Girl Imagination (Chapter 1)

Girl Imagination

girl-imagination-choi-yura

Poster: Harururu98 by http://cafeposterart.wordpress.com)

Title: Girl Imagination

Author: Choi Yura or JuJuYChoiHan

Cast: – Xi Luhan

–          Choi Yura/Gadis sakura or Cherry.

Genre: Romance, Fantasy, Supranatural.

Rated: PG 15

Length: Twoshoot.

Summary: Keinginan terbesar seorang pemuda itu hanyalah teman yang selalu berada di sampingnya. Tuhan sungguh baik karena mengabulkan permintaan pemuda itu dengan cara mengirimkan seorang gadis manis ke dalam hidupnya.

“Meski kau meninggalkanku sendiri di sini. Aku akan menyusulmu dan berharap kita akan bisa bersama di kehidupan selanjutnya. Dan ku harap kau tak melupakanku, Cherry. Apa kau tau? Cinta ini sudah ada untukmu saat pertama kali aku melihatmu, kau adalah cinta pertama dan terakhirku.”—Luhan.

**

Sebenernya ini terinspirasi dari MV Sherina yang ada cowok pantomimnya itu. tapi aku lupa judulnya. Kayaknya aku banyak bikin ff terinspirasi dari MV yak? #plakk. Tapi gak pa2 kan selagi itu gak nyontek semua, hahaha *ketawa lebar*

Udah lah langsung aja dari pada banyak omong kosong mending capcus aja, ayo chingu ikuti aku terusssssssssssssssss,

Ini bukan buat SILENT READERS

Ini buat READERS SETIAKU YANG HANYA MAU MENGKOMENT.

AKU HARAP PEMBACA YANG BACA FANFIC INI HARAP MENGKOMENT, AKU UDAH CAPEK MEMBUATNYA. AKU HARAP KALIAN MENGERTI KESUSAHANKU

DON,T COPAS

DON’T PLAGIAT

DON’T BASH

HAPPY READING….

-Girl Imagination-

Sang surya kini kembali hadir. Matahari bersahaja tengah menampakan sinar indahnya ke seluruh jagat raya. Cahaya-cahaya indahnya menerpa permukan kulit wajah mulus milik seorang pemuda tampan. Pemuda itu kini tak berkutik di tempatnya. Ia berdiri di atas balkon kamarnya seraya memejamkan kedua mata. Menikmati hangatnya sinar mentari musim semi, yang kini sedang melanda Korea Selatan. Bunga sakura yang berada di depan rumahnya tampak berterbangan akan angin yang menghembusnya, meniupnya secara perlahan dan membuat bunga sakura itu melayang mengikuti arah gerak angin yang membawanya.

Terlukis jelas di raut wajah pemuda itu. Raut wajah kesedihan lah yang tengah tergambar jelas dari wajahnya. Kedua matanya masih tertutup, seakan menikmati hangatnya mentari pagi. Namun tak ada kegembiraan yang terukir dari kedua sudut bibirnya. Tanpa kita sadari, bulir bening tak berbentuk itu melesat dari kedua pelupuk matanya yang terpejam. Apa yang bisa di lakukan pria itu selain menahan isak tangis yang bisa saja pecah.

Pemuda itu menggigit bibir bawahnya dengan nafas yang tak beraturan. Dadanya tampak naik turun. Tangannya bergerak meremas dada kirinya dengan sekuat tenaga yang ia punya. Matanya semakin terpejam erat seolah menahan rasa sakit yang tak bisa orang lain bayangkan. Secara perlahan tubuhnya mulai menyentuh lantai tempat kakinya berpijak, tangan kanan nya menopang tubuhnya yang mulai melemas di lantai. Tenaga pemuda itu semakin lama semakin hilang. Tangannya tak dapat lagi menopang tubuhnya yang sudah merasakan sakit yang teramat dalam. Tubuhnya terkulai lemas ke bawah dan membuat pemuda itu tertidur di lantai dengan tak sadarkan diri. Kini tangannya tak meremas dada kirinya lagi. Tangan kanannya juga ikut terkulai bersama tubuhnya yang tak sadarkan diri di atas lantai balkon kamar.

-Girl Imagination-

“Apa kau sudah sadar Luhan?” suara itu lah yang pertama kali Luhan dengar, saat pemuda itu dengan perlahan membuka kedua matanya yang sebelumnya terpejam.

Tubuhnya sudah berbaring indah di kasurnya, namun kamar yang sekarang menjadi tempat peristirahatannya bukan lah kamar seorang pemuda pada umumnya. Pemuda itu beda dengan pemuda lainnya. Seharusnya ada sebuah alat music atau semacamnya yang berbau dengan lelaki menghiasi kamarnya. Beda dengan benda-benda yang berada di kamarnya. Kamar itu penuh dengan alat kedokteran. Di kamar itu terdapat monitor deteksi jantung di samping kasurnya dan ada botol infuse yang menggantung di atas tiang besi kecil dan ada juga tabung oksigen dan semacam alat kedokteran lainnya di ruangan itu.

