My Teacher is My Husband (Chapter 4)

Tittle: My Teacher is My Husband (Chapter 4)

Author: Earthlings0812 (@rizqil_amni)

Genre: School life, marriage life, comedy, romance.

Lenght: Chapter

Cast:

– Xi Luhan

– Park Nayoung

– Byun BaekHyun

Support cast : cari sendiri okeeee!!!

Annyeong ketemu lagi sama author. Nih dikasih next chapnya deh semoga sesuai sama yang kalian harapkanya.. J)

HAPPY READING~~~

 

 

PREVIEW:

“young-a mau pulang bersama?” tawar Baekhyun yang sudah ada didepan Nayoung.

“a..” saat akan menjawab tawaran Baekhyun handpone Nayoug bergetar menandakan ada pesan masuk.

From: orang menyebalkan -_-

Young-a ku tunggu kau di tikungan tadi pagi kau turun.

Nayoung langsung membalasnya dengan cepat.

Dan setelah membalas Nayoung langsung menjawab tawaran Baekhyun.

“mianhae hyunie, aku tak bisa mungkin lain kali ya” tolak Nayoung dengan halus

“ohh begitu ya, ya sudah aku duluan annyeong” pamit Baekhyun

“ne nado annyeong” balas Nayoung setelah Baekhyun pergi Nayoung langsung berjalan ke tempat tikungan tadi.

Nayoung yang melihat mobil Luhan sedang menunggu, langsung memasukinya. Tak selang beberapa menit mobil Luhanpun langsung melaju.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka.

“sudah ku duga pasti ada sesuatu dengan mereka..”

Chapter 4

Nayoung pov

Selesai sekolah tadi aku langsung dihubungi Luhan oppa, seperti yang dia bilang mulai hari ini dia yang mengantarkanku kemanapun termasuk ke sekolah.

“oppa, apa kita akan langsung pulang?” tanyaku

“hmm terserah kau saja, wae kau ingin jalan-jalan?” tawarnya

Dalam hati aku ingin mengiyakan tawaran itu, tapi saat teringat kejadian tadi pagi Baekhyun yang memergokiku turun dari mobil Luhan oppa membuatku harus lebih waswas.

“tapi.. bagaimana jika ada yang tau?” tanyaku dengan khawatir

“ya seberusaha mungkin jangan sampai ketauan oleh yang lain” jawabnya

“oppa ada yang ingin aku katakana” ucapku

“malhaebwa” sahutnya

“tadi pagi Baekhyun melihatku turun dari mobilmu” jelasku

“lalu?”

“ya dia menanyaiku seperti mengintrogasi seorang tersangka dalam kasus pencurian” kataku lagi

“ohh begitu” ya tuhan hanya itu responnya, apa ada yang salah dengan makhluk ini?

“hanya itu responmu?” Tanyaku kesal

“ lalu harus bagaimana lagi?” dia malah balik bertanya, jika aku habis kesabaran akan kupastikan rambut kecoklatannya itu rontok samapi habis.

“ya setidaknya kaget atau apapun itu” ucapku

“ya baiklah” jawabnya dengan pasrah, tunggu seperti ada yang salah dengan dia, biasanya jika berdebat denganku dia tidak ingin kalah dan aku akui dia memang sama keras kepala sepertiku.

“oppa wae geurae?” tanyaku heran

“aniyo nan gwenchana” jawabnya.

“geotjimal” ucapku dengan memaksa.

“baiklah aku jelaskan, jika tadi pagi kau ketahuan Baekhyun, aku lebih parah lagi aku ketahuan oleh kepala sekolah” jelasnya yang membuat mataku terbelalak

“jinjayo?” tanyaku heboh, dia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.

“lalu bagaimana?” tanyaku lagi apa oppa bicara dengan jujur?”

“pabboya” ucapnya sambil menoyor kepalaku, hey saat menyetir saja dia masih sempat menoyor kepalaku.

“ishhh jangan menoyor kepalaku begitu” protesku

“habisnya kau itu tidak bisa berpikir panjang, apa kau gila? Mana mungkin aku berbicara jujur. Bisa-bisa aku dipecat” katanya

“ lalu kau bicara apa?”

“ya aku bilang tadi aku bertemu denganmu di halte, karena kebetulan rumahmu dan rumahku dekat dan kau sedang menunggu bis tapi tidak ada juga jadi aku berinisiatip untuk memberi tumpangan untuk ke sekolah” jelasnya, tapi tunggu alas an yang Luha oppa pakai sama seperti yang kukatakan pada Baekhyun.

