Goodbye

image

Goodbye

 

 

Author: halonays|| Cast: Oh Sehun, Ahn Minah || Genre: Romance || Length: Oneshoot || Rating: PG-15

 

 

Happy Reading!

 

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat, keringat terus mengalir di pelipisnya, dan jarum jam terus berputar dan menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit bertanda bel sudah berbunyi dan pintu gerbang sekolahnya sudah ditutup.Gadis itu menatap pintu gerbang sekolahnya dari kejauhan dan menatap pintu itu dengan miris.

Setidaknya kegiatan telat sudah sering gadis itu lakukan, satpam yang menjaga pintu gerbang sekolahpun sudah lelah dengan keterlambatan gadis itu bahkan sang satpam sempat berpikir untuk membuat pintu rahasia, agar gadis itu dapat masuk tanpa harus menerima hukuman.

 

Ahjussi, aku hanya telat lima menit dua belas detik, tolonglah buka pintunya,” gadis itu meminta pertolongan kepada penjaga sekolah, seluruh guru, staff, bahkan caraka sekalipun mengetahui gadis ini. Sang gadis begitu terkenal, tentu saja prestasi gadis ini cemerlang, namun diikuti oleh sikap ceroboh dan kekanakannya.

 

Jeonseonghamnida, Nona Ahn, kemarin kepala sekolah mengetahui jika saya membukakan pintu untuk Anda,” ujar lelaki setengah baya, sambil memasang wajah tidak tega.

 

Gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak mungkin memaksa ahjussi itu untuk membukakan pintu, gadis itu menyerderkan badannya di pagar, ia mengacak rambutnya kasar. Hari ini ada ulangan matematika, pelajaran favoritnya tapi dengan terpaksa ia tidak bisa mengikuti ulangan karena kecerbohannya.

 

“Argh! Ahn Minah bodoh!” geram gadis itu.

 

Minah hanya dapat mengerutuki kebodohannya, ia terus memaki-maki dirinya sendiri. Seandainya tadi malam ia pulang lebih cepat dari perkejaan part-time nya mungkin ia tidak akan terlambat tapi Minah juga tidak ingin membolos dari pekerjaannya, karena hanya dari sanalah ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Bukan, Minah seorang gadis miskin atau sebagainya yang sering muncul di drama-drama picisan.Minah hanya gadis biasa yang mencoba hidup mandiri, tidak ada yang tau pasti tentang latar belakang Minah bahkan teman-teman dekatnya sekalipun.

 

Minah adalah anak kedua dari pasangan fashion designer terkenal, Ibu Minah adalah owner dari sebuah majalah fashion yang terkenal diseluruh penjuru Asia sedangkan Ayah Minah adalah designer untuk salah satu brand dunia.Kedua orang tua Minah menetap di Paris, Prancis.

 

Kakak laki-laki Minah bernama Ahn Jaehyun yang berumur lima tahun lebih tua, tentu saja namanya juga kakak laki-laki. Jaehyun sedang berkuliah di Amerika mengambil jurusan Arsitektur.Singkatnya, Minah bukanlah orang miskin dan darah seni dan jiwa berpetualang mengalir didalam tubuhnya.

 

Satu tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Minah memasuki tahun terakhir di sekolah menengah atas.Ia memohon kepada kedua orang tuanya untuk kembali ke Korea, dan melanjutkan studinya disana.

 

Awalnya Ibu Minah tidak menyetujuinya, namun setelah berbagai usaha Minah lakukan akhirnya hati Ibunya luluh.Dengan catatan, Minah harus tinggal di apartemen yang kedua orang tuanya siapkan.

 

Kedua orang tua Minah terus mengirimi gadis itu uang bulanan, namun tidak ada satu won pun yang Minah gunakan, karena ia bertekad untuk menghidupi dirinya sendiri dengan usahanya sendiri walaupun ia harus melakukan itu dengan sembunyi-sembunyi.

 

Gadis itu mengusap keningnya yang penuh dengan peluh, setelah sepuluh kali mengelilingi lapangan basket sebagai hukuman keterlambatannya. Ia mengistirahatkan tubuhnya di tribune basket, hingga akhirnya sebuah tangan kekar dan sebotol air minum dingin menyambutnya.

 

gumawo, Sehun-ah,” Minah mengambil air minum itu, dan meneguknya dengan cepat. Ia tau jika itu adalah Sehun, teman sebangku Minah, yang memberikan air minum itu tanpa perlu repot-repot melihat kearahnya.

