Cynicalace (Chapter 5)

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

 

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

CYC 3

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

 

Author’s Note:

Annyeong???? *muncul kedua author dari balik cast yg berjejer *dzing… Apa kabar readers? Adakah yang masih nunggu ff ini? Dan kepo bacanya? Wkwkkwkwkw

Chapter ini tercipta karena kedua author ngebet bgt pngen dpt jatah liburan… Tp apa daya.. Jd ajah tersalurkannya lewat cast Cynicalace yg sdg liburan bareng”.. Ohohoho

Sebelum readers membaca, kedua author ini mengucapkan banyak terima kasih pada admin yang udah post ff ini, dan sangat sngat terima kasih pada yang udah baca ff ini juga comment commentnya.. Semuanya menyemangati authors

Maaf kalo commentnya ga bisa dibalesin satu- satu… Tapi kami sdh membaca comment readers satu” kok.. Hehehe… Oke,

 

HAPPY READING ~

___

 

-:Author’s PoV:-

“Uhuk… Hoek…”

Rein memandang sosok yang sedang membungkuk di tepi kapal feri yang mereka naiki. Ya karena cara satu-satunya pergi ke Muuido Island adalah memakai kapal feri mereka tidak memiliki cara lain. Dan sekarang ia menatap prihatin sekaligus jijik ke arah sosok itu.

“Aish, jjinja? Kenapa harus kapal feri… Hoek… uhuk… seharusnya ini pesawat sial…”

“Hae-ya…”

Yap, orang yang sedang mengalami mabuk laut itu adalah Ilhae sahabatnya.Sejujurnya Rein sendiri sudah memiliki feeling tidak enak ketika mereka tiba di pelabuhan. Wajah Ilhae berubah pucat, well ia tidak begitu tahu menahu tentang hubungan yeoja itu dengan kendaraan air, mengingat mereka tidak pernah bepergian menggunakan jalur air.

Dan sekarang ia tahu, jangan pernah lagi mengajak Ilhae menaiki apapun yang berhubungan dengan transportasi air. Ah, sayang sekali padahal pemandangan laut itu sungguh indah. Pikir Rein menyayangkan.

“Tunggu sebentar, Hae-ya. Aku akan ke kabin untuk mengambil beberapa obat-obatan untukmu. Sial kemana hilangnya orang-orang?Kau bisa sendirian disini?”

“Well… sepertinya… uhuk, mereka sedang berada di ruang istriahat yang teduh… Hoek..tapi aku bisa sendirian, tenang saja Rein-ya. Aku ini masih anak yang kuat dan tidak perlu kau hiraukan seperti biasanya. Uhuk… Jebal, keluarkan aku dari benda ini… Uuk..” kata Ilhae terpatah-patah diantara rasa mual dan pusingnnya.

Rein yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Ilhae segera mengambil langkah seribu menuju ke dalam feri –mencari kotak P3K.

Dalam perjalanannya ia menemukan sosok Sehun yang tengah berjalan menemuinya.

“Rei!” sapanya riang.

“Hun-ah, dari mana saja kau?”

“Na? Aku baru saja keluar dari toilet.” Jawabnya ringan.

“Apakah kau memiliki rencana untuk tidur di kursimu setelah ini?”

Sehun menimbang sebentar, “Wae?”

“Temani aku mencari kotak P3K.”

“Kau sakit?”Dalam sedetik, Sehun menemukan dirinya merasa khawatir ketika membayangkan Rein sakit.

“Ani, bukan aku.Ilhae, dia mabuk laut.”Jawab Rein terburu-buru sebelum Sehun salah paham.

Sehun menghembuskan napasnya lega. Berpikir bahwa iasedikit kejam, ia lebih memilih melihat Ilhae yang menyebalkan itu sakit dibanding Rein.

“Ani, ani. Kau tidak boleh berpikir bahwa Ilhae sakit itu adalah hal baik, Oh Sehun.” Seakan bisa membaca pikiran Sehun, Rein berujar hal yang mirip dengan yang baru saja Sehun pikirkan.

Merasa tertangkap basah, Sehun hanya terkekeh.

“Dasar.”

*-*-*

Jjinja? Kenapa ia harus setidak berdaya ini? Mabuk laut adalah kelemahannya yang sudah ia sadari sejak kecil, ia pernah melewati air sebelumnya, ketika liburan keluarga dan disitulah ia menemukan kelemahannya yang satu ini. Pada awalnya ia mengira kalau pergi ke Muuido akan sama seperti ke Jeju melalui udara, tapi sialnya melalui jalur air. Tapi ia sudah setuju dan tidak bisa menarik ucapannya sendiri.

“Hae-ya!”

Perlahan Ilhae membuka matanya dan melihat sosok Rein mendekat ke arahnya dengan berguncang-guncang.Ia juga dapat melihat sosok Sehun yang nyaris buram. Sungguh ia ingin pingsan dan bangun ketika sudah sampai saja.

Rein dan Sehun mendekatinya dengan suasana akrab yang sangat kental.

Cih, bisa-bisanya namja dingin itu bersikap manis di samping Rein, gerutunya dalam hati.

Kedua orang itu berjalan mendekat dan sudah sampai di depannya beberapa detik berikutnya.

“Hun kau pegang dulu kotaknya, aku harus mencari obat mual untuk makhluk ini.” Sehun menuruti kemauan Rein, sementara yeoja itu sedang ‘mengacak-acak’ isi kotak P3K. Dia menemukan kain kasa, plester, alcohol, obat merah…tapi di mana obat mual yang ia cari?

Sementara Rein memeriksa kota P3K yang sekarang isinya sudah seperti kena angin topan Ilhae memandang sinis ke arah Sehun. Sungguhan bisa-bisanya namja itu baik sekali terhadap Rein SEORANG.Memang ada sesuatu di antara mereka, mencurigakan sekali. Saat itulah samar-samar ia melihat sesosok dengan tubuh jangkung tidak jauh di belakang Rein dan Sehun.

Perlahan otak Ilhae yang sudah kacau itu menemukan fungsinya kembali. Chanyeol dan Rein. Itulah misinya dan dari kedaannya yang mengkhawatrikan ia tidak menemukan cara lain selain…

“Sehuna, ayo temani aku.”

“Hah? Eodi?”

“Ke kursi terdekat, aku sudah tidak kuat berdiri dan carikan aku obat mual itu. Jebal, cepat!”Ilhae menarik-narik tangan Sehun barbar.Sementara Sehun sudah menggerutu dalam hatinya.

Rein melongo melihat pemandangan di hadapannya, mengapa mereka jadi sok dekat begitu? Especially, Geum Ilhae.

