Phobia (Chapter 2)

dfdhd

Title: Phobia (Chapter 2)
Author: Kim Ria
Genre: Romance(?),School life,Friendship,Family(?)
Length: Multi Chapter
Ratting: 13+
Main Cast: Jung Ga In | Woon Jin Ah | EXO (K&M)

Gain masih dalam posisi terdiam sambil melipat tangannya dan menatap kosong.Merenungkan hal yang sama, kekhawatirannya jika Sehun akan memberitahu kepada yang lain dan seluruh sekolah tahu jika hanya dirinya yang tak normal di sekolah ini.
JinA yang mulai risih dengan sikapnya itu. Ia sudah melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Gain namun hasilnya nihil, dan akhirnya hanya menghela nafas panjang saja. Melihat kelakuan Gain, benar-benar yeoja yang tak pernah berhadapan dengan namja batin JinA sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gain masih menerawang ke balik jendela. Hujan yang tak kunjung henti membuatnya masih terdiam dan hanya menambahi dengan desahan nafasnya.


“Hari ini pelajaran di kosongkan untuk mempersiapkan festival gugur. Jadi ada yang punya ide untuk tema kita kali ini?” Tanya Kris memecah keheningan yang baru saja menyelimuti hangat hati Gain, dan kini di dampingi Suho di sampingnya.
“Bagimana dengan rumah hantu?”
“Kedai, kedai!”
“Market!”
Dan masih banyak lagi yang terlontar dari mulut siswa satu kelas itu.Keramaian itu terus berlanjut bak, pejabat negara yang sedang berdebat hebat. Sehun berdiri berbiat untuk memberikan idenya.
“Bagaimana dengan tema,.. Pameran seni? Seperti gambar, fotografi dan yang bisa di pajang.” Kata Sehun. Suho berpaling ke Kris dan menanyakan mengenai pendapat Sehun.Kini siswa lain yang bernama Kyungsoo ikut angkat bicara.
“Aku setuju dengan Sehun. Tapi jika temanya hanya itu, bukankah terlalu kaku? Bagaimana di beri sedikit tambahan mengenai tumbuhan? Memberi beberapa tanaman lalu di buat menjadi taman kecil? Agar menjadi daya tarik tersendiri.” Kata Kyungsoo memberi usul.
“Idemu bagus Kyungsoo.” Puji Kris. “Ada yang lain?”Tanya Kris sambil meluaskan pandangannya.
JinA melirik ke arah Gain dan mengeluarkan senyum jahilnya. Gain sempat melihatnya dan hanya menelan ludahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ah! Bagaimana selain pajangan, kita juga menampilkan pelukisnya? Agar pengunjungi tertarik melihat cara melukisnya.” JinA juga tak mau kalah.
“Siapa pelukisnya? Memang mau?” Tanya Kris kepada JinA.
“Tentu ada, orangnya ada di sampingku. Jung Ga In!” Jawab JinA dengan semangat. Gain menoleh ke arah JinA dengan kesal sedangkan JinA menahan tawanya karena berhasil mengerjai Gain, Gain melotot melihat ke arah JinA.
Tatapan Gain seolah menandakan jika ia tidak setuju dengan pernyataan JinA barusan. Jika di bayangkan, gain di ibaratkan menjadi hewan sirkus yang di cambuk oleh pelatihnya. Padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun saat pertunjukkan.
“Baiklah, kalau begitu. Kita akan gunakan tema itu. 5 anak segera mengambil lukisan dan hasil fotografi kelas kita di kelas kesenian.5 anak menata tempat dan 6 anak beberapa mencari tanaman di toko terdekat.”Perintah Kris dengan tegas. Sedangkan Kris dan Suho sebagai ketua kelas harus mengurus angket-angket kelas untuk festival gugur besok.
Saat kelas hanya tinggal, Gain, JinA, Woori, Aeri dan Sehun saja.
Gain mengikuti JinA yang sudah mennyingkirkan meja-meja dan mencubit lengannya.
“Apa?” Tanya JinA dengan nada cueknya.
“Ya~ Kenapa kau bilang aku pelukisnya eoh?Ttanpa meminta setuju atau tidak denganku!” Gerutu Gain lalu menatap lurus JinA dengan kesal. JinA hanya tersenyum jahil lalu ada 1 ide yang melintas pikirannya.
