Cynicalace (Chapter 6A)

CYC 3

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

 

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi, dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

 

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

Annyeong…. *muncul dgn nada lesu pdhl exo lg comeback*

Di sini ada author yg lg ngerjain pr math smpe 50 nomor lebih… (?) Dan author satunya lagi sedang malas-malasan di kasur pdhl bsknya UTS.. *hohoho*. Dan di tengah-tengah kesibukan yg mujudubilah *bahasa apa ini* ini.. Akhirnya bisa sempet sempetin ngirim ff ini.. Ada yg masih menunggu epep ini (?)

Buat semua yg udh baca FF ini -baik yang udah comment maupun Silent Reader, authors cmn mau ngucapin makasih.. Soalnya kalo ga ada kalian authors ga akan semangat ngelanjutin FF ini.. Kkkk~ Dan juga pada readers yg sdh meninggalkan comment.. Mian jarang d balesin satu satu.. Saking cintanya author keburu mewek duluan baca commentnnya dan ga smpet bales *alesan bgt* wkwkwkkw

Chapter 6 akan kembali dibagi menjadi dua chapter #UHUK. Soalnya liburan’a Rein,Ilhae,dkk. Cukup panjang juga.. Wkwkwkw Mianhae ya authors selalu melebihi kapasitas kalau nulis panjang banget smpe hrus d bagi dua wkwkwkwk. Semoga Chapter ini ga mengecewakan sama halnya dengan teaser’s photos exo yang tidak mengecewakan bagi author Hyuuga Ace -dan bikin satu author ini sableng kadang” gara” teaser”nya yg eheum sekali!!!!- dan author NadyKJI yg lg bete sama Kai gara” rambutnya ahahaha~

Last but not least, terima kasih utk admin EXO FF yg sudah ngepost FF ini~

HAPPY READING!!

___

 

-:Author’s PoV:-

‘Pasukan Muiido’ datang keesokan harinya ketika matahari telah naik. Do Suyeon menyambut mereka di gerbang resort yang disewanya. Tatapan yeoja itu mengedar ke sekeliling dan mendapati Jackpot, ketika dia juga menemukan seorang Oh Sehun dalam ‘pasukan’ itu.

Sempurna! Kim Jongin, Park Chanyeol, bahkan Oh Sehun! It was great~

Namun ketika bola matanya mendapati dua sosok tak diundang datang bersama kelompok itu. Matanya otomatis menatap mereka dengan tatapan tajam dan sinis.

“Wohooo.. rupanya ada tamu tak diundang disini.” Sindirnya dengan nada sarkasme yang membuat Rein hanya ingin menimpuknya dengan batu saat ini juga. Sedangkan Ilhae sudah ingin menepuk jidatnya, adakah hubungannya dengan kejadian di mana ia sok dekat dengan Sehun? Ia hanya ingin liburan yang damai.

“Suyeon! Mereka tamuku, aku yang mengundang mereka.” Kyungsoo melangkah maju dan membela kedua temannya. Suyeon hanya menatap Kyungsoo dengan tatapan malas.

“Seharusnya kau bilang terlebih dahulu, sepupu.”

Rein tidak tahan untuk tidak mengeluarkan suaranya, “Kalau kau tidak menginginkan keberadaanku. Geurrae, aku bisa pulang sekarang.” Rein sudah berbalik, namun tangan kanannya seakan digenggam seseorang, dan seseorang itu adalah Oh Sehun yang sedang menatap matanya seolah mencoba menyuarakan pikirannya. Yang berkata, ‘Ini bukan stylemu, Rei.”

“Ah, sebenarnya kami berdua juga tamu tak diundang. Apa kau juga mau mengusir kami?” Baekhyun mengangkat suaranya sambil melirik kearah Chen yang hanya mengangguk. Mereka berdua sedang mencoba membela Ilhae dan Rein.

Suyeon terdiam dan menatap Chen dan Baekhyun dengan pandangan malas. Namun ketika Kai bergerak dan menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, Suyeon tercekat.

“Lebih baik kau urusi saja dirimu sendiri dan pestamu. Lagipula, aku tidak berniat datang ke pestamu. Aku hanya ingin berlibur disini. Dan setahuku… resort ini bukan milikmu. Tapi miliki keluarga Do yang berarti Kyungsoo juga berhak atas kepemilikan resort ini. Jadi…”

Kai sengaja menggantungkan kalimatnya dan mengangkat salah satu alisnya. Suyeon mengerti maksud Kai, sehingga ia hanya mendengus dan memutar tubuhnya dengan gerakan kasar dan meninggalkan tempat itu.

“Menyebalkan, seperti biasa.” Ilhae bersuara dan Kai langsung menatapnya sinis.

“Seharusnya kau mengatakannya ketika orangnya masih disini.”

Ilhae ingin membalas perkataan Kai tapi matanya lebih terfokus pada Rein yang ia yakin kini tengah menahan emosinya.

“Ah, guys. Lebih baik kita segera menempati tempat kita saja..” Kyungsoo mencoba mendinginkan suasana.

“Tempat kita?” Chen mengulang kalimat Kyungsoo dengan nada tanya.

“Yap. Villa milikku. Tempatnya tepat disebelah villa milik Suyeon.”

Tanpa suara, ‘Pasukan Muiido’ bergerak dan mengambil barang mereka dan mengangkatnya ke tempat yang dituntun Kyungsoo. Namun ketika Rein hendak mengangkat barangnya, seseorang telah mengangkatnya terlebih dahulu. Ia meluaskan pandangannya untuk mencari barangnya, namun yang ia temukan adalah barang-barangnya tengah berada di tangan seorang Park Chanyeol. Sehingga ia harus berlari dan menghampiri namja itu untuk siap memarahinya.

