Forelsket First Kiss (Chapter 2)

Forelsket First Kiss

Chapter 2

 forelsket

 

Forelsket First Kiss Chap 2

Title     : Forelsket First Kiss (Chapter 2)

Author : Blue Calla

Genre  : Friendship, Romance, School life, comedy (kali ini bener bener little bit)

Length : Chaptered

Rating  : PG-15

Cast     : Yoon Jae In (OC –sorry for the girl in poster, i’ve no idea ><)
Oh Sehun (EXO K)
Xi Luhan (EXO M)
Seo Bin Rae (OC)

And other supporting cast from EXO

Note : Okeeee~ akhirnya author dapat menyelesaikan chapter dua yang naudzubillah dalam proses pembuatannya. Dan Author mau rada banyak cuap-cuapnya karena waktu di chapter 1, author lupa ga bikin note (Yeay! Hebat sekali kan) jadi, di Chapter 2 ini, si Chanyeol akan menghilang sementara (sorry banget, apalagi di poster masih ada Chanyeol) dan cerita akan lebih terfokus ke perasaan masing-masing tokoh utama serta teman-temannya. And meet Luhan- sidekick-nya Sehun. dan author peringatkan bahwa di chapter ini author buat ‘full of friendship scene inside ! ( maap posternya masih sama seperti chapt 1, author gak ada waktu buat bikin hehe ) + author ingin berterimakasih sama admin yang mau repot-repot ngepost ni ff tak berkualitas, well.. happy reading :* 😀

 

 

“Luhan-ssi, bisakah kau membawaku pergi dari sini?”

“Tolong aku”

Dua buah pesan singkat itu terkirim dengan selang waktu beberapa detik, dan Sehun benar-benar membutuhkannya. -Jawaban atas permintaannya pada Luhan- teman terdekatnya yang sudah biasa memberikan bantuan, ide-ide dan tips mengenai berbagai macam hal. Termasuk Ide untuk menerima ajakan anak-anak populer sekolah untuk bergabung dengan clique mereka. Yang sayangnya, membuat Sehun menyesal setengah mati telah mengikuti saran semacam itu karena ia sering kali terlibat dengan keadaan seperti sekarang ini. Ia merasa tidak nyaman saat bersama mereka.

“Sehun-ah Kenapa kau diam saja dari tadi?” Jong In berkata dengan mulut penuh kentang goreng, Di sekitar sudut bibirnya, sisa sisa minyak terlihat dengan jelas

“-,- Aish, jorok sekali orang ini” pikir Sehun.

“Ah, tidak.. aku.. aku hanya..” Sehun menggaruk tengkuknya, ia sendiri tidak tahu ia hanya apa. Tiba-tiba saja otaknya penuh oleh pikiran tentang sisa minyak di bibir Jongin, serta pesan balasan dari Luhan yang tak kunjung datang.

“Mungkin ia belum terbiasa dengan keadaan ini,” Celetuk Kris, lebih terdengar seperti perkataan untuk dirnya sendiri. namja itu terbiasa berbicara tanpa melihat orangnya dengan nada bicara yang terlampau dingin. Jun Myeon bilang, itu memang sudah karakternya, tak usah dipedulikan.

Beberapa mengangguk kecil atas pendapat Kris. Untuk seorang pemula, semua hal tentang kepopuleran akan terasa aneh. lalu Jun Myeon menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Sehun dan merangkulnya, “Cobalah bersikap seperti kami, Kau hanya perlu menikmatinya” Ia mengangkat sebelah alis, memasang wajah meyakinkan yang pada akhirnya ditepis oleh kata-kata Sehun.

Ne, lagipula bukan itu yang sedang kupikirkan.. Aku hanya sedang tidak lapar dan sepertinya.. aku harus pergi dari sini,”

Sehun tak tahu apa ada yang aneh dengan ucapannya. Tapi semua temannya yang duduk melingkar di meja sudut kafetaria –meja khusus The Prep-, menoleh padanya. Terlebih Tao yang sedari tadi fokus pada Carbonara-nya tiba-tiba saja menunda suapan terakhir yang kemudian mengambang di udara. Namun, Karena yang didapat hanyalah wajah innocent Oh Sehun, Mereka akhirnya bertukar pandang satu sama lain dengan penuh tanda tanya.

“Maksudku, aku harus segera ke perpustakaan. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan..”

entah sejak kapan, wajah mereka berubah menjadi lebih serius. Membuat Sehun dilanda kegugupan dan sebutir keringat secara tak wajar membasahi pelipisnya.

Dan tepat saat itu, penyelamatnya datang. Xi Luhan terlihat berdiri di pintu masuk Kafetaria, mencari-cari sosoknya diantara kerumunan siswa yang nampak sama. Ah ya, ia belum tahu dimana letaknya meja khusus itu berada.

