Lucky

Lucky

 

Author                 : @RillyJnrwnty

Genre                    : Romance, Song Fic

Rating                   : General

Cast                       :

–          Kim Jongin

–          Jung Yeonji

–          Do Kyungsoo

–          Im Zeezee

 

Cerita ini terinspirasi dari lagu EXO – Lucky. Maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.

Lyrics: http://bluelaberry.wordpress.com/2013/08/11/exo-k-lucky-lyric/

 

Here we go!

 

Dan disinilah aku seharusnya berada. Tempat dimana kau juga berada Jung Yeonji.

 

같은나라에태어나서

같은언어로말을해서

행운이야, 다행이야

세상에당연한없어

 

Being born in the same country

Talking in the same language

We’re so lucky, it’s such a relief

Nothing is for certain in this world

 

“Jongin-a, bagaimana dengan malam ini? Apa kau bisa perform di cafe?” tanya seorang pria yang diyakini adalah sahabat sekaligus manager – bisa dibilang seperti itu – pria yang dipanggil Jongin. Jongin adalah seorang guitarist sekaligus penyanyi terkenal sekitar wilayah Dongdaemun. Banyak wanita yang memujanya, menyukainya, bahkan seorang Jongin sudah mempunyai sasaeng fans.

“Hyung, aku lelah. Tidak bisa di lain waktu saja?” tanya Jongin sambil meregangkan badannya. Tugas kuliah, kerja paruh waktu, dan hobby – menyanyi – memang benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Skripsi yang mengejar dirinya, bayangan dosen menghantuinya. Kerja paruh waktu untuk membantu ibunya menghidupi kehidupan mereka sekeluarga.

Jongin anak laki-laki pertama dan satu-satunya yang bisa diandalkan dari keluarganya. Ayahnya seorang pemabuk berat, dan keberadaannya selalu tidak jelas. Terkadang di rumah, terkadang di pinggir jalan, bahkan terkadang tidur di depan rumah orang secara sembarangan. Ibunya bekerja serabutan. Mencuci piring, menjadi buruh masak di rumah makan, dan tempat lain yang berhubungan dengan dapur. Jongna, adik perempuan satu-satunya, masih dalam status pelajar setingkat kelas 10 di salah satu sekolah ternama di daerah tersebut. Mengandalkan beasiswa. Adiknya yang berambisi bisa mendapatkan beasiswa Jurusan Hukum di Universitas terkenal di Korea bagian Selatan ini belajar dengan giat setiap hari. Diselingi dengan membantu ibunya membersihkan rumah saat beliau sedang bekerja mencari makan.

***

Suara petikan gitar menggema di setiap sudut ruangan. Jongin terbawa suasana. Pengunjung cafe ikut menghayatinya.

Same bed but it feels just a little bit bigger now

Our song on the radio but it don’t sound the same

When our friends talk about you, all it does is just tear me down

Cause my heart breaks a little when I hear your name

 

“Jongin oppa! Jjang!” teriak salah satu penggemar setia Jongin. Jongin memberikannya senyuman maut dan acungan jempol sebagai respon.

“Akh! Jongin oppa tersenyum! Akh! I think I’m going crazy!”

***

“Yak! Kau sudah dengar berita sekitar kampus? Ada seorang guitarist yang tampan sedang tampil di cafe dekat sini. Ingin melihatnya? Lagipula, dosennya tidak masuk hari ini. Bagaimana, Yeonji?”

Seorang yang dipanggil Yeonji itu tidak merespon. Dia malah asyik dengan smartphonenya, ber-kakaotalk ria dengan oppanya, Cheonsa, yang tengah berada di Amerika sana.

“Yak! Yeonji-ya!”

“Oh? Kajja! Aku juga penasaran seperti apa dia,” angguk Yeonji. Yeonji dan temannya pun segera pergi ke cafe tersebut.

***

Saat Yeonji dan Zeezee – temannya – sudah tiba di café, Jongin sudah menyelesaikan lagunya.

“Zee, bagaimana? Kita telat!”

