Dear, Lil’ Dear (Chapter 2)

Dear, Lil’ Dear (The 2nd Page)

By: eishiefkaa

|| Cast: Luhan, Im Yoona || Genre: Romance || Rating T || Length: Chaptered ||

Once again, i’m not the owner of the cast. Enjoy:)

1394162478980

Chapter 2-First Day, Room 1021

Tuhan, maafkan aku karena membawa seorang namja pervert ke apartementku di malam beku seperti ini. Aku berjanji tak akan segan-segan mendaratkan sejumlah tinju jika ia bertindak macam-macam.

“Yaa, mengapa kau berkomat-kamit seperti itu? Cepat buka pintunya… Dingin, nih…”

Kuputar bola mataku 45 derajat ke arahnya. Benar, tubuhnya memang sedikit bergetar kedinginan. Coat hitam yang ia pakai begitu basah, seakan menjadi sasaran pendaratan kristal-kristal salju yang berlomba turun. Aku berdeham pelan. Ragu, kurogoh saku jeansku mencari kunci berbilang 1021. Haruskah aku mengijinkan namja ini benar-benar tinggal?

“Tunggu, se-sebelum masuk,” Ucapku saat memutar kunci itu di lubangnya, “ada syarat yang wajib kau patuhi selama tinggal di sini.”

Luhan memiringkan kepalanya, membalas tatapanku. “Sebenarnya, aku hanya menginap… Tapi, kalau kau ingin aku tinggal, maka-“

“Sama saja!” Potongku sebal, yang malah ia respon dengan gelak tawa. Jelas sekali sifat kekanakan rusa ini juga melebihi yang dulu. Aku yang sekarang sudah tak mungkin lagi beradaptasi dengan Luhan. Membayangkannya menjejakkan kaki di apartementku saja sudah membuat benakku kacau. Oh, tidak, tidak Yoona, buang pikiran menyusahkan itu jauh-jauh. Anggap percakapanmu dengan rusa ini di mobil tadi tak pernah ada.

Setelah Luhan menyudahi tawanya, kembali kupertegas ucapku. “Syarat ini wajib kau patuhi! Pertama, jangan masuk ke kamarku tanpa izin. Kedua, Jika memakai toilet, kunci yang rapat, dan jika ingin menggunakan toilet, ketuk dulu untuk memastikan bahwa aku tidak sedang di dalam. Ketiga, jangan berbuat macam-macam seperti tadi pagi. Jaga jarak denganku minimal 30 senti, dan pastikan satu jarimu tak pernah menyentuhku.”

“Kalau lima jari?”

“Ya!”

“Ara, ara. Apa sanksinya jika kulanggar?”

Mendengar pertanyaannya, telapak tanganku mulai berputar bingung di gagang pintu. Pasalnya, aku sama sekali tak memikirkan hukuman apa yang paling tepat diberikan untuk seorang Luhan. Tak mungkin juga aku mengusirnya karena besar kemungkinan Luhan masih harus tinggal sebab pekerjaan. Tapi kenapa juga, sih, ia bertanya seperti ini seakan siap melanggar?

“Haha, belum kau pikirkan, ya?”

“S-sudah, kok! Tunggu sebentar… mmm, kuputuskan jika kau tak patuhi aturannya, kau harus memasak untuk kita berdua selama tinggal di sini.”

Luhan mengangkat alisnya tak yakin. “Itu saja?”

“Aku juga akan mematikan wi-fi di kamar tamu.”

“Masih ringan.”

Aishh, otakku kini benar-benar dibuat bekerja olehnya. Apa hukuman yang tak bisa ia taklukan?

“Sudahlah, Yoona… dingin sekali di sini. Cepat buka pintunya. Tidak usah pakai sanksi segala, deh.” Ujarnya kelewat santai. Aku tetap menahan gagang pintu untuk mengisyaratkan bahwa pembicaraan ini belum selesai. Sementara Luhan pasrah menunggu, kugali memori masa laluku mencari kelemahan rusa kecil yang masih berumur 16 tahun. 15 tahun. 14…

Ah, aku tahu.

