Camouflage (Chapter 8)

Judul : Camouflage (Chapter 8)

Author : vanillaritrin

Genre : Romance, School-Life, Friendship, Mystery, Thriller, Angst

Length : Chaptered

Rating : PG-17

Main Cast : Kim Jongin, Oh Chae Mi( You), Oh Sehun

Support Cast : Han Na Young (OC), Moon Ah Reum (OC), and the others

Poster : kaihyun0320 (@kaihyun0320)

 

 

Note : Buat yang nunggu kaimi/semi moment, it start here dan jangan lupa komen hihi ^^ maaf aku ngga bales satu2 seperti biasa soalnya lagi nyusun tugas akhir tapi aku selalu baca komen kalian dan aku bersyukur yang komen tambah banyak. Gomapda ❤ dari sini part favorit aku kekeke hope you like it 🙂

 

 

*****

 

 

            Chae Mi masih mencerna kata – kata Na Young dalam benaknya. Dalam waktu bersamaan Ia juga mengingat cerita yang pernah Ia sampaikan pada Jongin. Ada satu bagian yang sengaja tidak Ia ceritakan. Bagian yang Ia tidak ingin terulang lagi. Bagian yang akhirnya terjadi juga seberapa keraspun Ia mencoba untuk menolak.

            Beberapa hari setelah pembully-an Chae Mi sewaktu SMP, satu persatu orang yang membully-nya hilang. Awalnya tidak masuk tetapi hal itu terus berkepanjangan dalam jangka waktu yang lama. Tiba – tiba saja mereka dinyatakan hilang oleh polisi. Berita itu ramai sekali beredar tapi pihak sekolah menolak untuk disebarluaskan lewat media sosial karena itu akan mencemarkan nama sekolah.

            Bagian itulah yang tidak Chae Mi ceritakan pada Jongin. Jika hal ini terjadi lagi, Ia tidak akan berhenti merasa bersalah pada orang – orang yang dicintainya. Ia tidak ingin dipenjarakan rasa bersalah seumur hidup. Sudah cukup Ia membuat orang – orang di sekitarnya menderita sekalipun mereka adalah orang – orang yang membully-nya, hukuman dari Tuhan sudah cukup baginya. 

            Pikiran Chae Mi sangat tidak jernih saat ini sampai Jongin datang menepuk pundaknya. Chae Mi menoleh menatap Jongin dan kembali teringat bagian itu. Bagian yang hilang.

            “Gwaenchanha?” Tanya Jongin cemas. Ekspresi Chae Mi menyiratkan ketakutan yang nyata sehingga Jongin tidak yakin Ia baik – baik saja. Gadis itu kadang menjadi takut, sedih, dan bahagia karena pikirannya sendiri.

            “Ne.” Chae Mi mengalihkan pandangannya. Jongin sangat pandai membaca Chae Mi. Ia akan dengan mudah menanyakan apa yang Chae Mi pikirkan.

            “Kau mau pulang?” Na Young berbalik menatap Jongin di belakang.

            Jongin memandangi Chae Mi yang memunggunginya,”Apa perlu aku antar pulang?”

            Chae Mi tiba – tiba teringat pada Sehun. Ia merogoh saku almamaternya lalu segera menelepon lelaki itu. Ponselnya masih tidak aktif.

            “Eottokhae?” Tangan Chae Mi bergetar menjauhkan ponsel dari telinganya.

            Jongin menyentuh ujung bahu Chae Mi kemudian memutar tubuh gadis itu menghadapnya,”Ada apa?”

 

 

*****

 

 

            Sehun membuka matanya yang terasa berat perlahan. Kepalanya pusing. Ia masih belum ingin mengingat apa yang terjadi sebelum tidak sadarkan diri. Ia mengamati keadaan sekitar dengan mata sayu. Sebuah ruangan kecil yang tidak terurus. Sebelum memikirkan alasan Ia disini, Ia mendapati dirinya duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terkunci dengan tali. Ia berusaha melepaskan tangannya lebih dulu tapi ikatannya sangat kuat. Ia juga mencoba menggerakkan kakinya tapi usahanya gagal. Tidak bergerak sama sekali.

            Satu – satunya pintu masuk di ruangan itu terbuka disusul seseorang dengan topi dan kacamata hitam. Orang itu membanting pintu lalu mengambil satu kursi lagi. Ia duduk berhadapan dengan Sehun.

            “Apa maumu?” Sehun menatapnya tajam. Orang itu hanya tersenyum picik tanpa berkata apapun.

            “Lepaskan aku.” Sehun melemparkan tatapan sengit padanya.