“Untuk apa kau kembali ke sini?”

Bukannya menjawab pertanyaan wanita paruh baya yang duduk di tepi kasurnya. Pemuda itu malah melemparkan pertanyaan balik dengan nada yang benar-benar dingin. Seolah acuh dengan perhatian yang wanita itu berikan padanya.

“Aku ini ibumu Luhan. Berhentilah bersikap seolah kau tak membutuhkanku di sampingmu.”

Kesabaran wanita paruh baya itu  ada batasnya. Dia tak bisa membiarkan lagi pemuda yang berada di sampingnya semakin acuh padanya dan semakin tak membutuhkannya di mana kala pemuda itu semakin merasakan sakit yang luar biasa. Wanita itu hanya bisa memberikan apapun yang ia bisa ke Luhan. Namun ada kalanya wanita itu tidak selalu ada di samping Luhan saat pemuda itu sangat membutuhkan kasih sayang yang lebih.

“Kau bukan ibuku. Seorang ibu tak mungkin meninggalkan anaknya dan lebih mementingkan pekerjaan.”

Pandangan dan wajahnya di buang kesamping kiri. Menghindari tatapan wanita paruh baya yang berada di samping kanannya. Pemuda itu tak ingin di anggap lemah oleh siapapun termasuk oleh ibunya sendiri. Luhan hanya butuh belaian kasih sayang dari orang terdekatnya termaksud ibu kandungnya. Meskipun dia seolah bersikap acuh dan seperti tak membutuhkan ibunya, namun pemuda itu sangat rapuh di dalamnya.

Pemuda itu masih tidak ingin menatap ibunya, pandangan dan wajahnya masih dibuangnya. Ia tak ingin ibunya melihat manik matanya yang kini tengah berkaca-kaca.

“Maafkan ibu. Ini semua ibu lakukan agar kau mendapat perawatan intensif untuk penyembuhan penyakitmu. Ayah mu telah meninggalkan kita karena penyakit jantung yang dideritanya. Dan penyakit itu juga ingin merebutmu dari ibu. Ibu tak ingin orang yang ibu cintai kembali pergi meninggalkan ibu.” Nadanya terdengar seperti menahan isakan.

Bulir bening itu ternyata sudah menghiasi manik mata dan kedua pipinya. Mengalir deras seolah telah menciptakan sungai kecil yang sebelumnya sempat di bendung. Wanita paruh baya itu tak sanggup menahan rasa sakitnya, akan kenyataan yang sebentar lagi akan ia terima.

“Seharusnya aku yang minta maaf.” Kini Luhan melihat ibunya yang sudah terisak pelan. Suara dan tatapannya berubah lembut, menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan yang penuh arti.

“Maafkan aku, ibu.”

Pemuda itu bangkit dari tidurnya, memeluk wanita paruh baya yang berada di tepi kasurnya dengan rasa sayang yang tak bisa ia jabarkan. Hanya itu yang bisa Luhan berikan, setelah hatinya luluh akan pernyataan dan ketulusan yang benar-benar ada di dalam diri ibunya. Ibunya benar-benar tulus mecintai dan menyayangi Luhan karena hanya pemuda itulah yang sekarang ini ia punya. Setelah beberapa tahun silam adalah kematian suaminya akibat penyakit yang sama seperti Luhan. Dia hanya tak ingin merasakan kehilangan untuk kedua kalinya. Rasa kehilangan itu benar-benar sakit, apa lagi orang yang benar-benar berarti dalam hidup kita.

Ibunya hanya bisa membalas pelukan Luhan dan semakin terisak kuat di bahu Luhan. Menyusupkan wajahnya seolah menahan isak tangis yang benar-benar sudah pecah.

“Hanya ini yang bisa ibu lakukan Luhan. Maafkan ibu kalau ibu jarang berada di sampingmu saat kau sangat membutuhkan ibu. Ayahmu sudah tidak ada. Kau juga tau, sekarang ini ibu lah yang merupakan punggung keluarga kita. Banyak pekerjaan ke luar negri yang tak bisa ibu tinggalkan. Perusahaan itu sangat membutuhkan ibu. Ibu juga mempertahankan perusahaan ayahmu hanya demi kau, Luhan. Ibu ingin kau selalu mendapatkan perawatan yang lebih agar cepat sembuh dari penyakit itu.” ujarnya di sela-sela isakannya dan beberapa kali terdengar suara  senggugukan dari bibirnya.

“Aku mengerti, ibu. Aku tak akan memaksamu lagi untuk terus berada di sampingku. Aku tak ingin menjadi pemuda yang cengeng dan manja.” Ujar Luhan setelah pemuda itu sudah merenggangkan pelukannya pada ibunya.

Kedua manik berair itu menatap manik Luhan yang berkaca-kaca dengan tatapan rasa sayang yang teramat sangat. Kedua tangan wanita paruh baya itu bergerak menangkup wajah Luhan dan menatapnya lekat.

