Oppa & I (Chapter 2)

Oppa & I

 oppa-and-i1

 

| Title : Oppa & I | Author : sasmaamani (hida0604.wordpress.com)|

| Main Cast : ♪ Kim Na Young (OC/Ulzzang) | ♪ Kim Jong In EXO |

| Genre : Comfort/Hurt, Family, a little bit Romance, Angst, Fluff |

| Length : Chaptered | Rating : General/PG-13 |

| Poster : Pinkeucho © Dreamsartgraphics |

–Oppa & I–

 

Eomma dan Appa kecewa sekali denganmu, Nay.” Mom memanggilku dengan nama asingku untuk pertama kalinya sejak beberapa hari kami mulai tinggal di sini, di Korea. “Di Amerika Serikat, kau selalu unggul dari yang lain. Kau selalu menjadi peringkat pertama secara paralel. Lihatlah piala-piala itu. Kau selalu memenangkan olimpiade-olimpiade internasional. Tapi hanya melakukan tes untuk masuk ke kelas akselerasi saja, kau tak bisa!?”

Di sinilah kami sekarang. Berempat duduk tenang di dalam ruang khusus di rumah ini. Ruang ini hanya difungsikan untuk berdiskusi jika ada problem keluarga. Dan aku, Kim Na Young ataupun Nay Jung yang selalu menjadi yang pertama tidak bisa masuk ke kelas akselerasi adalah problem untuk Mom.

Tidak ada yang berbicara. Bahkan Appa–sampai sekarang aku tidak akan pernah memanggil Mom dengan sebutan ‘Eomma’, karena selamanya Mom dengan Dad. Sedangkan Appa hanya pengganti dan sebutannya tentu jelas berbeda–dan Jong In juga hanya bisa terdiam. Tapi, dapat kutebak Jong In tertawa puas dengan problem ini.

Mianhae, Mom … saat itu aku sedang tidak fokus. Aku tidak teliti menjawab soal. Ada sesuatu yang mengusikku …,” ujarku pelan sambil menunduk. “Aku bersedia jika diberi kesempatan untuk mengikuti tes itu lagi. Aku pasti akan masuk kelas akselerasi,” jawabku yakin sambil menatap Mom-Appa-Jong In satu persatu.

Mom menghela nafas dengan berat. “Jong In-ah, apakah kepala sekolah bisa memberikan tes untuk masuk kelas akselerasi lagi untuknya?” tanya Mom kepada Jong In yang tampak gelagapan merespon pertanyaan Mom. Tapi, ia segera berdehem cepat.

MianhaeEomma. Periode untuk mengikuti tes itu hanya setahun sekali. Jadi, Na Young hanya bisa mengikuti tes itu lagi tahun depan, saat akan masuk kelas 3,” jelas Jong In singkat kepada Mom yang semakin membuatku pasrah.

“Sayang … aku bisa mengatakan kepada kepala sekolahnya, aku cukup dekat dengan beliau. Beliau pasti akan mengabulkan permintaanku untuk memasukkan Na Young ke kelas akselerasi atau memberikan tes sekali lagi untuknya,” Appa membuka suara, mencoba untuk menghibur Mom yang tampak stres dan pusing memikirkan problem ini.

“Tidak apa-apa, Sayang. Itu namanya curang. Aku ingin Na Young dan Jong In tumbuh sukses tanpa ‘ternodai’ dengan hal kotor itu sedikitpun. Ini sudah menjadi kesalahan Na Young. Na Young-ahEomma akan menyita gadgetgadget-mu dan kau tidak boleh membeli novel lagi selama dua bulan!” seru Mom kepadaku dengan tegas. Aku tidak suka itu. Mom boleh menyita barang-barangku. Tapi jangan sebut dirinya ‘Eomma’ jika berbicara denganku.

Arraseo, Mom.” Aku menekankan ucapanku pada kata ‘Mom’. “Dan … aku tidak sudi memanggilmu Eomma. Kau tetap menjadi Mom-ku. Mom hanya untuk Dad. Eomma untukAppa. Ayahku yang ‘benar-benar’ hanya Dad. Dan terserah jika Mom menikah lagi. Tapi, bagiku aku hanya mempunyai Dad dan Mom. Bukan Appa dan Eomma. Camkan itu. Aku masuk ke kamar dulu,” aku segera berdiri dari kursiku dan berjalan keluar ruangan.