            “Aku peringatkan untuk tidak mendekati gadis itu.” Sahutnya cepat. Ia mendekatkan wajahnya dengan Sehun.”Aku hanya bicara satu kali.”

            Sehun menyeringai-memamerkan taringnya yang tajam. Orang ini pasti sudah gila, batinnya. Kemudian secara tiba – tiba dari kanan dan kiri Sehun muncul dua orang yang membawa kayu cukup panjang. Mereka memukul punggung Sehun bergantian.

            “Aku tidak pernah memperingatkan seseorang sebelumnya tapi,” Orang itu tersenyum licik,”Anggap saja aku sedang berbaik hati.”

            Sehun merasa leluconnya benar – benar tidak lucu. Hanya karena seorang Oh Chae Mi? Ia menyeringai tajam sekali lagi memikirkan ucapan orang ini.

            Di saat yang sama, kedua orang di samping Sehun memukul wajahnya bergantian. Sudut bibir Sehun mengeluarkan darah tapi Ia tidak mungkin menghapusnya. Ia yang berada di kanan Sehun meninju perutnya keras. Yang lainnya mendaratkan pukulan di wajah Sehun lagi. Darah segar mulai membasahi permukaan bibir Sehun.

            Perhatian mereka sedikit teralih karena mendengar suara lain dari luar. Kedua orang itu bersiap – siap keluar dan tidak akan mengampuni siapapun yang ikut campur dalam urusan ini. Mereka membuka pintu perlahan namun tidak ada siapa – siapa. Mereka akhirnya keluar dari ruangan itu.

            Tinggal tersisa Sehun dan orang ini. Sepertinya Sehun mulai mengingat kejadian sebelum Ia ada disini. Seseorang yang menabrak pundaknya menumpahkan Ice Cappucino di jas almamaternya. Ia berjalan ke tempat parkir untuk mengambil selembar tisu namun orang ini membekap mulutnya lalu membawanya ke tempat ini. Bukan, bukan orang ini. Suara orang yang menabraknya tadi lebih berat dari orang di hadapannya ini.

            Seseorang di hadapannya ini kemudian bersembunyi di balik pintu. Beberapa menit tidak terdengar suara apapun-mungkin kedua anak buahnya sedang mencari sumber suara. Ia tidak sabar dengan anak buahnya lalu berjalan keluar pelan – pelan. Suara pintu yang ditutup pelan melegakan dada Sehun.

            Secara mengejutkan, dari satu – satunya jendela di ruangan ini, suara seseorang yang sangat familiar menyeruak pendengaran Sehun. Ini delusi atau sebuah kenyataan? Apa karena Ia begitu mengharapkan kehadiran gadis itu sehingga rasanya begitu nyata?

            “Sehun-ah, ini aku.” Ia berdesis pelan. Suaranya bergetar dan nafasnya memburu. Sehun dengan pandangan kabur menatapnya balik.

            Gadis itu-Oh Chae Mi-turun dari ketinggian cukup jauh. Ia mendaratkan kakinya sepelan mungkin agar tidak terdengar siapapun. Ia melepas ikatan di tangan dan kaki Sehun dengan cutter.

            “Kajja, Sehun-ah. Kajja.” Ia menyadarkan Sehun. Akan lebih mudah untuk kabur jika Sehun dalam posisi sadar.

            Sehun dengan segenap keberaniannya-melihat Chae Mi begitu gigih menyelamatkannya-membuka matanya lebar – lebar lalu mengikuti Chae Mi naik di atas kursi. Ia lalu sedikit memanjat menuju jendela sempit itu lalu turun dengan cepat. Mereka ada di belakang ruangan tadi kemudian berlari menuju pintu lain.

            Ada seseorang lagi disana. Namja yang terlihat sering bersama Chae Mi. Kim Jongin. Ia mengalihkan perhatian kedua orang yang memukuli Sehun tadi. Chae Mi memberi kode nonverbal kepadanya. Jongin melihat kedua orang itu berlari ke arah yang salah kemudian Ia segera menghampiri Chae Mi dan Sehun. Mereka berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.

            Seseorang yang tadi duduk berhadapan dengan Sehun membuka pintu dengan kasar. Ia hanya melihat tali yang putus di lantai. Ia mendekati tali itu lalu memungutnya. Tangannya terhenti di udara saat melihat sesuatu yang lain. Ia menghampirinya lalu mengambilnya dengan hati – hati. Dalam genggaman yang dilapisi sarung tangan itu, kini terdapat sehelai benang dari rok yang sobek. Ia mendongak dan menyadari seseorang telah datang melewati jendela itu kemudian pergi tergesa – gesa dengan meninggalkan jejak.

