Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 6)

Title : Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 6)

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Genre : Drama, Hurt, Comfort, Romance, School Life, Family

Length : Multichapter

Rate : PG-15

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

  •          Park Gaemi (OC)
  •          Oh Sehun (EXO)
  •          Kim Junmyun / Suho  (OC)
  •          Oh Senna  (OC)

Other Cast :

o   EXO, some member of Boyfriend and BEAST

o   Yang Chiya, Lee Heyoung, Im Jaelim, Hong Pulip,  Yang Choyun,  Baek Regi (OC)

Disclaimer :  OC and the plot of story are mine and pure from my idea. Don’t plagiarism. Thank you.

Author’s note :

Annyeong *muncul bersama Chanyeollie.. kkkk. Akhirnya chapter 6 rampung juga.. Agak susah nih ngerampungin ni chapter, author harus ngedit berkali- kali. Semoga ga mengecewakan yah. Gomawo buat yang udah comment di chapter- chapter sebelumnya. Author bener- bener terharu dan seneng bgt sama yang udah comment-in ff ini. Btw, di chapter sblmnya banyak yang comment kalo Gaemi itu keren banget.. AUTHOR SETUJU! Kadang iri juga, kok dia bisa ngomong gitu sama Sehun yang jelas- jelas nolak dia.  Tapi di chapter ini, sisi patah hati seorang yeoja bernama Gaemi juga diperlihatkan.. EHEM.

Di Chapter ini sisi misterius Suho dengan ‘misinya’ masih belum kelihatan jelas. Ada yang penasaran bgt ga siapa yang sebenarnya dicari Suho? Author juga penasaran bgt .. *LOH. Ngarepnya sih dia mencari- cari author #mulairandom.

Oke, langsung ajah ke ceritanya.

Jangan lupa tinggalin jejak berupa comment yah ^^ supaya author makin semangat dan cepet ngerampungin chapter selanjutnya.

HAPPY READING 😀

Summary :

“Masa lalu adalah sesuatu yang membentuk dirimu saat ini. Masa lalu terjadi lebih dahulu dibanding hari ini, sehingga hari ini ada karena disebabkan masa lalu. Post Hoc, Propter Hoc. Tapi hanya orang- orang yang memiliki keberanian untuk menatap masa depanlah yang berani untuk melepaskan masa lalu. Dan hidup karena hari ini, dan masa depan.”

Recommended Song : Westife –Fragile Heart, Westlife –The Rose

PHPH

***

(Suho’s PoV)

Aku tidak menoleh lagi padanya sampai kami berada di atap –atap sekolah yang selalu sepi. Tapi aku tidak menutup telingaku untuk sekedar mendengarkan bahwa yeoja yang sedari tadi diam dalam genggaman tanganku terus- terusan membuang napasnya. Bahkan sekarang, aku bisa mendengar beban besar ketika dia menghela napasnya. Dan sedikit demi sedikit membuatku turut prihatin.

Genggaman tanganku terlepas begitu saja saat Gaemi memilih untuk menjatuhkan dirinya di marmer atap dan menyenderkan punggungnya pada dinding di belakangnya. Dia menundukan kepalanya dalam, membuatku ingin mengangkat kepalanya dan memeluknya hanya untuk sekedar menghiburnya.

Namun di detik pertama aku ingin melakukan hal tersebut, sebuah pemikiran terlintas dalam benakku. Pemikiran bahwa tindakan tersebut adalah tindakan yang belum tentu disukai oleh Park Gaemi. Lantas aku hanya memposisikan tubuhku di sampingnya hanya untuk sekedar menemani kebisuan yang terus ia ciptakan semenjak ia menyatakan keadaan dirinya beberapa saat yang lalu.

“Kau harus benar- benar melindungiku, oppa. Karena sepertinya, setelah ini aku benar- benar akan sering berada dalam keadaan S.O.S.”

“Aku bersedia menjadi 119 hanya untukmu, Park Gaemi.”

Menit demi menit berlalu, dan kami masih dalam posisi yang sama sampai 10 menit selanjutnya. Bel sekolah sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu, tentu saja tindakan yang kami lakukan sekarang sudah terlihat seperti murid nakal yang suka bolos.  Tapi aku terlalu khawatir untuk meninggalkannya dengan perasaannya yang kelihatan begitu kacau. Sendirian. Di atap yang sepi. Hanya untuk mengejar absensiku hari ini? Sehingga dengan perasaan iba dan walau aku tidak tahu alasannya, aku merasa begitu sakit melihat yeoja ini terluka. Aku menemaninya dalam kebisuannya.

Mungkin karena rencana menjadi temannya? Atau mungkin hanya sebatas karena namanya, Gaemi?

Mollayo.

Aku menolehkan kepalaku sekali lagi –dalam kurun waktu 1 menit terakhir. Dan menemukan kedua pundak Park Gaemi yang bergetar hebat. Dia pasti sedang menangis sekarang. Dan aku benar- benar tidak ingin melihat yeoja ini menangis, sehingga aku melupakan pemikiran sebelumnya dan mengangkat kepalanya.

Aku hanya dapat menahan napasku ketika melihat wajahnya kini, bahkan lebih buruk dari bayanganku ketika meliihat air mata mengalir dari kedua bola mata teduhnya. Wajahnya yang pada dasarnya pucat, semakin pucat. Dengan bibir bawahnya yang mulai memerah, bahkan ada satu titik di mana bibir bawahnya itu mulai mengeluarkan darah. Namun kedua matanya tidak menangis, banyak sekali emosi yang terpancar dari kedua matanya. Tapi dia tidak menangis. Walau sekujur tubuhnya mulai bergetar hebat sekarang, ia tidak menangis.

Park Gaemi, dia menelan bulat- bulat tangisannya…

Itulah yang ia lakukan sejak tadi.

Dan itu membuatku sangat marah.

Wae?! Mengapa kau seperti ini?” Aku terperangah dalam sedetik ketika mendengar nada suaraku yang terdengar serak.

Kutatap tajam yeoja yang hanya menatapku dalam diam ini, mencoba membaca setiap emosi yang terpancar dari matanya.