“Ibu akan kembali tahun depan Luhan. Ibu mohon bertahanlah untuk ibu. Kau harus berjanji pada ibu. Ibu yakin anak ibu adalah pemuda yang sangat kuat.” Ucapnya dengan lembut namun terdengar nada tegas dari semua kalimat yang ia lontarkan.

“Apa ibu akan pergi meninggalkanku selama itu?”

Tangan luhan bergerak untuk memegang punggung tangan ibunya yang tengah menangkup wajahnya.

“Maaf sekali lagi, Luhan. Di dalam hati ibu sebenernya ibu tidak ingin meninggalkan dirimu sendiri di sini. Tapi ini semua demi kesembuhan mu. Apa pun akan ibu lakukan agar kau cepat sembuh.” Kedua sudut bibirnya tertarik. Mengulas senyum ketulusan yang meyakinkan, seolah di bibirnya tertulis ‘Kau pasti akan sembuh’.

Luhan hanya menganggukan kepalanya beberapa kali setelah mendengar kata-kata meyakinkan dari ibunya.

“Aku sungguh beruntung memiliki anak lelaki yang sangat tampan dan baik sepertimu.” Puji wanita paruh baya itu, sambil menggerakan kedua ibu jarinya di pipi Luhan.

Kini Luhan melekatkan kembali tubuhnya ke tubuh wanita paruh baya itu. Memeluk nya erat seolah benar-benar tidak ingin melepaskannya. Menyusupkan wajahnya di sela-sela lekukan leher wanita itu seakan ingin membendung semua tangisannya yang sebentar lagi akan menerobos keluar.

“Aku juga menyayangi dan mencintaimu, ibu”

-Girl Imagination-

Cahaya-cahaya itu seperti memaksa masuk ke kamar pemuda yang kini berbaring di kasurnya dengan selang infuse yang menghiasi tangan kirinya. Matahari itu mucul dan menyinari seluru permukaa bumi, termasuk kamar seorang pemuda tampan yang kini masih berada di dunia fantasinya. Sinar sahajanya merambat ke seluruh  penjuru kamar Luhan. Pemuda itu masih menutup kedua matanya kalau saja sinar mentari benar-benar tak menyilaukan kedua matanya yang terpejam.

Tangannya terangkat seolah menghalau sinar mentari yang sedang menusuk kedua matanya yang terpejam. pemuda itu bangkit  dari tidurnya dan menduduki dirinya di atas kasur. Tangannya bergerak menggosok wajahnya perlahan dengan kedua tangannya. Matanya kini sudah terbuka sempurna, mengedarkannya ke setiap sisi-sisi kamarnya.

Manik pemuda itu tengah mendapati sebuah bubur putih dan susu putih yang berada di atas nakas kecil yang tak jauh dari kasurnya.

“Apa ibu sudah pergi?”

Pemuda itu menghela nafas gusar. Mencabut selang infusenya perlahan dan menampilkan wajah meringis sakit akibat jarum infuse yang berada di tangannya. Pemuda itu masih saja meringis dan menggenggam lengannya yang sakit. Pemuda itu beranjak dari kasurnya.  menghampiri sarapan paginya yang terletak di atas nakas kecil. Dan kini dia tengah mendapati secarik kertas persegi empat yang berada di samping mangkuk buburnya.

Maafkan ibu karena tidak pamit padamu, Luhan. Ibu tidak tega membangunkanmu ,sepertinya kau benar-benar sangat lelah. Akhirnya ibu memutuskan pergi dan meninggalkan surat ini agar kau membacanya. Anak ku yang tampan, kau harus tetap semangat. Ibu mu ini akan selalu mendoakanmu dan berusaha agar kau cepat sembuh. Setelah ibu pulang nanti, ibu berjanji akan mengabulkan apapun yang kau inginkan. Ibu benar-benar mencintaimu ^^.

Salam cinta

Ibu

Itulah yang tertulis dengan sangat rapinya di secarik kertas bewarna merah muda yang kini berada di genggaman Luhan.

Senyum simpul itu kini tengah terrukir dari bibir meronanya setelah membaca kalimat-kalimat semangat yang ibunya berikan padanya.

“Aku akan berusaha ibu. Aku janji.”

Suara deringan ponsel membuyarkan semuanya dari Luhan. Pemuda itu melirik ponselnya yang berada di kasurnya dan melangkahkan kakinya dengan niat mengambil ponselnya . benda persegi itu di dekatnya kedaun telinganya setelah ia memijit tombol hijau pada layarnya.

