Sides

Sides

hunbaekjin poster DONE-DROPBOX SOON!

Ahn Chan Jae

.

Http://unbreakablematoki.wordpress.com

.

Presents

..

.

Semua orang mempunyai sisi gelap mereka masing masing

.

..

Apa kau siap bertemu dengan milikku?

..

.

Sides

.

.

Nam Woojin

Byun Baekhyun

Park Gyuri

.

Oh Sehun

.

.

.

One shot

4.228 words

.

.

Mystery               :           Surrealism

.

.
PG-13

.

.

Let’s Dive into my mind

.

.

.

Gyuri melangkahkan kaki jenjangnya di lorong yang kosong. Hanya ada beberapa yeoja berpakaian serba putih membawa kereta dorong berisi nampan-nampan makanan. Dindingnya menyuratkan kebersihan dan rasa dingin di saat yang bersamaan—atau mungkin itu hanya halusinasi Gyuri sendiri, tak ada yang tahu.

Byun Baekhyun, gumamnya rendah. Di hadapannya sebuah pintu besi yang terkunci dengan serangkaian passcode lock. Gyuri menempelkan kartu identitasnya dan menekan serangkaian nomor rumit dengan cepat dan mendekatkan matanya ke scanner tepat setelahnya. Fasilitas di gedung selatan memang mengagumkan.

annyeonghaseyo, Byun. Kau sudah bangun?” ucap Gyuri sambil menekan sebuah tombol di intercom dekat keypad untuk lock tadi. Hanya ketukan heels yang menemaninya selama jeda 5 detik sebelum sebuah suara parau menjawabnya.

“Baekhyun masih tidur.”

Gyuri tersenyum tipis.

well, mungkin hanya akan ada kita untuk sementara, hm Oh Sehun?”

Gyuri kembali menekan serangkaian angka di keypadnya dan pintu besar itu bergeser perlahan, menampakkan seorang namja yang tersenyum tipis menatap sebuah jam saku tua yang di gantung di langit-langit, terkurung borgol di kedua tangan dan kakinya.

“halo, noona,” Sapa namja itu dingin, masih dengan senyum tipis menghiasi wajah cantiknya. “kau kemari untukku atau si Byun?”

“sebenarnya aku kemari untuk Byun dan obat-obatnya. Tapi untuk berbincang denganmu sebentar juga kurasa tak apa, Sehun-ah.”

Namja itu terkekeh dan menggoyang-goyangkan borgol di tangannya, “padahal aku yang sedang menunggumu.”

“modus,” Gyuri meletakkan foldernya di nakas dekat tempat tidur dan merogoh sakunya. “jam berapa kau tidur semalam?”

“sore, kurasa. Aku tak tahu. Baekhyun yang menghitung hari. Dia masih terjaga berjam-jam setelah aku tidur. Dan perlu kuingatkan—“ Gyuri memasukkan kunci yang tadi ia ambil dari saku ke satu lubang kunci di satu-satunya ranjang di ruangan itu. “—jam saku itu sudah lama mati. Ah, terima kasih banyak. Kau tak tahu berapa lama aku sudah menahannya.”

Gyuri hanya terkekeh saat namja itu melompat keluar dari ranjang disusul bunyi sendi-sendi yang mulai kaku dan kaki namja itu yang berjinjit sambil lari ke arah toilet, “jadi, bagaimana tidurmu semalam?”

Namja itu menghela nafas lega sebelum terdengar bunyi toilet di flush dan suara gemercik air dari wastafel, “tidurku? Entahlah. Kurasa kurang nyenyak. Aku tidak ingat.”

well, sambil menunggu Baekhyun bangun, apa ada yang ingin kau sampaikan?” tetesan air yang hendak mengalir melewati kening namja itu terhenti. Ia menautkan alisnya sambil melangkah dan merenggangkan sendi-sendi yang tadi tidak sempat di benarkan olehnya. “aku sudah mendengar banyak dari versi Baekhyun, kau tahu.”

“ah, Baekhyun memang bodoh. Sudah kukatakan ratusan kali padanya, bercerita takkan pengaruh,” namja itu memiringkan kepalanya cepat, disusul bunyi ‘takk’ yang cukup keras. “tapi hanya bujukkanmu yang sejauh ini berhasil, noona.”

“aku tidak diterima di biro ini hanya dengan wajahku, kau tahu,” jawab Gyuri  asal sambil tersenyum dan merapikan tempat tidur namja itu. “aku punya bakat terpendam.”

aegyeo? Kau sama saja dengan si Byun,” namja itu kembali duduk di atas ranjang yang sudah rapi. “omong-omong, aku lapar. Makan malam tadi Baekhyun yang menghabiskannya.”

“bukankah kalian berbagi lambung? Kenapa Baekhyun kenyang dan kau tidak?”

“sudah lama Baekhyun yang mengunyah. Aku rindu rasa nasi yang anta,” Gyuri menggeleng pelan melihat tingkah laku pasiennya dan memberinya sebunguks permen sugar free. “terima kasih.”