“Ya!Kalian mau meninggalkan aku, hah?”

Rein memandang sosok Sehun yang tertarik menjauh oleh Ilhae. Ia menggerutu beranjak untuk menyusul kedua makhluk itu, tapi sebuah suara menahannya di tempat.

“Ada aku disini.”

Kaget, Rein membalikan badan dengan cepat dan menemukan sesosok Park Chanyeol yang sedang tersenyum dengan ‘derpnya’.

“Mau apa kau?!” Sinisme, itulah segala sesuatu yang bisa dilakukan Rein ketika berjumpa dengan namja bermarga Park itu.

“Kau ditinggalkan mereka berdua, kukira kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu.” Chanyeol berusaha mencari alasan, ia hanya ingin menciptakan waktu berdua hanya dengan yeoja yang sedang menatapnya sinis itu. Sebelum ia kabur lagi.

“Oh ayolah, aku tidak semenyebalkan itu.Jangan menatapku seakan-akan aku adalah Voldermort yang dibenci semua orang.”Tak menghiraukan Chanyeol, Rein hanya mendengus malas.

“Mian.Aku hanya tidak bisa mengontrol ekspresiku.”Tandas Rein dengan nada yang sangat datar.

“Tapi terkadang itu membuatmu lebih cute, Jung Rein.” Chanyeol menatap jauh ke depan, dia tidak berusaha melirik untuk melihat ekspresi Rein. Entah dia akan marah atau mungkin semakin membenci dirinya. Chanyeol, dia hanya sedang berusaha dekat dengan Rein, walau hanya sekedar dengan ucapannya.

Disisi lain, Rein hanya membungkam mulutnya. Dia ingin menolak entah pujian atau malah hinaan yang baru saja diucapkan Park Chanyeol, karena ia pikir ia tidak peduli. Tapi Chanyeol terlihat tulus, dan hal itulah yang membuat hatinya sedikit bergetar. Sama halnya dengan kejadian malam itu, saat namja itu membantunya mendorong mobil Ilhae yang mogok.

Rein, dia masih terlalu jauh untuk dapat mengerti hatinya. Bahwa sesungguhnya, mungkin saja ia tidak membenci Chanyeol sedalam itu. Mungkin saja ada hal lain yang berubah semenjak ia memilih untuk memberikan kesempatan untuk namja itu. Kesempatan untuk sekali lagi masuk ke dalam kehidupannya.Kejadian malam itu.

“Rein-ah..” Chanyeol menyerah untuk menunggu reaksi Rein, ia melirik ke samping dan detik itu juga Rein juga sedang melihat Chanyeol dengan pandangan bertanya.

Chanyeol dia tidak bisa melepaskan momen ini, bola matanya mengintimidasi arah pandang Rein memaksa yeoja itu menahan pandangannya untuk Chanyeol.

“M..mwo?” rasanya ingin sekali Rein menceburkan dirinya sendiri ke laut ketika menyadari bahwa suaranya mulai bergetar, sama dengan hatinya. Kepalanya berteriak memakinya karena seakan-akan ia telah kalah hanya dengan tatapan seorang Park Chanyeol, tapi hatinya menepi –memberikan kesempatan bagi yeoja itu untuk tenggelam di coklatnya iris bola mata seorang Park Chanyeol yang sangat teduh.

Lalu Chanyeol tersenyum, dan detik itulah Rein telah menyadari sepenuhnya bahwa pasti ada sesuatu yang berubah dengan perasaannya.Wajah Chanyeol yang biasanya membuatnya ingin menamparnya, sekarang telah berubah.Yeoja itu, Jung Rein ingin menyentuh wajah itu.

Sial! Jung Rein sadarlah!!

“Rein-ah, bisakah kita berteman?” Chanyeol dia merasa takut untuk melanjutkan kalimatnya, tapi dia tidak bisa menemukan momen lain selain kali ini untuk mengatakan hal ini pada Rein. “Aku tidak memintamu untuk melupakan masa lalu, tapi bisakah kau memberikan kesempatan untukku?Kesempatan untuk menebus kesalahanku di masa lalu?Bertemanlah denganku.”

Masa lalu.

Seakan ada suatu benda keras yang baru saja menghantam kepalanya, Rein seakan tersadar.Masa lalu tidaklah bisa berubah.

Sekuat tenaga Rein menarik bola matanya dari bola mata Chanyeol dan berusaha bernapas, ia bahkan menahan napasnya karena Chanyeol. Lalu dengan sulit, ia melangkah menjauhi Chanyeol. Hampir setengah berlari.

Dia tahu, jika sekali lagi ia terjebak dalam perkataan Chanyeol. Ia akan hancur, sekali lagi, dan lebih parah. Karena masa lalu adalah guru yang sangat baik baginya, membantunya agar tidak melakukan kesalahan di masa depan.

Dan inilah yang ia pikir harus ia pegang teguh.

Jung Rein, dengan harga dirinya yang begitu tinggi menolak untuk melepaskan masa lalu.

Chanyeol disisi lain, sekali lagi merasa hancur. Punggung Rein yang makin menjauh sama seperti harapannya yang juga ikut menjauh.

“Bahkan walau hanya memintanya untuk menjadi temanku, aku ditolak.” Lalu Chanyeol menundukkan kepalanya dan menyandarkan kedua tangannya pada besi pinggiran kapal yang dingin. Merasakan dinginnya besi tersebut yang tidak seberapa dengan perasaannya sekarang, ia merasa sangat tidak enak di dalam sana.

 

-:Ilhae’s PoV:-

“Aish! Yeoja ini! Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

Aku melirik sedikit dari posisiku yang memunggungi orang yang baru saja menggerutu itu, tentu saja orang itu adalah Oh Sehun, namja yang secara tidak sudi aku tarik untuk membiarkan Rein bersama Chanyeol.

“YA! Kau tidak tahu apa orang sakit itu harus diberikan obat?! Berhentilah menggerutu.” Aku berkata dengan seluruh kekuatanku yang tersisa, rasanya setiap aku berbicara isi perutku akan keluar. Aku benci mabuk laut.

“Rei akan mengobatimu tadi, lalu kenapa kau malah pergi menyeretku?” balasnya sengit.

“Karena Rein sedang memiliki urusan kau tahu? Lagipula kau yang membawa kotak obatnya! Ppali, jebal, mana obat mualnya…” suaraku yang kupakai semakin berkurang dan hilang begitu saja saat feri berbelok. Ck, bisa-bisanya feri ini berbelok padahal menurut pandangan sehatku sebelum menaikki feri ini pulau Muuido terlihat lurus di depan sana.

