Guardian Angel (Chapter 5)

PicsArt_1395396408021

GUARDIAN ANGEL

CHAPTER 5

_______________________________________________________________________

 

Author : @putrislsaput

 

Main Cast :

 

  • Xi Luhan [EXO]
  • Kris [EXO]
  • Park Chanyeol [EXO]
  • Byun Baekhyun [EXO]
  • Park Chan Min a.k.a Park Ji Yeon [T-ARA]
  • Han Min Kyung a.k.a Jung Soo Jung [FX]

 

Length : Chapter

 

Genre : Fantasy, Romance, Sad, Thiller, Fluff, Angst

 

Rate : Teenager

 

Disclaimer : No Silent Reader, dan tinggalkan comment untuk mengkoreksi dan menghargai penulis. Gamsahamnida ._.

 

Chapter 1 : here

Chapter 2 : here

Chapter 3 : here

Chapter 4 : here

 

 

 

ϱχǾ

 

Dimulai hari ini, dan dimulai pada detik saat ini juga. Aku akan berkata jujur. Aku akan berkata jujur bahwa hatiku kini telah menentukan arahnya. Arah yang selalu mengarah padamu. Arah yang selalu mengarah pada hati kecil milikmu. Wahai hempasan angin. Bolehkah kau memenuhi permintaanku kali ini saja? Aku.. aku menginginkan kau menjadi saksi alam tentang aku dan dia. Aku ingin kau menjadi saksi alam yang akan menyaksikan kemana senyuman itu ia berikan. Aku ingin kau menjadi saksi alam yang akan menyaksikan kemana arah ketulusan cinta yang ia miliki. Aku juga ingin kau menjadi saksi alam yang akan menyaksikan kenangan terindah tentang aku dan dia.

 

 

ϱχǾ

 

© Author POV ©

 

“Kau belum tidur?”

 

Luhan hanya menghela nafas saat mendengar suara seseorang dibelakangnya. Ia tetap memilih untuk tak menjawab dan terus memandang pemandangan malam dari balkonnya.

 

“Kau marah padaku?”

 

Park Chan Min kini menyetarakan posisinya dengan Luhan. Kini ia berada tepat disamping laki-laki yang hanya diam sejak beberapa jam yang lalu. Memang saat ia mengatakan bahwa ia percaya pada Baekhyun, Luhan mulai bersikap aneh. Seketika hati miliknya merasakan ada sesuatu yang salah pada Luhan. Apa mungkin karena perkataannya tersebut yang membuat Luhan bersikap tak acuh seperti ini padanya?

 

“Jawablah kumohon. Kau tak tahu bagaimana perasaanku saat kau mengacuhkanku seperti ini?”

 

“Apa aku harus peduli? Bahkan kau saja tak peduli tentang perasaanku jika kau terus bersama Baekhyun”

 

Mata milik Luhan membulat seketika saat ia menyadari sesuatu yang salah. Sesuatu yang membuat Park Chan Min tersenyum. Bodoh! Apa yang baru saja kukatakan?!

 

“Aigoo.. Luhan ssi, kau cemburu?”

 

“Lupakan saja, barusan aku salah bicara”

 

“Kenapa harus dilupakan? Aku menyukainya”

 

“Maksudmu? Kau menyukai siapa?”

 

“Aku menyukai saat dirimu cemburu seperti tadi”

 

“Aku tak cemburu!”

 

“Jangan berbohong. Kau tahu? Insting milikku itu lebih tajam dari serigala hahaha”

 

“Memangnya tak boleh jika aku cemburu?”

 

“Hahaha ternyata benar dugaanku, kenapa kau jadi cemburu sama Byun Baek Hyun?”

 

“Cemburu harus ada alasannya memang?”

 

“Secara logis, menurutku cemburu memang ada alasannya”

 

“Tapi bagiku tidak”

 

“Ayolah Luhan, jangan bersikap seperti itu padaku. Aku mengatakan bahwa aku mempercayai Baekhyun itu hanya sebatas aku mempercayai teman tak lebih. Aku hanya merasa bersalah saat kejadian dihutan. Aku telah berfikiran yang negatif terhadap Baekhyun. Hanya itu, tak lebih. Kau percaya padaku bukan? Kau tak marah lagi padaku?”

 

Entah mengapa kini hati Luhan mulai terasa lega mendengar pernyataan yang Park Chan Min ungkapkan. Ya. Setidaknya itu masih memberinya sedikit harapan. Setidaknya kini ia tahu bahwa masih ada kesempatan baginya untuk mencintai perempuan disebelahnya.

 

“Dari awal aku memang tak marah padamu”

 

“Kau berbohong”

 

“Tidak”

 

“Benarkah? Jika kau bohong, semoga jodohmu nanti bersama teman perempuanmu yang cerewet itu”

 

“Ya! Tidak, aku tak mau! Lebih baik aku bersamamu dibanding dia” jawab Luhan yang terus merengut.

 

Park Chan Min tertawa lega walaupun di lubuk hatinya ia merasa gentar. Ia merasa gentar karena suatu kenyataan bahwa tak boleh ada yang mencintainya. Jika manusia bumi mencintainya pastilah akan menyakiti manusia itu bahkan dirinya sendiri. Namun kini ia merasa lega karena ia dapat membuat Luhan tersenyum kembali.

 

“Semoga kau bisa terus bersamaku”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Entahlah. Jika suatu saat nanti masalahku sudah selesai mungkin aku akan kembali dan mungkin kita sudah tak bisa bertemu lagi”

 

“Kalau begitu jangan selesaikan masalahmu!”

 

“Itu tidak mungkin, aku bertaruh nyawaku untuk seluruh nyawa di suatu kehidupan”

 

“Kalau begitu, bawalah aku. Mungkin jika nyawamu terancam aku akan menyelamatkanmu dan siapa tahu kita masih bisa terus bersama”

 

“Luhan aku tahu alasanmu berkata seperti ini. Namun takdir tak bisa dipungkiri bukan? Ayolah, kita nikmati saja setiap detik pertemuan kita ini. Jika takdir mengatakan kita untuk bertemu, pasti suatu saat hal itu akan terjadi”

 

“Baiklah kalau begitu”

 

“Aigoo.. Xi Luhan lihatlah betapa optimisnya dirimu”

 

“Tentu saja, aku yakin dan sangat yakin bahwa kita sudah ditakdirkan untuk bersama”

 

Park Chan Min tersenyum manis lalu menatap bulan yang sedari tadi menyinari mereka berdua.

