Seonsaengnim (Chapter 1)

Seonsaengnim

Title: Seonsaengnim

 

Author: @diantrf

 

Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol (Exo)

Park Cheonsa (OC)

 

Genre: Romance, School-life, Family, Fantasy

 

Rating: T

 

Length: Chaptered

 

0o0

 

Pagi ini kelasku heboh karena sebuah berita yang sangat penting. Wali kelas kami mengundurkan diri karena terjerat suatu kasus penyelundupan senjata. Huft, ada-ada saja zaman sekarang ini. Menjadi penyelundup tapi malah menyamar menjadi guru. Sungguh konyol.

Namun bukan kabar itu yang membuat kelasku heboh. Kabar lainnya adalah, wali kelas kami akan digantikan oleh seorang guru baru yang katanya masih muda dan tampan. Aku tak peduli mau dia tampan atau muda sekalipun, yang penting dia bisa menjadi wali kelas yang baik. Dan tidak galak! Aku alergi guru galak.

 

Chanyeol langsung kembali duduk di sampingku setelah tadi ikut bergosip dengan para gadis di depan kelas. Aku terkadang heran, Chanyeol ini laki-laki atau bukan? Tingkahnya yang suka bergosip dan cerewet, bahkan melebihiku yang jelas-jelas perempuan.

 

Mempunyai kembaran aneh memang sangat mengerikan. Iya, Park Chanyeol adalah saudara kembarku. Kami hanya berbeda dua menit saat lahir. Bahkan terkadang aku membayangkan bagaimana lelahnya ibu kami saat itu. Baru saja aku keluar, dan dua menit kemudian dia harus melahirkan Chanyeol. Mengerikan.

 

Bel telah berbunyi lima menit yang lalu, dan wali kelas kami yang kebetulan akan mengajar sekarang juga belum datang. Paling hanya perkenalan saja, berhubung dia guru baru dan wali kelas baru juga. Aku tidak terlalu peduli.

 

Baru saja aku akan mengenakan headphoneku, tiba-tiba guru itu datang. Dengan tampilan santai layaknya anak kuliahan, ia masuk kelas. Membuat hampir semua siswi menahan jeritan mereka. Semua, kecuali aku. Bahkan para namja hanya terdiam melihat guru itu.

 

Harus kuakui, dia tampan. Namun aku biasa saja menanggapinya. Pria berwajah tampan itu wajar, kan? Kecuali dia pria tapi berwajah cantik.

 

 

Annyeonghaseyo. Saya Xiao Luhan guru Matematika baru kalian, dan juga wali kelas kalian. Ketua kelas, bisa tolong maju ke depan?”

 

Aku refleks bangkit saat Luhan seonsaeng memanggil ketua kelas. Iya, aku ketua kelas. Mau tak mau aku maju juga, dengan diiringi tatapan iri dari teman-temanku. Mungkin mereka iri karena aku orang pertama yang bisa melihat wajah tampan Luhan seonsaeng dari dekat.

 

Dan saat hendak datang ke meja guru, aku terhenti sejenak. Ternyata wajahnya melebihi batas ketampanan, bahkan terlihat cantik disaat yang bersamaan. Apakah dia transgender? Mengapa wajahnya cantik seperti itu?

 

 

“Park Cheonsa, benar?”

 

Aku hanya mengangguk singkat. Lalu ia menulis sesuatu di papan tulis. Ah, itu sebuah soal dasar yang walaupun belum diajarkan oleh guru yang lama namun aku sudah mempelajarinya sendiri. Setelah menulis cukup lama, akhirnya ia berbalik menatapku dan tersenyum.

 

 

“Bisa tolong kerjakan soal ini?”

 

Apa? Baru saja masuk dan dia seenaknya memberiku soal? Sepertinya ia akan masuk dalam list guru yang aku tak suka. Apa-apaan ini?

 

 

“Kenapa harus aku?”