Namun ketika dirinya telah berada di belakang namja itu, ia hanya bisa mematung dan mencoba menghentikan degupan jantung miliknya yang bekerja di atas batas normal. Lalu, ingatan tentang kejadian semalam menerjangnya, di mana ia meminta maaf untuk Park Chanyeol. Yang detik ini membuatnya salah tingkah.

Chanyeol sendiri menyadari bahwa Rein mengejarnya. Dia bisa mendengar dan membedakan suara langkah Rein dari yang lainnya. Ia tersenyum ketika menyadari Rein tepat berada di belakangnya namun tidak segera melakukan hal yang sudah ia rencanakan. Memaki atau memarahi Chanyeol mungkin?

Namja tinggi ini hanya ingin membuat Rein bicara lagi dengannya. Sehingga ia harus melakukan hal ini, tapi sebenarnya ia juga ingin membantu Rein yang walaupun kelihatannya ia tidak masalah dengan barang bawaannya tapi tetap saja ia seorang yeoja yang membawa barang di koper yang besar.

Rein masih belum mengatakan sesuatu sampai mereka tiba di ruang tamu. Dia masih berada tepat di belakangnya, sehingga Chanyeol menahan sekuat tenaga tawanya. Rein, tingkahnya kadang menggelikan.

Bahkan sampai Kyungsoo membagi kamar. Sesuai dugaannya, pembagian kamar sama persis seperti yang mereka lakukan di Muiido. Chanyeol sengaja berjalan lebih dulu, meninggalkan kopernya di ruang tamu dan berjalan ke arah kamar Rein, Ilhae dan Kyungah yang tadi disebut Kyungsoo.

“Eonni, kkaja.” Ilhae menoleh kearah Kyungah yang mengajaknya untuk meninggalkan ruang tamu dan berjalan kearah kamarnya. Namun Ilhae hanya mengedip dan berkata, “Kita tunggu sampai urusan mereka berdua selesai.”

Kyungah mengangguk mengerti sementara Ilhae mendudukan dirinya di sofa empuk di ruang tamu sambil memperhatikan Rein yang terkesan salah tingkah dan hanya mengikuti Chanyeol dengan gerakan ragu dari belakang.

“Chanyeol pasti sangat senang sekarang.” Chen muncul entah dari mana dan ikut memposisikan tubuhnya di sebelah kanan Ilhae di sofa.

“Sebenarnya ada apa dengan mereka?” Lalu Baekhyun di sebelah kiri Ilhae.

Bukannya menjawab pertanyaan duo ChenBaek, Ilhae malah tertawa. “Park Chanyeol, dia berhutang besar padaku.”

“Eonni, apakah Chanyeol oppa dan Rein eonni adalah sepasang kekasih yang tengah ribut?” Semua mata kini terfokus pada Kyungah yang duduk sendiri di sofa lainnya. Kyungah hanya mengerutkan keningnya bingung seakan memikirkan sesuatu.

“Wae? Kenapa kau berpikiran seperti itu?” Chen bertanya dengan nada super penasaran.

“Ehmmm. Terlihat sangat jelas bahwa Chanyeol oppa sangat menyukai Rein eonni, kurasa semua orang bisa melihatnya.”

“Kau benar, hanya Rein lah yang tidak menyadarinya. Rein si bodoh.” Komentar Ilhae.

Kyungah mengangguk-angguk, “Sementara Rein eonni…” Kyungah terdiam sesaat dan masih belum melanjutkan kalimatnya samai 30 detik selanjutnya. Karena itu kini Baekhyun bertanya dengan nada tidak sabar.

“Bagaimana dengan Rein?”

Kyungah menggeleng bingung, “Aku tidak mengerti dengan eonni, dia kelihatan sangat menjauhi Chanyeol dan bersikap dingin di hadapannya. Tapi..”

“TAPI?!” Kini Ilhae bergabung dengan Chen dan Baekhyun. Jika dilihat-lihat, kini mereka bertiga seperti pelanggan seorang pakar cinta bernama, Do Kyungah yang tengah penasaran akan aura-aura cinta Rein dan Chanyeol.

“Apakah kalian tidak pernah memperhatikannya?” Kyungah sengaja bertanya. Namun ketika hanya tatapan bingung dari ketiga makhluk di hadapannya yang menjadi jawabannya. Ia melanjutkan kalimatnya. “Rein eonni, dia sering melirik diam-diam kearah Chanyeol oppa ketika mereka tidak berhadapan.”

“JINJJA?!”

Dan bagaimana mahkluk-makhluk yang lebih dewasa dalam usia ini kalah dengan pengamatan Kyungah yang lebih kecil dan seharusnya lebih tidak berpengalaman soal cinta? Oh. Ketiga makhluk itu memang menyedihkan.

 

-:Rein’s PoV:-

Namja ini benar-benar menyebalkan, ia pasti tahu aku terus mengikutinya. Tapi ia sama sekali tidak berbalik dan terus melanjutkan aksinya. Sampai ia tiba di depan pintu kamarku dan menyimpan koperku di depan pintu lalu berbalik menghadapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca.

Aku ingin sekali segera memakinya, mungkin aku tidak bisa melakukannya dari tadi karena banyak orang disekelilingku dan Chanyeol. Tapi sekarang hanya ada kami berdua di lorong yang sepi.

Tapi, sekali lagi aku tidak melakukannya. Yang kulakukan sekarang adalah terdiam dengan arah pandangan yang tidak bisa melarikan diri dari tatapan Park Chanyeol.

“Wae?” Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Dan aku takut itu bisa membiusku.