“Mengapa kau harus menahan tangisanmu?!” Kurasakan seluruh tubuhnya berguncang hebat –lebih hebat dari sebelumnya- di balik telapak tanganku. Kuturunkan mataku ke arah kedua tanganku yang entah sejak kapan mencengkram kedua bahunya erat.

“Gaemi-ya! Katakan sesuatu!” Aku khawatir pada yeoja ini. Perasaan khawatir yang cukup membuatku terkejut. Karena kurasa, aku belum pernah merasakan perasaan khawatir sebesar ini sebelumnya, pada siapapun. Seakan aku memang memiliki sebuah ikatan magis terhadap yeoja ini. Ikatan tersebut yang membuatku merasakan kekhawatiran yang luar biasa hanya karena melihatnya menahan tangisannya. Aku menggigit bibir bawahku menahan gejolak amarah di dalam diriku yang sekali lagi ingin memaksaku untuk kembali membentaknya.

“Jika kau ingin menangis, menangislah.. Ini tidak sehat,Park Gaemi.” Aku berhasil menahan amarahku, karena ucapanku tidak terdengar sekasar sebelumnya. Dan aku bersyukur aku bisa melakukannya.

Gaemi membuka mulutnya, dan di detik di mana ia melakukan hal itu. Tetesan air mata mengalir perlahan menuruni pipinya. Melihat hal itu, aku merasa bahwa kini aku bisa lebih natural untuk bernapas.

Tanpa perduli lagi apakah ia akan menyukai tindakanku atau tidak. Apakah ia memperbolehkannya atau tidak. Aku menariknya dan membiarkannya terjatuh begitu saja di dalam pelukanku. Tubuhnya masih bergetar hebat, walau aku yakin Park Gaemi sudah menangis di atas pundakku. Walau ia tidak menangis meraung- raung seperti yeoja kebanyakan ketika namja yang ia sukai menolaknya secara terang- teragan dan menyakitinya sampai ia kesulitan untuk bernapas, tapi setidaknya ia tidak lagi menahan tangisannya seakan- akan menangis adalah hal terhina yang tidak boleh ia lakukan sebagaimanapun ia ingin.

Semua orang berhak menangis, menangis pada saat mereka ingin. Menangis ketika kelopak matanya tidak bisa lagi menahan air matanya, atau ketika jiwanya terlalu lelah untuk menahan bebannya. Seseorang setidak- tidaknya pastilah memiliki satu tempat di mana ia bisa membagi beban hidupnya, tempat itu adalah air matanya.

Walau Luhan, Kris, dan Minseok selalu mengatakan bahwa seseorang –terutama namja, tidak boleh menangis. Walaupun hidup yang kujalani keras dan menuntutku untuk tidak menjadi lemah dan cengeng. Tapi terkadang, aku juga membutuhkan air mata untuk membagi perasaanku dan menemaniku ketika masa sulit itu datang. Aku –Kim Suho, tidak akan pernah memperbolehkan yeoja di hadapanku ini menahan tangisannya lagi, terutama jika yeoja ini hanya berada sekitar 1 meter dariku.

Park Gaemi bebas mengungkapkan perasaannya ketika bersamaku. Perasaan  marah, kesal, senang, sakit, kecewa, apapun. Mulai detik ini, aku ingin melihat yeoja ini dengan segala emosi jujurnya ketika bersamaku.

“Jangan pernah lagi menekan perasaanmu ketika bersamaku, Gaemi-ya. Itu membuatku ikut tersiksa.”

“Aku…” Setelah durasi yang cukup panjang Gaemi menarik tubuhnya dan menatapku dalam. Suaranya bergetar, tapi ada sebuah keyakinan dalam suaranya yang membuatku bertanya. “Aku hanya merasa sangat bodoh. Jika aku menangis, itu akan membuatku lebih bodoh lagi.”

Dan itu adalah pemikiran paling salah yang pernah kuakui.

“Kau terlihat lebih bodoh lagi jika menyakiti dirimu sendiri hanya karena Oh Sehun.” Ujarku dingin sambil mencari bahan lain untuk dilihat selain wajahnya.

“Maksudmu?” Gaemi tidak sepenuhnya bertanya padaku, karena bisa kudengar bahwa ia juga turut mempertanyakan arti ‘menyakiti dirimu sendiri’ pada dirinya.

“Aku tahu bahwa hatimu terluka sekarang. Tapi secara fisik, bibirmu jadi memar- memar karena kau terus menggigitinya untuk menahan tangisanmu. Kau terlihat makin seram karena selain pipimu yang masih dalam pemulihan dari memar bekas tonjokan Hosun, bibir bawahmu juga ikut memar sekarang, Park Gaemi.” Kupikir aku tidak mencoba untuk melawak sekarang, tapi kenyataannya seorang yang seharusnya sedang dalam fase patah hati berat ini malah menertawaiku dan kedua matanya mulai tertutup dan membentuk bulan sabit kebawah karena tertawa.

Aku mendengus. Yeoja ini sepertinya memiliki dua kepribadian.

“Aku tidak pernah menyangka… Hahahaha… Kalau kau cukup- hahaha. CEREWET, oppa!”

“Ya, ya. Kebiasaan ini hanya dapat terjadi di saat- saat tertentu saja.” Aku berdecak kesal dan melempar pandanganku ke sembarang arah.

Park Gaemi berhenti dari tawanya 2 menit kemudian, aku menemukannya berdeham- deham kecil.

“Suho oppa, gomawoyo.” Ujarnya terdengar tulus dan riang. Sepertinya yeoja dengan wajah penuh penderitaan sebelumnya telah hilang sementara dan digantikan dengan wajah seseorang yang mencoba untuk terlihat lebih bahagia.

“Untuk apa?” Tanyaku bingung.

“Sebelumnya perasaanku sangat kacau dan tertekan.  Tapi kau menemaniku disini dan walau kau mungkin tidak menyadarinya, sebenarnya kau cukup menghiburku oppa. Jadi, aku berterima kasih.”