 

 

*****

 

 

            Moon Seongsaem merapikan rambutnya asal seraya berjalan mondar – mandir di depan sebuah kamar rumah sakit. Beruntung Chae Mi dan Jongin bergerak cepat menelepon ambulans. Sehun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dari sebuah kompleks bekas pergudangan.

            Ia sendiri tidak tahu kenapa ketiga muridnya bisa berada disana dalam waktu bersamaan. Ditambah dengan kondisi Sehun yang berdarah – darah. Ia tidak ingin menanyakannya pada Chae Mi dan Jongin karena mereka sendiri masih sangat terpukul dengan kejadian ini.

            Chae Mi menangkupkan kedua tangannya dengan mata terpejam. Dalam hatinya Ia berdoa semoga keadaan Sehun baik – baik saja. Semoga kehidupannya kembali normal. Semoga semua tragedi di masa lalu tidak terulang lagi.

            “Chae Mi-ya.” Na Young memeluk Chae Mi dari samping. Chae Mi tidak membalas pelukannya karena Ia tidak berhenti menangkupkan tangannya. Matanya kosong. Kekhawatiran sangat terlihat jelas di dalam matanya.

            Pintu ruang ICU terbuka. Moon Seongsaem maju beberapa langkah mendekati dokter-bertindak sebagai orang tua Sehun.

            “Tulang punggungnya mengalami pukulan hebat tapi karena pasien cepat mendapat pertolongan pertama, tulang punggungnya tidak retak. Di luar itu, semuanya baik – baik saja.” Dokter membuat perasaan keempat orang di luar kamar lega. Ia tersenyum kemudian meninggalkan mereka.

            “Haaah melegakan sekali. Aku harus menelepon orang tua Sehun.” Moon Seongsaem menjauhi murid – muridnya sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

            Chae Mi membuka matanya perlahan – lahan. Ia memeluk Na Young dengan cepat. Na Young membalas pelukan Chae Mi sambil menepuk – nepuk tangan Chae Mi yang melingkar di pundaknya.

            Jongin menarik nafas panjang. Ia duduk berhadapan dengan Chae Mi. Lelaki itu memandangi Chae Mi yang kini menangis hebat di pelukan Na Young. Pandangannya berhenti pada rok yang dipakai Chae Mi. Ada helaian benang yang terlepas di ujungnya. Ia mendongak menatap gadis itu lagi. Otaknya memutar ulang kejadian di gudang.

            “Chae Mi-ya, kau tidak masuk?” Na Young merenggangkan pelukannya untuk menatap Chae Mi. Chae Mi menghapus air mata deras yang membasahi pipinya.

            “Masuklah. Dia menunggumu.” Jongin angkat bicara. Ia akan menyimpan persoalan rok sekarang ini. Keadaan Sehun jauh lebih penting.

            Chae Mi mengangguk pelan. Ia menggeser pintu ruang ICU dengan tangan gemetar hebat. Perasaannya berkecamuk antara sedih, marah, dan menyesal.

            Ponsel Jongin bergetar. Telepon masuk datang dari Moon Seongsaem.

            “Yeoboseyo,” Jongin terdiam beberapa saat,”Araseo.”

            Na Young memandangi Jongin cemas. Jongin memasukkan ponselnya ke saku jas almamater,”Kajja.

 

 

*****

 

 

            Sehun terbaring lemah di ranjang. Ia terlihat begitu menderita dalam tidurnya. Chae Mi terus merutuki dirinya dalam hati. Ini semua salahnya. Seharusnya dari awal Ia tidak melibatkan Sehun dalam hidupnya. Semua orang yang terlibat dengannya akan tersiksa karenanya.

            Hal pertama yang Sehun lihat setelah Ia membuka mata adalah rambut bronze gold Chae Mi. Wajahnya tersembunyi di balik rambutnya yang sedikit bergelombang. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sehun dapat mendengar isakan kecil gadis yang duduk di samping ranjangnya. Jarinya bergerak lemah.

            Chae Mi tersentak karena ujung matanya menangkap pergerakan Sehun. Ia mendongak namun wajahnya masih ditutupi rambut panjangnya. Ia menyeka air mata sekilas lalu menatap Sehun. Rasa bersalah mendalam terlukis di wajah Chae Mi.

            “Sehun-ie.” Air matanya jatuh mengalir di pipinya. Ia mendekati Sehun kemudian Sehun meraih tangannya perlahan.

            “Jeongmal-“ Ucapan Chae Mi terinterupsi oleh genggaman Sehun yang lemah. Chae Mi semakin tersiksa oleh rasa bersalah.