“oppa bilang begitu?” tanyaku memastikan

“hmmm”

“oppa kau tau, alasan yang oppa pakai sama seperti alasanku pada Baekhyun untuk mengelak” kataku sedikit heboh.

“ahh jinja?” Tanya luhan oppa

“hmm” jawabku sambil mengangguk

“wahh ternyata jodoh memang tidak kemana” ucapnya

“mwoya?” tanyaku

“iya, jodoh memang tidak kemana” jawabnya sambil sedikit terkekeh.

“kenapa berasumsi seperti itu?”

“kau tidak tau, orang tua bilang kalau ada sesuatu kesamaan diantara seorang laki-laki dan perempuan berarti mereka berjodoh”

“jinjayo? Tapi aku tidak mau ada asumsi seperti itu” protesku

“kau ini tidak mau ada asumsi seperti itu, tapi itu terjadi pada kita” katanya

“apa terjadi apa? Tidak terjadi apa-apa diantara kita” ucapku tidak mau kalah

“masih mau mengelak? Kau tidak ingat kita akan menikah 2 minggu lagi, bukannya itu tandanya kita berjodoh” ucapannya sungguh membuatku kesal, entah kenapa aku selalu lupa kalau aku akan menyandang sebagai istri orang sebentar lagi.

“berjodoh dengan dipaksa lebih tepatnya” ucapku sambil memandang kearah Luhan oppa.

Setelah percakapan itu tidak ada lagi yang berbicara lagi. Dan kulihat Luhan oppa menepikan mobilnya disuatu tempat. Aku berpikir ini dimana?

“oppa kita kemana?” tanyaku

“ikuti saja aku, kajja keluarlah” ajaknya

Aku menuruti saja permintaannya, dia menggandeng tanganku, ketika masuk gedung yang lumayan ramai itu aku baru sadar kalau ini perpustakaan kota.

“oppa untuk apa kita kesini?” tanyaku heran

“duduklah” katanya sambil menarik bangku untukku.

Author pov

Luhan langsung meninggalkan Nayoung untuk mencari buku bahasan untuk olimpiade nanti. Luhan memang sengaja mengajak Nayoung kemari untuk memberinya materi sebagai pembekalan untuk lomba.

Setelah beberapa menit mencari akhirnya Luhan mendapatkan buku-buku yang dia butuhkan. Mungkin ada setumpuk buku ang dia bawa.

Brukk.. Luhan menyimpan buku-buku itu dihadapan Nayoung. Nayoung menyerngitkan dahinya.

“untuk apa ini?” Tanya Nayoung heran

“tentu saja untuk kau pelajari” jawab Luhan cuek

“dengan semua buku ini?” Tanya Nayoung lagi

Luhan mengangguk. “oppa mana mungkin aku membaca semuanya” rengek Nayoung.

“ku bilang baca saja dulu kalau ada yang tidak mengerti baru tanyakan padaku” jawab Luhan keukeuh dengan argumennya.

“nan shireo, aku malas membacanya” tolak Nayoung

Luhan mulai kesal. “terserah apa katamu, aku tidak mau tau kau harus membacanya”

“ishhh dasar menyebalkan” gerutu Nayoung. Sudah 45 menit Nayoung membaca buku materi itu tapi tak ada satupun yang ia mengerti.

“oppa aku menyerah, tidak ada yang aku mengerti sama sekali” ucap Nayoung dengan pasrah.

“kan sudahku bilang kalau ada yang tidak mengerti tanyakan saja padaku” ucap Luhan masih sibuk dengan buku yang sedang ia baca.

“tapi semuanya aku tidak mengerti”

“kau ini bagaimana mau ikut olimpiade itu kalau tidak mengerti sama sekali” ucap Luhan tanpa memandang Nayoung sama sekali.

“tapi aku tidak pernah meminta untuk mengikuti lomba itu” kata Nayoung mulai kesal.

“ya tapi setidaknya kau mencoba dulu” kata Luhan

“terserah oppa” kata Nayoung cuek. Nayoung kira dengan dia berkata cuek seperti itu Luhan akan membujuknya seperti biasa, tapi ternyata tidak sama sekali.

Sudah 15 menit Nayoung diam dan memandang Luhan yang sedang anteng dengan buku yang sedang dia baca.

“oppa..” panggil Nayoung.

“hmmm” sahut Luhan masih terus membaca buku.

“oppa kau ini kenapa? Dari tadi aku malah didiamkan seperti ini” protes Nayoung.

“kalau kau bosan kenapa tidak baca buku materi yang aku berikan” balas Luhan.

“dasar menyebalkan” umpat Nayoung lalu berdiri.