 

Andai itu terjadi, Aku juga ingin bersama denganmu..

 

“Hei Park Chan Min, bagaimana jika besok kita pergi berdua? Bukankah kau bilang kita harus menikmati detiap detik yang kita punya?”

 

“Boleh tapi.. Min Kyung?”

 

“Hanya berdua”

 

“Baekhyun?”

 

“Ya! Apalagi dia! Sudah kubilang hanya berdua! Kau dan aku pokoknya!”

 

“Hahahaha kau cemburu lagi”

 

Melihat Park Chan Min tertawa lepas, Luhan pun juga ikut tertawa bersamanya. Entah tertawa karena dirinya malu atau memang hatinya kini sedang bahagia.

 

Hempasan angin.. Kuharap kau menyaksikan kami tertawa bersama…

 

 

 

ϱχǾ

 

 

 

Menyelusuri kehidupan Herrsher yang sudah lama tak ia kunjungi membuat Werdnam mengingat memori-memori masa lalunya. Kenangan indah yang hanya ia lewatkan dengan Raja dan Puteri, juga kenangan buruk yang ia lewatkan dengan Kris. Kenangan buruk itu terngiang kembali saat ia melintasi penjara istana yang sangat menyeramkan. Menyeramkan. Itulah yang memang ia rasakan ketika ia pernah di tahan oleh Kris karena membantu sang Raja. Sampai akhirnya Hyunbul kecil menolongnya dengan berusaha keras menganggali tanah hanya untuknya. Hal itu lah yang menjadi alasan mengapa kini ia mengasuh dan merawat Baekhyun hingga menjadi sekuat itu.

 

Aku harus mencari buku turunan keluarga Kris di Istana Lamanya! Setelah itu aku akan membakarnya!

 

Sebelum mengerjakan semua itu, mata milik Werdnam mulai terpejam. Dengan kerutan di dahi, ia mulai memanggil Baekhyun.

 

Baekhyun! Byun Baekhyun! Kau dengar aku? Bersiap-siaplah disana. Sebentar lagi tugasmu akan dimulai. Berhati-hatilah karena aku tak mau kehilangan dirimu.

 

 

 

ϱχǾ

 

 

 

Baekhyun! Byun Baekhyun! Kau dengar aku? Bersiap-siaplah disana. Sebentar lagi tugasmu akan dimulai. Berhati-hatilah karena aku tak mau kehilangan dirimu.

 

Suara Werdnam yang begitu keras itu membangunkan Byun Baekhyun dari mimpi-mimpinya. Entahlah mimpi apakah itu. Bukankah setiap mimpi menjadi rahasia sang pemilik mimpi? Baekhyun melirik jam.

 

Jam sembilan?!

 

Secepat mungkin, laki-laki dengan tubuh yang cukup atletis itu mempersiapkan dirinya untuk menyelinap markas besar Kris. Ia bahkan tak lupa memakai jaket kulitnya yang mungkin akan membantunya saat bajunya terobek ketika ia berubah wujud. Ya setidaknya ia tak perlu menanggung malu.

 

Keluar dari kamarnya, Baekhyun langsung bergegas kebawah namun langkahnya terhenti ketika melihat Park Chan Min dan Luhan. Heran mengapa Baekhyun berada di rumah Luhan? Tentu saja itu karena izin Chan Min dan sahabatnya itu. Berkat cerita Werdnam kini Chan Min sudah mengizinkan permintaan Baekhyun yang masih masuk akal. Termasuk saat ia meminta untuk tinggal disini demi keselamatan mereka berdua.

 

“Ya! Kalian mau kemana?”

 

“Aku akan mengajak Chan Min jalan-jalan”

 

“Kau sendiri mau kemana?”

 

“Aku..”

 

Baekhyun melirik sekilas wajah Luhan.

 

Tidak mungkin aku memberitahumu disini.

 

Memangnya kau mau kemana?

 

Ada perintah tugas dari Werdnam

 

Masih berhubungan dengan Kris?

 

Selamanya tugasku memang berhubungan dengan Kris, karena dialah penghalang bagiku untuk melindungimu.

 

“Ya! Kenapa kau bicara formal sekali denganku!”

 

“Aku tak bicara sedikitpun”

 

Suara Luhan yang menjawab pertanyaan Chan Min, membuat mata Chan Min dan Baekhyun melebar selebar mungkin.

 

Bodoh! Hampir saja aku kelewatan bicara!

 

Kau memang bodoh!

 

Ya!

 

Begini saja, Kau boleh pergi dengan Luhan sampai aku menelponmu. Tapi kau jangan pernah menelponku.

 

Lalu Kris?

 

Dia telah dipancing oleh Werdnam. Werdnam telah mencuri buku rahasia kekuatan keluarganya turun menurun dan Werdnam jugalah yang akan membakar istana lamanya. Selama Kris berada di Herrscher dan aku masih dalam misi tugasku ini, kau harus bersama Luhan karena..

 

Karena apa? Bagaimana mungkin Luhan bisa melindungiku?

 

Karena Luhan lah yang menjadi penyelamatmu seperti apa yang dikatakan Raja.

 

 

DEG!!

 

Apa maksudmu?

 

Luhan yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdua mulai gerah dengan situasi itu. Situasi dimana ia merasa bahwa mata Chan Min dan Mata Baekhyun seakan sedang berbicara panjang lebar.

 

“Ayo kita berangkat sekarang. Baekhyun, kau ingin berangkat bersama kita?”

 

“Tidak usah, Luhan. Aku punya urusan mendadak dan lagipula aku tak akan menganggu suasana kencan pertama kalian”

 

Byun Baekhyun tersenyum kecil dan dibalas oleh senyuman orang yang berada dihadapannya. Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Baekhyun melangkahkan kakinya. Namun belum jauh ia melangkah, ia menengok ke arah Chan Min.

 

Semoga Menyenangkan, Tuan Putri

 

 

© End Author POV ©

 

 

ϱχǾ

 

 

© Park Chan Min POV ©

 

 

Kencan pertama..

