Baby, don’t cry (chapter 2)

Baby, don’t cry (chapter 2)

 

Judul       : Baby, don’t cry [Chapter 2]

Author : arlotiefe53 (@dhindha53)

Main Cast        :

–          Lee Ji-eun / IU as Goo Ah Rin

–          Zhang Yixing(EXO) as Lay

Support Cast :

–          Xi Luhan (EXO) as Luhan

–          Oh Se Hun as Sehun

–          Goo Ae Rin (OC) as Ah Rin’s little sister

Other Cast       : EXO member

Genre        : Romance , Sad, Tragedy

Lenght      : Chapter/Series

Rating      : PG+15

Summary      : Masa lalu mungkin hanyalah mitos, tapi tidak untuk Lay. ia masih menyimpan sebuah teka-teki dari orang yang dicintainya. tapi siapa sangka, masa lalu itu datang lagi. mengusik kehidupannya lagi, apakah ini hanya kebetulan?

 

(FF ini juga di publish di blog pribadi s9gff.wordpress.com)

apabila ada kesamaan kata, tempat, tokoh, maupun jalan cerita saya selaku author meminta maaf, tapi FF ini murni apa adanya, apa yang ada di otak saya maksudnya.

 

.Happy Reading and Don’t be a plagiator.

.PLAGIAT HARAM HUKUMNYA.

 

 

 

Dokter Goo dan Sehun tercengang mendengar penuturan Nyonya Oh yang tidak lain adalah ibu Sehun. Nyonya Oh menceritakan kejadian sebenarnya. Sejak kelahiran dua orang yang kini tengah mereka bicarakan sampai tragedi pemisahan mereka.

 

“Ibu mereka memintaku melakukan ini. Kalian tahu bahwa ayah mereka bukan orang sembarang di negeri ini. Ia adalah pewaris tunggal kekayaan keluarga Goo. Kau tahu itu Jong Suk, bahkan demi bertukar posisi denganmu yang bersikeras menempuh pendidikan dokter, Jong Min rela mewarisi kekayaan keluarga dan mengambil risiko ini.”

 

Dokter Goo diam. Benar apa kata kakak iparnya ini, ini tentang masalah klasik itu.

 

“Ibunya memintaku memisahkan mereka karena ia khawatir.Para pembenci ayah mereka mungkin saja berbuat nekat untuk melukai atau bahkan mungkin membunuh mereka. Oleh karena itu, aku berusaha mencari cara untuk menutupi berita kelahiran mereka dan berusaha menyembunyikan mereka sebisa mungkin.”

 

“Tapi, ini semua bukan sepenuhnya rencana. Ini kecelakaan. Bayi yang satu kutitipkan di panti asuhan, tapi kemudian ada seseorang yang menculiknya, begitu yang dikatakan pemilik panti itu,”

 

Sehun dan Dokter Goo menyimak dengan seksama. Memperhatikan sejarah rumit yang sekarang mereka dengar.

 

“Tapi sepertinya tidak serumit itu. Aku menunggu kejutannya.” ujar Dokter Goo.

 

“Tidak rumit apanya? Baru mendengar cerita eomma saja, aku sudah bingung,” celetuk Sehun.

 

“Mereka memiliki dua buah kalung yang mirip. Dan di lingkaran cincin itu ada inisial kedua nama mereka. Ah Rin dan satunya lagi harusnya bernama Ah Ra.”

 

“Dan sampai sekarang, aku belum tahu kabar anak itu. Anak kembar yang hilang itu, kembaran Ah Rin.” ujar Nyonya Oh mengakhiri penjelasannya.

 

“Dan bisa dipastikan bahwa pasien bernama Ji-eun waktu itu dengan kecelakaan waktu ituadalah….kembaran Ah Rin noona,” Sehun menyimpulkan. “Ini kejutan besar. Mustahil,” Sehun memegangi kepalanya.

 

Dokter Goo hanya tersenyum simpul. Pikirannya benar.

 

“Permisi,” ujar seseorang yang tadi mengetuk pintu ruangan Dokter Goo.

 

“Masuklah,” perintah Dokter Goo.

 

Seorang wanita berpakaian serba putih lengkap dengan stetoskop di saku kirinya masuk membawa sebuah map berwarna biru. “Ini berkas yang anda minta, Dok.”