Nayoung terus berjalan dan jangan lupa dengan gaya ciri khasnya ketika marah yaitu menghentakkan kakinya.

“dasar menyebalkan, pantas saja mantan kekasihnya meninggalkannya” Nayoung terus mengumpat.

“lihat bahkan dia tidak mengejarku, calon suami macam apa itu” Nayoung langsung memberhentikan taxi dan langsung menyuruh supir ke tempat yang ia tuju kemana lagi kalau bukan ke rumah.

Sedangkan ditempat lain Luhan masih memandang kososng buku didepannya, konsentrasinya mulai buyar saat Nayoung beranjak pergi dari sini. Luhanpun langsung membereskan  semua buku yang dia pinjam. Setelah selesai dia langsung menuju mobilnya yang terparkir diluar.

“kenapa malah dia yg marah? Harusnya aku yang marah, saat di mobil dengan seenaknya bilang berjodoh dengan dipaksa lebih tepatnya, saat disuruh baca buku malah marah-marah, cihh dasar kekanakan” umpat Luhan tapi dalam hatinya dia sangat khawatir Nayoung pulang naik apa, dan yang paling ia takutkan adalah saat dia ketahuan tidak mengantarkan Nayoung pulang, dan malah membiarkannya pulang.

“Luhan neo neomu pabboya” ucap Luhan pada dirinya sendiri.

Luhan pov

Setelah memarkirkan mobilku digarasi aku langsung memasuki rumah, dan ku lihat rumahpun sepi tak ada orang dirumah.

Kebetulan Shin ahjumma lewat “ahjumma, eomma eoddiga? Mei Lin nado?” tanyaku

“nyonya sedang pergi ke kediaman calon istri anda tuan muda, kalau nona Mei Lin dia sedang ada les tambahan disekolahnya” jelas Shin ahjumma dan jawaban yang pertama itu membuatku terbelalak kaget.

“ada apa tuan muda?” tanya Shin ahjumma langsung membuyarkan lamunanku.

“aniyo, hanya saja tumben eomma tak ada dirumah, kalau begitu aku permisi keatas” ujarku

“ne tuan muda”

Aku langsung menaiki tangga menuju kamarku. Sesampainya dikamar aku langsung merapihkan tasku dan memilih pakaian yang akan aku kenakan. Saat akan memasuki kamar mandi tiba-tiba aku teringat malam itu, ya dimana Nayoung memintaku untuk menemaninya tidur. Aku yang mengingat kejadian itu hanya tersenyum, aku langsung kepikiran Nayoung lagi apa dia sudah sampai dirumah? Ahh lebih baik aku mandi dulu baru akan ku hubungi Nayoung.

Selang 30 menit, aku selesai dengan ritual mandiku. Dan sesuai dengan janjiku aku akan langsung menghubungi Nayoung. Aku langsung memainkan jari-jariku diatas layar ponsel touch screenku, setelah mendapatkan nama kontak yang aku cari aku langsung menghubunginya, tidak ada jawaban.

Sekali lagi aku mencoba, dan tidak ada yang menyahut juga. “ayolah Nayoung jangan membuat aku khawatir seperti ini” aku mulai resah sekarang.

“apa aku harus ke rumahnya untuk memastikan?” aku menimang-nimang “tapi jika aku kesana bagaimana kalau eomma bertanya padaku?” aku mulai ragu dengan adanya argumen yg satu ini.

“lebih baik aku kesana untuk memastikan daripada aku disebut calon suami yang tidak bertanggung jawab”

Aku langsung mengambil jaketku dan mengambil kuci mobilku di nakas.

Beberapa menit kemudian aku sampai dirumah Nayoung.

Tingtong.. tingtong.. aku menekan bel , tak selang beberapa menit seorang pelayan membuka pintu gerbangnya.

“apa Nayoung ada dirumah?” tanyaku sesopan mungkin

“ada tuan muda, silahkan masuk” pelayan itu mengajakku masuk.

Saat diruang tamu aku melihat eomma dan eomma Nayoung sedang berbincang, mungkin karena eomma Nayoung menyadari kehadiranku, dia langsung menyapa.

“ohhh Luhanie, kau berkunjung?”

“ne eommonim” jawabku “apa Nayoung ada?” tanyaku langsung

“eohh dia ada di kamar dan dari tadi dia tidak mau keluar” jelas eomma Nayoung.

“ahh jinjayo?” tanyaku kaget

“iya dia tidak mau keluar, bahkan saat tau ada eomma disini dia tidak mau keluar” jawab eommaku

“apa yang terjadi?” tanya eommaku khawatir

“aniyo tadi hanya ada kesalahpahaman sedikit eomma” jawabku

“geurae? Tapi kenapa saat dia pulang wajahnya sangat kusut bahkan terlihat sedang kesal? Kau apa kan calon istrimu huh?” tanya eommaku penuh selidik.

