berdua spontan tertawa untung saja tidak sampai tersedak.

“Yaa, ada apa sih?Apa ada yang aneh?” katanya sedikit kesal pada kami.

“Kau benar-benar mau tau, Kai” tanyaku dengan tawa yang sudah sedikit terkontrol.Dia mengangguk mantap.

“Kami cuma merasa lucu, Kai” kataku lagi.

“Kalian berdua seperti tidak menganggap kami bertiga ada disini.Saat datang kalian langsung beraktivitas seperti sepasang suami istri yang sedang makan malam. Eun Hee langsung mendudukkanmu lalu memberikan piring penuh spaghetti lalu saat spaghettimu habis dia langsung menanyaimu apa kau mau sup? Saat kau bilang ia dia langsung mengambilkan mangkuk kecil untuk supmu” kataku menjelaskan.Eun Hee terlihat menunduk malu.

“Ah, sudahlah, Kai.Apa aku harus jelaskan dua kali baru kau bisa mengerti?” lanjutku lagi.Mereka bertiga kembali tertawa dan pipi Eun Hee makin bersemu merah.

Setelah makan malam usai kami bertiga memutuskan untuk menonton TV sedangkan Eun Hee dan So Ra noona sedang sibuk mengobrol di perpustakaan mini.So Ra noona sepertinya sangat senang karena bisa mengobrol dengan Eun Hee.Mana bisa dia mengobrol seseru itu dengan Kai.

Kami memutuskan untuk tidak pulang dan sengaja menginap disini karena rasa persahabatan yang sangat kuat itu.Hahaha.Program TV yang ditayangkan malam ini sedikit membosankan, kami akhirnya memutuskan untuk tidur.Aku dan Kyungsoo sudah menjarah tempat tidur Kai.Kyungsoo sudah tertidur dengan menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia memang sedikit aneh saat tidur, dalam cuaca seperti apapun, dingin ataupun panas dia akan tetap menutupi tubuhnya. Dan aku baru saja akan terlelap saat Kai berlari tergopoh-gopoh masuk dan menutup pintu kamar. Aku sempat menanyakan ada apa dengannya walaupun antara masih sadar atau tidak. Aku bahkan tidak mendengar apa yang dia katakan. Tetapi aku masih melihat wajahnya yang sedikit aneh menurutku.

♪ ♪ ♪

(Sehun POV)

Kami berangkat dari rumah Kai cukup hari ini karena aku harus pulang kerumah terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah dan mengantarkan Kyungsoo yang sudah aku culik secara paksa karena insiden Kai semalam.

Kai tetap ingin berangkat kesekolah walaupun kondisinya tidak terlalu fit dan luka lebam di wajahnya masih sedikit berbekas pagi ini. Dia sedikit mengantuk saat kami memutuskan untuk berangkat pagi dan memilih bangku belakang mobil untuk tidur sejenak sampai kami tiba dirumah Kyungsoo. Kelihatannya dia mungkin tidak tidur semalaman entah apa yang membuatnya begitu.

Saat Kyungsoo tiba dirumahnya kami bergegas menuju rumahku, Ia pindah ke kursi penumpang disampingku tapi masih dengan mata terpejam dan posisi tidur. Namun ia sempat mengingatkan untuk dibangunkan saat tiba dirumahku nanti. Aku sengaja tidak berniat mengganggunya pagi ini.Dia terlihat benar-benar mengantuk.

Aku sengaja tidak memarkirkan mobil masuk ke area halaman melainkan di trotoar depan rumah untuk mempercepat waktu menuju sekolah. Aku membangunkan Kai lalu kami berdua masuk ke dalam rumah.Kami berdua langsung disambut oleh pelototan eomma.

Eomma, 20 menit lagi bel akan berbunyi dan gerbang sekolah akan ditutup. Nanti sepulang sekolah aku akan jelaskan atau mungkin eomma bisa bertanya langsung pada Kai” kataku dengan sangat cepat seraya naik menuju kamar pada eomma yang bahkan sama sekali belum bertanya apapun.