 

“Karena ketua kelas adalah panutan bagi semuanya.”

 

 

Ia tersenyum tanpa dosa lalu duduk di kursi guru. Daripada aku mendapat masalah dengan guru baru, lebih baik aku menurut saja. Jadilah aku mengerjakan soal itu dalam waktu dua menit. Setelah selesai, aku hanya menatapnya malas lalu segera kembali ke tempat dudukku walaupun ia belum menyuruhku duduk.

 

Semua mata langsung terfokus padaku. Entahlah, mungkin karena aku kurang sopan karena langsung kembali ke kursiku. Masa bodoh, aku terlanjur kesal dengan guru itu. Chanyeol pun yang memang sudah memahami sifatku masih saja terdiam menatapku aneh saat aku duduk.

 

 

“Kau gila, Cheonsa.”

 

“Kalau begitu selamat Park Chanyeol, kau mempunyai saudara yang gila.”

 

 

Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus ke depan kelas. Aku langsung memasang headphoneku dan menatap Luhan seonsaeng yang sedang memeriksa jawabanku. Dilihat dari jauh pun ia nampak sangat menyebalkan bagiku.

 

Ia memberi nilai A+ di samping jawabanku, lalu kembali tersenyum pada semua siswa. Murid yang lain langsung bertepuk tangan, namun aku masih biasa saja. Entah mengapa, moodku langsung down karena guru baru itu.

 

 

“Cheonsa, kamu memang pantas jadi ketua kelas. Oke, hari ini belum ada kegiatan belajar-mengajar. Kita akan mengadakan sesi tanya-jawab. Kalian boleh tanya apa saja pada saya.”

 

Benar dugaanku, hari ini hanya perkenalan saja. Daripada aku mati bosan mendengar segala pertanyaan tak bermutu dari teman sekelasku, lebih baik aku mengerjakan kerangka novelku yang hampir selesai. Aku juga seorang penulis, walaupun belum begitu terkenal. Aku memang menyukai sastra, tapi entah mengapa bisa masuk kelas yang hampir tiap harinya belajar rumus, angka, dan logika.

 

Aku membuka laptopku dan mulai mengetik. Sebenarnya aku tahu bahwa Luhan seonsaeng melirik ke arahku sesekali, namun aku pura-pura tak menyadari. Aku memang peka terhadap tatapan orang lain, walaupun aku tidak melihat orang itu. Mungkin itu salah satu kelebihanku.

 

Aku juga dapat merasakan Chanyeol yang sepertinya sudah give up dengan sifatku yang tak pernah mempedulikan orang lain. Ia hanya memperhatikan depan kelas sambil memainkan pulpennya. Aku tahu bahwa ia bosan setengah mati mendengar sesi tanya-jawab yang hampir seluruhnya ditanyakan oleh siswi kelasku.

 

Topiknya tak jauh-jauh dari status Luhan seonsaeng. Dan ia mengaku bahwa umurnya dua puluh lima tahun dan single. Semua murid yeoja bersorak senang. Mereka semua mempermalukanku sebagai ketua kelas.

 

 

“Sudah bel. Oke, kita akhiri pelajaran kali ini. Besok kita akan sedikit mengulas bab yang diajarkan guru sebelumnya. Dan Park Cheonsa, kamu dipanggil kepala sekolah untuk menghadap saat ini juga.”

 

Luhan seonsaeng langsung pergi meninggalkan kelas. Aku, dipanggil? Ada apa lagi ini? Pasti kakek tua itu ingin menceramahiku agar tidak seenaknya dengan guru baru itu, mengingat kelakuanku yang kadang sangat tidak sopan pada guru yang tidak kusukai.

 

 

“Kamu punya masalah apa lagi dengan harabeoji?”

 

 

Chanyeol menatapku lekat, berharap aku membuat ulah lagi dan akan berakhir dengan ‘ceramah dua jam’ yang sangat membosankan. Dan Chanyeol akan menjadi orang yang paling gembira jika hal itu terjadi padaku. Menyebalkan.