“..bersama Luhan” Sebuah senyuman melengkung di bibir tipis Sehun. Matanya berbinar ketika mengetahui bahwa Luhan akan membawanya pergi dari sini,  Dari sekumpulan orang-orang aneh ini.

“Luhan??” Celetuk Kris lagi-lagi. Kali ini, tidak seperti biasanya orang itu menatap tepat pada Sehun dengan mata membulat.

“Ah ya, dia teman sekelasku. Lihat! Yang disana, dia sudah menjemputku” Jelas Sehun bersemangat sambil melambaikan tangannya pada Luhan yang tampak kebingungan. Tanpa menunggu keempat teman barunya angkat bicara, Ia menyambar Backpack Navy Blue miliknya yang tergeletak di lantai. Sehun bahkan pergi tanpa berpamitan, meninggalkan keempat pria itu serta senampan makanan yang belum tersentuh .

Zi Tao memandang nampan itu dengan penuh harap,

Jun Myeon memilih tidak peduli dan melanjutkan kegiatannya memilin tusuk gigi diantara bibirnya.

Jong In memandang Sehun dan Luhan dari jauh dan berharap ketiga orang didepannya menyadari sesuatu.

“Hey. Jongin, bukankah kau pernah menceritakanku sesuatu tentang Xi Luhan?”

Kris akhirnya berbicara dengan tatapan yang lebih serius

_________

Greb!

Sehun menggamit lengan itu tanpa berkata-kata. Bahkan Luhan yang sudah menyiapkan omelan sejak melihat sosok temannya mendekat, menelan kalimatnya lagi seraya mengikuti Sehun yang menyeretnya keluar dari Kafetaria yang penuh sesak. Barulah ketika mereka sampai di koridor yang sepi dan genggaman Sehun melonggar, Luhan menghembuskan nafas kasar dan memelototi Sehun seperti seorang ibu-ibu yang marah.

“Ada apa hah? Apa kau mau mengeluh lagi? Bukankah ini yang kau inginkan, Oh Sehun? Kenapa kau terus saja memanggilku?” Serentetan pertanyaan menggelontor begitu saja dari mulut Luhan. Sehun masih berusaha membuat nafasnya stabil, rasanya seperti baru saja terbebas dari sarang psikopat yang akan membakarmu.

“Apa kau tidak lihat? Gadis-gadis itu hampir memberitahu pada Go Hara kalau aku keluar, Mereka mencoba membunuhku!”

Ani.. membunuhmu?” Luhan memalingkan wajah dan menjambak rambutnya sendiri. Sehun benar-benar heran mengapa  malah temannya yang nampak frustasi.

Sehun mengangguk pelan, lalu berkata dengan lirih “Dan orang-orang itu, mereka lebih buruk dari yang aku bayangkan. Menyedihkan,”

“Sehun-ssi Apanya yang menyedihkan dari menjadi populer dan didekati gadis –gadis seperti Go Hara dan teman-temannya?”. Luhan mendengus sambil berusaha menahan agar tidak meremas atau menjambak temanya. Ia sungguh tak tahu apa yang ada di dalam kepala seorang Sehun. Dua minggu lalu anak ini datang kepadanya dengan pertanyaan yang sama. “Bagaimana caranya agar kau kelihatan lebih hebat di mata seorang gadis?”  dan Luhan telah memberikan jawaban terbaik yang ia punya disertai beberapa alternatif. Pertama, jadilah tukang berkelahi. Kedua, bergabunglah dengan anak populer. Dan Ketiga, Dekatilah banyak gadis dengan cara yang gentle. Mengingat Sehun tidak sanggup berada terlalu dekat dengan seorang yeoja apalagi berbicara banyak, Maka ia mengambil pilihan kedua secara cepat dan menolak kekerasan.

Luhan menatap Sehun dan agak sedikit kasihan. Ia berjongkok disana, sebelah kakinya berebah dan kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Aku tidak ingin tampak hebat dimata gadis-gadis itu, aku hanya ingin tampak hebat untuknya.

“Aku hanya ingin menunjukkan padanya,” Sehun bergumam pelan dengan suara yang teredam. Luhan yang ikut terduduk di sebelahnya menarik nafas, ia telah mendengar alasan itu berkali-kali. Sehun hanya ingin menunjukkan padanya. Pada gadis itu, bahwa ia bukan lelaki yang sama seperti tujuh tahun yang lalu. Anak lelaki di masa kecilnya yang begitu introvert dan lemah. Dan setiap Sehun bercerita, ia akan selalu menekankan di akhir kalimat bahwa semua ini ia lakukan hanya untuk sebuah pembuktian. Jika laki-laki sepertinya tidak bisa lebih diremehkan oleh gadis itu.