Eomma melirik Kai dan mendapati wajah Kai yang masih terdapat sisa-sisa lebam disana.Dari lantai dua aku mendengar suara sedikit histeris eomma melihat wajah Kai yang masih lebam. Hampir sama histerisnya dengan So Ra noona tadi malam. Bagus kalau begitu, eomma bisa sedikit melupakan pertanyaan kenapa aku tidak pulang semalam.Tapi eomma tidak seharusnya marah. Aku kan sudah mengirim pesan padanya. Ah entahlah. Yang pasti aku harus bergegas mengganti baju dengan seragam sekolah.

Saat aku sudah rapi dengan seragam sekolah, akupun menggendong ransel merah besarku menuju lantai bawah.Aku sedikit terkikik melihat Kai yang sudah dicekoki oleh satu gelas besar jus yang telah dicampur dengan minuman herbal.Terlihat Kai sangat menderita saat meminum jus itu.Berbanding terbalik dengan eomma yang sudah tersenyum senang sambil memujinya anak pintar karena hampir menghabiskan kurang dari limat menit.Eomma mengelus rambut Kai sambil berharap dia cepat sembuh.Kai sekarang sudah terlihat mual.Aku semakin terkikik sekaligus kasihan pada temanku itu.Segera aku mengambil satu botol air minum dan mengisinya dengan air putih lalu berpamitan pada eomma dan mengajak Kai segera menuju sekolah.Eommapun mencium pipi kami berdua sebelum kami benar-benar keluar menuju halaman dan berpesan untuk hati-hati.Kami melambaikan tangan pada eomma.

Akhirnya aku bisa tertawa dengan sangatnya ketika kami sudah kembali berada di dalam mobil.Kai terlihat sedikit manyun padaku dengan wajah mengantuknya itu.Aku semakin terkikik melihat ekspresinya itu.

“Haha.Mian Kai.Maafkan eommaku.Eomma memang suka begitu.Apalagi melihat bekas lukamu itu.Kau tahu kan eomma memang cepat sekali khawatir” kataku sambil memberikannya satu botol air minum yang tadi aku bawa.

Ne, arasso¸ Sehun-ah.Aku akan membiasakan diri” katanya lagi sambil meminum setengah botol air dan mencoba menggunakan sebuah kacamata hitam untuk menutupi ekspresi ngantuknya. Kami sudah memasuki kawasan sekolah ketika aku melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 06:50. Itu berarti 5 menit lagi bel akan berbunyi dan 10 menit lagi gerbang akan ditutup. Kai turun di halaman sekolah dan beranjak menuju salah satu bangku taman sambil menungguku memakirkan mobil.

Beberapa siswi kelas X dan XI sibuk memperhatikannya yang terlihat keren hari ini karena Raybanhitam itu. Aku tertawa dari kejauhan memperhatikan tingkah parayeoja itu. Mereka tidak tahu kalau tanpa kacamata itu Kai benar-benar terlihat mengerikan dengan wajah ngantuk dan luka lebam yang akan terlihat jelas. Kami bergegas menuju kelas karena kelas matematika akan mulai sebentar lagi.

Kami berjalan beriringan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlihat cool mungkin sehingga beberapa siswi yang berada di lorong yang kami lewati sedikit terkagum. Lagi-lagi aku rasanya benar-benar ingin tertawa karena pikiran mereka salah total.Ketika menapaki tangga menuju lantai dua dimana kelas XI berada aku teringat pada Aira. Aku merasakan dua perasaan sekaligus, sedih karena dia masih belum bisa bersekolah dan senang karena kondisinya sudah membaik dan akan pulang nanti sore. Aku makin bersemangat karena aku yang akan menjemputnya. Senyum lebarku semakin memudar saat memasuki kelas.Aku merasakan sedikit keanehan dengan ekspresi serius teman-teman sekelasku yang sibuk dengan buku matematika.Tiba-tiba aku teringat kalau hari ini ada tes.Astaga aku benar-benar lupa.

“Kai, apa kau ingat hari ini ada tes matematika?” tanyaku sedikit cemas karena sama sekali tidak belajar.

“Iya.Makanya semalaman aku tidak tidur.Aku kira kau sudah belajar dan kau juga terlihat sangat mengantuk makanya aku tidak mengajakmu belajar tadi malam” jelasnya yang membuat aku semakin panik.