Jongin segera turun dari panggung sambil membawa gitar di punggungnya. Saat menuju pintu keluar, tiba-tiba Jongin menabrak Yeonji. “Aw!” pekiknya.

“Mian,” jawab Jongin sambil membantu Yeonji berdiri. Yeonji kini membersihkan celananya yang kotor. “Gwaenchana?” tanya Jongin. Yeonji kini mengangkat wajahnya, melihat ke arah Jongin. Mata mereka bertemu.

Jeogi…yo! Gwaenchana?” tanya Jongin sekali lagi, membuyarkan lamunan Yeonji akan Jongin.

“Ah, ne! Aku baik-baik saja. Maaf”

“Ah, aku yang salah. Kau benar baik-baik saja?”

“Oh, aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” jawab Yeonji.

“Baiklah kalau kau berkata seperti itu. Aku pergi!” pamit Jongin. Lucu sekali, pikir Yeonji. Saat ingin pulang, Yeonji merasa seperti menginjak sesuatu.

“Ada apa, Yeonji?” tanya Zeezee.

Ani! Aku seperti menginjak sesuatu,” Yeonji merunduk sambil mengambil benda yang berada di bawah kakinya itu. Sebuah gelang perak. Kim Jongin, begitulah tulisan yang tertera di benda itu.

“Ah, Zee! Jika kau ingin pulang, pulang saja. Aku masih harus mengerjakan tugas di kampus,” jawab Yeonji berbohong.

“Ah, geurae? Bukankah tidak ada tugas untuk hari ini?” tanya Zeezee. Yang ditanya hanya menggeleng saja.

“Baiklah kalau begitu. Aku pulang, ne? Hati-hati ya!” pamit Zeezee. Dia pergi meninggalkan Yeonji di café tersebut.

Sepeninggal Zeezee, Yeonji menunggu Jongin sambil menanyakan informasi tentang Jongin kepada barista café tersebut.

“Jeogiyo, apa kau tahu rumah guitarist yang baru saja tampil tadi?” tanya Yeonji kepada barista tersebut.

“Ah, Jongin? Rumahnya tidak jauh dari sini. Coba saja ke alamat ini” jawab barista tersebut sambil memberikan sebuah kertas yang berisi alamat rumah. Mungkin ini alamat rumahnya, pikir Yeonji. “Ah, terima kasih!” jawab Yeonji. Ia pun segera pergi mencari alamat rumah tersebut.

Matahari sore. Sangat indah sekali. Cuaca saat ini memang sedang dingin. Yeonji merasakan dingin menusuk tulangnya. “Ah, indah sekali!” Yeonji kembali terfokus pada alamat yang tertulis di kertas tersebut. “Dimana aku harus mencari rumah Jongin?” ia bertanya pada diri sendiri. Ia mencoba bertanya pada seseorang yang lewat, dan… Jackpot! Ia akhirnya menemukan rumah Jongin.

Perlahan-lahan ia berjalan kerumah tersebut. Memastikan bahwa alamatnya benar. Ia tidak ingin menanggung malu karena salah rumah. Setelah memastikan bahwa alamatnya benar, ia memberanikan diri memencet bel rumah tersebut.

Teeeet…. Teeeet! Ia menunggu seseorang membuka pintu tersebut. Seorang perempuan separuh baya membuka pintu. Yeonji seketika menyapanya, “Annyeonghaseyo” ucap Yeonji sambil menundukkan kepalanya. “Maaf karena aku mengganggu waktu ahjumma, keundae… Apa benar ini rumah Jongin?” tanya Yeonji langsung.

“Ah, ne! Aku ibunya, Jongin sedang mandi sekarang ini. Ayo, masuk!” jawab ibu Jongin dengan ramah, menyambut Yeonji.

“Ah, gamsahamnida ahjumma,” jawab Yeonji. Kini Yeonji membuka sepatunya dan mengikuti ibu Jongin masuk ke ruang tengah untuk menunggu Jongin selesai membersihkan badannya.