“Kau.. tidak perlu membawa koperku.” Aku mencoba mengubah nada suaraku agar terdengar tajam, tapi hasilnya suaraku terdengar semi bergetar. Dan itu membuatku merutuki diriku sendiri.

Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku jadi seperti ini di depan Park Chanyeol?! Terlebih ketika Chanyeol menatap tajam mataku.

OH SALAHKAN SAJA MENGAPA MANUSIA INI SELALU MELIHATKU DENGAN PANDANGAN SEPERTI ITU?!

“Jung Rein, putuskan. Kau akan menamparku atau tidak setelah tindakanku setelah ini. Tapi aku hanya ingin melakukannya.”

Aku terdiam dan menatapnya bingung. Namun ketika aku hendak menanyakan apa maksudnya, tangannya yang besar bergerak dan menarikku untuk jatuh di pelukannya.

Dan dalam waktu satu menit penuh, otakku hanya bisa korsleting. Baru setelah dia terlihat mengendus sesuatu, aku tersadar… tersadar bahwa.

APA YANG DILAKUKAN NAMJA INI?! DAN KENAPA AKU HANYA DIAM SAJA?

“Aku selalu membayangkannya. Kau di dalam pelukanku.” Dia terdiam sesaat, mungkin menunggu reaksiku. Tapi kujamin ia membutuhkan waktu selamanya untuk hal itu. karena aku sendiri juga bingung mengapa aku tidak bisa berpikir dengan benar untuk bereaksi pada saat-saat seperti ini. Mengapa aku hanya diam saja, mencoba mengatur detakan jantungku, dan merasa bahwa wajahku mulai memanas ketika namja yang seharusnya paling kuhindari kini tengah memelukku?!

“Rupanya aku membutuhkan bertahun-tahun hanya untuk bisa memelukmu.”

Aku menggerakan tanganku ke dadanya untuk mendorong tubuhnya, sebelum aku benar-benar pingsan dan memalukan diriku hanya karena dipeluk seorang Park Chanyeol. Namun ketika aku hendak melakukannya, Chanyeol telah terlebih dahulu melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tanganku yang masih berada di dadanya.

Oh tidak, aku memang sudah tidak waras. Aku tidak mungkin merasakan kehilangan saat Chanyeol melepaskanku kan? Andwae, itu tidak mungkin.

Tapi kenapa sekarang aku menatapnya seakan-akan, aku memintanya untuk memelukku kembali.

OH TOLONG KEMBALIKAN AKAL SEHAT SEORANG JUNG REIN!!

Itulah jeritan hatiku kini. Ralat, bukan hati tapi otakku. Karena jelas-jelas hatiku yang menyuruhku merasakan sesuatu pada namja ini ketika dia memelukku.

“Jung Rein.” Seakan tersihir kembali ke dunia nyata. Atau malah makin jauh terbang ke dunia yang diciptakan Chanyeol. Suaranya memanggilku.

“Ehmm?” Aku bergumam dan mencoba menghindari eye contact dengannya dengan menunduk dan menatap sneaker coklatku yang sudah lusuh.

“Aku ingin kau terus bersikap seperti ini. Jangan menjauhiku dan mengabaikanku. Agar aku bisa menunjukannya padamu, bahwa aku bisa memperlakukanmu dengan baik di masa depan. Bisakah kau mencoba melihatku dengan kacamata yang lain? Aku menyesal dengan masa lalu. Sangat menyesal, lebih dari apapun.”

Aku membelalakan mataku. Tidak pernah ada perkataan seseorang yang menembus hatiku seperti ini sebelumnya. Bagaikan panah yang langsung mengarah pada targetnya. Aku seseorang dari klub panahan, dan aku tahu perasaan di mana aku bisa memanah tepat sasaran.

Dan mungkin, Chanyeol harus bersorak sekarang. Karena dia berhasil menyampaikan maksudnya tepat pada sasarannya.

Jung Rein, kau adalah yeoja yang cukup dewasa di usiamu yang hampir menginjak 22 tahun. Tapi kenapa kau terus hidup layaknya kau masih 19 tahun?

Pertanyaan selanjutnya yang muncul dalam benakku adalah.

Mengapa aku sulit sekali memaafkan Chanyeol? Seakan-akan kesalahannya di masa lalu adalah kesalahan besar yang berpengaruh besar dalam kelanjutan hidupku.

Dia hanya menyakiti hatimu dengan, mungkin leluconnya?

Dan kenapa hatiku merasa tersakiti?

Ani, aku tidak mungkin menyukainya saat itu sehingga membuatku lebih dari marah karena ia tidak memilihku dan malah mempermainkanku, kan?

“Chanyeol. Jujur saja, kau membuatku sangat bingung. Aku seperti tidak mengenal diriku sendiri saat bersamamu.” Aku mencoba mengangkat kepalaku dan menatapnya. Namun ketika melihat matanya, aku terhenyak. “Chanyeol, sebenarnya apa yang telah kau lakukan padaku?” Aku membisikan kata-kata itu.

 

:Ilhae’s PoV:-

“Hah! Seharusnya kau tampar dia sesaat setelah ia menyelesaikan kalimatnya! Aku pasti akan melakukan itu.”

Aku langsung merasakan bahwa Rein mengalihkan perhatiannya dari Chanyeol dan mencariku yang kini tengah berrsembunyi di sudut ruangan, dan ketika dia menemukanku dia langsung menatapku dengan tajam. Apakah aku terlalu keras? Kupikir aku hanya mendengus pelan.

“YA! GEUM ILHAE!”

“Ck?!”

“Ilhae eonni!”

“Ilhae….”

“Ayo pergi.”

Itu Rein, Chanyeol, Kyungah, Baekhyun, dan Chen yang bereaksi pada saat yang bersamaan.