“kau tahu, Hun? Aku selalu ingin mendengar versi ceritamu. Versi namja yang belum sepenuhnya dewasa,” namja itu hanya mendengus mendengar Gyuri yang mulai memancingnya. “selama 3 tahun kau menjadi pasienku, kau tak pernah angkat bicara soal hidupmu. Selalu Baekhyun yang muncul disaat-saat seperti ini.”

Namja itu terkekeh meremehkan, “kau ingin aku bercerita?”

Bingo.

“ya, semua detailnya. Dari awal kau bertemu ‘Namu’ sampai luka ini,” Gyuri menyentuh permukaan kulit pergelangan tangan namja itu yang terhias bekas luka jahit besar.

.

.

“baiklah. Dengan syarat.”

“apapun itu.”

.

.

.

“ada bagusnya jika kau pasang kembali borgolku. Kau tahu, sebelum aku mulai semua yang kusembunyikan dari Baekhyun.”

.

.

“yang kau sembunyikan dari Baekhyun?”

.

.

.

.

fakta bahwa akulah kepribadian asli dari Byun Baekhyun.”

.

.

“kau payah, Baek!” sungutku, menampar diri. “kau membiarkan si Li itu menghajarmu habis-habisan? Oh, demi spongebob dan api dalam air! Kau ini bodoh. Siapa yang anak baru? Kenapa malah kau yang memar?!”

Aku menatap refleksiku dari cermin. Menyedihkan. Sudut bibir yang berdarah, memar keunguan persis di bawah mata dan pelipis yang sobek kecil.

“salahmu sendiri malah tidak muncul saat aku membutuhkanmu,” aku mendengar Baekhyun melawan omelanku yang tadi sempat surut. “kau malah datang saat pak kepsek memberiku penghargaan saat upacara. Dasar sial kau, Sehun.”

“itu tidak penting! Kau yang menahanku untuk tidak muncul! kau lupa?! ‘tidak Sehun, jangan muncul hari ini nee? Aku masih ingin hidup normal laalalalala’ ini yang kau sebut hidup normal, Baek? Bodoh sekali dirimu.”

“dengan kemunculanmu semuanya akan semakin berantakan!! Arght, urus lukaku! Aku ingin tidur saja,” sesaat setelah itu, aku tidak lagi mati rasa. Hanya sakit di daerah pipi dan perih di pelipis. Baekhyun memang sial. “jangan ganggu aku. Kalau appa sudah pulang, bangunkan saja. Aku lelah.”

“sial kau Baek! Argh, ini perih,” aku menyentuh pipiku yang memar. Aku amasih berdiri di depan cermin, sementara Baekhyun sudah menghilang entah kemana.

Wajah ini bukan wajahku. Kulit putih, mata yang hanya segaris, hidung mancung dan bibir berbentuk. Tidak. Ini bukan wajahku. Hanya wajah Baekhyun yang rusak, bukan milikku.

Sial, ini sangat perih! Batinku. Hanya dengan satu sentuhan, rasa bedenyut di pipi itu sudah kembali. Untuk tulangku tidak patah.

DOK. DOK. DOK.

annyeonghaseyooooo!!!! Ada orang dirumah? Kami tetangga baru dan aku membawa pai strawberry!”

Oh, bagus. Pai strawberry? Aku hanya akan kenyang saat Baekhyun sudah bangun, dengan lankah gontai, aku melangkah turun dari kamar tanpa berniat membereskan wajahku—coret—wajah Baekhyun yang masih berantakan.

annyeonghase—oh! Halo! Ada apa dengan wajahmu?” aku merenyitkan dahi—langkah yang sangat kusesali—saat kulihat yeoja dengan kaos santai, celana selutut dan sarung oven untuk membawa pai yang tampak panas. “maaf. Aku tetangga baru dari sebrang rumah. Mau kuletakkan di mana painya? Eomma dan appamu ada? Kau anak tunggal? Sekolah dimana? Semoga jauh dari seoul, aku sangat ingin pisah dengan keluarga laknatku.”

Dahiku semakin merenyit saat yeoja itu seenaknya masuk kedalam rumah dan meletakkan painya di dapur tanpa dosa, “kau sendirian di rumah?”

Aku berdeham, “ne, waeyo? Ada perlu apa?”

“aku hanya ingin akrab dengan tetangga baru. Maksudku, siapa tahu kau bisa menjadi tempatku kabur sewaktu-waktu nanti.”

“m… mwoya?”

“namaku Nam Woojin. Seharusnya Li Woojin, tapi aku ingin memakai marga eommaku sewaktu gadis,” yeoja itu melepas sarung ovennya dan menatap sofa penuh harap. “aku boleh duduk?”

Li?…

“erm, boleh?” yeoja itu tersenyum riang dan melompat duduk di sofa dan menatap sekeliling. “ah ya, kau mau minum apa?”

“tidak perlu repot-repot. Aku takkan lama. Lebih baik aku menggunakan waktuku untuk membantumu merapikan wajah,” aku baru teringat wajahku—wajah ini sedang babak belur. “jadi dimana kotak p3knya?”

Aku beranjak dan meraih kotak p3k dari atas lemari berisi ramyeon, “tadi kau bilang siapa namamu?”