“Harap kau sabar menunggu ya! Jongin memang seperti perempuan. Terlalu lama di kamar mandi. Tapi aku akan mempercepatnya,” ucap ibu Jongin sambil tersenyum. “Ah, maaf ahjumma membuatmu repot” ucap Yeonji. “Ah, aniyo. Jongin jarang sekali membawa teman perempuan kerumah. Aku senang sekali kau datang,” Kini ibu Jongin mengambil minum untuk Yeonji dan ‘menggedor’ pintu kamar mandi supaya Jongin bisa mempercepat mandinya.

Rumah Jongin tidak terlalu kecil, namun tidak terlalu besar juga. Cukup sederhana. Bagian luar rumahnya terawat, sama seperti interior dalam rumahnya. Di ruang tengahnya terdapat berbagai macam koleksi, diantaranya koleksi cangkir dan beberapa foto keluarga. Keluarga yang bahagia, pikir Yeonji.

Saat sedang asyik melihat keadaan rumah Jongin, tiba-tiba seseorang keluar dari kamar mandi, hanya menutupi bagian pinggang sampai ke lutut. Dan Yeonji seketika sadar, bahwa orang tersebut adalah… Jongin.

 

괜찮은옷을입었던

그렇게너를만났던Lucky

착하게살아서그래

 

 

On a day that I wore nice clothes

I met you, I was lucky

It’s because I did good in the past

 

Jongin yang tersadar bahwa ada tamu dirumahnya segera berlari ke kamar dan segera berganti pakaian. Tak lama kemudian, Jongin keluar kamar. Kaos putih polos dengan celana training menutupi bagian tubuhnya. Rambutnya masih basah.

Nuguseyo?” tanya Jongin.

Yeonji segera bangkit dan memperkenalkan dirinya. “Ah, maaf mengganggu waktu bersantaimu. Mungkin kau belum menyadarinya tadi karena pertemuan singkat di café. Aku Yeonji,” ucap Yeonji sambil mengangkat tangan kanannya mengajak Jongin berkenalan.

“Aku Jongin,” jawab Jongin sambil menjabat tangan Yeonji. “Duduklah,” ucap Jongin. “Ah, terima kasih, tapi aku tak akan lama disini. Aku hanya ingin mengembalikan ini,” Yeonji memberikan sebuah gelang perak yang tadi ia temukan saat bertabrakan dengan Jongin di café.

Jongin mengambil gelang tersebut dari tangan Yeonji. “Terima kasih, Yeonji-ssi. Aku tak menyadarinya tadi. Maaf merepotkanmu,”

“Ah, tidak apa-apa. Lagipula itu menjadi tanggung jawabku juga. Baiklah, karena gelang tersebut sudah kembali kepada pemiliknya, aku pamit,”

“Dimana kau tinggal?” tanya Jongin.

“Tidak jauh dari sini. Hanya sekali naik subway, setelah itu berjalan sekitar 5 menit.” jawab Yeonji.

“Aku yang mengantarmu pulang, bagaimana? Sebagai ucapan terima kasih. Aku harap kau tak menolaknya,” pinta Jongin. Yeonji berpikir sebentar sebelum akhirnya ia mengatakan, iya.

Di perjalanan menuju rumah Yeonji, mereka banyak berbicara. Apa saja yang lewat dalam pikiran mereka, mereka membicarakannya. Yeonji merasakan hal yang aneh ketika bersama Jongin. Padahal ini merupakan pertemua pertama mereka.

“Oh, kau kuliah dimana?” tanya Yeonji. “Seoul School of Arts, bagian music. Bagaimana dengan kau?” Jongin bertanya sebaliknya.

“Waw! Daebakida! Kita kuliah di tempat yang sama, hanya beda jurusannya saja. Aku jurusan tari,” jawab Yeonji. “Itu artinya kau pandai menari, bukan begitu?” tanya Jongin.

“Aku tak bisa mengatakan iya. Kau akan mengejekku ‘tinggi rasa’ nantinya,” Yeonji menjawabnya sambil tertawa. Cantik sekali, puji Jongin dalam hati.

“Aku juga suka dunia menari. Namun, orang tuaku ingin aku turun ke dunia music. Banyak orang mengatakan, apa yang orang tua inginkan justru itulah yang terbaik untuk kita di masa depan nanti. Itu sebabnya aku mengambil music,” cerita Jongin panjang lebar.