 

 

“Aku tak tahu. Mungkin ia kangen dengan cucu kesayangannya ini.”

 

 

Aku sudah tak mempedulikan Chanyeol lagi. Langsung saja aku pergi menuju ruang kepala sekolah. Dalam perjalanan, aku malah membayangkan Luhan seonsaeng. Ia sangat manis, bahkan senyumnya. Seandainya saja aku tidak terlanjur kesal dengannya mungkin aku akan sedikit menyukainya.

 

Oh iya, kepala sekolah ini adalah kakekku dan Chanyeol. Walaupun begitu, kami berdua tidak pernah seenaknya bersekolah disini. Kami juga harus mematuhi tata tertib. Tapi bukan Park Cheonsa namanya jika tidak berbuat seenaknya. Namun aku masih tahu batasan atas ulahku.

 

Aku langsung mengetuk pintu saat sudah sampai. Setelah dipersilahkan masuk, aku membuka pintu dan sedikit terkejut melihat Luhan seonsaeng yang telah duduk di hadapan harabeoji. Hah, pasti dia mengadu pada harabeoji karena aku tak memperhatikannya selama di kelas tadi.

 

 

“Cheonsa, duduklah. Kamu sudah mengenal Luhan, kan?”

 

Aku hanya mengangguk malas lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain. Benar, kan? Tidak jauh-jauh dari ceramah yang topiknya adalah ‘menghargai orang lain yang lebih tua’. Bahkan bisa dibilang aku sudah hatam dengan segala isi nasihatnya padaku. Apa perlu aku mengulanginya?

 

 

Oke, mari kita bagi ‘pertemuan’ saat ini dengan beberapa sesi. Sesi pertama, kakekku memperkenalkan Luhan seonsaeng padaku secara lebih rinci. Tentang pendidikannya, rumahnya, keluarganya. Apa-apaan lagi ini?

 

Sesi kedua, adalah tentang diriku yang tidak boleh seenaknya saat pelajarannya berlangsung. Oh iya, pelajaran matematika kelasku berlangsung tiga kali seminggu per empat jam pelajaran. Sudah dapat dipastikan seberapa sering nantinya aku bertemu dengan Luhan seonsaeng.

 

Dan sesi ketiga, inilah yang membuatku sedikit tercengang. Sedikit? Bahkan aku sangat tercengang!

 

 

“Ingat dengan teman main Chanyeol saat kalian berumur sepuluh tahun? Ingat dengan kakak  yang dulu mengajarimu pelajaran Bahasa Inggris?”

 

 

Kakek menatapku lembut. Aku berusaha mengingat bayangan orang masa lalu saat kami berumur sepuluh tahun. Chanyeol memang sering bermain dengan seorang remaja yang umurnya terpaut cukup jauh dari kami. Tapi, namanya juga laki-laki pasti mereka mudah akrab.

 

Nah, aku ini yang memang orangnya tertutup. Saat itu aku hanya gadis sepuluh tahun yang tidak terlalu dekat dengan kakak itu. Aku hanya ingat kakak yang dulu aku panggil ‘oppa’ memang sering mengajariku pelajaran Bahasa Inggris, ya walaupun aku sudah bisa tanpa perlu diajarkan lagi.

 

Aku masih terus membayangkan orang itu. Atau jangan-jangan.. Luhan seonsaeng adalah orang masa lalu itu? Serius?! Mengapa harus dia?

 

 

“Jangan bilang kalau oppa yang dulu mengajariku itu dia.”

 

 

Aku langsung memasang wajah datar sambil menunjuknya dari samping dengan telunjukku, membuat kakek langsung memandangku tajam. Aku segera menurunkan telunjukku dan menatap Luhan seonsaeng sadis, namun ia malah tersenyum melihatku. Sungguh menyebalkan!

