The Last Mission

The Last Mission

the last

 

The Last Mission

A fanfiction by UQ (@sashnikxo)| starring Kim Jongdae of EXO | Tragedy | Thriller | Oneshot |

 

Revenge, turns into a habit.

 

  1. Malam yang identik dengan suasana sunyi, kegelapan malam, dan mimpi-mimpi para manusia.  Tidak selamanya benar.

Malam selalu berbeda, tergantung dari kota mana kita melihatnya.  Ada kota yang benar-benar beristirahat; membuatnya terlihat sunyi dan sepi ketika bulan dan bintang merajai langit yang gelap.  Ada kota yang masih sibuk beraktifiktas, lampu-lampu yang masih senantiasa memancarkan cahaya, suara musik yang masih berdengung di jalan, klub malam, restoran, dan tempat karaoke yang masih ramai pengunjung.

Seoul masuk ke golongan kota kedua.  Kehidupan tidak pernah beristirahat di pusat Korea itu.  Semakin malam, semakin hiduplah jalan-jalan besar di Seoul.  Banyak orang-orang yang masih berkeliaran di jalanan.  Kekasih, orang yang baru saja pulang dari pekerjaannya, pelacur, pedagang, dan bahkan orang kesepian yang berjalan sendiri.

Kim Jongdae adalah orang yang selalu aktif di malam hari.  Bukan sebagai laki-laki penghambur uang di klub malam, bukan sebagai pedagang di jalan-jalan terkenal seperti Dongdaemun, bukan juga orang yang sibuk memadu cinta; bergengaman tangan dengan kekasih di tengah dinginnya angin malam.  Kim Jongdae adalah orang yang bekerja di malam hari.  Pekerjaan yang sangat menguntungkan, sekaligus merugikannya.  Pekerjaan yang sangat sukar.  Profesi laknat yang mendatangkan kekayaan bagi siapapun yang menjalaninya.

 

Malam itu, Jongdae berjalan di trotoar Apgujeong.  Memakai celana jeans, sneakers, jaket, dan snapback biru tua.  Rahang tegas, dan ujung bibirnya yang mencuat naik seperti kucing, membuat perempuan yang berjalan melewatinya terpana akan wajahnya.  Wanita-wanita mengagumi wajah tampannya, posturnya yang tegak ketika berjalan, dan karisma yang terpancar dari dalam dirinya.  Tetapi semua itu tidak dihiraukan oleh Jongdae.  Ia tidak butuh cinta dan kekasih.  Baginya, hanya ada dua wanita yang paling berharga di hidupnya; Ibunya dan… Kim Heekyung.

 

Jongdae langsung membeli semangkok kecil ddeokbokkgi untuk menghangatkan tubuhnya.  Ddeokbokkgi yang masih panas itu langsung dilahapnya.  Ia kembali berjalan sembari mengunyah ddeokbokkgi di mangkok styrofoam yang dipegangnya.  Jongdae duduk di salah satu bangku besi di jalan, memperhatikan beberapa seniman jalanan yang tengah unjuk kebolehan memainkan berbagai alat musik di bawah pohon.  Beberapa orang berkumpul disekitar sang seniman jalanan, memperhatikan aksinya memainkan saxophone.  Musik jazz yang lembut mengalir memberikan kehangatan di malam Seoul.  Diam-diam Jongdae memperhatikan sebuah gedung di seberang jalan raya dari balik kerumunan sang seniman musik.  Gedung berwarna ungu tua dengan penerangan yang remang-remang.

Seseorang terlihat keluar dari gedung itu.  Laki-laki, rambut dan baju jasnya berantakan.  Tubuhnya terhuyung-huyung, sepertinya ia tengah mabuk.  Jongdae membuang mangkuk styrofoamnya dan berbaur dengan kerumunan orang-orang di pinggir trotoar.  Begitu ia sudah sampai di pinggir jalan, ia mengeluarkan sebuah foto dari kantong jeansnya.  Lalu mulai membandingkan wajah dalam foto dengan orang yang baru saja keluar dari gedung ungu itu.