“Kalau kau langgar peraturanku, kau harus tidur di balkon selama 2 malam.” Sahutku puas. Aku ingat betul phobia Luhan akan ketinggian, dan balkon yang terletak 10 lantai dari bawah cukup membuatnya mematung di depan wajaku. Lagipula aku yakin, ia tidak mungkin hipotermia jika hanya sekedar tidur di sana. Toh, ada 2 penghangat ruangan yang kutaruh di situ.

“Bagaimana? Setuju?” Ucapku lagi seakan masih butuh kesepakatan dari tuan Luhan. Meski demikian, siapapun juga tahu keputusan ini tak akan bisa diganggu gugat.

Sudut bibirku terangkat. Luhan mengangguk pucat.

Aku menang.

____________

Night, 09:45 pm

“Ne, oppa, besok jaketmu akan kukembalikkan. Ne ne, gomawo. Night-night, mimpi indah. Chu~”

Setelah mengucap met malam pada Seung Gi-oppa, kuputus sambungan kami dan bersiap untuk tidur. Malam ini begitu tenang. Entah mengapa, rusa cina itu belum terdengar lagi ulahnya. Sedari tadi ia tak kunjung keluar dari kamar. Khekhe, segitu takutnyakah dia kuhukum hingga tak memperlihatkan batang hidungnya? Kyeoptaa.

Oh tunggu, bukankah Luhan belum makan malam? Jangan-jangan ia ketiduran. Huuh, bagaimana kalau nanti pekerjaannyaterlantar karena sakit. Payah sekali namja itu.

Tok-tok-tok

“Luhan-aah, ya… apa kau sudah tidur?“

Hening, tak ada jawaban dari dalam. Kuketuk pintu kamarnya sekali lagi.

“Ya, Luhann, ireonaa. Makan malammu-“

Jemariku yang tadi sibuk berketuk kuhentikan. Kini kupasang baik-baik pendengaranku. Rusa itu tidak tidur rupanya. Dapat kutangkap samar suaranya yang sedang berbincang dengan seseorang. Malam-malam begini ia menelpon siapa?

Pembicaraan mereka sepertinya sedikit intim. Nada bicara Luhan lebih lembut dari biasanya. Bukan bermaksud menguping, tapi kini sebelah telingaku sudah merekat di pintunya secara otomatis. Rasa penasaran ikut menggerakkan tubuhku mendekat.

“…tidak juga…kan…ngat hri..ni…kau sendiri…na?”

Alisku melengkung turun. Hanya beberapa kata dari namja itu yang dapat kutangkap, seperti ‘letih’ dan ‘semangat hari ini’. Agaknya ia membicarakan kolaborasi tadi siang dengan orang yang ia telfon. Eomma-nya, kah?

“…ne…beratan…Wahahaha”

Bahkan Luhan tertawa keras seperti itu. Siapa kira-kira yang membuatnya begitu senang…

“…ne…temu lagi…esok…met tidur…eohyun…”

Mwo?

‘SEOHYUN’?!

“A CHA! Omonaa… Luhannn kau mengejutkanku!!” Jeritku hampir terjatuh ketika rusa itu tiba-tiba menarik pintu dan menampakkan dirinya. Luhan melebarkan irisnya di depan wajahku.

“Yoona?”

Aku hanya tersenyum miris sambil menggenggam tengkukku awkward. “Ng… hai Luhan…” sapaku pelan. Bodoh sekali aku ini. Bagaimana kalau nanti Luhan merasa jijik dengan sepupunya sendiri karena seenaknya menguping…

“Yoona, belum tidur, eoh? Ini sudah hampir jam 10, lho. Sedang apa kau di depan kamar… ku… malam-malam…. Ya, Yoonaaaa~”

Menatap wajah evilnya aku segera tahu apa yang ia maksud. Kugeleng kepalaku cepat.

“Ani! Ani ani ani ani! Aku hanya mau bertanya padamu apa kau sudah makan atau beluum! Ja-jangan salah pahaam!”

“Khe-khe, benarkah begitu? Aku tidak keberatan, kok, jika aku salah pah-“

“Ya! Isssshh, sudahlah! Makan dulu sana! Met malam! Aku mau tidur!” Sahutku melengking, sambil mendentumkan langkah keras menuju kamar. Terdengar gumaman Luhan dari belakang yang jelas sekali bukan gumaman pelan.

