XOXO (Kiss and Hug) The Series (Baby – Lay Version)

XOXO (kiss and hug) the series (Baby – Lay ver)

Author: laelynur66

 

Main cast: Zhang Yixing a.k.a Lay (exo)

            Jung Seira  (oc)

 

Support cast: all member Exo

 

Length: chapter or Series (?)

 

Genre: romance, friendship

 

Rating: PG-15

 

Author note : here it goo.. Lay ver.. enjoy it.

 

PhotoGrid_1381153088620 

 

Aku menatap lama pada ponselku, setauku memang ada yang aku lupa, tapi entah apalah itu. Aku berusaha mengingatnya, berbagai pose telah aku lakukan agar otakku mengingatnya dan yang terakhir kulakukan adalah menatap lama pada ponselku.

“hyung, apa sih yang sedang kau lakukan?” Tanya Kyungsoo yang sedari tadi memang menemaniku di ruang makan di dorm. Catat baik-baik, hanya kami berdua!

“entahlah, aku jugaa…”

“hyuuuung!” cibir Kyungsoo dan memutar bola matanya yang besar itu.

Aku menghela nafasku. “aku melupakan sesuatu yang kurasa penting!” jawabku pasrah. Lagi, Kyungsoo memutar bola matanya malas.

“aku kan sudah menyuruhmu membuat daftar penting yang harus kau lakukan di selembar kertas!” kata Kyungsoo dan meletakkan segelas air putih di hadapanku.

Aku meneguknya dan kembali menatap Kyungsoo, “aku sudah melakukannya! Tapi aku lupa meletakkannya di mana!” sahutku pasrah.

Kyungsoo menghela nafasnya dan menghempaskan dirinya duduk di hadapanku.

“apa sepenting itu hyung?” tanya Kyungsoo dan menyangga dagunya pada meja. Aku hanya mengangguk. “ingatlah baik-baik hyung! Kebiasaanmu melupakan sesuatu harus cepat kau buang jauh juga Hyung! Aku takut itu akan berdampak buruk padamu dan kami!” tambah Kyungsoo dan aku lagi-lagi aku hanya mengangguk.

“apa kau sudah meminum obatmu?” tanyanya lagi. Seperti ada sebuah bola lampu menyala di atas kepalaku. “ah, itu dia Kyungsoo! Jadwal check upku! Obatku sudah habis!” pekikku senang dan segera bangkit dari dudukku menuju kamarku. Tanpa menghiraukan Kyungsoo yang berdecak kesal.

Dengan cepat aku mengganti bajuku dan berjalan keluar dengan sedikit tergesa, dari dorm menuju klinik tempatku check up hanya membutuhkan waktu 20 menit menggunakan mobil.

“hyung, mau ke mana? Rapih sekali!” Tanya Sehun padaku saat kami berpapasan di depan pintu. Sehun bersama Tao entah mereka dari mana.

“check up” jawabku dan memasang sepatuku asal dan segera berlari keluar dorm menuju lift dan menunggu dengan sabar.

Satu hal yang paling kusukai dari klinik ini adalah klinik ini terbebas dari bau-bauan obat dan pembersih desifektan yang terkadang membuatku mual. Klinik ini milik teman manager hyung, jadi privasiku juga terjaga di sini. Dengan tergesa aku berjalan menuju ruangan salah satu dokter yang biasa menanganiku setelah sebelumnya bertanya apakah dia ada atau tidak pada resepsionis yang tersenyum manis padaku.

Aku berjalan melewati lorong klinik yang sepi dan berpapasan dengan beberapa perawat yang tampak tergesa. Dan saat melewati sebuah ruang dengan pintu kaca yang besar dan tertulis ‘bangsal anak’ di atasnya, aku berhenti sesaat. Menatap seorang perawat yang sedang tersenyum pada seorang anak kecil yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Dia Jung Seira, seorang perawat dari bangsal anak yang sedikit menyita perhatianku karena senyumnya yang menurutku manis dan menenangkan. Aku berdiri menatapnya yang tampak sibuk menenangkan beberapa anak yang rewel dan saat dia berbalik, tatapan kami bertemu dan sebuah senyum terkembang di bibirnya lalu sedikit membungkuk ke arahku. Kami memang sedikit akrab, beberapa kali Seira menemaniku saat dia baru saja menyelesaikan shiftnya menunggu dokter yang menanganiku datang. Tapi sekarang, kurasa dia tidak akan menemaniku.

Aku berbalik, kembali berjalan menuju salah satu ruangan di ujung sebelah kiri, yang pintunya tertutup rapat.

Dokterku bebarapa kali memarahiku karena jadwal check upku telah lewat tiga hari yang lalu dan aku hanya bisa menggumamkan maaf beberapa kali, dan menjadikan kesibukanku sebagai alasan.

Hingga akhirnya  aku berdiri dari duduk dan membungkuk pada dokter Park setelah sebelumnya memberiku selembar resep obat padaku. Setelah ini, aku harus mengantri di apotek klinik ini di loby tepat sebelah kanan meja resepsionis. Dengan malas, aku berjalan melewati lorong sepi rumah sakit ini, tidak seperti tadi tidak ada satupun perawat yang lewat di hadapanku.