Jongdae tersenyum.

Dikeluarkannya pistol beretta dari kantong dalam jaketnya, ia menarik pelatuknya, peluru itu tepat menembus dada sang laki-laki mabuk.  Dan sebelum orang-orang bisa menyadari suara tembakan pistolnya, Jongdae sudah menghilang dari keramaian kota.

 

***

 

“Bu, ini untukmu,”

Jongdae menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam kepada Ibunya yang tengah memasak di dapur.  Perempuan paruh baya itu menoleh, meletakkan spatulanya dan menerima kotak dari sang anak.  “Apa lagi ini?” tanyanya.  Jongdae mengeluarkan senyumnya.

“Ibu akan senang melihatnya.”

Mata sang Ibu membesar takjub begitu membuka kotak hitam di tangannya.  Di dalamnya terdapat sebuah dompet mahal berwarna ungu muda; dompet yang sudah lama diinginkan oleh Ibu Jongdae.  Ia menyentuh dompet itu dan memandang anaknya yang kini tengah berdiri dengan senyum puas di depannya.  “Selamat ulang tahun, Bu.”

“D… darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli ini?” tanya Ibunya.

“Tentu saja dari hasil kerja paruh waktuku di cafe, Bu!  Bagaimana, Ibu suka?  Atau… ini kurang?”

“Ini lebih dari cukup, sayang,” wanita itu memeluk tubuh anak lelakinya.  Jongdae balas memeluk Ibunya, lalu mulai mengambil spatula yang disandarkan di pinggiran wajan.

“Ini bisa gosong, Bu!  Lagipula, ada apa memasak banyak-banyak?”  sang Ibu tertawa kecil.

“Ulang tahun Ibu bertepatan dengan hari libur kan?  Nanti sore ayah dan kakakmu akan pulang dari luar kota,” jelas Ibunya yang kini tengah membuka dompet pemberian Jongdae.  Senyum Jongdae merekah.  Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang baik baginya.

“Ngomong-ngomong, darimana kamu tahu Ibu ingin sekali dengan dompet ini?”

“Ah, itu, aku melihatnya saat Ibu sedang membaca majalah fashion bersama Heekyung.”

 

***

 

“Baiklah, saatnya tiup lilin, Bu!” Jongdeok –kakak Jongdae- sudah menyiapkan kamera DSLR di tangannya, siap untuk mengabadikan momen ulang tahun sang Ibu.  Baru saja akan meniup, terdengar bel keras di rumah mereka, pertanda ada tamu.  Sang Ayah mendesah.  Bisa-bisanya ada yang mengganggu momen penting keluarga mereka.

“Jangan ditiup dulu.  Aku akan lihat,” ia berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.

Satu menit kemudian, segerombolan polisi masuk ke dalam ruang makan.  Begitu sang Komandan melihat Jongdae, ia segera menginstruksikan para bawahannya untuk segera memborgol kedua tangannya.

“Apa yang kalian lakukan terhadap anakku?!” Ibu Jongdae mendobrak meja dengan keras, tidak terima terhadap perlakuan sang polisi terhadap anaknya.

“Anak anda kami tangkap atas dasar perdagangan ilegal, dan pembunuhan.” jawab sang Komandan.

“Jongdae tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!” Kim Jongdeok ikut berdiri dan berusaha mendorong dua orang polisi yang sedang menahan tangan Jongdae.  Salah satu polisi lain menghentikan aksinya, menarik tubuhnya dari belakang.

“Periksa seluruh rumah ini,”  begitu Komandan memberi perintah, tiga orang polisi yang ikut bersamanya langsung menyusuri sekitar rumah, memeriksa setiap laci dan lemari, naik ke lantai atas, bahkan masuk ke gudang.  Sedangkan dua orang lainnya sibuk menahan tubuh Jongdae.  Sang Ayah berlari ke ruang makan.  Ia berdiri tepat disamping sang Komandan.

“Kumohon, keluarga kami tidak pernah bermasalah!  Keluarlah dari rumahku!”

