My Pervert Devil (Chapter 1)

mpd-e1396096505999

 

 

Title : My Pervert Devil

Author : AngevilBoo

Main Cast :

Oh Se Hoon (EXO)
Kim HyunRa (OC)

Other Cast : You’ll find them~

Length : Chaptered

Genre : Romance, Family, Angst(?)

Rating : PG17 or Mature

Disclaimer: I dont own anything beside Story and OC. This is pure My Imagination. If there are similarities, it’s not intentional and I apologize. The other cast belongs to God and their parents. Thank You^^

Poster Credit : http://cafeposterart.wordpress.com/ (Andinarima)

.

Author’s POV

Seorang Pria tengah duduk dengan santainya diatas kursi-kursi bar yang menjulang tinggi. Beberapa orang wanita di Pub itu terlihat menatapnya dengan tatapan menggoda, tapi tak dihiraukannya. Ia masih sibuk meneguk minumannya.

Hari sudah menunjukkan pukul 2 pagi, tapi ia masih belum berniat untuk pulang. Hingga sebuah suara memanggilnya.

“Hei, Oh Sehun.” 

Pria tampan berusia 21 tahun itu menoleh, saat mendengar namanya. Terlihat Lelaki berkulit agak gelap menghampirinya dengan smirk khas miliknya.

“Kau masih disini. Sudah kuduga.”

Pria bernama Sehun itu tak memperdulikan sahabatnya itu yang kini duduk disebelahnya.

“Hei, apa kau akan tidur dirumahku lagi hari ini?” tanya Kai-lelaki berkulit kecoklatan itu pada Sehun yang sedang memesan minuman, lagi.

Sehun menoleh dengan wajah dinginnya. “Kenapa? Kau keberatan kah?”

“Tidak. Mungkin… sedikit,” jawab Kai dengan nada pelan, tetapi cukup untuk pendengaran Sehun. Pria itu memutar bola matanya malas.

Mungkin wajar jika Kai merasa keberatan, jelas saja. Sehun sudah 4 hari menginap di rumah sahabatnya itu. Ia begitu malas untuk kembali ke Rumah nya sendiri. Yang sebenarnya jauh lebih nyaman dari rumah Kai. Tapi rasa kesal dan marah dalam dadanya masih sulit dihilangkan. Rasa muak terhadap Ayahnya sendiri. Mungkin ini salah, tapi seorang Oh Sehun begitu membenci ayahnya sendiri. Yang sudah seenaknya mengatur hidup pria itu.

Awalnya Pria itu hanya menanggapinya dengan kesal biasa. Tetapi, lama kelamaan Lelaki tua itu semakin mengganggu hidupnya. Hingga puncaknya, tepat sekitar seminggu yang lalu. Peristiwa memuakkan bagi Sehun. Lelaki tua itu menjodohkannya. Bukan, Sehun tidak tahu pasti. Tetapi yang jelas, Lelaki tua itu memaksanya untuk segera menikah. Jika tidak, Sehun tidak akan mendapatkan sepeserpun harta warisannya. Dasar Lelaki tua gila.

Pria tampan itu memang sudah lama membenci Ayahnya sendiri. Semenjak Kematian Ibunya, Ayah nya itu dengan begitu mudah membawa dan bermain dengan wanita lain, bahkan belum tepat seminggu setelah kepergian Ibunya.

Sehun mengacak rambutnya. Rasa kesal kembali menghampirinya, diikuti rasa lelah dan kantuk. Setelah berpikir cukup lama, Pria itu memutuskan untuk kembali ke Mansion Oh. Rumahnya sendiri. Berharap Ayahnya tak berada di rumah, mungkin sibuk di tempat para wanita simpanannya itu.

Sehun bangkit dari duduknya, yang kemudian mendapat lirikan dari Kai, “Kau pergi? Ke rumahku kah?” tanya Kai yang mendapat tatapan tajam dari Sehun. Pria itu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Dan sepertinya Kai tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri. Pria itu tersenyum miring, Ia mengenal Sehun dengan baik. Pria itu pasti sedang dalam mood yang tidak baik.