            “Aku tidak mau mendengarmu minta maaf.” Sehun tersenyum lemah.

            “Ini semua salahku. Bagaimana bisa aku tidak minta maaf?” Chae Mi sedikit membentaknya.

            “Kau melanggar peraturan. Tidak boleh membentak orang sakit.” Sehun mencibir. Sudut bibir Chae Mi terangkat ke atas melihat tingkah Sehun.

            “Aku lebih suka melihatmu tersenyum.” Sehun menatap Chae Mi dalam. Pipi Chae Mi menampilkan semburat merah merona.

            Chae Mi bergerak mendekati Sehun. Tangannya melingkar di bahu Sehun. Air matanya kembali menetes ketika matanya bertemu dengan mata Sehun. Sehun mengelus punggung Chae Mi. Beberapa menit berlalu, mereka membiarkan keadaan tak berubah.

            Sehun berbisik di telinga Chae Mi,”Gwaenchanha. Sudah berakhir.”

            Chae Mi dapat merasakan hembusan nafas Sehun di telinganya. Aroma tubuh Sehun membuatnya tidak ingin melepas pelukannya. Pikirannya sudah tidak dapat bekerja dengan baik. Hanya intuisinya yang masih berjalan dengan baik.

            Chae Mi sendiri mempertanyakan hal itu dalam hatinya. Benarkah semuanya sudah berakhir sampai disini? Benarkah tidak akan ada hal buruk lagi terjadi? Benarkah ini adalah kejadian terakhir?

            Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan semua itu. Ia hanya ingin menikmati waktu – waktu terbaiknya dengan Sehun sekarang. Ia melepaskan tangannya dari pundak Sehun dan menyadari Ia tak sanggup melihat Sehun disakiti lagi.

 

 

*****

 

 

            “Han Na Young, ceritakan padaku apa yang terjadi.”

            Na Young terdiam sesaat sambil memperhatikan sekeliling. Jongin sepertinya masih cukup lama membeli kopi.

            “Awalnya kami sedang berjalan di dekat sekolah. Ternyata Chae Mi sedang menunggu Sehun tapi Sehun menonaktifkan ponselnya. Chae Mi berencana pulang sendiri sampai aku datang. Jongin tidak lama menyusul kami dan melihat wajah Chae Mi pucat. Ia menanyakan apa Chae Mi ingin diantar pulang tapi Chae Mi langsung berlari saat itu juga. Jongin bilang padaku untuk menunggunya. Selang dua jam, Ia meneleponku dan mengatakan mereka ada di rumah sakit bersama Sehun.” Jelas Na Young sambil menundukkan kepala. Moon Seongsaem terlihat frustasi setelah mendengar cerita Na Young.

            “Orang tua Sehun tidak tinggal di Korea setiap waktu. Mereka sering bepergian ke Canberra karena ibu Sehun memang berasal dari sana. Mereka kemudian menitipkan Sehun padaku,” Moon Seongsaem menghela nafas panjang,”Aku sudah mengatakan bahwa putra mereka baik – baik saja. Aku juga sudah minta izin untuk membawa Sehun tinggal di rumahku.”

            Moon Seongsaem beranjak dari tempat duduknya,”Aku akan mengatakan pada Sehun tentang keputusanku.”

 

 

*****

 

 

            Sehun sudah terlelap setelah satu jam Chae Mi menemaninya. Chae Mi bersiap – siap untuk meninggalkan kamar Sehun saat seseorang menggeser pintu. Tidak lama kemudian Moon Seongsaem muncul dari balik pintu. Chae Mi membungkuk.

            “Dia sudah tidur?” Tanya Moon Seongsaem seraya berjalan mendekati ranjang Sehun.

            “Ne, Seongsaemnim.” Chae Mi menganggukkan kepala. Ia menunduk kembali untuk pamit pada gurunya.

            “Chae Mi-ya,” Suara lembut Sehun menghentikan langkah Chae Mi. Chae Mi berbalik-menatap Sehun,”Sepertinya kau punya seorang secret admirer.”

            Chae Mi mematung beberapa saat-kehilangan fokus. Ia melihat Sehun tersenyum tipis dan dengan cepat menghilang di balik pintu.

            Moon Seongsaem yang berdiri di samping Sehun memerhatikan keadaan itu dari awal. Sehun menatapnya lemah-hal itu membuatnya semakin merasa bersalah telah membiarkannya sendirian selama ini.