“Halo dokter Wu? Baiklah aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi. Sekarang beda Kris, kau sekarang ini adalah seorang dokter. Teman? Itu sudah 10 tahun yang lalu sebelum aku mengidap penyakit jantung. Sudah lah tentang semangat hidup, aku tidak ingin membicarakannya. Ternyata kau sudah tau tentang kepergian ibuku keluar negri. Aku tidak butuh kau mengurusku setiap hari, aku bisa menjaga diriku sendiri. Ya memang benar kau adalah dokterku sekarang, tapi aku merasa ingin bebas dari semua penekanan ini, meskipun hal yang ingin ku sembuhkan adalah penyakit ku ini. Sudah aku lapar, aku ingin makan. Sebaiknya kau bekerja yang sungguh-sungguh. Hari ini jangan datang kerumahku kalau tidak aku akan membuhuhmu, Kris. Aku akan memakan obatku, kau tenang saja. Baik aku akan menghubungi mu jika aku kenapa-kenapa.”

Luhan langsung memutuskan sambungan telponnya dengan seorang dokter yang merupakan temannya semasa sekolah menengah ke atas. Temannya kini sudah sukses. Berbeda dengan Luhan, pemuda itu tak dapat melanjutkan sekolahnya kejenjang yang lebih tinggi karena penyakit jantung yang telah dia derita saat pemuda itu baru saja mengetahuinya 10 tahun silam. Kini hanya ini yang bisa Luhan lakukan. Hanya menghabiskan waktu di rumah seolah tak bisa melakukan aktivitas apapun.

Pemuda itu meletakkan kembali ponselnya di atas kasur. Luhan menggerakan kakinya menuju balkonnya. Tempat itu lah yang merupakan tempat favoritnya kini. Musim semi kini sudah menerpa Korea termasuk kota Jinan. Di sini lah Luhan sekarang tinggal, karena alasan kesehatan akhirnya ia dan ibunya pindah dan menetap di Jinan. Musim yang sangat Luhan sukai adalah musi semi. Di mana bunga cherry blossom benar-benar bemekaran dan memamerkan keindahannya.

Penciumannya benar-benar tajam, pemuda itu mengambil nafas dengan sangat rakus. Harum cherry blossom benar-benar menyeruak di penciumannya. Pandangannya di arahkannya ke sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya. Taman itu sudah di tumbuhi oleh pohon sakura yang sudah bemekaran. Pohonnya di susun secara apik seperti membentuk sebuah terowongan. Namun Luhan masih mampu melihat pemandangan taman itu karena bunga-bunga sakura itu tidak terlalu lebat, di tambah lagi jarak rumah Luhan yang tak begitu jauh dari taman cherry blossom itu. Yang ada di penglihatan Luhan sekarang tentang taman itu, tak begitu banyak pengunjung yang memadati taman itu, mungkin para pengunjung belum banyak yang mengetahui jika bunga sakura di Jinan hari ini lebih indah dan baru tumbuh kemarin malam.

Kedua matanya di penjamkannya. Menurutnya tak ada hal yang menarik di penglihatannya. Menghela nafas panjang kembali agar menetralkan pernafasannya. Pemuda itu kembali membuka kedua matanya. Penyakit ini benar-benar sudah menghantui pikirannya. Kini Luhan harus sendirian melawan penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawanya. Yang Luhan inginkan sekarang hanya lah seorang teman yang dapat membantunya untuk membangkitkan semangatnya kembali. Namun Luhan berpikir kembali, tak ada yang di kenalnya lagi sekarang ini. Pemuda itu benar-benar merasa sendiri hidup di dunia semenjak 10 tahun yang lalu penyakit ini sudah menggerogoti tubuhnya. Hanya ibunya dan dokter Kris yang ia kenal.

“Bisakah aku meminta satu permintaan, aku hanya ingin seorang teman berada di sampingku.”

Permintaan itu lah yang selalu terlontar dari bibirnya. Nadanya benar-benar terdengar lirih. Tatapan pemuda itu berubah sendu. Itulah permintaan yang dia inginkan dari Tuhan. Tak ada yang lain lagi yang ingin dia lakukan selain berdiam diri di atas balkonnya setiap harinya tanpa mau menginjak dunia luar.

Saat matanya benar-benar sendu menatap taman cherry blossom, tiba-tiba saja kedua maniknya menangkap sesosok gadis manis berponi pagar berjalan-jalan di taman itu. Gadis itu berjalan sembari menuntun anjing kecilnya dengan seutas tali yang melilit leher anjing itu dan menutun anjing itu agar tidak terlalu jauh darinya.

Manik Luhan benar-benar lekat menatap sosok itu. Di penglihatannya gadis itu kini sudah menduduki dirinya di salah satu bangku taman yang ada di taman itu. Gadis itu selalu mengukirkan sebuah senyuman ceria dari bibirnya. Dia benar-benar gadis yang manis, menggendong anjing kecil dan mengelusnya secara perlahan di pangkuannya. Gadis itu benar-benar menyuri perhatian Luhan. Sampai Luhan melupakan permasalahan tadi yang sempat memenuhi ronggga pikirannya.

‘Siapa gadis itu?’