Dan jika sudah seperti itu. Satu-satunya tujuan Sehun untuk menenangkan diri adalah dengan melihat wajah Ibu nya yang terpampang besar di dinding. Dan itu hanya berada di kamar Sehun sendiri.

***

Sehun mengendarai mobilnya, memasuki kawasan Mansion Oh yang megah dan luas. Pria itu memarkirkan mobilnya tepat di depan Pintu utama, dan tanpa perduli, ia keluar dari sana dan masuk dengan langkah gontai yang sedikit sempoyongan. Ini akibat banyaknya minuman yang diteguknya.

Beberapa pelayan dan pengawal menunduk hormat melihatnya masuk. Tanpa mempedulikan mereka, Sehun segera berjalan kearah kamarnya. Pria itu melangkahkan kakinya menaiki tangga, hingga tepat saat berada di hadapan pintu kamar, sesuatu menarik perhatiannya.

Terlihat pintu kamar yang berada di hadapan kamarnya sedikit terbuka. Sehun tahu kamar itu. Itu hanya sebuah kamar kosong, yang dulu dihuni oleh Hyungnya. Tetapi bukankah sekarang Hyung nya itu sedang berada di luar negeri untuk kuliah. Kenapa kamarnya terbuka? Apakah ia sudah pulang?

Mengikuti instingnya, dengan penasaran dan perlahan Pria itu mendekati pintu kamar itu. Ia membukanya dengan pelan. Terlihat ruangan itu masih kosong, seperti biasa. Arsitektur putih bersih dan mewah seperti kamarnya. Pria itu hendak berbalik, sebelum matanya menangkap sebuah objek. Mungil. Diatas tempat tidur besar. Seorang gadis tengah tertidur dengan damainya.

Siapa dia?

Dengan langkah hati-hati, ia memasuki kamar itu dan berjalan mendekat. Matanya menatap lekat objek gadis yang tengah tertidur itu. Hingga ia dapat melihatnya dengan jelas.

Seorang gadis dengan kulitnya yang terlihat begitu putih. Melebihi Sehun sendiri. Wajahnya terlihat damai dan pucat. Sehun termangu, ia menatap gadis itu dengan teliti. Matanya terpejam dengan bulu mata yang begitu lebat dan panjang. Hidung nya mancung dan mungil, dan bibir tipis berwarna pink pucat itu. Dirangkup dengan wajah ovalnya yang sempurna. Sehun merasa berbeda.

Entah bagaimana ia merasa damai menatap wajah gadis itu. Bagai wajah bayi dan boneka kecil yang manis. Bagai melihat wajah Ibu nya sendiri, ia merasakan tenang dihatinya.

Sehun mengira-ngira gadis ini pasti jauh lebih muda darinya. Pria itu masih betah termenung menatap gadis yang tengah tertidur itu. Hingga sebuah suara yang begitu ia benci merusak segalanya.

“Bagaimana? Kau menyukainya?”

Sehun membalikkan tubuhnya malas. Melihat seorang lekaki tua yang begitu ia hindari selama beberapa hari ini. Lelaki tua itu tersenyum, berjalan mendekati putra bungsunya dengan santai, meski tahu betapa anaknya itu membenci dirinya.

“Apa maksudmu?” tanya Sehun dengan begitu dingin, dan tatapan tajam kearah Ayahnya sendiri.

“Tidakkan kau menyukainya? Dia untukmu.” Sehun semakin bingung, tetapi pria itu menyembunyikannya dengan tatapan menusuk dan raut wajah datar.

Lelaki tua yang tak lain adalah Ayah Sehun sendiri, menghela nafas pelan. “Gadis itu milikmu. Aku membelinya untukmu,” jawabnya santai.