Aku terkejut saat sebuah kursi roda, mengiringi jalan di sampingku dan mendapati Seira yang tersenyum padaku dengan mendorong perlahan kursi roda yang didudukki seorang anak manis yang kakinya tergips.

“anneyeong oppa!” sapanya dan sedikit membungkuk, aku hanya tersenyum.

“Check up lagi, eoh?” tanyanya. Lagi aku hanya mengangguk dan menatap pada anak perempuan yang menatapku dengan mata berbinar.

“nugu?” tanyaku pada Seira.

“ah, dia Naeun, baru masuk kemarin! Kakinya patah karena terjatuh saat memanjat pohon!” jawab Seira dan mengusap kepala Naeun lembut. “Ayo Naeun perkenalkan dirimu pada oppa!’ tambahnya.

“anneyeong haseyo oppa, aku Naeun!” ucap anak itu dan tersenyum manis. Aku membalasnya dengan senyum.

“Aku Lay, senang bertemu denganmu!” Sahutku dan mengusap kepalanya.

Seira melirik kertas resep di tanganku “mau kutemani mengantri?”

Aku mengangguk dan menatap tajam pada kertas resep di tanganku. “tapi apa kau..”

“sudah, shiftku sudah selesai, aku hanya menepati janjiku pada Naeun untuk jalan-jalan!” sahutnya mengerti dari perkataanku. Dan aku mengangguk. Kami kembali berjalan dengan santai dan tersenyum pada beberapa perawat yang tampak lelah dan akan pulang karena telah menyelesaikan shiftnya.

Kami duduk pada salah satu kursi terluar dari deretan kursi yang ada. Mataku menatap sekelilingku, resepsionis yang tadi kutemui telah digantikan oleh seorang namja yang juga masih kukenali, kami saling melempar senyum saat tatapan kami bertemu.

“oppa!” panggil Seira.

“ne?” jawabku dan berbalik menatapnya.

“kau tidak sibuk? Akhir-akhir ini aku selalu melihatmu di tv!” tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya pada Naeun yang terus saja mengoceh tiada henti.

“kami sibuk, dan selalu seperti itu. Tapi hari ini pengecualian, mungkin sebentar malam!” sahutku. Seira hanya mengangguk.

Aku kembali menatap sekililingku. Seorang kakek yang dengan patuhnya makan saat sang perawat menyuapinya, seorang anak lelaki yang sedang berusaha berjalan menggunakan tongkat karena salah satu kakinya menggunakan gips, dan seorang ibu hamil yang berjalan dengan tertatih dan berpegangan pada suaminya, lalu kembali berbalik menatap Seira yang sedang tersenyum pada Naeun.

Deg. Dengan cepat kualihkan lagi tatapanku.

Aku memalingkan pandanganku saat suara sirene ambulance meraung di depan klinik. Tidak lama setelahnya, decitan suara roda ranjang rumah sakit terdengar memasuki lobby. Aku memalingkan kepalaku menatap pada perawat yang cukup tergesa mendorong ranjang rumah sakit dengan seorang lelaki paruh bayu di atasnya tampak berlumuran darah, mungkin ia korban kecelakaan. Salah satu perawat memasangkan alat bantu nafas pada pria itu. Dengan cepat aku berbalik menatap Seira yang menunduk  menatap lantai. Tubuhnya bergetar hebat, dengan sigap aku menggenggam kedua tangannya yang gemetar. Di dunia ini, aku percaya tidak ada satupun manusia yang sempurna, Seira seorang perawat dengan senyum manisnya yang menenangkan itu begitu takut pada darah. Hemotophobia, rasa takut yang berlebihan tehadap benda cair berwarna merah pekat itu dimilikinya akibat trauma saat pertama kali bertugas di rumah sakit, saat dirinya mendapati seorang pasien anak korban kecelakaan meninggal dengan berlumuran darah di dekapannya. Tubuhnya akan bereaksi berlebihan jika melihat darah. Hal yang akan dengan senang hati dihindarinya.

“tidak apa!” bisikku lembut di telinganya. Kepalanya mengangguk perlahan, namun masih menunduk menatap lantai.

“unni, kenapa?” Tanya Naeun dan berbalik menatap Seira.

“tidak apa!” jawabku.

“tapi..”

“unni tidak apa!” sahut Seira dan mendongak menatap Naeun yang menatapnya bingung.

Bohong, aku tau betul, tangannya masih gemetar, keringatnya juga masih membanjiri wajahnya. Aku semakin mengeratkan genggamanku. Sedikit memberi kekuatan.

“terima kasih oppa!” lirihnya pelan. Aku hanya mengangguk dalam diam.

 

***

 

“hyung!”

Aku menoleh pada Kyungsoo yang meletakkan segelas air putih di hadapanku.

“gomawo” gumamku pelan. Kualihkan pandanganku pada meja menatap Kyungsoo yang memandangku dengan mata besarnya seolah nyaris meloncat keluar dari tempatnya.

“apa?”

Kyungsoo menggeleng “tidak, hanya saja hyung selalu tampak berbeda setelah kembali dari klinik!” serunya polos. Aku menjangkau gelas di hadapanku dan meneguk isinya.