 

 

“Memang benar Luhan. Dan apakah kamu ingat dengan satu hal penting lainnya?”

 

Aku sedikit takut melihat pandangan kakek padaku. Mau tak mau aku kembali mengingat ‘sesuatu’ yang terlupakan itu. Terus kuingat..terus..terus.. Dan aku sontak membulatkan mataku begitu mengingat sesuatu yang pernah terucap langsung dari mulutku.

 

 

“Jika aku berumur tujuh belas nanti aku akan menikah dengan oppa.” lalu semua orang di ruang tamu itu tertawa mendengar kalimat polosku.

 

 

Aku ingat. Kakekku dan kakeknya Luhan seonsaeng memang sahabat baik, bahkan berniat menjodohkan anaknya dulu. Namun karena anaknya sama-sama laki-laki, tentu saja tak bisa. Jadinya diturunkan ke cucunya. Dan bingo! Kakekku memiliki aku dan Chanyeol sebagai cucunya dan Luhan adalah cucu tunggal.

 

 

Mati aku.

 

 

“Kakek tidak menganggap omonganku waktu itu serius, kan? Ayolah, waktu itu aku hanyalah anak sepuluh tahun yang sedang sangat polosnya..”

 

“Biasanya ucapan anak kecil itu jujur.”

 

 

Kakekku malah tersenyum menyebalkan setelah mengatakan hal itu. Memang benar, ucapan anak kecil yang polos itu tak pernah bohong. Tapi kan sekarang lain lagi urusannya. Aku tak mau menikah di umur tujuh belas, apalagi dijodohkan dengan orang menyebalkan di sampingku ini!

 

 

“Tapi kakek..”

 

“Kalian menikah satu bulan lagi. Tidak boleh membantah! Dan Luhan juga akan merangkap sebagai guru Bahasa Inggris kelasmu, sampaikan itu pada temanmu yang lain. Oke, kalian boleh keluar.”

 

Aku mengembungkan pipiku lalu langsung beranjak keluar tanpa pamit sedikitpun. Aku kesal, perintah kakek memang tidak boleh dilanggar atau dia akan ‘pura-pura terkena serangan jantung’. Kenapa aku tahu dia pura-pura? Tentu saja, aku kan cucunya!

 

Oke, aku akan sedikit cerita tentang silsilah keluargaku. Keluarga kami memiliki garis keturunan Dracula, sang vampire terkenal dari masa lalu. Namun garis itu tiba-tiba terhenti di kakekku, jadi orangtuaku hanya manusia biasa.

 

Namun entah mengapa, garis itu tersambung lagi saat kelahiranku dan Chanyeol. Dan sayangnya Chanyeol tidak memiliki darah vampire, ia hanya manusia biasa. Setelah mengetahui hal itu, barulah aku sadar jika kelebihanku yang peka terhadap lingkungan sekitar adalah karena garis keturunan itu.

 

Berbeda dengan kakekku yang masih harus mengonsumsi darah manusia, aku sama sekali tidak butuh itu. Jadi intinya, aku ini seorang manusia berdarah vampire yang memiliki kekuatan lebih. Lalu apa hubungannya semua itu dengan ‘pura-pura terkena serangan jantung’?

 

Karena garis keturunan itulah kakekku memiliki umur panjang. Bukan abadi, tapi umur panjang. Karena seiring berjalannya waktu dari abad ke abad kekuatan vampire melemah. Yang tadinya ia bisa hidup abadi, kini hanya bisa bertahan paling lama ribuan tahun. Jadi aku tahu persis jika kakekku tak akan mati begitu saja. Semua sakitnya selama ini hanya pura-pura, dan itu sangat menyebalkan!

 

Hanya aku yang mengetahui silsilah itu, jadi jika kakek sudah mulai bertingkah dan permintaannya tidak dipenuhi, ia akan langsung jadi kakek tua menyebalkan yang pura-pura sekarat. Dan biasanya pihak yang paling dirugikan adalah aku.