Sehun mebulatkan matanya. Rahang pria itu mengeras menahan kesal. Membelinya? Ia pikir gadis itu barang?

“Kau.. Untuk apa kau membelinya untukku? Aku bukan sepertimu!” ucap Sehun dengan nada marah. Pria itu mengepalkan tangannya.

“Untuk menjadi milikmu. Bukankah aku sudah pernah mengatakan, bahwa kau takkan bisa mendapatkan apapun jika belum memiliki sebuah ikatan. Kau bisa menggunakan gadis ini. Terserah padamu jika kau ingin menikahinya atau tidak.”

“Kau pikir aku butuh bantuanmu? Aku bisa melakukannya sendiri! Berhentilah mengatur hidupku!”

Sehun hendak pergi meninggalkan kamar itu, sebelum ucapan Ayah nya menghentikan langkahnya. Lelaki tua itu kini berada tepat disebelah tempat tidur dimana gadis itu terbaring.

“Jika kau tidak mau, aku akan memberikannya pada Luhan. Atau… mungkin untukku.”

Sehun segera berbalik, Lelaki tua itu tengah memandang gadis itu. Tangannya hampir saja menyentuh pipi mulus gadis itu jika saja Sehun tak menghentikannya.

Pria itu menahan tangan Ayahnya, sembari menatap tajam kearahnya. Dengan nada yang begitu dingin dan datar, ia berucap.

Jangan sentuhkan tanganmu sedikitpun padanya.

Lelaki tua itu tersenyum miring, lalu menjauhkan tangannya.

“Sayang sekali, tapi baiklah.” Ayahnya pun berbalik dan melangkahkan kakinya ke arah pintu, sebelum kembali menoleh dan berkata dengan nada tulus.

Tolong jaga dia.” Lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu.

Sehun menoleh, mengernyit heran mendengar perkataan Ayahnya barusan. Lalu kembali menatap wajah polos yang masih terlelap itu. Sehun kembali merasa Aneh. Ia merasa tak rela melihat gadis itu disentuh orang lain. Ia merasa ingin sekali memilikinya.

Entah berapa lama Sehun terdiam, sebelum berbalik menuju pintu. Tanpa sadar, pria tampan itu menyeringai memikirkan sesuatu yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Tersenyum miring saat berbalik menatap tubuh mungil gadis itu. Lalu menutup pintu kamar itu pelan. Dan masih dengan senyumnya, ia kembali melanjutkan rencananya tadi untuk ke kamarnya dan beristirahat.

Senyumannya bagai Iblis yang bahagia karena berhasil mengurung seorang Malaikat. Ya, mereka memang berhasil mengurungnya.

***

Hyunra’s POV

Aku merasakan beban yang begitu berat di kepala dan pundakku. Begitu berat hingga rasanya seperti tak sanggup untuk bangkit. Perlahan aku pun membuka mataku. Menetralisir cahaya yang masuk. Hingga yang pertama kali kulihat adalah warna putih. Putih bersih. Langit berwarna putih. Dan lama kelamaan bayangan itu semakin jelas, dan menggambar sebuah objek. Sebuah ruangan. Aku tak mengenal tempat ini. Ini bukan kamarku.

Kududukkan diriku, memandang sekeliling aneh.Otakku terus berputar. Dimana aku? Kamar siapa ini? Begitu luas dan mewah. Aku melihat, mencari seseorang untuk bertanya, tapi aku sendirian. Kepalaku mendadak pusing.

Ayah. Dimana Ayah?

Mendadak sebuah memori berhasil kutangkap. Memori yang terjadi beberapa waktu lalu, lebih tepatnya kemarin malam. Menyedihkan.

Aku merasakan sesak di dadaku memikirkannya. Kenapa Ayah begitu tega? Sekarang aku bahkan tak memiliki siapapun lagi. Ayah adalah satu-satunya keluarga yang kupunya. Tanpa sadar air mataku pun menetes.