Sebelum sang Komandan bisa membalas ucapan sang Ayah, seorang petugas polisi berteriak dari salah satu ruangan di rumah itu.  “Pak Komandan!  Lihat apa yang aku temukan!”  Sang Komandan segera berjalan cepat menuju lantai atas, dan masuk ke salah satu ruangan di mana sang bawahan memanggilnya.  Ia menemukan sebuah dokumen tebal, obat-obatan terlarang, dan yang paling parah… sudah ada empat pistol bermerek lengkap dengan cadangan peluru di bawah tempat tidur.

Anggota keluarga yang lain dan para polisi baru saja sampai di ambang pintu kamar Jongdae ketika sang Komandan membalikkan tubuhnya dan menatap ke dalam kedua manik mata Jongdae sinis.  “Kim Jongdae.  Ikut kami ke kantor polisi sekarang juga.”

Dan pada akhirnya, lilin ulang tahun Ibu, tidak pernah tertiup.

 

***

 

“Tidak perlu menyewa pengacara, Yah.  Aku… memang bekerja sebagai pembunuh bayaran.  Bukankah aku sudah bilang di sidang tadi,” Jongdae menghela nafasnya, pada akhirnya ia mengaku secara langsung kepada kedua orang tuanya.  Ayah, Ibu, beserta kakaknya tercengang begitu mendengar pengakuan dari sang bungsu di keluarga itu.  Seketika, bayangan ketika tim penyidik menunjukkan bukti-bukti kejahatan Jongdae melintas di kepala sang Ayah.  Mereka menemukan sebuah dokumen tebal, berisi data para client Jongdae, beserta deskripsi target yang ingin dibunuhnya.

Terdapat banyak kertas cek saldo sebagai bukti pembayaran pembunuhan.  Empat pistol dengan peluru diketahui dibelinya di black market.  Terdapat juga obat-obatan keras yang ternyata digunakan oleh Jongdae dalam aksi membunuhnya.  Ia tidak mengkonsumsinya sama sekali, buktinya, pada tes kesehatan Jongdae, ia baik-baik saja.

Sang Ayah berdiri dan dan menampar wajah Jongdae.  Jongdae hanya bisa terdiam, membiarkan wajahnya tertunduk dengan rasa perih yang amat sangat di pipinya.  Sang Ibu mulai mengeluarkan air mata begitu suaminya menampar anaknya.

“Kamu bukan anakku.  Anakku bukan seorang pembunuh.” Lalu laki-laki paruh baya itu berbalik keluar dari dalam sel.  Tiap hentakan kakinya menunjukkan betapa marahnya ia, dan dari punggungnya tersirat rasa kecewa yang sangat besar.  Sang Ibu menangis semakin keras, ia bingung harus bertindak seperti apa, masih bimbang diantara kenyataan dan imajinasinya; bayangannya tentang anak bungsunya yang baik kini silih berganti membayangi pikirannya.

“Aku… kecewa, Jongdae.” Jongdeok yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.  Kata-katanya begitu pelan, hampir terdengar seperti bisikan.  Ia berdiri, hendak menyusul Ayahnya yang sudah keluar duluan.

“Hyung,” panggilan Jongdae menghentikan langkah Jongdeok.  Tangannya sudah diambang pintu sel.  Tetapi ia masih tetap memilih untuk tidak menengok ke belakang.

“Kamu harus melihat poster TVXQ milikku,” ujar Jongdae.  Apa dia gila?  Berkata omong kosong di saat seperti ini? pikir Jongdeok.  Ia membuka pintu sel, memutuskan untuk tidak menghiraukan perkataan konyol adiknya.

Jongdae kini beralih menatap Ibunya.  Perempuan itu masih saja menangis.  “Bu, besok… hari eksekusiku.  Kumohon agar Ibu datang,” ujar Jongdae.  Seakan-akan hatinya tertembak, Ibunya berhenti bernafas begitu mendengar perkataan Jongdae.  Memang sudah tidak ada yang bisa ia lakukan.  Jongdae sendiri sudah mengaku kepada kepolisian, dan bukti-bukti yang ada sudah sangat kuat untuk membuktikan kesalahan Jongdae.  Ia sudah membunuh banyak orang, kurang lebih 20 orang.