Luhan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Yang kini dapat di yakini, Luhan benar-benar tertarik dengan gadis itu. Gadis cantik yang sedang duduk di taman Cherry blossom. Kini arah gerak kaki Luhan membawanya menuju taman itu. Baru kali ini pemuda itu melangkahkan kakinya keluar rumah hanya karena seorang gadis yang tak ia kenal. Saat ia sudah berada di taman yang tak begitu ramai itu. Luhan sudah tak mendapati sosok gadis manis tadi. Seingat Luhan gadis itu duduk di bangku taman yang kini sudah di hampirinya. Namun saat dia sudah ketempat itu tak ada siapa-siapa yang menduduki bangku itu.

Luhan kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi penjuru taman. Manik matanya masih tak mampu mendapati sosok cantik itu. yang ada di pandangannya hanyalah sejumlah orang yang tak ia kenal sedang beralalu lalang menyusuri taman itu.

Memejamkan kedua matanya kembali dan menundukan wajahnya ke bawah. Pemuda itu benar-benar tak menemukannya. Gadis cantik yang sangat menarik penglihatannya. Mungkin saja gadis itu adalah gadis pertama yang sangat menarik perhatianLuhan. Dan mungkin juga gadis itu telah mencuri hati Luhan yang benar-benar tak ada ruang untuk siapapun lagi di hatinya.

“Mungkin aku tak akan meihatnya lagi.”

-Girl Imagination-

Pemuda itu tidak yakin dengan apa yang di rasakannya sekarang. Dia sungguh tidak tau apa yang meski ia lakukan. Apa kah dia sudah gila atau tidak? Sungguh dia tidak tau. Gadis itu benar-benar telah menghantui pikirannya, Luhan sampai kebingungan sendiri harus mencari gadis itu di mana. Ini sudah sebulan ia tak melihat gadis itu lagi dan kini pun bunga cherry blossom sudah mengalami keguguran. Tidak mungkin gadis itu akan kembali ke Jinan termasuk mengunjungi taman cherry blossom. Tak ada pengunjung seramai dulu lagi yang mengunjungi taman cherry blossom, termasuk gadis itu. Benar-benar mustahil mengharapkan gadis itu akan mengunjungi taman cherry blossom.

Hanya sekali ia melihat gadis itu, namun Luhan benar-benar tertarik dengan sosoknya. Ia ingin kenal lebih dekat dengan gadis itu. Tapi takdir tak pernah lagi menjumpai mereka. Hanya pertama Luhan melihat gadis itu dan sampai satu bulan ini dia tak pernah melihat lagi sosoknya. Sosok gadis yang duduk di bawah pohon sakura. Yang hanya di ingatannya akan tentang gadis itu adalah rambutnya yang bergelombang panjang berwarna coklat, poninya yang menutupi dahinya, senyuman yang benar-benar manis, matanya yang bulat dan tak ketinggalan wajahnya yang mungil dan manis.

Luhan termenung di sofanya. Manik matanya menerawang lurus kedepan, yang ia pikirkan sekarang hanya lah sosok itu. Ia tidak tau apakah ini yang di namakan cinta pandangan pertama atau tidak. Karena Luhan tak pernah merasakan yang namanya cinta ataupun ketertarikan pada gadis manapun. Namun gadis itu telah terletak di tempat yang khusus di hatinya meski dia tak mengenal gadis itu.

“Gadis sakura, aku harap kita bisa bertemu lagi.”

Hanya kata itu yang kini tengah menjabat doa-doa yang terlontar dari bibirnya. Tak ada yang lain lagi. Luhan benar-benar terhanyut akan gadis itu. Gadis yang tak ia kenal sama sekali.

“Luhan.”

Panggilan itu sontak membuyarkan semua lamunannya akan gadis itu. Di tolehkan pandangannya ke samping kanan, arah sumber suara.

Pemuda itu sudah mendapati seorang lelaki jangkung dengan setelan kemejanya tengah berdiri di ambang pintu rumahnya.

“Kris,” sapa Luhan balik saat pemuda yang menyapanya tadi kini melangkahkan kakinya mendekatinya yang sedang terduduk di sofanya.

“Seingatku, baru semalam kau kemari. Dan aku tidak ada menyuruhmu datang ke sini. Kenapa kau ke sini lagi?”

Pemuda yang di panggil Luhan, Kris itu. kini sudah memposisikan duduknya di samping Luhan, menyandarkan dirinya di sofa sembari merenggangkan dasi yang ia kenakan pada kera kemejanya.

“Apa kau mengusirku?” Tanya Kris dengan nada datar seraya memejamkan kedua mata seolah mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

“Aku tidak mengusirmu. Hanya saja, kalau aku memintamu untuk tidak datang pasti kau akan mengabulkan keinginan ku itu.”

“Aku sedang malas bekerja.”

“Apa yang kau katakan? Kau seorang dokter, Kris. Ah, aku tau sekarang. Pasti kau memiliki masalah.”

“Aku memiliki masalah atau tidak pasti kau juga tidak ingin taukan?”