 

Suster menyerahkan map itu. Dokter Goo diam sebentar, melihat sekilas, membuka lembar satu lembar kedua. “Baik, terimakasih, anda boleh kembali bekerja, Suster Jo,”

 

Suster yang dipanggil Suster Jo ini menganggukkan kepalanya dan kemudian menghilang di balik pintu.

 

“Ini berkas pasien bernama Ji-eun dan Ah Rin. Lihat saja hasil visum keduanya. Mirip. Bahkan jikalau mereka tidak kembar, hasil ini mustahil identik.”

 

Sehun mengambil berkas itu lebih dulu. Ia teliti satu persatu tulisan yang tertera di dalam lembaran tersebut. Lembar keempat selesai ia baca. Sehun beringsut di kursinya. “Mereka kembar. Bisa kupastikan mereka kembar. Dimana wanita bernama Ji-eun itu tinggal? Cepat beritahu aku!”

 

“Ia menghilang,” jawab Dokter Goo.

 

“Mwo?! Bagaimana bisa?” Sehun kaget mendengar jawaban Dokter Goo.

 

“Ia dikabarkan menghilang setelah kecelakaan itu. Ada yang mengira ia meninggal, tapi rumah sakit tidak pernah menerima jasadnya. Hanya berkas mengenai data pasien bernama Ji-eun saja yang ada sesaat setelah kecelakaan.” Jelas Dokter Goo. “Sehari kemudian ia menghilang, mungkin dibawa pulang oleh saudaranya.” sambung Dokter Goo lagi.

 

“Apa ada alamat keluarganya?” Sehun bertanya lagi.

 

“Coba saja lihat di berkas itu, siapa tahu ada yang mencantumkan alamatnya,” saran Dokter Goo.

 

Sehun membuka lembaran itu lagi. Meneliti identitas yang tertera.

 

“Apakah ini berarti tempat tinggalnya?” Sehun memperlihatkan sesuatu pada dokter.

 

“Ya, itu bisa jadi alamatnya,” Dokter Goo memastikan.

 

“Baik, aku akan kesana sekarang. Eomma, terima kasih untuk kejujuran eomma, aku yakin, aku bisa menemukan Ah Ra noona itu, percaya padaku eomma,” janji Sehun.

 

Ibunya mengangguk, senyum mengembang di pipinya, lalu Sehun bergegas pergi. “Jika ada yang bertanya mengenai keberadaanku, katakan saja aku berada di Busan. Aku pergi,” Sehun pamit pada ibu dan pamannya. Ia membuka pintu ruangan dan segera menghilang dari balik pintu.

 

“Anakmu begitu peduli. Untung sifat itu menurun darimu,” puji Dokter Goo.

 

“Sudahlah Jong Suk, setiap manusia membawa sifatnya masing-masing. Aku percaya padanya.” Nyonya Oh merendah.

 

“Semoga keluarga Jong Min hyung yang tersisa bisa utuh kembali. Ah Rin, Aerin dan tentu saja kembaran yang hilang itu, Ah Ra.” ujar Dokter Goo.

 

“Semoga saja. Semoga Sehun benar-benar bisa menemukannya dan juga wanita bernama Ji-eun hanya menghilang, bukan mati.” Nyonya Oh berharap hal yang sama, mengingat ini juga kekeliruannya di masa lampau hingga dua orang bersaudara itu terpisah.

 

***

 

 

 

“Lay, boleh aku bicara sebentar?” tanya Luhan seketika melihat Lay di koridor.

 

“Ada apa? kenapa hyung? Ada yang salah?” jawab Lay yang seperti mengiyakan pertanyaan yang akan muncul dari mulut Luhan.

 

“Ikut aku sebentar.” ajak Luhan.

 

Lay menurut dengan ajakan Luhan. Mereka mengendarai mobil Luhan dengan Luhan sendiri yang memegang kemudi. Luhan mulai menginjakpedal gas dan mobilnya perlahan menuju ke tempat yang ia maksud.

 

Lay mengamati arah rute yang ditempuh Luhan. Pikirannya mengingat-ingat. Apa mungkin Luhan akan mengajaknya kesana.

 

“Kau mungkin tahu kita mau kemana,” ujar Luhan tergesa sambil menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Ia ngebut.