“Aish anak itu! Benar-benar tidak ada sopan santunnya! Sayang … jangan hiraukan perkataan Na Young, ya. Dia mungkin belum bisa menerima. Tapi aku akan membuatnya secepat mungkin menerima keadaanmu. Oke?” aku dapat mendengar ucapan Mom yang itu karena jarak antara kursi tempat kami tadi duduk dengan pintu keluar sangat jauh. Sumpah, ruangan ini benar-benar luas sehingga aku belum benar-benar keluar dari sini.

“Tidak apa-apa, Sayang. Jangan memaksanya. Ada sebuah kisah, anak yang sudah sepuluh tahun tinggal bersama Ayah sambungnya tetap belum bisa menerima sepenuhnya. Biarkanlah semuanya berjalan dengan begitu saja,” Cih. Apa katanya? Ayah sambung? Ogah. “Nah, problem ini kita tunda dahulu. Jong In-ah, kau bisa kembali ke kamarmu.” Aku mempercepat jalanku menuju pintu keluar. Sudah pernah kukatakan, ‘kan? Ruangan ini terlalu luas dan sunyi sehingga aku masih dapat mendengar suara jawaban Jong In, walaupun dengan samar-samar.

NeAppa.” Aku dapat mendengar derap kaki Jong In dan dapat kulihat ia berjalan melewatiku ketika aku masih berdiri di tengah-tengah koridor lorong rumah ini. Ia menghentikan langkahnya dengan mendadak dan membalikkan tubuhnya ke arahku, sehingga sukses membuatku terkejut karena jarak kami sangat dekat–sebenarnya bukan itu yang kupermasalahkan.

“Uh … ehm.” aku segera mengembalikan ekspresiku dan menatap Jong In datar.

“Nikmati saja, my beloved yeodongsaeng~” Jong In kemudian berlalu meninggalkanku terdiam di tempat dengan perasaan kesal dan wajah ditekuk. Lihat saja nanti!

-Oppa & I-

Hari-hariku berjalan di sekolah berjalan dengan cukup lancar. Tak ada kendali sama sekali. Walaupun di sekolah, terkadang jika aku melewati beberapa haksengdeul, pasti akan ada yang berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk diriku. Tsk. Tapi aku tetap tak menghiraukannya.

Aku juga dapat menarik kesimpulan bahwa Jong In itu populer di kalangan haksengdeul di sekolah ini. Setiap kali ada gerombolan yeoja haksengdeul, pasti di tengah-tengah mereka ada Jong In. Untungnya, aku masih dapat memegang janjiku, untuk tidak membuka identitasku dan menyapanya layaknya teman dekat.

Begitu pula di rumah. Aku dan Jong In tak pernah saling menyapa. Salah satu dari kami tidak ada yang berusaha menyapa walaupun hanya sekedar sapaan, ‘Selamat pagi!’ atau ‘Sudah mengerjakan PR?’ seperti layaknya kakak-adik, ani, aku tak sudi menjadi adiknya. Kami hanya berjarak delapan hari! Coba bayangkan. Ia lahir tanggal 17 Januari 1994, sedangkan aku lahir tanggal 25 Januari 1994.

“Baiklah, saya memiliki sebuah pengumuman, harap tenang!” seru kepala sekolah kepadahaksengdeul yang berkumpul di auditorium sekolah. “Minggu depan, kita akan mengadakan acara Summer Festival yang telah dirancang oleh para pengurus OSIS. Hampir semua rangkaian acara dan instruksi akan disampaikan di tepi pantai. Dijamin, yang tidak ikut bakalan rugi! Kita akan mulai berangkat minggu depan. Para ketua kelas akan membagikan angket Summer Fest ini. Saya harap, seluruh hakseng bisa mengikuti acara ini. Kamsahamnida.”

