Love Guarantee (Chapter 6)

love guaranteee

Love Guarantee (Chapter 6)

Author : RahmTalks

Genre  : Romance, Friendship, Hurt / Comfort, Sad

Length : Chapter // Rating  : PG-15

Casts : Choi Nayoung (OC) , Byun Baekhyun, Do Kyungsoo

===

—CHAPTER 6—

Buru-buru ia menepis pikiran yang membuatnya dirundung gelisah dan berada dalam dilema. Ia memutuskan untuk beralih dari buku harian dan berpindah pada album foto. Dalam kardus itu terdapat dua album foto yang masing-masing berwarna merah dan biru.

Ia memulai dari yang berwarna merah. Dalam album itu berisi foto-foto antara dirinya

dengan keluarganya. Rekreasi di pantai, berkebun, bersepeda, bahkan ada juga fotonya yang tengah tertidur di dalam mobil. Hidupnya yang dulu amatlah sempurna, begitu pikirnya. Secara perlahan, air mata menetes dari bola mata dengan iris berwarna hitam miliknya. Ia tak ingin menangis namun emosinya mendorongnya untuk menangis, bukan kesempurnaan hidupnya yang dulu yang ia tangisi, bukan juga kepergian orang tuanya, melainkan ia menangisi dirinya sendiri.

Padahal ia tahu bahwa gadis itu adalah dirinya, namun ia seolah sedang melihat album foto milik orang lain. Ia tak mengenal siapa dirinya, bagaimana sifat dan sikapnya, serta bagaimana kepribadiannya.

Ia rebahkan dirinya tepat di antara barang-barang penuh kenangan itu. Melamun. Itulah yang ia lakukan sekarang. Ia tak menyangka bahwa begini rasanya ketika ia tahu semuanya. Menyakitkan. Separuh dari dirinya seolah pergi dan separuhnya lagi tengah terombang-ambing di tengah dunia asing. Hal ini secara perlahan maupun pasti bisa mematikan dirinya sendiri. Membuatnya lemah, tak berdaya.

Kepalanya pening, matanya berat. Ia beringsut ke bawah selimut untuk menutupi dirinya yang tengah terpecah belah hingga ia tertidur.

Deringan ponsel di meja samping tempat tidur membuat Nayoung secara perlahan bangkit dari alam mimpinya. Diperhatikan layar ponsel yang masih buram itu sambil mengerjap-ngerjapkan mata, memfokuskan matanya. Nomor tak dikenal.

Klik. Ia tekan tombol merah dan memejamkan mata lagi. Namun tidurnya tak bisa tenang karena baru beberapa menit nomor tak dikenal itu menelponnya lagi, dan ia abaikan lagi. Untuk yang ketiga kalinya ponsel itu berdering, dan akhirnya ia terima panggilan itu.

“Yeobseyo?” katanya malas.

“Yeobseyo, Nayoung-ssi?”

“Ne. Aku sendiri. Kau siapa?”

“Ini aku Baekhyun.” Matanya langsung membulat.

“A.. Ada apa?” Jawabnya pelan.

“Apa besok kau ada acara?”

“Eum… Kurasa tidak. Ada apa?”

“Bagaimana jika besok pagi kita pergi ke suatu tempat? Apa kau mau?”

“Aku akan sangat senang, tapi… Pagi? Apa kau tidak masuk kuliah?”

“Kebetulan aku masuk siang. Bagaimana?”

“Eum… Baiklah. Aku mau.”

“Gomawo…” Baeknyun menggantungkan kalimatnya sambil menahan nafas, “Eunji-ya.” Kemudian Baekhyun menutup telfonnya.

Nayoung tak bergerak bahkan bernafaspun ia tahan saat mendengar ucapan terakhir Baekhyun. Ia merasa familiar dengan kalimat itu. Kalimat itu sangat sering ia dengar dan seolah telah menjadi candu yang harus ia dengar tiap harinya.

Otaknya merespon lebih lanjut tentang informasi itu dan saat itulah sistem saraf pusatnya memerintahkannya untuk menutup mata. Ia kembali diperdengarkan suara seorang anak laki-laki yang hanya memanggil nama ‘Eunji’. Anak itu semakin mendekat dan mendekat. Bukan. Ia bukan seorang anak kecil, melainkan seorang laki-laki yang umurnya terpaut beberapa tahun di bawahnya. Pandangannya ia fokuskan karena ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan dimana ia bisa melihat wajah orang yang sejak kemarin mengganggunya di dalam alam ilusi.

