Love Guarantee (Chapter 8)

Love Guarantee (Chapter 8)

Author : RahmTalks

Genre  : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Length : Chapter | Rating : PG-15

Casts : Choi Nayoung (OC), Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Kyura (OC)

 love guaranteee

===

Hari yang cerah. Nayoung bangun pagi-pagi sekali dan segera menuju dapur untuk mempersiapkan makanan. Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk menyelesaikannya karena ia hanya mengeluarkan roti tawar dan lain-lain untuk sarapan.

Ia mengoleskan selai coklat pada selapis roti tawar dan menutupnya kembali dengan roti. Dinikmatinya sarapan itu di setiap kunyahannya hingga akhirnya ia membuat roti selai lagi. Semenjak tinggal

disana, baru kali ini nafsu makannya kembali seperti semula, yaitu amat besar.

Sambil mengunyah ia mengingat ingat kembali apa yang harus ia lakukan, dan untuk mengantisipasi jika ia lupa, maka kegiatan itu segera ia lakukan sekarang. Langkah kakinya menuju ke kamar dan membuka laci samping tempat tidur. Dikeluarkannya beberapa botol kecil yang masing-masing berisi tablet obat dengan warna serta bentuk yang berbeda. Setelah roti di dalam mulutnya benar-benar habis tertelan, ia meneguk air dan mulai memasukkan obat dari dokter Yoo ke dalam mulutnya.

Ia duduk sebentar untuk menunggu makanannya sampai ke lambung, kemudian memakai jaket dan celana training karena ia berniat untuk lari pagi. Lebih tepatnya hanya berjalan-jalan, karena ini sudah terlalu siang bagi rata-rata orang untuk melakukan jogging. Ia melihat mobil Kyungsoo terparkir tidak pada tempatnya, yaitu di depan pagar.

Parkir secara sembarangan bukanlah style Kyungsoo karena ia tahu Kyungsoo adalah orang yang amat terorganisir. “Semalam ia kemana?” Gumamnya. Namun ia segera menepis rasa ingin tahunya dan berlari kecil keluar.

Semalaman ia sudah mempelajari banyak hal yang ada dalam buku harian beserta album-album fotonya, ia berencana akan mendatangi tempat-tempat yang tertera disana. Jadi tujuan utamanya bangun pagi-pagi dan keluar adalah mencoba ‘mengulang’ seperti yang dokter Yoo katakan. Karena ia tak bisa hanya bergantung pada obat.

Ia mulai dari sebuah taman bermain, tempatnya dan Baekhyun mampir setiap pulang sekolah untuk main ayunan, makan es krim, menjahili orang-orang, bahkan ikut bermain dengan anak kecil. Kekanakan memang. Namun mereka tidak memperdulikan apa yang orang lain pikirkan tentang mereka, asal mereka terus bersama mereka merasa senang. Mereka memang tidak satu sekolah, namun tak jarang juga Baekhyun menjemputnya hanya untuk pulang bersama.

Taman masih sepi, tentu saja karena ini masih sangat pagi. Nayoung duduk di sebuah ayunan dan mendorongnya dengan kakinya sendiri agar bergerak. Cukup lama ia bermain ayunan namun ia tak mendapat penglihatan apapun. Matanya terus bergerak tiap ada yang lewat hingga ia asik sendiri dengan kegiatan itu dan melupakan tujuan utamanya.

Dan se-mengasyikkan apapun suatu kegiatan, tentu akan ada saat dimana pelakunya merasa jenuh. Itulah yang kini Nayoung rasakan. “Mungkin belum.” Ucapnya seraya melangkah menuju tempat selanjutnya, yang sudah ia hafal betul namanya. Mungkin bukan disini tempatnya, namun ia tak kecewa karena masih banyak tempat yang menunggu untuk ia kunjungi.

Terlalu banyak tempat yang ia kunjungi menurut buku harian itu sehingga ia harus memulainya sejak pagi. Ia sendiri khawatir jika nantinya hari ini tak membuahkan hasil, yang artinya ia harus mengulang pada hari selanjutnya. Dan bisa dipastikan, tubuhnya akan sangat lelah ketika tiba di rumah.

Ia melangkah ringan menyusuri trotoar dengan kedua tangan dimasukkan pada saku jaketnya. Melihat anak-anak sekolah dasar yang berangkat menuntut ilmu dengan wajah semangat membuat hatinya ikut senang.

