The Dusk ‘Before The Night’ (Chapter 5)

Author :@JiaceSuji

Title : The Dusk (Before the Night)

Chapter :5 (On Going)

Genre : Romance, School life,Drama

Ratting : Teen

Cast  :

Park Chanyeol(Chanyeol) || Kwon Heesun (Oc)

Other cast :

Kai EXO ( Kai) || Jung Hea (Oc) and EXO member (cameo)

 

***

 

Five…

 

Ia senang.

Heesun merebahkan tubuhnya di ranjangnya.Apa mungkin ini karena suasana hatinya?Hatinya yang senang itu? Karena ranjangnya ini terasa lebih empuk dari biasanya. Bahkan suasana kamar yang telah membuatnya bosan itu justru terlihat lebih menarik kali ini.Padahal, tak ada satu-pun dari mereka yang berubah.

 

Bagaimana perasaan kalian jika pada akhirnya kalian bertemu kembali pangeran kecil kalian yang telah lama hilang? Tentu itu menjadi kisah manis di telinga. Seperti di dalam cerita dongeng, dimana pada akhirnya semua kisah itu berakhir bahagia.Begitulah perasaan Heesun sekarang.

Sejujurnya, jika saja ia diberi kesempatan sekali lagi untuk bertanya kepada siapapun yang tahu, ia akan bertanya “Apakah dia masih mengingat masa-masa itu? Apakah sepenuhnya belum terhapus dari ingatannya?”. Itulah pertanyaanya.

Beep..beep.

Heesun membangunkan setengah badannya dan segera mencari ponselnya yang telah berbunyi itu.Ternyata, ada sebuah panggilan masuk.

“Yeoboseyo?” ucapnya setelah menekan tanda terima.

“Nuna..”

Heesun yang awalnya tidak tertarik dengan panggilan malam seperti ini tiba-tiba saja berbalik seratus delapan puluh derajat.Ia membulatkan kedua matanya setelah mendengar suara diseberang sana yang memang tak asing baginya.

“Kai?”

Lalu, terdengar suara tawa ringan dari seberang sana. “Iya, Nuna.. apa aku mengganggumu?” itu Kai. Suaranya terdengar lembut, seperti biasanya. “Tentu tidak, Kai.” Heesun menjawab, “Tapi,dari mana kau mendapatkan nomor ponselku? Dan, apa yang membuatmu menelpon ku?” lanjutnya.

Kai mendengung panjang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya. Namun, Heesun sudah tenggelam dengan rasa penasarannya. Namun rasa senangnya saat ini jauh lebih besar dari rasa penasarannya itu. Bayangkan?, Kai mengkontaknya!

 

“Secret!” Itulah jawaban Kai, kemudian ia kembali tertawa saat dirinya mendengar suara rengekan kecewa dari gadis yang sedang ia kontak itu.

Manis. Seperti itulah mereka.

 

Apapun itu, yang jelas mereka sangatlah bahagia sekarang.Dan siapa yang menduga bahwa ternyata ini merupakan awal baru bagi mereka untuk menjadi lebih dekat dibanding hari sebelumnya?

Mereka kali ini lebih sering bertemu. Mereka bercerita, bercanda dan bahkan Kai sering mengajaknya untuk berangkat sekolah bersama, walau pada akhirnya mereka berpisah di stasiun bus, karena arah tujuan yang berbeda.

Kesimpulannya, dari waktu ke waktu, mereka semakin dekat.

-::-

 

Ini adalah hari Selasa, dan merupakan Minggu ke Dua berjalannya musim gugur tahun ini, tanda bahwa hujan mungkin saja turun dengan tiba-tiba ditengah aktivitas yang berlangsung. Contohnya seperti sekarang ini. Hima seperti biasa membawa dirinya untuk berjalan santai ,menuju gedung sekolah. Sialnya, saat dirinya berjalan di tengah lapangan terbuka, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Siswa-siswa yang lain yang pada awalnya berjalan santai sama seperti dirinya, kini berlari berhamburan agar cepat sampai ke gedung sekolah, atau setidaknya mencari tempat teduh untuk sementara.

Hima pun mempercepat langkahnya tanpa sedikitpun niat untuk berlari. Ia hanya takut terjatuh ditengah lapangan yang mulai tergenang air ini dan juga ia takut jika saja..

Bruk!

Ah,kejadian.

Hima terjatuh di tengah lapangan berumput, dengan lututnya yang tertekuk, dan kedua tangannya yang menahan tubuhnya.Baru saja ada seorang siswi yang berlari dari belakangnnya dan secara tak sengaja menyinggung bahunya sedikit keras hingga membuatnya tersungkur kedepan.

“Ah..”Hima sedikit kesal. Bahkan gadis itu tak menengok sedikit pun untuk meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan kepadanya. Perlahan, Himamenarik kembali tangannya yang basah itu, dan membersihkan serpihan-serpihan rumput yang menempel pada telapak tangannya.Ia sudah tidak peduli lagi dengan rambutnya yang lepek terkena air hujan.

Sejujurnya, Hima sudah curiga dengan lututnya yang tiba-tiba saja terasa perih.Jika saja benar itu sebuah luka, maka lengkap sudah penderitaannya. Oleh sebab itu, ia berjalan untuk memeriksanya. Ia baru saja mencoba untuk berdiri, namun sebuah tawaran tangan telah menghentikan pergerakannya.

“Gwaenchana?”

Hima mengangkat kepalanya, untuk melihat siapa yang tengah berbaik hati memberikan uluran tangan untuknya. “Geu-Geu-Gwaenchana..” jawab Hima sedikit terbata-bata. Hima meraih tangan itu dan orang tersebut membantunya berdiri.

“Gomawo..Suho Oppa..”Ucapnya setelah berhasil berdiri.Ia telah melupakan rasa perih dilututnya itu dan bagaimana hujan yang deras itu mengguyurnya, karena saat ini, Suho telah membagi ruang payungnya bersamanya sehingga Ia tidak perlu takut kehujanan lagi.

Hima menatap wajah sunbaenya itu yang jauh lebih tinggi darinya.Namun pandangan Suho justru tertuju pada telapak tangan Heesun yang masih kotor akibat serpihan rumput. Dan ini muncul dengan inisiatifnya sendiri, Suho meraih tangan kecil itu dan membersihkan kembali sisa-sisa rumput yang beradapada telapak dengan Hima dengan cara yang begitu lembut.

“oppa..” bisa dikatakan, Hima sedikiit terkesima dengan perlakuan Suho, Ah tidak, Sangat lebih tepatnya. Namun, Suho hanya membalasnya dengan senyuman.  Tetapi, senyuman itu pudar ketika ia memperhatikan lebih baik lutut Hima yang juga kotor akibat lumpur. Ia menyerahkan payung yang ia bawa itu kepada Hima, ia lalu menekuk lututnya dan  berjongkok dibawah Hima untuk kemudian ia mengambil selembar tissue basah yang berada di sakunya dan membersihkan kedua lutut Hima.

Disisi lain, Hima tak menduga bahwa Suhoakan melakukan hal ini. Sunbaenya itu memang baik, namun melihat perlakuannya ini, ia mungkin akan merubah pikirannya bahwa sunbaenya itu bukan hanya sekedar baik, tetapi sangat-sangat-baik. Entah ia sadar atau tidak, sejujurnya jantungnya itu telah berdenyut tidak normal sejak tadi.

“Akh..”Hima kembali merasakan perih  saatSuho mencoba membersihkan permukaan lutut kirinya. “Yah, Hima..Kau terluka,” Suho menegakkan kembali posisinya dan merebut payung itu. “itu lecet, kau harus ke Klinik Sekolah” lanjutnya.

Hima menggembungkan kedua pipinya sembari melihat ke bawah lututnya yang memerah itu, “baiklah..Hima ke sana ..tapi,” Hima menegapkan kembali tubuhnya dan mengulurkan tangannya di bawah guyuran hujan, membuat telapak tangannya basah terpenuhi kumpulan air. “..aku mau diantar Suho Oppa..”