Semakin mendekat dan mendekat. Itulah dia, dapat dilihat dengan jelas dengan indra penglihatan Nayoung bahwa itu adalah Baekhyun beberapa tahun yang lalu. Ia yakin itu Baekhyun. Mata sipitnya, senyumannya, kehangatan sorot matanya. Semua milik Baekhyun. Hanya saja lelaki itu lebih pendek dan pipinya lebih chubby.

Tubunya tersentak dan ia membuka matanya. Mengapa ia dapat melihat sosok Baekhyun beberapa tahun yang lalu sedangkan dirinya sendiri saja ia tak tahu bagaimana wujudnya.

Ia benar-benar tak tahu maksud dari bayangan itu. Apakah ia sudah mulai bisa mengingat masa lalunya? Namun, mengapa harus Baekhyun yang ia lihat pertama kali? Ia berusaha menutup mata lagi dan memutar otaknya. Mencoba apakah ia bisa mengingat yang lain selain namja itu. Namun sia-sia. Bayangan semacam itu hanya datang di saat yang tak bisa ia tentukan. Ia tak menyerah dan terus mencoba, namun itu hanya membuat kepalanya terasa makin berat.

“Apakah aku sudah gila?” Gumamnya.

Matanya tak bisa tertutup lagi setelahnya karena sesuatu membebani pikirannya. Serta ada pertanyaan besar yang belum terjawab. Sebegitu pentingnya kah Baekhyun bagi dirinya sehingga yang ia lihat pertama kali di memorinya adalah Baekhyun?

Lagi. Air matanya turun lagi. Ia benci menangis, namun kejadian yang berlangsung secara serentak dan tiba-tiba ini benar-benar telah merubahnya menjadi gadis yang cengeng dan rapuh.

Ia merasa bersalah dan kasihan terhadap Baekhyun, yang seolah sedang berusaha mendapatkan cintanya kembali setelah menderita sekian lama. Padahal sebenarnya telah ia dapatkan –terbukti dari bayangan yang didapat Nayoung, yang menandakan bahwa Baekhyun adalah orang paling spesial di hidupnya yang sampai saat ini masih ada. Masalahnya adalah, sosok Baekhyun memang sudah terekam jelas di otak dan terpatri di hati Nayoung. Akan tetapi cintanya pada Baekhyun seolah telah pupus dan digantikan oleh asap yang terbang mengudara. Hilang tak bersisa.

===

Esoknya Baekhyun tiba di rumah Kyungsoo pagi-pagi sekali. Ia mengenakan kemeja biru kotak-kotak, celana jeans, dan sepatu converse putihnya. Kyungsoo sudah bisa menebak alasan Baekhyun datang ke rumahnya.

“Apa kau mau? Duduklah.” Kyungsoo menawarkan roti tawar di atas meja pada Baekhyun.

“Tidak usah. Aku sudah sarapan. Apa dia sudah siap?”

“Molla, mungkin masih tidur, atau mandi, atau… Aku tak tahu. Mau kau ajak kemana hari ini?”

“Rahasia.” Baekhyun tersenyum jahil.

“Wah.. Rupanya kau bertindak lebih cepat dari apa yang kupikirkan. Memang tidak sulit bagi seorang Byun Baekhyun untuk menarik hati seorang wanita.” Ejek Kyungsoo. “Lalu Sujin bagaimana?”

“Sujin? Aku bahkan sudah lupa tentang dia. Haha. Baik akan kupikirkan nanti.” Baekhyun mengambil satu apel yang ada di atas meja dan menggigitnya. “Apa kau mau dengannya?” Lanjut Baekhyun. Lihatlah, dalam hitungan detik ia sudah mempunyai ide-ide yang terkadang agak keterlaluan.

“Aku? Dia? Jangan bercanda. Mana mungkin aku mau berpacaran dengan mantan pacarmu. Ck! Itu bukan style-ku.”

“Pantas saja kau belum pernah memperkenalkanku dengan pacarmu. Rupanya kau memang belum pernah mempunyai kekasih. Ck! Kau menyia-nyiakan masa mudamu Tuan.” Ucap Baekhyun bangga.

“Sudah berapa yeoja yang kau jadikan kekasih? Huh? Dasar! Rupanya kau bukan tipe orang yang setia. Haha. Dan lagi, aku sudah pernah mempunyai kekasih.”