“Apakah masa SD ku semenyenangkan mereka?” Senyum kecil meluncur dari bibirnya tatkala ia membayangkan bagaimana masa kecilnya.

Ia berjalan searah dengan gerombolan anak SD yang berada di depannya. Keasyikan serta keceriaan anak-anak SD itu membuatnya tertarik untuk mengikutinya. Tak jauh dari sana berdiri dengan kokohnya sebuah Sekolah Dasar dengan cat berwarna biru muda. Beberapa pohon yang ditanam di depan pagar menambah kesan asri dan sejuk pada sekolah itu.

Langkahnya semakin pelan ketika matanya tiba-tiba tertuju pada suatu objek. Objek yang menurutnya menarik dan meningkatkan rasa ingin tahunya.

Seorang ibu yang masih terlihat muda sedang mengantar anaknya naik sepeda. Ia mambayangkan ibu itu adalah ibunya dan anak kecil itu adalah dia. Senyumnya terkembang saat membayangkan hal yang menurutnya lucu tersebut.

“Eunji-ya! Jika tidak cepat kau bisa terlambat!” Ucap eomma Eunji yang tengah menyiapkan sepatu dan tas kuning milik Eunji.

“Ne. Eomma… Sebwenta lahi, au bwesama appa saha. (Sebentar lagi, aku bersama appa saja).” Jawab Eunji dengan mulut yang dipenuhi makanan.

“Appa sudah berangkat tadi pagi, jadi terpaksa eomma yang mengantar.”

“Au suah siap eomma.” Eunji berdiri di samping eommanya sambil berusaha menelan sarapannya.

“Pelan-pelan sayang, kau bisa tersedak. Apa susumu sudah diminum?”

“Sudah. Kajja, aku tak mau dihukum karena terlambat.”

“Tentu saja. Eomma juga tak mau menanggung malu karena kau terlambat.” Pasangan ibu dan anak itu melangkah menuju garasi untuk mengambil motor.

“Mwo? Bannya bocor? Sial! Ini tidak akan sempat.”

“Eothokke?” Keduanya saling menatap dan secara bersamaan mata mereka tertuju pada sebuah sepeda yang ada di pojok garasi. Keduanya tersenyum penuh arti.

Itu adalah pertaman kalinya Eunji diantar ke sekolah naik sepeda.

Sebuah flashback terlintas begitu saja di dalam benaknya. Ia segera berpegangan pada pagar rumah orang lain sebelum ia benar-benar limbung dan jatuh.

Setelah keadaannya mulai stabil dan tak merasa pusing lagi ia meneruskan kegiatannya. Berjalan dengan irama, selalu tersenyum, dan memberi salam pada setiap orang. Ia tak pernah merasa sebaik ini sebelumnya.

Seorang yeoja yang kira-kira lebih muda darinya melihat ke arahnya dengan seksama, bahkan rela berhenti hanya untuk menatap Nayoung lebih dekat.

“Apa ada yang salah denganku?” Tanya Nayoung polos. Ia pun berhenti sambil merapikan pakaian dan rambutnya.

“Eunji sunbae?” Nayoung berfikir keras. Siapa yeoja di depannya? Adik kelasnya saat SMP? SMA? SD? Atau di tempat kursus? Akan sangat memalukan jika ia tak tahu namanya, sedangkan gadis di depannya ini hafal betul dengannya. ‘Berarti kami cukup akrab.’ Batinnya.

“Iya. Lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?” Nayoung bersikap normal.

“Aku baik-baik saja sunbae. Lama tak bertemu sunbae makin cantik saja.”

“Jinjja? Kau juga makin cantik. Ah, kau mau kemana?”

“Ke perpustakaan.”

“Kau rajin sekali. Baiklah, selamat belajar. Hwaiting!”

“Terima kasih. Eum… Eunji sunbae?”

“Ya?”

Yeoja itu tersenyum malu ketika Nayoung menatapnya penuh selidik. “Apa kau masih bersama Baekhyun sunbae?” Tanya yeoja itu agak sungkan.

“Ah… Eum…” Nayoung hanya tersenyum ala kadarnya karena ia sendiri belum tahu apa statusnya dengan Baekhyun sekarang. Ia juga tak pernah menyangka bahwa hubungannya dengan Baekhyun cukup terkenal dulu.