“Dengarkan aku,” Luhan memutar puncak kepala Sehun dengan halus, membuatnya dapat melihat sepasang mata yang biasanya dingin, kini lebih terkesan sendu dan menyimpan beban.

“Kau tak bisa membuang atau mengubah masa lalumu..” Suara Luhan jauh melunak, lalu ia melanjutkan dengan yakin “Kau hanya bisa melupakannya”

Sehun tak mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menjawab perkataan Sehun, ia hanya mengalihkan pandangannya pada deretan jendela di depan mereka yang membiaskan cahaya terik ke sepanjang koridor.

Lalu, Xi Luhan memeluknya. Pelukan persahabatan antar sesama pria.

“Lagipula, aku yakin gadis itu tak menganggapmu anak kecil yang cengeng lagi, Kau seorang pria tampan sekarang, Kawan.” Ucap Luhan sambil meninju pelan perut Sehun. Keduanya tertawa, merasakan suatu kalimat sederhana dari seorang sahabat dapat membuat semuanya nampak baik-baik saja.

Meskipun, Sehun. Kau masih saja sepolos anak kecil yang naif. Kau bahkan tak sadar untuk apa kau melakukan semua ini. Kau,hanya  ingin menarik perhatiannya. Itu saja.

***

Dan tanpa keduanya sadari, empat pasang mata tengah mengamati adegan itu dari balik tembok di sebuah sisi yang cukup jauh untuk mendengar apapun.

***

“Lihat? apa yang kuceritakan padamu bukan omong kosong,”  Jongin menyunggingkan sebuah senyuman bangga sambil melirik ke atas, dimana kepala ketiga temannya menyembul dari balik tembok.

Kris maupun Jun Myeon masih tak percaya, sedangkan Zi Tao, memasang ekspresi jijik yang berlebihan.

“Kris Hyung, sepertinya aku ingin muntah,” bisiknya pelan.

________

Sehun’s POV

Jika saja anak-anak itu menemukanku, mungkin mereka akan percaya bahwa aku tidak sedang mencari-cari alasan. Aku dan Luhan benar-benar akan melakukan suatu pekerjaan, di perpustakaan.

Xi Luhan adalah pria yang pintar. Bahkan ia lebih sering membaca ketimbang diriku, meskipun, entah kenapa ia menduduki peringakat kedua dengan aku berada di atasnya. Hampir setiap hari ia mampir ke perpustakaan dan sesekali mengajakku –meski lebih sering kutolak-. Disini, ia juga mengenalkanku dengan Nona Goo sang pustakawan, Xiumin sunbae yang rutin datang untuk menggunakan komputer serta Byun Baekhyun, siswa kelas 2-4 yang tak pernah selesai membaca komik hai miko –yang judulnya saja kedengaran konyol sekali- .Aku seringkali memergokinya tertawa-tawa disudut perpustakaan sampai hampir menangis.

Tapi kali ini, orang-orang itu tak tampak.

“Nona Goo memberiku tugas untuk mengawasi perpustakaan hari ini, Itulah kenapa tadi aku lama sekali menjemputmu”  Jelasnya setelah melihatku celingukan. Luhan memasukkan setumpuk buku ke dalam sebuah kardus. Dan ternyata, masih terdapat sekian tumpuk di belakan meja pustakawan. Ia memintaku untuk mengambil beberapa dan membantunya mengembalikan buku-buku itu ke dalam rak, sesuai indeks.

Ya, sepertinya tidak sulit.

Namun, ketika di kotakku hanya tersisa tiga buah buku lagi, Luhan memanggilku.
“Ada apa?”

“Apa kau yang menaruh buku ini di rak filsafat?” Ia menyembulkan kepala dari balik rak sambil mengacungkan sebuah buku tipis bersampul kuning ke arahku.

“Umm, ya” aku mengingat-ngigat.

Luhan menunjukkan poker face-nya. Lalu ia memutar bola mata seraya berlalu dari sana.

Aku berhenti dan meninggalkan kotak itu begitu saja karena kukira aku membuat kesalahan, dan menemui Luhan di sisi ruangan yang masih sibuk dengan pekerjaanya.

“Sepertinya aku tidak terlalu bisa melakukannya, adakah pekerjaan lain, Lu?” tanyaku sambil menyisir deretan buku disampingnya. Ia terlihat berpikir sejenak dan kemudian, matanya membulat.

“Aa! Bisakah kau meyusun kartu pinjaman?”