“Selamat tidur chagii.”

Grek!

Kututup pintuku rapat-rapat seraya menguncinya, takut rusa itu tiba-tiba masuk. Kalau dipikir-pikir, untuk apa aku berbuat nekat seperti tadi? Ke kamarnya? Oh, aku gila. Sesentipun aku tak boleh berdekatan dengannya. Ia berbahaya.

Ngomong-ngomong, tadi ada sesuatu yang mengganjal sepertinya… Apa ya? Sesuatu yang berhubungan dengan Luhan. Detik sebelum ia membuka pintu kamarnya…

Ah, lupakan saja. Sudah cukup dengan rusa satu itu. Malam ini aku harus tidur cepat.

______________

Morning 07:02 am

Kriiiing kriiing-

“Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”

Kriiiiiing kriiing-

“Ya, Luhan!!! Sudah kubilang kalau pakai kamar mandi kunci pintunya yang rapattt!!!”

Kriiiiiiiing kriiiiing-

“Ck, Yoonaa, kenapa kau selalu menyalahkanku? Kau sendiri tidak mengetuk pintunya dulu…”

“Ya-YA!! Aigooo!! JANGAN MENDEKAT KE ARAHKU HANYA DENGAN SEHELAI HANDUK, XI LUHAN, PABOO!!”

Kriiiiiiiing-pip.

.

.

“Bhahahha! Sial sekali pagimu!”

Jessica dan Tiffany, member chingu-ku malah terbahak ketika kuceritakan pagi keduaku yang menyulitkan. Kedua yeoja tersebut sepertinya menikmati aibku yang berlanjut tak henti ini. Dengan gemas, kupukul bahu mereka sedikit keras.

“Tidak lucu.” Gerutuku.

Yuri hanya tersenyum-senyum melihatku kesal. Ia lalu mengelus kepalaku ringan sembari mempout manis.

“Ye, Im Yoon Ah. Kalau begitu kenapa kau masih tak bisa kembali ke dorm bersama kami, eoh? Sepi tahu kalau kau tidak ada.”

Ucapan Yuri membuat bibirku terkunci. Bukannya tak bisa, tepatnya tak mau. Aku punya alasan untuk tidak kembali ke sana. Dan jika mereka ingin tahu, satu-satunya orang yang dapat menjelaskan alasanku adalah,

Yeoja itu.

Yeoja cantik berinsial Seohyun di samping Yuri.

Bahkan mengawasi tatapanku yang tertuju padanya saja, sukses membuatnya membuang muka dari wajahku. Aku menghela nafas lelah. Sudah sebulan yang lalu sejak Seohyun bersikap dingin seperti ini. Ia selalu acuh tak acuh terhadapku, dan tak pernah membiarkanku meminta maaf. Di samping itu, aku bahkan tak tahu apa salahku kepadanya. Yeoja itu bukan hanya tak mau berbicara denganku, ia juga menganggapku seolah tak ada. Sikapnya ini membuatku sebal.

“Ah, Yoonaa!”

Ah, iya, hampir lupa. Yang satu ini juga…membuatku sebal.

“Kyaaa Luhan! G’morninn’! Tadi Yoona habis membicarakanmu, lhoo.”

“Jinjjayo? Aigoo, kalau di apartement kau malu-malu.”

“Ya, lepaskan tanganmu…” ucapku datar ketika Luhan mulai memeluk pinggangku seperti biasa. Luhan malah menggelengsok imut, memamerkan paras segarnya di depan member GG.

“Tidak mauu~ kita, kan, tidak sedang di apartementmu. Jadi aku terbebas dari aturan jahanam itu.”

“Aih, Luhan kau lucu sekaliii!!”

Lagi, tak kugubris jawaban rusa itu dengan antusias. Rasanya aku sudah malas dan mulai terbiasa dengan sikap manjanya. Toh, ia juga tak akan berani macam-macam di dalam SM. Kalau di rumah tinggal kukurung di balkon. Mungkin ini tak seburuk yang kupikir.