Tak terasa rumah Yeonji sudah berada di blok depan. Itu artinya sebentar lagi mereka akan berpisah.

“Baiklah, sampai jumpa besok. Terima kasih karena mau bersusah payah mengembalikan gelang ini,”

“Ah, aku yang seharusnya berterima kasih karena mau mengantarku. Hati-hati ya. Aku akan masuk ke dalam. Sampai jumpa besok,” Yeonji segera masuk setelah melihat Jongin membalikan badannya kembali pulang kerumahnya.

Yeonji masih melihat punggung Jongin. Semakin lama semakin mengecil. Dia semakin jauh. Padahal aku hanya menatap punggungnya, namun bagaimana bisa aku mengaguminya, tanya Yeonji dalam hatinya. Setelah memastikan bahwa Jongin benar-benar sudah jauh, Yeonji segera masuk ke dalam rumahnya untuk segera membersihkan badannya setelah satu hari ini beraktifitas.

***

“Zee, aku ingin cerita!” teriak Yeonji saat bertemu dengan Zeezee di lobby kampus. Orang-orang menatap sinis ke arahnya. Yeonji yang menyadari hal itu segera menundukkan kepala sebagai tanda minta maaf.

“Apa yang ingin kau ceritakan?” tanya Zeezee.

“Aku pulang bersama Jongin kemarin. Ah! Dia ternyata lebih menawan dari apa yang kupikirkan. Aku bahkan datang kerumahnya kemarin,” cerita Yeonji antusias. Zeezee melihatnya dengan tatapan mata tajam. Yeonji tau Zeezee mengagumi Jongin. Mungkin bisa dibilang Zeezee adalah fans dari Jongin.

“Ah, mian. Aku tak bermaksud begitu… Baiklah, mungkin sampai sini saja ceritanya” Yeonji merasa tak enak hati karena membuat Zeezee merasakan cemburu dan iri padanya. Zeezee tiba-tiba pergi meninggalkan Yeonji.

“Zee!” teriak Yeonji. Zeezee tetap berjalan lurus tanpa menghiraukan panggilan Yeonji. “Terserah kau saja!” Zeezee menjawabnya.

Saat jam kuliah sudah habis, Yeonji berniat menemui Zeezee untuk mengajak berbaikan. Namun, matanya tak sengaja menemukan sosok Jongin sedang memperhatikannya dari Aula gedung kampus. Jongin tersenyum lalu berjalan mendekati Yeonji. Dia tersenyum, ucap Yeonji dalam hati.

Dug dug… Dug dug… Dug dug…

Ternyata ini rasanya jatuh cinta. Seolah masalah apapun hilang. Seolah dunia hanya milik berdua.

Lima langkah… Empat… Tiga… Dua…

Jongin tepat didepannya. Masih menyunggingkan senyumnya. Senyum paling manis di dunia versi Yeonji.

“Hai,” sapa Jongin lembut.

“Hai, sudah pulang?” tanya Yeonji.

“Iya, mau pulang bersama?”

Seketika Yeonji bingung. Tadi dia berniat menemui Zeezee untuk meminta maaf masalah pertemuannya dengan Jongin. Namun ia langsung mengiyakan ajakan Jongin untuk pulang bersama.

***

너의이름을부르고

너의손을잡아도되는

부서지는햇살은나만비추나

이렇게행복해도?

나의이름을부르고

나의어깨에기대오는

하늘의햇살은너만비추나

그렇게눈부셔도?

 

I can call your name and I can hold your hand

Is the falling sunlight only shining on me?

Can I be this happy?

You call my name and you lean on my shoulder

Is the sky’s sunlight only shining on you?

Can you be that dazzling?