“Eung… aku menghancurkan momment ya?” aku melirik kesekelilingku takut-takut.

“Eonni! Sudah kubilang jangan…” itu Kyungah.

“Kau tidak bisa menjaga mulutmu ya?” Baekhyun.

Dan bisa kurasakan Chen mulai menarik tanganku menjauh, tapi aku terdiam. Menatap dua korban yang sebenarnya. Rein sudah kembali pada mode awkwardnya, sedangkan Chanyeol menunduk sembari menggaruk tengkuknya.

“Baiklah… seret aku keluar saja.” Aku berkata lemah meruntuki diriku sendiri. Tanganku yang sudah seperti jelly mengikuti tuntunan Chen keluar dari area suram tersebut, bisa kudengar Kyungah meminta maaf di belakangku.

Eottoke? Eottoke? Aku ingin melenyapkan diriku saat ini juga. Tapi jika aku tidak bersuara bagaimana jadinya mereka berdua? Sejak pertama kali rasa penasaran membuat kami berempat mendekati lokasi ReYeol, detik aku mendengar percakapan mereka aku sudah menduga mereka akan mendekati suasana canggung….

Tapi aku tidak ingin menjadi penyebab parahnya kecanggungan tersebut. Aku merongrong diriku dengan rasa bersalah. Sudah pasti Rein akan melakukan aksi bisunya dalam waktu dekat.

“Jangan menyiksa ketenangan batinmu sendiri.”

Aku mendongak menatap Chen, “Tapi itulah kenyataannya bukan? Semua orang memarahiku.”

Aku terus berjalan tanpa memperhatikan apapun sampai pada akhirnya aku menyadari kalau aku dan Chen sudah berada di luar villa. Pemadangan taman yang hijau menyambutku, udara dingin menyapaku seakan memberikanku tamparan yang sangat pas.

“Kau hanya berusaha. Benar bukan?”

“Hah… berusaha apa?”

“Membuat kedua orang itu terbebas dari kecanggungan?”

Aku tertegun, kenapa Chen bisa mengetahui jalan pikiranku?

“Aku tahu kau sedang bingung. Tapi ayolah, aku mengenalmu sangat lama sehingga menebak jalan pikiranmu sangatlah mudah.”

“Kau ini sebenarnya siapa sih?Kau seperti orang pintar..” aku berguman.

“Aku memang pintar.”

Arghh, kutarik kembali ucapanku, “Dwaesso. Kau kembalilah ke villa, udara di sini dingin.” aku mengusirnya secara halus.

“Jangan sok. Kau lebih kedinginan bukan? Lihat kau sudah berapa kali menyedot ingusmu hah?”

Sial, padahal aku berusaha melakukannya sehalus mungkin, “Kau ini tidak bisakan berkata lebih halus? Aku ini seorang yeoja, tahu?!”

“Kekeke, ayolah, kau bukan orang lain lagi.”

“Heh… yang pasti kau tetaplah segera masuk, aku masih ingin diluar. Ppali, ka!” aku mempercepat langkahku.

“Arra, arra. Jika Geum Ilhae sudah keras kepala sulit sekali untuk membujuknya bahkan jika aku menggendongmu sekalipun, aku pasti kalah telak.”

“Jangan coba-coba!” aku memelototinya, sebelum Chen menambah langkahnya dan semakin dekat dengan pintu villa.

“Jika kau tidak masuk setelah lewat 30 menit lihat saja. Yang lain akan membunuhku karena tidak bertanggung jawab setelah menyeretmu keluar, terutama Rein. Kau tahu bukan?”

“NE!”

Aku membiarkan kesendirian menyelimutiku, aku tidak ingin masuk dulu. Tidak baik untuk diriku sekarang, setidaknya tidak ketika emosi masih menyelimuti masing-masing orang.

Oh, sejak kapan aku menjadi orang yang penuh dengan rasa bersalah?

“Ckck, ini memang dingin.”

Pandangan mataku kembali meliar melihat ke sekeliling dan bersinggungan dengan villa yang ditinggali Suyeon dan teman-temannya, dan tanpa pikir panjang dengusan kesal sudah lolos dari mulutku.

“Ilhae-ya!”

Tunggu aku seperti mengenal suara orang ini…

Aku berbalik dan membeku.

“Annyeong Taec. Kenapa kau berada di sini?”

“Suyeon..”

“Aku tahu, ehehe, sepertinya yeoja itu mengundang semua namja-namja tampan ya?”

“Jadi aku ini tampan?”

Detik ini juga, aku ingin menjahit mulutku sendiri. Sudah berapa kali aku mengucapkan sesuatu yang salah?!

“Tentu saja. Siapa yang tidak menganggapmu tampan?” aku menyeringai.

“Kau.”

Ne?

 

-:Author’s PoV:-

Ilhae telah menghilang tepat satu jam, dan sekarang di ruang tengah villa berkumpulah orang-orang dengan muka ditekuk – semua, kecuali Kyungsoo yang sedang berbicara dengan Suyeon. Ya yeoja itu baru saja datang dan mereka sedang mendiskusikan sesuatu.

“Heol! Ke mana makhluk hyper itu?” Rein melipat tangannya di dada, wajahnya mengerut kesal.

Chen, Baekhyun, Kyungah, dan Chanyeol tidak berani mengatakan apapun, karena sebagai orang-orang yang berada di tempat kejadian mereka tahu persis yang baru saja terjadi.

“Hah.. menyusahkan, padahal sudah kubilang tidak lebih dari setengah jam.”

Sehun langsung berekspresi datar, ternyata banyak juga yang peduli dengan yeoja bernama Ilhae yang sudah mendapat cap balcklistnya itu. Ia tidak begitu tertarik dengan kasus menghilangnya Ilhae, pikirannya lebih khawatir dengan Rein yang hanya menekuk wajahnya sejak pertama kali yeoja itu muncul dihadapannya.