Senyuman itu diartikan ‘Ya’ oleh yeoja di depannya. “Kalian berdua sangat serasi. Kudoakan kalian akan menikah nantinya.”

“Terima kasih.” Nayoung tersenyum meskipun ia yakin senyumannya sangat aneh.

“Baiklah sunbae, aku permisi dulu. Senang bertemu denganmu. Annyeong.” Yeoja itu membungkuk.

“Annyeong.”

===

Nayoung menyusuri trotoar dan kini lalu lintas nampak lebih padat daripada beberapa saat yang lalu.

TIN TIN

Sebuah mobil bergerak perlahan sebelum akhirnya berhenti di sebelahnya. Pemiliknya membuka kaca mobil dan rupanya itu adalah Baekhyun.

“Hai! Kau sedang lari pagi, eoh?”

“Ne. Mau kemana sepagi ini?”

“Sebenarnya aku mau ke rumah Kyungsoo, tapi tidak jadi.”

“Wae?”

“Kau mau menemaniku sarapan?” Baekhyun malah balik bertanya.

“Eommamu tidak pernah memasak? Mengapa kau selalu makan di luar?”

“Aku tidak suka masakan eomma, lebih enak masakan pembantuku. Namun ia baru datang pukul 12.” Baekhyun keluar dari mobil.

“Kau pasti lapar. Kajja.” Baekhyun membuka pintu mobil mempersilakan Nayoung masuk, jadi mau tidak mau Nayoung menerima tawaran itu.

“Bagaimana tidurmu semalam? Apa obat dari Dokter Yoo cukup membantu?” Tanya Baekhyun di sela-sela perjalanan.

“Aku tidur sangat nyenyak. Obat itu benar-benar berfungsi.” Baekhyun tak menjawab lagi melainkan hanya tersenyum puas.

Restoran tempat Kyura bekerja merupakan tujuan Baekhyun kali ini, namun sayangnya Kyura belum ada di tempat.

“Kau mau pesan apa?” Tanya Baekhyun.

“Aku sudah makan tadi.”

“Kau makan apa?” Baekhyun curiga.

“Roti tawar.” Jawab Nayoung polos.

“Baiklah, apa kau mau Hoeddeok?” Nayoung memutar bola matanya dan meggigit bibir bawahnya mencari jawaban.

“Kau harus memilih. Menjawab ‘ya’ atau mengangguk.” Akhirnya Nayoung mengangguk pasrah karena semua permintaan Baekhyun sulit untuk ditolak. Begitu menurut penuturannya di buku harian, dan ia rasa itu benar.

“Hoeddeok dua dan coklat panas dua. Eum, dan air putih satu.” Ujar Baekhyun pada pelayan.

Suasana diantara mereka masih agak canggung karena Nayoung masih butuh bradaptasi dengan sikap Baekhyun. Selain itu ia juga masih merasa tak enak berhadap-hadapan dengan Baekhyun seperti ini. Membuatnya gugup dan sungkan. Sementara Baekhyun tidak mau terburu-buru dalam mengambil sikap. Bisa-bisa Nayoung malah muak dengan sikapnya yang berlebihan.

Ketika obrolan diantara mereka sedikit naik frekuensinya, lonceng di pintu masuk berbunyi pertanda bahwa seseorang datang. Itu adalah Kyura yang nafasnya terengah engah, pakaian dan rambut berantakan, dan keringat menggelincir di pelipisnya.

“Kyura!” Baekhyun yang pertama menyadari kehadirannya langsung berbalik dan menyapanya sambil melambaikan tangan. Kyura balas melambaikan tangannya sambil tersenyum. Padahal lensa matanya tidak menangkap wajah Baekhyun, melainkan etalase kosong yang ada di depan Baekhyun, yang harusnya sudah berisi aneka cake. Ia benar-benar terlambat pagi ini dikarenakan kejadian dini hari tadi. Pipinya merona ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

Ia melepas mantelnya dan meletakkannya di dekat meja kasir –tempat seharusnya ia berada. Dengan segera ia mengambil beberapa wadah berisi cake, untuk ditata dalam etalase.

“Bos belum datang kan?”

“Pagi ini kau selamat. Tak biasanya kau terlihat berantakan seperti ini.” Ucap Yoori yang sedang membawa kue kering dari dapur.