“Bukankah dengan begitu, kau bisa ikut festival gugur? Tanpa harus berpusing mencari alasan dengan orang tuamu?” Tanya JinA. Gain menoleh dan mengangguk sambil tersenyum lebar tanda ia setuju. Benar juga, ternyata kenakalannya ada manfaatnya juga.Batin Gain sambil tersenyum kecil.Gain menepuk-nepuk pipi JinA gemas. Sedangkan JinA hanya menutup matanya lalu membalas menepuk pipi Gain.
–***–
Tugas menyiapkan kelas untuk di dekor, Gain dan JinA beristirahat di kantin. Namun bukannya mendapat ketenangan, Gain mendapat tugas untuk melukis di kelas keseniannya.Dengan malas Gain berjalan sendiri mengikuti Suho. Ia hanya diam sambil melihat bawah tanpa menatap sedikitpub ke arah Suho.
Setelah sampai Suho mempersilahkan Gain untuk masuk ke tempat yang di khususkan untuk melukis dan hanya ada dia dan Suho saja di ruangan itu.
“Melukislah di sini, berikan yang trebaik…. Aku pergi dulu, selamat melukis Gain!” Kata Suho sambil berlalu pergi.
Gain berjalan mencoba melihat sekitar. Rasanya berbeda jika ia sendiri di sini ketimbang bersama teman-temannya. Disini lebih tenang, dan ia merasa sangat nyaman dengan itu.
Gain berjalan ke tempatnya biasa melukis jika sedang ada di kelas seni. Di samping jendela. Tempat terbaik baginya.
“Baiklah, apa yang harus ku lukis?” Tanya Gain pada dirinya sendiri. Gain melihat ke langit-langit ruangan itu sambil berpikir keras. Sekilas ia melirik ke arah luar jendela. Ia melihat ada 2 yeoja sedang menikmati sekotak susu sambil membaca buku di temani pohon besar rindang. Berkas-berkas cahaya matahari yang melewati dedaunan itu dan dedaunan dan juga rumput di sekitarnya terlihat seperti berkilau karena bekas dari hujan tadi dan imembuat pemandangan sederhana itu menjadi istimewa.
Ia tersenyum melihatnya, ia menganggukkan kepalanya.Ia memperhatikan 2 yeoja itu kembali untuk meyakinkan dirinya untuk menjadikan mereka sebagai objek gambarnya.
Gain memulai menempelkan kuas yang ujungnya sudah terdapat warna itu ke kanvas putih kosong. Awal melukis memang terlihat kaku, namun lama-kelmaan Gain bisa menikmati dan terkadangn tersenyum tipis saat melukisnya.
Kreek….
Terdengar suara pintu terbuka namun Gain terliat tak memperdulikan hal itu, ia fokus dengan lukisannya itu.
“Mianhae, aku hanya mau mengambil lukisan saja.” Terdengar suara Sehun tanpa menoleh ke arah Gain. Gain menoleh, Oh Sehun… Batin Gain. Gain menjadi teringat saat hujan kemarin sore. Ia ingin sekali memanggil namanya dan memohon untuk merahasiakan phobia anehnya itu. Namun semua tubunya terasa kaku karena ia terlalu takut.
“Tenang saja aku akan diam masalah yang kemarin, memang itu hal seperti itu adalah hal istimewa yang harus di beritahu semua orang? Tidak kan”Kata Sehun dingin seolah bisa membaca pikiran Gain.Lalu pergi meninggalkan Gain sambil membawa lukisan yang ia bawa.
Gain tersentak mendengar pernyataan Sehun yang ia lontarkan baru saja. Itu memang hal yang ingin Gian dengar namun, bukan dengan cara dingin yang tak acuh seperti itu. Namun ia juga lega karena Sehun mengatakannya tanpa Gain minta.
Saat menghentikan langkahnya saat ia sampai di ambang pintu, ia membalikkan badannya mencoba melihat ke arah Gain. Sepertinya tadi aku mengatakannya terlalu kasar kepada anak 16 tahun.. Apakah dia marah? Pikir Sehun. Ia mencoba memfokuskan pandangannya pada wajah Gain dan menatap lekat mimik wajahnya untuk menentukan jika ia sedang menahan rasa marahnya atau tidak.
Namun yang ia dapat sunggingan seyum tipis dari Gain saat sedang melukis, Sehun sesaat menjadi batu tak sadar dengan apa yang ia lihat. Dalam sekejap Sehun langsung mengedip-ngedipkan matanya agar segera tersadar.
“Aaani, ani..” Gumam Sehun sambil menggelengkan kepalanya lalu membalikkan badannya dan keluar dari ruangan itu.
Saat Sehun baru saja keluar, Luhan terlihat tengah berjalan hendak masuk ke dalam. Saat melihat Luhan yang hendak masuk ke dalam ia memberinya jalan untuk lewat lalu kembali berjalan meninggalkan Luhan.