“Eonni…. mianhae…” Kyungah sudah berkaca-kaca.

“Uljima, aku tahu yeoja itu tidak mungkin diculik. Tidak ada yang tahan dengan pukulannya.” Baekhyun menepuk puncak kepada Kyungah.

Di sisi lain Kai, namja itu sedang menutup matanya di sofa. Pada awalnya ia sedang menikmati tidurnya, tapi perlahan kalimat-kalimat penuh nada khawatir menjengkelkan itu benar-benar mengusik`nya, “YA! Memang ke mana sih si Hae-Hae itu?” terganggu total, Kai bangkit.

Seluruh isi ruang tengah ingin menjawabnya tetapi tidak ada satupun dari mereka yang dapat memberikan jawaban pasti.

Samar-samar terdengar percakapan Kyungsoo dan Suyeon.

“Annyeong!” suara ceria yang mereka kenal itu.

Dari ambang pintu berdirilah Ilhae dengan kantong belanjaan ditangannya, “Miamhae, akhu tadhi bebelanja (Mianhae, aku tadi berbelanja).” Tuturnya dengan camilan yang dikenal semua mata sebagai pepero yang membuat pelafalannya kacau.

Lega (Chen, Baek, Kyungah, Rein), kesal (Rein, Kai), senang (Chanyeol?), marah (Kai), bingung (Kyungsoo), ternganggu (Suyeon), semua bercampur aduk.

Rein, Chen, Baekhyun, dan Kyungah sudah bangkit. Tapi manusia yang pertama kali menghampiri sosok Ilhae yang menatap semua mata kebingungan, adalah Kai.

Tuk. Satu jentikan di dahi mendarat.

“Neo! Hae babo! Ke mana saja? Tidak tahu semua orang menunggumu? Bahkan sampai menganggu tidurku?!”

Kebingungan langsung lenyap digantikan dengan darah Ilhae yang mendadak mendidih.

“Meo, appo. (Neo! Appo!)” ingin sekali Ilhae berteriak tetapi camilan manis rasa greentea itu menahannnya seketika.

Dari ruang tengah 6 pasang mata sedang menonton dalam diam, ditambah Kyungsoo dan Suyeon yang melirik dari arah dapur. Semuanya memiliki pikirannya masing-masing dengan pemandangan sama.

Ilhae nampak sedang marah-marah, semakin lama kaki yeoja itu berjinjit untuk mensejajarkan pandangan matanya dengan Kai. Mata yeoja itu sudah membulat, lebih hebat daripada mata seorang Do Kyungsoo. Sedangkan Kai yang sangat-sangat ternganggu juga mulai membuka mulutnya untuk membalas.

Namun sayang sekali, keberentungan tidak menyertai mereka. Karena jarak yang mereka buat terlalu dekat, alhasil terjadilah suatu kejadian yang membuat semua mata disini membelalak. Ujung pepero yang sedang berada beberapa senti di depan bibir Ilhae tidak sengaja tergigit oleh Kai. Karena terkejut juga panik, Ilhae sekali lagi membuat onar dengan terpeleset ke belakang ketika ingin menghindar dari namja di depannya yang langsung reflek menarik pinggang Ilhae untuk menolongnya agar tidak terjatuh. Rupanya Kai tidak memperhitungkan besar gaya yang dikeluarkannya untuk menolong Ilhae yang menyebabkan, pepero perantara mereka patah dan secara tidak langsung… Kai.. dan.. Ilhae… yah, BERCIUMAN! Dengan pepero di mulut mereka.

Semua mata dalam ruangan itu membulat, dan yang paling histeris sendiri adalah seorang Do Suyeon, “Micheosseo?! Apa-apaan ini? Jangan membuat camilanmu itu sebagai modus untuk melakukan pepero kiss dengan Kai!”

“Itu moment terbaik sepanjang masa yang pernah kulihat dengan kedua mataku!” Rein yang tengah menelan kegeliannya terlihat terhibur dengan ‘pertunjukan’ ini sehingga dia berkomentar aneh-aneh yang langsung mendapat death glare dari Ilhae yang telah membereskan urusannya dengan Kai dengan mendorong namja itu sekuat tenaga sehingga menyebabkan namja itu terjungkal ke belakang karena keseimbangannya tidak benar.

“OHOOO~ ternyata kau ada main juga dengan Kai, Hae-ya.” Celetukan Chen berhasil membuat pipi Ilhae memerah, bukan karena ia sedang kepanasan melainkan malu.

“Kai, tak ku sangka..” Kyungsoo ikut berkomentar dengan nada jahil. Mengabaikan wajah Suyeon yang mau mengamuk dan siap untuk mengacak-acak rambut Ilhae. Kalau perlu menendang, memukul, dan mengenyahkan yeoja itu sesegera mungkin.

Baru saja Baekhyun dan Chanyeol ingin berkomentar, tapi mereka tahan karena melihat Ilhae yang keburu menatap tajam Kai yang tengah mengangkat dirinya dari lantai.

“HAAAAAAAA!!!! INI MENYEBALKAN!” Jeritan seorang Geum Ilhae berhasil membuat burung-burung di pepohonan sekitar resort berterbangan. Bak anak kecil yang sedang malu karena tingkah lakunya, Ilhae kini melempar barang belanjaannya. Lalu menutup mukanya dan kabur dari tempat itu sambil berlari menuju kamarnya.

Sekarang tinggal Kai yang menjadi sorotan publik. Kai yang menyadari semua mata kini tengah terarah kepadanya, berdeham kecil dan bertingkah sok cool untuk menutupi rasa malunya.