Dan di sinilah aku sekarang. Di kamarku yang bernuansa pink–yang sebenarnya bukan aku yang meminta. Padahal aku suka biru–dan polkadot ungu. Terlalu ke-perempuan-an. Aku mengingat ucapan kepala sekolah beberapa hari yang lalu di auditorium sekolah. Kemarin, aku baru saja mengumpulkan angket perkemahan itu–yang sebenarnya deadline pengumpulan memang kemarin–dan sekarang aku sedang menyiapkan perlengkapanku untuk perkemahan nanti. Aku hanya membawa yang sewajarnya saja. Karena perlengkapan perkemahan–sebenarnya tidak bisa dikatakan perkemahan juga, sih, karena kami akan tidur di penginapan, bukan ditenda–sudah dipersiapkan oleh pihak sekolah. Dan, kami akan berangkat besok! Aku sudah benar-benar mengantuk, tapi akan benar-benar mepet jika packing besok pagi. Aku pun belum tentu bisa menjamin diriku bangun sebelum pukul 05.00 KST.

Alhasil, aku hanya membawa beberapa pasang pakaian kasual–rok jeans selutut dan celana jeans panjang, serta sweater/kaos lengan panjang–dan perlengkapan wanita seperti sabun cuci muka, body spray, parfum, mouth spraylotion, krim anti sinar UV, dan lain sejenisnya. Walaupun, aku tampak tak peduli dengan penampilanku, aku tetap tidak ingin meninggalkan barang-barang itu. Aku juga membawa coat dan jaket pink kesayanganku, serta stocking dan kaus kaki. Tak lupa aku membawa iPod Nano, iPhone, power bank, SLR (karena aku anggota inti ekskul fotografi, jadi diwajibkan membawanya), headphone Beats-ku, dan lain sebagainya.

“Fyuh ….” gumamku setelah selesai packing. Untungnya, barang-barangku muat masuk ke dalam ransel gunungku yang berukuran sedang. Sempurna! Sebenarnya, Mom menyuruhku membawa koper, tapi aku tak ingin ambil risiko yang cukup memuakkan.

“Mom dan Appa memanggil kalian ke sini lagi untuk mendiskusikan perkemahan kalian besok.” Akhirnya, Mom menghargaiku dengan memanggil dirinya ‘Mom’. “Jong In-ah, Mom harap kamu menjaga Na Young dengan baik, ne? Ia memang tangguh. Tidak mudah sakit, tidak takut apapun, dan tidak ceroboh sehingga tidak merepotkan orang lain. Tapi, Mom harap kamu menjaganya dengan baik.” Padahal, aku sudah mengantuk sekali, tapi bisa-bisanya Mom memanggil kami untuk berkumpul di ruangan ini lagi.

NeEomma.” Cih. Pasti di area perkemahan ia akan berubah menjadi sok cool dan tetap tidak menyapaku alih-alih menjagaku. Pasti ia akan pergi begitu saja dan tak menghiraukanku. Mu-na-fik. Tsk.

“Dan kau Na Young. Jangan pernah membantah perintah oppa-mu, Jong In. Rukun-rukunlah dengannya selama di sana, arraseo?” ujar Mom. Dan, tadi apa? Oppa-ku? Ogah aku memanggilnya dan mengakuinya sebagai ‘oppa-ku’. Tapi, aku hanya mengangguk seadanya. Aku sedang tidak mood dan benar-benar sudah mengantuk untuk berkomentar ataupun melaporkan asumsiku terhadap apa yang akan dilakukan Jong In nanti di sana.

“Nah, kalian boleh kembali ke kamar masing-masing. Jaga kesehatan kalian dan jangan sampai sakit. Tidurlah yang cukup. Arraseo? Silahkan kembali ke kamar kalian.” ucapAppa kepadaku dan Jong In. Kami berdua hanya mengangguk mengerti dan membungkuk kecil. Lalu berlalu kembali ke kamar masing-masing.