Tunggu, Yoona. ‘Terbiasa’? Itu kata yang 100% tabu untuk dipraktikkan. Kau tak boleh terbiasa dengan kelakuannya yang serba mesum.

Buru-buru, kulepaskan lengannya yang melingkar kuat. “Andwae Luh-“

“Luhan, pagi.”

Tiba-tiba suara lembut nan ramah memecahkan pikiranku. Luhan menoleh kedepan, sedang tangannya tanpa ia sadari terkulai sendiri dari pinggangku untuk melambai kepada yeoja pemilik suara lemah tersebut.

“Pagi Seohyun! Kau sudah sarapan?”

Ah, memoriku seketika kembali terkumpul ketika Luhan menjawab dengan suara yang sama halus. Semalam yang membuat benakku ganjil rupanya ini. Ya, Seohyun dan Luhan, aku ingat mereka bercakap di telepon cukup lama. Sejak kapan mereka begini akrab, sampai Luhan bertanya tentang makan paginya segala?

“Kebetulan, aku belum sarapan. Kau mau menemaniku?”

Kutengok wajah Luhan ragu yang kini hazelnya membinar. Ia dengan senyum lebarnya mengangguk cepat.

“Ne, ne! Dengan senang hati!”

Detik berikutnya ia benar-benar melepas pinggangku dan meraih telapak kecil Seohyun lalu menariknya lembut. Aku terkejut. Ia terasa begitu asing dan begitu berbeda. Luhan sebelumnya tak pernah meninggalkanku kasar seperti ini. Ada apa dengannya?

“Eng… Yoona. Lulu baru kemarin kenalan dengan Seohyun, kan? Mereka sudah pacaran?” tanya Yuri yang juga tercengang menatap mereka.

Aku menggeleng ringan, masih terpaku dengan keduanya yang sudah memasuki pintu lift. Jessica yang ikut memperhatikan hanya mengangkat bahu seraya menggumam, “seperti dihipnotis…”

“Ia tak memberitahuku.” bibirku berkata pahit. Baru kali ini rusa itu terasa jauh dalam arti yang sesungguhnya.

_______________

Siang ini Seung Gi-oppa mengajakku keluar. Untuk pertama kalinya jadwal kami tidak begitu padat, membuat oppa segera menelponku untuk bertemu. Kini kami berputar-putar di wilayah game center terdekat dengan ice cream vanila di tangan kami. Oppa tetap di temani style-nya yang mencolok, seolah tak peduli akan dipergoki para fansnya. Aku hanya menunduk malu jika satu dua orang menatap kami dengan tatapan-tatapan familiar.

“Gwenchana, Yoona? Tidak suka vanila?”

“Mwo? A-aniya. Aku seperti ini karena kau tahu. Gaya sok kerenmu itu…”

“Ehehe, sengaja, kok. Supaya mereka tahu kalau aku sangat pantas mendampingimu.”

Aku terkekeh mendengar ucapan namja-chinguku ini yang selalu pede. Sembari berjalan, lengannya tak kulepas dari pelukanku. Sesekali oppa mengusap suraiku hangat. Senang, itulah yang kurasakan. Ingin sekali kuhentikan waktu yang berjalan ini.

“Lihat, Yoona, ada photobox. Kau tak mau, kan, melewatkan foto bersama dengan namja tampan? Heum?”

“Yaa, jauhkan wajah filter-mu itu, oppa. Hahaha, kaja-kaja! Sudah lama sekali aku tak ke tempat seperti ini. Kangen rasanya…”

“Jinjja? Aku masih sering ke photobox dengan aktor atau aktris-chinguku. Memang kapan terakhir kau ke game center?” tanya oppa. Aku berpikir sesaat.

“Cukup lama… kalau tidak salah umur 10 tahun bersama Lu-“

Seunggi oppa seketika menatapku tajam, sedangkan kedua tanganku langsung memotong kalimat di bibirku. Aish, suasana menyenangkan tadi jadi canggung.

“Kau akrab sekali, ya, dengan bocah itu?”

“N-ne…”

“Dia sudah balik ke kampungnya, kan?”