            “Sehun-ah,” Moon Seongsaem tersenyum,”Orang tuamu menitipkanmu padaku sejak awal masuk SMU. Aku merasa benar – benar buruk telah membiarkanmu menderita. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku tidak akan memaksamu menceritakannya sekarang tapi kau tetap harus memberiku gambaran nanti. Aku sudah meminta izin orang tuamu untuk membawamu ke rumahku. Dengan begitu mungkin aku bisa lebih menjagamu.”

            ”Ne, Seongsaemnim. Aku bisa menggambarkannya sekarang tapi-,” Sehun mengeluarkan jurus puppy eyes-nya,”Bolehkah aku meminta sesuatu?”

            “Sehun-ah, kau tidak perlu mengatakannya sekarang.” Moon Seongsaem menatap wajah Sehun  yang sayu. Bibirnya sangat pucat.

            “Permintaanku berhubungan dengan kejadian hari ini, Seongsaemnim.” Sahut Sehun cepat. Ia tersenyum simpul pada gurunya.

 

 

*****

 

 

            Chae Mi duduk di kafetaria rumah sakit bersama Jongin dan Na Young. Na Young yang paling tidak mengerti dengan kejadian ini masih bungkam. Ia tidak berani bertanya pada siapapun karena raut wajah kedua orang di sampingnya begitu muram dan marah di saat yang sama. Kesunyian diantara mereka pecah karena getaran dari ponsel Jongin.

            “Yeoboseyo.” Jongin menyapa seseorang disana.

            “Jongin-a, aku berencana pulang ke Seoul minggu depan tapi ada satu dokumen yang tertinggal di rumah. Kau bisa kirimkan lewat fax.” Titah seseorang yang tak lain kakak Jongin.

            “Jinjja? Bagaimana bisa dokumen penting tertinggal?” Alis Jongin bertaut.

            “Ah, itu kecerobohanku. Karena Eomma sedang di Amerika, aku harus merepotkanmu. Mian. Dan juga… Eomma sudah sampai di Los Angeles. Ia sudah bertemu teman Appa.” Ia mengabarkan.

            “Syukurlah,” Jongin tersenyum. Sebenarnya Ia juga sudah tahu kabar ibunya tapi sepertinya ibunya lebih banyak bercerita dengan kakaknya,”Setelah itu Eomma langsung pulang atau menyusul Noona?”

            Na Young dan Chae Mi saling menatap tidak mengerti. Jongin punya seorang Noona, ujar Chae Mi dalam hati.

            “Ara. Aku akan mengurusnya besok. Hari ini aku menjenguk temanku yang sakit.” Jongin menggumam beberapa saat lalu menutup teleponnya.

            “Kau punya seorang Noona?” Na Young membulatkan matanya kagum.

            “Ne, tapi dia tidak tinggal di Seoul saat ini,” Jongin mengernyitkan dahinya,”Waeyo?

            Na Young menyeruput habis kopinya yang sudah dingin,”Aku sangat ingin punya seorang Eonnie atau Oppa. Aku hanya punya Dongsaeng yang menyebalkan.”

            “Aku punya seorang Oppa,” Chae Mi sendiri tidak tahu kenapa Ia tiba – tiba menceritakan keluarganya,”Tapi akhir – akhir ini dia jarang pulang ke rumah jadi aku hanya berdua dengan Ahjumma. Aku sangat ingin punya Dongsaeng sehingga aku tidak sendirian lagi.”

            Teka – teki Jongin mulai terpecahkan. Mungkin permintaannya pada Moon Seongsaem kemarin-mengajak Chae Mi tinggal di rumahnya juga-tidak terlalu muluk mengingat satu dan lain hal.

            Moon Seongsaem muncul dari arah kamar Sehun. Ia menghampiri murid – muridnya yang duduk melingkar di kafetaria kemudian menarik salah satu kursi di samping Na Young.

            “Aku akan menyampaikan keputusanku. Keputusan yang menyangkut kalian semua.” Moon Seongsaem berdehem pelan.”Sehun akan tinggal di rumahku bersama Jongin tapi karena beberapa hal yang tidak bisa aku ungkapkan, aku minta Oh Chae Mi untuk tinggal di rumahku juga.”

            Chae Mi membulatkan matanya tidak percaya. Pikirannya mulai kusut karena memikirkan beberapa hal sekaligus. Kemana kakaknya akan pulang jika Ia tidak ada di rumah? Bagaimana dengan Ahjumma? Ia sadar keadaannya sangat berbahaya sekarang tapi semua ini terlalu cepat untuknya.

            “Aku akan menghubungi ayahmu untuk meminta izin. Waktu aku menelepon ayahmu tempo hari, Ia bilang kau tinggal dengan seorang Ahjumma dan Oppa tapi aku telah menimbang – nimbangnya sebelum ini,” Moon Seongsaem melirik Jongin sekilas,”Aku memikirkan keselamatan kalian semua.”