“Jjinja? Rei memiliki teman sepertimu…” tapi walaupun Sehun masih menggerutu ia tetap mencarikan obat mual itu untukku. Aku memandangnya ketika beraktifitas berhubung aku tidak memiliki kegiatan selain duduk manis atau isi perutku akan keluar lagi. Sejenak aku menyadari raut mukanya yang sangat terlihat tidak rela.

“Kau melakukan ini untuk Rein bukan?” aku menatapnya.

“Tentu saja, kalau bukan karena Rei aku pasti sudah meninggalkanmu yang menyebalkan.”

“Aish, dingin sekali, kenapa kau membenciku? Kenapa kau begitu ramah dengan Rein?” aku memiringkan kepalaku memikirkan beberapa asumsi di sana. Sepertinya mualku agak membaik, apakah yang kubutuhkan hanya teman mengobrol untukku melupakan mabuk lautku?

“Ck, kau tidak ingat? Kau baru saja menerorku beberapa minggu lalu.” Kali ini ia sepertinya sudah menyerah mencari obat dari kotak dan membanting gulungan kain kasa yang tadi ia pegang.

“Ah.. mianhaeyo. Tapi jika tidak begitu Rein tidak akan ikut….”

“Lalu apa pentingnya Rei ikut?” ia memotongku.

“Kau tidak lihat? Ia sudah berkerja seperti orang gila, tidak lihat kantung matanya yang mengalahkan panda?” aku menunjuk-nunjuk mataku sendiri sebagai ungkapanku.

“Baiklah, dipertimbangkan.”

Aku menaikkan alisku, “Pertimbangkan?”

“Memaafkanmu, setidaknya kau memiliki niat baik disana.”

“Mwo?” aku mendongak dan perlahan sosok Sehun berjalan menjauh, “Eodi??”

“Kabin, aku ingin tidur. Jika bukan karena Rei aku tidak akan bangkit dari sana.”

Aku memutar bola mataku, Rein lagi, Rein lagi, “CK!?! YA! Kenapa kau begitu bergantung pada Rein? YA! Jawab aku!”

Tapi ia tidak menjawabku sama sekali, ia menghinaku sekali dengan hanya menoleh dan memandangku seakan aku ini orang bodoh. Wae? Apa salahku? Aku hanya bertanya karena tidak tahu, daripada aku melakukan kesalahan?

“Yang benar saja, dingin sekali orang itu. Kenapa pula ia berotasi di sekitar Rein? Dan Rei? Panggilan manis apa itu!” aku berguman memandang kepergian namja menyebalkan itu.

“Berotasi? Rei? Panggilan manis?”

“Ck, mau tahu saja.” Aku mendengar suara dan otomatis menjawabnya dengan mataku masih melotot membolongi jalan yang baru saja di lalui Sehun.

“Well kau cukup keras untuk membuat orang penasaran.”

“Tutuplah mulut dan pikiranmu yang serba mau tahu itu.” Aku menoleh malas bermaksud mengganti pemandanganku.

“AKH-YA!”

“Kenapa?”

“KAU MENGAGETKANKU! DARI MANA KAU MUNCUL?”

“Dari arah sana.” ia menunjuk ke arah dibelakangnya, “Bukankah aku sudah berbicara denganmu? Kenapa kau masih terkejut?”

“Ash, jjinja? Aku sudah berteman denganku berapa lama hah? Tidak bisakah kau tidak mengagetkanku? Kau tahu kelemahanku!”

Dan sosok sialan itu langsung saja tertawa tepat didepan wajahku. Ish, orang ini, “BERHENTI – UHK!” tanpa basa-basi aku langsung berdiri dari tempatku menuju kamar mandi atau lebih tepatnya wastafel.

“Uhuk… ugh.. hukk…” mataku berair sekali lagi ketika aku baru saja mengeluarkan isi perutku yang sepertinya sudah kosong sejak pertama kali menaikki feri.

“Mabuk laut?” perlahan aku merasakan tangannya memijat tengkukku, rasanya lumayan juga.

“Ya…” aku berkata lemah.

“Kau sudah minum obat?” tanyanya lagi.

“Belum, di kotak obat yang tersedia di sini tidak ada.” Aku membilas mulutku dengan air keran yang baru saja aku nyalakan itu.

“Sudah lebih baik?”

Aku menengakkan tubuhku, “Ne, gomawo Chen.” Aku langsung menyeringai lebar-lebar ke arahnya.

“Aku tidak tahu kau mabuk laut.”

“Ehehehe, hanya aku sebenarnya yang tahu. Tapi kecelakaan ini cukup membuat semuanya tahu, mungkin.”

“Ayo, ikut aku.”

Aku menatap namja yang sudah menjadi temanku cukup lama itu, tolong jangan sampai ia berusaha mengerjaiku atau apa. Tapi ia kali ini cukup normal, melihat raut khawatir di wajahnya.

“Jangan mencurigaiku, ayo ambil obat mual di tasku. Tidak jauh. Kau harus minum obat sebelum kau benar-benar mengosongkan seluruh isi perutmu. Jangan sampai ususmu yang keluar – ya! Appo!”

“Jangan berani-berani kau lanjutkan itu menjijikkan kau tahu! Atau kau mau aku muntah di bajumu kali ini?!

Aku memelototi Chen yang sedang mengusap lengannya yang baru saja terkena kepalan tanganku. Well, ternyata aku masih cukup kuat untuk menyakitinya.

“Apa yang kalian lakukan? Jangan membuat keributan disini.”

Aku menoleh dan mendapati Kai baru keluar toliet, mataku membelalak kaget dan langsung berjalan mundur untuk memberikannya jalan. Tapi melainkan berjalan dan mengabaikan keadaan, Kai malah menundukkan tubuhnya dan mengamati wajahku. Aku membeku dan menahan nafasku menunggu apa yang sebenarnya namja itu lakukan.

“Hmm, kau pucat. Wae? Sakit?” tanyanya.

“Ma..mabuk laut!” aku segera menjawab dan berbalik, “Chen, kau bilang kau memiliki obat? Ayo ambil. Selamatkanlah liburanku ini aku tidak ingin sakit.” Aku cepat-cepat menarik tangan Chen menjauh tanpa arah.

“Hei hei! Tasku di situ! Jangan berjalan lagi.” Ia menunjuk tasnya yang berada serong kanan tidak jauh dari posisi kami.

“Ah, ne, ayo.”

“Hmmm…”

Aku mendongak menatap Chen.

“Ada apa dengan kalian?” tanyanya sambil membuka resleting tas berwarna biru tua kepunyaanya.

“K.. Kai? Tidak ada apa-apa.”