Kata-kata ‘eksekusi mati’ yang dilontarkan oleh hakim saat sidang beberapa jam yang lalu menyakitkan hati Ibunya.  Ia memeluk anak bungsunya dengan sangat erat.

“Mengapa kamu melakukan hal ini?  Kamu tahu kan ini perbuatan terlarang?  Perbuatan nista dan keji?  Kenapa anakku bisa berbuat sejahat ini?” perempuan itu meraung, pelukannya semakin erat.  Sementara yang dipeluk hanya bisa mengelus punggung Ibunya.

“Aku punya alasan, Bu.  Sepertinya Ibu hanya bisa mengetahuinya ketika waktu eksekusiku sudah lewat,” ujar Jongdae dengan tenang.  Ibunya memandang wajah anaknya lalu mengelus pipinya yang memerah akibat tamparan sang Ayah.

“Beritahu aku sekarang, sayang… Ayolah….”

“Tidak, Bu.  Lebih baik Ibu pulang sekarang dan beristirahat.  Eksekusiku jam 8 pagi, Ibu masih punya waktu 10 jam untuk tidur.”

“Apa kamu gila?! Mana mungkin aku bisa tidur dengan situasi seperti ini!  Aku akan tidur denganmu di sel ini,”  Jongdae memandang Ibunya yang keras kepala dengan tatapan menyesal.  Ia lalu berbisik lirih kepada Ibunya.

“Selamat ulang tahun, Bu.”

 

***

 

“Terdakwa Kim Jongdae.  Apa anda mempunyai permohonan terakhir?”

Suasana di lapangan hijau itu begitu tenang.  Hanya ada 10 polisi yang berjajar sekitar 7 meter dari tubuh Jongdae yang tengah berdiri di tengah lapangan, seorang Komandan yang berdiri di samping barisan para eksekutor, dan Ayah, Ibu, serta Kim Jongdeok yang menonton dari kejauhan.

“Ya.” Jawab Jongdae.

“Beritahu kami.” Ucap sang Komandan.  Jongdae menyuruhnya mendekat, hendak membisikkan permohonan terakhirnya.  Begitu sang Komandan menyodorkan telinganya, Jongdae segera memukul perutnya dan menghantam paha sang Komandan dengan lututnya.  Segera diambilnya pistol yang terselip di sabuk sang Komandan, dan ia segera menarik pelatuk di pistol itu.

 

DOR!  DOR!  DOR!

 

Tiga tembakan diluncurkan olehnya, tepat mengenai dahi, dada kiri, dan perut sang Komandan.  Sang Komandan ambruk ke tanah, nyawanya sudah melayang.  Keluarganya yang menonton dari jauh tidak dapat bergerak sedikitpun, terlalu kaget atas apa yang barusan mereka lihat.  Jongdae membunuh sang Komandan tepat di depan mata mereka.

“Cepat tembak!” terdengar salah satu eksekutor berteriak.  Sudah waktunya, pikir Jongdae.  Ia menjatuhkan pistol Komandan yang ia ambil paksa ke tanah.  Para eksekutor menarik pelatuk mereka.  Sepersekian detik kemudian, Jongdae merasakan dada kirinya tertusuk.  Rasanya sakit, perih, dan panas.  Cairan pekat berwarna merah darah keluar dari mulutnya.  Seperti inikah rasanya ditembak? gumam Jongdae dalam hatinya.

Sebelum ia bisa menggerakkan matanya untuk sekedar melihat keluarganya, kakinya sudah tidak kuat untuk menopang tubuhnya, dan ia jatuh ke tanah, kulitnya bersentuhan dengan rumput hijau yang bergerak pelan dengan angin sepoi-sepoi.  Lalu, semua terasa gelap bagi Jongdae.