“Aku bukan tipe lelaki yang suka mendengarkan curhatan. Dan aku juga bukan teman yang baik karena aku tak pernah mengetahui kehidupan mu yang normal itu,” Nada suara Luhan terdengar pelan di akhir kalimat.

“Sebaiknya kau kembali kerumah sakit. Aku tidak mau kau menyia-nyiakan waktumu.”

Luhan hanya berniat memperingati pemuda yang berada di sampingnya. Dia memiliki pikiran jika sahabatnya itu masih memiliki kehidupan yang panjang. Meskipun Luhan tampak sebagai sahabat yang acuh, tapi dia masih memiliki hati untuk membuat orang lain semangat. Pemuda itu hanya tidak ingin menjadi lelaki yang manja hanya karena penyakit kerasnya. Luhan ingin merubah sifatnya yang egois untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab, meski sekalipun itu tidak akan ada artinya. Kehidupan yang di jalani Luhan bukanlah kehidupan yang normal seperti orang pada umumnya.

“Baik aku akan kembali ke rumah sakit.”

Ketika Kris sudah beranjak dari duduknya dan benar-benar akan menyampai ambang pintu rumah itu. Indra pendengarannnya seperti menangkap suara rintihan tertahan. Pemuda jangkung itu membalikan tubuhnya seketika dan sudah melihat Luhan meremas dada kirinya dengan wajah ringisan sakit yang kini menghiasi wajahnya.

Sedangkan Luhan. Pemuda itu sungguh merasakan sakit yang teramat sangat di bilik jantungnya. Seperti ada hantaman keras yang mendorong jantungnya hingga benar-benar sakit yang tak bisa lagi di jelaskan.

Dengan sigap, Kris langsung menghampiri Luhan yang sudah tertidur di sofa putih yang mereka duduki tadi. Pemuda itu sudah mendapati Luhan tertidur di sofa dengan raut wajah yang meringis luar biasa. Luhan hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan sangat erat seraya memejamkan kedua matanya dengan sangat eratnya juga. Menahan gejolak rasa sakit yang memaksanya untuk melakukan itu semua.

Kris benar-benar panik, sekarang ini ia hanya bisa memanggil nama Luhan dengan nada yang sangat panik dan menelpon seseorang di sana untuk membantunya melakukan hal yang lebih. Pemuda itu memang seorang dokter tapi sungguh dia ingin meminta bantuan yang lebih kepada orang yang benar-benar bisa ia mintai tolong. Mungkin saja Kris sedang menelpon rumah sakit tempat ia bekerja untuk menolong Luhan yang sedang dalam keadaan yang sangat kritis.

-Girl Imagination-

Entah apa yang ada di pikiran Luhan sekarang ini, tiba-tiba saja Luhan ingin pergi ke taman cherry blossom yang tidak jauh dari rumahnya. Namun pemuda itu benar-benar tidak bisa keluar sekarang ini karena ada seorang suster di luar kamarnya yang akan selalu menjaganya untuk tidak pergi ke sembarang tempat.

Pemuda itu kini berbaring di kasurnya dengan infuse yang sudah menghiasi tangan kanannya. Ia hanya melihat datar tangannya yang di hiasi oleh jarum infuse itu. Pemuda itu akhirnya mencabut sembarang infusenya dan beranjak dari tidurnya, berniat meninggalkan kamarnya untuk pergi ke taman cherry blossom. Pemuda itu berjalan sedikit tertatih, namun tak selamanya Luhan berajalan dengan cara yang seperti itu. Sebisa mungkin dia akan menormalkan semuanya kembali dan berpura-pura menjadi orang yang normal seperti kebanyakan orang di luar sana.

kakinya kini melangkah keluar rumah. Sekarang ini kakinya tengah berinjak dunia luar. Luhan tidak mudah untuk menginjak tanah depan rumahnya kalau saja suster yang merawat Luhan selalu siap siaga menjaganya di depan kamar Luhan. Namun suster yang menjaganya tak kunjung tertangkap oleh indra penglihatan Luhan, saat pemuda itu berjalan untuk menuju luar rumahnya. Barang kali saja suster itu sedang pergi ke suatu tempat dan tak meminta ijin terlebih dahulu ke Luhan.

Entah apa yang membuatnya ingin mengunjungi taman itu. padahal Luhan tak pernah menginjak taman itu lagi setelah satu bulan yang lalu ketika ia sedang mencari gadis itu.

“Aku harap kau ada di sana gadis sakura.”

Yang membuat Luhan memanggil gadis itu dengan sebutan gadis sakura. Karena pertama kali ia melihat gadis itu duduk di bawah pohon sakura. Luhan masih ingat, bunga sakura yang berterbangan di bawa angin membuat wajahnya semakin cantik akan hiasan bunga sakura yang berada di sekelilingnya.  Terpaan angin sejuk juga menerpa rambutnya, membuat ujung-ujung rambutnya terombang-ambing mengikuti arah gerak angin.