 

“Omong kosong. Kurasa aku tahu. Kenapa harus kesana? Bukankah penjelasanku waktu itu sudah cukup?!” Lay meninggikan nada suaranya.

 

“Panjelasanmu konyol dan kau tahu , aku butuh bukti. Tenanglah, kalau sampai hari ini tidak ada petunjuk. Aku akan menemui kunci utamanya. Aku tidak bisa seperti ini terus. Ini masalah hati kita masing-masing Lay,” jelas Luhan tanpa melepaskan pandangannya dari arah jalan.

 

“Kau gila?! Tidak bisakah kau menerima kenyataan bahwa Ji-eun sudah mati ha?!” bentak Lay.

 

Ckkitt..

 

Luhan mengerem mobilnya. Untung tidak ada kendaraan laindi belakangnya.

 

Luhan menatap Lay kali ini. “Sudah kubilang. Ini masalah hati. Akan kutuntaskan. Sudah cukup aku menderita selama tiga tahun atas ketidakpastian ini…”

 

“Tunggu! Apa yang kau bicarakan? Ketidakpastian apa?” tanya Lay memotong perkataan Luhan.

 

Luhan meminggirkan mobilnya.Bisa ia pastikan bahwa sekarang ia beradadi depan sebuah cafe.

 

“Kita bicarakan ini sebentar di dalam. Destinasi kita bukan disini.” ujar Luhan singkat dan turun dari mobilnya.

 

Lay menyusul dari belakang. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Mungkin ia menganggap Luhan sudah gila sekarang.

 

Luhan mengetuk-ngetuk meja tempat ia duduk beberapa saat yang lalu dengan Lay. Lay memperhatikan Luhan dengan seksama.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan? Apa ini ada hubungannya dengan AhRin?” tebak Lay mengawali pembicaraan.

 

Luhan memfokuskan pandangannya. Lay menebak pikirannya tepat.

 

“Ada apa dengan AhRin?” kali ini Lay melembutkan perkataannya seperti biasa.

 

“Ji-eun… dia.. sebenarnya belum meninggal waktu itu. Ia menghilang.” ujar Luhan.

 

Lay membulatkan matanya. “Apa yang kau katakan hyung? Tidak mungkin. Tunggu, jangan membuatku bingung. Sebenarnya,kau membicarakan Ah Rin atau Ji-eun?”

 

“Keduanya sedang kubicarakan. Mereka sebenarnya kembar. Aku menyelidikinya beberapa waktu belakangan ini.”

 

Lay mengerutkan dahinya. “Aku masih belum mengerti,”

 

Luhan membenarkan posisi duduknya. “Ah Rin dan Ji-eun adalah kembar. Ani, kuralat kata-kataku. Mereka bukan kembar, mereka… orang yang sama.”

 

“Maksud hyung?” Lay memperhatikan Luhan lebih.

 

“Aku masih belum yakin sebenarnya, tapi kecelakaan waktu itu dan wajah mereka yang bisa dibilang begitu mirip, itu sudah memberi cukup bukti. Aku melihat kecelakaan itu. Kalaupun Ji-eun yang meninggal waktu itu, bisa kupastikan ia tidak meninggal, tapi ia menghilang, lalu sekarang, ia kembali lagi, tetapi berganti nama menjadi Ah Rin,”

 

Lay meredakan sejenak pikirannya.”Kalau boleh aku bicara, Ah Rin dan Ji-eun bukan orang yang sama. Mereka berbeda,”ujarnya kemudian.

 

Luhan membulatkan matanya. “Mworago?”

 

“Ah Rin menceritakan semuanya kemarin. Ia bertemu denganku di Sungai Han. Ya, sama seperti kebiasaan Ji-eun. Ia sendirian, lalu kemudian kuajak ke kedai kopi milik Taeyeon noona. Ia menceritakan siapa dirinya disana. Lalusatu hal,” Lay menghentikan kata-katanya sebentar.

 

“Ia menyebut kata Ji-eun di dalam ceritanya. Ia menanyakan padaku, siapa Ji-eun yang sebenarnya, karena orang-orang di sekitarnya sering memanggilnya Ji-eun terutama jika ia pergi ke Sungai Han.”