Mr. Bang Yongguk, guru matematika terkiller satu sekolah pun masuk kedalam kelas dan menuliskan beberapa peraturan dalam tes kali ini. Aku yang sejak memasuki kelas sudah panik kini bertambah sepuluh kali lebih panik terlebih ketika ia menunjuk topi dan tas yang masih aku pakai. Ia juga menunjuk kacamata Kai. Walaupun masih muda ia cukup disegani dikalangan guru terutama para siswa. Mr. Bang membagikan kertas yang berisi sekitar dua puluh soal mengenai lima materi terakhir yang sudah kami pelajari hampir satu bulan. Aku menerima kertas soal sesaat setelah melepaskan topi dan ranselku.Setengah kaget aku melihat soal-soal yang tertulis di kertas.What is the day today? Is it a bad day or good day?

♪ ♪ ♪

(Author POV)

Kai terlihat sedang berdiri dalam antrian pesanan makan siang mereka sedangkan Sehun duduk di sebuah bangku dengan jendela besar di sampingnya.Ia sedang menatap langit biru yang penuh awan. Mungkin sedang memikirkan sesuatu karena wajahnya terlihat sedang berpikir dengan keras.

Segera Kai membawa dua pesanan makanan menuju tempat Sehun yang sedang menuliskan sesuatu pada notebook warna silvernya.

“Ini pesananmu” katanya sambil meletakkan nampan berisi dua botol air mineral, satu gelas jus, satu bubble tea, dan dua piring nasi goreng yang merupakan menu baru di kantin sekolah mereka.

Ne, gomawo, Kai” kata Sehun sambil mengambil bubble teanya lalu kembali sibuk menulis.

“Kau sedang menulis apa? Bukannya kau masih stress karena tidak siap menghadapi tes tadi?” tanya Kai sambil membuka tutup botol air mineral.

“Iya sih.Sedikit menyedihkan mengingat aku bisa lupa bahwa ada tes hari ini.Ini semua juga salahmu, tau” Sehun akhirnya menyalahkan Kai.

“Lho?Bagaimana bisa itu salahku?”Kai tidak terima dia disalahkan.

“Yaa pokoknya itu salahmu” kata Sehun yang malas menjelaskan karena sibuk berkonsentrasi dengan apa yang sedang ia tulis.

“Benar-benar tidak berasalan” Kai mencibir sambil mulai menikmati nasi gorengnya.

“Apa kau akan tetap makan seperti itu, Kai?” tanya Sehun sambil menunjuk kacamata hitam yang masih Kai gunakan.

“Ya, sepertinya begitu.Terlalu banyak orang disini kalau aku buka nanti seluruh sekolah malah bisa melihat luka lebam ini” jelas Kai sambil mengangkat sedikit kacamatanya sehingga luka di dekat matanya sedikit terlihat.

“Yang aneh malah kalau kau makan seperti itu, Kai.Tidak biasanya kau seperti itu, orang-orang malah akan semakin penasaran” Sehun memberikan pendapatnya.

Ne, arasso” katanya meletakkan sendok dan melepas kacamata hitamnya. Kemudian ia menggantinya dengan sebuah kacamata berlensa bening dengan gagang warna hitam sedikit menutupi lukanya yang masih sedikit kentara.

Is it okay?” tanya Kai.

“Ya, begitu lebih baik. Dengan kacamata hitam tadi mungkin orang akan mengira kau detektif yang menyamar. Haha” kata Sehun sambil tertawa.

“Oh, ya. Apa itu naskah drama yang ditugaskan Kim sangsaenim?” tanya Kai yang sudah melanjutkan makannya.

“Ya.Ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki dan diselesaikan.Rencananya aku akan menunjukkannya pada Aira nanti” kata Sehun sedikit tersenyum sambil menutup notebooknya dan mulai makan.

“Bagaimana kabarnya? Apa dia sudah baikan” tanya Kai. Sehunpun mengangguk.

“Nanti sore aku akan menjemputnya di rumah sakit” tambahnya.

“Oya?Nanti sore? Kenapa bisa kau yang menjemputnya?” tanya Kai lagi.

“Sejak kapan kau begitu ingin tau seperti ini, Kai?” kata Sehun terlihat mengejek Kai yang sepertinya benar-benar ingin tahu.

“Ya, Sehun-ah” teriak Kai hampir saja melemparkan garpu pada Sehun.

Sehun hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu.Dia masih sibuk dengan gadget-nya saat seorang siswa tingkat dua mendekati keduanya.