Baekhyun menghela nafas, tidak mau kalah. “Aku tidak pernah menjadikan mereka kekasih. Mereka saja yang terus mengikutiku. Lagipula aku masih setia dengan satu orang.”

Tepat setelah itu Nayoung keluar. “Maaf lama.” Baekhyun menatap Nayoung dari atas hingga bawah. Ia terlihat sempurna dengan sweater orange itu. Kyungsoo tersenyum jahil dan menjentikkan jari tepat di depan mata Baekhyun dan mencubit pipinya –menyadarkan pemuda itu.

“Ah. Kajja berangkat sekarang.” Baekhyun beranjak dari kursi mengabaikan tawa Kyungsoo yang terdengar sampai ke seisi rumah.

“Aku pergi dulu.” Pamit Nayoung sambil tersenyum pada Kyungsoo.

“Ne. Kalian berdua hati-hatilah.” Jawabnya setelah berhenti tertawa.

Baekhyun tak sengaja memperhatikan keduanya dalam diam, dan sorot matanya kini berubah menjadi sedih. Ia melihat dengan jelas bagaimana cara Nayoung menatap Kyungsoo. Tatapan itulah yang Nayoung gunakan untuk menatap Baekhyun beberapa tahun yang lalu. Tatapan yang masih terus ia ingat seolah menjadi tatto di dalam ingatannya. Dan kini tatapan itu ia gunakan juga pada Kyungsoo. Perasaannya sakit, hanya ia yang boleh mendapat tatapan itu darinya, tidak yang lain bahkan sahabatnya sekalipun.

“Yuuhu~~ Kyungsoo…” Panggil Baekhyun ketika sampai di depan pintu dan saat Kyungsoo menoleh, saat itulah Baekhyun melempar sisa apel ke arahnya.

“Hei! Kau mengotori rumahku!”

“Aku tak menyangka kau akan datang sepagi ini.” Ucap Nayoung ketika mereka sudah di mobil.

“Ini terlalu pagi untukmu? Tidak kan?”

“Tidak. Hanya saja… Mau kemana kita sepagi ini?”

“Kau akan tahu nanti.”

Selama perjalanan Nayoung bersikap semanis mungkin. Tak ada lagi Nayoung yang kikuk, yang pemalu, dan yang tanpa ekspresi di depan Baekhyun. Ia menanggapi lelucon Baekhyun, tertawa bersama, bercerita, apapun ia lakukan untuk meresponnya. Itu ia lakukan juga bukan tanpa alasan. Ia ingin jatuh cinta padanya, membalas perasaan pemuda yang masih setia mencintainya.

Mobil Baekhyun bergerak perlahan memasuki gerbang Rumah Sakit.

“Untuk apa kita kesini? Menjenguk seseorang, eoh?”

“Ani. Kita membutuhkan seorang terapis untukmu.” Ucap Baekhyun hati-hati. “Kau tidak keberatan kan?” Mobilnya berhenti di tempat parkir.

Nayoung menggeser tubuhnya dan menghadap Baekhyun. “Kau ingin membuktikan bahwa aku Eunji atau tidak? Iya kan? Baekhyun, aku memang Eunji. Aku pernah mengalami kecelakaan dan aku lupa ingatan karenanya. Juga… aku sudah tau semuanya melalui barang-barang itu. Jadi, jadi kau tidak perlu melakukan ini semua.” Baekhyun hanya diam menatap ke depan. Tembok di depan mobilnya jauh lebih enak untuk dipandang. Ia bingung, ia merasa harus melakukan ini.

“Jadi akhirnya kau sadar. Bagaimana perasaanmu… Eunji?” Gumam Baekhyun.

“Aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi.”

“Selebihnya?” Katanya lirih penuh harap.

“Aku…” Nayoung menggantungkan kalimatnya untuk beberapa detik. “Tidak tahu.”

Merasa sakit. Itulah yang Baekhyun alami. Ia sudah menduga sejak awal, jika memang Nayoung adalah Eunji dan ia telah tahu kenyataan yang sebenarnya. Mendapat kembali cintanya yang dulu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Nayoung meremas pakaiannya. Kalimatnya yang barusan memang amat menyakitkan untuk didengar, apalagi diucapkan di depan Baekhyun.

Baekhyun menoleh pada Nayoung dan tangannya bergerak secara perlahan menuju kepala gadisnya. Mengusapnya dengan lembut dan berakhir di pipinya.