Dengan langkah berat aku bangkit dari dudukku. Berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar ini. Pintu kamar mandinya saja terlihat begitu megah. Tanpa sadar aku kembali terkagum melihat kamar mandinya yang mewah, seiring dadaku yang semakin berdenyut nyeri.

Kutatapi diriku di wastafel. Wajahku begitu pucat seperti hantu, dengan air mata yang mengalir. Aku kembali menangis. Kenapa dunia begitu kejam? Apa salahku?

Air mataku terus-terusan menetes, aku terduduk dilantai. Kupeluk erat kedua lututku, meringkuk menutupi wajahku. Pasti jelek sekali. Ibu selalu bilang, jika aku menangis, aku terlihat sangat jelek. Karena itulah Ibu melarangku untuk menangis.

Tapi sekarang aku menangis, aku tidak dapat menahannya. Ibu pasti akan marah jika mengetahuinya. Maafkan aku Ibu.

Ibu. Aku ingin bertemu Ibu. Aku merindukannya.

***

Author’s POV

Sehun menggerakkan tubuhnya pelan. Merasa terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamarnya. Ia kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Beberapa saat ia mencoba untuk kembali tertidur. Tetapi tak bisa. Bahkan Pria itu sudah bergonta-ganti gaya untuk mencari posisi yang nyaman. Merasa jengah, Sehun pun bangkit terduduk. Ia mengumpat pelan.

Sehun melirik jam dinding yang tersangkut di pojok kamar. Pukul 7 lewat. Ia bahkan baru tidur selama 4 jam.

Perutnya berbunyi. Ia merasa lapar. Tentu saja, terakhir kali ia makan adalah kemarin siang. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kembali merasa lapar. Dengan langkah malas dan berat, Pria tampan itu berdiri. Berjalan ke kamar mandi untuk membenahi diri sementara.

Setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Pria itu memakai kaus hitam polos tipis nya. Dengan rambut bangun paginya, dan wajah yang masih basah. Itu sudah cukup untuk membuat para gadis berteriak histeris seperti orang kesurupan.

Sehun berjalan keluar kamar. Memilih untuk mengisi perutnya yang memberontak. Tepat saat ia sudah berada di luar, ia menatap sebuah pintu dihadapan kamarnya. Pria itu terlihat berpikir. Kemudian melangkahkan kakinya mendekati pintu itu.

Sehun membuka pintu kamar itu pelan lalu melihat kedalam. Kosong. Pria itu mengalihkan pandangannya ke tempat tidur. Kosong. Sehun menaikkan sebelah alisnya. Tempat tidur itu masih terlihat sedikit berantakan.

Kemana dia?

Tak berapa lama, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Sehun segera mengalihkan pandangannya. Terlihat seorang gadis dengan piyama putih yang terlihat kebesaran ditubuhnya keluar dari sana.

Pria itu terpaku.

Gadis itu menundukkan kepalanya. Rambutnya terlihat sedikit berantakan, yang justru membuatnya terlihat manis. Saat gadis itu mendongakkan kepalanya, barulah Sehun dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas.

Pucat dan matanya terlihat sedikit membengkak. Sehun dapat menebak bahwa gadis itu pasti habis menangis. Wajahnya basah, sepertinya ia baru saja mencuci mukanya. Sehun masih diam, memandangi gadis yang belum menyadari kehadirannya ini.

Hyunra sendiri masih sibuk mengucek matanya. Hingga ia mendongakkan kepalanya. Buram. Lalu beberapa saat matanya terbelalak melihat seorang Pria tengah memandanginya dengan tatapan tajam.

Hyunra tak dapat memungkiri bahwa ia juga terpesona. Pria itu begitu tampan. Wajahnya yang sempurna dengan dagu V line, tatapan tajam, rambut acak-acakan dan kulit putih yang pas dengan kaus hitamnya . Mungkin jika gadis itu tidak habis menangis, pasti ia sudah berteriak histeris.