Luhan langsung menyapu semua ada yang di ruangan ini, dan menyunggingkan senyuman saat melihat Gain di sana. Walaupun memandang Gain tanpa Gain membalas menatapnya rasanya seperti sedang di hamparan rumput hijau dengan bunga-bunga indah mengelilinganya, sangat indah.
Luhan menelan ludahnya untuk mengurangi rasa gugupnya. Ia berjalan mendekati Gain dan berdiri di belakangnya. Ia memperhatikan tangan lentik Gain yang melukis dengan lihainya di atas kanvas.
Gain sedikit memperlambat tangannya saat melukis. Ia merasakan ada yang bernafas di belakangnya. Ia mencoba menahan rasa penasarannya dengan tidak menoleh sedikitpun, ia berharap agar seseorang itu bersuara dan membuanya akan tahu siapa ada yang di belakangnya.
“Lukisanmu bagus. Dapat dari mana ide seperti itu?” Tanya Luhan sambil berjalan dan kini berada di belakang kanvas dan tepat di depan Gain. Gain mengangkat kepalanya sambil menahan gugupnya.
“Eeee..Itu,..Aku tadi melihatnya di sana…” Jawab Gain mencoba dengan tergagap karena terlalu gugup.Luhan mendengar jawaban Gain menahan tawanya karena Gain terlihat lucu sekali di matanya.
“Aaaa… Kau hebat bisa memanfaatkan sekitarmu untuk melukis.” Puji Luhan dan kini ia duduk di tempatnya untuk melukis. Gain hanya tersenyum simpul mendengar pujian dari Luhan.
“Euumm..Aa, aa..Apa kau di sini juga melukis?” Kini Gain mulai memberanikan dirinya walaupun masih dnegan nada yang tergagap.
“Ne, aku diminta Suho. Dan akan menemanimu saat festival gugur besok.” Jawab Luhan sambil mengoleskan kuasnya pada cat air yang ada di palet.
DEG!Menemani?! Berdua dengannya? Ulang Gain dalam hatinya. Ia mencoba melihat ke arah Luhan dengan tatapan yang tak yakin. Dengannya? Xi Luhan? Siswa dari China itu??
–***–
(Rumah Gain)
Gain merebahkan dirinya di atas ranjang tidurnya. Ia menghela nafasnya panjang. Ia mengangkat tangannya dan memperhatikan tangannya. Tangannya, awalnya tangannya penuh dengan coreta cat air saat melukis tadi. Ia masih mengingat-ngingat saat ia melukis.Ia melukis dengan seorang namja tapi tetap saja rasanya ia sendirian karena tak ada yang bicara saat itu.
Bip!Bip!Bip!Bip!Bip!
Suara ponsel Gain terdengar sangat keras, memecahkeheningan di kamarnya. Dengan cepat Gain mengangkat telepon itu yang ternyata dari JinA.
“Yeoboseyo Gain?”
“Ne, Yeoboseyo eonni.”
“Aku akan ke rumahku..Aku sedang di perjalanan.Aku mau menjeputmu untuk mengajak ke tempat penitipan.”
“Mwo?Tempat penitipan?! Wuaaa!! Gomawoyo eonnie.. aku sangat kesana lagi..”
“Hahahahaha..Ne, aku tahu kau sangat senang..Bersiaplah, 5 menit lagi aku akan sampai.Annyeong~”
“Ne, annyeong~”
JinA sudah memtuskan panggilannya. Gain meletakkan ponselnya kembali dan menari-nari tak jelas karena snagat senang akan di ajak ke tempat penitipan milik JinA. Melihat anak-anak kecil membuatnya gemas dan ngin sekali mempunyai adik. Dan tentu saja Gain tidak akan pernah menolak ajakan jika itu.
–***–
(Penitipan Parkwoon)
Inilah tempat yang sekarang Gain dan JinA tempati sekarang.Suasana riuhnya teriakan senang atau tangisan anak kecil sudah terbiasa di dengar mereka. Ini adalah ke-3 kalinya Gain berkunjung ke tempat penitipan milik JinA.
“Di kelas panda ada anak baru lo.” Kata JinA kepada Gain.
“Namja?Yeoja?” Tanya Gain sambil menolehkan kepalanya ke arah JinA.
“Namja.” Jawab JinA sambil membuka pintu kelas bunga matahari.”Jika kau mau bertemu, kau masuk sendiri ne? Aku akan di sini.. Di kelas panda ana Karin eonni.” Kata JinA sambil memasuki kelas bunga matahari.Gain mengehla nafasnya lalu memasuki kelas yang ada di seberang kelas bunga matahari. Kelas ‘panda’.