Annyeonghaseo” sapanya sopan pada Sehun dan Kai yang disertai anggukan keduanya.

“Ya, ada apa Jungkook-ssi?” tanya Kai yang ternyata mengenal adik kelasnya itu.

Ne, aku kesini ingin memberitahu Sehun sunbae kalau kau diminta oleh Mr. Bang untuk menemuinya nanti sepulang sekolah” Jungkook menjelaskan maksudnya.

Jinjja? Apa Mr. Bang memberitahumu kenapa aku harus menemuinya nanti?” tanya Sehun seperti mencoba memastikan sesuatu. Ia benar-benar tidak mau jika harus punya masalah dengan guru killer itu.

“Tidak, sunbae.Mr. Bang tidak memberitahu apa alasannya” jawab Jungkook membuat Sehun semakin cemas tentang ujian matematika tadi pagi.

“Oke, terima kasih, ya” Sehun berterima kasih pada adik kelasnya itu yang kembali membungkuk sebelum meninggalkan keduanya.

“Ya, Kai.Ini semua salahmu tau” kata Sehun mulai marah lagi pada Kai.Ia terlihat seperti tidak tau harus berbuat apa. Sampai-sampai sekarang ia sudah menenggelamkan wajahnya ke meja. Ia sedikit takut membayangkan wajah galak Mr. Bang dan terutama hukuman yang akan dia dapatkan.

Bel masuk jam terakhir pun berdentang tiga kali. Satu persatu siswa mulai meninggalkan kantin menuju kelas mereka masing-masing.

“Ya, Sehun-ah.Kau masih mau berapa lama lagi meratapi nasibmu itu?Kalau kau masih mau tetap disini aku masuk ke kelas duluan ya. Aku tidak mau terlambat masuk kelas Bahasa Jepang” kata Kai yang langsung berlalu begitu saja ketika ia menyelesaikan kalimatnya.

Beberapa detik kemudian Sehun pun bangkit dan langsung berlari menyusul Kai yang sudah berada di ujung lorong.

“Ya, Kai.Tunggu aku” teriak Sehun sepanjang lorong.

♪ ♪ ♪

(Sehun POV)

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Kai?” tanyaku pada Kai saat kami berdua sudah berada di depan ruang guru.

“Masuk dan temui dia, Sehun. Kau benar-benar cari masalah jika kau tetap disini seharian atau tidak menemuinya sama sekali” ia terlihat kesal melihatku yang masih berdiri kaku sejauh dua meter dari pintu masuk.

“Ya, Sehun-ah. Cepat masuk dan temui dia” Kai mulai berteriak dan akhirnya mendorong aku sampai wajahku sudah hampir menempel di depan pintu.

Aku mulai mengetuk pintu dan dan memegang gagangnya untuk masuk.

“Aku tunggu diparkiran ya” Kai melesat pergi begitu saja saat aku baru menjejakkan satu langkah ke ruangan kantor.

“Dasar kau, Kai.Teman yang tidak setia” rutukku dalam hati.

Aku akhirnya memasuki ruang guru yang cukup besar itu.dan mulai mencari dimana ruangan Mr. Bang berada. Akhirnya aku menemukan Mr. Bang tidak berada diruangannya melainkan sedang duduk di sofa sambil menikmati makan siangnya.Aku membungkuk saat melihatnya.Ia memberikan kode untuk mendekat dan itu membuat kepanikanku semakin menjadi-jadi.

“Ia bahkan masih terlihat killer saat makan siang” pikirku dalam hati.

“Selamat siang, Mr. Bang” aku memulai percakapan.

“Maaf kalau saya mengganggu makan siang . . .” dia menyuruhku untuk duduk di salah satu sofa disampingnya sebelum aku menyelesaikan kalimatku.Aku terdiam beberapa menit sambil menunggu guru matematikaku itu menyelesaikan makan siangnya.

“Ada apa Mr. Bang memanggilku?Apa karena hasil ujian matematikaku tadi pagi?” tanyaku akhirnya langsung ke inti permasalahan.

“Bagaimana menurutmu hasil ujianmu tadi pagi?’ tanya Mr. Bang dengan tampang galak sambil menyeruput Machiato Coffee-nya.