“pasti ada sesuatu!” tambahnya dan masih menatapku lekat. Tidak menghiraukannya aku tetap menegak air di gelas.

“yeoja mungkin?” tebaknya. Aku nyaris tersedak air yang kuteguk, lalu menepuk dadaku pelan.

“hahaha, sudah kuduga hyung!” serunya dengan nada gembira yang berlebihan. Aku menunuduk menatap lantai tempat kakiku berpijak. Aku tidak malu, entalah aku hanya enggan menatap wajah Kyungsoo yang pasti menatapku penasaran.

Dengan segera aku menoleh pada Kyungsoo yang menghempaskan dirinya duduk di sampingku.

“jadi siapa dia hyung?” selidiknya penasaran. Aku hanya mendengus kesal menanggapinya yang semakin menatapku dalam dan dengan suksesnya membuatku salah tingkah.

“apa?” tanyaku gugup.

Kyungsoo memutar bola matanya yang besar itu lagi, “hyuuuuung!” rengeknya.

Aku menghela nafasku tanda menyerah “jadi Kyungsoo-yaa, ada seorang perawat di klinik yang kurasa sedikit mencuri perhatianku..” aku menghentikan perkataanku saat Kyungsoo menatapku lekat seolah memintaku meralat ucapanku.

“umm, baiklah membuatku jatuh, ya jatuh..”

“hyuuung!” lagi-lagi Kyungsoo memotong ucapanku. Aku menggigiti bibir bawahku. Hatikupun belum mengakui padaku bahwa aku ternyata jatuh cinta padanya dan entah mengapa dongsaengku yang memiliki mata paling menggemaskan ini memintaku mengaku padanya.

“eh, baiklah.. iyaa, aku jatuh..” aku meneguk ludahku kasar.

“baiklah, kau jatuh cinta padanya!” tambahnya dan membuat mataku melotot.

“ah, iya..itu yang kumaksud! Hehehhe”

“hyung, aku ingin kau yang mengatakannya!” perintahnya dengan nada tegas.

Aku menelan ludahku kasar, tenggorokanku terasa kering hal yang tidak mungkin mengingat aku baru saja menegak segelas air.

Aku menarik menarik nafasku dan menghembuskannya perlahan “ne, Kyungsoo-yaa, aku jatuh cinta padanya saat pertemuan pertama kami, aku menyukai senyummya yang menenangkan itu, aku ingin menjadi satu-satunya yang melindungnya, aku ingin ia masuk ke dalam kehidupanku tanpa mempersulitnya, aku ingin mengatakannya padanya bahwa ia tidak perlu takut karena ada aku di sisinya, aku ingin ia tau bahwa aku selalu ada untuknya, walaupun egois aku hanya ingin ia melihatku saja, aku ingin memilikinya seutuhnya… aku.  Aku..” aku mengatur nafasku yang menggantung di kerongkanganku walaupun sedikit malu pada Kyungsoo, entah mengapa hatiku sedikit lega.

“hyuuung..” gumam Kyungsoo mata besarnya lurus menatap tepat kebelakangku.

“apa?” sahutku dan berbalik mengikuti arah pandangan Kyungsoo. Seketika itu juga tubuhku membeku mendapati member lain yang berdiri di belakangku dengan mulut yang terbuka lebar. Member lain berdiri di belakangku menatap takjub padaku.

“apa, tadi itu Lay hyung yang berbicara?” lirih Sehun dan mendapati pukulan pada lengannya.

“apa? Sakit tau!” protesnya pada Suho yang memukulnya.

Kesepulah pasang mata menatapku tanpa berkedip dan aku hanya bisa tersenyum canggung lalu menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali.

 

***

 

“jadi..”

“siapa namanya?” suara berat Chanyeol memotong ucapan Suho yang duduk di sebelahnya.

Semua member duduk mengelilingi di meja makan, tatapan mereka tidak sedetikpun mereka alihkan dariku. Kyungsoo yang duduk tepat di sampingku hanya menatapku dengan sorot mata menyesal. Oh, ayolah, aku tidak menyalahkannya, sama sekali tidak.

“hyung?” suara berat Chanyeol lagi-lagi terdengar.

“eh?”

“siapa namanya hyuung?” kali ini Baekhyun yang duduk di sampingku yang bersuara.

Mataku menyalang menatapi wajah-wajah penasaran di hadapanku.

“Seira, namanya Seira!” Xiumin hyung yang duduk paling pojok bersuara dan membuat mataku membulat sempurna.

“kau tau dia hyung?” pekikku.

Xiumin hyung mengangkat bahunya pada seluruh mata yang berganti memusatkan perhatian padanya. “Seira kan? Perawat di bangsal anak yang memiliki senyum sesejuk hembusan angin di musim semi?” ucapnya dengan mengangkat salah satu alisnya.

Mulutku terbuka lebar. “da.. dari mana kau tau hyung?” tanyaku tergagap.

Xiumin hyung memutar bola matanya. “kau lupa? Terakhir kali kau check up, aku yang menemanimu. Dan selama itu juga mulutmu terus saja menoceh tentangnya. Saat itu, aku bahkan ragu jika itu adalah kau, Zhang Yixing”

“haaaah, cinta memang membuat kita berubah..” semua mata menoleh pada namja pemilik suara serak khas dan kulit tan yang paling mencolok di antara kami. “mwo?” Tanyanya tidak terima saat sadar kami menatapnya kemudian mendapat dengusan dari kami.