 

“Ia memakai kalung yang mirip dengan milik Ji-eun, hanya saja inisialnya berbeda. Aku masih ragu, mereka kembar atau orang yang sama. Walaupun Ah Rin sudah mengatakan itu padaku kemarin, tapi aku tetap masih belum menerima penuturan Ah Rin. Ada yang janggal.” Lay mengakhiri penjelasannya.

 

Luhan memegangi kepalanya lagi, memijat pelipisnya sebentar. “Kurasa makin rumit. Dugaanku salah besar. Tapi jika mereka adalah orang yang berbeda, aku yakin tidak ada yang meninggal waktu itu.”

 

Lay meniru aktivitas yang sama, memijat pelipisnya, kemudian menyandarkan punggungnya. “Tapi boleh kutanya sesuatu padamu hyung?Kenapa kau sampai seperti ini?Kenapa kau begitu peduli padaJi-eun?”tanya Lay.

 

Luhan bergeming.

 

“Apa benar yang dikatakan Yoona padaku waktu itu, bahwa kau sebenarnya juga mencintai Ji-eun?”

 

Luhan membulatkan matanya. Ia tidak percaya jika Lay berpikiran seperti itu.

 

“Kau diam. Berarti aku benar.”

 

“Bukan begitu, Lay,” Luhan mengelak.

 

“Hyung, kenapa kau baru bilang sekarang. Kalau saja waktu itu kau ada, mungkin, Aku tidak pernah memiliki hubungan dengannya. Kau mungkin tidak akan pernah tahu masalah sebenarnya,”

 

Luhan memperhatikan Lay. Ini sebuah rahasia di balik rahasia?, pikirnya.

 

Lay menghela napasnya. “Aku dan Ji-eun sering bertemu di Sungai Han, kala itu ia sedang melukis disana. Ia gemar melukis pemandangan Sungai Han, oleh karena itu, aku sering mendapatinya sedang melukis jika aku kesana. Terakhir kali aku melihatnya melukis, itu adalah hari dimana aku juga kehilangannya. Kau tahu apa yang ia lukis hari itu?” Lay menghentikan kata-katanya.

 

Luhan menggeleng.

 

“Ia melukismu,” Lay menghela napas panjang lagi.

 

Luhan membulatkan matanya. “Apa katamu?Melukisku? Bahkan bertemu denganku saja, ia tidak pernah,”

 

“Ia bilang, ia pernah bertemu orang yang sama seperti yang ada di lukisannya waktu itu. Dan ia berkata bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan orang yang ia lukis karena ia benar-benar nyata.”

 

“Bahkan ia sudah melihatmu diangan-angannya, kau beruntung hyung, dicintai oleh orang seperti Ji-eun,”Lay menepuk pundak Luhan.

 

“Kau lebih beruntung lagi, setidaknya kau sempat memilikinya,” ujar Luhan.

 

“Alah hyung percayalah bahwa itu hanya sekedar status. Ini tidak seperti yang kau kira. Aku terpaksa, ah, tidak, ia terpaksa menerimaku hanya karena membantuku.”

 

“Maksudmu?” Luhan mengerutkan dahinya.

 

“Kau tahu, ini hanya sekedar status. Ia membantuku agar aku terbebas dari Yoona. Perempuan satu itu begitu menempel padaku, hingga suatu saat ia menemukanku sedang bersama Ji-eun di sungai Han. Dan akhirnya, skenario itu terjadi, Ji-eun kuminta berpura-pura menjadi kekasihku.”Jelas Lay.

 

“Kukira aku tahu semua cerita ini, ternyata aku salah besar.”ujar Luhan.

 

“Maksudmu hyung?” Lay bertanya untuk kesekian kalinya.

 

“Kupikir, hanya aku saja yang masih memendam masalah dibalik kematian Ji-eun, ternyata dugaanku hampir semuanya meleset. Ini lebih rumit dari yang kukira. Kupikir kau memang menganggap Ji-eun benar-benar mati waktu itu.” ujar Luhan.

 

“Memang benar. Aku memang menganggapnya mati waktu itu.”

 

“Jadi… kau sama sekali tidak menyangkal jika ia sudah mati?”

 

Lay menggeleng. “Aku pernah menyangkalnya, saat Ah Rin ke dorm waktu itu. Tapi aku sudah tahu penjelasannya kemarin, jadi kurasa saat ini, aku benar-benar menganggapnya sudah tiada.”