Aku diam saja. Oppa masih tidak tahu kalau namja itu kini justru tinggal di apartementku. Oh, menginap tepatnya. Aku tak bisa membayangkan reaksinya jika kuberitahu hal ini. Meski sepupu, tetap saja aku dan Luhan tak punya hubungan darah. Namja itu tetaplah orang luar yang semestinya tidak tidur satu atap dengan yeoja yang bukan saudaranya sepertiku. Jadi bagaimana aku harus menjelaskan ini pada oppa?

“Yoona? Kau akhir-akhir ini suka bengong, ya?”

“Ne?”

“Tuh, kan.”

“Bu-bukan, kok. Aku hanya sedang berpikir. Kaja, oppa, kita berfoto sekarang yuk.”

Kutarik lengan oppa memasuki ruang photobox merah yang terasa sempit dengan dua orang di dalamnya. Oppa merapat begitu erat di punggungku, membuat tubuhku terasa panas. Lengannya mulai terulur menekan-nekan tombol merah dan hijau di depanku. Setelah kamera mulai berhitung mundur, oppa mendekapku. Bukan dekapan biasa yang membuatku dapat berpose bebas. Aku mendorong tubuhnya karena tak nyaman.

Three! XD,

“Oppa, bisa longgarkan lenganmu?”

“Heum? Kau bilang apa?”

Two! XD,

“Oppa, aku sesak. Cepat lepaskan…”

“Wae, Yoona-ah? Kau, kan, yeoja-chinguku.”

One! XD,

“Ya, opp-“

Cklik!

Cklik!

Cklik!

.

.

“Yoona! Sini lihat! Hasil fotonya bagus sekali. Kau terlihat manis.”

Aku mempout ke arah oppa. Kelakuannya tadi betul-betul mengingatkanku pada satu namja mesum bernama Luhan. Iissh aku bisa gila. Kenapa semua namja jadi seperti rusa itu?

“Seung-oppa! Kenapa tadi kau menciumku, eoh? Aku, kan, tak suka!” Celaku kasar. Oppa hanya membalas ucapanku dengan poutan balasan.

“Memangnya kenapa? Lagipula, kan, tidak kena… kenapa kau marah?”

Aku mengusap pipiku pelan. Ya, untunglah sebelum oppa menciumku, tanganku dengan sigap menyikunya hingga bibir lipstiknya hanya menggores di pipiku. Aku benar-benar lega.

“By the way, kau belum jawab pertanyaaku tadi.”

“Eoh?”

“Tentang rusa itu… ia sudah balik, kan, ke Cina?”

Kutelan kembali ludahku gugup. Baiknya apa yang harus kukatakan?

“Luhan…dia…”

“Jangan bilang padaku dia masih di Seoul.”

“I..iya…tidak…anu… Tidak, dia sudah pulang…” jawabku ragu. Dapat kutatap wajah tak percaya Seung Gi-oppa dengan cara bicaraku yang tak yakin. Namun sedetik kemudian ia menggandengku.

“Bagus deh. Aku tidak suka bocah itu.”

Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Kami lalu kembali berjalan mencoba game-game yang ada. Hingga langitberwarna terbakar, aku dan oppa baru kembali ke SM.

____________

“Luhan mana?”

Itulah pertanyaan pertama yang kuucapkan pada Taeyeon dan Sooyoung yang masih berada di practice room. Member yang lain sepertinya sudah balik ke dorm.

“Luhan? Kupikir tadi dia bersamamu?”

“Sembarangan. Yoona kan siang ini kencan mesra dengan Seung Gi. Kalau Luhan kulihat tadi dia mengantar Seohyun.”

Mataku seketika terbelalak lebar.

“Mengantar? Seohyun tidak bersama member lain?”

Taeyeon menggeleng dengan wajah sama heran. “Entahlah, sedari tadi yeoja itu nempel terus sama sepupu-mu. Kupikir mereka sudah…jadian?”

“Jangan bilang gitu, ah!” rekuh Sooyoung, “mereka, kan, belum kenal lama! Kalau Luhan sampai direbut olehnya… aku… aku…”

Sooyoung mulai terisak. Kututup telingaku rapat-rapat.

“Aisssh, jinjja…” gumamku menonton drama kecil ini. Taeyeon hanya bertolak pinggang.