Setelah pertemuan itu, Jongin dan Yeonji semakin dekat. Mereka hampir setiap hari pulang bersama. Masalahnya dengan Zeezee masih belum jelas akan selesai kapan. Walaupun dekat, Jongin belum mengungkapkan perasaannya sampai pada suatu hari…

Teeeet… Teeet…

Bel rumah Yeonji berbunyi. Di rumah hanya ada Yeonji. Ayah dan Ibunya sedang bekerja. Tak berapa lama kemudian Yeonji membuka pintu dan tak ada seorang pun disana. Ia keluar pintu mencari-cari seseorang. Namun, yang ia temukan hanya sebuah tas belanja yang berisi sebuah gaun selutut berwarna merah muda dan sepasang high heels berwarna senada. Disamping tas tersebut juga terdapat sebuket bunga mawar berwarna merah, putih, dan merah muda berjumlah 15 yang artinya tanggal dihari tersebut. Ia mencari kartu dalam tas belanja tersebut. Siapa tahu ada kartu yang bisa membantunya mencari tahu siapa pengirimnya.

Handphone Yeonji bergetar. Ada telepon masuk.

Yeoboseyo?

“Sudah kau buka isinya?”

“Akh! Jongin! Kau membuatku hampir mati penasaran. Tapi, untuk apa semua ini?” tanya Yeonji bingung. Ia segera mengambil barang-barang tersebut lalu masuk ke kamarnya. Ia masih melanjutkan percakapannya dengan Jongin.

“Bersiaplah. Dua jam lagi aku akan menjemputmu. Pakailah gaun dan sepatu yang kupilihkan. Ada sesuatu malam ini dan kau tak boleh tahu sekarang,” jawab Jongin ditelepon.

“Baiklah, aku bersiap dulu ya. Bye…”

Yeonji segera berlari ke kamar mandi. Rasa penasaran masih menyelimuti dirinya. Tak biasanya Jongin seperti ini.

***

같은색깔을좋아하고

같은영화를좋아하는걸lucky

운명같은사랑인거야

 

We like the same colors

We like the same movies, lucky

It’s a love that’s meant to be

 

Saat Jongin kembali dari rumah Yeonji, Jongin tidak langsung ke rumah untuk bersiap-siap, masih ada hal lain yang harus ia selesaikan supaya rencana malam ini berjalan dengan sempurna.

Jongin pergi ke sebuah tempat, ada yang harus dibereskannya malam ini.

Tuk..Tuk..Tuk..

Jongin mengetuk layar handphonenya. Kyungsoo hyung. Itulah nama yang tertera di layar handphonenya. Ia menekan tanda panggil.

Yeoboseyo?

Hyung…” panggil Jongin saat nomor yang dituju mengangkat panggilannya.

“Ada apa?”

“Lihatlah ke jendela kamar!”

Beberapa detik kemudian seseorang telah muncul di jendela yang dimaksud Jongin.

“Ah, arasseo. Aku turun sekarang.”

Panggilan terputus. Jongin menunggu Kyungsoo yang akan segera menemuinya.

Pintu rumah Kyungsoo terbuka, ia segera berjalan menuju Jongin.

“Ada apa?” tanya Kyungsoo. “Aku masih ada pekerjaan, haebwa!” seru Kyungsoo.

Hyung, apakah mobilmu ada di garasi?”

“Iya, kau mau memakainya?”

“Hehe, bolehkah?”

Kyungsoo berpikir sejenak. Apakah harus mengizinkannya atau tidak.

“Hyuuuuuung….” Jongin memasang aegyo – nya.

Kyungsoo merogoh saku celananya lalu melemparkan kuncinya kepada Jongin. “Besok pagi sudah harus ada dirumahku”

Jongin memamerkan senyum cerahnya. Seketika ia memeluk Kyungsoo. “Gomawo, hyung. Aku pergi dulu!” Jongin segera berlari ke garasi mengambil mobil Kyungsoo. Rencananya malam ini pasti akan berjalan dengan lancar.

***

Tak lama Jongin pergi, Yeonji segera membersihkan seluruh badannya. Dia tak ingin terlihat jelek di mata Jongin malam ini. Semuanya harus berjalan dengan sempurna. Ia ingin menunjukkan sisi sempurnanya malam ini.

“Indah sekali gaunnya! Ternyata seleranya bagus juga,” ia terkekeh geli membayangkan Jongin yang membeli semua ini ke boutique khusus wanita. Pasti banyak wanita yang tergila-gila dengannya.