“Nam Woojin—tapi Namu saja, aku lebih suka dipanggil seperti itu. mengingatkanku pada appa dan eomma,” aku hanya manggut-manggut dan duduk di sampingnya, menyerong mendahapnya tentu saja. “pertama-tama, alkohol lalu obat anti septic dan plester. Kurasa itu bukan robek. Memarmu juga tidak parah, tapi ini akan perih sebentar.”

Yeoja itu mulai membuka satu-persatu botol yang akan ia gunakan dan bungkus kapas yang sudah tinggal setengah.

“tinggal setengah? Kau sering menggunakannya?”

“a… ani. Mungkin dipakai orang rumah.”

“siapa namamu?”

Aku terdiam. Aku harus menggunakan nama siapa?

Baekhyun. Byun Baekhyun,” yeoja itu mendekat kearahku dan aku bisa merasakan tiupan kecil ke arah mata dan hidungku. “kenapa kau meniupku?”

“dulu eomma mengobati lukaku sambil meniup wajahku sampai aku kegelian dan lupa dengan perihnya. Aneh kah?”

Sudut bibirku terangkat.

Aku tersenyum.
“tidak.”

.

.

.

“apa yang kau rasakan saat itu hm? Baekhyun bilang kau selalu galak terhadap orang-orang bahkan orang tuamu sendiri. kau membiarkannya membersihkan wajahmu sambil meniupnya begitu saja?” sela Gyuri penasaran. Sisi lain namja ini terdengar sangat mengundang untuk ahli bidang kejiwaan semacam Gyuri ini. “maaf aku menyela. Aku hanya ingin tau sebelum banyak yang akan kutanyakan nanti.”

gwenchana,” Gyuri bisa melihat namja itu menatap langit-langit dengan senyuman khas. Ini bukan senyuman yang biasa ia lihat dengan Baekhyun. “aku merasa…”

“normal?”

Namja itu menoleh kea rah Gyuri, masih dengan senyum di terpantri di wajahnya.

.

.

.

.

“ne. Aku merasa sangat bahagia.”

.

.

.

.

Aku hanya bisa diam saat appa menatapku—menatap Baekhyun dalam dan lama selama kita—mereka duduk di meja makan. Baekhyun hanya menunduk, menjauhi tatapan appa yang mungkin bisa mendiamkan anjing yang sedang meggonggong galak.

“Byun Baekhyun,” panggilnya. Aku bisa merasakan tanganku—tangan Baekhyun mulai berkeringat mencengkram ujung kaosnya erat.

Baek, kau ingin tukar tempat? Batinku, berharap Baekhyun mendengarnya.

Tidak usah, hun. aku tak mau kau lagi yang menanggungnya. Terima kasih, aku hanya bisa kembali diam dan menonton saat appa menatapku—Baekhyun semakin tajam.

“angkat kepalamu. Kita akan makan malam bersama tetangga. Bersikaplah yang baik,” ucap appa final. Baekhyun hanya menghela nafas lega. Appa tidak menyadari memar yang ditutup dengan bb cream sejak sore tadi. “appa serius. Aku tidak mau kau memalukan nama eommamu hanya karena khayalan tanpa batasmu.”

“mian appa,” cicit Baekhyun pelan.

Kau yakin Baek?

TING. TONG.

“Baek, bukakan pintunya. Jaga sikap,” appa kembali berucap dan Baekhyun bangkit secara tiba-tiba, secara tidak langsung ikut menarikku bersamanya.

annyeong, Baekhyun-ah!” sebuah pelukan hangat menabrak Baekhyun tepat setelah pintu terbuka.

“e… eh? Halo juga?” Baekhyun terdengar gugup. Ia—kami tidak pernah dipeluk siapapun selain eomma. Lagipula, kami tidak bisa saling memeluk satu sama lain, kan?

Baek, kita harus bertukar tempat, batinku final. Dan saat itu juga untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merebut paksa tempat Baekhyun dari posisinya.

annyeong, Namu. Kita bertemu lagi,” ulangku, seraya membetulkan kalimat Baekhyun tadi. Dan Baekhyun masih diam tak bersuara. “kajja, masuk. Appa sudah menunggu di ruang makan—oh, Nyonya Li.”

Aku membungkuk hormat pada yeoja paruh baya di belakang Namu yang sedari tadi memperhatikan putrinya memeluk anak tetangga yang baru dikenalnya tadi siang. Wajar.

“silahkan masuk, Nyonya Li. Appa sudah menunggu,” aku mempersilahkan keduanya masuk dan mengantarnya langsung ke ruang makan, dimana appa sudah berdiri dengan senyuman paling manis yang pernah kulihat—bahkan lebih manis daripada saat eomma masih ada.

“ah, tetangga baru,” appa menjabat tangan Nyonya Li dengan wajah yang sangat ramah. “perkenalkan, Byun Yunho. Ini anakku Byun Baekhyun.”

bangapseumnida, Nyonya Li,” aku membungkuk hormat dan tersenyum lalu mentap Namu yang juga tersenyum cerah. Dan sampai sekarang aku masih belum mendengar suara Baekhyun protes atau apapun. Entahlah, mungkin dia tidur.

“anak yang manis, Yunho-ssi,” Nyonya Li mengelus surai kecoklatanku—surai Baekhyun. “Li Yejin. Ini anakku Li Woojin.”