“Aku sudah lama menanti kesempatan ini datang lagi.” Mata mereka bertemu cukup lama. “Apa kau tau seberapa lama aku menunggu dan bagaimana penderitaanku selama ini?” Baekhyun menatap dengan sendu.

Lidah Nayoung kelu, bahkan mengucapkan kata ‘Mianhae’ seribu kalipun tak akan bisa menebus rasa sakit Baekhyun. Pada dirinya seolah hanya ada dua organ yang bekerja. Bahkan otaknya juga ikut berhenti bekerja hanya untuk sekedar memerintah lidah untuk mengeluarkan kata. Kedua organ itu adalah jantungnya yang tak berhenti menggila karena merasa takut, serta kedua bola matanya yang mengikuti kemana ekor mata Baekhyun bergerak.

“Namun aku akan tetap menunggumu.” Ungkap Baekhyun diiringi senyum yang sangat manis.

“Gomawo.” Bisik Nayoung.

Baekhyun menurunkan tangannya tanpa melepas kontak mata dengan Nayoung. Sementara Nayoung amat gugup harus melakukan ini. Namun ia harus melakukannya karena menurut majalah yang ia baca, cinta juga bisa tumbuh hanya dari tatapan mata.

“Jadi kita kesini untuk memeriksa keadaan kepalamu. Mungkin dulu kau mengalami benturan yang amat keras atau apa. Mudah-mudahan tidak terlalu parah dan kuharap itu bisa disembuhkan. Bukankah kau juga ingin sembuh?” Perkataan Baekhyun terdengar cemerlang. Bahkan Nayoung tak pernah berfikir pergi ke paramedis untuk membantunya keluar dari masalah.

Setelah menunggu agak lama akhirnya mereka mendapat kesempatan untuk bertemu Dokter Yoo, seseorang yang akan menjadi terapis Nayoung. Setelah memeriksa keadaan Nayoung, Dokter Yoo mulai membuat analisa.

“Katakan saja semuanya padaku, ne? Percayalah padaku dan jangan memendam sesuatu yang mengganggumu karena ini juga demi kesembuhanmu.”

“Baik uisa-nim.”

“Apa setelah kecelakaan itu kau mengalami koma?”

“Orang tua angkatku bilang aku tak sadar selama dua minggu.”

“Dan apa yang kau rasakan?”

“Aku tak bisa mendeskripsikannya. Aku seperti berada di suatu tempat yang kusebut dunia dan aku tak tahu sedang apa aku disana dan mengapa.”

“Apa yang kau lakukan setelah itu? Apakah kau marah, stress, atau.. Bagaimana? Dan apa yang kau rasakan terhadap tubuhmu?”

“Tubuhku? Aku hanya merasakan sakit di punggung selama seminggu dan setelah itu berangsur-angsur pulih. Awalnya aku tak mau melakukan apapun selama tiga hari. Namun keluarga itu sangat baik dalam berinteraksi, dan mereka juga sangat sabar merawatku. Aku seolah menaruh kepercayaanku begitu saja pada mereka, jadi aku menuruti saja apa yang mereka katakan.”

“Mereka tidak pernah membawamu ke dokter?”

“Mungkin pernah saat aku tak sadar. Hari pertama juga ada yang memeriksa dan menanyakan hal-hal yang tidak kumengerti. Setelah itu dokter hanya melakukan pengobatan untuk punggung kaki, dan tanganku.”

“Hmm.” Dokter Yoo mulai menuliskan sesuatu si kertas yang ia siapkan. Nayoung menanti dengan perasaan cemas. Kemudian Dokter Yoo mengalihkan pandangannya menatap Nayoung, menandakan bahwa ia sudah dapat mengetahui hasilnya.

“Jadi Nayoung-ssi, kecelakaan yang menimpamu dua tahun yang lalu tidak memberikan dampak yang besar bagi kondisi fisikmu. Tak ada organ yang rusak maupun terluka dan kondisi otakmu juga baik. Kau hanya mengalami shock yang berlebih. Sangat besar hingga mempengaruhi kinerja otakmu dan menyebabkan otakmu kehilangan data yang telah kau terima sebelumnya. Atau lebih sering dikenal dengan penyakit Retrograde Amnesia.”