Suara ramai bak dalam pasar, ya suara riuh dari para anak-anak. Ada yang tengah bermain sendiri dengan pesawat mainan, berebut mainan sampai menangis. Dan ada yang hanya diam membaca buku di rak buku kecil di sudut ruangan.
“Kudengar ada sanak baru? Dimana anak baru itu? Siapa namanya?” Gain menghujani Karin dengan pertanyaan sendiri.
“Itu yang sedang membaca, namanya Yoohyun. Umurnya 4 tahun.“ Jawab Karin sambil menggendong seorang yeoja kecil yang bernama Minra.Gain emnganggukan kepalanya dan segera berjalan mendekati Yoohyun.
Entah kenapa Gain mendekati anak itu. Ia hanya mengikuti hati dan tubuhnya saja, seolah telah memberi perintah untuk mendekati anak baru itu.
“Annyeonghaseyo, Yoohyun… Boleh noona di sini juga?” Sapa Gain dengan hangat. Yoohyun melihat ke arah Gain dengan dingin lalu menganggukan kepalanya.Sepertinya tatapannya seperti seseorang yang aku kenal.. Siapa?Pikir Gain saat mendapti anak itu menatap dingin ke arahnya.
“Suka membaca? “Tanya Gain sambil mengambil 1 buku cerita anak.
“Ne, aku sangat suka….” Jawabnya. Gain tersenyum tipis. Ia merogoh saku jaket jeansnya.
Ia mengambil lollipop kecil rasa apel dari sakunya. Aku yakin ia tak akan menolak permen ini…Batin Gain sambil terkekeh.
“Yoohyun! Lihat kemari!” Seru Gain. Yoohyun ,mengalihkan pandangannya dan kini menatap Gain. Tatapan Yoohyun berubah menjadi berbinar melihat lollipop apel kesukannya ada di tangan Gain.
“Kau suka ini?” Tanya Gain. Yoohyun mengangguk dan masih melihat ke arah lollipop itu, rasanya lucu sekali.
“Jika kau mau, ada 1 syarat yang harus kau penuhi…”Kata Gain sambil meatap serius ke Yoohyun.
“Apa?” tanya Yoohyun. Gain tersenyum senang ke arah Yoohyun.
“Mari kita berteman? Mau?” Tawar Gain sambil mengulurkan tangannya. Yoohyun mengangguk dengan mantap sambil tersenyum sampai matanya menyipit, lucu sekali.
Gain memberikan lollipop itu kepada Yoohyun. Yoohyun menerima dengan sangat senang, wajah inmutnya membuat Gain merasa jika ia menjadi noonanya sendiri. Gain mengusap-usap kepala Yoohyun dengan gemas. Yoohyun melihat ke arah Gain dengan senang. Tanpa aba-aba, Yoohyun duduk manis di pangkuan Gain.Gain sedikit memundurkan kepalanya karena tak percaya.Ini kunjungannya yang ke-3 kalinya dan baru saja ada anak kecil yang begitu nyaman di dekatnya. Gain yang merasa senang, ia memeluk Yoohyun lalu menggoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri.
“Hihihihi.. Rasanya seperti di atas kapal….Hihihihi…” Kata Yoohyun di sela-sela katifitasnya sekarang ini. Gain hanya tertawa kecil dan membuat Yoohyyun ikut tertawa.Jika saja dia adikku.. Aku bisa di sampngnya selama yang aku mau….Batin Gain.
“Noona, noona, noona. Noona namanya siapa?” Tanya Yoohyun sambil mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Gain. Terlihat di daerah bibir dan pipi Yoohyun penuh dengan bekas lollipop yang menempel. Dengan cepat Gain meraih kotak tisu yang ada di dekatnya dan mengusap wajah Yoohyun dengan lembut.
“Noona…Noona..” Kini Yoohyun menarik-narik lengan jaket Gain.
“Aa.a… Ne,ne, ne.. Noona bernama Gain..Jung Gain.” Jawab Gain sambil membuang tisu ke tempat sampah.
“Gain noona.. Ayo bacakan cerita…” Rengek Yoohyun sambil memegangi lengan Gain dengan manja. Gain tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Gain meraih buku dongeng anak yang ada di salah satu rak itu dan membacakannya kepada Yoohyun dengan memposisikan buku itu di depan Yoohyun agar Yoohyun juga bisa melihat gambar yang ada di buku itu.