Luhan kini sudah menginjakan kakinya dengan sempurna di taman yang tampak sepi itu. Gerak langkah kakinya menyusuri taman yang bagai lorong itu dengan santai. Di sisi kanan dan sisi kiri Luhan banyak pohon sakura yang meranggas tengah bejajar dengan sangat apik.

“Apa kau lapar, Luhan?” suara itu seakan memanggil nama Luhan. Tapi Luhan tidak pernah mendengar suara itu. Suara itu benar-benar terdengar asing di pendengarannya.

Sempat berkutat dengan pikirannya tentang suara tadi yang seperti memanggil namanya. Akhirnya Luhan menolehkan kepalanya kebelakang, tempat asal suara itu. kini dia sudah mendapati gadis yang ia tunggu-tunggu satu bulan yang lalu tengah menggendong dan mengelus anjing kecilnya yang berada di pangkuannya. Persis seperti adegan satu bulan yang lalu saat Luhan pertama kali melihat gadis itu.

Tanpa Luhan sadari, kini kedua sudut bibirnya melengkung keatas. Mengulas senyum kelegaan yang sudah ia tahan-tahan sejak lama.

“Tapi, kau harus bersabar. Aku masih ingin berada di sini dulu.” Suara gadis itu benar-benar terdengar renyah di pendengaran Luhan.

Tangan gadis itu terangkat sembari memainkan anjing kecilnya. Mengangkat anjingnya ke atas lagit-langit seolah hanya anjing itu teman yang selalu menemaninya.

“Kau mau kan, untuk bersabar?”

Kedua sudut bibir Luhan benar-benar melengkung keatas sejak tadi. Ia sungguh senang melihat tingkah gadis manis itu. Menurutnya pemandangan itu lah yang ia tunggu-tunggu sampai sekarang. Pemuda itu benar-benar tertarik dengan gadis itu. Di mata Luhan gadis itu benar-benar ceria dan lucu.

Kaki Luhan bergerak maju, langkahnya membawanya menuju ke sosok gadis yang tengah terduduk di bangku taman.

Namun ia mengurungkan niatnya, langkah kakinya tiba-tiba saja terhenti. Tidak ada keberanian dalam dirinya untuk sekedar menyapa gadis itu. Luhan menghela nafas panjang dan melangkahkan kakinya kembali. Langkah kakinya membawanya ke bangku taman yang berada di samping bangku yang di duduki oleh gadis itu. Dia tidak sanggup hanya sekedar meminta ijin pada gadis itu untuk duduk di sampingnya, akhirnya ia memutuskan untuk duduk di bangku satunya lagi dan tempat duduknya bersebrangan dengan gadis itu.

Luhan mencuri-curi pandang. Sesekali manik matanya menatap gadis yang berada di sebrang bangkunya dengan lekat.

Gadis itu baru menyadari jika ada pemuda yang duduk di sebrang bangku taman yang ia duduki, gadis itu membuang pandangannya ke samping kiri tempat bangku taman yang Luhan duduki. Luhan yang menyadari jika gadis itu sudah memergokinya sedang menatapnya, akhirnya Luhan membuang pandangannya kembali lurus kedepan.

Gadis itu bukannya memasang raut wajah heran karena di lihati oleh pemuda yang sama sekali tidak di kenalnya. Gadis itu malah tersenyum menatap Luhan yang kini seperti salah tingkah karena  gadis itu sedang menatapnya.

Anjing yang berada di pangkuannya, tiba-tiba saja beranjak dari pangkuannya saat gadis itu tengah tersenyum menatap tingkah Luhan yang aneh di matanya. Gadis itu melihat anjingnya yang pergi meninggalkannya dan menghampiri Luhan.

“Kau mau kemana, Luhan.”

Anjing itu menghampiri Luhan yang berada di sebrang bangku gadis itu. Terlihat raut wajah heran dari wajah gadis itu saat anjingnya tengah menghampiri Luhan.

Merasa terpanggil. Luhan membuangkan pandangannya dari anjing kecil yang berada di depannya menjadi beralih menatap gadis itu. Tangan Luhan bergerak mengambil anjing itu dan menggendongnya.

“Luhan,” panggil gadis itu kembali saat gadis itu sudah beranjak dari bangkunya menghampiri Luhan dan anjing kecilnya.

“Kau ini benar-benar nakal Luhan.”

Gadis itu semakin melangkahkan kakinya kembali mengahampiri Luhan yang masih duduk di bangkunya dengan anjing kecil milik gadis itu yang kini berada di pangkuannya. Apa yang harus di lakukan Luhan sekarang ini? Pemuda itu masih saja menahan nafasnya yang tercekat akibat jantungnya yang mulai berdetak dengan kencangnya lagi.

“Apa kau sedang memanggilku?”

Hanya kata itu yang terlontar dari bibir Luhan untuk di ajukan pada gadis yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Luhan bangkit dari duduknya. Posisinya kini tengah berhadapan dengan gadis yang sering di sebutnya dengan gadis sakura.