“itu nama anehku,” potong Namu cepat smabil mendelik ke arah Nyonya Li. “Nam Woojin. Aku lebih suka memakai marga gadis eomma. Eomma kandungku.”

“Woojin-ah,” sanggah Nyonya Li dengan senyuman—yang sebenanrnya mengerikan.

“j… joseonghamnida. Li Woojin imnida. Biasa dipanggil Namu dari Nam Woojin,”

“uhm, aku akan menyiapkan makanannya, appa. Permisi,” aku pamit dari ruang makan dan bergegas menuju dapur, menstabilkan detak jantungku.

Hey, Hun? ah, Baekhyun akhirnya bangun.

Kau darimana saja Baek?

Kenapa kau mengambil alih begitu saja? Itu menyakitkan, Hun.

Mian, ini penting.

“hey, Baekhyun-ah? Boleh aku membantumu?” aku berbalik, Namu sudah berdiri di belakangku dengan senyuman lebar dan mata berbinar-binar. “aku tak ingin seruangan dengan nenek lampir.”

“nenek lampir?”

“Nyonya Li,” ejek Namu dengan suara sepertiku.

.

.

“ini semua masakanmu, Baek? Wah, daebak!” puji Namu saat topik pembicaraan sudah mulai habis. “aku bahkan tidak bisa memasak ramyeon.”

“ah, gomawo… jinjja? Hanya ramyeon kau tidak bisa?”

Ah, kau juga tidak bisa memasak ramyeon, Sehun-ah.

Diam kau Baek.

“hm, jadi Yejin-ssi—“

“Yejin saja. Tak usah seformal itu,” Nyonya Li memotong ucapan appa dengan cepat dan tersenyum manis.

“arra, Yejin. Bagaimana Kanada? Kudengar disana sangat dingin?”

ne, memang  Kanada sangat dingin. Tapi kau akan terbiasa. Benarkan sayang?” Nyonya Li mengusap rambut Namu sayang. “tapi biaya hidup disana terlalu tinggi. Dan kebetulan perusahaan kami disini sedang butuh penanganan. Ah, tak kusangka kami akan punya tetangga semanis ini.”

Nyonya Li mengacak suraiku pelan dan kembali menyuap supnya yang sempat terabaikan, “ah! Woojin-ah, dimana kau akan bersekolah, hm?”

Namu terdiam sebentar sbeelum meletakkan sumpitnya diatas mangkuk nasi.

.

.

.

“SSDF.”

.

.

.

Seoul School for Defect Foreigners? Mungkin Baekhyun lupa akan hal itu,” Gyuri kembali mencatat apa yang sudah ia dengar dari cerita namja yang masih dalam posisi tidurnya. “bisa kau ceritakan lebih lanjut tentang sekolah ini?”

“sekolah ini bukan sekolah umum. Sekolah ini berada tepat persis di belakang gedung sekolahku dulu. Semacam disembunyikan,” namja itu menarik nafas sebentar. “jam berapa sekarang?”

“urm, jam 9 pagi. Waeyo?”

“hanya bertanya. Bel masuk sekolah itu tepat saat bel sekolahku istirahat. Sebagai penyamaran bel atau apalah aku tak begitu mengerti,” namja itu kembali diam dan memejamkan mata sejenak. “maaf, Baekhyun mengigau.”

Gyuri terkekeh dan meletakkan foldernya di kasur si namja. “lalu bagaimana anak-anak ‘defect’ itu mendaftar jika sekolahnya saja tersembunyi?”

“sekolah itu khusus orang non-korea. Mereka harus mencari tahu ke kedutaan masing-masing—yang kuingat dari penjelasan Yejin dulu.”

“sebentar, jadi Yejin dan Woojin bukan orang korea?” si namja menarik nafas meremehkan dan menoleh. “apa? Aku hanya bertanya. Apa kalian bersahabat sangat dekat seperti kata Baekhyun?”

“Yejin dari San Fransisco. Woojin berdarah korea tapi dia tetap dianggap kewarganegaraan Kanada. Intinya orang tua Woojin tidak ada yang berwarga Negara Korea. Jelas? Dan ya, kami sangat dekat.”

“lalu apa yang membuat Woojin masuk ke sekolah khusus foreigner cacat?”

“sabar sedikit bisa? Argh, hidungku gatal. Bisa kau tiup wajahku?”

.

.

.

Sudah hampir 15 menit aku mengetuk pintu kamar Woojin, tapi tetap tidak ada yang membukakan pintu. Memang tidak dikunci dan adik-adik Woojin—cukup banyak, Li Yixing, Li Minseok dan Li Kyungsoo dan mereka semua masih dibawah 6 tahun.

ge, just open the door. Jiejie won’t hear you,” seorang bocah bermata bulat tiba-tiba sudah berdiri di belakangku dengan lollipop di genggamannya. “I’ll open it for you.

Bocah itu masuk ke dalam kamar seenaknya dan menampar Namu yang tertidur di kasur. Bocah itu lalu mengambil sebuah alat kecil di atas meja dan memasangnya di telingan Namu.