 

Entah mengapa aku terus memikirkan kata-kata Baekhyun yang ditujukan kepada kita beberapa jam yang lalu. Kata-kata yang cukup membuatku tersipu malu dan terus tersenyum.

 

Angin.. Aku ingin kau menyampaikan padanya bahwa aku akan selalu mengingat kenangan indah pada hari ini. Aku pasti akan selalu mengingat kenangan indah pada kencan pertamaku bersamanya.

 

“Taman bermain?”

 

Luhan mengangguk

 

“Kenapa?”

 

“Karena aku ingin berada disana”

 

Aku melihat Luhan menunjuk sebuah permainan. Entah apa namanya itu karena aku juga baru pertama kalinya mengunjungi tempat seperti ini. Tapi sepertinya itu menyenangkan, aku mungkin dapat melihat suasana bumi dari atas sana

 

“Baiklah, kalau begitu ayo kita kesana”

 

“Chan Min?”

 

“Iya?”

 

“Bolehkah… aku mengenggam tanganmu?”

 

Tersenyum dan mengangguk. Hanya itu yang kulakukan untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang dapat membuat hatiku berhenti berdetak sepersekian detik.

 

Hari ini akan menjadi hari terindah dalam hidupku…

 

 

© End Park Chan Min POV ©

 

 

ϱχǾ

 

 

© Author POV ©

 

 

Dalam set taman bermain, sepasang pasangan ikut mencairkan suasana romantis diantara para pasangan lainnya. Mereka tak memikirkan betapa ramainya suasana di pagi menjelang siang hari itu. Mereka tak memikirkan betapa panasnya hari itu. Yang mereka pikirkan hanyalah tentang kenangan-kenangan indah yang akan terbentuk pada hari ini.

 

Senyuman, candaan, dan tawa kini selalu terlihat jelas diantara keduanya. Dimulai saat mereka membeli sebuah gula kapas, menaiki permainan berbentuk kuda-kudaan yang berputar, berfoto-foto ria di sebuah tempat kecil yang tertutup, makan siang di sebuah pondok, memanah sebuah apel, memasuki rumah hantu yang membuat Chan Min mengetahui bahwa hantu di bumi lebih menyeramkan daripada di Herrscher, menonton atraksi sulap mulai dari sederhana sampai yang menengangkan, mengelilingi taman labirin yang tak tahu dimana ujungnya dan akhirnya kenangan indah itu ditutup oleh acara terakhir. Acara dimana Luhan telah mempersiapkan semuanya dimalam hari. Acara yang mungkin akan membuat jantung Luhan berdetak hebat.

 

“Kenapa sudah sepi? Bukankah sekarang masih jam 7?”

 

“Entahlah, ayo kita naik”

 

Dengan mengangguk, Park Chan Min mulai memasuki sebuah ruang kecil yang hanya ada meja yang berisi diner yang tidak cukup banyak namun romantis, kursi yang telah dihias, dan musik klasik romantis yang mengalun dalam ruang kecil tersebut. Ia menatap Luhan. Ia menatapnya karena ia kini tahu kenapa tempat ini tiba-tiba menjadi sepi dan berubah menjadi romantis.

 

“Sialahkan masuk, Tuan Putri”

 

Park Chan Min terdiam. Tuan Putri?

 

“Apa perlu kau aku gendong agar kau masuk dan tak memandangiku terus menerus?”

 

“Ah Maaf”

 

Pintu tertutup dan kini mesin mulai menyala yang tentu saja membuat ruang kecil dari besi alumunium itu terangkat keatas perlahan-lahan. Luhan tersenyum ke arah Chan Min. Ia berharap Park Chan Min menyukai semua ini.

 

“Kau menyukainya?”

 

“Tentu saja, aku menyukainya. Terima kasih”

 

“Sebelum ini aku bermimpi tentangmu, kau ingin tahu?”

 

“Tidak”

 

“Ya! Lihatlah, kau ini memang jahat sekali”

 

“Hahahaha aku bercanda, kau bermimpi apa? Disana aku cantik?”

 

“Berkacalah, kau memang sudah cantik walaupun sedang mengupil pun”

 

“Omo.. Aku tersanjung, jadi kau bermimpi apa?”

 

“Aku bisa terbang bersama mu ke langit, dan kau tahu apa selanjutnya?”

 

Park Chan Min terdiam dan terus menatap Luhan

 

“Aku merasakan mungkin diatas sana ada suatu kehidupan, dan kebahagiaan. Aneh bukan?”

 

Park Chan Min menggeleng untuk membenarkan apa yang Luhan katakan.

 

“Tidak? Tapi mana mungkin ada kehidupan lain di atas sana? Ah aku tahu, kau sedang berbohong padaku”

 

“Apa wajahku mengatakan bahwa aku sedang berbohong?”

 

“Entahlah..”

 

“Akan kubuktikan, suatu saat nanti aku pasti dapat membuat mimpimu menjadi nyata. Tapi jika tentang kebahagiaan … “ Park Chan Min menghentikan pembicaraannya, ia tak tahu harus berkata apa. Ia tak mungkin berkata bahwa manusia tak pernah diizinkan tinggal di Herrsher walaupun aku menjadi Ratunya. Kenyataan Herrscher tak menerima manusia sudah ada sebelum ia lahir bahkan kakek buyutnya lahir. “Aku tak bisa membuatnya jadi nyata”

 

“Hei.. Kau kenapa? Aku tak memaksamu membuat semua itu menjadi nyata, tenang saja. Dengan kau berada terus disampingku seperti ini, aku sudah bahagia. Aku tak perlu terbang, aku tak perlu dunia yang memiliki keindahan, dan aku juga tak perlu apapun. Asalkan ada dirimu, kehidupanku sudah jauh lebih lengkap”

 

“Tapi.. jika aku tak bisa bersamamu selama itu, bagaimana?”

 

“Maksudmu?”

 

“Seandainya aku tak bisa bersamamu selama itu, seandainya aku akan pergi kesuatu tempat yang jauh, atau seandainya aku tiada bahkan sebelum aku pulang ke kehidupanku dan tak bertemu lagi denganmu, bagaimana?”