“aniyo.., baiklah aku keatas dulu eomma, eommanim” pamitku sambil membungkuk.

“sebegitu kesalkah dia padaku, sampai tidak mau keluar kamar sama sekali, bhakan ada calon mertua bekunjung” pikirku “tapi kita lihat bagaimana jika calon suaminya yang berkunjung apa dia akan keluar?”

Saat sampai didepan pintu kamar Nayoung ku lihat ada seorang pelayan yang sedang membujuk Nayoung untuk keluar.

“ahjumma apa dia masih belum mau keluar?” tanyaku

“ne tuan dari tadi nona terus mengurung diri dikamar” jawab pelayan itu

“apa ada kunci duplikatnya?” tanyaku

“sepertinya ada, tunggu sebentar tuan” pelayan itu langsung pergi dari hadapanku.

Tokktokk tokktokk aku mengetuk pintu kamar Nayoung.

“ahjumma sudah kubilang aku tidak ingin keluar” sahut Nayoung dari dalam, dia masih mengira aku pelayannya.

“young-a ini aku” jawabku

“untuk apa kau kesini huh?” dia membentak dari dalam. WOW dari nadanya saja aku yakin masih sangat kesal padaku.

“makanya buka dulu, aku ingin berbicara denganmu” kataku.

“nan shireo, pergilah sana” dia mengusirku, ya tuhan.

“buka jika tidak aku akan mendobrak pintunya” ancamku

“dobrak saja jika kau berani” dia menentangku.

“tuan ini kuncinya” pelayan tadi menyodorkan kunci duplikat kamar Nayoung.

“ahh khamsamnida” ucapku, aku langsung membuka pintu kamar itu dengan perlahan agar Nayoung tidak menyadarinya.

“biar aku yang menangani Nayoung, ahjumma kebawah saja” kataku

“ye tuan”

Saat ku masuki kamar benuansa biru muda itu, hanya satu objek yang menjadi pusat perhatianku. Ya siapa lagi kalau bukan Nayoung yang sedang bergulung didalam selimutnya.

Aku langsung menyibakkan selimutnya. Dan apa yang ku lihat dia sedang menangis.

“eohh bagaimana oppa masuk?” dia terlihat kaget.

“cepat bangun” perintahku

“shireo” tolaknya.

“setidaknya kau ganti dulu seragammu, kau tidak ingat kau masih sekolah” kataku

“aku tidak akan sekolah besok” ucapnya sambil menyilangkan tangannya didepan dada.

“musun seoriya?” kataku kesal

“aku tidak mau pergi ke sekolah” ulangnya.

“kenapa?”

“aku tidak mau bertemu dengan oppa” jawabnya polos.

“ohh ayolah Nayoung kau ini ketua kelas, mana mungkin bertindak kekanakan seperti ini” ucapku sambil menarik tangannya.

“aku bilang tidak mau, lalu apa hubungannya dengan aku menjadi ketua kelas huh?”  dia berusaha melepaskan tangannya dari tarikanku.

“kubilang ayo bangun”

“nan shireo” dan terjadilah tarik-tarikan antara aku dan Nayoung.

Dan akhirnya aku jatuh tepat diatas Nayoung, tiba-tiba terlintas ide jahil di otakku.

“kau masih tidak mau bangun? Kalau begitu bagaimana kalau kau kucium” ancamku

“apa yang oppa lakukan?” tanyanya mulai panik, meilhat wajahnya yang panik aku malah makin gencar menjahilinya dengan semakin mendekatkan wajahku.

“op..pa” dia mulai gelagapan. “awas kalau begitu aku ganti baju” dia langsung mendorongku.

Aku yang melihat itu hanya terkekeh geli, ternyata rencanaku tidak sia-sia juga. Aku langsungmemegang dadaku, ohh ada apa ini kenapa berdetak seperti ini?

Nayoung pov

Kenapa tiba-tiba dia ada dikamarku? Padahal pintu kamar sudah ku kunci. Dan ancaman macam itu main cium-cium saja seenak jidatnya. Tapi tunggu kenapa dadaku berdebar tidak karuan seperti ini, ahh Park Nayoung mungkin itu wajar karena kau kaget, aku berusaha positive thinking.

Aku langsung keluar dari kamar mandi, dan sudah tidak ada Luhan oppa dikamarku, kemana dia? Aku menengok keluar, ternyata dia sedang duduk di sofa dekat kamarku.

“eohh kau sudah selesai?” tanyanya.