Oh, hanya itu. Bagi Suho, ini bukanlah hal yang sulit. Bahkan Suho memang memiliki niat untuk mengantarnya bahkan tanpa diminta olehnya sekalipun Suhoakan melakukannya. Karena jauh di dalam hatinya, ia merasa bahwa ia harus bertanggung jawab akan gadis ini.

“akan aku lakukan..” Suho tersenyum kembali.Ia melihat gadis itu yang tidak lagi membiarkan telapak tangannya terguyur hujan dan mengeringkan kedua tangannya dengan rok seragam yang ia pakai. Sayangnya, Suho sangat ingin menyentuh kembali tangan kecil itu. Bahkan diluar akal sehatnya, ia ternyata sedang mencari cara agar dapat menyentuhnya.

Lalu..

“…ne?” Hima bertanya ketika Suho yang kembali mengulurkan tangannya. Berbeda dengan tadi, kali ini ia mengulurkan tangan kirinya, bukan yang kanan.

Hima kebingungan

Sementara Suho, memalingkan wajahnya.

Namun, pikiran Hima menangkap bahwa ini bukan sebuah uluran tangan tanda pertolongan seperti tadi.Ini lebih seperti uluran tangan tanda pertemanan.Ya, pertemanan di antara mereka. Setelah otaknya memahami itu, barulah ia meletakkan tangan kanannya di atas  tanganSuho, disanalah Suho tersenyum puas dan segera menggenggam erat tangan itu.

Dinginnya hujan yang menusuk itu terkalahkan dengan kehangatan yang timbul berkat tangan mereka yang bertautan itu.

-::-

Hari ini tampak banyak orang yang sedang berjalan disebuah trotoar dan sepertinya mereka sedang menuju satu titik yaitu penyebrangan.Namun sayangnya, rambu-rambu disana masih menunjukkan tanda berwarna merah, sehingga mereka harus berhenti dan berkumpul bersama kerumunan lainnya yang hendak menyebrang.

Mereka terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing.Ada yang menelepon, berbicara dan ada pula yang canggung memberi senyuman ketika dua mata yang tak saling mengenal itu bertemu.Namun yang lebih menarik lagi ketika angin musim gugur terhembus dan membuat dedaunan pohon disekitar sana yang tengah berguguran itu terbawa angin dengan serempak,terlepas,terayun, dan jatuh ke tanah secara bersamaan.

Heesun berada disalah satu kerumunan penyebrang itu.Ia yang pertama kali menyadari peristiwa gugurnya daun tersebut. Ia yang terlihat paling tertarik dengan peristiwa kecil itu,dan tanpa ia sadari, ternyata sejak tadi ia tersenyum melihatnya.

Disela-sela ia mengagumi banyaknya pepohonan telah menggugurkan daunnya itu, ia harus rela mengalihkan perhatiannya ketika ia sadar bahwa baru saja ada seseorang yang tidak sengaja menyinggung bahunya.

“Maaf” ucap orang tersebut sembari membungkukkan tubuhnya.

“iya.. tidak apa..”balasHeesun kemudian. Dan seolah harus kembali dalam tugasnya, kini Heesun telah mengalihkan kembali pandangannya kehadapan rambu penyebrangan yang sudah berwarna hijau.Saat baginya harus segera melangkahkan kaki jika tak ingin rambu itu kembali berwarna merah.

Hingga dirinya telah berhasil menapakkan kaki di trotoar jalan, dan tetap menjalankan kakinya menuju tempat tujuannya.Dirinya harus membelokkan arah kekiri, ketika telah berhasil melewati restoran ramyeon dan menelusuri sebuah jalan kecil lurus yang berada disamping restoran itu.sepintas ia melihat restorant itu sedang ramai-ramainya, membuatnya teringat dengan keadaan ibunya.

Jalan kecil lurus itu merupakan jalan menuju rumah kecilnya yang berada di sebelah kiri jalan.Rumahnya sangat sederhana. Sebuah gerbang kecil yang hanya muat dua orang akan menyapa kalian yang hendak berkunjung kesana. Lalu, sedikit lebih dalam,kalian akan bertemu dengan taman bonsai kecil yang sangat terawat. Jangan lupa di sudut kiri sana, terdapat sebuah tali panjang yang dihubungan dengan dua buah kayu. Biasanya keluarga Heesun akan menjemur selimut  musim dingin dan beberapa pakaian disana. Bangunan rumahnya sangat asri karena  unsurnya masih sangat  kental dengan bangunan tradisional korea. Dan setidaknya suasana rumahnya selalu terang karena mendapat sinar matahari yang cukup.

 

Heesun sebetulnya belum sampai didepan rumahnya. Ia sengaja memelankan langkahnya untuk menikmati suasana hari ini, yaitu

“tak terasa sekarang sudah minggu ke dua musim gugur ”

“tapi setidaknya musim gugur kali ini tidak lebih dingin dari tahun kemarin..” baru saja ada dua orang wanita yang melewatinya berlawanan arah. Apa yang dikatakan mereka memang merupakan fakta. Ini merupakan minggu kedua musim gugur .

“musim gugur ya..?” Heesun berkata pada dirinya sendiri.Ia menghentikan langkahnya ditengah jalan, mengingat peristiwa gugurnya dedaunan tadi. Ia juga Mengingat betapa indahnya dedaunan pohon yang tersulap menjadi menguning dan kemerahan, Mengingat bagaimana aroma musim gugur yang terasa begitu khas, dan satu lagi, mengingat bagaimana pemandangan musim gugur yang selalu mengingatkannya pada kejadian delapan tahun yang lalu.

Karena Kejadian itu terjadi tepat pada musim gugur. Rasanya ingin sekali ia mengulang itu sekali lagi, dan berharap ketika ia mengulangnya, ia akan bertemu dengan namja itu lagi sehingga namja itu tersadar, siapa dirinya sebenarnya.

 

Ia melihat sebuah jalan bercabang didepannya. Jika ia tetap berjalan lurus, maka ia akan sampai tepat didepan rumahya. Namun jika ia memilih jalan yang berliku disebelah kirinya, ia akan bertemu dengan rumah Kai, dan akan bertemu juga dengan tanah kosong itu di pengujung  jalan.

 

…. Apa , jika aku kesana.. aku akan bertemu dengannya?…Kai.

Dengan langkah ragu, dan dengan giginya yang masih menggigit pelan kuku jari tangan kanannya itu, ia memilih untuk berjalan menuju jalan berliku disebelah kirinya. Lama kelamaan, langkah kakinya menjadi pasti. Ia melangkahkan kakinya dengan biasa. Satu tujuannya yaitu melangkah sampai pengujung jalan.Ia bahkan tak sadar, ternyata ia telah melewati rumah milik Kai.

Dan , rumah bernomor terakhir pun telah ia lewati. Kini jalan mulus yang sempat menuntunnya kesini pun telah terganti dengan tanah kerikil yang kering. Tepat satu meter didepannya adalah sebuah pagar pembatas tanah itu yang terbuat dari kayu, menandakan bahwa tempat ini tak seharusnya dimasuki oleh penduduk sekitar. Namun, ada pintu kecil ditengahnya dan tidak terkunci.

Sore hari masih tetap berjalan,dan semakin lama-semakin terlihat jelas cahaya oranye dan warna-warna ungu gelap yang tergores dilangit. Cahaya-cahaya itu menyinari padang rumput dan ilalang disana. Dan suasana dingin mulai menyelimuti seiring bergantinya senja menjadi malam.

Ini benar-benar pemandangan yang dulu sempat ia lihat. Delapan tahun lalu tepatnya. Entah mengapa semuanya terasa sama, tak ada yang berubah. Hanya saja, dirinya yang sudah bukan anak kecil lagi, dan namja itu sedang tak berada di sisinya

 

“Kwon Heesun?”