“Ya, Yoona! Harusnya kau ikat rusamu itu agar tidak jadi rebutan begini!”

“Mwo, yaaa… kenapa ujung-ujungnya aku yang salah?”

Tring-tring~

Bunyi pesan masuk mengejutkanku. Kubuka handphoneku dan kulihat nama yang tertera di sana. Sempat terlintas di

benakku Luhan yang mengirim pesan.

From: Seung Gi-Oppa<3

Yoona-ah, malam ini kau tak sibuk, kan? Mumpung masih jam 7, bisakah kita makan malam di apartementmu, menggantikan dinner kemarin yang tertunda? Ah, bdw, hari ini menyenangkan:>

“Omo!”

“Wae? Waeyo? Siapa yang sms?”

Aku menunjukkan pesan oppa dengan tampang panik kepada dua member-chinguku. Saat itu juga tampang mereka sama terkejutnya denganku.

“Ottohkeee???”

“Tunggu… tenang dulu Yoona. Lebih baik kau tolak ajakannya! Bukankah barusan kau bertemu dengannya? Apa dia masih belum puas?” Cerca Taeyeon. Aku menggeleng kuat.

“Kemarin aku sudah menolaknya karena Luhaan… Oh! Apa dia ingin mengecek apakah aku berbohong kepadanya atau tidak?”

“Bohong? Kau mengatakan apa?”

“Begitulah, sebaiknya aku pulang sekarang menemui rusa cina itu. Annyeong eonni!” ucapku sambil berlari ke luar meninggalkan mereka.

Tadinya aku berharap untuk sekedar balik ke apartementku dengan selamat. Dan sendiri.

Namun terlambat. Oppa sudah menungguku di parkiran dalam.

Benakku benar-benar kacau sekarang.

_____________

“Ini apartementmu? Besar juga.”

Kutatap wajah oppa miris. Kini kami sudah tida di pintu bernomor 1021. Aku memutar kuncinya tegang. Ini bahkan terasa lebih menakutkan daripada ketika Luhan yang berada di belakangku. Otakku sudah penuh oleh kumpulan pertanyaan ‘bagaimana’, ‘bagaimana’. Bagaimana jika aku ketahuan tinggal bersama Luhan?

Eh, menginap maksudku.

“Yoona?”

“Oppa!” sahutku tegas. “Aku… kau harus tunggu di sini dulu! Biar kurapikan meja makanku sebentar.”

Sebelum kubiarkan namja itu menjawab apapun, secepatnya kumasuki room 1021-ku dan mengunci pintunya rapat. Tanpa menunggu lagi, kucari rusa itu di setiap sudut ruang. Beruntung aku segera menemukannya sedang terlelap di sofa depan televisi. Perlahan, ku bungkukkan tubuhku mendekat kepadanya.

Mian, Luhan, aku terpaksa bersikap kejam.

“LUHAN! IREONA! YA, LUHAN!!!”

Kuguncangkan bahunya sekeras mungkin dan ku tepakkan telapak tanganku di pipinya. Syukurlah namja ini langsung terbangun tanpa perlu kusirami wajah manisnya.

“Eungg…Yoona? Kau sudah pulang?”

“Luhaaan, ppali masuk ke kamarmu dan kunci pintumu rapat! Kau teruskan saja tidurmu di sana, ara? Ppali ppalii!”

Luhan masih dengan muka bantalnya bertanya polos, “Wae?”

“Aishh, Lee Seung Gi-oppa datang!!! Tolonglah bantu aku… ia bisa salah paham jika kau ada di siniii! Ne? ne? Kau bisa, kan, bersembunyi dulu sebentar?”

Meski sepertinya rusa itu masih di alam bawah sadarnya, ia mengangguk. Kemudian dengan manis, ia menuruti kalimatku berjalan lunglai ke kamarnya. Terdengar bunyi ‘cekrek’ dari sana menandakan ia juga telah mengunci pintunya.

Lega yang amat sangat ku utarakan kepada rusa itu lewat batin ke batin. Lekas ku rapikan meja makanku dan menyiapkan bahan-bahan makanan untuk kumasak.

.

.