“Oh.. namanya Kai. Kami belum sempat berkenalan. Tapi kau yakin tidak ada apa-apa dengannya? Kau terlihat gugup, panik….”

“Aniyo!”

Chen berbalik memandangku dengan pandangannya yang sangat mencurigakan, membuatku bergidik ngeri. Ish.. tidak bisakkah ia mengabaikan topik ini? Tidak bisakah ia menganggap aku kaget saja? Apa pula dengan istilah gugup dan panik dalam kepalanya itu?!

Ia sudah akan membuka mulutnya lagi, “Pokoknya apapun yang kau pikirkan adalah salah! Oke? Berikan obatnya.” potongku.

Dengan sengit aku langsung mengambil bungkus obat yang dipegangnya, tanpa banyak bicara aku langsung membuka bungkusnya dan meminum cairan berwarna hitam pekat itu, rasanya pedas dan pahit, tapi lebih baik daripada mabuk laut.

“Uhuk!” aku tersedak obatku sendiri saat posisiku yang tidak beruntung ini menghadap ke arah darimana kami datang dan melihat Kai berjalan dan melewatiku dengan santai.

“Ya.. kau ini kenapa sih?”

Aku cepat-cepat menandaskan obatku membuangnya ke tempat sampah yang kebetulan tidak jauh dari sana dan menjawab Chen sebisaku, “Tidak apa-apa. Anggaplah efek mabuk laut. Ayo temani aku keluar dan menghirup udara segar. Jadilah teman mengobrolku untuk membuatku lupa dengan penyakitku ini.”

Tanpa menunggu protes apapun dari Chen aku sudah menyeretnya menuju ruang terbuka itu. Namun pikiranku bukan berada di sana. Pikiranku kembali mengulang kejadian tadi pagi saat kami baru bersiap-siap berangkat. Saat Rein dengan kejamnya membuatku harus duduk di sebelah Kai, saat namja itu membuka mulutnya, berbicara.

Ya! Lupakan, lupakan. Sekarang lebih baik aku memastikan diriku tetap sehat dan tidak muntah lagi.

 

-:Rein’s PoV:-

Sial! Tempat ini sangat dingin!

Kugosokkan terus kedua telapak tanganku, sebenarnya aku ingin memprotes suhu di tempat ini yang lebih dingin daripada di Seoul. Tapi mengingat bahwa aku adalah yeoja yang cukup dewasa untuk tidak merengek karena suhu, kuurungkan keinginanku itu.

Aku menoleh ke sekeliling dan mendapati Kyungsoo yang sedang sibuk menelpon, dia sedang menelpon pemiliki gubuk pinggir pantai tempat kami akan menginap. Aku terus memerhatikannya, hingga ia menutup teleponnya.

“Kyungsoo-ssi, eotte?” U-oh! Aku berharap nada suaraku yang sangat antusias ini tidak disalah artikan, aku tidak antusias untuk merasakan menginap di gubuk pinggir pantai yang sangat populer di Muiido. Melainkan bersemangat untuk segera menghangatkan diri di dalam tempat yang sudah pasti lebih hangat dibanding losmen kecil tempat kami berkumpul sekarang.

Kyungsoo terlihat menahan tawanya sambil melihatku, sepertinya ekspresiku membuatnya ingin tertawa. Namun bukannya suara Kyungsoo yang sangat kunantikan itu terdengar, suara cempreng Ilhae lah yang kemudian muncul di udara.

“Wajahmu priceless sekali!” Aku menoleh ke kiri dan melihat Ilhae menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya, seakan-akan meremehanku.

“Sial! Kau pikir wajahmu tidak acak-acakan hah?”

Ilhae menggembungkan kedua pipinya, dan aku ingin menggambari pipinya dengan crayon merah supaya muncullah jelemaan Akimichi Chouji dari manga Naruto yang berpipi tembem dan memiliki lingkaran merah mencolok di kedua pipinya.

Oke, hentikan angan-angan aneh ini.

Chen mencoba menegahi kami dengan memulai kata-kata sok bijaknya, namun melihat wajahnya yang sok dewasa membuatku mual, “Geuman, geuman. Kalian itu yeoja berusia 21, tahun ini..”

“LALU?!” Sekali lagi aku menoleh, lalu terkekeh saat menyadari bahwa aku dan Ilhae sedang mengucapkan kata yang sama dengan ekspresi nyolot yang sama.

“Aku tidak berkata apa-apa.” Ingin sekali aku tertawa terbahak- bahak melihat wajah datar seorang Kim Jongdae, namun rasa dingin membuatku malas melakukan gerakan sekecil apapun. Jjang!

“Ahhh! Kenapa kau tidak melanjutkan serangan kepada Chen? Kedinginankah?” Ilhae menatapku dengan raut wajah tidak rela, sepertinya ia menyadari muka mengalihkan perhatianku.

“Eoh.” Jawabku dingin.

“Uri Rein~ kedinginan, sini biar eonni pinjamkan jaket.” Ilhae dengan soknya melepaskan jaketnya dan meyerahkannya padaku, dan aku yang tidak mau rugi langsung mengambilnya, “Jangan menyesal yaa, eonni.” Kataku mencibir, mentang-mentang Ilhae lahir lebih tua beberapa  bulan saja dariku.

“Kyungsoo-ssi, lanjutkan.” Kai di pojok ruangan akhirnya berkata untuk pertama kalinya, namun pandangan matanya sepertinya mengarah pada Ilhae. Whoa?

“Ah ne, Ilhae-Rein-Kyungah, di gubuk no 8, sementara aku ingin membuat ini menarik, bagaimana jika para namja melakukan Gai-Bai-Bu untuk menentukan kamar?”

“Ah?! Shirreo, shirreo.. biarkan aku sekamar dengan Chen dan Chanyeol.” Baekhyun mencoba mengambil cara mudah.

“Mwo? Aku tidak mau sekamar denganmu!” Chen berhasil membuat wajah Baekhyun mengerut-kerut dan berakhir melemparkan death glare untuknya.

“Oppadeul, bisa kalian membuat ini cepat. Kyungah kedinginan disini, tahu!”

“Dia benar.” Aku membenarkan sungutan Kyungah.

“Baiklah! Kkaja.” Mengomandokan diri, Chanyeol memulai. Para namja yang posisinya berpencar itu maju bergerak mendekati satu sama lainnya. Lalu membentuk lingkaran, aku tidak melihat dengan jelas bagaimana jalannya Gai-Bai-Bu mereka, yang kutahu beberapa detik kemudian. Chanyeol mengumumkan bahwa ia sekamar dengan Kai dan Sehun di gubuk no 10. Sementara Chen, Baekhyun, dan.. Kyungsoo? Oh, poor Kyungsoo. Kuharap ia bisa tidur malam ini, terpencar sendiri di gubuk paling jauh, gubuk no. 15.