 

“Apa benar Ah Rin dan Ji-eun bukan orang yang sama?Kau sama sekali tidak mengarang, kan?” Tanya Luhan memastikan.

 

Lay mengangguk. “Sudah kubilang, kemarin Ah Rin mengatakan semuanya padaku.”

 

Luhan memegangi dadanya.”Tapi kenapa, rasanya disini berbeda. Aku masih belum percaya jika ia sudah meninggal,”

 

Lay ikut merasakan hal yang sama. Memang tidak bisa ia pungkiri, walaupun saat itu ia hanya berpura-pura, tapi di dalam hatinya, ia sudah jatuh cinta padaJi-eun sejak pertama kali bertemu. Ia berbohong mengenai perasaannya, sebab ia tahu, Ji-eun hanya mencintai satu orang, yakni orang yang ada dihadapannya saat ini, Luhan.

 

“Kurasa kita harus ke sumbernya. Saksi kunci kita,” Luhan mengambil pendapatnya lagi.

 

“Kita lihat saja,apakah ia juga tahu masalah Ji-eun atau tidak,tapi kurasa, orang ini tahu sesuatu.” Luhan mengambil kunci mobil dari saku kanannya. “kajja, ke rumah Sehun sekarang,”

 

***

 

Sehun dalam perjalan ke Busan.Ia sempat memikirkan sebentar mengenai hasil visum rumah sakit. Masih tercetakjelasdipikirannya, gambar kedua orang pasien yang benar-benar mirip sekaligus beberapa bukti kesamaan mereka lainnya. Konsentrasinya sedikit buyar ketika menyetir tapi untungnya ia masih bisa mengendalikannya.

 

Tiba-tiba ponsel Sehun berdering. Ada telepon masuk. “Eoh, Luhan hyung?” Sehun meminggirkan mobilnya sebentar, ia cukup paham dengan safety riding.

 

“Ne, hyung, eopseoyo?” Sehun mengangkat teleponnya.

 

“Sehun~nie,neon eddiseo?Kau di rumah kan sekarang?” Tanya Luhan di seberang telepon.

 

“Ani, aku sedang di perjalanan hyung. Ada apa?” jawab Sehun.

 

“Kau diperjalanan? Mau kemana?” Tanya Luhan lagi.

 

“Busan,” jawab Sehun singkat.

 

“Busan?Kau saat ini dimana aku butuh bertemu denganmu sekarang? Aku akan menyusulmu di Busan. Temui aku di Moreno Cafe, pusat distriknya, aku perjalanan kesana sekarang,” ujar Luhan lalu menutup teleponnya.

 

Sehun juga mematikan telepon itu. Telepon singkat yang membuatnya bingung.” Luhan hyung butuh aku sekarang? Aneh,” Sehun memiringkan kepalanya karena bingung, kemudian ia menyalakan kembali mobilnya, menekan gas lamat-lamat dan menuju tempat perjanjiannya tadi dengan Luhan.

 

Sehun sampai di cafe itu. Terlihat jelas ukiran nama cafe ini di neon box-nya, Moreno cafe. Sehun memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam. Ternyata Luhan sampai lebih dahulu,Sehun tidak tahu jika Lay ada bersama Luhan.

 

“Ne, hyung ada apa? Kau tidak bilang jika Lay hyung ikut?” ujar Sehun seketika duduk di bangku tepat di depan Luhan yang duduk.

 

“Ya, ini ada hubungannya dengannya dan juga dirimu. Aku ingin bertanya tentang Ah Rin padamu, bolehkah?” Tanya Luhan to the point.

 

“Yah, hyung kau menyuruhku kemari hanya untuk menjelaskan siapa Ah Rin noona itu padamu?Aish, kau membuang-buang waktuku hyung,” tukas Sehun.

 

“Masalahnya ini lebih dari itu..”Luhan mencoba menjelaskan.

 

“Hyung, biar aku yang bicara,” ujar Lay memotong kalimat Luhan.

 

Luhan menyerah dan menyerahkan masalah ini pada Lay.

 

“Lee Ji-eun dan Goo Ah Rin adalah orang yang sama, kan?” Tanya Lay pada Sehun.

 

“Apa?! Orang yang sama?Bukan hyung, mereka berbeda,” Sehun tahu jelas kemana arah pembicaraan Lay.