Aku terkekeh ketika mendengar pengakuannya, hatiku terasa lebih ringan. Lalu tiba- tiba saja ada sebuah pemikiran lucu yang hadir dalam benakku, pemikiran bahwa aku ingin terus menghiburnya setidaknya untuk membuatnya lupa sejenak akan Oh Sehun dalam kurun waktu 10 jam ke depan.

“Aku ingin melindungimu.” Aku sengaja memasang nada ngambek dalam suaraku. “Seperti namaku, Suho. Yang artinya pelindung. Aku tidak ingin menjadi pelawak pribadimu.”

Gaemi mengerucutkan bibirnya. “Arrasseooo.” Dengan nada sok murung, menjawab penuturanku. Aku tersenyum ketika melihat wajah dan ucapannya yang begitu menggemaskan.

“Tapi baiklah! Karena hari ini kau terlihat ‘mengenaskan’.” Aku mendengar Gaemi meringis, dan sebelum nuansa kembali menjadi kelam. Aku buru- buru menambahkan. “Aku bersedia untuk menghiburmu sepanjang hari. Kaja!” Aku bangkit dari posisiku, dan menarik pergelangan tangannya. membuatnya ikut berdiri dan mulai berjalan bersamaku.

“Kita akan ke kelas, kan?”

“Kelas bukanlah tempat menghibur diri yang benar. Lagipula aku tidak yakin kau bisa belajar dengan benar hari ini.”

“Lalu kau akan mengajakku kemana?”

“Main.”

“MWO? Aku tidak ingin bolos Kim Suho!”

***

(Author’s PoV)

Sepanjang bel tanda masuk sekolah berbunyi, Sehun hanya bisa menekuk wajahnya. Seisi kelas setuju bahwa raut wajahnya lebih gelap daripada sekumpulan Dementors. Dan tidak ada satupun dari mereka yang dapat menebak pasti apa yang ada dalam pikiran Sehun sekarang, termasuk Kai yang sudah menjadi teman dekat Sehun selama 12 tahun dari 18 tahun hidupnya. Tentu saja Kai mengetahui sesuatu di masa lalu telah merubah Sehun, dia selalu ingin menanyakan apa yang terjadi saat mereka berada di Kelas 6. Mengapa Sehun kecil yang riang dan hangat berubah menjadi remaja yang tertutup, dingin, dan menyebalkan?

Pernah suatu saat Kai memberanikan diri untuk bertanya, tapi Sehun hanya menghela napasnya dan menatap Kai dari ujung matanya sambil memperingati.

“Jika kau masih ingin terus menjadi temanku, perlu diingat bahwa waku tidak pernah ingin membahas hal itu, Kim Jongin.”

Kai pikir, bahwa raut wajah Sehun kala itu adalah raut wajah paling menyeramkan yang pernah muncul dari wajah dengan kulit putih susu seorang Oh Sehun. Tapi sekarang tidak lagi, karena jelas saja raut wajahnya selama jam pelajaran pertama hari ini terlihat jauh lebih menyeramkan, bahkan mengerikan.

Dan jika diperhatikan, tidak ada satupun dari teman- temannya yang berani menoleh ke arah namja bermarga Oh itu.

Sekarang Im Songsaengnim sedang mengabsen  murid dan beberapa saat kemudian beliau menyadari bahwa ada dua makhluk yang menghilang di kelas itu.

“Kemana  Kim Suho dan Park Gaemi?” tanyanya santai, tapi tidak dengan reaksi tubuh seorang Oh Sehun. Karena sekarang tubuh Oh Sehun terlihat lebih kaku dengan otot rahangnya mengeras.

Jaelim, sang ketua kelas berdeham kecil sebelum memberikan penjelasan. “Gaemi sepertinya sedang sakit, songsaengnim. Sementara Kim Suho, aku tidak tahu alasan mengapa ia absen hari ini.” Jelas saja penjelasan ini adalah sebuah kebohongan, karena kenyataannya kedua orang ini entah pergi kemana sekarang.

“Jika mereka berdua masuk besok, tolong sampaikan pada mereka bahwa saya mencarinya, ketua kelas.”  Perintah Im Songsaengnim sambil menaikan kacamata bacanya sebelum mengeluarkan buku modul Sejarah yang tebalnya menyaingi ketebalan meja belajar Jaelim di rumahnya.

Ne.” Jaelim mengangguk. Lalu pelajaran jam pertama pun dimulai. Tentu saja, suasana yang tercipta di kelas itu tidak bisa serileks seperti biasanya.

Begitu pun yang terjadi dengan Yang Chiya –teman dekat Gaemi, yang sedari tadi hanya mendengus sambil mengetuk- ngetukan ujung bolpen pada mejanya. Matanya terlihat tidak fokus, kentara sekali bahwa yeoja yang biasanya sangat tenang dan sedikit galak ini terlihat panik. Terlebih khawatir. Chiya hanya sedang menghawatirkan teman terdekatnya.

“Kalau kau terus bertingkah seperti itu, songsaengnim akan menyadari keributan kecil yang bolpenmu hasilkan, bodoh.”

Chiya terkejut karena suara yang tiba- tiba masuk ke dalam gendang telinganya. Lebih tepatnya, ia juga terkejut akan arah datangnya suara itu yang tidak lain berasal dari sisi kanannya –di sebelahnya.

Dalam sedetik ia terkejut dan hampir menganga sambil membulatkan matanya ke arah si pemilik suara, detik berikutnya ia sudah bisa mengontrol ekspresinya dan menatap si pemilik suara dengan tatapan ‘kau menyebalkan, apa yang kau lakukan disini?’

Si pemilik yang suara tidak lain adalah Kim Jongin atau Kai yang sekarang sedang mengangkat sebelah alisnya seakan menyuruh Chiya mengutarakan pemikirannya.

Chiya hanya mendesis sambil mengatakan, “Apa yang kau lakukan disitu?” Chiya menoleh ke belakang untuk memastikan seseorang. “Kau tidak diusir Miryeon dari meja kalian, kan?”

Kai tersenyum puas ketika mendengar penuturan penuh kesinisan dari yeoja berhidung kecil bernama Yang Chiya ini. “Tidak juga, aku hanya ingin lebih memerhatikan pelajaran dengan duduk di barisan depan.”