“ajak saja ia berkencan!” suara berat Kris yang sedari tadi tidak terdengar menggema memecah keheningan.

“ia sibuk!” jawabku dan menunduk menatap ujung kakiku. Sebenarnya ini hanya alasan. Dari mana aku bisa mendapat keberanian untuk mengajaknya berkencan. Dasar leader sialan! Makiku dalam hati.

“coba saja dulu, terlepas apakah dia sibuk atau tidak setidaknya kau sudah mencobanya!” suara menenangkan milik Suho terdengar beserta senyum angelic yang sudah mendunia itu. Mendadak aku menyasal telah memaki Kris yang telah memberi masukan yang  menurutku tidak masuk akal, walaupun hanya dalam hati.

“kalau jadi, beritahu aku saja, aku akan membantumu memilih baju!” sahut Tao bersemangat

“fighting hyung!”

 

***

 

Kakiku melangkah dengan ringan menyusuri lorong klinik yang sudah begitu familiar bagiku. Hari ini bukan jadwal check upku, jadwalku tinggal satu minggu lagi. Oh, oke baiklah sebelum aku benar-benar melupakan tujuanku datang kemari aku mempercepat langkahku dan menghentikannya tepat di depan pintu kaca besar ‘bangal anak’. Kepalaku melongo menatap pada pintu kaca yang transparan. Beberapa ranjang rumah sakit dengan anak-anak yang terlelap di atasnya. Kupertajam penglihatanku tapi aku belum juga melihat sosoknya.

“ada yang bisa kubantu?” Tanya seorang padaku.

Mataku nyaris meloncat keluar karena terkejut  “kau mengagetkanku!” sementara tanganku mengusap dadaku pelan.

“ah, maaf” sesalnya “ada yang bisa kubantu?” tanyanya lagi saat melihatku kembali melongokkan kepalaku pada pintu kaca di depanku.

Aku menongok padanya, berpikir apa aku bertanya saja padanya?

“mm, anu ituu..” ucapku gugup.

“ne?”

“eh, itu. Ke mana perawat yang berjaga di bangsal anak?” tanyaku pelan.

“ah, itu aku sendiri!” mataku membulat saat ia menunjuk dirinya.

“mmmm, kurasa bukan karena seminggu yang laluu..”

“ahh, Seira?” tebaknya dan aku mengangguk. “ia dipindahkan kebagian ICU” tambahnya.

Mataku kembali membulat “ICU?” ulangku.

“ne” jawabnya singkat.

“oh, kalau begitu terima kasih!” jawabku dan sedikit membungkuk lalu berlalu dari hadapannya. Entah mengapa perasaan sedikit tidak enak. ICU? Bukankah ia.. dengan cepat aku berbalik arah membawa kakiku berlari mengikuti tanda panah yang menunjukkan ruangan ICU.

Aku berdiri terpaku pada tempatku. Menatap sayu pada pemandangan beberapa meter di depanku. Seira yang berulang kali membungkuk pada seorang yang mengenakan jas putih di hadapannya. Dari raut wajahnya, pria berjas putih itu marah pada Seira. Aku terus menata meraka hingga sang pria berjas berbalik memasuki ruangan, sementara Seira berdiri termangu di tempatnya dengan tatapan kosong. Perlahan tubuhnya berbalik, tatapan kami bertemu, tatapan matanya seperti sedikit kehilangan cahayanya. Aku melangkah mendekat padanya yang masih menatapku lurus.

Ia tersenyum, tapi entah mengapa senyum itu tidak seperti biasanya tampak begitu tersiksa.

“hei” sapaku. Ia kembali tersenyum, senyum yang sama dengan yang tadi.

 

***

 

Kualikan tatapanku dari gelas kopi di tanganku menatap Seira yang terduduk dengan lesu di sampingku. Dua puluh menit kami duduk di sini, tapi tidak satupun dari kami berani membuka suara.

“kurasa karirku benar-benar hancur sebelum aku diberi kesempatan untuk memulainya!” ia berujar lirih membuatku menahan nafasku.

“apa maks..”

“tadi aku menghamburkan alat-alat operasi saat membantu dokter yang akan mengoperasi pasien, kemarin aku membuat seorang pasien nyaris mati karena aku tidak berani medekat padanya saat ia berlumuran darah di hadapanku, dan salah salah menusukkan jarun imfuse pada pergelangan pasien, akuu..”

Aku hanya terdiam karena aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.

“aku tidak sebodoh itu, aku bisa melakukanya semua teori yang diajarkan padaku aku menghafal seluruhnya, hanya saja.. aku tidak bisa melakukannya karena..” ia tercekat tidak melanjutkan perkataanya. Kepalanya menunduk menatap ujung sepatunya.

“hei, kau tau penyakitkukan?” tanyaku pelan.

Kepalanya mendongak menatapku dan mengangguk.

“dari awal aku tidak yakin apa aku bisa mewujudkan impianku menjadi seorang bintang, tapi lihat aku” seruku mencoba membuatnya kembali semangat.