Heesun membelalakkan matanya.Ia baru saja mendengar suara seorang namja yang memanggilnya. Dari Suara, beserta cara orang tersebut memanggilnya itu, ia tahu, Yang baru saja memanggilnya adalah namja itu“Kai?”

Kai berjalan mendekat. “apa yang nuna lakukan disini?..” ternyata, tak hanya Kai yang datang. Meonggu juga ikut bersamanya dan bias ditebak, anjing itu dengan sigap berlari menuju Heesun dengan girang.Heesun-pun menekuk lututnya dan menangkap anjing itu di pelukannya, kemudian mengangkatnya.

Heesun berterimakasih karena ternyata meonggu kemari disaat yang tepat.Semoga saja kai terpancing dengan kejadian ini. “Aku ingin memastikan sesuatu..kau sendiri?”

Kai memasukkan kedua tanganya kedalam saku Hoodienya yang berwarna merah itu. Salah satu alisnya sedikit berjinjit ,karena tidak percaya. “bukan.. hanya saja tempat ini hampir tak pernah didatangi warga.. bahkan cuma aku dan Meonggu yang sering kemari.. “

Heesun menatap jalan dengan tatapan mengambang. Namun ia tersenyum.. “aku menemukan meonggu disini tempo hari…” Kai terdiam sebentar setelah mendengar jawaban itu, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil

“Tetapi selain itu..aku pernah kemari waktu kecil…”

“Waktu kecil?”

“Ya.. waktu kecil aku pernah tinggal disini untuk beberapa hari..”

“Tinggal di… ….. Kau…” kini yang tedengar adalah pembicaraan mereka bersaut-sautan.Itu kalimat terakhir kai.Ia menggantungkan kalimatnya sedikit tak percaya.

“Kai..aku ingin bertanya sesuatu..” Heesun kembali berkata, ia menatap lurus kearah kai, walaupun tidak kedalam bola matanya. Kai sendiri memajukan satu langkahnya, tanda bahwa ia ingin mendengar pertanyaan itu.

 

Heesun mulai mengeluarkan pertanyaannya

 

“Apa yang kalian lakukan disini?” suara seorang telah mengahancurkan kesempatan Heesun. Dengan bersamaan ,Heesun dan kai menolehkan pandangannya kearah datangnya suara. Dan secara bersamaan juga, mereka membulatkan mata mereka terkejut, melihat siapa yang berada disana.

Disisi lain, Meonggu terlihat gelisah didalam pelukan Heesun dan Heesun pun melepasnya. Ternyata, anjing itu berniat untuk berlari kehadapan orang yang baru saja datang itu.

“Yeol?”..

Kenapa dia disini?…

Itu Chanyeol. Keberadaannya  dua sampai tiga meter dari posisi mereka. Membuat suara beratnya itu masih dapat terdengar jelas. Dia muncul dengan pakaian seragamnya yang telah ia ganti, memakai jersey berwarna Hitam putih, celana abu gelap dan tanpa baju hangat sama sekali. Lengkap dengan rambut nya yang selalu berantakan itu. Dan melihat keberadaan seekor anjing yang mulai mendekatinya itu, ia pun menepuk kedua tangannya lalu mengisyaratkan agar anjing kecil itu meloncat naik ke pelukannya.

..Kenapa dia akrab sekali dengan Meonggu?..

“Yeol?” ucap kai dengan wajah –kenapa-kau-disini-?- kepada Chanyeol.

“Tunggu..kau mengenalnya?” Heesun bertanya kepada kai, yang dibalas anggukan oleh Kai.Namun melihat wajah Heesun yang sedikit terkejut, Disana-lah Kai merasa kebingungan. “Ada apa?..dia sepupuku.. apa kau mengenalnya juga?” Kai menjelaskan kepada Heesun.

Heesun sendiri melihat kehadapan Chanyeol yang sedang melipat kedua tangannya.Mata tajamnya itu masih setia menatap mereka berdua.“Dia teman sekelasku,” akhirnya Chanyeol berpastisipasi dalam menjawab kebingungan itu.

Kai, Ia merasa ada sesuatu yang janggal dibalik ucapan Chanyeol. Pasalnya, Chanyeolsama sekali tak pernah mau mengakui satu-pun teman yang dikenalnya. Terutama sekali teman sekelasnya.

“Oh.. kalian satu sekolah.. rupanya” Kai mengangguk paham. Ia mengingat pakaian seragam yang dipakai Heesun adalah seragam yang sama, dipakai oleh Chanyeol. Bodohnya ia baru menyadarinya.

Chanyeol memutar bola matanya bosan “Cepatlah pulang..kakek sudah datang..” ucapnya untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya untuk kembali berjalan pulang bersama meonggu. Sedangkan Kai hanya bisa menatap Heesun dengan wajah meminta maaf.

“Heesun-nuna..maaf, aku harus pergi..” Kai bekata, seraya meminta maaf.

Mungkin, ini bukan saat yang tepat untuk menanyakannya.Ini bukan waktunya.Heesun menerimanya, ia hanya bisa tersenyum membalas permintaan maaf Kai itu. “tidak apa , kai. Masih ada besok, bukan?”

Kai menghembuskan nafas lega.Ia membawa tangannya meraih pundak Heesun dan mengelus pundak mungil itu dengan ibu jarinya. “Terimakasih…dah..~” kai mengucapkan selamat tinggal dan beranjak dari tempatnya menuju jalan pulang.Heesun melambaikkan tangannya pelan walaupun tubuh itu sudah membelakanginya dan menjauh.

Kini giliran Heesun yang menghembuskan nafasnya.

Hari ternyata sudah hampir gelap. Cahaya keunguan  masih terlihat, walaupun frekuensinya kecil. Heesun menyempatkan diri untuk melihat rumput-rumput itu yang mulai tertidur karena malam mulai tiba.

Ia hampir saja berhasil menanyakannya kepada Kai. Hampir..hampir.. Namun ia juga tidak menyalahkan kedatangan Chanyeol.

-::-

 

Suasana rumah itu terlihat hangat sekali walaupun langit telah mulai gelap, berita juga sudah mengatakan bahwa suhu udara kali ini telah turun drastis. Cahaya kuning pada lampu taman menghiasi halaman rumah Keluarga Kim senja itu. Sebuah meja panjang terbuat dari kayu telah siap berada diberanda rumah, dan juga satu-persatu bagian dari keluarga kecil tersebut berdatangan untuk meletakkan beberapa perlengkapan makan diatasnya.

Dua namja sebaya terlihat sibuk sekali dengan alat pemanggang yang akan dipakai kali ini. Satunya memastikan agar alat itu berfungsi, satunya lagi telah menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan permukaan pemanggang yang sempat dipenuhi noda-noda berwarna hitam.

Kai, yang diikuti oleh Chanyeol mendorong alat pemanggang itu tepat disebelah meja, diluar beranda rumah.Tentu saja agar saat memanggang daging nanti, asapnya tak langsung masuk ke dalam rumah.

Merasa semua telah beres, Kai menepuk kedua tangannya dan bersorak kecil. “beres.. yeah!” begitu katanya. Chanyeol justru memutar bola matanya dan memilih untuk melihat keadaan luar rumah yang sudah gelap. Bahkan bulan telah menampakkan dirinya, walau samar karena tertutupi awan tipis.

Suasana kembali hening.Hanya ada suara-suara ranting pohon yang bergesekan ketika datangnya angin. Serta suara berisik jangkrik yang bersembunyi dibalik semak-semak taman. Sepertinya jumlah mereka banyak, karena terdengar keras sekali.

Tak lama setelah itu, angin musim gugur berhembus melewati beranda rumah, dan membuat rambut kedua namja itu berayun kecil tersapu angin.Mereka berdua sama-sama memperhatikan satu titik.Titik datangnya hembusan angin.