Chiya menoleh ke kanan dan kirinya. “Jika itu alibimu, kau bisa duduk dengan Youngha di pojok sana.” Yeoja itu menunjuk Youngha yang memang duduk sendirian di meja paling kanan di barisan depan. Mengingat tentang duduk sendirian… sebenarnya Chiya tidak duduk sendirian. Dia baru menyadari suatu hal sebelum terpekik. “Kemana perginya Pulip?!”

Dengan mimik wajah santai seakan tidak ada beban Kai menjelaskan. “Pertama- tama aku tidak suka dengan Youngha. Dia itu, freak.  Sementara Pulip? Sepertinya dia lebih suka dengan bangkunya yang sekarang.” Chiya baru saja ingin memarahi Kai karena ia baru saja mengatakan bahwa salah satu teman namjanya itu freak, tapi sebelum itu dia harus menemukan terlebih dahulu di mana Pulip sekarang. Dia membalikan tubuhnya dan menemukan Pulip duduk di bangku yang seharusnya diduduki oleh Suho yang hari ini tidak hadir di kelas. Baiklah, Suho itu duduk dengan Youngmin. Dan jika feeling Chiya tidak salah, sepertinya Pulip yang polos dan lugu itu menyukai Youngmin. Geurrae.

Skakmat. Chiya pun bingung mau mengatakan apalagi untuk melanjutkan perdebatan menyebalkan ini. sehingga ia hanya berdecak. “Terserah kau sajalah, Kai.” Lalu untuk pertama kalinya, Chiya mencoba memfokuskan konsentrasinya pada materi yang sedang diajarkan Im Songsaengnim. Sebelum guru itu menemukan bahwa ia tidak memperhatikannya sedari tadi dan setelah itu malah memperdebatkan sesuatu dengan ‘teman sebangkunya’ sekarang, Kai.

Dan hanya hari ini saja. Chiya berharap dalam hatinya.

Sementara Kai, dia nyaris tertawa ketika melihat ekspresi sok tenang dari wajah Yang Chiya. Sebenarnya yeoja itu kesal juga karena keberadaannya yang tepat berada di sebelahnya itu, Kai tahu itu. Lucunya, Yang Chiya tidak menyadari keberadaanya sampai ia menegurnya. Sepertinya apapun yang sedang dipikirkannya  sangatlah menyita perhatiannya. Sehingga ia menarik fokusnya dari  keadaan sekelilingnya.

Lalu senyum simpul terbentuk dari bibirnya, dan Kai merasa sangat puas dengan posisinya sekarang.

***

Gaemi dan Suho tidak kembali ke kelas sejak kejadian pagi tadi, dan itu membuat ketenangan jiwa Sehun terusik. Ralat, sebenarnya ia sudah merasa tidak tenang semenjak Gaemi dan Suho melangkahkan kakinya keluar dari kelas pagi tadi.

“Apa yang kau pikirkan sepanjang hari, kawan?” Kai mencoba menyapa Sehun dengan nada riang. Karena sepanjang hari namja itu hanya memasang tampang ‘antagonis’. Bel pulang sudah berdering sejak 10 menit yang lalu, dan kini langkah mereka sudah mulai membawa mereka meninggalkan Wanbaek.

“Tidak ada.” Kai tidak gentar karena balasan Sehun yang dingin.

“Ada cabang CafeAndCake yang baru di buka di kawasan Gangnam, mau kesana?”

Sehun mendelik. Wajahnya makin seram saja. Dan itu benar- benar membuat Kai bingung. Bagaimana mungkin wajah seseorang yang baru saja menolak perasaan seorang yeoja bisa segelap ini?

“Kau lupa aku tidak suka makanan manis?!”

“Whoo. Calm down, man. Whats wrong with you, today?”

Sehun mendengus. “Nothing.” Namja berkulit putih susu itu berjalan lebih cepat meninggalkan Kai di belakangnya.

Tapi langkah Oh Sehun terhenti, dia menoleh ke belakang dan mendapati Kai mengangkat alisnya. “Temani aku bermain futsal. Ajak yang lain juga.”

Oho! Pertanda buruk.

Kai mulai was- was. Karena seingatnya, namja yang lahir bulan April tidak begitu suka bermain futsal. Sehun selalu bermain futsal untuk melampiaskan kekesalannya. Terakhir kali mereka bermain futsal bersama Oh Sehun adalah ketika Sehun mendapat skorsing dari Donghwa songsaengnim –kepala sekolah saat mereka masih di Junior School. Padahal alasan skorsing itu sangatlah membingungkan. Bagaimana mungkin Sehun di skor hanya karena ia mengambil rapornya tanpa orang tua, melainkan ia menyuruh tetangganya untuk mengambilnya sebagai walinya? Itulah mengapa Sehun kesal sekali hari itu.

Dan kekhawatiran Kai terwujud. Sehun mengamuk di lapangan futsal yang ia sewa. Kai sudah memperingati  Tao, Baekhyun, D.O, Chen sebelum pertandingan di mulai. Bahwa ada kemungkinan bocah itu akan bermain gila di lapangan. Namun peringatan itu tidak bisa menahan Kai dan yang lainnya dari sergapan Sehun.

Namja bernama Oh Sehun itu merebut semua bola dengan menabrakan badannya kepada orang lain yang sedang menggiring bola. D.O, Chen, dan Baekhyun yang notabene lebih ‘kecil’ darinya sampai oleng karena tenaga yang Sehun gunakan untuk ‘menabrak’ mereka. Sementara Kai dan Tao bisa menahan Sehun, tapi Sehun langsung saja membentak 2 namja berkulit gelap itu. Sehingga mereka harus mundur selangkah.

“Ada yang salah dengan Oh Sehun hari ini.” Bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Tentu saja ada yang salah. D.O terengah sambil meneguk air mineralnya. Sekarang break time, sehingga Kai, D.O, Chen, Tao, dan Baekhyun sempat berdiskusi. Kemana Sehun? Break time pun ia masih terus menggiring bola sendirian di lapangan. Lalu menendang bola sekeras- kerasnya ke arah gawang.