Jongin memang cocok disebut sebagai pria tampan. Wajahnya mempesona. Rahang yang membentuk wajahnya terlihat seperti seorang yang menawan, yang mampu menarik perhatian wanita. Kulitnya eksotis. Bibirnya yang manis. Matanya yang tajam, serta tinggi dan ukuran badannya seimbang.

Yeonji kini berdiri menghadap cermin. Melihat pantulan dirinya malam ini. “Cantik sekali,” pujinya pada diri sendiri.

Tak lama kemudian, sebuah panggilan masuk ke handphone Yeonji. Jongin, itulah nama yang tertera pada layar handphonenya. “Ini aku, bagaimana? Sudah siap, nyonya?” tanya Jongin. “Ah, iya. Aku akan segera menemuimu di depan” Yeonji segera memutuskan panggilan lalu mengambil tas dan menuju pintu depan untuk segera menemui Jongin. Yeonji memakai heels yang diberikan Jongin, pas sekali dengan ukuran dan warna kulitnya. Yeonji lalu ke depan rumahnya untuk menemui Jongin.

***

사진속의환한미소와

너와나의환상의조화

I think I’m a lucky guy 너무좋아

우린지금꿈석의동화

Oh My God! 재일듣기좋은pop-pop

그녀목소린녹여like ice cream

모습마치그림

 

We smile brightly in the photo, we’re a perfect harmony

I think I’m a lucky guy, it’s so good like we’re in a fairy tale of our dreams

Oh My God! It’s the best thing to hear

Her voice melts me like ice cream

She is picture perfect

 

Oh My God!She’s so beautiful!” itulah kalimat yang melintas dipikiran Jongin ketika melihat Yeonji keluar dari rumahnya untuk menemui dia. Yeonji berjalan anggun dengan gaun dan heelsnya yang senada. Tas nya membuat dia semakin terlihat cantik di mata Jongin.

Jongin segera berjalan untuk membukakan pintu untuk Yeonji. Malam ini, Jongin tampil sempurna. Setelan blazer dan celana hitam serta kemeja putihnya menambah kesan eksotis. “Sebelas,” pikir Yeonji dalam hati menilai Jongin. Sepuluh tak cukup untuk menilai penampilan Jongin malam ini. Jongin segera membukakan pintunya dan membiarkan Yeonji masuk ke dalam mobil. “Kau cantik sekali” puji Jongin sambil tersenyum. Yeonji balas tersenyum. Jongin segera menutup pintu mobil dan melenggang pergi ke sebuah tempat yang sudah disiapkannya.

***

나의처음이너라서

노래주인공이노라서

이렇게웃잖아너만보라구

지금나만보고있니?

내게꿈이생겼어

멋진남자가돠갰어

보는눈은무엇보다

다시뛰게만드니까

 

Because you’re my first, because this song is about you

I’m smiling like this, so only you can see

Are you looking at me right now?

I have a new dream, it’s to be one a better man

Because your eyes that look at me

Make me run once again more than anything else

 

Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah rumah makan dengan suasana romantis. Tak banyak yang makan disana. Pengunjungnya bisa dihitung jari. Jika banyak orang tahu tempat ini, mungkin rumah makan ini tidak akan sesepi ini. Namun Jongin bersyukur karena malam ini tempatnya sepi. Mendukung suasana.

Jongin dan Yeonji berjalan ke arah receptionist. “Meja dua orang atas nama Kim Jongin”

Receptionist tersebut langsung membawa mereka ke sebuah ruangan VIP. Di ruangan tersebut terdapat sebuah meja yang sudah disusun rapi dan seromantis mungkin. Bau aromatherapy tercium dari setiap sudut ruangan. Mereka duduk lalu tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang.

Mereka makan sambil bercanda ria. Banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai dari pertemuan pertama mereka sampai ke keluarga masing-masing. Saat selesai makan, Jongin membawa Yeonji pergi lagi ke sebuah tempat.

Tempat ke-dua yang mereka tuju adalah taman. Jongin membawa Yeonji berkeliling taman dan membawanya ke sebuah tempat yang sepi. Tidak banyak orang yang tahu tempat tersebut.