            “Han Na Young juga bisa tinggal di rumahku. Anhi, kalau orang tuamu tidak keberatan aku juga akan membawamu ke rumahku.” Tambah Moon Seongsaem.

            “Ne?” Na Young memandang Moon Seongsaem tidak percaya.

            “Aku juga akan bicara dengan orang tuamu,” Jelas Moon Seongsaem. Ia berdiri lalu menoleh pada Jongin,”Kita akan pindah. Segera kemasi barang – barangmu.”

            “Saem, aku akan pulang besok. Ada dokumen Noona yang harus aku urus.” Jongin menahan kepergian gurunya. Guru itu mengangguk yakin lalu beranjak meninggalkan ketiga muridnya.

 

 

*****

 

 

            Interior ruang tamu rumah Jongin sudah tidak beraturan lagi bentuknya. Semua kertas yang tergabung dalam sebuah bussiness file bertebaran. Jongin tahu pasti bahwa Ia harus merapikan semua itu nantinya tapi sekarang yang paling penting adalah menemukan dokumen kakaknya.

            Jongin membongkar bussiness file hijau diantara rak buku. Tepat sekali, itu terselip disana. Orang bilang saat mencari pertama kali dalam keadaan panik, carilah kedua kali dengan tenang. Ia memisahkan bussiness file itu kemudian merapikan sisanya yang berserakan.

            Tiga puluh menit berlalu dan Jongin sudah berhasil menyusun kembali kertas – kertas yang berserakan dalam file. Ia meletakkan file – file itu ke dalam rak seperti semula. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Ia baru akan meraih gelasnya ketika seseorang datang.

            “Eoh?” Jongin mendapati seorang namja di depan rumahnya. Ia membungkukkan tubuhnya.

            “Annyeonghaseyo. Aku teman lama Yoo Rin. Apa dia ada di rumah?” Tanya namja itu ramah. Ia balas membungkuk.

            “Dia tidak ada di rumah. Memangnya-,” Jongin memandangi penampilan namja ini. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan masker juga memakai kacamata hitam,”Siapa namamu?”

            “Song Ki Joon. Geurasseo, aku permisi. Sampaikan salamku pada Yoo Rin.” Ia membungkuk sekilas lalu menghilang di balik pagar. Jongin ikut membungkukkan tubuhnya lagi.

            Jongin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah lagi-melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Ia menuangkan air ke dalam gelasnya lalu segera meminumnya. Suara nyaring dering ponselnya menginterupsi kegiatannya lagi. Ia mengangkat tangan kanannya-menjawab telepon yang masuk.

            “Yeoboseyo, Noona.”

            “Jongin-a, kau sudah ambil dokumenku?” Suara kakak Jongin sepertinya tergesa – gesa.

            “Ne, aku sudah mengambilnya. Aku akan pulang ke rumah Moon Saem dan langsung mengirimkannya.” Jongin berbicara dengan tenang.

            “Ah, jinjja. Gomawo, Jongin-ie.” Kakaknya berangsur – angsur lega.

            “Noona,” Jongin tergelitik oleh kedatangan namja tadi,”Tadi ada seseorang yang datang. Dia bilang teman lamamu dan menanyakanmu. Namanya Song Ki Joon.”

            Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

            “Noona?” Jin Hyuk memastikan.

            “Jongin-a,” Suara Yoo Rin bergetar di udara,”Seperti apa orang itu?”

            Jongin mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai perubahan suara kakaknya dan berusaha mengingat ciri – ciri fisik namja itu,”Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena Ia memakai masker wajah dan kacamata hitam.”

            Yoo Rin kehilangan keseimbangan. Ia langsung menarik kursi untuk duduk dan menenangkan diri. Tangannya gemetar menggegam ponselnya.

            “Noona? Gwaenchanha?” Suara Jongin terdengar cemas dari balik ponsel.

            “Jongin-ah,” Yoo Rin mengumpulkan nafasnya yang sempat tercekat,”Song Ki Joon adalah teman SMP-ku dan saat ini Ia juga bekerja di tempat yang sama denganku. Aku baru saja menemuinya sebelum aku meneleponmu.”

            Perasaan gundah mulai melanda Jongin,”Geuronniga, tadi itu-,”

            “Kau harus mengingat orang itu. Jangan pernah bicara lagi dengannya. Hindari dia.” Potong Yoo Rin cepat sambil memegangi dadanya. Jongin termenung. Pikirannya melayang jauh pada beberapa hal yang pernah terjadi tiga tahun lalu.