“tapi, kau dan aku kita berbeda” protesnya.

“hei, kapan kau ada waktu luang?” tanyaku tidak menghiraukan protesnya yang kutau pasti akan mendebatku.

Ia menautkan alisnya menatapku heran “kurasa besok, kenapa?”

“ayo berkencan denganku!” ucapku lancar bagai air mengalir. Hei, aku tidak tau jika mengajak wanita berkencan itu akan semudah ini. Tapi seketika itu juga wajahku memerah saat Seira menatapku denga membulatkan matanya.

“a.. apa?” Tanyana gugup.

Aku meringis sebelum menjawab “berkencan, kau dan aku!”

“oppa yakin?” tanyanya lagi.

“tentu saja!”

“bukan itu maksudku, kau yakin tidak akan ada fansmu yang membunuhku?” tambahnya dan menatapku dengan mata yang dipicingkan.

Aku tertawa terbahak “untuk bagian itu aku tidak yakin, tapi mari kita berkencan dengan sembunyi-sembunyi. Kurasa itu akan sangat menyenangkan” seruku mendapat cubitan di lenganku. Oh, ayolah aku akan mencoba membuatnya kembali bersemangat. Mengembalikan cahaya pada senyumannya yang menenangkan. Jika sumber kekuatanku melemah bagaimana mungkin aku menjadi kuat? Ah, sudahlah lupakan aku bicara apa.

 

***

 

“gunakan ini hyung!” Tao berujar sembari melemparkan sebuah kemeja ke arahku. “ah, tidak! Kurasa ini lebih baik” ujarnya lagi dan melemparkan sepotong baju kaos berlengan panjang. Jarinya menggosok dagunya, sementara kedua matanya memandang lurus pada lemari bajuku yang terbuka.

“hyung, kau kan tinggal menjadi dirimu saja!” seru Sehun yang entah saja kapan berdiri di ambang pintu kamarku. Aku menoleh menatapnya saat ia melangkah mendekatiku. Tangannya menangkup wajahku dan menatap mataku dalam.

“jadi dirimu saja hyung!”  ucapnya seolah membacakan mantra kepadaku. Aku menahan nafasku, perkataan Sehun yang kuanggap mantra itu terngiang di teligaku, sebelum tanganku mengapai sebuah baju kaos lengan pendek berwarna putih begambarkan kartun marvel dan sebuah kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak berwarna abu-abu. Kakiku sedari tadi sudah mengenakan celana jeans berwarna hitam dengan aksen robek pada lututnya.

Setelah menggantinya di hadapan Sehun dan Tao yang masih cemberut karena Sehun menginterupsinya tadi, aku menatap Sehun seolah meminta pendapatnya.

“kau keren hyung!” serunya dan mengancungkan kedua jempolnya di depan wajahku.

Dan saat keluar kamar, Suho sudah menunggu dengan sebuah topi di tangannya, dan Kyungsoo yang tampak menggumamkan sesuatu yang kurang jelas sembari memasukkan sebuah kacamata hitam di saku kemeja yang kukenakan.

“Lay, tunggu!” Luhan menahan langkahku berjalan keluar dorm. Ia mendekatiku, lalu menyemprotkan parfum pada bajuku. Aroma lemon grass seketika terhirup olehku. Tanganya mengepal di depan dada dan mengucapkan kata ‘figthing’ tanpa suara.

 

 

***

 

Aku focus pada jalan di depanku, tanganku begitu kuat mencengkram setir mobil Suho yang kupinjam. Di sampingku, tepatnya kursi penumpang di duduki oleh Seira yang tampak manis dengan dress berwarna kuning gading, rambutnya terurai melewati bahunya, dan wedges berwarna maroon yang membungus kaki mungilnya. Ia tampak berbeda jadi semakin manis menurutku, mengingat kami hanya bertemu di klinik yang notabnenya ia menggunakan seragam serba putih dan rambut yang selalu tergulung ke atas.

Aku berusaha untuk tidak meliriknya dengan ujung mataku, tapi apa mau dikata setiap Seira bergerak sedikit saja, aku pasti meliriknya. Menggelikan.

“err, oppa!”

Aku berbalik sekilas padanya. “ne?”

Seira tidak menjawab, hanya terdiam menatap lurus padaku.

“apa?” tanyaku.

“sebenarnya, kita mau ke mana?” tanyanya dan melepas tatapannya padaku.

“entahlah, aku tidak pernah kencan sebelumnya. Bagaimana kalau kau saja yang menentukan?” sahutku tanpa mengalihkan perhatianku pada jalan di depan.

Aku memperhatikannya lewat ekor mataku sesaat ia menggigiti bibir bawahnya, ekpresi wajahnya menggambarkan ia sedang berpikir.

“putar balik mobilnya. Kita ke Myeondong saja, aku tau kedai ramen yang enak!” katanya setelah lima menit berpikir.

“siap tuan puteri!!!!”

 

***

 

Kami berjalan keluar kedai ramen teoat kami menikmati semangkk ramen tadi. Tanganku mengusap perutku yang terasa penuh oleh kuah ramen yang kental dan sedikit pedas. Sementara Seira hanya terkikik geli di sampingku.