“Ne. Aku tahu itu sejak setahun yang lalu setelah mereka bercerita. Namun aku masih tak bisa mengingat apapun setelahnya dan lagipula tak ada anggota keluarga yang mencariku.”

“Hm… Dengan seiring berjalannya waktu mungkin kau bisa sembuh karena tak ada kerusakan berat pada sistem saraf pusatmu. Kenapa kau baru kesini sekarang?”

“Aku sudah menyerah karena selama dua tahun itu tak ada tanda-tanda bahwa aku akan mendapat ingatanku kembali. Namun beberapa hari ini aku mengalami hal aneh.”

“Ceritakanlah…” Dokter Yoo meraih kertas dan bolpoinnya lagi.

“Ketika pertama kali aku mendengar nama Eunji yang sebenarnya adalah namaku, aku mendengar seorang bocah lelaki terus memanggil nama itu. Aku tak dapat melihat wujudnya namun aku mendengar suaranya, seolah dia berada di sebelahku.”

“Lalu?” Dokter Yoo serius menyimak.

“Dan kemudian yang kedua, saat aku membaca buku harianku yang dulu aku mendengar suara bocah itu lagi namun kini aku bisa melihat wujudnya. Meskipun wajahnya masih kurang jelas.”

“Lanjutkan. Kasusmu ini sangat menarik Nayoung-ssi.”

“Yang terakhir semalam, aku mendengar suara itu lagi dan setelah aku berkonsentrasi akhirnya aku dapat melihat wajahnya, dia adalah Baekhyun beberapa tahun yang lalu.” Nayoung mengakhiri ceritanya.

“Siapa Baekhyun?”

“Dia kekasihku sebelum kecelakaan. Dan kini hanya ia yang masih menemaniku karena rupanya orang tuaku meninggal saat kecelakaan itu.”

“Kau mengetahui jawabannya hanya dalam waktu sesingkat ini. Itu merupakan perkembangan yang amat drastis. Kurasa akan mudah bagimu untuk mendapatkan kembali seluruh memorimu. Apalagi jika kau selalu berada di dekat pemuda itu. Dia adalah kunci untuk membuat ingatanmu kembali secara sempurna.”

“Tapi aku tak selalu mendapat bayangan seperti itu saat bersamanya.”

“Memang, namun kau bisa dengan mudah mendapatkannya jika kau mengulangi apa yang kau lakukan dulu. Ini akan mudah apalagi kau rajin menulis buku harian.”

“Mengulang? Tentu aku tak bisa.”

“Cerna kalimatku baik-baik, mengulangi di sini bukan berarti kau harus melakukan hal yang sama persis. Ini, beberapa obat yang mungkin bisa mempercepat proses penyembuhanmu.”

“Tapi uisa, aku masih tak mengerti apa maksud anda dengan ‘mengulang’?”

“Carilah jawabannya sendiri. Makin sering kau menghabiskan waktu dengan pemuda itu maka makin cepat kau tahu jawabannya. Mianhae, aku ada pasien.” Dokter Yoo mulai merapikan barang-barangnya sementara Nayoung duduk termenung.

“Oh iya, jangan memaksa dirimu untuk mengingat yang belum mampu kau ingat. Ingatan itu akan datang dengan sendirinya tanpa kau ketahui kapan waktunya, jadi kau tak perlu khawatir. Rajin-rajinlah pergi keluar rumah jika kau merasa penat dan bosan. Jika ada apa-apa hubungi aku.”

“Arasseo uisa-nim. Khamsahamnida.” Nayoung membungkuk dan keluar dari ruangan. Di luar ia mendapat sambutan dari Baekhyun.

“Eothokkae?”

“Uisa itu malah memberiku teka-teki.”

“Apa? Akan kubantu kau memecahkannya.”

“Itulah yang ia katakan, aku akan tahu jawabannya jika terus bersamamu.” Baekhyun diam, ia merasa amat senang mendengar penuturan Nayoung. Ia tersenyum namun ia berusaha menutupi senyumannya di depan Nayoung. Mana mungkin ia mau terlihat konyol di depan wanita yang ia cintai.

“Kau mendapat obat?” Nayoung mengangguk. Setelah itu mereka menuju bagian resepsionis.

“Baekhyun…” Nayoung memanggil dengan amat pelan, Baekhyun yang fokus pada kemudinya menoleh.

“Bagaimana jika nantinya aku tidak mendapat semua ingatanku. Apakah kau akan memaafkanku yang tak bisa mengingat sejarah kita?”