 

-:Kai’s PoV:-

Aku meletakkan tasku di gubuk yang akhirnya kubagi dengan Chanyeol dan Sehun. Hari sudah menggelap ketika kami sampai ke gubuk tempat tujuan kami.

“Kai! Kkaja.”

Aku menoleh dan mendapati Chanyeol berada di pintu gubuk, “Wae?” tanyaku mengangkat alis.

“Kyungsoo ingin mengadakan api unggun, jadi kkaja!”

Aku memutar bola mataku, ada apa Kyungsoo menginginkan acara api unggun? Hmm, mungkin saja ia ingin mendekatkan suasana kelompok tersesat kami ini, mengingat ia orang yang sangat berkekeluargaan. Akupun langsung keluar dari gubuk, dan menghampiri kerumunan yang sedang menumpuk kayu bakar. Langkahku semakin mendekat…

“Dingin sekali…” aku berpapasan dengan si Hae-Hae, yeoja itu nampak kedinginan. Ia menggosok-gosokkan tangannya untuk menghangatkan diri. Seketika aku mengingat kalau yeoja itu meminjamkan jaketnya untuk Rein.

Satu kata itu yang mendiskripsikan si Hae-Hae. Bisa-bisanya dia meminjamkan jaketnya dengan sok, padahal ia sendiri juga kedinginan, dan berhubung aku sedang berbaik hati, sebuah niat mulia kulakukan. Aku menghampiri Hae-Hae dan melepaskan syal yang kupakai. Perlahan aku melebarkan syal itu dan melingkarkannya pada bahu yeoja itu. Bukannya menyalahgunakan guna syal, tapi sepertinya bahu gadis itu lebih membutuhkan kehangatan.

“Pakailah babo. Jangan sok meminjamkan jika kau sendiri masih kedinginan.” Kataku, kali ini sembari meraup kedua tangannya dengan tanganku.

“Y.. ya!” Hae-Hae sudah ingin menarik tangannya.

“Hajima! Biarkan dirimu menghangat sedikit. Kau ingin membeku hah?”

“Haaaa~ Envy nya!” Ckk.. Suara Rein.

Benar saja, orang itu sedang memandang kami –aku dan si Hae-Hae ini, dengan pandangan bosan.

“Apakah kalian terlibat dalam Love-Hate Relationship, huh?” Ujarnya sambil mengambil tempat disisi kiri Kyungah yang sedang menjulurkan tangannya ke arah pijar api unggun untuk menghangatkan diri.

“Ya! Kau terlalu banyak menonton drama!”

“Ya, Geum Ilhae! Kim Jongin! Kalian itu aneh! Sebentar-bentar bertengkar, lalu so sweet kembali, lalu bertengkar lagi, lalu saling peduli. Aigoo.. there is something, right?”

Ah, jadi hubungan yang seperti itu disebut Love-Hate Relationship. Aku mencoba bertingkah tidak peduli dengan membuka ponselku, mengecek apakah ada berita terbaru di situs SNS ku, tapi telingaku anehnya tetap waspada pada pembicaraan dua yeoja yang menurutku juga terlibat Love-Hate Relationship. Mereka lebih sering bertengkar daripada rukun –saling mengejek dan melempar candaan, tapi anehnya mereka sahabat dekat yang telah menghabiskan banyak waktu bersama-sama mengingat mereka tinggal bersama, kuliah, dan kudengar mereka berasal dari Middle dan High School yang sama. Applause.

“Mwo? Jangan macam-macam Jung Rein. Lalu bagaimana denganmu? Kau terlalu banyak memiliki hubungan dengan pria.” Ilhae mencoba mengompori Rein, dan kurasa itu berhasil karena dari sudut mataku aku melihat bahwa Rein tengah memelototi Ilhae.

“Aku bahkan belum pernah memiliki namjachingu bodoh!” Tandasnya kesal. Jinjja? Rein belum pernah pacaran? Aish, otakku bahkan kini tengah bergosip. Astaga mendengar perbincangan para yeoja membuatku merasakan sensasi yang aneh.

“Jinjja? Eonni belum pernah pacaran?” Kyungah kini lebih tertarik dengan perbincangan Rein dan HaeHae. Menambah satu yeoja lagi yang masuk dalam pembicaraan.

“Aish! Aku terpancing, Ilhae sialan.” Rutuk Rein yang disambut dengan tawa menggelegar dari yeoja bermarga Geum.

Tawa yeoja itu terdengar lepas, lepas sekali. Suara tawanya unik, tidak membosankan. Lalu ketika aku menyadari bahwa aku sedang memuji tawa si Hae-Hae, aku berhenti.

“Lalu bagaimana denganmu, Geum Ilhae? Kau sendiri bukannya bernasib sama denganku.” Jadi? Yeoja itu juga…?

“Oh No No No~ Aku hanya sedang menunggu Edward Cullen untuk datang ke kehidupanku.” Jawab Ilhae ringan sambil menggerakan telunjuknya. Eh.. aku memerhatikan yeoja itu daritadi. Diam-diam, dengan ujung mataku? Sial ini berbahaya!

“Ya! Itu kalimatku! Tapi aku lebih suka Jacob Black sih..”

Hae-Hae menghembuskan napasnya. “Jangan mulai lagi, Jung Rein. Bosan.”

“Arraseo. Mari kita akhiri perbincangan kurang mutu ini.”

“Tapi eonnideul, pertanyaanku belum dijawab Rein eonni.”

“Itu bahasan off limits, Kyungah-ya. Hehehe..”

“Off Limits itu apa?”

Lalu aku memutuskan untuk tidak mendengarkan penjelasan off limits antara Kyungah dan Rein yang terkadang diselingi Ilhae untuk membenarkan atau mengoreksi.

“Soo-ya, di mana yang lain?” Aku hanya melihat Kyungsoo yang sedari tadi sibuk dengan kayu bakar yang dilemparnya ke tengah-tengah api. Lalu Chanyeol yang mengajakku kesini, kini menghilang. Sepertinya dia sedang mengajak Chen dan Baekhyun  namun mereka tidak muncul-muncul. Lalu namja bernama Sehun itu?

Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia berhenti di satu titik. “Chen dan Baekhyun.” Ia menunjuk ke satu spot, otomatis arah pandangku beralih ke tempat itu.

“Di mana Chanyeol dan Sehun?” Tanyaku sesaat setelah mereka sampai di arena api unggun tempat kami berdiam diri. Semilir angin tiba-tiba bertiup ditempat ini dan langsung membuat kami menggigil seketika.