 

“Tadi malam kau bekerja sampa jam berapa?” Sehun menempatkan dirinya disebelah Minah, dan menatap gadis itu yang masih mengusap kening dan lehernya yang penuh dengan keringat.

 

“Jam setengah dua belas, kemarin kedai ramen begitu ramai jadi aku harus bekerja lebih lama dari biasanya,” Sehun mengangguk mengerti, lelaki itu kemudian mengambil sesuatu dari saku celanya.

 

“Jangan bekerja terlalu berat, Minah. Jangan lupa makan dan minum vitamin, jangan lupa mengerjakan PR dan terakhir jangan lupa menghubungiku jika kau membutuhkan sesuatu,” Sehun kembali bersuara sambil mengusap kening Minah dengan sapu tangannya, setetika rasa hangat mengalir didalam tubuh Minah ataupun wajah Minah yang pasti terlihat seperti tomat.

 

Minah membiarkan aksi Sehun selama beberapa menit berhubung dilapangan ini hanya ada dirinya dan Sehun dan tidak ada siapapun, dari sudut mata gadis itu ia dapat melihat garis wajah Sehun dengan jelas. Perasaan aneh terus mengaliri jantungnya, dan iikuti oleh detakkan yang tak seirama.

 

Selalu begini, sejak pertemuan dengan Sehun setahun yang lalu, Minah tidak bisa melepas bayang-bayang Sehun dari benaknya.Lelaki yang awalnya terkesan dingin ini, ternyata begitu hangat didalamnya.

 

n-ne,” Minah menjawab nasehat Sehun dengan terbata-bata, gadis itu bahkan tidak mampu menatap wajah Sehun lebih lama, karena jantung Minah berpacu semakin cepat, sedangkan Sehun sendiri, entah sejak kapan ia mulai menyukai gadis ini. Gadis yang sudah menyita perhatiannya lebih dari enam bulan belakangan ini.

 

Semenjak gadis ini datang kerumahnya untuk mengerjakan tugas geografi, namun disaat bersamaan Sehun sedang sakit dan seluruh keluarga Sehun sedang pergi ke Daegu untuk mengikuti pemakaman neneknya.Ibu Sehun meminta Minah untuk merawat Sehun selama dua hari, dari sanalah Sehun melihat sesuatu yang berbeda dari diri Minah.

 

Gadis ini berbeda menurut Sehun, dimana gadis-gadis disekolahnya berusaha untuk tampil semenarik mungkin dihadapan lawan jenis, namun gadis itu tidak. Minah adalah Minah, ia tidak pernah berusaha menjadi orang lain.

 

Walaupun Minah terkesan misterius, Sehun tidak pernah sekalipun berkunjung kerumahnya ataupun mengetahui salah satu anggota keluarga gadis itu.

 

Sehun masih memainkan ponselnya, saat ini ia sedang menunggu Minah didepan kedai ramen. Kadang-kadang lelaki itu menguap, karena jam ditangannya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Beruntunglah, besok adalah hari libur nasional, jadi ia tidak berkewajiban untuk bangun pagi.

 

“Menunggu lama?” suara yang sudah ia tunggu-tunggu membuyarkan rasa kantuk Sehun, senyum lelaki itu mengembang saat melihat Minah sudah berdiri dihadapannya.

 

“Tidak, hanya sebentar,”

 

“Aku sudah bilang, kau tidak perlu menjemputku,” Minah menyilangkan tangannya, dan menatap Sehun tidak tega. Ia mengetahui Sehun sebagaimana ia mengetahui dirinya sendiri, lelaki ini tidak bisa tidur hingga larut malam.

 

“Gwaenchana, lagipula besok libur,” Sehun tersenyum dan kemudian menggenggam tangan Minah, sepanjang perjalanan tangan Sehunlah satu-satunya sumber kehangatan yang dapat menyelimuti Minah.

 

Mereka terus berjalan disebelah sungai Han, banyak pasangan yang berpacaran sepanjang sungai Han atau sekedar bermain basket atau bersepedah.Minah terus menikmati malam ini bersama Sehun selagi mereka masih mempunyai waktu.

 

Sehun akan melakukan debutnya sebagai penyanyi beberapa minggu lagi, dan pasti mereka tidak akan mempunyai waktu banyak untuk terus bersama. Minah menautkan tangannya ketangan Sehun, dan menyenderkan kepalanya kepundak Sehun.