“kenapa?” tanyaku.

“ani. Kau lucu oppa! Itu kan hanya ramen!” sahutnya tanpa menatapku.

‘lucu’ kalimat itu terus ternginag di telingaku.

“hei, apa hanya ini yang akan kita lakukan di kencan pertama kita?” tambahnya dan menatapku. Aku mengerjapkan mataku beberpa kali sebelum mengendikkan bahuku “molla, menurutmu apa lagi yang harus kita lakukan?” tanyaku dengan polosnya dan sedetik kemudian aku merutuki diriku sendiri.

“hahaha, apa oppa tidak pernah kencan sebelumnya?’ tanyanya lembut.

Aku berpikir sejenak “pernah beberapa kali, tapi itu saat aku di China” Seira mengangguk mengerti.

Aku menatap sekelilingku, kawasan Myeondong cukup ramai saat ini, dalam hati aku berterima kasih pada Suho yang menyodorkan topi dan Kyungsoo yang memberi kacamata hitam padaku mataku kembali menatap sekelilingku, mencoba berpikir apa lagi yang harus kami lakukan. Dengan ekor mataku aku memperhatikan Seira yang berjalan di sampingku yang juga sedang mengamati sekelilingnya, rambutnya berkibar di terpa angin, aroma manis tubuhnya seperti gabungan antara madu dan buah peach yang segar. Kuulurkan tanganku menjangkau jemarinya, menggenggamnya erat. Dan tersenyum saat ia berbalik menatapku kaget.

Aku kembali mengamati sekitarku dan kembali tersenyum saat tanpa sengaja mataku menatap sebuah bangunan di seberang jalan. Dengan sekali hentak aku menarik tubuh Seira agar mengikutiku menyebrang jalan dengan hati-hati. Tanpa menghiraukan protesnya.

‘tring’ bunyi lonceng yang bergemerincing saat tangannku mendorong pintu kaca di hadapanku.

“anneyeong!” sapaku pada seorang ahjussi yang sedang membersihkan biola di balik mejanya. Kurasa ia pemilik toko yang menjual alat-alat music ini. Aku tersenyum saat ahjussi itu menyipitkan matanya menatapku.

“ada yang bisa kubantu?” tanyanya pelan.

“a..ani, aku melihat grand piano yang terpajang  di tokomu, a… aku.. bolehkah aku memainkannya?” tanyaku gugup dan mengeratkan genggamanku pada tangan Seira.

Mata ahjussi itu kembali menyipit menatapku seolah membaca pikiranku.

“kau bisa?” tanyanya pelan. Aku mengangguk pelan.

“tapi kau harus berhati-hati, mikaela sangat sensitive!” ucapnya.

Mikaela? Pikirku.

“mikaela tidak di jual, ia hanya boleh di mainkan” ucapnya lagi.

“mikaela?” Seira bersuara setelah lama terdiam.

“ya, dia mikaela!” sahutnay dan menunjuk pada grand piona putih elegant yang terletak di pojok ruangan. Kami mengangguk bersamaan. Namanya Mikaela. Batinku.

“jadi, apakah aku boleh memainkannya?” tanyaku lagi.

“silahkan saja, tapi kau harus berhatai-hati” ahjussi itu mengizinkanku dan kembali melajutkan kegiatannya membersihkan biola di tangannya.

Perlahan aku berjalan mendekati grad piano putih yang terpajang angkuh di sana. Tanganku menyentuhnya pelan, mengagumi keindahan ukiran pada badan piono itu, kembali tanganku bermain pada tuts-tuts piona yang bersih tanpa sedikitpun debu yang menempel di sana.

“oppa?” suara Seira menyadarkanku dari keterkagumanku pada piano putih ini.

“aku tidak tau apa yang harus dilakukan saat berkencan, tapi aku cukup bisa bermain piano walaupun aku tidak bisa membaca not nada. Maukah kau mendengarkan aku bermain?” tanyaku gugup dan menatap dalam pada mata Seira yang bening. Perlahan kepala itu mengangguk dan membuat hatiku lega seketika.

Aku memposisikan diriku duduk pada kursi piano, tanganku terulur menjangkau tuts-tuts piano itu dengan ujung jariku. Perlahan namun pasti, jariku menekan tuts piano itu lembut.

 

She..

maybe the face I cant forget a trace of pleasure or regret

maybe my treasure or the price I have to pay.

She

Maybe the song that summer sings

Maybe the chill that autumn brings

Maybe the hundred different things , within the masure of a day.

She

Maybe the beauty or the beast

Maybe the femine or the feast

May turn each day into a heaven or a hell

She

Maybe the mirror of my dreams

A smile reflected in a stream

She may not be what she may seem inside shell

She who always seem so happy in a crowd

Whose eyes can  be so private and so proud

No one’s allowed to see them when they cry

She maybe the love that cannot hope to last

May come to me from shadows of the past

Then I’ll remember till the day I die

She

Maybe the reason I survive

The why and wherefore I’m alive

The one I’ll care for through the rough and ready years

Me, I’ll take her laugher and her tears

And make them all my souvenirs

For where she goes I’ve got to be

The meaning of my life is she..