“Yeol -hyung” Kai memanggil.Chanyeol membalasnya dengan membalikkan setengah badanya, tanpa bersuara sedikit-pun.

“.. Sepertinya, aku

aku menyukai gadis tadi.. Heesun nuna” kai bercerita.Ia memendam senyum malunya dengan menundukkan sedikit kepalanya. Namun, Chanyeolsama sekali tak merespon, ia justru kembali membalikkan tubuhnya seperti semula.

Tetapi jujur saja, Chanyeol sendiri terkejut mendengarnya.Ia merasakan sesuatu yang aneh didalam sana, entah itu apa. Tetapi Chanyeol berusaha menepis itu semua,dan berusaha menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sengaja ia sangkal itu karena ia sendiri belum memahami perasaan apa itu.

Ini merupakan kelemahannya, dimana dirinya sulit memahami perasaannya sendiri. Dia juga tak mampu mengungkapkan, menggambarkan dan melapiaskan perasaannya dengan cara yang benar. Dia hanya bodoh.

Melihat respon Chanyeol yang sulit diartikan itu, Kai memutuskan untuk berbicara lebih panjang. “Yah..pertemuan kita memang selalu singkat. Tapi, sejak awal aku bertemu dengannya..aku telah mengaguminya.. Dia juga seperti orang yang kukenal, tetapi entahlah..”Kai tersenyum membayangkan sosoknya. Pandangannya tertuju ke pada sinar lampu pada beranda , mengingat kembali detik-detik saat mereka bertemu.

“Dimana saat itu aku menolong Heesun dari serangan meonggu, aku tak sengaja menyentuh telapak tangannya.Dan hal yang paling kuingat ialah, saat gadis itu menyelipkan rambut panjangnya itu kebelakang telinganya. Setelah itu aku melihatnya tersenyum, sangat manis. Aku juga suka bagaimana cara gadis itu selalu berbicara apa adanya” jelas Kai.

 

“lalu?” hanya sebatas itulah respon Chanyeol. Disana, kai menyeringai seakan tujuannya telah pasti. “aku akan mendapatkannya..” jawab kai.

Lagi-lagi, Chanyeol terdiam seakan dirinya tiba-tiba saja membisu.Pandangannya sendu menatap cahaya bulan yang berada diatas. “semoga berhasil..” kembali Chanyeol bersuara, hanya itu yang bisa ia katakan.

 

Setelahnya, munculah Nyonya Kim dengan seseorang bersamanya.Itu adalah kakek dari kai sekaligus Chanyeol. Dan mengingat sang tamu kehormatan telah datang, disanalah acara makan malam kecil yang hanya dihadiri enam orang akan dimulai.

Selama acara makan, yang tak terlibat percakapan hanyalah Chanyeol dan Kai.Tetapi setidaknya, mereka sempat mengeluarkan beberapa kata ketika sebuah pertanyaan ditujukan kepada mereka.Seperti Chanyeol contohnya,

“Jadi..Kau masih bersembunyi dari ayahmu-yeol?” ini sesungguhnya adalah sebuah pertanyaan yang tidak diharapkan di acara ini. Bahkan yang lainnya berusaha untuk tidak membahas masalah ini,namun sang Kakek, tak ada yang berani menyinggung beliau.

“masih.. harabeoji” Chanyeol Menjawab Singkat. Suasana yang sebelumnya hangat pun berubah menjadi tegang saat tatapan Kakek berubah tajam.“Apakah sudah ada kabar dari Haneul?” beliau kembali bertanya.

Chanyeol mengunyah pelan makanannya dan menatap permukaan meja dengan pandangan mengambangia seperti sedang berfikir. Baru saja Chanyeol hendak menggeleng, namun Nyonya Kim telah berbicara terlebih dahulu, “Haneul Unnie pasti akan kembali, Ayah..”Jelasnya sembari memberikan senyum pengertian.

Namun, Beliau, Sang Kakek hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang seperti sedang frustasi, “Dasar, Anak itu memang keterlaluan..” ujar beliau. Dan setelahnya, suasana kembali seperti semula.

Haneul, atau Kim Haneul adalah ibu dari Chanyeol dan sekaligus merupakan kakak kandung dari Nyonya Kim. Mereka tentunya tahu apa yang terjadi pada Chanyeol dan keluarganya, termasuk juga dengan Kim Haneul yang tak kunjung kembali itu. Entah dimana beliau sekarang, tak ada satupun di antara mereka yang tahu.

 

Acara masih tetap berlangsung, Hingga pada akhirnya mereka tiba di makanan penutup.Nyonya Kim masih yang paling banyak tertawa ketika salah seorang kerabat menceritakan hal-hal konyol. Di sela beliau menghapus sisa air mata karena tertawa terlalu lama itu, ia melihat kearah Chanyeol dan juga kai yang duduk bersebelahan.

“ah.. omo! lihatlah dua pangeran yang sudah beranjak dewasa ini.. mereka terlihat tampan..”goda Nyonya Kim. Tentunya yang ia maksud adalah putranya dan juga kemenakan laki-lakinya.

Mendengarnya, Chanyeol hanya bisa tersenyum kecil untuk sekedar merespon. Begitu juga dengan kai, namun senyumnya sedikit lebar dibanding Chanyeol

“.. tapi apa kalian ingat.. sewaktu kecil kalian suka berembug berdua hanya untuk membahas tentang cinta pada pandangan pertama? Entah dimana saat itu kalian mendapatkan kata itu.hahahaa” Nyonya Kim kembali tertawa disusul dengan yang lainnya.

“sudahlah ibu.. jangan mengungkit itu lagi!” kai terlihat malu.

Nyonya Kim meneguk air mineral pada gelasnya, “ah..padahal saat itu , kau yang pertama kali membahasnya!” dan kemudian, Nyonya Kim mengusap kepala putranya dengan gemas yang kemudian menyebabkan wajah kai menjadi jengkel.

 

Cinta pada pandangan pertama, ya?

Chanyeol menatap pemandangan luar jendela. Walaupun tak ada satupun yang menarik diluar sana. Hanya awan yang berjalan seperti layar proyektor yang sedang memutar gambar.Sunyi sekali, mengingat setengah jam yang lalu, mereka berjalan mendampingi kerabat mereka ke pintu utama, sebelum akhirnya mereka mengucapkan kalimat perpisahan.

Malam ini Chanyeol menginap di rumah Kai, atas permohonan Nyonya Kim yang benar-benar sulit untuk ia tolak. Lagi pula ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Kai malam ini. Hanya saja, entah telah berapa kali mereka bertemu pandang , tak satupun dari pertanyaan itu berhasil muncul dari mulutnya. Ada perasaan yang menyerupai perasaan malas menghampirinya,tetapi disaat yang bersamaan ada perasaan lain dimana ia harus segera menanyakannya. Namun, terlalu lama pertempuran itu terjadi didalam batinnya, hingga pada akhirnya Kai kini telah masuk ke kamarnya, dan akan keluar keesokan harinya. Sayang sekali kesempatan itu terbuang.

Dibibir jendela besar yang terbuka itu, Chanyeol menutup matanya membiarkan cahaya bulan mendahului wajahnya, dan memasuki ruang kamarnya. Angin malam itu menusuk kulitnya, namun ia abaikan itu. Ia ingin mengingat kembali, bagaimana dulu ia sering sekali menikmati malam disini. Membiarkan jendela terbuka, dan duduk dipinggirannya.Melihat bulan yang selalu tersenyum kepadanya. Dan juga angin yang dingin itu, yang tak pernah berhasil membuatnya deman dikeesokan harinya.

Namun sayangnya, kini ia tak lagi tinggal ditempat ini. Dan bahkan dirumahnya yang baru, ia tak dapat melihat pemandangan seperti ini lewat jendela kamarnya.