“It was an accident. And all of you know, right?”

“Untuk informasi saja, Kai biasanya berceloteh dengan bahasa Inggris ketika dia sedang salah tingkah.” Kyungsoo menggagalkan usaha Kai untuk terlihat biasa saja dengan penjelasannya.

Dan kini hanya gemuruh tawalah yang tersisa di ruangan itu. Sebelum Kyungah mengangkat suaranya.

“Ilhae eonni.. Kai oppa! JJANG! Rein eonni dan Chanyeol oppa juga!” Kyungah dengan mata berbinar menikmati berbagai pemandangan bak drama yang ia saksikan sejak memasuki masa liburan. Baik Rein Chanyeol maupun Kai Ilhae. Ini adalah liburan paling menyenangkan sepanjang hidupnya. Ia benar-benar harus mencari namjachingu seperti oppa-oppanya sekarang, terkecuali Kyungsoo tentu saja. JJANG!

Chanyeol dan Rein, yang namanya ikut disebut-sebut langsung menghentikan tawa mereka dan tanpa mereka sadari ekspresi keduanya ikut berubah. Mereka tidak beruntung, karena sekarang fokus dari semua mata bukan lagi Kai melainkan mereka berdua dan kecanggungan yang jelas-jelas terpancar dari keduanya.

“Mereka memangnya kenapa?” Kai tersenyum menang ketika topik telah berubah saat Kyungsoo bertanya pada adiknya.

“Tidak ada apa-apa!”

“Itu bukan apa-apa.”

Dan hanya tawalah yang sekarang menggema di udara. Semua karena pembelaan Rein dan Chanyeol di waktu yang sama. Semua tertawa, kecuali 3 orang. Chanyeol dan Rein yang terlihat makin salah tingkah, tapi mereka sempat-sempat saling lirik sebelum membuang pandangannya ke sembarang arah – ini Rein, dan Chanyeol yang mengulum senyumnya karena tingkah Rein.

Satu orang lagi yang tidak tertawa adalah Oh Sehun.

*-*-*

Do Suyeon, sudah siap melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu ketika semua orang sedang menertawakan Kai dan Ilhae. Dia sudah tidak mood berada disana.

Namun ketika ia tidak sengaja menginjak kotak pepero yang barusan dilempar Ilhae di dekat pintu masuk. Sebuah ide muncul dalam benaknya. Ide yang sangat bagus untuknya.

Jika Ilhae bisa mendapat ciuman dari seorang Kai hanya karena pepero, tentu saja dia juga bisa. Dia harus membuat acara kejutan di pestanya nanti malam. Dan acara kejutan itu adalah pepero’s game untuk semua tamu undangannya dengan cara mengundi nama pasangan pepero. Dan tentu saja dia bisa membuat kotak undian pasangan untuknya hanya terisi 3 nama, tiga orang namja yang paling ia ingini.

Kai? Sehun? Atau Chanyeol?

Kau benar-benar cemerlang, Do Suyeon.

Lalu dia mengeluarkan ponselnya ketika sudah berada di villanya di resort itu. Tentu saja villanya berkali-kali lipat lebih besar dari villa Kyungsoo. Karena ia mampu mengisi villanya dengan 50 orang tamunya.

Dia mengirimkan pesan untuk Kyungsoo.

To : Kyungsoo

Soo-ya, geurrae aku mengalah. Karena mereka sudah datang, tentulah mereka harus datang ke pestaku. Semua dari mereka harus datang. Tidak ada yang boleh tertinggal, jika itu Rein dan Ilhae maka akan bagus sekali. Tapi aku tahu bahwa beberapa di antara mereka tidak akan datang jika kedua yeoja itu tidak datang. Tapi jangan lupa dengan pakaian resminya. Kau tidak mau mempermalukanku, kan?

Beberapa detik setelah tombol SEND dari ponsel Suyeon ia tekan, Kyungsoo menerima pesannya. Keningnya berkerut. Bukan karena isi pesan Suyeon. Melainkan..

“Jung Rein, kau memiliki gaun?” Kyungsoo sedikit menghawatirkan Rein karena dari kacamatanya Rein terlihat seperti yeoja tomboy. Karena ia selalu terllihat dengan jeans dan t-shirt. Terkadang ada kemeja kotak-kotak diluar t-shirtnya. Dan dia, tidak memakai make up sama sekali, kecuali.. yah, mungkin bedak tipis?

Semua mata mengarah pada Kyungsoo yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

“Hah? Gaun?” Rein terlihat bingung dengan pertanyaan Kyungsoo, sedetik ia butuh mencerna maksudnya sebelum ia mengerti maksudnya. “Kata lain dari pertanyaanmu adalah ‘Apakah kau akan ke pesta Suyeon?’ jika itu maksudmu. Mianhae Kyungsoo-ssi, aku akan tinggal disini. Aku lebih baik tidur daripada menghadiri pestanya.” Tutur Rein panjang lebar.

Kyungsoo terlihat kebingungan, dan skakmat karena penolak Rein yang begitu jelas. Chanyeol melihat suasana, dan mencoba menolong Kyungsoo.

“Kyungsoo-ya.” Dari cara memanggil saja, Chanyeol sudah terlihat sok dekat dengan Kyungsoo. “Apa di pesta Suyeon, aku bisa menemukan steak dan sosis bakar?” Kyungsoo kebingungan dengan maksud Chanyeol namun Chanyeol menatapnya dengan tatapan yang memiliki arti ‘sudah jawab saja iya.”

“Ah! Ne.”

“Lalu bagaimana dengan pudding coklat dan pie buah?”

Kyungsoo sudah ingin menjawab pertanyaan Chanyeol, tapi Rein mendahuluinya.