 

Tak terasa, air mata Park Chan Min mengalir di pipi putihnya. Air mata yang menandakan ia takut kehilangan laki-laki yang kini sedang bersamanya. Namun di lain sisi, Luhan mengerti semua kekhawatiran Chan Min walaupun ia tak mengerti masalah apa yang sedang perempuan itu hadapi. Dengan penuh perhatian, Luhan mengusap pipi Chan Min dan berusaha menenangkannya.

 

“Kau percaya akan keajaiban cinta? Kau percaya akan takdir? Walaupun aku tak mengerti tentang masalah apa yang kau hadapi kini, tapi aku percaya keajaiban pasti datang”

 

Park Chan Min hanya bisa menatap mata Luhan dengan menahan tangisannya agar tidak mengalir lagi. Mendengar Luhan mengatakan takdir, pikiran Chan Min mengarah pada suatu peristiwa. Ya. Peristiwa di hari terakhir kakaknya dan di pagi hari tadi saat Baekhyun mengatakan bahwa Luhanlah yang dimaksudkan Park Chan Yeol.

 

Siapakah dirimu?

 

“Luhan, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

 

“Silahkan” Jawabnya dengan tersenyum.

 

“Apa aku boleh tahu tentang asal usulmu?”

 

“Maksudmu?”

 

“Maksudku tentang keluargamu, apa kau telah lama tinggal disini, atau kau berasal dari tempat lain?”

 

“Kau penasaran tentang hal itu?”

 

“Maaf, bukan maksudku untuk ikut campur tapi..”

 

“Aku akan menjawabnya. Aku tak tahu orang tuaku siapa bahkan aku tak punya keluarga satupun. Aku hanya mempunyai Baekhyun dan Min Kyung sejak kecil. Sampai menginjak remaja, aku dan Baekhyun di besarkan oleh Werdnam hingga pada saatnya aku berencana untuk hidup mandiri dan Baekhyun memilih tinggal dengan wanita paruh baya yang sudah dianggap ibu baginya selain Werdnam. Aku memilih mandiri dan Baekhyun memilih tinggal bersama ibu angkatnya setelah peristiwa aneh yang pernah kuceritakan padamu. Peristiwa yang membuatku menjaga jarak dengan Werdnam. Selain perasaan bersalah, perintah Werdnamlah yang memintaku dan Baekhyun untuk tak tinggal bersamanya. Terlalu bahaya bagi kita katanya.”

 

Bahaya?

 

Tidak mungkin, Werdnam begitu saja menerima seseorang. Ia selalu menerima jika seseorang itu merasa harus ia lindungi sekuat tenaga.

 

Siapa Luhan? Apakah Werdnam mengetahui sesuatu?

 

“Bagaimana Werdnam menemukan dirimu?”

 

“Entahlah, aku selalu bertanya namun Werdnam selalu mengelak”

 

Luhan menatap langit gelap yang selalu ditaburi bintang. Ia menerawang untuk melihat sesuatu. Bukan melihat sesuatu dilangit melainkan di pikirannya.

 

 

 

ϱχǾ

 

Flashback

 

Luhan remaja sedang bermain bersama Baekhyun yang saat itu berumuran sama dengannya. Namun sebelum permainan monopoli itu selesai Luhan mendengar sesuatu dari halaman belakang, dan dia bahkan melihat segumpalan angin berputar-putar hanya dihalaman belakang. Luhan yang penasaran langsung melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang terjadi, tapi langkahnya terhenti saat Baekhyun menahan tangannya.

 

“Jangan pergi kesana, terlalu bahaya”

 

“Kau tahu? Semakin kau mengatakan bahwa disana berbahaya, semakin aku penasaran dengan apa yang terjadi. Dan lagipula aku tadi mendengar suara Werdnam disana. Aku tak mau Werdnam kenapa-kenapa”

 

“Tapi.. aku lebih takut terjadi sesuatu padamu jika kau kesana”

 

“Jadi kau lebih mengkhawatirkan aku dibanding orang yang telah membesarkan kita?”

 

Baekhyun terdiam sesaat untuk mengolah apa maksud dari temannya itu namun dalam beberapa detik kemudian ia menyetujuinya.

 

“Baiklah, tapi kau harus selalu berada di belakangku”

 

“Ya! Memangnya aku penakut?! Memangnya aku lemah?!”

 

“Yasudah jika kau tidak mau, tidak usah kesana. Jika kau kesana tanpa aku, aku akan menyakiti ayam peliharaanmu itu”

 

“Selalu saja mengancamku dengan memanfaatkan ayamku” Ujar Luhan yang cukup kecewa dengan alasan ancaman temannya itu.

 

“Hahaha maaf, tapi aku menyukai ayammu dan selalu mengingat ayammu jika sedang mengancammu, jadi apa kau mau berada dibelakangku?”

 

“Baiklah”

 

“Satu lagi, kita harus mengintip”

 

“Memangnya kenapa?”

 

“Kau lihatkan, Werdnam lebih menyayangi dirimu daripada aku. Jika kau terluka karena aku mengizinkanmu melihat itu, aku akan di marahi olehnya. Kau tak kasihan padaku?”

 

“Baiklah”

 

Luhan dan Baekhyun mulai mengendap-endap dan mengintip apa yang terjadi. Mereka melihat pada ujung pusaran angin itu. Melihat dengan jelas bahwa Werdnam sedang berbicara dengan seseorang

 

“Siapa dia?”

 

“Seseorang yang sangat kejam dan tidak manusiawi”

 

“Kau mengenalnya?

 

“Tentu, maka dari itu aku tak ingin kau kesana, kita dengarkan saja dari sini”

 

Luhan menurut apa yang dikatakan temannya itu. Dengan teliti dan seksama ia mulai mendengar satu persatu kalimat yang keluar dari mulut Werdnam dan mulut orang itu. Walaupun sebenarnya penasarannya tentang angin itu masih mengganggunya namun ia lebih tertarik dengan apa yang dibicarakan Werdnam disana. Sedangkan di satu sisi, Werdnam bersikeras melawan ucapan demi ucapan orang yang berada di depannya.