 

Aku berbalik mengalihkan pandanganku dari tuts piano menatap Seira setelah mengakhiri lagu yang kunyanyikan dan terkejut mendapati wajahnya berurai airmata.

“eh? Waeyo Seira? Ada apa?” tanyaku panik lalu berdiri menyentuh pundaknya dengan kedua tanganku.

Ia menggeleng dan dengan sekali gerakan ia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku yang dengan sukses membuatku panik.

“Seira ada apa?” tanyaku pelan. Tanganku terangkat mengusap pelan kepalanya dan sekali lagi ia menggeleng. Aku menghela nafasku pasrah, membiarkan posisi kami seperti ini dengan tanganku yang terangkat mengusap rambutnya.

Cukup lama sampai Seira melepaskan kedua lengannya dari pinggangku dan berjalan mundur selangkah dengan kepala tertunduk.

“oppa, mianhae!” lirihnya.

“untuk apa?”

“karena memelukmu, aku..”

“sudahlah, ayo kita pulang!” seruku memotong ucapannya. Tanganku terulur menggenggam tangannya. Dan menariknya perlahan.

“ahjussi, kami pulang dulu dan terima kasih!” ucapku dan membungkuk pada ahjussi pemilik toko.

“sama-sama, berkunjunglah lain kali, kurasa Mikaela menyukaimu!”

 

***

 

Aku melirik Seira yang duduk di sampingku pada kursi penumpang. Keheningan menyelimuti kami tidak ada satupun yang berbicara sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka mulutku lebih dulu.

“Seira”

“ne?”

“ke mana lagi?” tanyaku. Ia  mangangkat bahunya tanda tidak tau.

“mau ke dormku?” tanyaku hati-hati. Ia berbalik menatapku terkejut.

“apa tida apa-apa?” tanyanya

“tentu saja!” seruku bersemangat dan memutar setir menuju kawasan Cheomdamdong.

 

***

 

Kesebelas pasang mata mengamatiku, ah salah, mengamati kami yang duduk pasrah pada sofa. Kesebelasnya menatap kami dengan tatapan mata yang amat sangat berbinar namun menyiratkan rasa penasaran.

“jadi, kalian ke mana saja?” suara berat Kris memecah keheningan. Sementara sisanya menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulutku.

“hyung, jangan langsung bertanya, dia bahkan belum memperkenalkan dirinya pada kita!” Kyungsoo menyahuti pertanyaan Kris dan mendapat anggukan dari yang lain.

“haruskah kita mengenalkan diri lagi?” Jongin angkat bicara. “bukankah sudah pasti dia mengenal kita?’ tambahnya dan membuatku kesal. Sementara Seira hanya menunduk di sampingku, mulutnya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

“hei, Seira! Kau tidak perlu sungkan pada kami!” Minseok hyung berujar sembari menghempaskan dirinya pada space kosong di samping Seira yang kurasa sudah pernah bertemu dengannya, Seira mendongak menatapnya.

“Minseok oppa?”

“ne, ahahaha. Kita bertemu lagi! Bagaimana kabarmu?” sahut Minseok hyung. Dalam hati aku bersyukur, Seira tampak lebih rileks saat berbicara dengan Minseok hyung yang sibuk memperkenalkan satu persatu member yang ditanggapi dengan senyuman oleh Seira, bahkan sedikit terkikik saat Jongin sedikit bertingkah.

Aku bangkit dari duduk, meninggalkan mereka yang mulai akrab dengan Seira menuju dapur, kurasa aku butuh segelas air. Tenggorokanku sedikit kering. Sembari bersenandung ria tanganku membuka kulkas dan mengambil satu botol air mineral. Sementara tanganku yang bebas menjangkau gelas yang berjejer rapih di pantry saat tanganku tanpa sengaja menyenggol mangkuk yang berisi kuah ramen dan dengn sukses membuatnya menghantam lantai dan pecah berkeping.

“ck!”

Dengan sangat hati-hati perlahan kau beringsut dari tempatku berdiri hendak membersihkan pecahan mangkuk di lantai.

“hyung ada apa?” Tanya Kyungsoo yang berdiri di ambang pintu dapur, entah sejak kapan ia berdiri di sana.

“aku tidak sengaja menyenggolnya dan..” aku tidak melanjutkan perkataanku saat melihat Kyungsoo yang menatapku dengan mata yang membesar dari biasanya, yah walaupun matanya memang sudah sangat besar.

“hy.. hyuunng.. hyung! Kau berdarah!” serunya panik lalu berjalan mendekatiku dan berjongkok di hadapanku. Kuikuti arah tatapan Kyungsoo, mataku membulat mendapati darah segar mengucur dari telapak kakiku, perlahan aku bahkan bisa merasakan aliran darah yang keluar menembus kulitku serta rasa perih yang baru kurasakan di sana.

“hyung, bagaimana ini. Hyuu.. hyunnng, kau kan..” Kyungsoo tidak melajutkan perkataanya dan mendongak menatapku. Sementara aku, pandanganku sudah memburam, aku sudah kehilangan fokusku mengingat darah yang mengalir dari kakiku juga sudah menggenang di lantai seketika juga tubuh lemas seolah kehilangan semua tenaga.

“hyung! Suho hyung!” Kyungsoo berteriak panik memanggil Suho yang seketika itu juga muncul dengan tergopoh.