“Kau tak perlu merasa bersalah atas semua yang terjadi. Aku akan terus berada di sisimu, tak peduli meskipun kau berhasil mengingat semua kenangan, kecuali kenangan bersamaku.” Nayoung menahan nafas. Dapat ia rasakan bahwa cinta Baekhyun terhadapnya adalah murni dan tulus.

“Karena aku amat mencintaimu, Eunji.” Tangan kanan Baekhyun tiba-tiba menggenggam tangan kiri Nayoung. Sebuah kehangatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Saranghae, Eunji-ya.” Perkataan Baekhyun begitu manis untuk didengar. Di saat seperti ini harusnya dengan lantang ia menjawab ‘Nado’ namun hatinya berkehendak lain. Ia hanya bungkam sambil menunduk. Ini belum saatnya.

Ia kembali melihat tangannya yang masih digenggam oleh Baekhyun. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukannya tadi Baekhyun memakai kemeja namun sekarang telah berganti menjadi kaos merah berlengan panjang. Ia kaget begitu mendapati ia tidak sedang berada di dalam mobil melainkan di sebuah bangku, di bawah pohon mapple dekat lapangan.

Ia menoleh dan melihat Baekhyun dengan potongan rambut yang tak jauh berbeda serta wajah yang sedikit lebih bulat dari sekarang. Ia mendapati sesuatu yang aneh dalam diri Baekhyun, yang bisa ia rasakan melalui gelagatnya. Dahinya berkeringat namun nafasnya tidak tersengal-sengal –berarti ia tidak habis berolahraga-. Pandangan Baekhyun diedarkan ke segala arah hingga akhirnya hanya menatap ke depan.

“Ehem.”

“Ah, maaf.” Baekhyun segera melepaskan genggaman tangannya dan ekspresi wajahnya menjadi panik. Tak ada satupun diantara mereka yang mulai berbicara hingga tiba-tiba Baekhyun menoleh sehingga gadis di sampingnya ikut menoleh.

“Eunji-ya… Saranghae. Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

Eunji menutup mulutnya saking tidak percaya apa yang barusan Baekhyun nyatakan. Baekhyun setengah mati memberanikan diri menatap Eunji dengan muka penuh rasa khawatir dan penuh harap.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan bersiap menanyakan hal yang sama karena tak kunjung mendapat respon. Sementara Eunji tak bisa berkata apa-apa, dia hanya tersenyum penuh haru dan akhirnya mengangguk.

“Jinjja?” Baekhyun tersenyum sangat lebar dan Eunji mengangguk malu-malu.

“Nado saranghae.” Bisik Eunji.

“Apa?”

“Saranghae.” Katanya masih pelan.

“Aku tak bisa mendengar apapun.” Baekhyun mendekatkan telinganya padanya.

“Nado saranghae, Byun Baekhyun!!” Eunji meletakkan kedua tangannya di samping mulutnya dan berteriak tepat di telinga Baekhyun. Baekhyun berdiri dan mengangkat tangannya ke atas. Ia berlari berputar-putar di depan Eunji tanpa melepas senyum lebarnya. Eunji hanya berdiri sambil mentertawai tingkah Baekhyun yang sangat lucu, menurutnya.

“Gomawo Eunji-ya… Jeongmal saranghae.” Secara refleks Baekhyun memeluk Eunji dan dapat Eunji rasakan detak jantung Baekhyun sangat cepat, seirama dengan detak jantungnya.

“Nayoung-ssi, kau mau kembali ke rumah Kyungsoo atau ke rumahmu?” Ucapan Baekhyun membuyarkan semua bayangan yang ia dapat. Lebih tepatnya memori yang ia dapat secara cuma-cuma. Dan kali ini adalah ketika Baekhyun pertama kali menyatakan cinta kepadanya.

“Ah… Em… Turunkan saja aku disini.” Jawabnya ragu.

“Kau yakin?” Baekhyun mengernyitkan alis.

“Aku ingin berjalan kaki. Kurasa aku butuh udara segar.” Baekhyun tak akan mau menuruti permintaan Nayoung jika saja ia tak menatap Baekhyun penuh harap. Menampakkan muka melas.

“Arasseo.” Baekhyun menepikan mobilnya dan meminta maaf tak bisa menemani Nayoung lebih lama karena ia harus ke universitas. Ia akan memberikan waktu yang lebih lama bagi Nayoung untuk beradaptasi.