 

“Sia-sia jika kau kesini, aku tak tahu tentang keberadaannya”

 

“Kau berbohong, Werdnam. Aku mengetahuinya karena aku lah yang membuangnya dan aku memperhatikan gerak-gerikmu selama ini”

 

“Kau yang membuangnya, dan kini kau kembali ke bumi untuk mengambilnya kembali?”

 

“Tidak, aku akan membiarkannya di bumi karena ia akan bermanfaat di suatu saat nanti untuk membantuku”

 

“Tak akan kubiarkan dia membantumu”

 

“Terkadang kedudukan kekuatan itu memang menjengkelkan bukan? Walaupun kau bersikeras melawanku seperti ini, namun dengan kekuatanku yang lebih kuat daripadamu, aku bisa saja langsung menubangkanmu”

 

“Aku mungkin tak bisa mengalahkanmu tapi aku percaya suatu saat nanti kau pasti bisa dikalahkan karena hati yang tak berperikemanusiaan tak akan berakhir bahagia disetiap akhir cerita”

 

“Simpan saja omong kosongmu itu, Werdnam! Jika kau tidak akan memberi tahu dimana Luhan biar aku yang akan mencari Luhan. Aku tak akan membiarkan Luhan di ajarkan oleh dirimu, di dalam dirimu terlalu banyak aura positif”

 

“Ah.. ternyata kau takut aku akan mempengaruhi Luhan?”

 

“Walaupun sebenarnya memang itu ketakutanku selama ini namun aku percaya darah lebih kental dibanding kepercayaan”

 

Kris tersenyum penuh arti dan menoleh pada dua orang dibalik tembok.

 

“Luhan-ah, apa kau mau kehadapanku sendiri atau perlu aku jemput? Ah tapi bagaimana jika kau datang sendiri? Aku sedang lelah berjalan”

 

Sambil menatap Luhan, pria yang tak lain adalah Kris mengibaskan pedangnya di leher Werdnam. Mungkin jika ia tak mengerem laju pedangnya itu, Werdnam sudah dipastikan tidak bernyawa lagi. Sedangkan Werdnam yang mengetahui ini hanyalah sebuah gertakan mulai menatap Luhan dengan penuh harap.

 

“Luhan, pergilah! Ini hanya sebuah gertakan! Byun Baekhyun, bawa pergi temanmu!”

 

Baekhyun yang tak bisa mengontrol kepanikannya terus menerus menatap Luhan dan Werdnam dengan gelisah. Ia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Sesekali pria yang berada disamping Luhan itu menarik lengan Luhan, walaupun ia tahu pasti bahwa Luhan akan menepisnya dan terus berada disini demi Werdnam.

 

“Luhan, kau ingin melihat betapa sadisnya aku membunuh orang yang telah membesarkanmu di depan matamu?”

 

LUHAN! BAEKHYUN! PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!!!!!

 

Mendengar teriakan dari Werdnam, kepalan tangan Kris tak bisa ditahan lagi. Ia tak suka jika ada orang yang menghalanginya. Menghalangi semua rencana-rencananya. Dengan menggunakan kekuatannya, ia mendorong, mengangkat, dan membanting Werdnam berkali-kali. Tak lupa ia juga menyerang wanita tua itu bertubi-tubi dengan kekuatan mantranya yang mungkin dapat membuat luka dalam pada tubuh Werdnam.

 

BERHENTI!!

 

Tak tega. Benar-benar tak tega. Itulah yang dirasakan Luhan saat ini. Hatinya tak bisa terima jika wanita yang telah ia anggap ibunya disakiti dengan pria tak beradab itu. Ia tak bisa tinggal diam. Ia harus menyelamatkan Werdnam bagaimanapun caranya.

 

Werdnam terkulai pasrah. Ia tahu bahwa Luhan tak akan mau pergi dari sini. Dengan keadaan lemas, ia melirik kearah Baekhyun untuk memberikan kode penyerangan. Werdnam menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Seketika itu juga, semua angin dan debu bahkan pohon-pohon disekitar mereka mulai riuh dan menutupi keberadaan Luhan dan dirinya. Sedangkan Baekhyun mulai melaksanakan tugas daruratnya. Wujudnya berubah menjadi seekor serigala besar tanpa diketahui Luhan dan Kris. Tak menyiakan kesempatan, Baekhyun langsung menerkam Kris. Memang tidak mudah untuk mengalahkan Kris, namun setidaknya pria yang tidak berperikemanusiaan itu telah menjauh dari Werdnam dan juga Luhan.

 

Flasback End

 

 

 

ϱχǾ

 

 

Apa yang dia lakukan!!

 

Berani-beraninya dia membakar istana kerajaan!

 

Kris yang sedari tadi sedang memperhatikan gerak-gerik Park Chan Min langsung naik darah saat mengetahui bahwa ada yang membakar istana lamanya. Istana yang memiliki beberapa benda berharga miliknya. Bahkan istana yang menyimpan jasad seseorang yang ia sayangi. Tanpa mempedulikan rencana yang sedang ia jalani, Kris langsung melebarkan sayap hitamnya dan terbang ke wilayah kekuasaannya. Ia terbang jauh ke Herrscher.

 

Namun tanpa Kris ketahui, sepasang mata berkedip secara perlahan di balik dinding. Bibirnya bahkan juga ikut tersenyum sinis. Tanpa mengulur waktu lagi, pemilik mata dan bibir itu keluar dari persembunyian lalu menghampiri sebuah kaca. Sekian detik kaca itu menampakan pantulan bayangannya namun setelah itu kaca yang sedang ia pandangi menampilkan sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan baginya. Sebuah pemandangan yang sangat sepi dan romantis.

 

Walaupun aku tahu rasanya menyakitkan, tapi aku akan menghargai dirimu.

 

Aku akan menghargai dirimu sebagai Ratuku.

 

Aku akan menghargai dirimu sebagai Majikanku.

 

Aku tahu diriku yang seperti ini sangat tidak pantas untuk bersanding denganmu.

 

Aku hanya dilahirkan sebagai tameng untukmu, bukan sebagai pasanganmu.