Kyura mengernyitkan alis, kemudian menghentikan aktivitasnya dan menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Ia rapihkan seragamnya dan menyisir rambutnya dengan jari.

“Sudah?”

“Tidak mengubah apapun. Apa semalam ada film bagus?” Yoori membenarkan posisi kursi di dekat meja kasir.

“Memangnya ada?” Kyura masih meneruskan pekerjaannya.

“Malah balik bertanya. Jika kau disejajarkan dengan panda, mungkin sekarang aku tak bisa membedakannya. Kau sedang memikirkan banyak hutang? Atau memikirkan trik untuk menarik pelanggan?” Katanya bermaksud mengejek.

Kyura baru paham maksudnya. Dan akibatnya ia tak berani mengaca di cermin untuk melihat wajahnya, yang sudah pasti terlihat seperti zombie.

“Apa terlihat jelas? Aish!” Gerutunya, sementara temannya hanya mengendikkan bahu.

Kyura sudah menyelesaikan menata semua cake dan kue kering di etalase. Kini ia hanya duduk di meja kasir sembari memperhatikan pelanggan yang datang. Ia ingat bahwa tadi ia mendengar suara Baekhyun. Segera dicarinya sosok itu dan akhirnya ia temukan berada di meja nomor 12 dekat jendela. Barulah ia sadar bahwa Baekhyun tidak sendirian, melainkan bersama seorang yeoja yang kini tengah duduk memunggungi Kyura.

‘Jika dilihat-lihat, itu bukan Sujin. Mungkinkah… Nayoung?’ Kyura memiringkan kepalanya mulai membuat berbagai asumsi.

“Jieun, apa itu pesanan untuk meja nomor 12?” Tanyanya seperti menodong ketika temannya baru keluar dari dapur.

“Omo! Cuci mukamu dulu!” Kata Jieun.

“Nanti. Aku saja yang mengantar ya?” Ucap Kyura antusias, dan mana bisa Jieun menolak bila dihadapkan dengan puppy eyes milik Kyura –jangan lupa dengan kantung matanya.

Nampan sudah berada di genggamannya dan kini ia berjalan dengan ceria ke meja Baekhyun.

“Annyeong Baekhyun. Annyeong Nayoung-ssi.”

“Annyeong Kyura-ssi.” Balas Nayoung tak kalah ceria.

“Haha… Ada apa dengan mukamu? Aigoo…” Komentar Baekhyun sudah bisa ditebak oleh Kyura.

“Aku baru tidur dua jam dan tentu saja bangun kesiangan. Aku hanya memiliki waktu 15 menit untuk sampai kesini setelah bangun. Hebat kan? 15 menit bukanlah waktu yang lama.”

“Oh… Jangan biasakan begadang.” Nasihat Baekhyun dan semburat merah muncul di kedua pipi Kyura, ia teringat lagi akan kejadian beberapa jam yang lalu. Hanya Nayoung yang menyadari hal itu namun ia lebih memilih untuk diam.

“Ah iya Baekhyun, setelah ini bisakah aku berbicara denganmu? Hanya berdua.”

===

Nayoung menikmati coklat panasnya yang sedikit mengepulkan asap, duduk manis sambil sesekali melirik ke arah pengunjung lain. Alasan ia masih disana adalah menunggu Kyura dan Baekhyun yang sekitar dua menit yang lalu berjalan keluar.

“Ada apa?” Tanya Baekhyun malas. Tentu saja malas, Kyura baru saja mengganggu momentnya bersama Nayoung.

“Apa kau tidak sedang melupakan sesuatu?”

“Apa?” Baekhyun menatapnya penasaran namun ia tak kunjung menjawab hingga Baekhyun merasa kesal. “Jangan membuatku penasaran! Apa yang ingin kau katakan? Aku lupa tentang apa?”

“Apa ya?” Goda Kyura.

“Ya!”

“Perjodohan. Sujin. Kau harus segera membuat kepastian, lebih menuruti orang tuamu atau Nayoung.”

“Ah! Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting ini!” Baekhyun menepuk jidatnya.

“Jadi bagaimana?”

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Cukup lama tak kunjung memberi jawaban, karena pikirannya sedang melayang entah kemana dan sampai sekarang belum kembali juga.