Disisi Lain, Heesun ternyata sedang melakukan Hal yang sama. Ia melipat kedua tangannya tepat di bingkai jendela kamarnya yang lebih tinggi itu. Kali ini ia tak mampu membalas senyuman bulan yang

sering ia lakukan di tiap malamnya. Ia hanya menatap cahaya itu sendu, sembari menceritakan secara membatin apa yang terjadi hari ini dan bagaimana perasaannya sekarang.

Ia hanya tak bisa percaya, bahwa dunia itu memang kecil. Ia baru saja berkenalan dengan satu sosok baru yang begitu asing, namun ternyata ia kini menemukan fakta baru bahwa sosok itu ternyata memiliki hubungan dengan sosok lama yang pernah ia kenal. Dan ia bersumpah bahwa ia tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya, semua ini di luar dugaan.

-::-

“Yah!..Heesun~” Hima menyapa dan berjalan menuju gadis yang berada di depannya. Dia tidak berjalan sendiri, perjalanan pulang ke rumah kali ini ia ditemani sunbae paling favoritnya, Suho. Namun Suho berjalan lebih tenang di belakang.

Heesun membalikkan tubuhnya setelah mendengar seseorang yang menyerukan namanya dengan riang.Ia pun menunggu gadis berambut tebal itu dan juga Suho yang selalu terlihat seperti pengawalnya.

“jadi.. hari ini kalian pulang berdua?” Heesun bertanya setelah mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.

“ani..” Hima menjawab. Sungguh merupakan kebiasaan yang lucu ketika gadis itu berjalan seperti anak berumur lima tahun, dimana kaki-kakinya itu melangkah seperti mengikuti irama dan sesekali ia menegaskan langkah kakinya. Lalu kebiasaan unik lainnya, Hima selalu memegang kedua tali ranselnya ketika berjalan.

“lebih tepatnya Suho Oppa sedang mengantarku pulang”Hima melanjutkan penjelasannya. Heesun pun mengangguk sementara itu ia mengalihkan pandangannya sejenak kebelakang untuk melihat Suho. Tampaknya Namja itu sangat memperhatikan Hima. Mungkin saja ia telah menganggap Hima ini sebagai adiknya.

“hoh!”

Hima tiba-tiba saja berhenti melangkahkan kakinya, dan kedua matanya terkunci di satu titik dengan mulutnya yang menganga lebar. “Itu!!!,” Hima mengulurkan jari telunjuknya, “Ai-seu.. Kheu-rim!!”

Seperti yang ia katakan, Hima baru saja melihat sebuah toko Ice cream yang berada di sudut jalan, tanpa ragu lagi, ia segera berlari menuju toko itu layaknya anak kecil yang baru saja melihat badut karnaval yang sedang membagikan permen.

Heesun hanya menggelengkan kepalanya, ia hanya tak habis piker bahwa Hima berlari hanya karena sebuah toko Ice Cream. Tapi tak apa, setidaknya ia bisa melihat tingkah menggemaskan Hima sekali lagi. Itu membuat Heesun tersenyum.

“Apakah kau akan berkomentar soal ini?”Suho berdiri tepat di samping Heesun, dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana. “Ne!,” Heesun menjawab, “akankah, Lee Himamembelikan eskrim untuk kita berdua?”

Detik selanjutnya,Mereka berdua tertawa.

 

“huh..” Suho menghembuskan nafas setelah ia merasa bahwa tak seharusnya ia tertawa lebih banyak lagi. “Tapi, apakah klise ini menurutmu lucu?”

Heesun menghentikan tawanya perlahan, “klise? Maksud sunbae?”.

“Aku baru saja menemukan sesuatu..bahwa kita telah terlalu jauh melangkah. Ah, Tidak, bahkan aku tidak pantas untuk berkata ‘Kami’ di situasi seperti ini..”Suho menghadapkan tubuhnya  ke arah Heesun. “Heesun, aku telah terlalu jauh. Kami telah terlalu jauh..” lalu pandangannya kembali berpaling ke arah yeoja yang sedang bingung memilih eskrim di sudut sana.

Heesun sedikit demi sedikit paham apa yang dimaksudkan sunbaenya ini. ia bahkan tak menduga bahwa sunbaenya akan berbicara seperti ini. Ah lebih tepatnya, dia sedang berusaha mengutarakan isi hatinya. Itu tanda bahwa ia dipercayai.

Baru saja Heesun ingin memastikan apa yang telah ia tangkap, tiba-tiba saja Suho kembali berbicara “Pada awalnya, aku kira, aku sedang bermimpi..hhh..” Suho tertawa kecil, “Tidak, ternyata aku sudah terbangun dari mimpiku, kemarin.Dan aku baru sadar ternyata aku memang, benar-benar menyukainya. Lee Hima”

Heesun menurunkan pandangannya ke aspal dan berfikir bahwa ternyata ini persis seperti apa yang ia duga. Lalu ia melempar pandangannya ke atas, “Suho-sunbae, ini bukan sebuah klise murahan yang lucu..Apa Sunbae tahu? Perasaan suka itu istimewa dan betapa mulianya ketika kita berusaha untuk menjaganya..”Heesun menatap satu titik cahaya di atas langit mendung. Itu seperti sebuah titik cerah yang akan ia berikan kepada sunbaenya, ini demi kebaikannya. “Aku juga baru saja mengalaminya, dan aku senang ternyata Suho sunbae mempercayakan hal ini padaku. Huh, aku akan membantu jika kau ingin ‘itu’ benar-benar terjadi.” Lalu Heesun mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman.

Suho kemudian berterimakasih.Ia merasa lega sekarang, seperti titik cerah di tengah awan mendung itu telah berhasil meneranginya.

“Bagaimana perasaan sunbae sekarang?”Mendengar pertanyaan itu, Suho pun menaikkan kedua bahunya.“Kurang puas,” jawabnya singkat dengan nada yang gantung.Heesun merespon dengan mengerutkan alisnya.Suho tersenyum jahil, “karena gadis itu, ternyata membeli eskrim untuk dirinya sendiri” ia menyelesaikan kalimatnya sembari menunjuk gadis itu. Setelahnya mereka kembali tertawa.

Di kejauhan ternyata Hima sedang melambai-lambaikan tangannya kearah Suho untuk segera menyusulnya.Disanalah saat dimana mereka harus berpisah.

“aku pergi. Ingat besok kau ada tugas piket sepulang sekolah. Dan kau masih akan piket dengan orang yang sama. Jadi..bekerjasamalah! Aku pergi” giliran Suho yang melambaikan tangannya pelan tanda perpisahan.

Setelah melihat kedua orang itu yang kembali berjalan sejajar, Heesun pun membalikkan tubuhnya seperti apa yang seharusnya. Ia memilih untuk memutar arah agar perjalanannya pulang ke rumah sedikit lebih lama, karena ia ingin menikmati pemandangan ini sedikit lebih lama.

Namun tiba-tiba saja kembali terpintas perkataan Suho beberapa menit yang lalu,

“..kau masih akan piket dengan orang yang sama. Jadi,..”

‘Chanyeol?’

Secara tidak sengaja Heesun kembali teringat oleh sosok itu.

-::-

Baru saja Gu Seongsaengnim menutup pelajaran untuk hari ini. Selanjutnya, mereka, teman sekelas Heesun bersorak gembira dan mereka pun bersemangat untuk pulang. Tetapi tidak dengan Heesun, dia harus tinggal satu-dua jam lagi untuk kewajiban piketnya. Lalu tak sengaja pandangannya tertuju pada bangku kosong yang berada di pojok belakang ruangan.Bangku itu sebelumnya ada pemiliknya, namun entah sejak kapan pemiliknya itu meninggalkan tempat.