“Memanggilmu? Hmmm, tidak . Aku sedang memanggil anjingku. Maaf kan anjingku ya, sebenarnya dia bukan anjing yang nakal dan tak seperti biasanya dia mau menghampiri orang yang baru saja ia lihat,”

Gadis sakura itu menggerakan tangannya untuk mengambil kembali anjingnya, Luhan memberikan anjing yang berada di gendongannya pada gadis itu.

“Apa nama anda juga Luhan?” tebak gadis itu membuat Luhan menaikkan kedua alisnya ke atas.

Luhan hanya tersenyum lebar menjawab pertanyaan gadis itu.

“Maaf ya, kalau aku menamai anjingku dengan nama Luhan.”

“Tidak apa-apa. Bukankah yang nama Luhan itu banyak? Jadi tidak ada salahnya kau menamai anjingmu dengan nama Luhan.”

“Sebenarnya anjingku ini berjenis kelamin betina, namun aku menamainya Luhan karena dia ku beli dari Beijing. Karena aku menyukai nama Luhan, akhirnya anjingku ini ku beri nama itu. Menurutku nama Luhan itu benar-benar memiliki makna yang sangat bagus.”

“Oh benar begitu.”

Luhan masih saja memamerkan senyum termanisnya pada gadis itu.

“Kalau begitu aku pamit duluan.” Pamit gadis itu seraya membungkukan sedikit badannya di hadapan Luhan.

Ketika gadis itu membalikan badan dan berniat meninggalkan tempat singgahnya.

“Tunggu, ergh…”

Luhan menghalau gadis itu dengan panggilannya. Membuat si perasa membalik tubuhnya kembali menghadap Luhan.

“Maaf, kalau aku memanggilmu dengan tidak sopan,”

“Tidak masalah untuk ku.” senyum simpul kembali terukir dari kedua sudut bibir gadis itu.

“Hmmm, apa kita bisa bertemu dan mengobrol lagi?”

Luhan tidak ingin menyia-nyiakan semuanya begitu saja. Dia benar-benar tak bisa bila tidak bertemu dengan gadis sakura. Akhirnya dia menyampaikan keinginan terpendamnya secara terus terang pada gadis itu. Bukankah ini yang di inginkan pemuda itu? Seharusnya Luhan benar-benar tidak menyesal dengan ucapannya barusan.

“Oh, untuk hal itu. Kupikir tidak ada salahnya jika kita bertemu kembali.”

“Benarkah? Kau menyetujui permintaanku, erghh.”

“Panggil aku gadis sakura.” Seolah tau yang ingin Luhan tanyakan padanya. Gadis itu memperkenalkan dirinya sendiri dengan nama yang sering Luhan gunakan untuk gadis misterius yang ada di hadapannya ini.

Luhan tercengo saat gadis itu memperkenalkan namanya dengan nama pemberian Luhan saat Luhan sama sekali belum mengenal apalagi menanyakan nama gadis itu. Dia masih belum percaya dengan pernyataan gadis itu menyangkut nama panggilannya.

“Sebenarnya itu bukan nama ku. Aku ingin orang lain memanggilku dengan nama itu karena aku sangat menyukai sakura. Hmmm, kalau itu terlalu panjang kau boleh memanggilku Cherry.”

“Cherry?”

Luhan tersenyum namun ada perasaan heran pada dirinya. Nama panggilan gadis itu benar-benar lucu. Setahu Luhan, tak ada nama orang Korea yang menggunakan nama itu. Tapi itu tergantung, bila seseorang memiliki keturunan luar negri pasti mereka bisa saja menggunakan nama Cherry. Apakah gadis itu memiliki keturunan sehingga membuatnya mempunyai nama imut itu?

“Baiklah, aku akan memanggilmu gadis sakura atau tidak, Cherry.”

Gadis itu benar-benar tersenyum manis seraya menampilkan deretan gigi putihnya.

“Kalau begitu aku permisi, Luhan.”

Gadis itu benar-benar melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Luhan.

“Aku harap kita bertemu kembali.”

Luhan sengaja meninggikan nada bicaranya setelah gadis itu sudah sedikit jauh darinya. Gadis itu membalikan tubuhnya kembali mengahadap Luhan yang sudah jauh darinya.

“Datanglah ketempat ini setiap jam 12 siang, karena aku selalu ada di sini saat jam itu sudah tiba.”

Akhirnya gadis itu benar-benar melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Luhan yang tampak bahagia karena dapat berkenalan dengan gadis yang selalu di tunggunya itu. Di tambah lagi gadis itu mau di ajaknya bertemu kembali.

_TBC_

kalau penasaran ama lanjutannya. tolong di koment agar aku mau melanjutkannya. dan aku kepingin kalian mau memberi masukan atau komenant sama aku supaya aku semangat untuk menulis,,, dan melanjutkan semua ff ku…

ppai… ppai…

-Choi Yura-

 

5 pemikiran pada “Girl Imagination (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s