 

 

“Cheonsa, jalanmu cepat sekali.”

 

 

Aku membuyarkan lamunanku begitu mendengar suara menyebalkan Luhan seonsaeng. Ia berjalan tepat di sampingku, membuat semua orang di koridor memandang kami dengan tatapan memuja, yang mungkin diarahkan untuk Luhan seonsaeng.

 

Aku masih terus tak mempedulikannya, ya walaupun aku memperlambat jalanku agar sejajar dengannya. Aku juga masih tahu sopan santun dengan tidak meninggalkannya begitu saja.

 

 

Grep!

 

 

Aku tersentak saat tiba-tiba Luhan seonsaeng menautkan jemarinya dengan milikku. Apa-apaan ini? Sekarang kami malah menjadi pusat perhatian. Aku menatap Luhan seonsaeng tajam, namun ia malah tersenyum tanpa dosa ke arahku.

 

 

Harabeoji ingin agar satu sekolah tahu jika kita memiliki hubungan spesial.”

 

 

Aku membulatkan mataku. Kakek tua itu memang sudah gila! Dan orang di sampingku sepertinya sama gilanya. Jemari kami masih tertaut bahkan sampai di kelas. Semua penghuni kelas memandang kami dengan tatapan heran saat kami masuk kelas bersamaan dengan keadaan saling berpegangan.

 

Aku langsung melepaskan genggamannya dan kembali ke tempat dudukku, diiringi tatapan aneh dari teman-temanku yang lain. Terutama yeoja.

 

 

“Aku berani taruhan ini pasti ulah kakek.”

 

“Diam kau, Chanyeol!”

 

 

Luhan seonsaeng berdiri di depan kelas dengan senyum khasnya, membuatku kesal dan memilih untuk mengeluarkan kembali laptopku dan melanjutkan novelku saja. Aku memasang headphone dengan volume cukup tinggi agar tidak bisa mendengar omongannya. Namun nihil, karena aku peka terhadap keadaan sekitar.

 

 

“Saya punya beberapa pengumuman penting untuk kalian.”

 

Semua mata terfokus pada guru itu, namun tidak denganku. Aku masih terus asyik dengan kegiatanku sendiri. Bahkan Chanyeol sepertinya sudah tahu apa yang terjadi denganku, dan ia malah cekikikan sendiri sejak tadi. Dasar saudara menyebalkan!

 

 

“Pertama, saya baru saja diberi tugas baru lagi yaitu menjadi guru Bahasa Inggris kalian.”

 

Aku melupakan fakta itu. Fakta bahwa setiap hari ia akan mengajar di kelasku. Catat itu, tiap hari! Karena pelajaran matematika berlangsung tiga kali seminggu dan Bahasa Inggris juga tiga kali seminggu. Karena sekolah hanya lima hari, jadilah di hari senin ia akan dua kali mengajar di kelasku. Benar-benar membuat tensi darahku naik!

 

Murid yeoja di kelasku malah bersorak gembira mendengar berita itu. Tentu saja mereka senang. Mereka tak tahu semenyebalkan apa menjadi diriku. Memiliki kakek yang jahil dan sangat ingin aku kirim ke neraka saat ini juga.

 

 

“Kedua, karena hari ini Ahn seonsaengnim tidak bisa mengajar maka saya akan menggantikan beliau hanya untuk hari ini.”

 

Ahn seonsaengnim adalah guru fisika, dan setahuku Luhan seonsaeng juga pandai dalam pelajaran itu. Aish, menyebalkan! Hari ini selama tiga pelajaran aku harus selalu melihat wajahnya. Aku masih terus fokus dengan laptopku. Berita ketiga ini pasti akan menjadi puncak kekesalanku saat ini.

 

 

“Dan berita ketiga. Saya akan menikah dengan Park Cheonsa satu bulan lagi.”