JIEJIE! A BOY! WAITED! BYEBYE,” bocah itu berteriak tepat di hadapan Namu yang menerjap-terjapkan matanya.

didi! Di—OH, hai Baekhyun! Apa yang kau lakukan di kamarku?” Namu lalu duduk tegak dan membetulkan alat yang tadi di pasang asal oleh bocah tadi. “maafkan Kyungsoo. Dia hanya bisa Berbahasa Inggris dan Mandarin. Eomma dan appa-ku tak pernah mengajarkan kami Bahasa Korea yang benar dulu.”

“tapi Bahasa Koreamu cukup baik?”

“aku banyak belajar dari internet. Maaf, aku harus membenarkan alat ini dulu, kau keberatan untuk keluar sebentar? Ini akan tampak menggelikan,” tanpa protes lebih lanjut aku keluar dari kamar Woojin dan menunggu di depan pintu kamarnya.

Hey, Sehun! Apa yang kau lakukan?! Kencan dengan tetangga?! Suara 7 oktaf Baekhyun tiba-tiba terlintas di benakk. Aku sedang senang hari ini! Harusnya kau ikut ke sekolah tadi, Hun!

Apa yang bisa kulakukan juga di sekolahmu? Lagipula hari ini bukan giliranku untuk mendengarkan ceramah bodoh dari guru, balasku agak ketus. Kenapa harus sekarang, Baek?

Kalau kau tak mau mendengra ceritaku yasudah! Kau tak perlu sampai marah begitu. Aku tidak akan mengganggu kencanmu. Ingat, kau menggunakan tubuh dan namaku. Aku ingin tidur saja. Aku membencimu, Oh Sehun.

Oh sial. Baekhyun mulai mengamuk. Ada apa dengan mood swing bocah ini? Apa dia sedang pms? Membingungkan.

“gege!! Can you keep this for me?” anak kecil bermata bulat tadi menarik-narik seragam celanaku—mengingat dia hanya setinggi lututku—sambil mengangkat sebuah jam saku tinggi-tinggi. “don’t let jiejie know you have it.”

Aku menerima jam saku tua itu dan menatap si bocah heran. Bocah itu hanya menyengir dan berlari sambil memegangi celana—kemungkinan besar pempers—nya yang melorot.

“hey, Baekhyun-ah? Kau bisa masuk sekarang,” dengan senang hati aku kembali masuk ke dalam kamar. Kulihat Namu menikat rambutnya menjadi kuncir kuda tinggi, memperlihatkan telinganya yang tetutup semacam wireless earphone berwarna ungu muda.

“apa yang kau pakai tadi, Namu-ya?”

“oh? Hanya alat bantu pendengaran. Hehe. Wae?” aku tercengang. Namu tuli?

“tidak. Hanya bertanya.”

Lihat saja sampai dia tahu siapa dirimu yang sebenarnya, Sehun-ah, suara jahat Baekhyun kembali terlintas di benakku.

Hey, sudah sana tidur. Aku akan membahas ini denganmu nanti malam, oke? Siap-siap begadang. Aku akan mendengarkan apapun ceritamu, Baekhyun-ah. Asal jangan sekarang. arrachi?

Tidak ada sahutan dari Baekhyun.

“oh ya. Kenapa kau datang kemari? Maksudku, bukankah kau sedang sibuk dengan tugas dan ujian?” Woojin mengisyaratkanku untuk duduk di sampingnya. “atau kau ingin meminta bantuanku untuk tugas seperti kemarin?”

Kemarin?

Kena kau Oh, bisikan Baekhyun terkesan jahat dan dingin memenuhi pikiranku sekarang.

“sekarang tugas apa lagi? Aku sudah kehabisan ide untuk fotografi kemarin.”

Fotografi? Ada yang ingin kau jelaskan padaku, Byun Baekhyun?

Nanti malam saja. Nikmati kencamu, tuan Oh

“Baek? Kau masih disini?”

“a… ah? Ya? Masih masih. Kau keberatan aku menunjukkan dance yang kemarin kupelajari kemarin? Ini takkan lama.”

Woojin terseyum manis dan bangkit menggeser meja belajar, kursi dan menggulung karpet, “bantu aku membuat kamarku lebih lapang untuk tarianmu!”

.

.

.

“jadi, jam saku itu dari Kyungsoo? Apa itu milik Namu?” namja itu hanya mengangguk pelan. “waktu konsultasi hampir habis. Apa Baekhyun sudah bangun?”

“ya, aku tidak tahu dan belum. Dia masih mengigau tentang ayam bakar madu yang ia makan saat eomma masih ada,” namja itu tersneyum kecil dan menoleh. “sudah hampir habis ya? Hm, kau tanyakan saja apa yang ingin kau tahu. Aku akan jawab sebisaku.”

Gyuri tersenyum. Untuk pertama kali dalam 3 tahun selama namja itu di tahan di ruangan ini, ia mulai terbuka dengan orang lain selain dirinya sendiri.

“aku masih tidak mengerti dengan Baekhyun yang membahas tugas dengan Namu.”

Namja itu terkekeh lagi.

“saat kau menderita dual personality, rasanya seperti kembar siam. Apa yang aku rasakan, dia rasakan. Intinya seperti itu.”