 

“Aku rasa hasilnya benar-benar buruk.Maaf, Mr. Bang” kataku sambil menundukkan kepala.Aku tahu ini semua memang kesalahanku.

“Bisa aku beri aku satu alasan?” ia kembali bertanya.

“Maaf Mr. Bang aku tidak bermaksud untuk tidak mempedulikan mata pelajaranmu.Tapi aku benar-benar lupa kalau hari ini ada tes” aku masih menundukkan kepala.Itu mungkin salah satu alasan yang paling tidak mungkin bisa diterimanya.

“Kenapa kau minta maaf padaku? Kau seharusnya minta maaf pada dirimu sendiri” ia akhirnya mengeluarkan kata-kata pedas itu. Namun, harus aku akui itu memang benar.Aku bertanggung jawab atas diriku sendiri.

“Hasil ujianmu kali ini adalah yang paling buruk, Sehun.Aku tahu kau mungkin tidak terlalu pintar di Matematika.Tapi hasil ujianmu tadi pagi benar-benar tidak memenuhi standar nilai.Aku rasa kau perlu pelajaran tambahan selama seminggu sebelum aku kembali memberikanmu ujian perbaikan” Mr. Bang akhirnya menjelaskan situasi yang sebenarnya.

“Baiklah, Mr. Bang. Terima kasih” kataku akhirnya berterima kasih pada Mr. Bang dan beranjak dari sofa.

“Iya. Kita akan mulai nanti jam tiga, Sehun. Kau bisa makan siang dulu sekarang” katanya meninggalkanku yang masih bingung.Selama beberapa detik aku mencerna kata-katanya.

“Apa?Mulai hari ini?Jam tiga?” aku berteriak di dalam hati.

“Bagaimana ini?aku sudah mengatakan iya. Walaupun tidak aku tetap harus ikut pelajaran tambahan kan? Bagaimana dengan Aira? Bisa hancur semua rencanaku sore ini”

Rentetan kalimat satu persatu masuk ke dalam pikiranku yang akhirnya memberikan satu kesimpulan bahwa aku mungkin tidak bisa menepati janjiku pada Aira.Bagaimana ini? Segera aku berlari menuju lapangan parkir sekolah dan menemukan Kai sedang mengobrol dengan beberapa siswa kelas X.

Aku sedikit kehabisan napas karena berlari cukup jauh dari ruang guru lalu mengatur napas sebelum menyampaikan hal mengagetkan ini pada Kai.

Beberapa siswa yang tadi mengobrol dengannya memilih untuk berpamitan pada Kai saat aku menghampirinya.Ya itu lebih baik, jangan sampai mereka mendengar betapa killer Mr. Bang dari percakapan kami nanti.

“Ya, Kai.Aku harus bagaimana sekarang?” kataku cepat tanpa babibu.

“Ya, Sehun-ah.Tenang. Ada apa? Apa maksudmu bagaimana sekarang?” ia memintaku tenang dengan menjawab pertanyaannya satu persatu.

“Nilai ujian matematikaku pagi tadi benar-benar jelek, Kai.Dan aku harus ikut kelas tambahan sore ini pukul tiga” kataku panjang lebar tanpa jeda.

“Itu wajar, Sehun. Kau sama sekali tidak belajar kan? Dan kelas tambahan memang sudah peraturan dari sekolah. Terus apa yang salah?” ia masih tidak mengerti apa yang aku katakan.

“Iya.Aku sudah tahu itu semua, Kai. Tapi sore ini aku sudah punya janji pada Aira, tidak mungkin kan aku batalkan begitu  saja” jelasku padanya.

“Kau kan hanya janji menjemputnya pulang dari rumah sakit. Kalau kau beritahu kau ada kelas tambahan dan tidak bisa memenuhi janjimu kemarin dia pasti bisa mengerti kan?” Kai benar-benar tidak mengerti situasiku saat ini.

“Ya, Sehun-ah.Kau sudah berlebihan.Tenang sedikit. Ini hanya kelas tambahan kan?” lanjutnya.

“Ini benar-benar genting, Kai” aku semakin panik saat waktu sudah menunjukkan 30 menit menuju pukul tiga siang. Akupun memutuskan untuk menceritakan apa yang aku perbincangkan dengan Baekhyun beberapa hari lalusebelum aku bertemu dengan Aira. Bahwa aku hanya punya satu kali kesempatan untuk menunjukkan aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah aku katakan.