Huh, Heesun pun memutuskan untuk berjalan menuju ruang latihan seperti apa yang seharusnya. Dan sesekali ia tertangkap oleh teman-temannya untuk kemudian mereka saling bertukar salam di tengah kaki mereka yang tetap berjalan itu. Lalu tibalah ia di blok ruangan latihan dimana tempat yang ia tuju berada di dalamnya. Sepanjang koridor blok ruangan latihan itu sepi, karena setahu Heesun, hari ini tak ada satu pun ekstrakulikuler yang mengadakan latihan. Ia pun mempercepat langkah hingga pada akhirnya ia sampai di ruangan yang ia tuju, dan melihat kedalam jendela besar ruangan itu yang terbuka.

 

Blush///

Heesun menarik kembali dirinya bersembunyi di bawah dinding jendela. Baru saja ia mendapatkan sebuah pemandangan yang…

Hembusan angin membuat tirai jendela ruangan terbuka dan menampakkan pemandangan yang berada di dalam ruangan itu.Awalnya Heesun hanya berhenti karena melihat sosok Chanyeol dalam ruangan itu.Rupanya namja itu telah sampai terlebih dahulu.Heesun lega karena pada akhirnya Chanyeol tidak memutuskan untuk kabur kali ini.Namun tiba-tiba saja, Chanyeol berbalik dan membuka seragamnya.

Ash, Demi tuhan, aku tidak melihat apapun, ini sungguh tidak sengaja..

Heesun menggeram dalam hati dengan wajahnya yang memanas.Ia bahkan hampir berteriak jika saja ia tidak berhasil mengontrol emosinya. Namun, perlahan telapak tangan yang ia kenakan untuk menahan mulutnya itu meluruh. Ia hanya menemukan sesuatu yang janggal di dalam tubuh Chanyeol tadi.

Walau masih dengan ragu, ia berusaha kembali mengintip di jendela. Percayalah, Heesun bukan ketagihan untuk melihat Chanyeol bertelanjang dada seperti tadi, ia hanya memastikan sesuatu. Dengan takut-takut, ia mengarahkan kembali pandangannya ke sana dan menemukan Chanyeol yang berhasil memasukkan tangan beserta ujung kepalanya ke dalam baju kaus berwarna biru tua. Lalu kemudian ia menarikknya hingga menutupi bagian tubuhnya. Dan setelah melihatnya, Heesun pun kembali mengalihkan pandangannya untuk kemudian ia merosot ke dinding di bawah jendela dan bersandar di sana.

Chanyeol, ada apa dengan namja itu?

Heesun menemukan banyak bekas luka yang membekas pada kulit tubuh Chanyeol dan yang paling besar tadi, ia menemukannya di bagian punggung Chanyeol, lalu yang lain masih ada di bagian pundak, pinggang dan lengan-lengannya.

Apa dia bodoh? Atau dia terlalu kebal saat dia menerima luka-luka itu?

Lalu teringat kembali di benak Heesun ketika dirinya telah beberapa kali menemukan Chanyeol dalam keadaan babak belur seperti itu.Heesun tidak menyalahkan Chanyeol, ia justru berfikir dan menyalahkan orang-orang di sekitarnya. Terutama sekali Orang tuanya.Dimana mereka?Apa mereka sedang berada di luar negeri seperti apa yang ada di dalam drama?

Jika dipikir-pikir, Heesun sejujurnya sangat ingin memahami namja itu. Ya, selain ia merasa simpati, ia juga ingin masuk ke dalam dunia kecil namja itu.

Agar tidak terlarut-larut dengan pikiran-pikiran itu, pada akhirnya Heesun pun memutuskan untuk memasuki ruangan latihan. Dan saat ia berhasil membuka pintu ruangan itu, pemandangan yang ia lihat selalu sama. Sosok Chanyeol yang duduk di bibir jendela dengan mp3nya dan tirai jendela di sekitarnya yang melambai-lambai dimainkan oleh hembusan angin.Seperti biasa Chanyeol seperti tidak menyadari keberadaan Heesun, entah dia tidak peduli atau bagaimana, itu terkadang membuat Heesun penasaran.

“Anyeong, Park Chanyeol” sapa Heesun.Chanyeol hanya melihat sekilas lalu ia beranjak dari tempatnya dan segera mengambil sapu yang berada di lemari alat kebersihan. Melihat Chanyeol yang tak menghiraukannya, Heesun hanya menghembuskan nafasnya pasrah.Kemudian Heesun mengambil sebuah karet dalam sakunya, dan mengikat rambut panjangnya sampai habis.

Namun Chanyeol,berjalan kearahnya dengan membawa dua buah sapu. Salah satunya ia oper ke Heesun. Dan Heesun hanya bisa berkata terima kasih dengan sedikit canggung.Perhatian Heesun sedikit tersita saat melihat bagian tangan Chanyeol yang berisi bekas jahitan.Sepertinya itu luka yang parah dulunya.

“apakah tanganku setampan Lee Seunggi, sehingga membuat kau melamun seperti itu?” yak, perkataan Chanyeol berhasil membuat Heesun tersadar. “uh..Ne?”Heesun yang baru tersadar belum sepenuhnya menangkap perkataan Chanyeol.

Chanyeol hanya memutar bola matanya sembari memasang kembali headset di kedua telinganya.Ia berjalan menuju pinggiran ruangan untuk membersihkan yang berada di sana. Sementara itu, Heesun masih terdiam di tengah ruangan dan baru sadar kembali setelah Chanyeol menyibukkan dirinya.Dan mereka kembali terlarut dalam hening dengan suara gesekan kertas yang tersapu.Mereka sepenuhnya terdiam membisu.Sesekali Heesun melirik Chanyeol lewat sudut matanya dengan takut-takut saat namja itu mulai membuka jendela-jendela ruangan dan kembali terlarut dalam sibuknya.

“erhm..” Heesun mencoba mengalihkan namja itu, tidak ada respon.“Chanyeol?” sekali lagi Heesun mencoba.Masih tidak ada respon, namja itu sepertinya tuli akibat headset yang masih melekat di kedua lubang telinganya.

“Park Chanyeol, apa kau tidak mendengar?” Heesun mengeraskan suaranya. Namun namja itu sama sekali tidak bergestur bahwa dirinya sedang mengacuhkannya seperti biasanya. Dia lebih terlihat seperti orang yang benar-benar tuli.Entah seberapa besar volume lagu yang sedang terputar di telinganya.

Heesun melanjutkan kembali pekerjaannya, namun dengan lidahnya yang masih berbicara. “Park Chanyeol,apa kau tahu? Akhir-akhir ini semuanya yang terjadi seperti mimpi bagiku. Mereka begitu di luar dugaan dan, aku bahkan sulit untuk mempercayai apa yang telah terjadi itu.

Seperti aku baru mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara Suho sunbae dan Hima, lalu Kai, hubunganmu dengan kai, dan masih banyak lagi.”

jika aku boleh dapat sebuah kartu emas dari mu, aku akan membuka kartu emas itu untuk ini..” Heesun tahu bahwa pada akhirnya namja itu tidak mungkin bisa mendengarnya, “aku ingin kau menjawab pertanyaanku..

Aku tidak pernah memiliki rasa penasaran sebesar ini sebelumnya, mereka mulai muncul ketika aku bertemu dengan orang sepertimu.Banyak hal yang ingin aku tanyakan, seperti kau tinggal dimana, bersama siapa, kau belajar atau tidak, lalu kedua orang tua mu, aku sangat ingin mengetahuinya.”Heesun terdiam sejenak.Garis bibirnya menurun.

“ak-aku juga ingin bertanya, dari mana semua luka-luka yang berada di tubuhmu itu? Apa respon kedua orang tuamu saat menemukanmu saat dalam keadaan itu? Ah iya, bukan-kah ada Kai? Apa kau tidak pernah meminta bantuan padanya? Jarang? Atau bagaimana?. Tetapi apapun itu, semuanya hanya membuat aku semakin penasaran.(Kali ini Heesun menggigit bibir bawahnya) Aku-aku hanya ingin lebih memahami-mu? Bolehkan?”