 

“Mereka kembar. Mereka sepupuku yang kembar dan terpisah belasan tahun yang lalu dan ini juga menjadi alasanku kenapa aku berada di Busan,” jawab Sehun kemudian.

 

“Dia benar-benar tahu masalah Ji-eun?!” Luhan kaget.

 

“Lee Ji-eun mantan pacar Lay hyung yang sekarang sudah meninggal itu kan?” Sehun memastikan

 

Luhan mengangguk-anggukan kepalanya pertanda setuju. “Jadi benar, kau saksi kunci masalah ini,”

 

“Lee Ji-eun mengalami kecelakaan 3 tahun lalu bersama Ah Rin noona. Ia dikabarkan menghilang setelah hasil visum di rumah sakit keluar. Ada yang mengatakan ia meninggal setelah kecelakaan, aku mencari jawaban atas kematiannya sekarang ini.” Jelas Sehun.

 

Luhan dan Lay memperhatikan dengan seksama. Sehun menceritakan seluruhnya yang ia ketahui dan ia dengar di rumah sakit, termasuk hasil visum yang mengatas namakan nama Ji-eun.

 

Raut wajah mereka berubah seketika. Sehun melanjutkan ceritanya hingga tak terasa hari hampir gelap.

 

“Omong kosong apa ini?! Ini hampir jam enam sore, harusnya aku sudah menemukan wanita bernama Ji-eun itu.” sesal Sehun.

 

“Dia ada disini?? Busan?!” kaget Luhan dan Lay bersamaan.

 

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Daripada terus menerus mendengar sejarah tentangnya lebih baik dari tadi kita mencarinya. Aigoo,” ujar Lay kesal.

 

Sehun bingung sejenak.

 

“Aish, kajja. Kita cari. Kita masih punya sedikit waktu untuk menemukannya. Setelah itu waktu kita selesai.”Ajak Sehun.

 

“Selesai? Memangnya ada apa?” Tanya Luhan.

 

“Aish, kau lupa hyung, hari ini ada show di salah satu acara musik. Walaupun hari ini jadwalnya kita libur, tapi jadwal show itu sudah diberitahu kemarin.” Sehun mengingatkan.

 

Lay menepuk dahinya. “Ah, Sehun benar,”

 

“Pukul berapa sekarang?”tanya Luhan.

 

“Hampir jam enam sore. Kajja,” Sehun memimpin keluar cafe.

 

Kedua mobil mereka keluar dari tempat parkir cafe dan bergegas ke tujuan semula. Mobil Sehun jalan lebih dahulu.

 

“Dia pikir ini ajang kebut-kebutan?” pikir Lay dari dalam mobil Luhan.

 

“Ini dalam keadaan mendesak. Ia tahu benar safety riding.” jawab Luhan singkat membela Sehun, sebab ia sendiri yang berkali-kali menasehati Sehun agar paham dengan safety riding, termasuk kebut-kebutan di jalan.

 

Sehun berbelok ke salah satu jalan yang cukup luas untuk dilewati mobil.

 

“Kita hampir sampai, hyung.” Gumam Sehun.

 

“Noona, aku harap bisa menjemputmu.” Sehun berkata penuh harapan dan mematikan mesin mobil, kemudian turun sesaat setelahnya.

 

***

 

 

 

 

 

Haiiiiiiii!!! Hayoloo siapa yang kangen FF ini?*readers: kagak adaaaa!!* oh, okay 😦 . Yak,, berhubung ini udah chapter 2 hmmm.. author bingung pengen lanjut atau enggak, cz kayanya tinggal sechapter lagi selesai. Hmm.. MAKASIH buat para pembaca setia, pembaca gelap dan juga pembaca siluman *eh*. gak lupa juga buat admin yang nge-post fanfic ini dengan baik. Okay, FF ini gak luput dari yg namanya kesalahan maupun unsur yang kurang berkenan jadi yaaa author minta maaf ya.

 

oke. BAYYY…*daadaaalaAerin*^.^

Iklan

5 pemikiran pada “Baby, don’t cry (chapter 2)

  1. thorr, ayo dilanjutkan ff-nyaaaa, ji eun gak mati kan?? tlg jangaan, biar luhan sma lay dpt pasangan wkwkwk xD keep writing thorr ^^ hwaiting yaaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s