“iya, ada apa?” aku malah balik bertanya

“aku ingin bicara masalah tadi denganmu tapi sepertinya tidak disini.” Ucapnya lalu menarik tanganku.

“oppa kita akan kemana?” tanyaku heran

“kajja kita keluar” ini lah yang aku tidak suka darinya main tarik-tarik tangan orang.

“Nayoung kau akan kemana?” tanya eomma.

“eommonim boleh aku pinjam Nayoung sebentar?” kata Luhan oppa

“ohh tentu saja, akhirnya kau keluar juga hmm? Ternyata pawang Nayoung adalah Luhan” ucap eommaku.

“eomma aku ini bukan harimau yang perlu pawang” proteku.

“ya lah terserah apa katamu” kata eomma, aku langsung mepoutkan bibirku.

“Luhanie kau akan kemana?” tanya eommaku

“kami akan berkencan” kata Luhan oppa yang langsung membuat mataku terbelalak.

“eohh baguslah, sana cepatlah pergi Nayoung memang tidak suka terlihat berkencan dengan namja”

“ne eommonim kalau begitu saya pamit dulu” pamit Luhan oppa, tapi aku masih bengong, apa katanya kencan?

“hati-hati ya, jaga anak gadis kesayanganku” ucap eomma

“cha masuklah” ajak Luhan oppa

Aku langsung masuk kedalam mobil.

Selama dalam mobil aku masih diam dan malas membuka pembicaraan. Dan ku lihat Luhan oppa menepikan mobilnya. Taman bermain? Aku berkencan disini? Oh ayolah lebih baik diam dirumah dari pada harus kedinginan disini.

“kajja” ajaknya

“oppa kenapa kita kesini? Kalau hanya bicara kita bisa di taman belakang rumahku” kataku

“siapa bilang aku hanya ingin bicara denganmu, aku juga ingin kencan tidak ada salahnya kan? Kajja” katanya.

“tapi.. tadi”

“aku ralat perkataanku tadi” ucapnya lalu keluar dari mobil, dan mau tak mau aku mengikutinya. Dan dia menggandeng tanganku lagi.

“oppa, lepaskan nanti ada yang lihat” kataku sedikit risih

“biarkan saja” ucapnya cuek.

“aishhh” gerutuku.

“kajja kita naik itu” ajaknya sambil menunjuk bianglala.

Setelah kami memasuki, bianglala aku langsung duduk berhadapan dengan Luhan oppa.

“baiklah kenapa kau tadi marah padaku?” tanyanya langsung.

“oppa itu sangat menyebalkan, bahkan saat aku pulang dengan marah oppa tadi tidak mengajarku” jawabku. Kulihat dia menghela nafas.

“baiklah yang itu aku minta maaf, kau tidak tau kenapa aku mendiamkanmu dan mencuekanmu seperti tadi?” aku hanya menggeleng.

“kau tak ingat perkataanmu saat dimobil menuju perpustakaan kota?” tanya Luhan oppa membuatku berpikir keras.

“memang aku berkata apa?” tanyaku polos.

“kau berkata berjodoh dengan terpaksa, dan itu membuatku kesal juga” jelasnya

“ohh yang itu, tapikan aku hanya bercanda” aku membela diri.

“bercanda apanya, nada bicaramu terdengar seperti serius” katanya

“ya baiklah aku minta maaf” ucapku

“gwenchana, aku juga minta maaf atas perlakuanku yang tadi” katanya aku hanya mengangguk.

Aku mendongak dan saat aku melihat kearah lain, coba kalian tebak apa yang aku lihat? Aku melihat sepasang kekasih entah itu suami istri sedang berciuman. Aku langsung menutup mataku.

“wae young-a?” Luhan oppa terlihat heran, aku hanya menggeleng.

Dan dia juga melihat kearah yang tadi aku lihat.

“kenapa? Kita juga bisa melakukannya” katanya sambil bersmirk ria. Ya tuhan ku mohon jangan lagi.

Aku memejamkan mataku erat, ku mohon jangan dibibir, bibirku masih suci. Dadaku berdetak cepat dan CHUP~, satu kecupan hinggap dipipi kananku. Aku langsung membuka mataku dan melihat Luhan oppa sedang tersyum lembut.

“tenang saja aku tidak akan mencium bibirmu bukan saatnya untuk sekarang” ucapnya “tapi saat dialtar entahlah aku tak tau” katanya sambil tertawa geli, aku yang melihat itu langsung memukul lengannya.