D.O, Chen, dan Baekhyun adalah kakak kelas Sehun dan Kai. dan sepertinya siaran tadi pagi tidak sampai ke kelas mereka sehingga mereka tidak bisa menebak perilaku gila Sehun hari ini bisa jadi disebabkan oleh hal itu.

Tapi Tao bisa menebaknya. Karena siaran itu juga diputar di kelasnya. “Karena yeoja bernama Park Gaemi? Yeoja itu teman dekatnya Yang Chiya, kan?”

“Park Gaemi? Nugu?” Baekhyun mengerinyitkan keningnya.

“Nanti kuceritakan siapa Park Gaemi itu. Tapi kurasa perilaku antagonis Sehun hari ini memang di sebabkan oleh Gaemi. Tapi, apakah mungkin karena ia menolak Gaemi makanya dia jadi seperti ini? Ambigu sekali.” Kai memegang kepalanya dengan kedua tangannya. terlihat seperti orang frustasi.

”Jadi Sehun menolaknya?” Tao seakan tertarik pada pembicaraan ini.

“Hey! Hey! Kami tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan!!!” Tao dan Kai mendapat death glare dari D.O, Chen, dan Baekhyun. Kai baru mau menceritakan kronoligisnya, tapi suara Sehun menggelegar dari arah lapangan.

“MAU LANJUT MAIN, TIDAK?!”

“Sial! Badanku masih sakit gara- gara dia tabrak. Dan sekarang dia masih mau melanjutkan permainan futsal gila itu?!” Omelan Baekhyun membuat yang lainnya melihat horror ke arah Sehun.

***

OPPA, GEUMANHARAGO!!! JEBAAAAL!!! INI MENAKUTKAN!!!” Gaemi lelah berteriak- teriak seperti orang gila dan Suho yang hanya terdiam. Sementara ia terlalu takut untuk membuka matanya dan mendapati pemandangan pohon- pohon yang ‘berlari’ melewatinya dengan kecepatan ekstrim.

“OPPA KAU MAU MEMBUNUHKU?!!!”

“Kau orang terakhir yang mungkin bisa kubunuh, Park Gaemi.” Jawab Suho santai. Suaranya teredam oleh helm yang ia pakai.

“TAPI APA- APAAN INI?! KYAAAAA!!!!!!! INI BUKAN LAWAKAN SEPERTI YANG KAU JANJIKAN, OPPA!!”

Park Gaemi tidak mengerti jalan pikir seorang namja yang mengajaknya bolos sekolah hari ini. Dimulai dari pemikiran bahwa Suho akan mengajaknya berjalan – jalan di sepanjang jalanan Myeongdong.

Namun namja itu hanya membawanya ke salah satu toko dengan seorang namja yang wajahnya luar biasa imut menyapanya di pintu masuk. Asumsinya mengatakan bahwa namja imut itu adalah teman baik Suho dari cara mereka berkomunikasi yang terkesan santai dan akrab. Bahkan namja imut yang akhirnya ia ketahui bernama Luhan itu menggoda Suho yang mengajak seorang yeoja datang bersamanya ke toko pakaian milik eomma dari Luhan itu. Dan menurut percakapan mereka, inilah pertama kalinya Suho melakukan hal semacam ini.

Lebih anehnya lagi, Suho meninggalkannya bersama namja bernama Luhan itu sementara Suho masuk lebih ke dalam dan hilang di belokan. Gaemi sedang mengingat- ingat percakapannya dengan Luhan beberapa saat yang lalu saat Suho meninggalkan mereka.

Flashback

“Kau teman sekolahnya? Jarang sekali Suho terlihat bersama seorang teman selain kami.” Gaemi menatap Luhan dengan pandangan bingung. Siapa yang dimaksud dengan kami? Ia sendiri pun tidak tahu.

Sebagai balasan Gaemi hanya tersenyum singkat. “Apalagi seorang yeoja. “ Luhan terkekeh sambil mengatakan bahwa keberadaan Gaemi bersama Suho adalah sebuah keganjilan yang sangat besar. Dan Gaemi tidak mengerti alasan mengapa Luhan terkekeh.

Gaemi berusaha berbasa- basi dengan mengganti topik pembicaraan yang menurutnya rumpang itu. “Apa ini toko pakaian milikmu, Luhan-ssi?” Merasa canggung dengan panggilan di ujung kalimatnya. Karena tidak mungkin Gaemi sok akrab dengan namja ini dengan menyebutnya dengan panggilan oppa, seperti yang ia lakukan pada Suho.

“Ani. Ini milik eommaku, tapi aku sering datang kesini ketika merindukannya. Sayang menurut asistennya, eomma sedang makan siang bersama rekannya. Aku baru saja ingin pulang ketika Suho mengirimkan pesan padaku bahwa dia ingin datang kesini. Jadi kebetulan saja aku berada disini.” Gaemi tidak menyangka bahwa namja bernama Luhan ini cukup talkactive.

“Beliau pasti memiliki selera fashion yang sangat baik. Perpaduan  pakaian China dan Korea memang unik.” Komentar Gaemi membuat Luhan tersenyum.

“Eomma memanglah orang China. Aku pun sama. Kami hanya tinggal lama di Korea karena bisnis eomma dan appa.” Gaemi mengangguk- angguk tanda ia mengerti.

“Eh –“ Luhan baru saja tersadar akan sesuatu. Ia buru- buru melirik jam tangannya. Dan mendengus ketika melihat sekarang barulah pukul 08.30. Dan seharusnya Suho temannya yang masih murid di jenjang Highscool dan yeoja ini masih berada di sekolah.

“Ckkk… Suho mengajakmu bolos dari sekolah?!” Gaemi tersentak ketika mendengar peralihan topik pembicaraan yang tiba- tiba ini. Dia hanya bisa menatap namja yang ternyata orang China itu dengan pandangan ‘Hah?’.

“Seharusnya dia tidak membawa pengaruh buruk pada yeoja manis dan polos sepertimu. Awas saja kau Suho!” Dan kini Luhan sudah mencak- mencak.