Aku mengernyitkan dahi

“Kartu data buku yang dipinjam setiap siswa. Kau hanya tinggal melihat warnanya. Warna biru untuk kelas satu, merah untuk kelas dua, dan kuning untuk kelas tiga. Letakaan pada masing-masing loker kecil yang terdapat di belakang meja pustakawan yang dilabeli sesuai nama kelas. Arasseo?”

“Ne, ne.” Aku mengangguk dan mengacungkan ibu jari.

“Serahkan padaku,”

__________

Aku hampir menyelesaikan tugas dari Luhan yang ternyata lebih mudah. Aku hanya tinggal duduk disini, mengelompokkan kartu sesuai warnanya dan, menaruhnya di loker sesuai nama kelas. Tidak banyak kok, hanya sekitar lima puluh buah kartu yang perlu kurapikan ._.

Ankhirnya Tinggal terdapat empat buah kartu warna merah milik kelas dua-terakhir. Dua-sepuluh, dan aku meletakkan di loker dengan acuh karena masih ada beberapa kartu warna kuning yang perlu kubereskan.-sebelum aku teringat sesuatu mengenai kelas dua-sepuluh.

“Tunggu..” aku bergumam sendiri dan kembali membuka loker kecil berlabel 2-10 itu.

Dan tahu-tahu saja, aku mendapatkannya setelah tak lama mencari diantara nama-nama yang asing.

Kartu itu tampak masih baru, tak ada lipatan-lipatan atau goresan tinta di dalamnya. Sungguh. Bahkan orang ini hanya pernah meminjam satu buah buku. Yang bisa jadi  sekali untuk seumur hidupnya

Tanggal 12 Maret, 2006 : Death Poet Society –Edgar Allan Poe

Yang benar saja!? Gadis itu terakhir membaca satu tahun yang lalu, dan, Edgar Allan Poe!? Apa otaknya bisa mencerna bacaan semacam itu!?

Aku mulai berfikir bahwa Yoon Jae In hanya membaca  bagian prolognya saja. Ia pasti sudah tertekan duluan.

“Hey Sehun! Mengapa kau tertawa sendiri seperti itu?” tiba-tiba saja Luhan sudah berdiri disana. Ia tak berhenti menatapku dengan tatapan menggoda selagi merapikan kardus-kardus yang sudah tak terpakai.

“Lihat! Aku menemukan kartu milik Jae In,” Kuacungkan benda itu ke arahnya. Luhan menghampiriku dan ikut tertawa ketika kami membalik bagian depan kartu yang memuat sedikit data diri dan sebuah pas foto kecil yang usang.

Tapi kukira, sebenarnya hanya aku yang tertawa disini, Luhan berhenti setelah beberapa detik dan menatapku penuh arti

“Tidakkah Jae In terlihat cantik dalam foto ini?”

***

Luhan’s POV

“Tidakkah Jae In terlihat cantik dalam foto ini?”

Aku tidak tahu apa pertanyaan itu membuat tenggorokan Sehun tersumbat dan paru-parunya basah, atau apalah. Yang pasti, Ia benar-benar menghentikan tawa bodohnya yang kedengaran sangat palsu itu ketika aku bilang, Jae In nampak cantik dalam foto itu.

“Ia terlihat.. biasa saja,” Sehun mengangkat bahu lalu beralih lagi pada selembar kartu di tangannya.

Kuharap ia menyadari bahwa aku sedang tidak berbohong kali ini. Aku serius bahwa gadis itu sangat menawan dengan kepangan pendek yang tersampir di bahu serta senyum lebarnya. Matanya ikut tersenyum, seperti milik Sehun. Tapi aku tak begitu yakin apakah ia memang buta atau sedang pura-pura buta, Sehun hanya memandanginya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“jangan buat fotonya berlubang karena terus kau pandangi,” Aku berbisik di telinga Sehun, dan berlalu darisana sebelum Sehun melemparkan vas bunga ke  arahku.

 

___________

 

“Bin rae, bin rae, dimana kau?” Jae In tidak berhenti bergumam bahkan sejak keluar dari kamar kecil. Poninya mulai nampak tak beraturan karena kerap kali punggung tangannya menyeka keringat, atau lebih gilanya lagi, ia menjambak rambutnya sendiri sepanjang koridor yang membuat orang-orang mengira bahwa gadis ini agak frustasi.

Ia telah mencari Bin Rae sejauh kakinya membawanya dengan hasil nihil, dan baru ketika ia merasa lelah, Jae In mengeluarkan ponselnya.

“Apa-apaan ini, ternyata aku punya ponsel -.-“ batinnya kesal.