 

***

 

Jongdeok tengah membereskan kamar adiknya yang berantakan.  Sudah 2 hari semenjak penguburan adiknya, yang ternyata selama ini adalah pembunuh bayaran.  Aroma tubuh adiknya masih melekat di dalam kamar itu, mendadak Jongdeok ingin menangis.  Jongdeok mengangkut baju-baju milik Jongdae dari dalam lemarinya dan menaruhnya di atas tempat tidur.  Ia berhenti sebentar untuk mengusap peluh di keningnya, lalu ia terpana oleh sesuatu di dinding belakang tempat tidur.  Poster grup kesukaan adiknya, TVXQ.

Ia teringat perkataan Jongdae tempo hari dan spontan merobek poster itu.  Ia melihat sebuah amplop yang ditempel dengan selotip di balik poster.  Langsung saja ia mengambil amplop itu dan membaca sebuah surat panjang di dalamnya.

 

***

 

2 tahun yang lalu.

 

Suasana duka menyelimuti salah satu pemakaman di Seoul.  Seluruh pelayat sudah pulang.  Yang tersisa hanyalah keluarga Jongdae dan Heekyung.  Jongdae berjongkok, matanya merah dan sembab, pipinya basah oleh air mata.  Ia berkali-kali mengelus batu nisan putih tulang yang ada di sampingnya.  Kim Heekyung, tunangannya, meninggal akibat leukimia.  Orang tua Heekyung memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, setelah sebelumnya pamit kepada orang tua Jongdae.  Begitupun juga dengan kedua orang tua Jongdae yang akhirnya beranjak pulang.

Yang tersisa hanyalah Jongdeok, Jongdae, dan Minseok; kakak laki-laki Heekyung.

“Jongdae, ayo pulang.” Jongdeok menepuk pundak adiknya.  Jongdae menggeleng lemah.

“Aku akan pulang dengan Minseok hyung, hyung duluan saja,” ujar Jongdae.  Ucapannya tercekat, kesedihan yang dirasakannya benar-benar tidak tertandingi oleh siapapun.  Jongdeok mendesah pelan lalu berjalan menjauh, keluar dari area pemakaman.

“Jongdae-ya.  Apa kamu tau alasan sesungguhnya Heekyung pergi?” tanya Minseok.  Wajahnya murung, masih dilanda kesedihan.

“Aku tahu, hyung.  Ini bukan sekedar leukimia.” Jongdae berdiri.  “Ia diperkosa oleh teman kantornya yang bernama Oh Sehun.  Karena itulah ia menjadi stress sehingga produksi sel darah merahnya menjadi tidak stabil, dan….”

“Stop, sampai di situ, Jongdae.” Minseok memotong ucapan ‘mantan calon’ adik iparnya

“Ia terus menangis setiap hari.  Aku ingin melakukan sesuatu kepada Oh Sehun.  Tetapi sampai sekarang aku tidak bisa melacaknya.  Ia menghilang.” Minseok menghela nafasnya

“Maafkan aku, hyung.  Yang bisa kulakukan hanyalah memeluknya ketika ia menangis….” Jongdae merasa bersalah karena ia tidak bisa mencegah Heekyung pergi.

“Ini sudah takdir, Jongdae-ya.” Minseok mengangguk, paham akan perasaan Jongdae  “Seandainya saja… Heekyung masih ada, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Minseok tiba-tiba.

“Aku akan tetap menikahinya dan mencintainya,” jawab Jongdae dengan yakin.  Minseok memandang kedua mata Jongdae.  Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna putih dari balik jas hitamnya, lalu menyerahkan amplop itu pada Jongdae.

“Hyung?” Jongdae terlihat kebingungan.  Ia melihat ke dalam amplop itu dan terkejut bukan main.  “Untuk apa semua uang ini?!”

“Ssst.” Minseok meletakkan telunjuknya di depan bibir Jongdae, menyuruhnya diam.

“Balaskan dendamku pada Oh Sehun.”

“T… tapi….”

“Jika kamu bertemu dengannya, apa yang ingin kamu lakukan?” Minseok menodongnya dengan pertanyaan yang akan menyudutkannya, dan Minseok tahu persis apa jawaban Jongdae.