 

Luhan seonsaeng tersenyum tanpa dosa. Kelas menjadi hening, dan dapat kurasakan seluruh tatapan teman-temanku tertuju ke arahku. Chanyeol yang duduk di sampingku hanya cekikikan sendiri sambil menepuk-nepuk bahuku, tanda menyuruhku sabar. Akan kubunuh kau, Chanyeol!

 

Bukankah jika di film-film perjodohan seperti ini akan dirahasiakan dari pihak sekolah? Namun mengapa kakek tua itu bersekongkol dengannya untuk menyebarluaskan berita ini, sih? Dapat kurasakan Luhan seonsaeng menatapku, mungkin menungguku berkomentar setidaknya satu kata saja.

 

 

“Dia benar.”

 

Hanya itu yang aku ucapkan. Dan semua temanku langsung bersorak senang dan memberi kami selamat. Apakah sekarang teman-temanku juga jadi gila? Masa temannya ingin dijodohkan mereka malah senang? Luhan seonsaeng tersenyum puas lalu menuliskan materi pelajaran di papan tulis.

 

Aku tak mempedulikan apa yang ia tulis. Ia berbalik dan menghadap ke seluruh murid. Ternyata ia menulis beberapa pertanyaan dalam Bahasa Inggris. Ia memanggil nama murid satu per satu untuk menjawab pertanyaan itu. Syukurlah ia tidak berbuat aneh-aneh.

 

 

“Cheonsa, bisa tolong jawab pertanyaan nomer sepuluh?”

 

Aku langsung mendongak menatap papan tulis. Nomer sepuluh.. Apa?! Dia ini gila atau bagaimana, sih? Sungguh pertanyaan konyol. Temanku yang lain kembali menatapku dengan pandangan yang menurutku menjijikkan.

 

 

‘Do you love me?’

 

 

Ya, itulah pertanyaan konyolnya. Dasar tidak waras. Chanyeol malah hampir tidak bisa menahan tawanya dan menatapku menggoda. Langsung aku balas saja dengan tatapan sadisku dan aku menatap Luhan seonsaeng meremehkan. Dia memang sinting.

 

 

No.”

 

 

Terdengar suara kecewa dari seluruh kelas. Aku merasakan pandangan Luhan seonsaeng melembut dan ia tersenyum ke arahku. Manis, seandainya saja ia tidak menyebalkan.

 

Oh, yes you will.”

 

Ucapannya membuatku membulatkan mataku. Sepertinya pria bernama Xiao Luhan itu benar-benar gila. Dan aku langsung menyumpal mulut Chanyeol dengan buku begitu merasakan gelagat ia akan tertawa terbaha-bahak. Mengapa hidupku dikelilingi makhluk aneh menyebalkan?

 

 

Hidupku tak akan tenang setelah ini. Pasti.

 

0o0

 

Pulang sekolah aku dan Chanyeol langsung meninggalkan sekolah karena kami sama-sama tidak memiliki kegiatan lain hari ini. Kami membawa mobil sendiri, dan biasanya Chanyeol yang menyetir. Aku akan menceritakan tentang kami sedikit.

 

Aku dan Chanyeol memang saudara kembar, namun entah mengapa wajah kami hampir tidak ada kemiripannya. Rambutku blonde sejak lahir, dia berambut kecoklatan. Mataku berwara hijau, dia coklat hazeld. Intinya, wajahku Western dan dia Asian.

 

Awalnya aku sempat tidak percaya jika kami kembar. Namun setelah diyakinkan berkali-kali, mau tak mau aku percaya. Tak hanya itu saja, sifat kami yang bertolak belakang juga patut untuk dicurigai. Chanyeol periang dan mudah bergaul. Aku lebih memilih menyendiri dan belajar, mencari ilmu-ilmu yang belum aku ketahui.