“Bin Rae-ya, ini sangat darurat, sungguh”

Setelah mengirimkan pesan pertama, Jae In memutuskan untuk duduk di sebuah kursi terdekat. Lalu ia mengirim pesan kedua untuk memberitahu Bin Rae dimana ia bisa menemuinya.
“Cepat temui aku di depan perpustakaan”

Jae In kemudian duduk sambil meregangkan badannya seperti kucing yang baru saja bangun tidur. Ia juga menguap, mungkin efek dari kelelahan atau bisa jadi kelaparan. Ia ingat bahwa tadi ia meninggalkan makan siangnya gara-gara Sehun dan Go Hara yang bermesraan didepan wajahnya. Untung saja, ia masih menyimpan bekal roti di dalam tasnya.

“Cih, mengapa kau mau didekati gadis seperti itu Sehun? Ia seperti ibu-ibu arisan” Jae In mencibir mengingat saat itu.  Ditambah, Jae In juga teringat kembali tragedi toiletnya bersama Park Chanyeol tadi.

“Oh ya, bagaimana aku menjelaskan itu pada Bin Rae?” Jae In menimbang-nimbang sambil menopang dagunya.

“Ah, kuharap dia tidak akan membunuhku. Lagipula.. aku dan Chanyeol tidak sedang berpesta di dalam toilet. Tadi itu kecelakaan. Bin Rae pasti akan mengerti,”  Ia kemudian tersenyum sendiri, lalu bersandar lagi disana untuk menunggu Bin Rae sambil sesekali melirik jam tangan putihnya.

.

.

.

“Jae In-ah!”

Sebuah suara membangunkan Jae In yang nyaris tertidur karena lama menunggu. Layar ponselnya sejak tadi berkelap-kelip, memunculkan tanda Game-over pada permainan tetrisnya.

“Bin Rae-ya, kenapa kau lama sekali? Aku sampai bosan bermain tetris lalu ular lalu tetris lagi, Aku menunggumu sejak tadi,” Jae In mengucek-ngucek matanya yang terasa lengket.

“Ish, Bukankah aku sudah mengabarimu kalau aku sedang mengantarkan map milik Kang Su seosangnim? Apa kau tidak membacanya?” Bin Rae pun ikut duduk di samping Jae In, mengintip ponselnya  untuk memastikan bahwa pesan singkatnya belum terbaca oleh gadis itu.

“Jadi.. apanya yang begitu darurat?”

“Ehm,” Jae In berdeham pendek sambil membetulkan posisi duduknya. Bin Rae merasa geli melihat gerak-gerik sahabatnya itu.

“Begini.. Ini, soal Park Chanyeol..”

***

Aku berhasil menjelaskan tragedi itu selengkap-lengkapnya pada Bin Rae, -kecuali, bagian dimana Chanyeol pipis- .   jika aku mengatakannya bisa-bisa Bin Rae mencekikku sampai mati. Meskipun, ya..aku agak kesulitan karena baru saja aku menyebutkan nama Chanyeol Bin Rae langsung bertingkah seperti aku ini baru saja menusuk perutnya dengan pisau.  Ya ampun, apakan Bin Rae begitu menyukai Chanyeol?

“Kau sangat beruntung Jae In, satu toilet dengan Park Chanyeol! Aargh.. aku tak bisa membayangkannya,” Bin Rae menatapku dengan mata sedih seperti milik Mort.

“Bukankah sudah kubilang, kami tidak melakukan apa pun.  Dan percayalah aku sama sekali tidak beruntung karena berada dalam satu- toilet –bersama- Park -Chanyeol -dan itu membuatku mual sepanjang waktu” aku memasang wajah ingin muntah, tapi serius. Aku memang ingin muntah.

Aku menyandarkan kepala di bahu Bin Rae yang agak lebih tinggi sambil bersenandung kecil.

“Apa kau minum dua kotak susu lagi? Kau semakin tinggi saja, dan rambutmu ini..” aku memainkan anak-anak rambut Bin Rae yang tersampir ke bahu. Kebiasaanku jika berada di dekatnya. Bin Rae memiliki rambut panjang yang indah dan lembut. Tidak seperti rambut punyaku yang seperti sapu ijiuk

“Apa kau sedang berusaha menghiburku?” Bin Rae melirik dengan tatapan jahil,

“Aish! Tentu saja tidak!” Aku langsung menyingkir dan mendorong pelan bahunya. Bin Rae tertawa kecil, aku membalasnya dengan menjulurkan lidah.

“Hey! Apa kau mencium parfum Chanyeol? Seperti apa aromanya?”

Orang ini..

“Tentu saja tidak, Kau pikir aku mengendus Park Chanyeol? Huh! tidak sudi,”

Aku tidak sedang melucu tapi entah kenapa, Bin Rae tertawa. Lagi pula aku sungguhan tidak sudi jika harus menghirup udara yang sama dengan Park Chanyeol.(ini kejam sekali) Harusnya kukatakan saja jika tubuh Chanyeol benar-benar bau keringat dan aku hampir sesak napas.