-Oppa & I-

Kau tahu ini hari apa? Its Carnation DayAni, mian, maksudku ini hari perkemahan atau Summer Fest. Aku sudah berada di sekolah. Pengurus OSIS dan beberapa guru sedang menertibkan kami dan memberikan instruksi seputar Summer Fest. Aku masuk ke kelompok 6. Summer Fest adalah acara umum sehingga isi kelompok diacak dan dicampur, tidak sesuai kelas. Dan Jong In? Ia masuk ke kelompok 2.

Ne, kalian akan masuk ke bis nomor 6. Jika sudah sampai di area perkemahan, saya harap kalian langsung membentuk barisan walaupun belum saya arahkan. Di kertas yang saya bagikan tadi, sudah tertera jadwal dan kegiatan selama di sana. Saya harap semuanya mengikuti rangkaian acara dengan tertib. Saya juga melampirkan peraturan selama berada di sana dan nama-nama roomates kamar kalian nanti. Setiap kamar penginapan akan diisi oleh 4 hakseng. Oke, sekarang mari kita dengarkan pembukaan dari kepala sekolah.” jelas Jun Myun sunbae, ketua OSIS yang kebetulan menjadi pemandu kami, kelompok 6.

Kepala sekolah pun mulai bercuap-cuap yang isinya sama sekali tidak perlu dan terlalu berbasa-basi–hanya berisi pesan agar para hakseng mematuhi peraturan dan menjaga diri selama berada di sana, serta bla bla bla–sebelum haksengdeul masuk ke bis. Aku tidak terlalu menghiraukan ucapan beliau dan memilih untuk membaca kertas yang telah dibagikan oleh Jun Myun sunbae.

Aku pun mulai mencermati isi kertas yang dibagikan oleh Jun Myun sunbae. Intinya, aku sekamar dengan 3 yeoja hakseng lainnya, yang bernama Jo Eun Hye, Jang Mi Rae, dan Choi Hwa Jung. Kuharap mereka semua ramah-ramah dan bisa diajak berkompromi.

“Sekian dan terima kasih, saya mohon kerjasamanya.” Kepala sekolah mengakhiri cuap-cuapnya. Aku segera menyimpan kertas yang dibagikan Jun Myun sunbae tadi dan merapikan barisan. Karena ini waktunya haksengdeul masuk ke bis. Setiap bis berisi 20 hakseng, belum termasuk guru dan pengurus OSIS yang akan menjaga dan memandu kami nanti.

Jun Myun sunbae mulai memberi instruksi untuk kami agar segera masuk ke dalam bis setelah kelompok 5 masuk ke dalam bis.

Aku meminta izin kepada Jun Myun sunbae karena tiba-tiba merasakan ‘panggilan alam’ dari toilet. Setelah diberikan waktu 5 menit oleh Jun Myun sunbae, aku segera berlari cepat memasuki kamar mandi wanita terdekat.

Aku segera berlari dengan tergesa-gesa keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan keperluanku. Aku berlari memasuki bis 6 yang sudah penuh karena seluruh anggota kelompok sudah stay. Aku pun mencari bangku yang masih kosong.

Tiap barisan bangku di dalam bis ini berisi 4 bangku dan dipisahkan menjadi dua bagian, kanan dan kiri. Jadi, ada sekitar lima barisan untuk haksengdeul. Bis ini juga berisi sepuluh barisan sehingga lima barisan yang lain untuk seonsaengnim dan pengurus OSIS yang berada di dalam bis kelompok kami.

Aku menghempaskan tubuhku di sebuah bangku kosong yang berada di barisan kanan ke-3 dari belakang. Aku menoleh ke arah chairmate-ku yang duduk di dekat jendela, seorangnamja yang tampak sedang terlarut dalam musik yang mengalun di headphone-nya. Namjaitu balik menoleh ke arahku, dan menatapku dengan pandangan bahwa aku telah mengganggunya. Mungkin, karena aku menjatuhkan diri ke atas bangku kosong di sampingnya dengan cukup kasar.

Mianhae …” sahutku pelan, tak peduli ia mendengarnya atau tidak. Ia hanya mengangguk mengerti–yang malah membuatku kesal–dan kembali terlarut dalam dunia buatannya sendiri. Aku menoleh ke seberangku. Namja dan yeoja. Begitu pula dengan bangku yang lain. Apa memang sudah diatur seperti ini?