===

Nayoung tiduran di atas ranjang dan memandangi langit-langit kamarnya. Ia begitu lelah seharian ini. Sepeninggal Baekhyun ia hanya terus berjalan tak tahu kemana dan saat senja barulah ia pulang.

‘Mengulangi? Bagaimana caranya aku mengulangi?’

Ia bangun dan mulai melakukan hal yang memang harus ia lakukan. ‘Mungkin ada baiknya jika aku memulai dari ini.’ Batinnya.

Nayoung membuka album foto berwarna biru yang semalam belum sempat ia sentuh. Rupanya album itu menyimpan khusus foto dirinya dan Baekhyun.

Pasangan yang sangat cocok, manis, dan bahagia. Begitulah menurutnya. Kebanyakan foto mereka diambil dengan selca, menunjukkan seberapa dekatnya hubungan mereka. Pada setiap foto, di bawahnya disertai catatan pendek agar foto itu dapat menjadi sejarah yang bisa dikenang dan diceritakan kembali. Nayoung tak menyangka bahwa Eunji –atau dirinya- adalah orang yang sangat pintar dalam memilih kalimat agar foto terkesan lebih hidup.

Membutuhkan waktu 30 detik bahkan lebih baginya hanya untuk memandangi satu foto. Ia benar-benar memperhatikan detailnya. Foto-foto dimana ia dan Baekhyun sedang di teras rumah, di taman bermain, di trotoar, di pusat perbelanjaan, di pantai, di dalam rumah, bahkan di kamar Baekhyun. Ia tertawa saat melihat gambar dirinya yang sedang marah, namun Baekhyun yang usil malah mengambil gambarnya. Ada juga gambar saat ia tertawa lebar, saat melamun, saat wajahnya terlihat bodoh, saat ia tidur, bahkan saat ia menangis.

Ia baru sadar bahwa tulisan di halaman yang kini ia buka berbeda dengan tulisan yang ada di halaman awal, jelas yang ini bukan tulisannya. Siapa lagi kalau bukan Baekhyun yang menambahkan. Tulisannya sangat lucu, agak berantakan tapi tetap bisa dibaca.

Dilihat lagi halaman selanjutnya dan hanya ada satu foto disana, yaitu foto Baekhyun yang sedang tidak sadar bahwa dirinya sedang difoto. Foto itu diambil dari arah samping Baekhyun dimana ia sedang berada di sebuah tempat yang tak Nayoung kenali. Selain itu juga tak ada keterangan apapun di bawahnya. Nayoung segera mengambil bolpoint dan menambahkan beberapa huruf disana.

‘Baekhyun, my special one. My ultimate love.’

===

To be Continued-

===

Mungkin juga udah pada lupa kalo ff ini pernah ada. Maaf yaa kalo lama sekali~~ Abisnya, mikir-mikir dulu yakin apa gak mau ngirim kesini soalnya… Aku mulai berfikir kalo cerita ini aneh huhuhu.

Buat yang sudah komen di chapter sebelumnya, makasih ya. Maaf, mungkin memang gaada yang aku bales tapi aku baca semua kok. Thanks for your support 😀

9 pemikiran pada “Love Guarantee (Chapter 6)

  1. authornim lanjutkan! Aku udah lama nungguin kelanjutan ff ini, kirain gk bakal di lanjutin… huhu.
    FF ini juga msuk dalam daftar ff favoritku yang aku tulis di buku harian, soalnya ide nya kreatif dan ringaan. HWAITING

  2. huwaa. .akhir na ne ff muncul lg . .dah lama bgt nunggu na loh thor . .waktu tau ne ff blum da kelnjutan na sdh bgt . alna ne ff masuk jajaran ff fav akhu thor . .ok . .d tnggu next na. .keep writing thor

  3. aiishhh akhirnya ni ff nongol juga.. 😀
    eciyeee ada yang jadian nih crita nya..ckck #cocok lah thor baek ama eunji…
    eh gmna kisah asmara si kyungsoo thor, sya mau nya di chapt slnjut nya yah.. hihii maksa..

    ditunggu thor chapt slnjut nya, jangan lama.lama yooo.. 😀 hwaiting.. 😉

  4. Wahhh, kereeenn thor u,u ditunggu lanjutnya ya thor u,u kalo bisa agak cepet thor, gasabar u,u kyungsoo ama kyuranya gimana u,u daebak! ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s