“Ya! Park Chanyeol, apa maksudmu?”

Sialan! Semua makanan yang disebutkan namja gila itu kan makanan kesukaanku!

Rutuk Rein dalam hati. Chanyeol menoleh ke arahnya dan mengedipkan mata kanannya. Yang membuat Rein sekarang sedang menganga karena kaget dan… dan apapun yang membuat Kyungah juga histeris karena kelakuan namja tinggi bermarga Park itu.

“Kau tidak mau makan gratis?”

“Aku tidak punya gaun. Tapi… aku mau makan gratis.” Ungkap Rein jujur dan itu berhasil membuat Chanyeol tersenyum menang.

Kejujuran dan diri Rein yang apa adanya lah yang berhasil membuat Chanyeol benar-benar menyukai yeoja itu. Jarang sekali kan menemukan seorang yeoja yang mengungkap dengan jujur bahwa ia senang makan gratis di hadapan 6 orang namja? Tapi bukannya ilfeel, Chanyeol malah merasakan bahwa dirinya ingin sekali mencubit pipi Rein saking gemasnya dengan perilakunya.

“Tidak masalah. Bagaimana dengan Ilhae?” Kyungsoo berhasil menyembunyikan rasa gelinya. Dan beranjak ke problem lainnya. Sepertinya kedua yeoja ini memanglah sebuah problem karena kepribadiannya.

“Kau bisa meminjamkan kami gaun kan?” Rein baru saja mau menjawab bahwa Ilhae tidak ada bedanya dengan dirinya. Tapi orang yang ditanyakan muncul sendiri dengan mata yang seperti habis menangis. Pasti karena kejadian tadi.

Semua mengabaikan bengkaknya mata seorang Ilhae dan menunggu Kyungsoo menjawab pertanyaan Ilhae. Tapi bukannya menjawab, Kyungsoo malah mengeluarkan ponselnya dan mengabaikan pertanyaan Ilhae.

“Ya! Sebenarnya apa motifmu kesini sih? Tidak bawa persiapan sama sekali.” Ilhae dan Rein terlihat tersinggung dengan ucapan Kai. Tapi Kai buru-buru memperbaiki kalimatnya, “Tentu saja yang kumaksudkan disini adalah si Hae-Hae, Rein-ah.”

“Sebenarnya, tujuanku kesini hanyalah berlibur dengan Kyungsoo dan Rein. Melihat keindahan Jeju lalu tidur dan makan gratis.”

“Pfttt –” Sama halnya dengan perasaan Chanyeol yang gemas pada penuturan Rein sebelumnya, kini giliran Kai yang menahan tawanya untuk Ilhae.

“Hahhh.. sepertinya kedua yeoja ini memiliki pemikiran yang sama.” Komentar Baekhyun dengan nada malas.

“Ya! Byun Baekhyun, bukankah kau kesini juga karena motif ingin liburan gratis?” Rein membela dirinya dan Ilhae, dengan menyerang Baekhyun.

“Kau juga sama saja Chen! Jangan sok menahan tawamu!” semprotnya sekali lagi pada object lain, Chen.

“Kuyakin, sebenarnya di antara kita – mungkin kecuali Kyungsoo dan Kyungah, tidak ada yang benar-benar bermotif ingin pergi ke pestanya Suyeon.” Ilhae berpendapat dan itu hampir benar sebelum Kyungah membela dirinya.

“Ani, sebenarnya aku juga malas pergi ke pesta Suyeon eonni. Aku ikut karena oppa mengatakan bahwa aku bisa mendapat banyak teman baru karena liburan ini.”

Semua, kecuali Kyungsoo yang sedang menelpon, tak tahan untuk tidak tertawa karena perkataan jujur yang baru saja dilontarkan Kyungah.

“Chingudeul, sayang sekali tujuan makanan enak dan gratis kita hanya pesta itu. Jadi bersabarlah, setidaknya dia tidak menuntut kado dari kita, kan?” Chen pura-pura bersedih hati.

“Sebenarnya dia menuntut, tapi terlalu malu untuk mengatakannya.” Tandas Baekhyun yang langsung disertai dengan gemuruh tawa.

“Interupsi.” Kyungsoo muncul dengan cengirannya, sepertinya urusannya telah selesai. “Suyeon secara langsung meminta kita untuk datang, kado jangan dipermasalahkan karena aku sudah membeli kado yang bisa mewakili kita semua. Lalu untuk pakaian resmi, orang dari butikku akan datang kesini dan membawakan beberapa setelan dan gaun yang rancangan terbaru untuk kita jadi jangan khawatir. Akan datang sekitar, yah 10 menit lagi. Dan Kyungah, bisa kau pinjamkan beberapa alat make up pada Suyeon eonni? Karena ahli make up di salon eomma tidak hadir hari ini.”

Kyungsoo tidak akan pernah tahu bahwa kata-katanya ini adalah sesuatu yang sangat besar jika tidak melihat ekspresi bodoh yang kini ditunjukan oleh sekitar 5 orang di ruangan itu. Hanya Kai dan Sehun, yang lebih memilih palm face daripada ikut-ikutan terlihat bodoh, dan Kyungah yang memandang datar oppanya.

“Kyungsoo-ya, aku tidak pernah sadar jika kau sekaya ini jika kau tidak mengucapkannya. Lalu kenapa kau memilih rumah kecil untuk tempat tinggalmu?” Walau memasang palm face, Kai tidak bisa menutupi rasa kagumnya dari suaranya Kyungsoo hanya tertawa kecil.

“Dia bahkan memiliki salon dan butik di Jeju jika aku tidak salah tangkap, Chen-ya.” Baekhyun masih menganga sambil berkomentar.