 

“Jangan lupakan aku ya jika kau sudah jadi artis,” Sehun tersenyum sekilas, dan mengacak rambut Minah pelan, kemudian mencubit pipi gadis itu.

 

“Tidak akan pernah,” suara Sehun begitu lembut selembut angin malam yang terus menghembus.

 

Graduation Day.

 

Minah duduk diantara murid-murid yang akan diwisuda, sesekali ia melihat kearah bangku orang tua murid. Akankah kedua orang tuanya datang atau tidak?Minah memaklumi jika kedua orang tuanya tidak dapat hadir.

 

“Mereka tidak datang?” Sehun yang duduk disebelah Minah hanya bisa mengusap tangan Minah pelan, dan tersenyum kearah Minah. Perasaan gadis itu sedikit terobati saat  Sehun terus menenangkannya dan duduk disebelahnya.

 

“Mungkin sibuk,” tutur Minah.

 

Acara wisudapun sudah dimulai, banyak berbagai sponsor dari majalah Ibunya menghiasi ruang wisuda, Minah tau Ibunya menyumbang banyak dalam acara ini dan mungkin hanya hal itu yang dapat Ibunya lakukan sebagai permintaan maaf.

Kepala sekolah menyampaikan beberapa patah kata dan sambutan, kemudian disambung oleh beberapa penampilan dan juga pidato dari beberapa guru.Hingga sampai di penghujung acara, yaitu pembacaan murid terbaik.

 

“Murid terbaik tahun ini jatuh kepada seorang gadis yang memiliki nilai akademik nyaris sempurna, namun juga catatan keterlambatan yang juga nyaris memenuhi buku paket. Ahn Minah,”

 

Minah hanya terpaku ditempatnya, banyak anak murid menempuki dan mengucapkan selamat kepadanya.Sehun yang duduk disebelahnya pun juga mengguncangkan pundak Minah.

 

“Minah! Kau menjadi murid terbaik,” ujarnya.

 

Minah mendapatkan banyak bunga, piala, dan piagam.Sayang sekali orang tuanya tidak melihat hasil jerih payahnya, malah kedua orang tua Sehun yang menyelamatinya.

 

gwaenchana, yang penting kau sudah membanggakan mereka,” ujar Sehun yang datang dari belakang Minah. Tak lama, Sehun memeluk Minah.Pelukkan yang hangat, dan mampu membuat jantung Minah dialiri rasa hangat.

 

Minah menyandarkan kepalanya di dada bidang Sehun, dan Minah juga mampu mendengar detak jantung Sehun yang terdengar sangat indah ditelinga Minah.

 

I love you,”

 

Sehun mengucapkan kata yang sudah lama ia pendam kepada gadis ini, walaupun perlu waktu lebih dari setengah tahun untuk memberanikan mengucapkan kata-kata itu.

 

Disisi lain, Minah hanya terpaku mendengar ucapan Sehun. Walaupun dibenaknya ia tampak sedang berpikir, apakah ini sekedar kata pernyataan.

 

I love you, too,”

 

Minah menjawab perkataan Sehun, Sehun yang mendengar ucapan Minah langsung melepaskan pelukkan gadis itu.Dan menatap Minah dengan seksama, mata Sehun terus menjelajahi wajah Minah yang sudah terlihat seperti tomat.Hingga matanya tertuju pada bibir Minah yang berwarna merah muda.

 

Entah keberanian darimana, Sehun memajukkan wajahnya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Minah, Minah yang melihat perilaku Sehun hanya bisa menahan nafasnya.Hingga akhirnya bibir mereka bertemu, walaupun hanya menempel namun mampu membuat sengatan listrik yang mengalir diseluruh organ tubuh Minah maupun Sehun.

 

Senyum Minah terus mengembang mengingat kejadian beberapa saat lalu, jantungnya terus berpacu dan pipinya terus merona.Rasanya bahagia terus membuncah di hatinya.

 

Minah sampai ke apartemennya dan melihat pintu apartemennya terbuka, ia memasukkan setengah badannya kedalam apartemennya dan melihat siapa yang datang.

 

“Ahn Minah,” suara Ayahnya menggema masuk kedalam telinga Minah.

 

“Ayah!” Minah masuk kedalam apartemen dan berhambur kepelukkan Ayahnya, disana juga ada Ibunya yang menunggu Minah di sofa.

 

“Ibu” kemudian ia memeluk Ibunya, ia merindukkan kedua orang tuanya, dan ia senang saat melihat kedua orang tua sudah ada di apartemennya di hari kelulusannya.