“tapi kau sampai rindu rasanya nasi? Bukankah kalau Baekhyun makan artinya kau juga merasakan makanan yang ia makan?”

Lagi-lagi namja itu terkekeh.

“yang kumaksud bukan perasaan fisik. Perasaan batin. Apalagi kepribadian yang kedua. Saat yang asli takut, yang kedua semakin takut. Yang asli senang, yang kedua semakin senang. Yang asli menyukai seseorang, begitu juga yang kedua,” Gyuri manggut-manggut mendengar penjelasan namja itu. “tapi itu tidak berlaku bagiku dan Baekhyun.”

Alis Gyuri menaut. “maksudmu?”

“Baekhyun dan aku hanya berbagi perasaan yang menyenangkan. Jika aku sedang sedih, Baekhyun tidak bisa merasakannya. Kami tidak mengerti itu sampai sekarang. bahkan seperti penyakit yang menyerang Baekhyun sekarang, aku tidak ikut merasakannya. Hanya dia yang menderita dari ini. Itu kenapa hanya Baekhyun yang mengkonsumsi obat-obatan itu. Ya, soal obat-obatan itu urusan Dr. Wu. Kau tidak mengerti.”

“jadi… bisa kita lanjutkan ke percakapanmu dan Baekhyun?”

Namja itu menatap langit-langit dan memejamkan mata sejenak, sebelum sebulir airmata turun melewati pipi tirusnya.

“tidak. Tidak bisa. Aku tidak ingin membangunkan Baekhyun.”

wae?”

“… ah, Baekhyunnie? Kau sudah bangun?” namja itu bermonolog masih dengan suara parau, menahan tangis. “kau lapar?”

“aku masih mengantuk. Jangan ganggu aku,” suara namja itu berubah meninggi dan menggeliat sebentar sebelum terkekeh lagi denan suara parau.

“aah, arra arra. Mianhae.”

Hening. Gyuri hanya menunggu sampai ia benar-benar terlelap.

“jadi, apa Baekhyun menyukai Namu juga?”

.

.

.

Disini aku berdiri. Diatas atap sekolah dengan tulisan SSFD yang tercetak jelas digerbang pembatas antara sekolah umum tempat Baekhyun sekolah dan tempat Woojin sekolah.

“Sehun! Apa yang kita lakukan disini? Ini sudah lewat 3 jam! Dia tidak akan datang! Ayolah kita turun saja dari sini,” omel Baekhyun yang sedari tadi ribut di atas terlalu banyak angin dan tidak ada tempat duduk dan segalanya. “berhentilah berharap, Hun! Dia tidak menyukaimu!”

“kau tidak tahu itu,” aku merogoh sakuku dan mengeluarkan kotak laknat yang selalu dibenci Baekhyun. Rokok.

“jauhkan benda itu dariku!” aku merasakan tanganku diambil alih dan kotak rokok itu terlempar begitu saja. “aku benci rokok.”

“kau tahu Baek?” aku mendudukkan diriku di pinggiran atap sekolah. Satu dorongan dan aku selesai. Jatuh ke tumpukan besi bekas pagar yang sudah tak dipakai. “kita kemari bukan untuk Namu.”

Tepat setelah itu, Woojin muncul terengah-engah dari pintuyang membatasi tangga dengan atap. “hai, maaf aku terlambat, Hun.”

gwenchana. Kita baru akan mulai.” Aku bisa merasakan Baekhyun terkejut bukan main. Ia berontak, berusaha mengambil alih tubuhnya—tubuhku.

Apa-apaan ini Hun?! batinnya dengan nada marah dan kasar, jelaskan padaku!

“bicara sajalah, Baek. Aku sudah menyeritakan semuanya pada Namu.”

ne, Baekhyun-ah. Gwenchana, aku sudah mengerti semuanya. Sehun dan kau. Kepribadian dan segalanya,” Namu melangkah mendekat dan duduk di hadapanku. “aku hanya ingin menemani Sehun memperjelas semuanya.”

“memperjelas apa?” Baekhyun akhirnya bersuara.

“aku pikir… kami pikir kita komplikasi—ani, kaukomplikasi.”

“m… mwoya?” aku merasakan tubuhku diambil alih secara paksa dan bangkit secara tiba-tiba, membuat lututku berdenyut nyeri. “aku komplikasi? Aku diabetes dan sakit jantung di saat yang bersamaan? Bukankah itu artinya kita yang komplikasi?”

Baekhyun yang sekarang mengambil alih tubuhku naik ke batas atap yang hanya setinggi lutut Woojin. “Baek, turunlah…”

TIDAK!” pekiknya keras. Aku bisa melihat besi dengan posisi berdiri dari tempatku berdiri, “jelaskan. Semuanya. Padaku.”

Woojin mundur, mendengar kalimat penuh penekanan Baekhyun.

JELASKAN PADAKU, GADIS TULI!

“BYUN BAEKHYUN!” bentakku keras. Ini kelewatan. Tidak dengan orang yang kucintai. “BIARKAN AKU KEMBALI KE TUBUHKU!”

“TIDAK! CEPAT JELASKAN!”