K-kau siapa?” tanya gadis itu terbata-bata. Ia menatap Pria dihadapannya dengan tatapan takut. Sehun mengetahuinya. Ia masih memilih diam, menatap gadis yang tengah memandanginya ketakutan dengan tatapan bagai anak kecil. Lucu sekali.

“Apakah ini kamarmu?” tanya Hyunra lagi. Masih tak ada jawaban.

“Ka-kalau begitu Maaf. A-aku akan segera pergi.”

Gadis itu merasa takut dan merinding melihat tatapan tajam Sehun padanya. Hingga akhirnya dengan langkah hati-hati sambil menundukkan kepalanya, ia berjalan menuju pintu kamar. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya. Hyunra menoleh.

Kau mau pergi kemana?

Hyunra merasa merinding mendengar nada dingin Pria itu. Sehun sendiri tak tahu mengapa justru nada sedingin itu yang keluar dari mulutnya. Padahal gadis itu tak memiliki kesalahan apapun padanya. Otaknya tiba-tiba bekerja sendiri. Tidak terkendali.

“A-aku ingin bertemu dengan Ayahku.”

Sehun diam. Memandang gadis yang tengah menatapnya polos itu.

“Bisakah kau melepaskanku? Aku ingin pulang.”

Hyunra menatap Pria dihadapannya takut-takut. Sembari menunggu cengkeraman pria ini terlepas dari lengannya. Gadis itu terus menundukkan kepalanya.

“Pulang? Bukankah kau sudah dibeli?” Hyunra terbelalak, ia segera mendongak menatap Pria itu.

“Be-beli? Ap-apa maksudmu?” Otak gadis itu berpikir cepat. Mengingat sosok yang ia lihat tadi malam, dan setelahnya gadis itu tertegun. Lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku tidak dibeli oleh siapapun. Aku bukan barang,” bantah gadis itu lantang. Sehun mengernyitkan alisnya.

“Tapi kenyataannya kau memang sudah dibeli, Nona!”

“Tidak. Aku mohon, lepaskan aku. Aku harus pergi!” Hyunra memohon pada Sehun sambil berusaha menarik lengannya dari cengkraman tangan Pria itu.

Tidak.”

Hyunra terkejut mendengar jawaban Pria dihadapannya ini. Gadis itu semakin memberontak dari genggaman Pria itu. tapi seakan tenaganya tak berarti apa-apa bagi Sehun. Pria itu sendiri yang sudah mulai merasa kesal, menarik tangan mungil digenggamannya. Membuat tubuh gadis itu mencondong kearahnya.

“Dengar, mulai sekarang Kau milikku! Kau harus mendengarkanku!”

Tubuh Hyunra menegang. Dengan sisa tenaganya, ia kembali memberontak. Gadis itu menginjak kaki pria itu kuat, hingga cengkramannya terlepas. Dengan cepat ia melarikan dirinya menuju pintu, tetapi belum sempat tangannya menyetuh knop pintu kamar, kembali sebuah lengan kekar melingkar dipinggang kecilnya. Menarik tubuh mungilnya hingga membentur dinding. Gadis itu merasakan ngilu dipunggungnya, ia meringis kecil. Dan sekarang Pria itu tepat berada dihadapannya. Dekat sekali.

Hyunra kembali meronta dalam pelukan pria yang kini melingkarkan tangannya dipinggangnya. Tangan pria itu terlalu besar, dan tenaganya sangat jauh lebih kuat darinya. Gadis itu memukul dada bidang Pria itu. Merasa ketakutan.

“Lepaskan aku! Aku bukan milikmu.”

Sehun tak perduli dengan rontaan gadis itu. Baginya pukulan gadis itu hanya sentuhan biasa. Tak berpengaruh apa-apa.