 

Namun semua kesenangan yang sedari tadi menyelimutinya tiba-tiba saja mendadak hampa saat Ibunya menatap anak perempuannya dengan sinis dan tidak suka.

 

“Malam ini kau ikut bersama kami ke Paris” ujar Ibunya, Ibu Minah sangat tegas dan ia membenci kebohongan bahkan kebohongan anaknya sekalipun. Tak lama Ibu Minah melemparkan beberapa lembar foto ke arah meja ruang tamu.

 

Minah melihat dirinya yang sedang melakukan perkerjaan part time hingga larut malam, foto dirinya menggunakan kendaraan umum dan juga saat dirinya sedang berjalan dengan Sehun terpajang jelas di foto itu.

 

“Aku bisa jelaskan, Bu,” Minah ingin menjelaskan semuanya kepada Ibunya, ia berharap Ibunya mengerti atau setidaknya jangan menyuruhnya untuk ikut bersama mereka saat ia mempunyai sesuatu yang berharga disini yang patut di pertahankan.

 

“Kau mau jelaskan apalagi, Ahn Minah? Kau tidak pernah menggunakan uang yang kami kirimkan, kau berbohong dan berkata kau menggunakan mobil yang kami sediakan,” Ibunya marah, jelas. Karena nada suaranya sudah menunjukkan amarah yang terpendam.

 

“Kau putri kami satu-satunya, aku tidak mau kau kenapa-kenapa, dan sekarang mari kita sudahi permainanmu dan ikut kembali ke Paris dengan kami malam ini” lanjut Ibunya,

 

Hati Minah hancur berkeping-keping, kenapa secepat ini? Bahkan kedua orang tuanya tidak datang saat acara kelulusan sekolahnya, dan sekarang ia harus pergi meninggalkan Korea.

 

“Ayah!” Minah meminta pertolongan kepada Ayahnya, namuan Ayahnya hanya bisa mengidikkan bahunya, bahkan jika Ibunya sudah marah tidak ada yang bisa dilakukan oleh Ayahnya.

 

“Ayah tau kau melakukan itu untuk hidup mandiri, tapi kau tau sendiri sifat Ibumu,” Ayah Minah mengelus pundak putrinya pelan, ia tau bahwa anak perempuannya ingin merasakan hidup mandiri, namun istrinya telalu overprotective kepadanya.

 

“Selamat atas kelulusanmu, Nak. Ayah bangga mempunyai anak yang pintar sepertimu, tadi Ayah dan Ibu datang kelulusanmu tapi kami duduk di kursi paling belakang,” lanjut Ayah Minah, sedangkan Minah hanya dapat menangis di tempatnya.

 

Sebentar lagi pesawat menuju Paris akan segera berangkat dan Minah masih menimang-nimang haruskah ia mengirimi pesan kepada Sehun atau bagaimana. Pikiran Minah buntu, ia benar-benar tidak tau harus bersikap seperti apa.

 

Hingga akhirnya Minah membuat pesan singkat kepada Sehun, setidaknya ia tidak harus mendengar suara Sehun yang membuatnya semakin sulit untuk meninggalkan Korea.

 

To. Oh Sehun

 

            Sehun-ah, kau sedang apa?

 

Setelah Minah mengirimi pesan ke Sehun, ia melihat foto Sehun dengan dirinya hari ini. Minah tertawa sekaligus menangis, kenapa Ibunya begitu jahat terhadapnya? Bahkan belum saja 24 jam Sehun menyatakan cinta kepadanya.

 

From. Oh Sehun

 

            Memikirkanmu, Minaaaaaaaaaah. Aku senang akhirnya kita menjadi sepasang kekasih, bahkan aku sudah merindukkanmu, bogoshipo

 

Tangan Minah bergetar saat melihat pesan dari Sehun, “na do, bogoshipo,” gumam gadis itu.Air mata semakin mendeasak untuk keluar, namun hal itu bersamaan dengan pengumuman penumpang untuk masuk kedalam kabin pesawat.

 

Kajja Minah,” ucap Ayah Minah. Dengan gerakkan cepat, Minah mengetik pesan singat kepada Sehun, yang mungkin menjadi pesan terakhir untuk Sehun.

 

 

To. Oh Sehun

 

            Saranghae, Sehun-ah. Na do bogoshipo.

 

Iklan

19 pemikiran pada “Goodbye

Tinggalkan Balasan ke Qonita Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s