“ada ap.. Ya Tuhan Lay! Apa yang terjadi?” pekik Suho yang terkejut mendapati kondisiku lalu ikut berjongkok di hadapanku. “cepat pangil Seira, bukankah dia perawat dan ambil juga kotak P3k!” tambahnya dan Kyungsoo dengan cekatan melaksanakan perintah Suho hyung.

“sebaiknya, kau menelpon ambulans!” aku menyerukan pendapatku saat melihat genangan darah yang semakin lebar di lantai, darahku tidak akan berhenti mengalir jika tidak ditangani oleh ahlinya, mengingat penyakit yang kuidap. Pandanganku juga semakin memburam, aku semakin merasakan pusing pada kepalaku. Aku tidak berani bergerak karena itu akan semakin membuat darahku mengucur.

“Hyung. Apa, ya Tuhaaan!” reaksi yang sama dengan Suho saat Chanyeol melihat kondisiku.

“o.. oppaa..”

Aku mendongak mendengar lirihan itu, Seira tampak memucat berdiri di samping Chanyeol.

“ya Tuhan Hyung! Apa yang terjadi!” pekik Baekhyun yang muncul di balik tubuh Seira.

“Seira, lakukan sesuatu!” pinta Suho. Sementara Seira hanya berdiri mematung di tempatnya dengan wajah memucat dan tubuh yang bergetar hebat.

“a.. akuu..” lirihnya dan menundukkan kepalanya.

“Noona lakukan sesuatu!” suara derp Chanyeol kembali terdengar.

“a.. akuu.. aku. Aku tidak bisa…” ucapnya pelan dan menggelengkan kepalanya.

“demi Tuhan, lakukan sesuatu!” seru Suho semakin panik.

Tatapanku masih tak lepas pada Seira yang masih menunduk.

“hyung, ini P3knya!” Seru Kyungsoo. Aku tersentak saat Seira merebut kotak itu dari tangan Kyungsoo lalu ikut berjongkok di samping Suho. Aku tau ia tidak bisa melakukannya, aku mengetahuinya dari tangannya yang bergetar, keringat yang mengalir dari pelipis ke dagunya dan dari matanya yang dengan liar menatap sekelilingnya dengan bibir bawahnya yang ia gigit. Tangannya bergetar saat membuka kotak p3k di hadapannya.

“jangan, jangan lakukan!” ucapku dan tanganku menahan tangannya yang hendak menyentuh kakiku.

“tapi, kau bisa..” katanya pelan dan menatapku.

“tidak, tidak apa!  Jangan lakukan jika kau tidak sanggup!” seruku pelan.

“demi Tuhan! Zhang Yixing, biarkan dia melakukan tugasnya! Kau bisa mati kehabisan darah!” bentak Suho keras.

“tidak apa  Suho, lebih baik kau menelpon ambulans dan membiarkan seorang ahli yang menanganiku, sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku!” sahutku dan memejamkan mataku lalu membuka kembali menatap Seira yang terisak di depanku.

“maafkan aku.. maaf!” gumamnya.

“tidak apa!” ucapku dan mengusap pelan kepalanya. Aku tidak boleh egois. Walaupun keadaanku seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan Seira juga tersiksa.

“siapa saja, cepat tolong telepon ambulans sekarang!” lagi-lagi Suho berteriak. Samar aku bisa mendengar Kris hyung mengiyakan. Dan suara derap langkah menuju dapur.

 

 

***

 

Gimana? Membosankan yah? Ato kurang greget? Hheheheheh. Terhitung  dua minggu setelh Suho ver di post saya kirim naskah ini. Mengingat kehidupan saya di dunia nyata sangat sibuk, di tambah saya yang paling tidak bisa membagi waktu antara kuliah-rumah-kerja-ngerjain tugas kuliah-ngetik ff dst. Berhubung dunia perkuliahan saya udah mulai lagi, jadi saya gabisa cepet ngirim naskan k wp ini sebenarnya juga semua versi saya udah punya, tapi karna waktu untuk membaca ulang dan mengedit beberapa kata yang kurang layak sangat minim jadi saya minta maaf jika kalian harus menunggu (itu juga jika kalian nungguin ff ini). Mungkin jarak mengirim naskan akan cukup renggang, mungkin 2 ato 3 minggu baru saya bisa ngirimnya. tapi saya janji akan menyelesaikan dengan cepat. Mmm,part endingnya juga udah ada beberapa versi yang saya buat, please antisipasi.. hueheheheheh. Oh iya, saya juga ngirim dua cerita k wp ini, judulnya.. (gapapkan nyebut judul?) Will of The Heart sama Our Story, silahkan di baca juga. Heheheheh. Itu ajja! Oh iya, mungkin setelah ini versinya Chen, lalu Tao, kemudian Kris dan selanjutna bagian ending. Sekali lagi makasih udah mau baca *bow*

Nb: mau temenan di fb ato twitter? @d_onutslips ini twitterku, mention ajja buat polbek. Fbku laely nur pratama, ehehehe,, okesip.. *bow*

Iklan

11 pemikiran pada “XOXO (Kiss and Hug) The Series (Baby – Lay Version)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s