Langkahnya ia hentikan secara mendadak membuat Kyura ikut berhenti. “Aku akan memperkenalkan Nayoung kepada orang tuaku. Sebagai Eunji tentunya. Bukankah perjodohan ini ada karena kekhawatiran mereka terhadap keadaanku dulu yang ditinggal oleh Eunji. Jika Eunji sudah kembali, secara otomatis perjodohan batal bukan?”

“Serangan secara sepihak? Apa kau yakin? Orang tua kalian adalah relasi bisnis, mereka bersahabat, dan orang terhormat. Kurasa tidak akan semudah itu untuk membatalkan perjodohan kalian. Bisa-bisa keluargamu dianggap merendahkan keluarga Sujin.”

Baekhyun mendengus, perkataan Kyura ada benarnya juga. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya bingung alasan apa yang harus ia utarakan, karena orang tuanya sangat idealis.

“Kau ada saran?” Baekhyun bertanya antusias, namun gelengan kepala Kyura membuatnya menghela nafas panjang dan berat.

“Jadi apa tujuanmu mengajakku membicarakan ini? Tak ada saran sama sekali?” Baekhyun menatapnya memohon. Kyura menatap langit dan membasahi bibirnya. “Bagaimana jika Sujin juga menolak perjodohannya?”

“Terdengar hebat! Bagaimana caranya aku merubahnya menjadi anak pembangkang, huh?” Tanya Baekhyun meremehkan.

“Ajak saja dia kerja sama. Kalian berdua harus membuang jauh rasa gengsi pada orang tua kalian, dan pasanglah muka semelas-melasnya dan merengek agar perjodohan dibatalkan. Ingat, harus all out dan semeyakinkan mungkin. Kalian anak tunggal, mana tega orang tua kalian membiarkan kalian menderita.”

“Hmm… Terdengar cukup mudah. Mengapa tidak dari dulu aku melakukannya. Lalu alasannya? Tidak mungkin kan dia mengatakan tentang kekasihnya. Bisa-bisa orang tuanya membunuh namja itu.” Baekhyun memasang ekspresi aneh dan segera menutup mulutnya. “Tadi kau tak dengar apapun kan?”

“Haha… Aku sudah tahu semuanya. Dua tahun berstatus sebagai sepasang kekasih, kalian sama sekali tak mencintai satu sama lain kan?”

“Ba—Bagaimana kau tahu?”

“Tidak penting. Yang penting sekarang pikirkanlah apa yang akan kalian jadikan alasan dihadapan orang tua kalian. Katakan saja bahwa kalian tidak cocok dan itu sudah tidak bisa ditolerir lagi, dan sebagainya dan… Apapun lah. Bukankah kau pintar membuat alasan, Byun Baekhyun?”

“Aku baru sadar… Kau jenius! Kyura jjang!” Baekhyun mencubit kedua pipi Kyura dan menariknya dengan amat keras. Luapan kegembiraannya.

“Aish! Lepaskan!” Kyura memukul tangan Baekhyun tak kalah keras.

“Sakit? Tidak kan? Tadi amat pelan kok.” Baekhyun mengelus pipi Kyura. Lebih tepatnya menepuk-nepuk pipinya.

Mereka menciptakan keributan di trotoar dan tentunya mengundang perhatian orang-orang yang lewat. Termasuk seseorang yang tengah berdiri di bawah lampu jalanan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kim Jongdae. Senyum tipis tersungging di salah satu sudut bibirnya ketika bis yang ia tunggu akhirnya datang.

“Kau hidup dengan sangat baik.” Gumamnya ketika bis yang ia tumpangi melewati dua manusia yang sejak awal kemunculan sudah ia perhatikan.

 “Ya! Jauhkan tanganmu atau kupotong! Pergilah! Kembali pada Nayoung.” Teriak Kyura.

“Omo! Kau galak sekali. Gomawo.” Baekhyun menepuk puncak kepala Kyura dan berbalik dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Ketika ia masuk ke dalam restoran, Nayoung tak berada di tempat semula. Pandangan ia edarkan ke seluruh penjuru ruangan namun tak menemukan apa yang ia cari.

“Dia sedang berdiri di sana.” Ucapan Kyura mengagetkan Baekhyun dan ia menoleh ka arah yang dimaksud. Dilihatnya Nayoung sedang berdiri di depan sebuah toko sambil memandangi gaun yang dibalutkan pada manekin.

“Hmmm… Seleranya tinggi.” Komentar Kyura sambil mengangguk anggukkan kepalanya seolah sedang menilai sesuatu. Baekhyun menoleh sekilas dan segera menyusul Nayoung.