“Ani, bukan seperti itu –“ Gaemi baru saja ingin menjelaskan bahwa bukan dengan ‘sengaja’ Suho mengajaknya bolos. Tapi penjelasannya tertahan ketika melihat namja yang mereka bicarakan muncul dari belokan dan membawa setumpuk pakaian musim dingin yang terlihat casual dan nyaman.

“Kau mau merampok toko eommaku?!” Yang pertama kali bereaksi melihat pemandangan ini adalah anak si pemilik toko.

Suho hanya tersenyum garing, dan mengembalikan pandangannya pada Gaemi yang kini sedang melongo parah. “Pilih satu pasang saja. Ppali. Ah jangan lupa cari pakaian yang benar- benar hangat yah.”

Flashback End

Ya, sekarang Gaemi mengerti maksud dari mencari pakaian yang benar- benar hangat. Karena sekarang Suho tengah mengajaknya hiking dengan motor milik Luhan yang Suho pinjam paksa siang tadi. Oh, selama ini yeoja itu selalu mengira bahwa Suho adalah namja yang lembut dan sedikit feminim namun pandangannya berubah ketika melihat Suho membawa motor dengan brutalnya. Lebih mengerikannya dia membawa motor itu di jalur menanjak di lereng gunung Bukhan yang berada di utara Seoul. Walaupun jalanan yang dilalui motor cukup mulus –ia merasakannya, bukan melihatnya, karena sedari tadi yeoja dengan rambut hitam legam ini hanya bisa menutup matanya rapat- rapat.– Gaemi tidak bisa menurunkan kadar ketakutannya.

Parahnya sekarang adalah awal Februari yang berarti musim dingin masih berlangsung walaupun tidak sedingin pada bulan Desember atau Januari awal. Tapi tetap saja! Suhu masih belum menyentuh angka 20o dan dia sangatlah tidak tenang.

Pakaian yang ia pilih di toko pakaian Luhan tadi pun tidak cukup menghangatkannya agar buku- buku jari-jarinya tidak membeku.

Dia pun lelah berteriak dan diabaikan begitu saja oleh sang pengendara motor yang gila ini. Dia baru ingin menangis, bukan karena ketakutan atau kedinginan. Melainkan karena pelajaran Geografi yang dipelajarinya di sekolah.

Ia ingat bahwa semakin tinggi suatu tempat maka semakin turun pula suhunya. Jika namja gila –ya ampun, seorang malaikat bernama Suho yang berjanji menjadi pelindungnya, kini ia sebut namja gila- ini akan mengajaknya ‘bermain’ sampai ke puncak gunung. Maka yang ia takutkan adalah, dia akan bertemu dengan orang tuanya di ICU rumah sakit terdekat.

Baru saja, ia membayangkan suhu yang mungkin ia temui di puncak gunung nanti. Semprotan matahari musim dingin yang lebih dari cukup ia harapkan –kehangatannya, menerpa kulit wajahnya. Ia tidak bisa merasakan sinar matahari langsung pada  kulit tangannya karena tebalnya jaket yang ia gunakan.

Perlahan- lahan, kecepatan motor yang diluar batas akal sehatnya tadi mulai menurunkan kecepatannya. Bahkan sampai pada kecepatan = 0 alias berhenti sepenuhnya. Dia memberanikan diri membuka matanya, Gaemi mengerjap beberapa kali ketika matahari yang tadi meyemprot kulit wajahnya kini tengah melakukan hal yang sama kepada kedua matanya.

Dan saat itulah Gaemi hanya bisa terhenyak akan keindahan tempat ini. Padang rumput di tengah musim dingin yang sepenuhnya tidak layu. Matahari yang jarang ditemuinya selama musim dingin, ia temukan di tempat ini.

Gaemi masih terpesona dalam beberapa menit, hingga Suho perlu menyadarkannya. “Kau bisa melepaskan pelukanmu di perutku, Gaemi-ya? Agar kita berdua bisa turun dari motor ini.”

Gaemi terlihat bingung untuk beberapa detik, dan ketika menyadari bahwa tangannya masih melingkar di perut Kim Suho ia langsung melepasnya buru- buru sambil meminta maaf.

Suho buru- buru membantu Gaemi yang kelihatan kesulitan untuk turun dari motor besar milik Luhan, sesaat setelah ia sepenuhnya telah menginjak tanah.

Apa yang dilakukan oleh seorang Park Gaemi ketika ia berhasil berdiri dengan kedua kakinya? Dia melupakan pesona tempat itu sejenak dan segera memukuli Kim Suho.

“HUAAHHH!!!! AKU TIDAK TERIMA DIPERLAKUKAN SEPERTI INI!! KAU TIDAK TAHU BETAPA AKU SANGAT KETAKUTANNN! BERMAIN?! HAH! AKU PIKIR KAU AKAN MEMBAWAKU KE LOTTE WORLD! AHHH!!!!! SUHO OPPA MENYEBALKAN!!!!! MOTOR LUHAN MENYEBALKAN!!!!” Suho t engah menahan tangan Gaemi yang masih memukulinya, walaupun tidak ada rasa sakit di balik pukulan tersebut. Ia merasa perlu menahan tangan itu dan menghentikan Gaemi yang terus menerjang dan maju ke arahnya. Atau..

BRUKKK!!!

Mereka berdua jatuh bersama di atas tanah. Dengan posisi Gaemi yang menindih Suho. Suho pikir Gaemi akan segera bangun dari posisinya, namun kenyataannya Gaemi masih terus memukuli Suho dengan posisi ini. “AKU SUDAH CUKUP TAKUT MENGENDARAI MOTOR KARENA OH SEHUN! APA KAU JUGA INGIN MEMBUATKU TRAUMA KETIKA MELIHAT MOTOR???!!”

Suho masih mencoba mencerna perkataan Park Gaemi. Apa mungkin Sehun pernah menyakiti Park Gaemi? Namun ketika ia menyadari bahwa ia baru saja menyakiti yeoja itu. Ia mendorong pundak Gaemi perlahan sementara ia bangkit dari posisinya dan duduk di sebelah Gaemi yang kini tengah mengatur emosinya dengan menarik napas panjang.