Gain dan Yoohyun terlihat seperti saudara kandung yang sangat dekat. Merelka duduk di sudut rungan sedangkan yang lain melakukan aktifitasnya bersama teman-temannya. Suara riuh yang ada di sana tak berpengaruh bagi Gain maupun Yoohyun. Bagi mereka kini ia terlarut dalam dunianya sendiri.
–***–
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 5 lebih 45 menit sore. Yang artinya waktu bagi para anak-anak untuk pulang. Tempat penitipan ini memang punya kelas sore bagi orang tua yang pulang agak larut atau tidak ada keluarga di rumah jadi menitipkan anaknya di kelas sore seperti ini. Kelas sore ini ada kelas bunga matahari, panda dan anak ayam.
Gain masih setia menunggu Yoohyun untuk berjalan ke arahnya. Yoohyun meraih tangan Gain yang lebih tinggi dari tubuhnya. Mereka berjalan beriringan keluar dari gedung penitipan anak. Yoohyun menoleh ke segala arah untuk mencari orang yang akan menjemputnya. Saat mendapati seorang namja tinggi di dekat mobil yang tengah mengunci mobil itu, segera Yoohyun melepas genggaman Gain dan berlari ke arah namja itu. Gain melihat itu sambil tersenyum.
“Hyung!!” Seru Yoohyun sambil memeluk kaki namja itu. Namja itu terntunduk lalu mengusap-usap kepala Yoohyun.pasti dia sangat menyayangi Yoohyun…Dia kakak yang baik sepertinya..
“Hyung! Lihat noona itu! Noona itu menemaniku membaca dan memberi aku permen lollipop apel..” Kata Yoohyun sambil menunjuk-nunjuk Gain.
“Noona mana yang kau sebut?” Tanyanya. Yoohyun meraih tangan hyungnya dan menunjuk tepat ke arah Gain. Ia menoleh ke arah noona yang Yoohyun sebut.
Gain yang sedrai tadi memperhatikan Gain sedikit tersentak bahwa hyung Yoohyun adalah Sehun.Sehun membulatkan matanya dan kembali menatap Yoohyun tak percaya.
Kutarik ucapanku tadi… Batin Gain. Ia melangkah mundur lalu berbalik badan dan memasuki gedung penitipan anak.
–***–
(Mobil Sehun)
Yoohyun masih menjilati lollipopnya yang tak habis-habis.Sehun fokus mengendarai obil dan sesekali melihat ke arah adik kecilnya itu. Apa benar wanita tadi itu Gain? Pikir Sehun.
Sehun mematikan radio mobilnya dan mencoba membuat suasana menjadi lebih serius.
“Mwo? Kenapa hyung mematikan radionya? Ini menjadi sepi sekali…. Uh,uh,uh..” Kesal Yoohyun sambil meraih tombol radio itu berniat untuk menyalakannya kembali.
“Ini hari pertama Yoohyun di penitipan.Apa kau menangis?” Tanya Sehun tanpa menoleh ke arah Yoohyun.
“Ani.. Tadinya memang terasa sepi tanpa teman dan ingin menangis… Tapi….”
“Tapi apa?” Tanya Sehun. Yoohyun menoleh ke arah hyungnya itu sambil tersenyum lebar.
“Yoohyun di temani noona cantik yang memberikan Yoohyun permen.Noona itu bernama..Emmmhh.. Jjj..Jjjuu..Jung..Jung Gain! Ne noona itu bernama Gain, Gain noona!” Jawab Yoohyun bersemangat. Sehun yang tak mempercayai itu, seketika kakinya bergerak sendiri untuk menekan pedal rem.
Yoohyun yang menggunakan sabuk pengaman membuat tubuhnya sedikit maju dan tertarik lagi ke belakang dan membuatnya tertawa lepas.
“Hahahahaha.. Ini menyenangkan hyung! Lakukan lagi, lakukan lagi, lakukan lagi!” Seru Yoohyun sambil melompat-lompatkan tubuhnya. Sehun tak merespon dan menoleh ke arah Yoohyun dengan tak percaya.Gain? Jung Gain?
***Next(?)
[[Buat para readers, Minta bantuannya buat ngasih kritik sama saran,. Hehehe^^Dan maaf kalo banyak typo di sini.. :D]]

Iklan

18 pemikiran pada “Phobia (Chapter 2)

  1. Yoohyun lucu bgtzz msa ngerem mendadak mnt direplay….
    omg hellooww ngga tau klw kknya sm gain lgi dlm posisi yg ngga enakkk…
    whahahahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s