Take it or leave it. And I’ve choosen that I will take this one because I have only a chance from him.

Kai terlihat berpikir sejenak sesaat setelah aku menceritakan semuanya.Dahinya berkerut seperti sedang memikirkan jawaban soal kimia mengenai atom dan molekul.

“Aku sedikit tidak mengerti siapa sebenarnya Baekhyun dan apa hubungannya secara spesifik dengan Aira. Tapi apapun itu akan coba membantu. Kelas tambahan dari Mr. Bang biasanya berlangsung sekitar dua jam tiga puluh menit kan? Jadi kau akan selesai sekitar pukul lima tiga puluh” kalimatnya menggantung.Ia masih memikirkan kelanjutannya. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi.Sudah cukup kekagetan untuk hari ini. Nilai ujian jeblok, kelas tambahan, dan sekarang aku harus mencari cara agar tidak membatalkan janji karena jadwalku yang tiba-tiba berbenturan seperti ini. Aku mondar mandir di depan Kai yang duduk di bangku di bawah sebuah pohon flamboyan tanpa memikirkan cuaca pukul 02:30 siang.

“Bagaimana kalau aku dan Kyungsoo datang menjenguk Aira nanti sekitar pukul lima, lalu memastikan jam berapa ia akan keluar dari rumah sakit. Kami akan kabari kau jika ada sesuatu yang penting. Apa kau setuju?” ia memberikan opsi yang sepertinya terbaik untuk sedikit membuat aku lega.

“Oke baiklah.Hubungi aku ya.Terima kasih, Kai.Kau memang sahabat baikku” kataku dengan wajah lega hampir saja aku menciumnya.

“Ya, Sehun-ah. Apa-apaan ini?” ia memandangku dengan tatapan aneh. Aku hanya bisa tersenyum lebar.

“Aku sudah minta Kyungsoo menjemput tadi.Kau bisa pergi makan sekarang. Aku akan menunggunya di depan gerbang sekolah” katanya berlalu sambil menggunakan kaca mata hitamnya lagi.

“Ya, Kai.Saranghae” aku berteriak padanya dan saat ia berbalik aku memberikan heart sign lalu iapun buru-buru berlari menjauh. Aku terkikik melihatnya.

Kriuk.Kriuk.

Ternyata aku sampai lupa bahwa cacing di perutku belum diberi makan.Aku kembali masuk menuju kantin untuk mendapatkan menu makan siang.

 

(Author POV)

Pukul 03:30 pm. Kelas Tambahan Matematika Mr. Bang

Sehun terlihat sedang menggigiti ujung pensil saat ia sedang konsentrasi mengerjakan soal nomor enam dari 40 soal yang diberikan Mr. Bang. Soal-soal yang cukup sulit sepertinya.Suasana kelas yang hanya diisi oleh enam orang siswa benar-benar hening sekarang.Keenam namja kelas XII ini mendapat nilai di bawah standar dari ujian matematika mereka yang terakhir. Sedikit bosan mengerjakan soal yang tidak bisa ia selesaikan, Sehun melirik jam dinding dan kaget ternyata kelas baru berjalan tiga puluh menit saja.

Ia kembali ke lembar soal sambil membuka beberapa buku catatan dan buku teks. Melompati beberapa soal yang ia anggap sulit. Terlihat tersenyum saat menemukan jawaban benar dari hasil kalkulasinya.Mr. Bang terkadang menghampiri murid-muridnya sambil mengecek sudah sejauh mana tugas yang ia berikan diselesaikan.

Pukul 04:55 pm

Sebuah pesan masuk membuat smartphone Sehun bergetar selama lima detik. Terlihat nama Kai sebagai nama pengirim.

 

Sehun menghembuskan napas lega saat tahu dua orang yang akan mengulur waktu untukknya sudah mulai menjalankan rencana kami tadi. Ia kembali bersemangat mengerjakan 20 soal terakhir.