Mianhae. Aku tidak berniat membuatmu takut. Aku hanya ingin berbagi tempat ini pada orang lain. Tempat ini indah bukan? Aku menemukannya setahun yang lalu.”

Dalam pelarianku.

Tambah Suho dalam batinnya, tentu saja ia tidak menyebutkannya. Kalau tidak ingin Gaemi mengenal masa lalunya.

Gaemi mendengus, ia menangkap sesuatu dari kalimat Suho yang menurutnya sangat ganjil. “Kau mengatakannya seolah- olah aku adalah satu- satunya orang yang datang kesini bersamamu.”

Namja bermarga Kim itu tersenyum senang. “Majja. Kau orang pertama yang kuajak kesini.”

Maldo andwae. Bukankah kau memiliki teman- teman? Seperti Luhan oppa yang kelihatan sehat bugar dan bersedia menemanimu ke tempat ini.”

“Kau salah. Luhan dia phobia pada ketinggian, jadi jangan harap dia sudi untuk datang kesini. Sementara ke-3 temanku yang lain, mereka terlalu sibuk semenjak menjadi murid Perguruan Tinggi semenjak setahun yang lalu.” Terang Suho sambil mulai membaringkan tubuhnya di hamparan rerumputan di sekitarnya. “Ah, tempat ini damai sekali.” Gumamnya sambil menutup matanya.

Ada sesuatu yang ganjil dengan diri Kim Suho. Sebenarnya Gaemi banyak menemukan keganjilan yang misterius dari namja yang sedang bersamanya kini. Mengapa ia masih menjadi murid Highschool sementara teman- temannya sudah berada pada tingkatan sekolah di atasnya? Mengapa Suho terlihat cukup tertutup dengan teman- teman di sekolah? Dan pertanyaan yang paling ingin ia tanyakan adalah, ada apa dengan seorang Park Gaemi –dirinya, mengapa Suho ingin sekali melindunginya? Gaemi yakin bukan hanya sekedar ingin berteman, tapi Suho terlihat selalu waspada ketika bersamanya.

Semua pertanyaan itu, ia terlalu ragu untuk menanyakannya, sehingga ia menelan lagi pertanyaannya. Kali ini perasaan ragu mengalahkan rasa penasarannya yang biasanya tidak terkendali. Dan itu kembali membuat tanda tanya besar dalam benaknya.

Ketika Gaemi tenggelam dalam semua pemikirannya, Suho menarik napas panjang dan mengatakan sesuatu. “Gaemi-ya, sebenarnya tindakanmu barusan sangatlah keren.”

Gaemi menoleh ke arah Suho yang masih berbaring di tanah, Suho bahkan tidak membuka kelopak matanya. “Ne?”

Karena ini adalah perasaanku, bukan perasaanmu. Dan kurasa aku berhak atas perasaanku sendiri.” Suho dengan sengaja mengutip persis kata- kata yang diucapkan Gaemi pada Sehun. “Itu adalah kalimat terkeren yang pernah kudengar.”

Geurrae?” Walaupun   hatinya juga merasa sakit karena penolakan Sehun, setidaknya Gaemi tidak mempermalukan dirinya sendiri karena insiden itu. Karena itu Gaemi bersyukur.

Gaemi menghembuskan napasnya yang tanpa ia sadari ia tahan sejak Suho menyinggung tentang kejadian beberapa jam yang lalu. Lalu dari sudut matanya ia melihat Suho beranjak dari posisinya sehingga kini mereka duduk bersebelahan dengan jarak yang tidak ada 50 cm. Dia mengacak rambut bagian belakangnya untuk menyingkirkan kotoran dari tanah yang menempel di rambutnya.

“Gaemi-ya, aku hanya penasaran. Di mana kampung halamanmu?” Gaemi sedikit kebingungan dengan topik pembicaraan yang tiba- tiba berubah jauh ini.

“Memangnya kenapa, oppa?”

Suho tersenyum kecil, “Kau tidak ingat? Akhir pekan ini tahun baru.”

“Ah. Lunar New Year?  Kalau kau mau tahu saja, aku tidak pernah merayakan tahun baru bersama keluarga besarku. Aku bahkan seperti tidak mengenal keluargaku yang lain selain eomma dan appa.”

Perlu waktu bagi Suho untuk mencerna ucapan Gaemi. Dia berusaha tidak menganalogikan apapun. Sungguh, dia tidak ingin. Tapi mengapa otaknya malah bekerja sendiri untuk menyambungkan berbagai informasi yang ia tahu masih rumpang. Tentang sebuah nama yang selama ini membuatnya gentar.

Ini semua hanya anomali, Kim Suho. Jangan kau berani membayangkan sesuatu.

Gaemi, dia terlalu sibuk menikmati pemandangan alam di sekitarnya. Sehingga ia tidak menghiraukan raut wajah Suho yang sudah keruh dan penuh beban. Berbeda dengan diri Suho sebelum Gaemi mengatakan bahwa ia tidak mengenal keluarga besarnya.

Dengan suara tercekat Suho mengatakan sesuatu, “Wae?”

“Entahlah. Ini hanya firasatku saja, tapi sepertinya eomma dan appa tidak menginginkanku bertemu keluarga besarku. Karena setiap kali aku membahas tentang keluarga besarku, mereka pasti mengelak. Lama- lama aku jadi bosan juga menanyakannya. Jadi, menurutku tidak ada yang spesial di tahun baru.” Gaemi menceritakan perasaan kesalnya pada Suho.

“Ah, lebih menyebalkan lagi kalau mereka pergi keluar kota pada tahun baru. Aku tidak mengerti sebesar apa Hannyang Corp sehingga mereka membiarkan anak tunggal mereka merecoki acara keluarga temannya karena bosan sendiri di rumah” Lanjutnya.

Mungkin inilah hasil didikan master yang telah tertancap di hidupnya. Sekarang Suho tengah mencatat apa saja informasi yang ia dengar tentang keluarga Gaemi.

Dia anak tunggal, tidak mengenal keluarga besarnya, Hannyang Corp.

Suho masih mencoba percaya bahwa Lee Gaemi tidak memiliki sangkut paut dengan Park Gaemi karena mereka orang yang berbeda. Tapi ia hanya penasaran dengan latar belakang Gaemi yang sedang bersamanya kini.