Krek

“Oppa, silakan masuk. Mian menunggu lama.”

Seung Gi-oppa untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di apartementku. Ia menatap kagum setiap inchi ruanganku yang mungkin terlihat bersih baginya. Tak sia-sia kusuruh ia menunggu lama di luar.

“Hem… harum… kau masak apa?”

“Hehe, nanti lihat saja. Kau tunggu di meja makan, ne.” kataku senang.

Setelah makan malam porsi besar telah siap santap, kami duduk bersama di ruang makan. Oppa terlihat rakus memakan ayam panggang yang jadi menu utama malam ini. Sepertinya ia benar-benar sudah lapar.

“Ngomong-ngomong,” ucapnya di sela mengunyah, “tadi rasanya aku mendengar suara lain di dalam.”

Benarkah?

“Ah, kau hanya salah dengar, oppa. Hanya ada aku, kok, di sini.”

Oppa mengangguk-angguk mengerti. Namun tiba-tiba kesibukannya mengunyah ia hentikan. Matanya memandangku seram.

“Benarkah kau hanya sendiri?”

Keringatku mulai turun. Kenapa, sih, ia begitu tak yakin?

“N-ne, tentu saja.”

“Kalau begitu, itu siapa?”

Kurasakan lengan besar seorang namja merangkul leherku dari belakang. Dagunya ia letakkan nyaman di ceruk leherku,sedang bibirnya nampak menyeringai licik. Dari ekor mataku, dapat kutatap hazelnya yang memandangku lembut.

Dengan harapan, harapan tinggi, setinggi-tingginya bahwa yang melakukan semua itu hanya hantu, hanya bayangan, hanya imajinasi gilaku; aku menoleh.

Tuhan kumohon, jangan dia yang ada di belakangku.

“Hai, Yoonaa.”

T.B.C~
____________

Yehet! Annyeonghaseyoo^^ akhirnya sempet juga bikin chap 2 inii…. mian ya alurnya rada kecepetan><

19 pemikiran pada “Dear, Lil’ Dear (Chapter 2)

  1. Rusa Cina… hahahaaa… Luhan jadi rebutan member SNSD (tidakkk…/Baekhyun ngamuk).

    keren… cepetan dipublis ya lanjutannya…

  2. Itu pasti si rusa cina -_-
    Ganggu orang lagi dinner aja xD wkwk 😀 wah kasian sama yoona kalo gini bisa bisa seunggi oppa marah -_- luhan bener bener harus dihajar xD #plak
    Ditunggu kelanjutannya ^^
    Cepetan dipost chapter 3 nya kalo bisa 😀 hehehe

    • Wkwkwk gampang ya nebak endingnya disini X)) luhan jangan dihajar, lempar ke authornya ajaa 😀 hehe makasih ya udah iseng baca-baca dari prolog sampe ch 2 🙂 jeongmal gomawo^^

  3. Suka banget karakter luhan disitu.. Oh ya koreksi ada beberapa bahasa di ff ini yang aku gak ngerti dan bahkan gak sedikit dari penulisan bahasanya yang kadang buat aku jadi bingung bahkan sulit untuk mengartikannya mian it’s just my opinion next chap semoga bisa lebih bagus 🙂

    • Gomawo udah baca dan komen 🙂 kalo boleh tau, contohnya yang bingungin yang mana chingu?^^ supaya di chap berikutnya bisa kuperbaikin 🙂 makasih ya 😀

  4. aigooo . . si rusa kecil jadi PHO .
    ckckck, tapi Seohyun knapa dingin sama Yoona ?
    ya udah deh, aku tunggu next chapnya, janga lama” ya ^^
    keep writing & fighting q^_^

  5. ha..ha… kocak
    kasihan yoona lgi asyik dinner d ganggu ama rusa cina, kyaknya pertengkaran d mulai nihh!!

    next chingu part 1 blom baca loh!!

    • Haha iya si luhan sok nurut dulu sebelumnya 😀 makasih ya udah baca dan komen^^
      Waaa prolog sm chap 1 belom dibaca? 😀 hahaha baca dulu ya biar nggak bingung^^ jeongmal gomawo udah iseng baca dari chap 2 X))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s