Tapi tidak, itu sama saja aku menghina pangeran impian Bin Rae. Tidak boleh,

Jadi, akhirnya aku mengatakan saja pada Bin Rae bagaimana ekspresi Chanyeol menahan pipis. Lalu aku juga berkata dengan jujur kalau namja itu tidak terlalu tampan dan mereka mempunyai tinggi yang nyaris sama. Aku juga membayangkan bagaimana jika suatu saat mereka menikah dan Bin Rae harus mengenakan sepatu ber-heels di pemberkatan sehingga tingginya melebihi Chanyeol.

Kami tertawa seperti para gadis yang sedang membicarakan seorang pria, -Yeah, aku merasa lebih hidup- Aku dan Bin Rae bahkan lupa kalau sebentar lagi jam istirahat akan segera berakhir.

“Jae In, pukul berapa ini?”

“sebelas empat lima,”

“Omo!! Lima menit lagi!? Kita harus segera kembali ke kelas!!” Bin Rae menjerit seraya berdiri, menarik lenganku karena jujur saja, aku benar-benar tak berniat masuk pada mata pelajaran seni untuk sekedar membahas not balok, belum lagi setelahnya Bong seosangnim akan memberikan test tertulis mengenai not balok dan aku bersumpah bahwa aku tidak pernah mengerti satu halpun mengenai not balok dan aku tdak tahu harus berbuat apa nanti,

“Ani.. aku tidak siap mengikuti tes”

Bin Rae melepaskan gengamannya dan berkacak pinggang, menatapku seperti Eomma yang marah setiap kali aku tidak mau pakai kaus kaki ketika musim dingin.

“Aku.. akan membantumu, jadi jangan khawatir” ucapnya sambil memutar bola mata.

“Jinjja??”

“Ne..ne, jadi sekarang kita ke kelas oke?”

Aku melompat senang karena Bin Rae begitu baik hati dan pengertian. Senang sekali, sampai-sampai aku terlalu bersemangat untuk berdiri dan mendahuluinya pergi ke kelas.

“Ayooo~ cepaat~ Bin Raeeee~”

Aku berlarian sambil menoleh ke belakang, merasa heran karena Bin Rae malah terdiam dengan wajah memelas. –Ah tidak, prihatin- mungkin ia sedang berpikir betapa tidak tahu malunya aku.

tiba-tiba matanya membelalak.

“Jae In! Awaaaaas!!!!!”

BUGH!!

Aku baru saja menabrak sesuatu –atau mungkin, seseorang- . begitu keras sehingga aku terhuyung ke belakang dan jatuh terhempas dengan posisi yang sangat konyol. Sakit sekali, aku terus menggerutu tentang orang teler mana yang tega menabrakku dengan kekuatan super macam itu. Hingga kemudian kudengar sebuah suara mengerang di depanku.

Aku menoleh untuk melihat siapa gerangan yang lebih tersakiti dari aku sampai mengerang seperti itu. Dan aku tidak percaya bahwa orang itu..

“Ss..sehun?” .

>< tidaak! Mengapa aku menyebut namanya!? Rasanya aku ingin meremas bibirku sendiri.

Sehun berhenti menepuk-nepuk jasnya yang tidak kotor (berlebihan sekali, ia kira aku menginjaknya hingga kesana) lalu ia menoleh. Menatap ke arahku dengan ekspresi yang berubah seketika.

Jujur saja, aku menunggunya.

Menunggunya untuk mengatakan itu.

Namaku,

“Luhan..

Kita harus cepat kembali ke kelas”

Sehun bangkit sesaat setelah membuang pandangannya dariku. Bahkan tanpa memedulikan namja berambut cokelat itu, Luhan, ia berlalu seakan tak terjadi apa-apa. Langkahnya terburu-buru dan Luhan hanya bisa bergantian memandangku kemudian memandang Sehun. Sama halnya dengan Bin Rae yang tak bergerak di belakangku.

Ia terdiam, tak lagi memaksaku untuk cepat-cepat kembali ke kelas atau berusaha berbicara padaku karena aku tahu, Bin Rae pasti mengerti apa yang sedang aku rasakan detik ini.

Aku benar-benar merasa menjadi gadis paling mengenaskan di Dunia. Karena Sehun, selalu berhasil membuatku terjatuh dengan sangat menyakitkan .