 

 

 

ϱχǾ

 

 

 

Kris menggeledah semua ruangan dalam istananya yang telah hangus. Semua ruangan terutama sebuah kamar yang tidak diketahui seorang pun kecuali dirinya dan adiknya. Dengan menahan tangisnya, Kris masuk ke ruangan itu. Dilihatnya seseorang yang terkulai bersih dan pucat di sebuah meja kayu panjang berukir itu. Ia lega karena jasadnya tak ikut terbakar walaupun ini mustahil jika mengingat seberapa besar amukan api sebelum ia datang. Apalagi saat dirinya melihat seisi ruangan yang tetap bersih tanpa noda hitam sedikit pun.

 

Ibu, kau melihatnya?

 

Kau melihat siapa yang masuk kesini?

 

Kau melihat siapa yang berani-beraninya merusak istana kesayanganmu?

 

Ibu, katakanlah!!

 

Siapa yang telah masuk kesini, bu!!

 

Apa ia menguasai mantra-mantra sehingga ruangan ini tak ikut terbakar?

 

Werdnam?

 

Mungkinkah dia?

 

Jika memang dia, kenapa ia tak membiarkan ruangan ini hangus?

 

Apa ada sesuatu yang dia incar?

 

Kris kembali menggeledah setiap inchi ruangan. Apa yang dia ambil dari istanaku?! Suara hati milik Kris tak bisa diam bahkan tak bisa tenang ketika ia terus menerus mencari barang barang yang hilang dari istananya. Namun beberapa menit kemudian ia baru sadar bahwa semua ini hanyalah pancingan Werdnam. Ia benar-benar merasa dibodohi.

 

Baru kuketahui ternyata kau memang licik, Werdnam.

 

Kris meninggalkan istananya dan juga jasad ibunya namun setelah tubuhnya tak tampak lagi, segerombolan angin berputar-putar di dalam ruangan itu. Segerombolan angin yang sukses membuat jasad wanita itu menghilang dan tentu saja dipindahkan ketempat yang aman oleh Kris. Namun yang tidak diketahui Kris, sebuah foto melayang dan jatuh dilantai akibat kencangnya tiupan angin tersebut. Saat foto itu melayang, tampak gambar yang tak asing baginya. Ya. Foto keluarganya yang telah berabad-abad lalu di jepret oleh notaris ayahnya dan dihiasi dengan tulisan “La Fuerza De Familia

 

 

 

ϱχǾ

 

 

 

Ternyata memecahkan kaca bukanlah hal yang mudah.

 

Dengan sekuat tenaga, Baekhyun terus menerus menyerang kaca itu dengan mantra – mantra yang telah ia persiapkan dari rumah. Namun itu semua nihil, tak ada satupun mantra yang berhasil memecahkan kaca itu. Ia tak habis fikir, sebenarnya apa yang telah Kris mantrai hanya untuk sebuah kaca? Bahkan sudah lewat satu jam, Baekhyun hanya bisa memecahkan bingkainya sedangkan kacanya tetap berdiri tegak tanpa penyangga. Kesabaran Baekhyun telah memuncak, ia memutuskan untuk menghubungi Werdnam.

 

Aku telah mencobanya dengan mantra-mantra yang telah kau berikan tapi tak berhasil.

 

Cobalah sekali lagi

 

Percuma, aku sudah mengulangnya beberapa menit yang lalu. Tak ada lagikah mantra yang bisa kugunakan kali ini?

 

Werdnam yang kini berada di gubuknya memandang sebuah buku yang terletak tak jauh dari pandangannya. Sebuah buku yang baru saja ia curi dari istana Kris. La Fuerza De Familia

 

Maaf, apa yang kau katakan barusan? Suaramu terlalu kecil, aku tak bisa mendengarnya, Werdnam.

 

Gunakan mantra itu secepatnya! Firasatku sesuatu yang buruk akan terjadi, cepatlah!

 

Mantra apa? Kau bahkan belum mengatakannya

 

La Fuerza De Familia!

 

Baekhyun memutuskan pembicaraannya dengan Werdnam, dan mencoba mantra yang baru saja Werdnam katakan.

 

LA FUERZA DE FAMILIA!!!!!!”

 

PRAAANGGGG…..

 

Berhasil! Aku berhasil!

 

“Selamat, akhirnya kau berhasil juga”

 

Baekhyun langsung menoleh saat suara yang tak asing baginya mulai berbicara padanya. KRIS?! Bagaimana ia berada disini?

 

“Kau terkejut melihatku berada disini?”

 

“Bagaimana kau..”

 

“Aku sangat berterima kasih kepada gurumu itu. Terima kasih karena telah membakar istanaku dan membuatku sadar bahwa itu hanyalah sebuah pancingan”

 

Baekhyun memundurkan langkahnya perlahan-lahan hingga pandangannya bertemu dengan sebuah jendela yang menghubungkan dunia luar. Sebuah jendela yang dapat membuatnya keluar dari sini. Tak menunggu waktu lama lagi, Baekhyun segera berlari kearah jendela namun Kris yang melihat usaha Baekhyun langsung menyerangnya dengan sebuah pisau perak yang sukses menancap di bagian lambungnya.

 

“Kau tahu kenapa aku mempunyai pisau perak? Kau tahu apa alasanku menyimpan pisau perak beberapa hari terakhir? Itu semua karena aku menunggu saat-saat ini, saat-saat dimana aku dapat membunuhmu dengan leluasa”

 

“Sial. Corazon Tormento!!!!!!

 

Sebuah mantra yang dilempar oleh Baekhyun sukses mengenai jantung Kris namun mantra itu tak mempan bagi Kris. Entah karena saat ini Baekhyun dalam keadaan tidak stabil atau kah memang Kris tak mempan dengan mantra itu.

 

“Kau sudah pintar dalam menggunakan mantra ternyata. Ah jadi selama ini kau hanya diajarkan mantra rendahan oleh gurumu?”

 

“Jaga ucapanmu! Mantra rendahan dapat menjadi kekuatan besar jika kau meremehkannya!”

 

“Lebih baik kau yang menjaga ucapanmu! Cayendo Enemigos!

 

“Arghh..!!”

 

“Katakan apa yang telah gurumu ambil dari istanaku!!”

 

“AKU TAK AKAN MEMBERITAHUMU!!”

 

MUERTO!!!”

 

“Arghh..!!!”