Setelah dari turun dari bianglala, kami meneruskan acara yang bisa dibilang kencan ini. Aku mengajaknya ke toko aksesoris yang ada disana, aku mencoba bando berbentuk telinga beruang itu dan aku memasangkan bando berbentuk telinga kelinci ke kepala Luhan oppa, kami tertawa bersama.

“young-a ayo kita berfoto” ajak Luhan oppa.

Yah ini lah penyakit akutku jika sudah melihat kamera aku langsung saja bergaya. Setelah beberapa kali bergaya aku melihat hasilnya, dan aku terus tertawa melihat hasil fotonya.

Saat aku iseng terus melihat foto-foto hasil tadi tiba-tiba terpampang lah foto seorang yeoja dengan luhan oppa yang kuakui dia memang lebih cantik dariku, dan aku berasumsi kalau ini mantan kekasih Luhan oppa.

“young-a wae?”  tanya Luhan oppa

“ani oppa, ini ponselmu” aku langsung mengembalikan ponselnya. Dan aku merasa dadaku sakit melihat foto tadi. Ya tuhan ada apa denganku?

Aku mengusap tanganku karena memang udara hari ini lebih dingin dari yang kemarin.  Aku merasakan ada yang melampir dipundakku.

“kenapa kau begitu ceroboh tak memakai mantel atau jaket” kata Luhan oppa.

“aku kan tidak tau kalau luhan oppa akan mengajakku keluar seperti ini” ucapku.

Dia menarik pundakku agar tidak merasa kedinginan. Dan menarik tanganku dan meniupnya.

“masih merasa dingin?” tanyanya yang aku yakin kalau pipiku sudah memerah sekarang.

“ani oppa” jawabku sambil menggeleng.

Kami terus berjalan sambil bergandengan tangan.

“oppa aku lapar, bisa kita makan?”

“arra” dia langsung menarikku memasuki sebuah café.

Setelah memasuki café kami langsung memilih tempat duduk dan langsung memesan makanan,  sambil menunggu makanan kami berbincang ringan aku menceritakan penghuni kelas dan sontak membuatnya tertawa. Dia juga meceritakan masa sekolah menengahnya yang ternyata dia memeng sudah banyak penggemar karena keahliannya dibidan akedemik dan non akademik. Tak selang beberapa menit makanan pesanan kami datang. Aku langsung memakannya, ya ku akui aku sedang lapar karena dari tadi aku belum makan sama sekali.

Setelah selesai makan aku langsung meminum jus favorite apalagi kalau bukan strawberry. Ku lihat Luhan oppa masih makan.

“oppa chakkaman” ucapku sontak membuat ia menghentikan aktivitas makannya.

“lihat kau makan sangat berantakan sampai belepotan seperti ini” ucapku sambil membersihkan makanan itu dari mulutnya. Saat sudah selesai  Luhan oppa langsung memegang tanganku.

“oppa..” panggilku gugup

“young-a” panggilnya langsung berjongkok dihadapanku.

“oppa ireona, aku tidak enak dengan yang lain” ucapku sambil melihat sekeliling dan benar saja semua orang yang ada di café semuanya sedang memperhatikan kami berdua.

“ani, aku tidak mau bangun, dengarkan aku dulu, mungkin ini tidak romantis tapi, aku ingin melamarmu secara resmi dan pengunjung café ini yang menjadi saksinya, Park Nayoung will you merry me?” ucapnya sambul membuka sebuah kotak berisi  sebuah cincin dan perkataan itu membuatku terdiam. Saat aku mendengar suara riuh dalam café aku langsung tersadar.

“ne oppa” ucapku sambul tersenyum malu dia langsung merengkuhku kedalam pelukannya. Dan sorakan itu semakin menjadi karena mungkin mereka menyaksikan drama gratis dihadapan mereka.

Dan setelah dari café kami memutuskan untuk pulang. Selang beberapa menit kami sampai dirumahku.

“oppa gomawo” ucapku

“cepat masuklah, disini dingin” ucapnya

“arra” ucapku lalu berbalik

“young-a” panggilnya aku langsung berbalik dan saat itulah Luhan oppa mencium keningku.

“masuklah palli” aku masih mematung.

“nayoung” panggilnya langsung membuyarkan lamunanku.

“ne oppa, hati-hai dijalan” aku langsung lari kedalam rumah.

“bagaimana kencanmu?” tiba-tiba eomma muncul dihadapanku.

“eomma kau buat aku kaget” ucapku sambil mengelus dada.

Eomma seperti erlihat memperhaikanku. “eomma wae?” tanyaku mulai risih.

“chakkaman, sejak kapan kau memakai cincin?” Tanya eomma penuh selidik.

“eohh ini, tadi luhan oppa yang mmberikannya” jawabku dengan malu.