 

(Sehun POV)

Pukul 05:35 pm

“Baiklah tolong kumpulkan lembar jawaban kalian ke depan sekarang. Karena sudah pukul 05:35 kalian boleh pulang.Besok aku akan berikan hasil dan evaluasinya” Mr. Bang menyusun lembar jawaban kami lalu keluar dari kelas.Seketika kami berenam bernapas lega karena akhirnya bisa menyelesaikan tugas berat itu. Aku baru saja akan menuruni tangga menuju lantai satu saat pesan dari Kyungsoo masuk.

 

 

 

 

“Kalau aku pulang kerumah dan berganti pakaian aku benar-benar akan terlambat.Aira pasti sudah pulang nanti saat aku tiba disana.Sebaiknya aku kesana sekarang” aku akhirnya melesat menuju parkiran mobil sambil membalas singkat pesan Kyungsoo.

Aku memacu laju mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari sekolah. Aku perkirakan akan tiba disana dalam waktu 20 sampai 30 menit. Jadi aku masih punya waktu, paling tidak aku tidak datang terlambat dan membuat Aira serta eommanya menunggu.Jalanan yang lumayan padat membuatku sampai di rumah sakit lebih dari 30 menit.Aku mendapati Kai dan Kyungsoo sedang duduk di sofa lobi rumah sakit.

“Ya, Sehun-ah.Kenapa lama sekali?Sebaiknya kau langsung menemuinya. Sebentar lagi dia akan keluar dari sini. Jangan sampai si Baekhyun itu yang datang kesini” kalimat panjang lebar Kai menyambutku.

“Kau masih mengenakan seragam sekolah?” tanya Kyungsoo memelototi seragam sekolahku.

“Ya, Kyungsoo, mana sempat aku pulang kerumah, mandi apalagi mengganti pakaianku. Kau yang bilang aku harus langsung kesini kan?” kataku membela diri.

“Sudah.Ganti kemejamu dengan ini” kata Kai sambil memberikan sebuah kaos berwarna hitam padaku.Aku lalu mencari kamar mandi terdekat untuk mengganti seragamku dan segera kembali menuju lobi.

“Aku langsung ke atas ya.Terima kasih Kai, Kyungsoo.Nanti aku traktir kalian makan ya” kataku sambil setengah berlari menuju lantai dua dimana kamar Aira berada.

Good luck, Sehun-ah” teriakan Kyungsoo menyemangatiku sebelum mereka beranjak keluar dari lobi.

Aku masih setengah terengah-engah saat tiba di depan kamar Aira dan belum sempat mengatur napas dengan benar saat seseorang membuka pintu kamar yang tepat sepuluh senti dari wajahku.

“Ya, oppa.Kau mengagetkanku” suara yang aku kenal membuatku langsung memberikan senyum padanya.

“Aku mau mengembalikan form ini ke lantai satu sebentar. Oppa masuk saja dulu ada eomma di dalam” katanya yang sangat cantik hari ini dengan rok flare warna hitam dan sebuah hoodie besar berwarna pink.

Aku memasuki kamar dan mendapati eomma sedang melipat beberapa baju Aira.Ia tersenyum padaku dan mempersilahkan aku untuk duduk.

“Ada yang bisa aku bantu, eomma?” tanyaku merasa tidak enak hanya melihat eomma sibuk sendiri sementar aku hanya duduk-duduk saja.

“Tidak apa-apa, Sehun.Semuanya sudah dirapikan.Kau bisa membantu membawa ini kebawah nanti” kata eomma sambil menunjuk sebuah big bagberisi pakaian Aira.Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Apa kau belum pulang kerumah? Kau masih memakai seragam sepertinya” tanya eomma melihat celana panjang yang masih terlihat kentara sebagai seragam sekolah.

Ne, eomma.Tadi aku ada kelas tambahan matematika dan baru selesai pukul 05:40 jadi aku langsung kesini” aku menjelaskan.

“Apa kau bertemu dengan Kai dan Kyungsoo? Tadi mereka sempat menjenguk Aira kesini” tanya eomma lagi tanpa tahu kalau ini semua sudah direncanakan. Miannhe eomma.

“Oh, iya.Aku sempat bertemu mereka tadi di lobi tadi” kataku pada eomma yang sekarang sudah menyelesaikan tugasnya.