 

Dan mengapa aku bisa menjadi ketua kelas? Entahlah, hanya Tuhan dan murid kelasku yang tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Yang jelas aku menikmati hidupku. Namun tidak lagi semenjak kemunculan Luhan seonsaeng beberapa jam yang lalu.

 

 

Harabeoji menyuruhmu untuk pulang bersama Luhan hyung.”

 

What?!”

 

 

Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku, pulang bersama orang menyebalkan itu? Tidak! Aku refleks menggelengkan kepala dan memohon pada Chanyeol agar aku tetap pulang bersamanya. Lebih baik harga diriku jatuh sekarang di depan Chanyeol daripada harus pulang bersama Luhan.

 

 

“Chanyeol tega membiarkan Cheonsa pulang bersama orang asing? Aku pulang denganmu saja, ya?”

 

Aku bergelayut manja di lengannya. Aku benar-benar tak mau berurusan dengan orang itu saat ini. Aku ingin menenangkan pikiranku dulu baru mau berurusan dengannya dikemudian hari. Chanyeol mengacak rambutku dan tersenyum menyebalkan.

 

“Dia kan calon suamimu. Sudahlah, aku mau cepat pulang. Sampai jumpa di rumah!”

 

 

Dia langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkanku sendiri. Hah, baiklah. Aku akan menuruti permintaan kakek tua itu. Aku menunggu Luhan seonsaeng di bangku taman dekat lapangan parkir. Aku tahu mobilnya, dan sejak lima belas menit yang lalu pemiliknya tak kunjung datang.

 

 

Satu jam berlalu. Ahh, aku bosan menunggu terus. Jika tadi aku pulang bersama Chanyeol pasti sekarang aku sudah tidur dengan nyenyaknya di rumah. Jika lima menit lagi ia tidak datang, aku akan pulang sendiri naik bis.

 

 

“Cheonsa, ayo pulang.”

 

Ah, ini dia orang yang membuatku menunggu. Aku langsung berdiri dan mengikutinya masuk ke dalam mobil. Aku bisa merasakan banyak teman sekelasku yang mengintip kami masuk satu mobil yang sama. Pasti besok pagi berita ini sudah tersebar luas. Dan Chanyeol akan ikut bergosip dengan para yeoja kelasku.

 

Kami hanya diam sepanjang perjalanan. Aku malas berbicara dengannya sedangkan dia mungkin sedang sibuk menyetir. Jadilah aku hanya memainkan ponselku dan mendengarkan lagu. Aku merasa Luhan seonsaeng melirikku dan tersenyum. Aku suka senyumnya, jujur. Ia manis.

 

 

“Kamu semakin cantik, ya. Padahal tujuh tahun yang lalu kamu masih gadis sepuluh tahun yang sangat manja.”

 

Ia tertawa dengan kalimatnya sendiri. Aku mengembungkan pipiku. Dulu aku memang sangat manja, apalagi dengan Chanyeol. Aku tak mau jauh dari Chanyeol, entah apa alasannya. Tapi sekarang aku malas dekat-dekat dengan Chanyeol. Dia semakin menyebalkan.

 

 

“Baumu juga dari dulu selalu sama.”

 

 

Kini aku mengerutkan keningku. Apa maksudnya? Aku menatapnya bertanya, berharap ia akan menjelaskan sesuatu padaku yang tidak aku ketahui. Ia semakin mencurigakan. Jangan-jangan..

 

“Iya, bau darahmu selalu sama. Sangat nikmat.”

 

 

Ia tersenyum dan menatapku dalam. Benar dugaanku, ada yang tidak beres disini. Auranya sangat dingin, itulah sebabnya aku tak suka berdekatan dengannya. Selain alergi dengan guru galak, aku juga tak nyaman berada dekat dengan vampire, termasuk dengan kakekku. Maka itulah aku sangat kesal dengan kakek tua itu.

 

“Aku tahu, jangan diingatkan.”