“aigoo jinjaya?”  Tanya eomma, aku hanya mengangguk.

“eomma aku keatas dulu” pamitku. Aku langsung berlari menuju kamar.

Sesampainya dikamar aku menghempaskan tubuhku dikasur. Dan mengangkat telapak tanganku, aku tersenyum melihat sebuah benda baru melingkar di jari manisku, aku tidak menyangka Luhan oppa senekat itu. Aku tersentak kaget saat ponselku bordering, saatku lihat Luhan oppa menelponku. Hey ini nahkan belum satu jam.

“yeobseo?” sapaku duluan

“young-a kau sudah tidur?” tanyanya

“Ani aku belum tidur” jawabku

“ohh baguslah”

“wae oppa?” tanyaku

“ani, mungkin aku sudah rindu lagi padamu” aku mengerlingkan mataku malas

“gombal” ucapku

“ani, aku serius” jawabnya

“ya baiklah-baiklah, tapi ini belum satu jam saat oppa pulang” ucapku

“tapi yang namanya rindu bagaimana lagi?”

“oppa, kapan oppa mempersiapkan itu semua?” tanyaku

“mwo?” tanyanya malah balik bertanya.

“itu yang tadi ketika di café”

“ohh kau ingat saat ke toko aksesoris?” tanyanya

“eohh aku mengingatnya”

“saat aku sedang anteng dengan barang yang kau cari, tanpa sengaja aku melihat sebuah cincin dipajang disana dan aku langsung membelinya” jelasnya

“lalu kenapa oppa bisa terpikir rencana tadi?” tanyaku lagi sambil berguling-guling dikasur.

“ya aku teringat masalah yang kau bicarakan, aku tidak mau kau menganggap aku main-main dengan pernikahan ini ya jadi aku melakukan ini semua, karena dalam kamus hidupku tidak ada seorang Luhan yang tampan ini menukah lebuh dari satu kali” aku cengo mendengar penuturannya.

“young-a”

“ne oppa?” sahutku

“tidurlah sudah malam, besok pagi aku akan menjemputmu”

“arra, oppa jalja”

“ne jalja” piip sambungan telpon langsung terputus.

Author pov

Seperti biasa pagi hari Nayoung dijemput Luhan, dan hari ini tidak ada perdebatan seperti biasa. Mengingat apa yang terjadi pada mereka kemarin malam.

“kyung jin” panggil Nayoung

“hmmm? Wae kau terlihat sangat bahagia?” selidik kyung jin

“kau tau kemarin aku mendapat kejutan dari Luhan oppa”

“mwoya?” Tanya Kyung Jin lagi

“aku dilamar olehnya, jengjeng” ucap Nayoung sambil memperlihatkan jarinya.

“ommo?!” pekik Kyung Jin “kenapa guru itu begitu romantis?”

“aku juga tidak menyangka dia bisa seperti ini, biasanya dia sangat menyebalkan” jawab Nayoung

“aku iri padamu” ucap Kyung Jin

“ya sekarang aku merasa beruntung punya calon suami seperti dia” ucap Nayoung bangga

“eyyy kau ini dulu kau kesal padanya, giliran dapat momen romantis saja seperti ini”

“aku ralat perkataanku jin-a, dan sepertinya aku mulai menyukainya” jelas Nayoung.

“aisshh kau ini” ucap Kyung Jin sambil menjitak kepala Nayoung.

“appoyo” rengek Nayoung

Tanpa Nayoung dan Kyung Jin sadari sedari tadi Baekhyun memperhatikan mereka berdua.

“calon suami? Luhan songsaengnim melamar Nayoung bagaimana bisa?” batin Baekhyun

Tanpa terasa bel istirahat berbunyi Nayoung dan Kyung Jin langsung menuju kantin, saat mereka sedang makan tiba-tiba ada teman Nayoung yang menghampiri.

“nayoung kau dicari Luhan songsaengnim” katanya

“wae geurae?”

“nan molla, kau disuruh keruangannya”

“ahh ne gomawo” ucap Nayoung ramah

“wahh kau dipanggil calon suamimu?” goda Kyung Jin

“ya, kalau mau bicara lihat situasi dulu, bagaiamana jika ada yang dengar” Nayoung memperingati

“arra arra, cepat sana nanti dia marah”

“aishh kau ini”

Nayoung langsung berjalan keruangan guru, dan ketika sudah sampai Nayoung langsung memasuki ruang guru dan menuju meja Luhan.

“wae op.. eh songsaengnim?” Tanya Nayoung. “Aduh hampir kelepasan” ucap nayoung dalam hati.