Heesun masih menggigit bibir bawahnya dan melihat kearah Chanyeol.Namja itu tetap terlihat sibuk, pandangannya tenang seolah tidak terjadi apa-apa.Heesun yakin bahwa namja itu tidak bisa mendengar perkataannya. Lalu ia melihat lagi kea rah bekas-bekas luka yang berada di lengan-lengan namja itu. “sakit-kah?” Namun sedetik kemudian ia mengangkat kepalanya ke atas untuk menahan air-air yang tiba-tiba saja terbendung di bawah matanya.

-::-

Dan disinilah mereka di tengah ruangan gelap dan sempit yang penuh debu.Bahkan ketika mereka baru membuka pintu ruangan itu-pun mereka telah disambut debu-debu yang turun dari atas pintu. Ruangan ini berisi tumpukan-tumpukan box yang entah berisi apa di dalamnya sebagian dari box-box itu tertata rapi di atas rak dan juga disudut ruangan, namun tetap saja pemandangannya tidak enak karena tempat ini terlihat kurang terawatt. Bahkan jaring-jaring laba-laba berada di mana-mana.

Mereka baru saja selesai dengan tugas mereka sebelum akhirnya Chanyeol memutuskan untuk mengajak Heesun ke suatu tempat yang berada tak jauh dari ruangan latihan.

“tempat apa ini, Chanyeol?” Heesun bertanya dibalik kedua tangannya yang menutup hidung dan mulutnya.Ia baru saja berhasil menghindari beberapa jarring laba-laba yang menghalangi jalannya untuk memasuki lebih dalam ruangan itu.

Sementara itu, Chanyeol terlihat tidak peduli dengan kondisi ruangan ini.ia tetap sibuk mencari sesuatu dengan cahaya senter yang keluar dari jam jangan-nya. “Gudang peralatan Musik” jawabnya singkat.

Heesun mendekati Chanyeol, “apa sunbae menyuruh-mu untuk mengambil sesuatu?”.

“ani, aku sedang mencuri.”

Mendengarnya, Heesun membelalakkan matanya. “ya!jangan bercanda!”

Lalu setelah mengacak-acak isi sebuah box  yang berada di atas rak, akhirnya Chanyeol berhasil mendapatkan benda yang ia cari. Setelahnya ia memperlihatkan benda itu dihadapan Heesun, “apa aku terlihat sedang bercanda? Aku sedang mencuri dan ini barang curian-ku” Chanyeol menggerak-gerakkan sebuah box yang berukuran sangat mini dan lebih terlihat seperti kotak perhiasan.

Heesun memiringkan kepalanya, “benda apa itu?”

“hanya sebuah box kecil” jawab Chanyeol singkat sembari mulai berjalan menuju pintu. Begitu juga dengan Heesun yang mengikutinya dari belakang, “bukan itu, apa yang berada di dalamnya?”

Masih tetap berjalan, “bukankah tadi kau bertanya benda apa ini?dan bukankah aku sudah menjawabnya?”

Heesun berfikir sejenak, “ah, kalau begitu aku ganti pertanyaanku.Apa yang terisi di dalam box kecil yang sedang kau bawa itu? Apa yang berada didalamnya?”

Di saat itu juga, mereka telah berhasil berdiri di depan pintu gudang yang tertutup. Chanyeol menghentikan langkahnya untuk melihat kearah Heesun sekilas, dan menjawab, “kau dilarang bertanya lagi!” ia mengalihkan pandangannya kea rah kenop pintu dan berusaha membukanya.

Heesun baru saja hendak protes, ia merasa dipermainkan “Hei! –,” seperti sebuah sihir, Heesun tiba-tiba saja terlupa dengan apa yang ingin ia katakan. “apa yang terjadi?” Heesun mengalihkan perkataannya.

Chanyeol terlihat kesulitan membuka pintu. Kenopnya tidak bisa berputar, dan ia telah beberapa kali menggerak-gerakkan pintu dan mendorongnya dengan tenaga sedang. “ck! Terkunci!” ujar Chanyeol dengan wajah yang serius.

Ia pun menghentikan usahanya untuk membuka pintu, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sementara itu, Heesun mengambil alih untuk mencoba membuka pintu dengan melakukan hal yang sama dilakukan Chanyeol. Ia tidak bisa percaya bahwa tenyata pintu itu benar terkunci. Ia gelisah dan menatap Chanyeol dengan penun tanda Tanya “bagaimana ini?” ucapnya beberapa kali. Lalu ia juga telah mencoba untuk memukul-mukul pintu dan berteriak minta tolong. Namun hasilnya nihil. Dan pada akhirnya ia menyerah dengan sendirinya karena pintu kayu itu sangat keras dan sakit sekali saat kepalan tangannya itu berusaha memukul keras pintu itu.

“kau bawa ponsel?” Heesun bertanya penuh harap. “aku meninggalkannya di atas meja” jawab Chanyeol kemudian.

Heesun meletakkan kedua tangannya menutupi wajahnya dengan rasa penyesalan penuh karena ia juga meninggalkan ponselnya di dalam tas nya.

“kau punya ide?” Heesun kembali bertanya.Chanyeol memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.“Ide gila atau Ide cemerlang?”

“beritahu aku masing masing dari mereka!”

“ide cemerlangnya, menunggu disini sampai besok tiba karena ini sudah jam enam sore” Chanyeol menunjukkan waktu yang ditunjukkan jam tangannya, “ide gilanya, Loncat” Chanyeol bergestur menunjukkan sebuah jendela yang berada di dinding atas ruangan. Letak jendela itu sangat tinggi,dan mungkin yang berhasil meraihnya hanya Chanyeol seorang.

“taka da cara lain lagi?” Heesun mengharap lebih.Ia tahu bahwa dirinya tidak akan sanggup menjalani cara yang kedua yang terdengar lebih logis. “kau tidak memilih ide gila itu? Itu satu-satunya cara termudah, atau kau mau mengikuti ide cemerlangku?”tanyaChanyeol sambil memiringkan kepalanya.

Heesun menelan ludahnya, “tidak,” suaranya terdengar bergetar, “seberapa tinggi jendela itu sampai ke permukaan tanah di luar sana?”

“sangat tinggi..” Chanyeol mulai curiga dengan tingkah Heesun.

Heesun menelan ludahnya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti dirinya yang telah berhasil berada di atas jendela sana. Sejujurnya, Heesun memiliki phobia terhadap ketinggian.Ia akan gelisah ketika sedang berada di tempat tinggi. Dan jika saja ia telah kehilangan kendali, mungkin saja disaat itu juga ia akan menangis seperti anak kecil.

Walaupun begitu.Ia tetap bersikeras untuk merahasiakan kelemahannya. Ia selalu berniat untuk melawan rasa takutnya itu. Dan jika saja kali ini ia dapat melawan rasa takutnya itu dengan terjun dari ruangan ini, mungkin ada titik cerah baginya untuk sembuh.

“baiklah, ide gila” Heesun berusaha meyakinkan dirinya.

Namun seberapa pun Heesun mencoba untuk mencoba menyembunyikan perasaan takutnya itu dihadapan Chanyeol, ia tetap tidak bisa. Karena Chanyeol sendiri sudah menyadari sejak tadi, apa kendala gadis ini terlihat ragu dan ia juga telah membaca mata gadis itu, tersirat rasa takut di balik mata itu.

Ia ingin membantu

Perlahan, ia membawa dirinya mendekati Heesun. Derap langkahnya itu sangat pelan dan pasti, hembusan nafas Heesun yang sedikit tidak beraturan itu semakin terdengar seiring dekatnya jarak diantara mereka. Sampai akhirnya Chanyeol telah berhasil mengurangi ruang kosong diantara mereka dan berdiri persis didepannya dengan jarak yang sangat dekat.

Heesun baru saja menyadari namja itu yang telah berdiri di depannya. Dan yang jarak mereka yang sangat dekat itu membuat jantung Heesun bedenyut tak karuan ia bahkan mulai lupa cara benafas yang benar.