 

 

*****

 

 

            Mobil putih Moon Seongsaem berhenti tepat di depan sebuah rumah megah kawasan Apgujeong. Seorang wanita paruh baya turun dari pintu depan mobil diikuti oleh keempat orang remaja yang membawa kardus di tangannya masing – masing. Jongin meletakkan kardusnya di aspal lalu menutup pintu mobil sebagai yang terakhir keluar.

            Interior rumah sempurna dengan dominasi kayu. Jongin tercengang memandangi betapa luasnya rumah ini. Rumah yang akan Ia tinggali bersama guru dan ketiga temannya. Hanya saja rumah ini begitu kosong. Tidak ada foto atau apapun yang menunjukkan identitas pemilik. Jongin pernah datang ke rumah ini sewaktu kakaknya tinggal dengan Moon Seongsaem tapi Ia tidak benar – benar yakin rumah itu sebesar ini.

            “Disini ada lima kamar. Kamar utama ada di bawah-itu adalah kamarku,” Moon Seongsaem memulai penjelasannya,”Selanjutnya di lantai dua ada empat kamar yang dibatasi ruang tengah. Dua kamar berada di sisi kanan ruang tengah dan dua lagi di sisi kiri. Sisi kanan ditempati oleh Chae Mi dan Na Young karena lebih dekat dengan tangga. Sisi kiri oleh Jongin dan Sehun. Masing – masing satu kamar mandi di sisi kanan dan kiri ruang tengah. Juga, kamarnya kalian bisa pilih sendiri. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa begitu cocok ada empat kamar.” Moon Seongsaem mengecilkan volume suaranya di kalimat terakhir.

            “Ne, Seongsaemnim. Gamshahamnida.” Keempat remaja itu membungkukkan tubuh mereka dalam – dalam. Mereka sibuk mengangkut beberapa kardus di dekat pintu.

            “Aku harus membeli sofa dan beberapa furnitur lainnya.” Moon Seongsaem memandang miris rumahnya yang kosong. Ia kemudian melenggang keluar rumah.

            “Chae Mi-ya, aku disini saja, ya?” Na Young menunjuk kamar pojok diantara kedua kamar yang mereka akan tempati. Chae Mi mengangguk santai. Na Young terkekeh lalu tangannya menyentuh kenop pintu perlahan. Ia mendorongnya sedikit lalu menengok ke dalam. Beberapa saat kemudian Ia mematung di tempat.

            “Waeyo?” Chae Mi sedikit khawatir melihat ekspresi Na Young. Ia mengintip dari balik pintu keadaan kamar Na Young. Kamar itu seukuran dengan kamarnya namun semua benda di dalamnya terlihat baru.

            “Moon Saem menyiapkan ini semua untuk kita.” Gumam Na Young. Chae Mi melebarkan pintu untuk Na Young-mempersilahkannya masuk. Na Young memasuki kamar dengan ekspresi yang tidak berubah. Kagum.

            Tangan Chae Mi bergerak menyusuri kenop pintu. Ia menemukan hal yang sama dengan Na Young. Semua benda di dalamnya sama persis. Ia menarik kopernya masuk ke kamar. Interior rumah ini tidak jauh berbeda dengan rumahnya.

            Keadaannya tidak jauh berbeda dengan kamarnya. Sebuah jendela tinggi yang menghadap taman belakang rumah ada di sudut kamarnya. Ia harus berterima kasih sekali pada Moon Seongsaem yang rela mengeluarkan biaya besar untuk mereka berempat.

            Chae Mi keluar sambil menutup pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamar Na Young dan menyuruhnya keluar.

            “Na Young-ah, kita harus memberikan kejutan untuk Moon Saem.” Chae Mi berjalan menyusuri ruang tengah bersama Na Young.”Kita beritahu Sehun dan Jongin.”

            Na Young dan Chae Mi berhenti di depan kamar sisi kiri ruang tengah atas. Mereka mengangguk mantap satu sama lain. Na Young mengetuk pintu pojok terlebih dahulu. Pintu itu terbuka dan sosok Sehun nampak tersenyum lepas melihat kedua gadis itu di depan kamarnya.

            “Lima belas menit lagi di ruang tengah. Ada yang perlu kita diskusikan.” Na Young mengedipkan matanya jahil pada Chae Mi.

            “Arayo.” Sehun melemparkan senyum sejuta pesonanya pada Chae Mi dan Na Young. Kemudian Ia menutup pintunya kembali.

            “Ah,” Na Young membulatkan matanya,”Aku harus telepon Moon Saem. Jangan sampai Ia pulang sebelum kita menyiapkan semuanya.”