Ia harus memastikan bahwa anomalinya salah. Hanya itu yang ingin ia lakukan. Bahwa kecurigaannya hanya sebuah feeling tanpa dasar.

Tapi yang ia benci adalah, kenyataan bahwa sebagian banyak pelacak sepertinya bekerja dengan data dan.. feeling.

“Bagaimana denganmu oppa?”

“Eoh?”

Gaemi memandang malas pada lawan bicaranya yang sepertinya tidak mendengarkan pertanyaannya. Sehingga ia harus mengulanginya sekali lagi. “Apakah kau memiliki acara tahun baru akhir pekan nanti?”

Suho nyaris tertawa mendengar pertanyaan itu, tapi ia tahu itu bukan tindakan yang benar. “Sepertinya tidak.”

Sebenarnya Gaemi baru saja ingin menanyakan alasannya, tapi Suho terlebih dahulu mengalihkan perhatiannya pada hal lain. “Apakah kau akan merecoki acara tahun baru keluarga Chiya tahun ini?”

Yeoja itu tertawa garing. “Sebenarnya aku tidak enak pada Chiya. Eh, tapi tadi kau bilang bahwa kau tidak memiliki acara tahun baru. bagaimana kalau kita piknik saja oppa –kalau kau tidak keberatan?”

Suho mengerinyitkan keningnya. “Maksudmu?”

“Maksudku, aku sedang mengajakmu piknik akhir pekan nanti. Karena kurasa orang tuaku akan kembali sibuk tahun ini dan kau tidak memiliki acara apapun. Intinya aku ingin merecoki akhir pekanmu, kau mau menerimanya atau tidak?”

Suho terlihat berpikir, tapi sebenarnya ia pasti mengiyakan keinginan yeoja ini. “Aku akan menyetujuinya jika kau membawakan bekal makanan yang enak. Kau bisa masak, kan?”

“Aku sering membantu eomma di dapur kok.”

“Baiklah, kau mau mengajakku piknik di mana?”

Gaemi tersenyum jahil. “Bagaimana jika di tempat ini saja? Dengan catatan aku mau hiking! Dengan kaki, bukan dengan motor!”

“Whoa, kalau begitu kita harus sudah berangkat sejak matahari belum terbit supaya kita bisa sampai di tempat ini sebelum makan siang.”

CALL!”

***

Sehun menghentakan kakinya pada aspal jalanan entah yang ke berapa kalinya sejak 20 menit terakhir. Mungkin dia sudah gila, tapi ia sendiri pun tidak mengerti mengapa dirinya mau-maunya bertingkah gila. Kini seorang Oh Sehun tengah menunggu yeoja yang hari ini ia tolak mentah- mentah. Parahnya, menunggu di depan gerbang rumahnya. Untung saja rumah itu terlihat sepi. Sepertinya kedua orang tua yeoja itu tidak berada di rumahnya. Sehingga ia tidak perlu menjelaskan alasan mengapa ia ingin bertemu Gaemi. Karena ia sendiri pun tidak tahu alasannya.

Tubuhnya masih lelah karena permainan futsal yang ia mainkan tadi sore. Tapi ia tidak peduli akan rasa lelah itu, ia ingin segera bertemu Gaemi dan mendapat penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Mengapa sepanjang hari ia hanya merasa kesal, marah, bahkan kecewa karena Gaemi tidak menunjukan lagi batang hidungnya di sekolah sejak kejadian itu?

Kenapa Gaemi harus bolos sekolah? Menebak alasannya adalah karena Oh Sehun, membuat Sehun menderita akan rasa bersalah. Andai saja dia bisa bersikap lebih dewasa dan menolak Gaemi dengan cara yang lebih halus.

Sesaat Sehun meringis membayangkan kata menolak. Mengapa kata tersebut terasa lebih berat untuk dipikirkan kini? Padahal sebeumnya ia sudah bulat dengan keputusannya. Bahwa ia tidak bisa menerima perasaan orang lain. Perasaan dengan jenis apapun.

Tapi apa yang ia temukan setengah jam kemudian. Jam sudah menunjukan pukul 08.00 dan Park Gaemi dengan wajah cerianya turun dari sebuah motor yang dikendarai oleh seorang namja. Bahkan namja itu sempat mengusap puncak kepala Gaemi dan sedikitpun Gaemi tidak merasa risih, apalagi menolak tindakan itu. Namja itu, Kim Suho.

Ah! Jadi benar, yeoja ini dan Suho memang bolos bersama hari ini. Batin Sehun kesal. Tunggu, kekesalannya hari ini tidaklah cukup untuk mengembalikan moodnya dalam waktu dekat, kenapa sekarang harus juga ditambah dengan kekesalan lain karena sosok Suho dan Gaemi yang terlihat bersama?

Sehun dia menolak mentah- mentah untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang aneh muncul dalam dirinya ketika melihat pemandangan itu.

Sehun mendengus, kencang sekali sehingga tidak mungkin 2 sosok yang awalnya sedang saling tertawa tidak menyadari kehadirannya yang sangat tiba- tiba itu.

Perhatian Gaemi dan Suho langsung berpusat pada satu titik yang berada tidak jauh di dekat mereka. Hanya saja posisinya, berada di balik punggung mereka berdua.

Oh Sehun dengan wajahnya yang siap meninju orang.

 

TBC

 

Maaf yah masih TBC, kayanya FF ini bakalan cukup panjang… Jangan bosen nungguin FF iniiii.. hehehe 😀

Comment juseyoooo ^^

Iklan

43 pemikiran pada “Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 6)

  1. maaf thor baru comment di chap ini, soalnya baru nemu nih ff, jadi keburu
    buat author “keren” udah buat nih ff
    sehun udah mulai cemburu ciee

    mau lanjut baca dulu ya thor!!

  2. Wah, sehun cemburu nih, hati-hati nnt gaemi drebut suho loh. Kalau gaemi sma suho kmu sama ak aja y sehun oppa *puppy eyes*ngarep*digampar whirlwinds
    hwaiting thor ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s