“Dingin! Kenapa tidak melakukan api unggun di gedung indoor saja?” Baekhyun menggerutu.

“Bodoh! Kau ingin membakar gedung atau bagaimana? Mungkin bisa di dalam rumah kaca yang tinggi luas dan penuh tanaman itu tapi pikirkanlah di sini tidak ada dan lagipula rumah kaca itu sama dengan global warming.” Chen menjawab ucapan asal Baekhyun terlampau serius, bayangkan ia bahkan peduli dengan rumah kaca dan global warming!

“Hey! Bisakah kau menanggapinya dengan lebih santai?!” Baekhyun mencoba membela dirinya sendiri.

Aku sebagai orang ketiga diantara mereka langsung saja terabaikan, oke ini menyebalkan. Bertanya, bukannya dijawab, dan sekarang aku malah terjebak pada perdebatan konyol ini.

“Hei… sudah selesai? Bisakah kalian menjawab pertanyaanku?” aku mencoba mengganggu mereka.

“Aku tidak melihat mereka. Setelah Chanyeol mengusikku dan Chen yang sedang bermain PES untuk datang kesini, dia pergi entah kemana. Dan Sehun? Kami sama sekali tidak tahu.” Terang Baekhyun sambil menggeleng-geleng.

 

-:Author’s PoV:-

Park Chanyeol terduduk di sebuah batang pohon kering, terpencil dari kerumunan manusia-manusia yang sedang mengurusi api unggun, seakan tidak tertarik dengan kegiatan tersebut. Pikirannya berkelana menjauhi kenyataan, masuk ke dalam bayangan imajinasi. Beberapa hari kebelakang pikirannya tidak pernah tenang, terusik dengan sebuah nama; Jung Rein. Ia tidak bisa menikmati segala kegiatannya, kepribadiannya yang ceria lenyap sudah diusik bayang-bayang sosok yang selalu memandangnya sinis dan attitudenya yang selalu memalingkan muka darinya, memunggunginya.

Apakah sudah terlambat?

Setiap hari yang menjadi bayang-bayangnya ketika menutup mata adalah punggung seorang Jung Rein yang semakin jauh dari hadapannya, tangannya yang berusaha menggapai pundak tegap itu dan teriakannya bahkan tidak mengusik Rein bayangannya untuk menoleh.

Dan mengingat kembali detik ketika Rein menolak pertemanan yang diajukannya, ia sangat-sangat frustasi. Bahkan yeoja itu tidak sudi untuk berteman dengannya.

“Kau tidak ikut bersenang-senang?”

Sebuah suara yang lumayan asing mengganggu renungan Chanyeol dan membuat namja itu menoleh ke sumber suara. Pandangan bertanya yang semula terpancar dari matanya langsung menjadi tatapan tidak bersahabat begitu Chanyeol mengetahui siapa yang baru saja mengajaknya bicara.

“Hanya ingin memikirkan sesuatu.” Jawabnya.

“Hmmm, aku tidak menyangka orang sepertimu bisa seserius ini, Chanyeol? Benar bukan?”

“Kalau kau berada di sini hanya untuk berkomentar tidak penting silahkan pergi, Oh Sehun.” Tandas Chanyeol datar tidak ingin melayani calon terbesar musuhnya itu – mengingat Rein dekat sekali dengan namja bernama Sehun itu.

“Baiklah aku akan pergi.” Sehun menjawab Chanyeol dan tanpa menghirup satu nafas pun langsung melanjutkan langkahnya menuju ke sisi pantai yang lebih jauh lagi.

Chanyeol yakin ia tidak menginginkan jenis hubungan apapun dengan Sehun sampai dua detik yang singkat membuatnya bertanya, “Apakah hubunganmu dengan Rein?”

Rein, satu kata, satu nama, dan satu gadis, yang hanya bisa menarik perhatian seorang Sehun, jadi tanpa diminta dua kali pun Sehun otomatis menghentikan langkahnya.

“Kami… hanya teman. Adakah yang menganggumu?” Sehun berbalik menatap Chanyeol yang masih duduk. Ia bukanlah orang bodoh dan ia menyadari bahwa pertanyaan Chanyeol barusan memiliki keingintahuan tersendiri.

“Kalian terlihat sangat dekat. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kalian bisa sedekat itu.”

Sehun mengerutkan dahinya, “Tentu saja kami sangat dekat. Rei adalah orang yang sangat ramah dan menyenangkan, tidak sulit untuk dekat dengannya.”

Skakmat untuk Chanyeol, ia langsung merasa sebagai namja paling aneh sedunia. Menurut perkataan Sehun, Rein seharusnya adalah yeoja paling baik yang pernah ada. Ironis sekali dengan ia yang kenyataannya mungkin atau memang sudah berada dalam daftar blacklist seorang Rein.

“Hmm, apakah kau tidak salah bilang? Kenyataannya…”

*-*-*

“Soo-ya, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan dengan mengumpulkan kami disini?” Kai mulai menggerutu sambil mengencangkan jaketnya.

“Kita harus menunggu 2 orang lagi, kan?” Kyungsoo benar-benar mengesalkan di mata Kai sekarang.

“Baiklah! Di mana Oh Sehun dan Park Chanyeol?!” Kai membangkitkan tubuhnya dari batang pohon besar yang ia duduki. Tentu saja Kai mengenal dekat kepribadian Kyungsoo yang sangat kekeluargaan dan tidak akan menyerah untuk menyatukan orang-orang yang ia targetkan dengan beberapa trik. Dan Kai yakin bahwa Kyungsoo ingin mendekatkan makhluk-makhluk ‘nyasar’ ke Muiido yang berada bersamanya kini.

“Hae-ya..” Ketika melihat Kai yang telah berjalan meninggalkan tempat itu untuk mencari 2 makhluk yang menghilang, Rein dengan pikirannya memanggil Ilhae yang sedang menjulurkan tangannya ke arah gumpalan api yang sudah membumbung tinggi di hadapannya.

“Mwo? Kau jangan mengeluh tentang gelap, karena hari telah malam.” Ilhae yang tengah sibuk menghangatkan diri tidak melihat ekspresi Rein yang sangat resah.. dan bersalah.

“Aku tahu. Maka dari itu aku tidak berani memalihkan wajah ke tempat lain selain api. Ish! Aku tidak jadi bertanya.” Ilhae tersenyum geli ketika mendengar Rein yang sedang ngambek. Semua orang menyangka bahwa Rein adalah seorang yeoja dewasa dan selalu berkelakuan stabil seperti orang dewasa karena topengnya, tapi ketika itu bersama Ilhae, Rein bahkan tidak pernah ragu menurunkan topengnya dan menunjukkan dirinya. Rein yang asli, sebenarnya yeoja yang sangat mudah tersinggung. Dan sulit untuk kembali normal jika ia sudah ngambek atau moody, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan yeoja dewasa.