“Kepala sekolah dan Jun Myun sunbae memang menginstruksi hal ini tadi. Tampaknya, saat Jun Myun sunbae menginstruksi di bis ini tadi, kau belum datang. Tapi, kau pasti mendengar instruk ini dari kepala sekolah tadi, ‘kan?” Aku menoleh dan menatap takjubnamja ber-name tag Oh Se Hun–aku mencuri pandang ke arah name tag yang terpasang diblazer seragamnya. Fyi, untuk berangkat dan pulang seperti ini, kami memang diharuskan memakai seragam–itu. Dia bisa membaca pikiranku, ya?

“Ah, memang tadi saat kepala sekolah cuap-cuap aku terfokus pada ini,” sahutku sambil menunjukkan kertas yang dibagikan Jun Myun sunbae di lapangan sekolah tadi. Ia hanya mengangguk mengerti membuatku bertambah kesal. Tapi, aku tak menghiraukannya kali ini dan malah memikirkan Jong In … ia duduk dengan siapa, ya?

Aish, babo! Kenapa kau malah memikirkannya, heol? pikirku sambil memukul-mukul kepalaku untuk menghilangkan bayangan Jong In di otakku. Mengapa aku malah memikirkan Jong In, sih? Lebih baik aku memikirkan namja tampan bernama Oh Se Hun yang menjadi chairmate-ku di bis ini. Hahaha. Kuakui dia tampan, sebenarnya Jong In juga tampan. Sayangnya, mereka benar-benar mirip, sama-sama menyebalkan.

“Ah, chogiyo. Se Hun-ssi, kau kelas berapa?” tanyaku dengan pelan sambil menatapnya nanar. Ia menoleh dan membuka headphone-nya. Lalu menatapku seakan-akan bertanya, ‘Apa?’ aku pun mengulangi pertanyaanku lagi.

“Oh, kelas 2-1. Aku mengenalmu … di hari pertama kau masuk kelas 2-1, ‘kan? Lalu kenapa kau sekarang masuk kelas 2-2? Gagal tes? Dan, kenapa hari pertama sekolah kau dimasukkan ke kelas 2-1? Seharusnya sinipseng itu dimasukkan ke kelas reguler dulu, baru jika ia ingin ‘naik kelas’ bisa mengikuti tes itu.” Se Hun menodongku dengan berbagai pertanyaan serta penjelasan. Aku menatapnya gugup, bingung menjawab dan merespon apa.

“Ah, begini … aku juga tidak tahu mengapa aku dimasukkan ke kelas 2-1. Apa mungkin karena aku banyak meraih beberapa penghargaan? Lalu … memang benar aku gagal ikut tes itu, alasannya, sih, karena tidak fokus. Beberapa menit sebelum tes, aku mendapatkan pesan teks dari temanku yang ada di Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa Jong In,oppa-ku akan merebut Mom–” Aku membekap mulutku dengan kedua tanganku. Walaupun suaraku terlalu kecil dan hampir berbisik, ia mungkin tetap bisa mendengar suaraku.

What? Kau adik Jong In? Tapi kok satu umur? Saudara kembar?” mati. Aku keceplosan. Tapi apa katanya? Saudara kembar? What!?

To be Continue …

a/n: Gimana reader? Absurd, ya? Di Summer Fest nanti author mau buat kejutan yang banyak, yey. Kira-kira apa aja, ya, rangkaian acaranya? Muehehe :3 Seperti biasa, jangan lupa comment, ya! Jika berkenan, minta like-nya juga hehe. Ceritanya klise, ya? Gak papa deh wkwkwk. So, tunggu chapter 3-nya dengan sabar, ya. J

Iklan

12 pemikiran pada “Oppa & I (Chapter 2)

  1. omaigot . . Kenapa nay keras kepala bgt. .huh
    Kekekekeke pdhl aq brharap nay-kai jadi chairmate. .hahaha mlh sama SEHUN . .hahahahahaha
    What?knapa nay mlh keceplosan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s