Aira akhirnya kembali ke kamar dan memberitahu bahwa dia sudah diperbolehkan pulang.Kami bertiga keluar dari ruangan lalu turun menuju parkiran mobil.Aku memasukkan big bag Aira ke bagasi mobil.Eomma sudah masuk dan duduk di kursi belakang sedangkan Aira di bangku samping kemudi. Itu berarti kami akan duduk bersebelahan kan? Bagaimana ini?

“Kita berangkat sekarang?” tanyaku sesaat sebelum menstarter mobil disertai anggukan Aira.Ia terlihat senang pulang kerumah. Itu berarti dia tidak harus mencium bau obat-obatan rumah sakit yang sama sekali ia tidak suka itu lebih lama.

“Apa kabar sekolah, oppa?Haha.Apa aku berlebihan? Aku baru tiga hari tidak ke sekolah kan?” katanya menertawakan ucapannya sendiri.

Apa baru tiga hari? Ini sudah tiga hari aku tidak bisa melihatmu disekolah.Dan itu sangat tidak mengenakkan.Seperti ada bagian yang hilang dari hari-hariku selama tiga hari belakangan ini.

“Oya, oppa.Bagaimana dengan naskah dramanya?Maaf kalau kau jadi harus bekerja sendiri” katanya terdengar menyesal.

“Haha, tidak apa-apa.Kau bisa lihat disini” kataku sambil mengeluarkan notebook silverku.Aira membuka dokumen berisi naskah drama yang sudah hampir aku selesaikan itu.Ia membaca cepat beberapa bagian penting. Lalu memberikan komentarnya dan kami mulai berdiskusi kecil selama perjalanan menuju rumahnya atau lebih tepat menuju rumah Baekhyun.

“Aku belum bisa membaca keseluruhannya sekarang, oppa.Bagaimana kalau besok saja kita lanjutkan sekalian aku tepati janjiku yang kemarin. Bagaimana?” ia menanyakan persetujuanku. Cukup lama aku bisa mencerna kata-katanya satu persatu.Besok.Bertemu.Lagi.Menepati janji. Aku tidak terlalu peduli apa itu. Aku mungkin merasa terlalu excited sehingga aku bahkan seketika sulit untuk hanya menganggukkan kepala. Aku takut terlihat terlalu bersemangat.

“Oppa.Apa kau sudah punya janji besok?” tanyanya lagi saat jeda yang aku gunakan terlalu lama.

Oh, ani.Baiklah” akhirnya aku bisa menjawabnya dengan reaksi paling normal yang bisa aku berikan.

Empat puluh menit rasanya benar-benar sangat singkat bagiku.Sebentar saja kami sudah sampai di tempat tujuan dan artinya aku sudah harus berpisah dengannya.Aku merasakan sedikit perubahan raut wajahku.

“Kita sudah sampai” kataku keluar dari mobil untuk mengeluarkan tas Aira. Ia kini membangunkan eomma yang tertidur sejak tadi.

“Ayo masuk dulu, Sehun” ajakan eomma yang benar-benar tidak ingin aku tolak.Aku masih ingin disini sebenarnya.

Ah, ne, eomma. Mungkin lain kali. Aku belum pulang kerumah bahkan belum mandi. Lagi pula Aira masih butuh istirahat kan” aku memberikan alasan pada eomma.

“Baiklah, tapi kapan-kapan jangan lupa mampir kesini, ya.Eomma masuk dulu, Sehun.Terima kasih ya sudah mau mengantar Aira” kata eomma yang kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan kami berdua saja.

“Ne, eomma.Selamat malam” kataku yang lagi-lagi kembali grogi saat harus berdua dengan yeoja ini.

“Apa benar kau tidak mau masuk dulu?Kita bisa makan malam dulu kalau kau mau” ajakkan Aira membuatku kembali tidak enak karena harus menolak.

“Tidak apa-apa, Aira. Kau kan baru sembuh sebaiknya lebih banyak istirahat. Kalau aku disini nanti waktu istirahatmu bisa berkurang kan” sekarang aku sudah terdengar seperti dokter rumah sakit sepertinya. Ia tertawa. Nah, sepertinya benar apa yang barusan aku pikirkan.

Seketika aku merasa ada satu kejutan listrik karena tiba-tiba ia menggenggam kedua tanganku. Aku berusaha sebisanya untuk menjaga ekspresiku saat kemudian Aira . . .

*t0 be continue

 

6 pemikiran pada “Empat Lima Huruf (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s