“Aku akan membunuhnya karena ia sudah membuat Heekyung menderita.”

“Aku juga berpikiran yang sama denganmu,” lelaki di depan Jongdae memejamkan matanya lumayan lama.  “Tetapi aku tidak bisa melakukan itu.  Kami sekeluarga akan pindah ke Amerika secepatnya.  Agar kami bisa memulai hidup baru, dan melupakan semua kenangan buruk di sini,” tambahnya.  Jongdae melebarkan matanya.

“Amerika?  K… kapan, hyung?”

“3 jam lagi aku akan berangkat.” Ujar Minseok.  “Kumohon, Dae-ya.  Hanya uang ini yang aku punya, dan hanya ini yang aku minta kepadamu.  Balaskan dendamku pada Oh Sehun.”  Jongdae yang masih bingung belum bisa berkata apa-apa saking kagetnya ia.

“Tapi hyung, uang ini, apakah tidak terlalu banyak?”

“Tidak masalah.  Apapun akan kulakukan untuk Heekyung.  Dengar, Jongdae-ya.  Aku mencintai Heekyung sebesar dirimu mencintainya.  Dia adikku satu-satunya.  Dan kamu pasti mengerti betapa kehilangannya diriku sekarang ini.” Minseok menatap sendu mata Jongdae.  Bayangan adik perempuannya yang selalu menghiasi harinya melintas di benak Minseok seperti sebuah film.  Mendadak matanya kembali berair.

“Apapun demi Heekyung.” Ujar Jongdae.

 

***

 

Jongdeok menjatuhkan kertas di tangannya, terlalu kaget mengetahui motif dibalik semua kejahatan adiknya.  Setelah berhasil menumpas Oh Sehun, ia mendapatkan tawaran untuk membunuh dari seorang saksi yang sempat melihatnya membunuh Sehun.  Saksi itu berjanji akan menjaga rahasia Jongdae selama Jongdae bisa membunuh orang yang ditargetkan olehnya.  Berselang dengan waktu, Jongdae menjadi pembunuh yang hanya akan membunuh jika ia mendapatkan imbalan untuk pekerjaannya, yaitu; uang.  Jongdeok merasa bahwa langit sudah runtuh, dan ia serasa ingin pingsan begitu ia melihat benda terakhir di dalam amplop itu.  Sebuah kertas.

 

Client               :           Byun Baekhyun

Target              :           Do Kyungsoo

Pekerjaan         :           Komandan polisi Seoul bagian penyelidik

 

Do Kyungsoo adalah orang yang selalu menjadi rival Byun Baekhyun ketika mereka masih SMA.

Status              :           In progress

Note                :           Do Kyungsoo sudah melacak keberadaanku dan sepertinya sebentar lagi akan datang untuk menangkapku.  Selain untuk kepentingan client, aku juga harus menumpasnya untuk kepentinganku sendiri.  Tetapi, seandainya ia sudah menangkapku terlebih dahulu… maka sebelum mati akan kupastikan ia yang akan mati sebelumku.

 

The End.

This fanfiction belongs to UQ and her blog, bloodyhazelnut.wordpress.com

Befriend with me? Drop by to say hello @sashnikxo

Iklan

13 pemikiran pada “The Last Mission

  1. wow jongdae yg terlihat kalem dan tenang adalah pembunuh?? Keren sekali hahaha
    well cerita ini keren dan menarik, apa lg pemilihan tokohnya-yg kebetulan biasku jongdae dan suka ff bergenre pembunuhan-.karakter jongdae emang cocok buat peginian,kalem-kalem menghanyutkan hahaha

  2. jongdae yg seperti ini selalu membuatku terpana *apadah
    suka angstnya (di bagian ultah ibunya jongdae dan sblm eksekusi). suka misinya, tapi krg suka cerita ttg ceweknya… kurasa terlalu mengharu-biru. dan leukimia karena perkosaan… hm… agak kurang masuk akal. lebih masuk akal kalau ceweknya bunuh diri krn stres, sebenernya.
    keep writing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s