“Aigooo.. uri aegi. Wae geuraeyeooo?” Ilhae sengaja untuk memepetkan tubuhnya kepada Rein dan mengusap-usap punggungnya layaknya Rein benar-benar anak kecil yang ngambek.

Rein mendengus, “Anggap saja aku tidak pernah memanggilmu.”

Namun Ilhae menyikut Rein dan menatapnya dengan tatapan puppy eyes, dan hal itu berhasil membuat Rein mual seketika. “Jangan maraaah~”

Rein berdecak. “Apa yang ingin kau tanyakan?” Ilhae sekali lagi membujuk Rein untuk menyuarakan pikirannya, dan ketika ia melihat raut Rein yang mendadak berubah. Ia tahu ia menang, karena ia yakin sebentar lagi Rein akan mengalah dan mengatakan apa yang ingin ia katakan.

“Kau mengenal Park Chanyeol dengan baik, kan?” Dan rasanya Ilhae hanya ingin menganga selebar mungkin saat itu. Dia bahkan memutar pertanyaan itu berkali-kali dalam benaknya, Rein menanyakan seorang Park Chanyeol? APPLAUSE! INI ADALAH PERISTIWA LANGKA! Rasanya Ilhae hanya ingin berdiri dan bersorak-sorai serta mengatakan bahwa Rein menanyakan seorang Chanyeol kepada semua orang. Namun mengingat cara bertanya Rein yang bisik-bisik dan penuh kehati-hatian, ia tahu bahwa jika dirinya melakukan apa yang ingin dia lakukan – bersorak-sorai tadi, dirinya akan menjadi musuh utama seorang Jung Rein selama beberapa hari ke depan.

Sehingga ia menelan semua keinginan gilanya, dan menjawab pertanyaan Rein sambil menelan rasa gelinya. “Ya, setidaknya aku lebih mengenal orang itu lebih baik darimu.”

“Eung..”

“Katakan..” Ilhae melihat keraguan Rein dari gumamannya sehingga ia merasa perlu untuk memaksa Rein melanjutkan kalimatnya.

“Apakah Chanyeol itu.. Chanyeol.. Eung..” Ilhae dengan rasa tidak sabarnya mendelik ganas kea rah Rein yang sekarang terlihat seperti seekor tikus kejepit.

“CHANYEOL KENAPA?!” Dan habislah kesabarannya sehingga ia kini menggertak Rein yang langsung duduk tegak karena kaget.

“Mudah tersinggung?” Rein menghembuskan napasnya lega, inilah hal yang benar-benar menganggu dirinya setelah turun dari ferri tadi sore. Ya, dia merasa dirinya kelewatan ketika meninggalkan Chanyeol begitu saja saat Chanyeol mengajaknya untuk berteman. Dia merasa bersalah, karena tingkahnya sangatlah kejam saat itu. Ya, walaupun Rein sangat tidak suka pada Chanyeol tapi ia tahu bahwa ia tidak berhak melakukan hal sekasar itu pada siapapun.

Dan ia takut bahwa Chanyeol tersinggung karena hal itu.

Tahu apa yang sangat ingin dilakukan Ilhae sekarang? Dia ingin tertawa terbahak-bahak. Apa sebenarnya yang ada di pikiran yeoja bernama Rein sekarang? Dia benar-benar penasaran.

“Ceritakan semuanya. Semua hal yang membuatmu menanyakan hal ini.”

Rein terlihat gugup, tapi ia mencoba untuk menceritakan kejadian di ferri tadi.

“Rein-ah, kurasa kau tidak perlu bertingkah seperti itu sebenci apapun kau pada Chanyeol.” Itulah komentar serius yang dilontarkan Ilhae sesaat setelah Rein berhenti bercerita.

“Ne. Aku tahu itu.” Melihat rasa penyesalan yang dalam yang ditunjukan Rein sekarang membuat ada lampu kuning yang menyala terang di atas kepala seorang Geum Ilhae. Ilhae selalu ingin membuat Rein dan Chanyeol kembali rukun, dan ia akan melakukan segala cara untuk itu. Dan ia melihat kesempatan emas di hadapannya sekarang.

“Jung Rein. Aku tidak pernah menyangka kau manusia yang sangat kejam. Aigoo, Uri Chanyeol hatinya pasti sangat terluka.” Ilhae memulai actingnya, dari sudut matanya ia melihat Rein bergerak resah setelah mendengar penuturannya.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Tanya Rein pelan, bahkan jika Ilhae tidak memiliki telinga yang bagus. Mungkin dirinya tidak akan bisa menangkap kata-kata Rein.

“Kau. Harus. Meminta. Maaf. Pada. Namja. Itu.” Ilhae sengaja menekankan setiap kata dengan nada tegas dan itu membuat Rein merasa bahwa dia benar-benar harus melakukan hal itu.

Baru saja ia ingin membalas ucapan Ilhae dengan mengatakan bahwa ia tidak mau mengucapkannya secara langsung dan meminta bantuan Ilhae sebagai perantara, Kai sudah memunculkan dirinya bersama Sehun dan Chanyeol yang detik itu langsung menatap kearah Rein dengan tatapan datar. Dan Rein melihat itu sehingga kini ia merasa bahwa ia kesulitan untuk bernapas.

“Guys, coba tebak di mana aku menemukan mereka berdua?” Kai dengan nada kesalnya mengalihkan perhatian semua orang dari aktifitasnya masing-masing untuk menatapnya.

“Itu tidak penting Kai-ya, setidaknya kami sudah berada disini sekarang.” Chanyeol berkomentar dengan nada malas. Sementara Kai hanya mendengus dan mencoba melupakan kejadian tadi. Dirinya menemukan Chanyeol dan Sehun berduaan saja di batang pohon di bagian pesisir pantai yang sepi dan itu benar-benar berhasil membuatnya merinding dengan khayalannya yang sudah benar-benar ngelantur.

Kyungsoo yang melihat ada aura tidak baik yang dipancarkan dari ketiga orang ini cepat-cepat mengangkat suara dengan menyuruh mereka untuk mengambil posisi mereka untuk duduk. Chanyeol memilih untuk duduk di pasir bersama Chen dan Baekhyun sementara Sehun memposisikan dirinya di samping Kai.