            Na Young bergegas meninggalkan Chae Mi sendirian di depan pintu kamar Jongin. Ia mengepalkan tangannya yang terhenti di udara-hendak mengetuk pintu kamar Jongin-saat merasakan detak jantungnya yang berubah menjadi cepat. Ia menahan nafas selama beberapa menit.

            Chae Mi akhirnya berhasil mengetuk pintu kamar Jongin. Tiga kali Ia mengetuk pintunya tapi tak ada sahutan dari Jongin. Ia memberanikan diri untuk menekan handle pintu dan mengintip. Tidak ada siapapun di dalam.

            “Jongin-a.” Ia membesarkan volume suaranya. Tidak ada siapapun. Hanya ada setumpuk buku Jongin yang belum dirapikan di atas meja.

            Tiba – tiba saja pintu kamar Jongin berderit. Chae Mi yakin itu pasti Na Young. Ia akan loncat – loncat kegirangan karena Moon Seongsaem pulang terlambat. Chae Mi berbalik dengan sudut bibir terangkat.

            Tapi Ia malah melihat Jongin. Topless. Hanya memakai celana rumah santai.

            Chae Mi mematung beberapa saat. Pikirannya blank. Ia mendadak melupakan semuanya dan tidak bisa berpikir jernih. Detak jantungnya berdetak sangat cepat. Ia sudah lupa caranya bernafas. Darah berdesir begitu cepat-Ia bahkan merasakan wajahnya memanas.

            Sepersekian detik kemudian Ia langsung menutupi wajahnya dengan tangan. Ia berjalan kaku menuju pintu tapi malah menabrak sesuatu yang kokoh. Tembok? Sepertinya bukan.

            “Sedang apa di kamarku?” Suara Jongin terdengar sangat jelas di daun telinga Chae Mi. Ia baru menyadari bahwa Ia menabrak tubuh Jongin.

            “Aku-,” Chae Mi mengumpulkan kembali ingatannya,”L-lima belas menit lagi di ruang tengah. Ada yang harus kita diskusikan.”

            Aroma tubuh Jongin yang lembut dan manis pasti membuat siapapun yang berada di dekatnya betah. Begitupun Chae Mi, Ia sangat menikmati aroma tubuh namja ini.

            Chae Mi menggelengkan kepalanya cepat-menepis semua pikiran liar itu. Tapi sesuatu yang lain menyentuh kedua tangan yang tidak lepas menutupi wajahnya. Tangan lain-tangan besar Jongin-menyentuh tangannya lembut, mengangkatnya perlahan dari wajah Chae Mi. Chae Mi masih menutup kedua matanya. Ia tidak berani menatap Jongin.

            “Chae Mi-ya, aku akan memakai bajuku dulu. Kau masih tetap mau disini?” Seuntai senyum jahil menarik sudut bibirnya. Matanya berkilat – kilat nakal melihat rona merah di pipi gadis keras kepala ini. Chae Mi bahkan seolah dapat mendengar senyum Jongin yang terulum diantara kata – katanya.

            Chae Mi menggeleng cepat,”Mian. Aku kira kau tidak ada disini. Mianhae.

            Chae Mi berjalan gugup-berusaha menggapai pintu. Tapi lagi – lagi kepalanya terantuk sesuatu yang kokoh dan kali ini Ia yakin itu tembok. Ia enggan membuka matanya sedikitpun jika belum keluar dari kamar itu. Berkali – kali Ia merutuki dirinya dengan kata ‘Aish’ saat gagal menemukan kayu kokoh yang memisahkan kamar dengan  ruangan bebas. Akhirnya setelah beberapa menit berkutat dengan ruang hampa, Ia menggapai pintu lalu menekan handle-nya cepat – cepat. Ia keluar dengan selamat. Helaan nafas panjang keluar dari bibir Chae Mi yang berada di balik pintu kamar Jongin. Ia kemudian mengutuk dirinya sendiri karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya.

            Jongin, di sisi lain, tertawa terpingkal – pingkal melihat perubahan ekspresi Chae Mi. Baru kali ini Chae Mi kedapatan begitu gugup dan kaku di hadapannya. Jongin mengambil kaos raglan biru mudanya dari dalam lemari kemudian memakainya asal sambil terus mengingat awkward moment tadi. Ia menyelipkan tawa kecil ketika memorinya memutar ulang kejadian yang baru saja berakhir beberapa menit lalu.

27 pemikiran pada “Camouflage (Chapter 8)

  1. Iii ya ampuuun geregetan ama jongin 😀 moon songsaenim kok prasaan kaya bnget thor ? Trus chae mi tau drimna klo sehun disekap di gudang ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s