______________

“Sehun-ssi!!” Luhan meneriakan namanya di sepanjang koridor, sambil berusaha menyamai langkah lebar Sehun yang berada jauh di depan. Orang itu tak sedetikpun menoleh dan terus berjalan dengan acuh. Dan ketika Sehun tiba-tiba berhenti di depan dua ruas lorong, Luhan begitu lega karena ia bisa beristirahat sejenak untuk bermain kejar-kejaran dengan Sehun.

“Kenapa kau selalu begitu?” Luhan berjalan mendekati sahabatnya dengan tatapan miris. Dan diluar dugaan, Sehun menatap balik padanya, lebih dalam dan serius.

“Pergilah ke kelas duluan, aku akan menyusul” ujarnya pelan. Dan setelah itu, tanpa perlu menunggu jawaban Luhan agar mengikuti perkataanya, Sehun berbalik ke arah lorong sebelah kanan dimana tak ada tempat selain tangga menuju atap sekolah disana

“terserah apa katamu,”

Luhan yang bergumam, Sehun mendengarnya meskipun pelan sekali dan ia mencoba untuk tidak peduli. Ia tetap berjalan, memasuki lorong-lorong sempit dengan tangga besi berliku yang karatan dengan perasaan bersalah pada Luhan. Ia tahu betul bahwa Luhan sudah lelah dengan sikapnya yang tak pernah berubah.

Tapi menurutnya , Luhan tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang sehingga sikapnya jadi seperti ini.

Sehun mendorong pintu besar nan tebal yang menjulang dihadapannya. Tidak terkunci, hanya saja pintu besi ini seberkarat tangganya, sehingga agak sulit dan menimbulkan derit yang memekakkan telinga ketika terbuka.

Atap sekolah adalah tempat menyendiri, klasik.

Tiupan angin besar seakan berhamburan ketika Sehun berhasil mendorong pintunya hingga setengah terbuka. Rambut blondenya yang agak messy bergerak-gerak liar, membuatnya merasakan geli sekaligus nyaman menjalar di sekujur tubuhnya. Diambilnya sebuah tempat yang tidak terlalu jauh. –dinding pendek pembatas pipa-pipa air- , ia bersandar disana sambil merebahkan kakinya yang terasa pegal sekali.

Lalu, ia  meraba saku jasnya, mencari-cari sesuatu setelah memastikan bahwa hanya ada dirinya sendiri di atas sini.

Selembar foto telah berada di tangannya. Selembar foto yang membuatnya gusar dan bahkan membuatnya sulit berbicara. Namun ia terus memandanginya dengan tatapan penuh, seakan sedang berbicara lewat matanya. Ia mengusap lembut wajah itu dengan jari-jarinya. Memeriksa apakah benda itu terlipat atau tergores ketika ia menyimpannya ke dalam saku dengan terburu-buru seperti seorang pencuri ulung.

Ya, ia akui bahwa ia memang telah mencuri.

Sehun tersipu, semburat merah memanjang muncul di kedua pipinya yang Terlihat kontras pada kulit putih itu.

Ia baru saja merasakannya lagi, Forelsket,

sensasi yang kau rasakan ketika pertama kali jatuh cinta kepada seseorang.

_____________

 

Jae In menutup buku bersampul iron man miliknya yang tinggal tersisa beberapa lembar kosong lagi. Di dalamnya berisi kumpulan pekerjaan rumah yang sebagian besar belum selesai, dan sebagiannya lagi distempel dengan nilai yang tidak terlalu bagus. Tugas untuk besok membuatnya menyerah, lagipula, ia tidak berharap bisa belajar dengan kondisinya sekarang ini.

Seharian tadi adalah hari yang cukup melelahkan baginya, Selain tes not balok yang tidak begitu lancar karena ternyata Ia dan Bin Rae mendapatkan kode soal yang berbeda, Jae in juga belum bisa melupakan tragedi toilet bersama Park Chanyeol.

Dan satu lagi, kejadian dimana Sehun mencampakkannya benar-benar membuatnya ingin cepat pulang kerumah dan tertidur. Berharap dengan begitu ia dapat melupakannya paling tidak hingga besok ia terbangun dan diam-diam melihatnya pergi ke sekolah dari jendela kamar. Namun kenyataanya, ketika kini ia sudah berada di kamarnya sendiri dengan balutan piyama serta selimut tebal yang lembut, berusaha untuk tertidur dan menenangkan pikirannya, Jae In tidak bisa. Ia berguling kesana-kemari untuk mencari posisi terbaik hingga ia sadar bahwa Sehun telah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.

“Sehun,” Jae In bergumam sambil menutup wajahnya dengan bantal. “apa yang sedang kau lakukan?” geramnya kemudian, Ia menyingkirkan selimut bermotif sapinya dan melangkah turun dari ranjang. Dibukanya jendela besar yang mengarah tepat ke jendela lain di seberang rumahnya.