“aisshh kau ini jika akan memanggilku dengan oppa lihatlah situasiku, bagaimana kalau guru yang lain dengar? Kau ingin aku dipecat?”

“ya baiklah, ada apa songsaengnim?”  Tanya Nayoung langsung

“nanti sepulang sekolah, eomma bilang kita harus ke buik langganannya untuk mencoba baju pengantinmu” jelas Luhan

“secepat itu kah?” Tanya Nayoung kaget

“ya, mau bagaimana lagi pernikahan kita tinggal menghitung hari, dan besok kita harus pergi membeli cincin” ujar Luhan

“ne arra, jadi hanya ini yang akan kau bicarakan?” Tanya Nayoung.

“hmmm” jawab Luhan diiringi anggukan

“ohh ayo lah Tuan Lu, kau bisa memberitauku lewat sms nanti”

“kalau kuberi tau kau lewat sms, kau akan lupa dan akanpulang dengan sahabatmu itu” jelas Luhan dengan nada tidak suka.

“arra kau bukan tidak suka tapi cemburu pada Baekhyun, sangat tidak etis cemburu pada muridnya sendiri” goda Nayoung

“wajar aku cemburu karena kau itu calon istriku”

“jika mengelak saja kau jagonya” ucap Nayoung.

“sudah cepat sana, aku sudah selesai bicaranya”

“dan kau mengusirku? Aishh menyebalkan sekali dia, baru kemarin dia bersikap romantis tapi sekarang kembali lagi ke sifat asalnya.” Gerutu Nayoung

Dan bel pulangpun berbunyi. Nayoung langsung masuk kedalam mobil Luhan agar tidak ada yang melihatnya.

Tapi siapa sangka ternyata ada yang menguntit mereka dari belakang. Sesampainya dibutik langganan eomma Luhan Nayoung langsung masuk. Dan orang yang menguntit mereka berdua diam memperhatikan dari dalam mobilnya.

Nayoung dan Luhan langsung memilih baju pengantin yang akan dikenakan oleh Nayoung.

“oppa bagaimana dengan yang ini?” Tanya Nayoung

“emmm”Luhan terlihat menimang-nimang.

“otte?”

“tidak itu terlalu elegan dan terkesan dewasa, tidak cocok dengan wajahmu yang imut” jawab Luhan.

“bagaimana jika yang ini?” Luhan menyodorkan sebuah gaun pengantin kepada Nayoung.

“dasar namja mesum” ucap Nayoung dalam hati.

“oppa ini terlalu terbuka” protes Nayoung tidak setuju.

“tak apa itu bagus” jawab Luhan, dan Nayoung yang mendengar itu langsung menendang kaki Luhan.

Setelah itu mereka terus mencari dan malah terus berdebat pula, akhirnya dengan inisiatif lain, Luhan menyerahkan semuanya pada karyawan toko.

Setelah mendapatkan gaun yang pas pelayan toko mempersilahkan Nayoung unuk mencoba gaun pengantinnya.

“oppa” panggil Nayoung setelah mencoba gaun pengantinnya.

Luhan yang tadinya sedang membaca majalah langsung teralihkan perhatiannya ke atah Nayoung.

“Young-a”

TBC~~

Alhamdulillah akhirnya chapter 4nya selesai. Dan sekali lagi maaf banget kalau ff ini ngga sesuai permintaan yang pada minta lebih dipanjangin, karena keadaan author yang kurang sehat tapi maksain nerusin ini ff karena kasian sama reader yang makin penasaran mungkin. dan ngga nyangk ternyata efek udah ujian tuh kaya gini drop seketika. 😀

Dan author sedikit rada kecewa makin sini yang komen makin dikit, author harap banget buat partisipasinya buat komen. Dan author ngga mau ini ff terpaksa author protect. Dan ngga lupa makasih pula buat yang masih setia baca ff ini dan buat yang udah komen juga makasih banget karena itu penting buat author buat introspeksi lagi ini ff. maaf kalau masih ad kesalahan baik penulisan kata ataupun yang lainnya.

Sekali lagi jangan jadi siders okee hrgilah karya anak bangsa apalagi ngopas itu lebih parah lagi. Dan yang terakhir sampai jumpa di chapter berikutnya, annyeong~~ #bow

170 pemikiran pada “My Teacher is My Husband (Chapter 4)

  1. kayanya si penguntit baek deh, soalnya dia kan yang paling kepo.
    kayanya luhan akan terpesona melihat Nayoung pake gaun pengantin, wahhh jadi ngiri.
    dan lagi cieeee Nayoung dilama di depan umum, pasti nge fly banget.
    Next thor, FIGHTING^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s