“You got her. Baekhyun.” Gumam Kyura sambil tertawa kecil.

“Ah.. Sudah selesai?” Nayoung menyadari kehadiran Baekhyun.

“Gaun yang cantik.”

“Eum. Iya.” Jawabnya biasa saja, tak menunjukkan bahwa ia amat ingin memilikinya.

Saat menjawab, Nayoung galagapan dan mencuri-curi pandang sedikit ke arah samping. Baekhyun mengikuti arah pandangnya, “Boneka itu besar ya?” Ia gerakkan dagunya ke samping, menggesturkan Nayoung agar melihat ke arah yang ia maksud.

“Ne. Boneka beruang itu amat menggemaskan!” Jawabnya seidikit lebih antusias. Dugaan Kyura dan Baekhyun salah. Nayoung bukannya sedang mencermati gaun hitam itu, melainkan memperhatikan sebuah boneka beruang yang amat besar, yang ukurannya hampir menyamai tubuhnya yang mungil.

“Kau menginginkannya?”

“Eh? Tidak. Aku hanya berfikir bagaimana jika ia hidup. Aku ingin memeliharanya!”

“Hahaha… Kau lucu sekali.”

“Aku bukan pelawak!”

“Tapi kau lucu!”

“Aish! Kajja kita pulang.”

“Kau duluan saja. Ini, masuklah lebih dulu.” Baekhyun menyerahkan kunci mobilnya.

Nayoung duduk dengan nyaman di dalam mobil. Ia memandangi interior mobil Baekhyun yang terkesan mewah. Dimainkannya miniatur anjing di depan kaca yang kepalanya dapat bergerak karena ada per.

Matanya bergerak ke bawah dan ia menunduk untuk mengikat tali sepatu yang ternyata lepas. Tiba-tiba ia mendengar pintu belakang mobil terbuka. Ia menoleh dengan cepat karena ia kira orang asing. Betapa kagetnya, ia melihat boneka beruang yang menjadi incarannya tadi tengah duduk di kursi belakang. Kemudian Baekhyun masuk ke dalam mobil.

“Kau membelinya? Untuk apa?” Nayoung tak terima karena ia lebih dulu melihat boneka itu namun kini direbut oleh Baekhyun.

“Kau bilang ingin memeliharanya? Maka siapkan kandang untuknya.”

Ia menatap Baekhyun yang sedang memasang sabuk pengaman. Cara Baekhyun menunjukkan kasih sayangnya memang terlihat umum, dan sudah sering digunakan kebanyakan orang.

“Untuk apa kau melakukan ini?”

“Hanya ingin.”

“Kenapa?”

“Molla. Mungkin karena kau.”

Hening. Hanya suara deru mesin mobil yang terdengar.

“Gomawo, Bacon.” Biasanya, bila yang mengatakan itu adalah orang lain, maka ia akan langsung memukul kepalanya dengan buku. Namun kali ini Nayoung aka Eunji! Dulu ia biasa mengejek Baekhyun dengan panggilan itu. Meskipun dulu ia kesal, namun sekarang ia amat merindukan panggilan itu.

Lagi, kegembiraan meluap-luap dalam diri Baekhyun.

Baekhyun masih melihat Nayoung tak percaya, namun ia dikagetkan dengan suara klakson truk. Hampir saja mereka terlindas oleh truk.

“Hati-hati.” Ucap Nayoung masih shock.

Baekhyun tak mengindahkan kata-katanya, “Bagaimana kalau hari ini kita bersenang-senang?”

“Bersenang-senang? Melakukan apa?”

“Ya… Kita pergi ke suatu tempat dan… Bersenang-senang.” Baekhyun kehabisan kata-kata.

“Boleh.” Jawab Nayoung singkat dan semburat merah terlukis di pipinya. “Tapi Baekhyun, aku belum mandi. Bagaimana kalau agak siang?”

“Eum… Tak apa. Aku akan menunggumu.”

“Baiklah.”

===

Begitu tiba, mereka langsung disambut oleh Kyungsoo yang sedang berkutat dengan laptopnya di teras.

“Pagi ini cerah sekali kan?” Cetus Kyungsoo yang hanya sekian detik menatap mereka kemudian kembali ke laptopnya.