 

“Baiklah jika kau tak akan memberi tahuku maka matilah kau sekarang juga!!!! ELIMINAR VIDAS!!!!!

 

ELIMINAR VIDAS

 

Baekhyun mengingatnya! Ya. Dia mengingat mantra mematikan yang telah diajarkan oleh Werdnam setelah beberapa lama ia berusaha mengingatnya dalam keadaan penuh darah. Dan itulah yang terjadi. Kedua mantra yang sama saling dilemparkan satu sama lain. Kris yang sempat kaget langsung menghindarkan diri sedangkan Baekhyun menghindarkan dirinya dengan berubah menjadi serigala dan kabur melalui jendela sejauh mungkin.

 

 

 

ϱχǾ

 

 

 

Aku akan mengungkapkan siapa diriku kepadamu.

 

Walaupun aku takut bahwa kau akan meninggalkanku, tapi kejujuranku saat ini mungkin dapat membuatmu memaafkanku.

 

Memaafkan bahwa aku membohongimu selama ini

 

Memaafkan bahwa aku memanfaatkanmu selama ini

 

“Luhan?”

 

Luhan yang sedang menikmati makanannya langsung menengok ke arah gadis yang baru saja memanggilnya. Walaupun ia tahu bahwa wajah Park Chan Min sedang menunjukkan keseriusannya namun ia berusaha agar terlihat tenang di mata Park Chan Min.

 

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?”

 

“Tentang apa?”

 

“Bagaimana jika aku berbohong padamu selama ini? Apa kau dapat memaafkanku?”

 

Luhan terdiam.

 

“Bagaimana jika aku bukanlah seseorang seperti yang kau harapkan?”

 

“Kau sedang bicara apa..”

 

“Aku…”

 

“Park Chan Min, apa yang sedang kau katakan?”

 

“Aku… Aku bukan manusia”

 

Wajah Park Chan Min menunduk seketika. Menunduk dan mengenggam rok selututnya dengan kencang kemudian menutup matanya agar ia tak melihat Luhan yang marah padanya.

 

“Kau memang bukan manusia.. tapi kau adalah gadis yang sedang mengikat hati dan perhatianku saat ini”

 

“Aku serius Luhan”

 

“Aku lebih serius dari pada dirimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu bahkan saat kita bertemu didalam mimpi”

 

Mimpi?

 

“Aku telah jatuh cinta padamu saat kau menangis dan meminta tolong di dalam mimpiku. Dengan rambut yang panjang, gaun putih yang panjang, dan sayap putih yang membentang indah”

 

Park Chan Min sudah tak bisa membendung air matanya lagi, ia tak kuat menahan sakitnya bahwa ternyata Luhan telah mengetahui jati diri gadis yang dicintainya tanpa pengetahuannya. Ia tak kuat.

 

Ya Tuhan.. Kenapa kau membuat takdir begitu menyulitkan?

 

Kenapa kau membiarkan pria berhati suci di hadapanku ini menyukaiku?

 

Kenapa kau membiarkan pria berhati suci di hadapanku ini disakiti oleh diriku?

 

Kenapa Ya Tuhan??

 

Aku.. Aku tak tega jika untuk menyakitinya..

 

“Kau kenapa, Park Chan Min?” Luhan mengelus pipi perempuan yang kini berada disampingnya setelah ia memutuskan untuk duduk disamping Park Chan Min. Ia tak tahu apa yang terjadi. Ia tak tahu apa yang baru saja ia lakukan hingga membuat Park Chan Min menangis seperti ini. Apa mungkin karena pernyataannya barusan?

 

“Itulah… Itulah diriku sebenarnya”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Itulah diriku!! Itulah diriku! Aku bukanlah manusia! Aku bukanlah penghuni bumi! Aku seperti apa yang kau lihat dalam mimpimu, Luhan! Sadarlah, aku tak pantas dicintai olehmu”

 

Tangisan Park Chan Min semakin menjadi-jadi. Luhan yang masih tak mengerti hanya bisa menenangkan Chan Min, walaupun pikirannya mengarah ke mimpi pertamanya dengan Park Chan Min. Park Chan Min yang memiliki sayap putih.

 

Sayap Putih? Apa mimpiku benar-benar nyata..

 

“Aku tak pantas kau cintai, aku benar-benar tak pantas..”

 

“Park Chan Min, tenanglah!”

 

“Aku bukan manusia!”

 

“KUBILANG TENANGKAN DIRIMU!”

 

Menunduk dan terus menunduk sambil menahan tangisanlah yang hanya Chan Min lakukan saat ini. Ia bahkan tak berani sedikitpun memandang mata milik Luhan. Dirinya terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.

 

“Kau pasti tak percaya padaku”

 

“Aku percaya padamu”

 

“Tapi mungkin kau tak akan percaya lagi padaku jika aku menunjukkan sesuatu padamu”

 

“Aku selalu mempercayaimu”

 

“Tidak! Kau tak akan mempercayaiku saat kau mengetahui semuanya!”

 

Luhan yang tidak tahu lagi harus dengan cara apa ia meyakinkan perempuan yang kini sedang menangis dihadapannya langsung mencium bibir Park Chan Min. Bibir yang pertama kali di cium selama hidupnya. Ya. Itu memang ciuman pertama bagi Luhan dan bagi Chan Min. Luhan tak menyesal jika ciuman ini diberikan pertama kali untuk Park Chan Min. Ia tak menyesal jika ciuman itu diberikan untuk wanita yang ia cintai.

 

Park Chan Min yang masih dicium oleh Luhan mulai menutup matanya dan menahan tangisannya. Namun kenyamanan yang Luhan berikan tak berlangsung lama, karena kini sayap milik Chan Min mulai membentang perlahan-lahan. Merasakan hal itu, Park Chan Min hanya bisa menangis dalam ciumannya. Ia bahkan hanya bisa memohon pada Tuhan agar waktu dapat berhenti saat ini.

 

Rasa takut kehilangan seseoranglah memang yang paling menyakitkan di dunia ini..

 

Rasa takut kehilangan seseoranglah yang membuat sebuah kehidupan menjadi hancur..

 

Rasa takut kehilangan seseoranglah yang membuat seseorang menjadi rapuh..

 

Dan kini rasa takut kehilangan seseorang itulah yang sedang dihadapi oleh hatiku sendiri..