“ka… kami mulai mencari-cari di semua sumber tentang masalah ini… tolonglah, Baek. Turun dan kita bahas ini secara baik-baik!”  Woojin bergetar. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya begitu. Takut?

SHIRREO! JELASKAN PADAKU!”

“Baekhyun-ah,” panggilku lembut, berhenti berontak karena itu hanya akan memperparah keadaan. “kau… kau ingat buku yang kita baca waktu itu?”

“buku apa?! Kau masih ingin membahas buku di saat seperti ini, Oh Sehun?!”

“buku si Sebastian Fitzek. Best seller di Jerman 2006, ingat?”

“yang tentang skizofernia?” aku mengangguk. Baekhyun lalu menatap Woojin penuh harap. “apa… maksudnya?”

“kau merasakan perubahan mood yang drastis akhir-akhir ini?”

Baekhyun terdiam.

“kau sangat sering tidur kan?”

Lagi-lagi Baekhyun diam.

“kau ingat bocah Li yang membabak belurkan wajahmu—wajahku waktu itu? yang kau bilang anak baru itu, pindahan dari Vancouver?”

“…ya?”

“kau tidak ingat garis keluarga Namu? Li Woojin?”

Baekhyun benar-benar tercengang.

“pirang, tinggi, dua tindikan di telinga kiri?” Woojin memberanikan diri mendekatiku—mendekati Baekhyun. “dia mendiang gege-ku, Baek. Kevin Li. Meninggal tepat dua hari sebelum dokter mengatakan pendengaranku tidak akan bekerja dengan normal.”

.

.

“…bohong.”

.

.

.

schizoaffective.”

.

.

.

“apa yang terjadi setelah itu?” Gyuri merenyitkan dahinya bingung. Sehun tampak seperti orang tidur, hanya saja mulutnya terus terbuka dan berbicara.

.

.

.

ANDWAE!” tanganku berhasil menangkap tangan Woojin yang terdorong ke arah besi di bawah. “jangan… jangan lepas tanganku! Baekhyun, berhentilah! Tolong, bantu aku!”

Aku bisa merasakan Baekhyun berambat di tulang belakangku, berusaha melepas pegangan tangan Woojin.

“katakan… selain skizoaffektif apalagi, hm? Kalau aku gila, kau juga menerima bebannya bersamaku, Hun.” kalimat Baekhyun terus berdenging di telingaku. “aku akan membantunya setelah kau memberitahuku.”

“pembohong.”

“ouch, tidakkah kau juga ikut tersinggung, Hun? Ide siapa untuk menyembunyikan kepribadianmu yang ini hm? Katakan lagi siapa pembohong paling besar?”

Cukup. Ini sudah cukup untukku.

“Baek?

Akulah pembohong paling besar,” jawabku menantang. “aku… berbohong padamu.”

.

.

“kau hanya kepribadian keduaku yang takkan lagi kugunakan seumur hidup.”

.

.

.

“jadi… apa yang terjadi pada gadis itu?”

KRRRRNGGGG!

Bel pertanda waktu konsultasi sudah habis.

“Baekhyun marah besar. Namu terlepas dan Baekhyun mencoba membunuh dirinya—diriku. Itu menjelaskan luka-luka selain di pergelangan tanganku,” Sehun akhirnya membuka matanya dan menatap kosong kea rah langit-langit. “yang ini, tanda aku berusaha meyelamatkan Namu. Cerita selesai. Sekarang pergilah, aku lelah.”

Gyuri membereskan foldernya dan bangkit dari kursi. Sekarang ia tahu rasanya tidur dikekang seperti namja dihadapannya. Kombinasi pegal dari highheels dan duduk terlalu lama.

“pertanyaan terakhir sebelum aku pergi. Bisa kau jelaskan seperti apa rupa Namu dan keluarganya?”

Sehun kembali menoleh dan menjawab singkat. “rambut Namu panjang sepunggung, kecoklatan. Kulit putih dengan mata kucing dan hidung mancung juga pipi tirus. Kyungsoo bermata bulat, tembam, tingginya selututku, dia masih 4 tahun. Yixing agak sipit, dua gigi ompong di depan, pipi cukup tirus. Minseok tembam dan pendek, hanya itu yang kuingat darinya. Yejin kurang lebih sesenti lebih tinggi diriku, rambut panjang di cat merah dan mata yang cukup besar. Kevin pirang, tinggi, mancung, dua gigi depan agak tidak rata dan tindikan di telinga. Wae?”

“ani. Hanya ingin memastikan versimu dan Baekhyun sama.”

Gyuri lalu melangkah keluar dari ruangan Sehun dan berlari menuju kantor atasannya—yang seperti biasa, sedang meminum kopinya dengan gelas panda favoritnya.

“ya, Gyuri-ah! Kenapa kau berlari? Dikejar pasien?” sapa Kris—atasannya riang, setengah membanting mugnya ke atas meja. “ada apa?”

“bisa kau bantu aku? Aku harus mencari data beberapa orang. Aku tau kau pandai dalam bidang menghack.”

mwo… kau ingin data-data orang? Tak perlu menghack, aku membuat program untuk mengakses data warga Korea, Cina, Kanada dan Australia,” Kris lalu mengutak-atik laptopnya sesaat sebelum beralih kembali ke Gyuri. “nama dan ciri-ciri?”