“Kami semua sudah berkumpul. Jadi apa yang mau kau lakukan?” Chen bertanya disela-sela kegiatannya menggigit sweet potato yang baru saja selesai ia bakar di tengah-tengah api. Mereka, terutama pasukan kelaparan –Chen, Baekhyun, Kyungah, dan Ilhae, harus benar-benar bersyukur karena menemukan Kyungsoo dengan bahan makanan yang siap dipanggang lalu dimakan.

“Aku hanya ingin mengajak kalian makan, lalu bermain.” Ucap Kyungsoo santai sambil memberikan sweet potatonya untuk Kyungah.

“Bermain apa oppa?” Tanya Kyungah penasaran.

“Kita akan bermain suit dan pemenangnya akan mengatakan apapun yang  mereka inginkan pada satu orang di antara kita. Dan orang itu haruslah mengatakan ‘Dangyeonhaji’ (Tentu saja) sesaat setelah mereka mendengar penuturan sang pemenang.” Kyungsoo menjelaskan panjang lebar dengan nada antusias. Awalnya, mereka semua malas untuk melakukan hal ini. Tapi mengingat bahwa mereka bisa saling hina satu sama lain membuat mereka langsung bersemangat. Baiklah ini pemikiran Chen dan Baekhyun sebenarnya.

“Yosh! Mari kita mulai!” Ini Chen dengan nada bersemangatnya. Ronde pertama dimenangkan oleh Chen yang langsung memborbardir Baekhyun sebagai sasarannya. Baiklah ternyata Chen cukup pandai dalam bermain suit.

“Byun Baekhyun! Makhluk paling abstrak yang pernah kutemui! Bisakah kau sekali-kali mencuci kaos kakimu yang baunya sudah seperti tumpukan sampah!” Chen tertawa puas ketika dia berhasil mengatakan hal ini. sementara Baekhyun sudah siap untuk membakar Chen dengan api, namun sayangnya tidak bisa ia suarakan karena ia hanya boleh menjawab.

“DANGYEONHAJI!” Dengan nada super kesal yang membuat orang-orang yang mengikuti permainan ini tertawa dahsyat.

Lalu ronde kedua dimainkan dan pemenangnya adalah Kyungsoo yang langsung mendelik ganas ke arah adiknya.

“Do Kyungah, oppa hanya ingin memintamu untuk berhenti mengurusi namjachingu dan mantanmu yang begitu banyak dan fokuslah pada belajar karena tahun depan kau sudah duduk di kelas 3 Middle School dan tandanya kau harus berjuang keras. Ah, oppa juga kaget ketika tahu bahwa adiknya Sehun juga merupakan mantan pacarmu.”

“Whoa, jinjja?”

“Sejoo yang kau maksud, Kyungsoo-ssi?”

“Uri Kyungah daebak!”

Itulah komentar yang langsung mengudara sesaat setelah Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya.

Sementara Kyungah hanya memberenggut dan menatap oppanya sebal. Sebal karena dia baru saja diceramahi oppanya di hadapan banyak orang

“Itu karena oppa hanya iri padaku. Makanya cepat cari yeojachingu dong oppa!” Protes Kyungah, namun Kyungsoo segera tertawa.

“Kau hanya boleh menjawab –”

“Dangyeonhaji!” potong Kyungah cepat sebelum oppanya sempat mengomel lagi.

“Baiklah, semua sudah clear. Mari kita lanjutkan.” Ajak Kyungsoo dan ronde ketiga pun dimulai. Pemenangnya adalah.. Rein.

Ilhae segera menyikut tubuh Rein dan Rein tahu makna dari aksi Ilhae itu. Ilhae sedang mengingatkan dirinya untuk meminta maaf kepada Chanyeol di kesempatan ini. Tapi Rein dengan harga dirinya ingin sekali menolak karena ia merasa malu jika harus melakukannya di kesempatan kali ini. sehingga ia menyikut balik Ilhae berharap Ilhae mengerti maksudnya.

Rupanya aksi-reaksi yang sedang dipertontonkan Ilhae dan Rein juga diperhatikan oleh orang lain. Karena merasa diperhatikan dengan tatapan penasaran, akhirnya Rein menyerah. Ia mencoba menurunkan sedikit ego nya dan menatap Chanyeol yang juga sedang menatapnya dalam diam.

Astaga, apakah aku bisa melakukan hal ini?

Dia baru saja ingin mengurungkan niatnya ketika melihat Chanyeol melemparkan tatapannya kearah lain dan Rein merasa sedih akan hal itu. Dia memang sudah tidak waras sekarang.

“Park Chanyeol.” Dan detik ketika Rein menyebutkan namanya, jantungnya berdegup kencang dan kembali menatap Rein dengan tanda tanya besar dalam benaknya. Rein kelihatan takut melihatnya dan itu benar-benar membuat Chanyeol bingung karena ia tidak pernah melihat Rein seperti ini. Namun, tanpa bisa menyangkalnya. Dia juga merasa bahwa jantungnya baru saja melewatkan satu detakannya karena Rein yang sedang menatapnya dan hanya menatapnya tanpa ekspresi sinis atau dingin.

Lalu Rein terlihat menarik napasnya sebelum mengatakan, “Mianhae..” dengan suara yang sangat pelan. Saking pelannya Chanyeol takut jika ia salah dengar.

“Chanyeol-ah, mianhae.” Karena takut Chanyeol tidak mendengarnya, Rein sekali lagi membuang ego nya dan mengucapkan permintaan maafnya dengan suara yang lebih keras. Namun dia tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak bergetar saat mengatakan hal itu.

Dan detik di mana Rein mengulangi perkataanya, Chanyeol merasa bahwa dia tidak salah mendengar. Rein meminta maaf padanya! Tapi untuk apa dia meminta maaf? Dia benar-benar ingin menanyakan hal ini. Apalagi ketika melihat Rein tidak akan melanjutkan perkataanya. Sehingga Chanyeol tidak bisa mencegah dirinya untuk bertanya.

“Kau meminta maaf untuk apa?”

Namun Rein hanya tersenyum kecil seakan-akan ia sudah memenangi sesuatu. Dan benar saja, Rein merasa menang karena dengan begini dia tidak kelihatan begitu memalukan karena ia tidak perlu menjelaskan mengapa ia meminta maaf. Biarlah Chanyeol memikirkannya sendiri, yang terpenting ia sudah meminta maaf. Lalu ia mengeluarkan kunci as kemenangannya ini.

“Kau hanya harus menjawab, dangyeonhaji bukan?”

 

To Be Continue…

27 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 5)

  1. Seruuu weyyy …
    Itu Kyungsoo cinta banget kekeluargaan hahaha…
    Kyungah masih kecil udah pacaran aja, kasian Oppa mu xD
    Aw aw Chanyeol-Rein kenapaaaa gak baikan aja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s