Lalu tiba-tiba saja Chanyeol meletakkan kedua telapak tangannya pada permukaan dinding yang berada persis di belakang Heesun.itu terlihat seperti dirinya yang sedang mengunci Heesun di dalam tubuhnya. Di sanalah Heesun secara reflex menahan nafas.

“lawan mereka!” suara Chanyeol terdengar sangat lembut. Sama seperti waktu itu. “lawan rasa takut mu itu sekarang! Aku memintanya sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang park Chanyeol”

Heesun terkunci di dalam tatapan mata Chanyeol yang lurus menatap ke arahnya.Dimana  Ia tak menemukan sesuatu yang negative disana. “aku…” baru saja Heesun hendak menjawab, Chanyeol telah berhasil memotong perkataannya. “aku tahu kau takut. Oleh karena itu, Pegang tanganku!”Chanyeol memberikan kedua telapak tangannya dihadapan Heesun, “aku akan membantumu ke atas terlebih dahulu.”

Setelah berfikir untuk sekian detik, akhirnya Heesun pun meletakkan kedua tangannya diatas telapak tangan Chanyeol. Selanjutnya, Chanyeol pun menuntunnya untuk memanjat rak besi yang akan membantunya naik sampai  di pinggiran jendela. “jangan lihat ke bawah dulu!”Chanyeol beberapa kali menghimbaunya sedemikian hingga akhirnya Heesun berhasil berada di bagian atas rak tersebut dan duduk diatasnya masih dengan matanya yang takut-takut untuk melihat kembali kebawah.

Chanyeol yang masih di bawah pun menyusul secepat mungkin, lalu kembali meraih telapak tangan Heesun yang mulai bergemetar

Mereka sudah berada di pinggiran jendela sekarang.

“dengar, aku akan melompat terlebih dahulu. Lalu selanjutnya, kau harus melakukan seperti apa yang kulakukan! Jangan takut! Aku berada di bawah.. Untuk mu..aku akan menangkapmu.” Chanyeol berkata dengan sungguh-sungguh.“Aku tidak akan membiarkanmu jatuh.”

Heesun hanya terpaku. Disisi lain ia senang melihat sisi lembut ini lagi dari sosok Chanyeol. Sedikit-demi-sedikit ia bahkan lupa dengan pemandangan luar jendela yang selalu membuatnya takut itu. Lalu genggaman tangan itu telah berhasil memotivasinya untuk melawan rasa takutnya. Perlahan ia pun mengangguk.

Chanyeol menggerakkan tangan kanannya untuk menggeser kaca jendela agar terbuka, sementara tangan yang satunya lagi masih setia menggenggam tangan Heesun. Saat ia berhasil membuka lebar jendela itu, angin dingin musim gugur tiba-tiba saja berhembus dan menerbangkan daun-daun pohon maple yang gugur di atas tanah.

Lalu tanpa aba-aba, Chanyeol telah melepaskan genggamannya dan melompat ke permukaan tanah dengan mulus.Jika dilihat, aksi Chanyeol tadi terlihat seperti adegan di sebuah film action.Dia terlihat seperti sudah terlatih.

Setelah menegakkan kembali tubunya, Chanyeol pun memberikan isyarat untuk Heesun untuk segera melompat.Ia telah mempersiapkan dirinya untuk menangkap Heesun sesuai janjinya. Ia menepuk sekilas kedua telapak tangannya sebagai isyarat.

Namun, kembali terlihat ketakutan di wajah gadis itu.Ia terlihat ragu untuk memulai, ia bahkan bingung bagaimana cara melompat di tempat tinggi seperti ini, dan lagi ia sudah mulai merasakan kakinya yang bergemetar saat dirinya menatap permukaan tanah yang jauh dibawah.

Lalu Heesun menatap kembali namja itu yang telah berada di bawah. Untuk ke sekian kalinya, ia kembali terkunci di dalam bola mata namja itu yang selalu memberikan semangat untuknya. Namja itu menganggukkan kepalanya dan ia telah membersiapkan kedua tangannya dalam posisi siap untuk menangkap dirinya.

“Heesun-ah!” teriak Chanyeol di bawah sana. “percaya padaku!”

Dan disaat itulah Heesun telah berhasil mengumpulkan kembali semangatnya, ia akan berhasil selamat. Sedetik kemudian, ia pun menutup matanya dan melompat.

Aku percaya padamu, Yeol

Brug

Biasanya, saat musim gugur telah berada di penghujung, daun-daun coklat yang kering akan berjatuhan dan menumpuk menutupi seluruh permukaan tanah. Disanalah mereka berbaring.Chanyeol berhasil menangkap Heesun dengan kedua tangannya, namun kerasnya dorongan membuat namja itu kehilangan keseimbangan dan justru terjatuh ke belakang dengan posisi terbaring di atas tanah.Sementara itu, Heesun jatuh mulus di atas tubuh Chanyeol.

Untuk sekian detik, mereka terlihat mengambil nafas setelah keberhasilan mereka.Chanyeol bahkan menutup matanya dan tersenyum bersamaan dengan mulutnya yang ikut mengambil nafas. Namun ia merasakan sesuatu yang janggal ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara isakan yang ditimbulkan gadis itu.

Heesun, ia menyadari bahwa dirinya berhasil. Namun ia telah tak bisa menahan kembali tangisnya. Reflex tangis itu keluar sendirinya tanpa perizinanya. Ia bahkan belum sepenuhnya sadar bahwa ia menangis bukan di tempat yang tepat. Ia masih berada diatas tubuh Chanyeol.

“kau menangis?” Tanya Chanyeol lembut.

“….” Heesun tidak menjawab. Gadis itu bergerak berusaha menghapus air matanya. Di saat yang bersamaan, akhirnya kesadaran sepenuhnya kembali kepada Heesun di mana posisinya itu sedikit..

Ia segera mengangkat tubuhnya kembali dan berusaha menyingkir. Namun tiba-tiba saja Chanyeol menariknya dan memeluknya kembali di posisi semula. Disana, Heesun membelalakkan matanya dan lagi-lagi ia kehilangan daya nafasnya. Jantungnya itu tiba-tiba saja berdegup kencang.Bahkan ini lebih keras dibandingkan tadi. Disamping itu, otaknya kini justru terpenuhi oleh pertanyaan yang sama.

Apa yang dia lakukan?

 

Namun perlahan, ia akhirnya menyadari betapa nyamannya posisi itu. Entahlah, ia tak tahu apa penyebabnya.

Tetapi tetap saja ini merupakan hal yang salah.

“Yeol!, apa yang kau lakukan?” ucap Heesun sambil mencoba melepaskan diri. Sayangnya pelukan itu ternyata kuat sekali.

“tak bisakah kita tetap dalam posisi ini? sebentar saja…” Chanyeol menatap langit diatasnya.Ia masih berbicara dengan nada yang lembut. Sama seperti tadi.

“Aku mohon.. Heesun”

 

 

TBC

 

 

Mohon maaf atas lamanya pengupdate-an. Jiacesuji lagi dalam masa kesibukan yang luar biasah, T.T

Suji Cuma mau ngasih tau kalau sejujurnya cerita sesungguhnya itu di mulai dari chapter ini.jadi setelah ini bakal ada adegan-adegan yang (semoga) bikin emosi kalian naik turun. So, di tunggu ya.  Dan yang minta buat chapter ini dipanjangin, sudah suji kabulkan lho ya! Aku harap kalian masih membuka hati untuk memaafkan segala ke typo-an yang ada di dalam chapter ini.

Terimakasih atas segala dukungannya :3

Jangan jadi pembaca yang pura-pura bisu ya, suji sangat butuh C&L dari kalian ^-^v

 

 

 

 

 

Iklan

22 pemikiran pada “The Dusk ‘Before The Night’ (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s