Nayoung langsung masuk dan bergegas mandi karena tak mau membuat Baekhyun menunggu lama. Selain itu, ia juga tak mau merusak image Eunji yang baik seperti dulu di depan Baekhyun.

“Sedang mengerjakan tugas Lee songsaengnim, eoh?” Baekhyun menjulurkan kepalanya ke depan layar laptop.

“Kau sudah selesai?”

“Apa gunanya mempunyai sahabat?” Jawab Baekhyun enteng sambil menyeruput teh milik Kyungsoo. Senyum jahil menghiasi wajah jahilnya.

Kyungsoo mendongak dan menatapnya bosan, “Beruntung sekali kau kenal dengan orang rajin sepertiku.” Kemudian kembali ke layar laptopnya.

“Kau terlalu rajin, bahkan hari libur pun kau berkutat dengan tugas. It’s a free time dude! Lets have fun!”

“I have my own way to get fun.” Jawab Kyungsoo datar sedangkan Baekhyun hanya berdecak.

“Baek, mengenai Nayoung… Tidakkah sebaiknya dia tinggal di rumahnya sendiri?” Nada Kyungsoo terdengar serius.

“Oh. Aku sudah menyuruh orang membersihkan rumah itu. Lagi pula, aku juga tidak mau dia terus-terusan tinggal bersamamu!” Cetus Baekhyun dengan ekspresi uniknya.

“Lusa dia sudah bisa pindah kan?”

“Ya.” Ucap Baekhyun mantap. “Apa kau punya makanan? Aku masih lapar.” Lanjutnya namun ia tak menunggu jawaban melainkan langsung masuk ke dalam. Kyungsoo sudah memaklumi tingkah laku sahabatnya itu.

Baekhyun menyeduh teh dengan air yang sudah tersedia di termos dan makan beberapa biskuit yang disimpan di lemari. Baginya, rumah Kyungsoo merupakan gudang makanan dimana ia dapat menemukannya di sembarang tempat. Sebenarnya di rumah ada lebih banyak makanan, namun ia lebih senang mengacau di rumah Kyungsoo.

Ia membawa secangkir teh dan sekaleng biskuit keluar, lalu duduk di kursi kosong sebelah Kyungsoo.

“Apa kau butuh bantuan?” Tawar Baekhyun karena melihat wajah serius Kyungsoo. Baekhyun langsung memanyunkan bibirnya karena tak menemukan jawaban dari Kyungsoo.

“Pastikan besok atau lusa ia sudah pergi dari sini.”

“Sedari tadi kau hanya memikirkan itu?” Baekhyun merasa menemukan keganjilan.

“Tidak, hanya saja karena terkadang kau tak bisa dipercaya.”

“Kenapa kau begitu menginginkan di segera pergi? Apa dia menjadi beban hidupmu? Baiklah, katakan saja akan kubayar semuanya.”

“Bukannya begitu, masalahnya aku sudah berjanji pada seseorang.”

“Siapa?”

Kemudian Nayoung keluar. Rambutnya ia biarkan terurai, mengenakan kaos putih dan cardigan orange kekuningan serta celana jeans biru yang pas di kakinya. Tak lupa pula sepatu kets yang ia beli beberapa minggu yang lalu dengan uang Kyungsoo.

“Kajja.”

===

Pertama-tama mereka pergi ke danau. Awalnya mereka hanya duduk dan melihat aktivitas orang lain. Merasa bahwa kegiatan itu lumayan membosankan, akhirnya kegiatan berganti menjadi hal yang cukup mengasyikkan bagi mereka. Minum jus buah, makan tteokbokki, bermain tebak-tebakan, main kejar-kejaran, dan berfoto bersama. Jangan lupakan juga tawa yang selalu menjadi backsound setiap gerakan mereka. Semua yang mereka lakukan seolah membuat orang iri. Diantara sekian banyak pasangan yang juga menghabiskan waktu disana, keduanya-lah yang paling mengganggu karena paling berisik dan semangat.

Setelah dirasa cukup, mereka meninggalkan danau dan berkeliling Seoul untuk mencari makan siang. Pilihan mereka jatuh pada sebuah restoran yang tak begitu besar dan mereka memesan bulgogi. Bahkan saat makanpun, gurauan dan tawa selalu setia mengiringi mereka. Mungkin mereka beranggapan bahwa hanya merekalah yang hidup di planet ini.