Itu jendela milik kamar Sehun, sedikit sekali celah dapat menunjukkan bahwa lampu kamarnya masih menyala. Sehun belum tidur, dan yang Jae In perkirakan adalah ; Sehun sedang belajar di dalam sana.

“Apa kau juga memikirkanku?” bisiknya pelan, terlalu pelan bahkan angin malam pun mampu meredamnya.  Jae In tidak berharap Sehun mendengarnya, dan jika iya, maka ia sudah tahu jawabannya.

Tidak.. kau tidak pernah memikirkanku,

Jae In menutup jendelanya rapa-rapat  karena sampai kapanpun ia menunggu, jendela itu tak pernah terbuka untuknya. Ia menarik tirai dan menjauh dari sana. Kembali menenggelamkan diri dalam selimut sapi kesayangannya.

***

Klek!

Sehun membuka daun jendelanya dengan perlahan. Ia baru saja menyelesaikan pr-nya dan berusaha untuk tidur. Namun entah apa, sesuatu seperti membuatnya sulit memejamkan mata.

Dihirupnya udara malam yang dingin, ia menopang dagu. Menatap lurus pada pemandangan statis di depannya.

“Dasar tukang tidur,” gumamnya. Ia tersenyum tipis, lalu melirik pada sesosok wajah dalam foto di tangannya.  Sorot matanya seperti memandang jauh sekali, menerawang. memikirkan begitu banyak hal mengenai masa lalunya.

“Sehun,”

Sret!

Ia berbalik dan mendapati Eomma-nya tengah berdiri di ambang pintu, dengan sebelah tangan di belakang punggung, ia menatap wanita itu dengan gelagapan.

“Eomma, ke..kenapa kau tak mengetuk pintu dulu?” ia menunjuk-nunjuk dengan sebelah tangan yang lainnya.  Nyonya Oh terheran-heran mengapa Sehun terlihat sangat tidak biasa. dan ia menahan tawa,

“Ada apa denganmu? Apa kau sudah mengerjakan pr-mu, eoh?”  ucapnya sambil memandang anak semata wayangnya penuh selidik, Bahu Sehun merosot seketika.

“Ne, Eomma. Sekarang aku harus tidur,”  Ia melangkah gontai menuju tempat tidur dan menghempaskan diri disana, -seraya menyelipkan foto itu di balik bantal- dan menunggu Eomma-nya pergi dari sana.

“Ehm, Sehun. Sebenarnya Ada yang ingin aku sampaikan padamu,”

Sehun membuka sedikit selimutnya dan berbalik,

“Ada apa?” tanyanya dengan malas

Nyonya Oh menatapnya penuh harap, lalu ia berkata dengan hati-hati

“Aku akan mengundang keluarga Yoon pekan ini untuk makan malam bersama, Kau bisa mengajak Jae In kan?”

“APA!!??”

Sehun terperanjat dati tempat tidur. dan sepertinya, ia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini

—————-To Be Continued——————

 

 

Gimana chapt 2 nya? Gak memuaskan ya? Membosankan? Sudah Pasti sih,  Author harap reader gak terlalu kecewa dan masih tetep ngikutin chapter selanjutnya karena akan ada sesuatu disana. Ya , di Chapter 3, bakal ada Candy with the surprise center!! Akan ada banyak scene tentang Chanyeol + Sehun + Jae In ^^hohoho. Ya, sebenernya masih dalam proses, cuman kalau ternyata peminat ff ini masih banyak dan para readernya menyemangati Author, Author akan membuatnya dengan senang hati dan mudah-mudahan hasilnya memuaskan, So, don’t be a silent reader and speak out your mind, Author sangat-sangat membutuhkan komen reader yang berharga. Terus, author juga mau curhat kalo setiap kali liat ff ini, author teringat sama judulnya dan masih bingung mau menempatkan scene kiss di chapter mana, yang pasti Author sudah bikin line ceritanya yang masih rahasia.

Oh ya, author juga mau tanya dong? Menurut reader, apa yang Kris dkk  pikirin waktu mereka ngintipin HunHan? Apa kalian bisa tebak? Comment ya, Sampai jumpa di Chapter selanjutnya !!! ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

24 pemikiran pada “Forelsket First Kiss (Chapter 2)

  1. ihhhhh…sehun bikin geregetan dehh,,maunya apa siihh..gemessss…dia itu mau tapi gengsi ato takutt tuhh..??
    kekeke…
    kan jadinya jae in mikir yg engga”..
    ..mwoo…???
    omma.ny sehun..keke,. tau ajaa…idenya cemerlang tuhhh., hasyeekkk..semoga ada moment dehh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s