Hyunra terus memukul dada pria itu sambil berteriak mengelak perkataan Sehun, hingga membuat pria itu merasa kesal. Ia belum pernah ditolak oleh seorang Gadis sebelumnya. Dengan marah, Ia membungkam bibir gadis dihadapannya itu dengan bibirnya. Melumatnya kasar dan rakus.

Hyunra? Gadis itu terbelalak. Tubuhnya kaku sebelum kembali tersadar, dengan sisa tenaganya ia berusaha mendorong Pria itu menjauh. Tapi tetap tak berpengaruh apa-apa. Ia terus memukul dada Sehun, merasa sesak. Pria itu tak memberinya sedikitpun celah untuk bernafas. Bibirnya terus bergerak kasar, memojokkan gadis itu ke dinding. Merasa terganggu dengan pukulan ringan gadis itu, Sehun menangkap tangan mungilnya.

“Hmppt…”

Seakan tuli, Sehun terus menggerakkan bibirnya. Melumat bibir bawah dan atas gadis itu secara bergantian. Manis. Bibirnya terasa manis.

Tanpa sadar air mata gadis itu mengalir. Sehun mengetahuinya. Tapi ia tak perduli. Pria itu melembutkan sedikit ciumannya. Dan setelah beberapa lama, barulah ia mau melepaskan bibir mungil itu.

Gadis itu dengan segera menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dadanya naik turun, tubuhnya melemas, dan wajahnya kembali pucat. Berbeda dengan bibirnya yang justru memerah. Sehun memandanginya. Pria tampan itu menyeringai melihat wajah gadis dihadapannya yang kelelahan dan kehabisan nafas.

Dengan tenaga yang begitu lemah. Hyunra kembali berusah mendorong dan memukul Sehun.

“Lepaskan aku. Hiks…”

Lagi, Sehun tak perduli. Pria itu kembali mendekatkan wajahnya, membuat gadis itu memalingkan wajahnya kesamping, sembari terus memukul dada Sehun. Suara isakan kecilnya terdengar. Tubuhnya bergetar ketakutan.

Sehun mendekatkan mulutnya kearah telinga gadis itu, dan berbisik seduktif.

“Dengar, mulai sekarang Aku adalah Tuanmu! Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Kau Milikku!”

Lalu Pria itu melepaskan pelukannya pada pinggang ramping gadis itu. Dan pergi keluar kamar begitu saja.

Tepat setelah Sehun melepaskannya dan keluar, tubuh gadis itu merosot dan jatuh kelantai. Tubuhnya terasa begitu lemah dan lemas hingga tak sanggup menahan berat badannya. Ia belum pernah diperlakukan seperti ini, ia belum pernah merasakannya, karena ia belum pernah disentuh oleh pria lain selain Ayahnya. Hyunra merasa seakan trauma dengan sentuhan pria itu.

Gadis itu memeluk kedua lututnya ketakutan. Dan menenggelamkan wajahnya. Tubuhnya bergetar, dan ia pun kembali menangis. Ia benar-benar takut. Ia ingin pergi.

Tapi tak ada jalan untuk kembali.

-TBC-

Cut~

Oke, segini dulu chapter 1 nya^^ Sebenarnya masih panjang, tapi saya bagi-bagiin aja jadi beberapa chapter 😉

Mian ya, kalau mengecewakan atau nggak sesuai harapan. Saya senang banget dan terharu waktu ngelihat komentnya. Nggak nyangka ada yang minat. Dan saya juga senang dibilang keren-___-V #plakk. Dan juga maaf kalo yang kemarin itu tulisannya dempet, kayaknya saya yang nggak pandai ngirim. Padahal seharusnya ada poster, foto, dan tulisannya udah saya edit serapi mungkin. Sekali lagi, Mian dan Makasih.

Hihi.. seperti biasa, lanjutannya tergantung sama peminatnya. Saya nggak maksa kok^^

Tertanda,

Luhan beserta Istri

 

349 pemikiran pada “My Pervert Devil (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s