 

Luhan yang heran mendengar tangisan Park Chan Min belum juga reda memutuskan untuk menghentikan ciumannya. Perlahan-lahan ia melepaskan ciuman tersebut dan menghapus air mata Chan Min sampai disaat ia terkejut melihat mimpinya menjadi nyata. Ia terkejut saat ia melihat sebuah sayap putih lebar tumbuh dari punggung Park Chan Min.

 

“Kau.. kau pasti tak dapat mempercayaiku lagi”

 

Luhan menghela nafas saat melihat Park Chan Min kembali menunduk. Kembali menangis untuk menghadapi pahitnya kenyataan. Namun setelah ia menghela nafasnya, dengan hati-hati Luhan mulai memeluk Park Chan Min.

 

“Tak peduli kau siapa. Tak peduli kau berasal darimana. Tak peduli kau mempunyai sayap. Tapi bagiku, kau pantas dicintai. Dan satu lagi… Aku akan selalu mempercayaimu dan selalu mencintaimu, Park Chan Min”

 

Park Chan Min yang mendengar apa yang dikatakan Luhan langsung melepaskan pelukannya dan memandang Luhan dengan tatapan tak percaya.

 

“Kau percaya padaku?”

 

“Kaulah yang seharusnya belajar mempercayaiku bahwa aku memang benar-benar percaya padamu”

 

Dengan perasaan lega, Park Chan Min tersenyum perlahan, “Aku mencintaimu”

 

“Apa? Apa yang barusan kau katakan, Park Chan Min?”

 

“Aku mencintaimuuuuuu”

 

Bibir Luhan kembali menyentuh bibir Chan Min, “Aku juga mencintaimu”

 

Dalam ciuman Luhan, Chan Min diam-diam tersenyum manis. Sangat manis hingga mungkin Luhan dapat merasakan betapa manisnya senyuman Chan Min dalam ciuman itu namun semua itu tak bertahan lama karena mereka dikejutkan oleh sesuatu yang meledak dan memancarkan cahaya putih yang menyilaukan di langit.

 

“Sesuatu telah terjadi..”

 

“Apa yang terjadi, kenapa langit menjadi terang?”

 

Park Chan Min seketika itu langsung menatap Luhan heran.

 

“Luhan, kau bisa melihatnya?”

 

“Tentu saja, itu sangat menyilaukan”

 

“Mustahil”

 

“Kenapa?”

 

“Manusia di bumi tidak bisa melihat peringatan yang berasal dari Herrscher”

 

“Herrscher?”

 

“Herrscher tempat tinggalku, ada diatas sana. Jika sesuatu hal penting terjadi, Herrscher akan mengeluarkan peringatan dan itu hanya bisa dilihat oleh penghuni Herrscher, kau yakin kau adalah penghuni bumi?”

 

Belum sempat Luhan menjawab pertanyaan Chan Min, mereka lagi-lagi dikejutkan oleh ledakan cahaya yang makin banyak menutupi langit bumi. Namun Luhan dan Park Chan Min lebih terkejut saat melihat kalung pemberian Park Chanyeol ikut bersinar terang. Bahkan sayap putih milik Park Chan Min juga ikut bersinar saat ledakan berikutnya.

 

“Argh..”

 

“Park Chan Min, kau tak apa-apa?”

 

“Kakak…”

 

“Kakak?”

 

Dengan tangan yang menggengam erat tangan Luhan, Park Chan Min menatap sumber ledakan itu. Menatap dengan tatapan penasaran tentang apa yang terjadi sebenarnya.

 

Apa yang terjadi?

 

Apa yang terjadi di Herrscher?

 

Apa ini semua ada kaitannya dengan kakak?

 

 

 

ϱχǾ

 

 

 

Byun Baekhyun yang menyaksikan ledakan itu hanya tersenyum penuh arti. Tersenyum penuh arti karena usahanya dan Werdnam selama ini tidak sia-sia. Ia tersenyum sekali lagi sambil memegang bagian lambungnya. Walaupun ia kini merasakan sakit yang luar biasa namun ketenangannya dapat membuatnya perasaannya menjadi lega. Merasa tak ada yang perlu diperhatikan lagi, Baekhyun melanjutkan perjalanannya kembali. Perjalanan yang mungkin sangat panjang mengingat ia sedang kritis dibawah pengaruh pisau perak. Sedikit lagi ia sampai di rumah Luhan, ia hanya perlu masuk dan berbaring di tempat tidur selagi menunggu ajal menjemputnya. Namun belum sempat ia membuka pintu, keseimbangannya mulai mengganggunya. Ia terjatuh dan terkapar di depan rumah Luhan.

 

Sedangkan disisi lain, Kris juga menyaksikan peringatan yang bersumber dari Herrscher itu. Ia berfikir kemungkinan-kemungkinan apa yang telah terjadi di Herrscher. Tapi pemikiran itu langsung dipatahkan saat ia melihat ledakan kedua, ketiga, keempat dan berikutnya tanpa berhenti. Jika ledakan itu tak hanya sekali, maka sesuatu yang besar telah terjadi. Tanpa ia sadari, ketakutan tiba-tiba menyelimuti hatinya.

 

Apa yang terjadi?!

 

 

 

ϱχǾ

 

 

 

Werdnam yang sedang meracik obat-obatan untuk mengobati seseorang di gubuknya terkejut saat melihat ledakan-ledakan yang tak ada henti-hentinya dari Herrscher. Untuk memastikan apa yang telah terjadi, ia memutuskan untuk melihatnya di luar. Namun baru beberapa langkah ia langkahkan, sebuah suara yang memanggilnya menahan langkahnya.

 

“Werdnam… Apa yang… terjadi padaku..?”

 

Werdnam menoleh dan tersenyum

 

“Selamat datang kembali, Raja”

 

 

 

ϱχǾ TO BE CONTINUED ϱχǾ

Iklan

60 pemikiran pada “Guardian Angel (Chapter 5)

  1. Mwo?? Jdi yg slma ini dirawat werdnam itu chanyeol?? Ia kn?? Wah keren …
    Pnsran bngt sma luhan ..dy itu siapa?? Npa kris juga mnginginkn luhan ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s