 

 

Entah mengapa tiap ada yang menyinggung tentang bau darahku, yang katanya nikmat, aku jadi merasa risih. Kakekku bilang jika selama ini banyak vampire lain yang mengawasiku, namun tidak ada yang berani mendekat karena aku selalu dekat dengan Chanyeol.

 

Dan baru-baru ini juga aku tahu mengapa aku tak mau dipisahkan dengan Chanyeol. Jika aku dilahirkan mengikuti garis darah kakek, maka Chanyeol dilahirkan dari garis darah yang berbeda. Aku tak tahu namanya apa, yang jelas walaupun Chanyeol hanya manusia biasa namun ia memiliki aura pelindung.

 

Sekarang ada vampire di sampingku, dan ia sangat menyebalkan. Luhan melepas seatbeltnya dan mendekat ke arahku. Ternyata kami sudah sampai di depan rumahku. Aku mau kabur, namun sial pintu mobilnya terkunci. Terkutuklah kau Luhan!

 

 

Hey, pernah dengan wolf-print?”

 

Ia menatapku intens. Wolf-print? Sepertinya itu ada di legenda werewolf. Jadi, jika sang werewolf menyukai seorang gadis manusia, ia akan memberi gadis itu wolf-printnya atau tanda jika gadis itu miliknya, jadi werewolf lain tak ada yang berani merebut gadis itu.

 

 

Aku hanya mengangguk. Lalu untuk apa ia bertanya padaku tentang hal itu? Atau jangan-jangan..

 

“Jika werewolf punya wolf-print, aku juga punya vampire-print.”

 

 

Mati aku.

 

 

Gerakannya sangat cepat, ya namanya juga vampire. Ia menahan kedua tanganku dengan satu tangannya, dan tangannya yang lain memegang tengkuk belakangku. Aku hanya diam, aku yakin ia tidak akan menyakitiku, mungkin leherku hanya akan digigit, haha.

 

Namun dugaanku salah total. Ternyata ia hanya mencium leherku dengan lembut. Sial, aku sangat tak menyukai aura dinginnya itu. Ia lalu menjauhkan tubuhnya dariku dan tersenyum lagi. Sebuah bunyi klik menandakan jika pintu mobil sudah tak terkunci lagi.

 

 

“Silahkan keluar. Sampai jumpa besok.”

 

Aku langsung keluar mobil tanpa menatapnya lagi. Ia sangat menyebalkan. Sudah seenaknya mencium leherku dan sekarang ia menyuruhku keluar begitu saja. Ia pikir aku apa? Aku masih terus berjalan tanpa menghiraukan dia lagi.

 

 

“Kakekku ada di dalam. Ayo kita masuk!”

 

Tapi, dengan horornya ia muncul di sampingku lalu dengan seenaknya menggenggam tanganku. Aku akan protes saat ini juga bahwa aku tak mau dijodohkan dengannya. Masa bodoh dengan kakek yang akan pura-pura jantungan lagi. Aku tetap akan protes!

 

 

 

TBC

 

 

Annyeong^^ Angel balik lagi dengan chaptered baru. Maaf atas segala kekurangannya. Dan angel masih ada utang chaptered huhu lagi kena writer block untuk ff yang lain, eh malah ada ide untuk bikin chaptered baru. Haha namanya juga angel.

 

Dan angel menyadari ternyata ada cerita dari author lain yang beberapa scenenya sama dengan ff ini. Angel minta maaf, ff ini tidak memplagiat karya manapun, namun memang sepertinya pikirannya sama jadinya bener-bener ada scene yang sama. Tapi untunglah kebelakangnya ceritanya beda.

 

Oke, sekian aja deh daripada nanti jadi curhat. Thanks, comment, annyeong^^

Iklan

188 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 1)

  1. ceritanya bagus…
    jadi ceritanya cheonsa itu keturunan vampire dan punya kelebihan…
    kasian banget cheonsa harus nikah sama luhan saat masih umur 17 tahun..masih sekolah lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s