“Dan villa.” Lanjut Chen.

“Jangan-jangan dia memiliki helicopter dan helipad pribadi.” Ini Ilhae.

“Kau memiliki teman masa kecil yang luar biasa, Hae-ya.” Rein menyuarakan pendapatnya dan berhasil mengatur mimic mukanya agar tidak terlihat terlalu bodoh.

Mereka masih berbincang tentang kekayaan Kyungsoo dan keluarganya, berarti milik Kyungah juga sampai orang dari butiknya yang tadi disebut-sebut Kyungsoo muncul di pintu masuk villa itu.

Rein harus terus menerus meringis ketika melihat gaun-gaun yang jamin akan membuatnya kedinginan karena memakainya. Dan high heels yang pasti akan menyiksa kakinya malam ini.

“Kau tidak menyukainya, Rein-ssi?” Rein terlihat bersalah karena pertanyaan Kyungsoo, pasti namja itu salah mengintrepetasikan ekspresinya.

Ilhae buru-buru menyelamatkan keadaan. “Ani, bukan karena itu Soo-ya. Dia tidak pernah memakai hal semacam ini. Terakhir dia mau memakai gaun dan make up adalah 3 tahun lalu, dan itu karena diiming-imingi seorang Zhang Yixing. Eh, Rein. Kau masih ngefans sama orang itu?”

Ya, benar Geum Ilhae. Kejadian 3 tahun lalu di mana Chanyeol juga berulah dan membuatku selalu menghindari namja itu sampai hari in – OH WAIT, KALIMATKU TERDENGAR SALAH!

“Ya! Rein apa yang kau pikirkan?”

“Ani, bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan betapa tampannya seorang Zhang Yixing. Itu saja.” Jawab Rein cepat. Terlalu cepat.

Chanyeol mendengus mendengar penuturan Rein. Ya, dia tahu bahwa Rein sangat menyukai – entah suka jenis apa, Yixing sunbae. Tapi dia benar-benar kesal karena mendengarnya langsung dari mulut yeoja itu.

“Oppa, aku akan ke tempat Suyeon eonni.” Kyungah yang telah memakai jaketnya dan bersiap keluar dari ruangan, tapi ia tidak lupa pamit pada oppanya.

*-*-*

Kyungah telah sampai di depan pintu kamar Suyeon eonni – dia bertanya pada sembarang orang untuk menemukan kamar ini. Namun ketika ia hendak mengetuk pintunya, suara orang yang sedang bercakap-cakap mencegahnya.

“Pokoknya, ketika giliranku mengambil undian untuk pasangan peperoku tiba. Aku ingin kotak undianku ditukar dengan kotak yang terdapat pita pinknya. Aku sudah mempersiapkan semuanya, tugasmu hanya menukarnya saja. Ingat? Eo jangan lupa melepaskan pitanya saat tiba giliranku, supaya aku tidak ketahuan. Aku menyimpannya di ruang kecil di sebelah toilet di ball room.”

Kyungah tidak mendengarkan penuturan lebih lanjut dari eonni sepupunya itu. Dia berlari meninggalkan pintu kamar Suyeon dan segera menuju ruang pertemuan di resort itu yang pasti sudah disulap menjadi ballroom oleh eonninya. Intuisinya berkata bahwa ada yang tidak beres dengan kotak berpita pink itu.

Dia menemukan ruangan itu dengan mudah, terima kasih karena keluarganya selalu mengajaknya berlibur ke resort yang memiliki banyak villa ini, sehingga ia mengenal setiap sudut ruangan dengan baik. Ruangan kecil yang dimaksud Suyeon adalah ruang perlengkapan yang mengakomodir segala barang-barang yang akan digunakan sebelum acara di ruang pertemuan yang sangat besar dan megah itu.

Beruntung, ruang itu tidak terkunci. Kyungah segera masuk dan menutup pintunya rapat-rapat, ketika matanya menemukan dua kubus plastik berwarna coklat yang sama persis hanya dibedakan oleh pita pink yang ia curigai tadi. Ia tidak sabar untuk membuka isinya dan menemukan banyak kertas yang dilipat di dalamnya.

Kyungah membuka satu-satu kertas itu, dan menemukan nama yang beragam di kertas pada kubus tak berpita. Lalu ketika ia membuka kubus berpita pink, dia juga menemukan banyak kertas yang dilipat. Namun ketika ia buka kertas-kertas itu secara acak, dia hanya dapat menemukan 3 nama di dalamnya.

Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol!

OHO~! Kini dia mengerti akal bulus dari Suyeon eonni!

Tentu saja, Kyungah tidak bisa tinggal diam karena ini. Dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya untuk membantu 2 couple yang menjadi favouritnya selama liburan ini.

To Be Continue…

21 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 6A)

  1. Wohhh keren banget thor,,, penasaran gmn prasaan kai gak sengaja ciuman sama ilhae,,

    Untung ª∂a̲̅ kyungah.. Semoga rencana wanita licik itu gagal Нå.=D. нå. =D. нå. =D нå

  2. huaaa aku paling suka karakter nya kyungah…
    bayangin sodara kaya dia enak kali ya…
    next next…
    penasaran apa yg dilakukan kyungah…
    keep writing 🙂

  3. Aku paliiiing suka ama chap ini….
    Romance.y ada,comedy.y ada,konflik.y ada walau dikit…
    Jadi gk bosen baca.y apalagi adegan ilhae&kai mungkin kalo aku bneran liat adegan kayak gitu aku bakal cengo dg tampang absurd atau aku sendiri yg ngalamin breng OH SEHUN #plak #aku_gak_bisa_bayangin because it’s impossible…. Haahaha :v
    jan lama2 lanjutin chap 12 dong…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s