Tempat tersebut berada di sebelah utara taman tersebut. Mungkin banyak orang yang tidak tahu tempat tersebut karena tempat tersebut terhalang oleh semak belukar sehingga tempat tersebut menjadi tertutup.

“Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?” tanya Yeonji penasaran. Ia heran, ternyata orang seperti Jongin bisa jadi romantis. Jongin melepaskan blazer dan memakaikannya untuk Yeonji. Tak ingin Yeonji kedinginan. Yeonji tersipu malu.

“Kyungsoo hyung yang memberitahuku tempat ini. Dia juga sering mengajak pasangannya ke tempat ini,” Jongin menghela nafas panjang.

“Aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Tapi, kurasa kau mungkin merasakannya. Aku merasa nyaman saat berada di dekatmu. Rasa ini tak sama saat aku dekat dengan wanita lain. Dan jika aku ingin mengatakannya,” Jongin mendekat ke arah Yeonji dan memegang kedua tangannya.

“Aku sayang padamu. Sangat sayang padamu lebih tepatnya. Ini kurasakan saat kita pertama kali bertemu. Sosok wajahmu menyenangkan. Mampu membuat hatiku lebih tenang. Dan aku mau, kau memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu, memberikan hari yang indah untukmu. Dan mungkin, kau adalah cinta pertamaku,”

Yeonji menatap kedua mata Jongin. Mencari celah kebohongan di kedua bola matanya, namun kebohongan itu tidak ada disana. Jongin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna silver. Ia membuka kotak kecil tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah kalung. Berkilau.

Jongin berjalan ke punggung Yeonji dan memakaikan kalung tersebut. Kini ia memeluk Yeonji. “Bagaimana dengan jawabanmu?” tanya Jongin menempelkan rahang bawahnya ke bahu Yeonji. Menempelkan kulit mereka.

Yeonji menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Kini ia melepaskan kedua tangan Jongin lalu berbalik menatap wajahnya. Karena Jongin lebih tinggi, Yeonji harus mengadahkan kepalanya ke atas supaya bisa menatap wajah Jongin dengan lebih leluasa.

“Pertama, aku bisa merasakan kasih sayangmu itu. Aku sungguh bisa merasakannya. Dan intinya… Aku juga sayang padamu. Eum, lebih tepatnya sangat menyayangimu,”

Kini Yeonji menempelkan tangannya ke wajah Jongin. Mengelus kedua pipinya. Dan disitulah Yeonji menemukan sebuah senyuman yang teramat sangat manis di bibir Jongin. Jongin menatap wajah Yeonji sekali lagi, lalu menatap bibir mungil milik wanitanya. Jongin memindahkan tangannya ke pinggang Yeonji, sedangkan Yeonji masih menempelkan tangannya ke wajah Jongin. Tanpa aba-aba, Jongin menempelkan bibirnya dengan bibir Yeonji. Membiarkan rasa sayang tersebut mengalir. Kini Jongin mulai melumat bibir mungil Yeonji dan saat itulah mereka menjadi sepasang kekasih yang saling menyayangi.

 

So lucky, my love

So lucky to have you

So lucky to be your love, I am

 

 

“Mungkinkah ini rasanya? Nyaman bersamanya, tersenyum melihatnya, bahagia rasanya. Selama ini mungkin aku tak tahu arti dari kalimat itu, sampai akhirnya aku menemukan wanita seperti dirimu”

Kim Jongin

 

 

 

 

 

 

 

 

Kirim ke: [exofanfiction@yahoo.com]

Iklan

9 pemikiran pada “Lucky

  1. Aaaa sweet>u< tapi itu masalah sama Zeezee gimana? Masih marahan?
    Tapi ini pendek, coba dibuat lebih panjang^^ hihi;3

    Keep writing ya thor!

  2. akh parah2 . .
    Harus ada sequel chingu . .
    Huaaaaaaaa
    Gmana ya kalo yeonji tau bokap kai suka mabok . .
    Huaaaaa
    Kai ama aq ajha. .hehehe

    So sweet pokoke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s