Membutuhkan waktu satu setengah jam bagi mereka untuk menetap di sana. Waktu yang sangat singkat untuk pasangan muda-mudi menikmati makan siangnya –namun waktu yang amat sangat lama bagi orang yang tak punya pasangan.

Seolah tidak mau menyia-nyiakan hari ini terlewat begitu saja, setelah makan mereka menuju ke pantai. Awalnya hanya Baekhyun yang menceburkan kaki di air sedangkan Nayoung hanya melihat. Namun setelah Baekhyun menciprati Nayoung dengan air dan dibalas, keadaan yang semula tenang berubah menjadi kacau. Mereka terus bermain entah saling menyerang dengan cipratan air, kejar kejaran di pesisir, perang pasir, juga ikut bergabung bermain voli pantai. Hampir semuanya mereka lakukan seolah tak memiliki rasa lelah.

Waktu sudah sore dan pantai tersebut mulai sepi, hanya tinggal beberapa orang yang masih tertinggal. Termasuk Baekhyun dan Nayoung yang kini tengah duduk manis di atas batu karang.

“Katakan lohaaa…” Kata Baekhyun.

“Lohaaa…” Klik. Mereka mengambil selca bersama. Kemudian keduanya melihat setiap foto di galeri ponsel Baekhyun. Foto mereka seharian penuh. Tertawa. Lagi-lagi tertawa.

“Baekhyun! Sudah mulai!” Teriak Nayoung girang. Matahari sudah hampir tenggelam dan moment ini-lah yang selalu ditunggu tunggu oleh setiap pasangan, termasuk mereka untuk menciptakan suasana romantis. Keduanya menatap matahari yang secara perlahan mulai turun bersembunyi di bawah laut karena keberadaannya akan segera digantikan oleh bulan.

“Nayoung…”

“Hmm?”

“Eum, sebelumnya, kau lebih nyaman dipanggil Nayoung atau Eunji?”

“Aku terbiasa dengan Nayoung. Tapi terserah kau saja.”

“Arraseo.”

“Nayoung?”

“Ne?”

“Terima kasih untuk hari ini.”

“Tidak, akulah yang harusnya berterima kasih. Aku tak pernah tertawa hingga selama ini.”

“Terima kasih telah mengisi hariku seperti dulu. Aku sangat senang.” Lanjut Baekhyun.

“Aku juga.” Nayoung menghembuskan nafas.

‘Aku akan berusaha Baekhyun, apapun asal kau bahagia seperti dulu.’ Batin Nayoung.

Nayoung menyandarkan kepalanya pada pundak Baekhyun dan keduanya menikmati pemandangan di detik-detik terakhir sebelum matahari benar-benar menghilang.

“Aku sangat menyayangimu.” Ujar Baekhyun.

“Aku juga menyayangimu.” Balas Nayoung dan membuat Baekhyun tersenyum karena terharu.

Namun rupanya perasaan sayang antara keduanya memiliki arti yang berbeda. Baekhyun menyayangi Nayoung karena ia mencintainya dan membutuhkannya sebagai bagian dari hidupnya. Sementara Nayoung, ia menyayangi Baekhyun hanya sebatas sahabat. Ia belum bisa memberikan timbal balik dari cinta yang Baekhyun berikan. Meskipun tak bisa ia pungkiri, hari ini ia benar-benar merasa senang dan nyaman berada di dekat Baekhyun.

Keadaan mulai gelap dan mereka memutuskan untuk pulang. “Nayoung, rumahmu sudah beres. Apa kau siap untuk pindah besok lusa?” Ungkap Baekhyun sedangkan Nayoung menoleh karena terkejut. Ia senang karena dengan begitu akan memperbesar peluang dan mempercepat kesembuhannya. Namun ia merasakan ada sesuatu yang terlepas dari dalam dirinya.

‘Terlalu lama tinggal di tempat Kyungsoo, kurasa aku akan sangat merindukannya.’

===

–To be Continued

13 pemikiran pada “Love Guarantee (Chapter 8)

  1. Ff ini penuh denagan teka teki
    Astogeh makin manis aja
    thor aku mau happy ending
    Aku nebak kalo nayoung suka sm kyungsoo

    U,u janganlah sama baekhyun aja
    huwaaaaa
    ayolah kumohon T.T
    keep writing thor
    semangat nulis ff nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s