“semua bermarga Li. Woojin, Yejin, Kyungsoo, Yixing, Minseok dan Kevin. Tolong aku, jebal!”

Kris mengerutkan dahinya dan melepas kacamatanya.

“ciri?” Gyuri menyerahkan kertas coretannya yang berisi ciri-ciri keluarga Li. “darimana kau dapat ini semua?”

“pasien. Komplikasi dual personality dan schizoaffective.”

Kris bangkit, membuka laci kerjanya, mengeluarkan sebuah frame.

“ini mereka?”

Foto keluarga.

Yejin dan seorang namja paruh baya dibelakang. Kris versi remaja duduk di tengah sofa dengan 4 balita disekelilingnya tersenyum lebar. Kyungsoo, Yixing, Minseok dan seorang yeoja berambut magenta diikat tinggi.

“apa….”

“pasienmu Byun Baekhyun?” tanya Kris.

“Oh Sehun. Byun Baekhyun hanya peralihannya.”

Kris terkekeh ringan. “well, perkenalkan. Ini keluargaku saat aku berumur 15 tahun. Eomma tiri, appa, Kyungsoo si bulat, Yixing si ompong, Minseok si bakpau dan Woojin si magenta. Aku bahkan sudah lupa mana adik kandungku.”

Gyuri lalu menggeplak kepala Kris dengan folder besarnya. “kau bisa melupakan yang mana adik kandungmu? Kau ini kakak macam apa, hah?!”

Kris terkekeh. “aku belum selesai. Marga asliku Li. Dan Kevin panggilan masa kecilku. Yifan nama asliku. Kris hanya nama main-main.”

.

.

.

“keluargaku meninggal dibunuh tetangga sebrang rumahku sewaktu di Guangzhou. Sampai sekarang pelakunya buron, tapi saksi mengatakan..”

.

.

“pelaku masih menggunakan seragam sekolah dasar setempat.”

.

.

.

FANFICKU DIKUNYAH ANJING TETANGGAAAAAA!!!

This plot is fully mine and inspired by a best selling novel in German, 2006 written by a writer Sebastian Fiztek, Therapy. Massive thanks to him.

 

Rregards, Ahn Chanjae cimit-cimit.

Maap for the typos dan rajin mampir ke blog diriku oke?

FEEDBACK JUSEYOOOOO

Iklan

7 pemikiran pada “Sides

  1. This ff is cool, really.
    But im really doubt about these scenes.
    1. Was kevin or yifan or kris already dead? Tapi itu kenapa bisa jd dokternya huh atau dia selamat atau gimana.
    2. Settingnya di guangzhou atau seoul deh? Itu di akhir yang bunuh ortu mereka si baekhyun, kan? Tapi bukannya mrk tinggal di seoul? Asli aku ngga nangkep yang ini mungkin ada hal yg kelewat sama aku atau lupa.
    3. Si namu sbnrnya masih hidup ga sih? Atau dia ikut dibunuh sama “keluarga kris” itu? Terus masih ga ngerti kenapa si Namu tuli.

    Btw ya si baekhyun “kalo aku gila kau juga ikut menanggung bebannya” sebenarnya tanpa skizofernia mereka juga udah mpd kan(?), udah sakjiw duluan juga kali baek.

    Uhh apalah arti kegantengan dan badan tinggi oh sehun kalau ternyata dia hanyalah personality tanpa raga hikseeuuu. Lagian sehun was strong enough ngapain bikin kepribadian baru yg lemah terus gila pula/jahat.

    Pkknya keren kok, beneran ❤

    • hai
      jadi seperti ini,
      1. kevin, yifan or kris is NOT dead. at least not yet /ketauan niat bikin fanfic chara death. nggakok tjiyus/. bagian kris mati itu hanya permainan dari penyakit baekhun
      2. settingnya di Seoul, Guangzhou hanya sebagai tempat baekhyun membunuh mereka dulu. jadi ceritanya dulu baekhun ini anak Guangzhou’-‘
      3. namu sebenernya hidup, tapi udah mati /lah?/ jadi Namu ini bagian dari keluarga Kris yang dibunuh Baekhyun. Namu tuli hanya sebagai kondisi tambahan disini;-;

      ya, maksudnya kalo baekhyun komplikasi, sehun juga ikut nanggung bebannya. jadi semacam kalo baekhyun komplikasi, sehun juga ikut komplikasi. jadi logicnya, yang skizofernia bukan cuma baekhyun, tapi sehun juga demikian. dan ya mereka memang sakit jiwa HAHAHAHAHA diriku suka mengatakan kalimat itu. mereka memang sakit jiwa /dilempar eyeliner/

      ahh, ini fail:’) gaapa lah, genrenya aja surrealism, gajelas/???/

      mian atas kegajean dan pusing yang ditimbulkan dari berfikir maksud cerita ini’-‘ terima kasih sudah mampir’-‘ /kasih salep/

    • hai thanks for stopping by’-‘ sekilas info, baekhyun itu hanya kepribadian kedua yang Sehun ciptakan untuk dirinya sendiri. ini itu dual personality gitu’-‘-‘-‘ /kasih salep/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s