Wonderland (Chapter 1)

Title: Wonderland [Chapter 1]

Author: Evilhyung

Cast: Oh Sehun || Rachel Han (OC) || Han Saejin (OC)

Genre: AU, Romance, Mystery(?)

Length: Chaptered

There are some links:

Teaser #1 || Teaser #2 || Prologue

These links are posted in my blog, clicks the links if you don’t understand this story^^.

 

A/N:

Haiiiiii! Apa kabar??

Kali ini, saya ingin mencoba mengirimkan ff chapter saya (yang sangat geje;;;) ini ke exoff! Maafkan jika hasilnya tak maksimal, gak jelas, gak bagus, kurang paantes(?), dan genre yang tercantum diatas kurang tepattt;;;(. And, aku gak tau kenapa judulnya jadi WONDERLANDL.

I need your support, dan tolong hargai kerja keras saya ini dengan berkomentar!

Dan sedikit bercerita, chapter 1 belum ada pemunculan masalah, dan saya gak akan memberi tahu di mana pemunculan masalah itu nantinyaaa. Untuk lebih mengerti, klik link yang sudah aku kasih di atas:D. tapi, kalau nggak ngerti jugaaaa, I don’t know what to dooo;;;;.

Take your popcorn and cola, enjoy the story!

This is not the start.

 

Rachel’s POV

Aku mencoba menarik senyuman kecil di wajahku. Susah bagiku untuk mencoba bersikap sangat baik pagi ini. Setelah kekesalanku memuncak kemarin karena banyaknya pekerjaan kantor dan kewajibanku menjadi ibu rumah tangga memenuhi otakku. “Rachel, kau harus ingat tugasmu harus selesai sebentar lagi.” Aku tersenyum konyol sambil mengangguk kesal. “Ya. Akan kuselesaikan secepatnya.”

Aku melirik ke sampingku dan membuang nafasku pelan. Orang itu, orang yang paling tak bisa ku tampar. Bagaimana aku akan menamparnya? Ia seorang direktur di perusahaan ini. Aku harus menurutinya? Mau tak mau, aku harus. “Hei, apa kabar Joon?” tanya rekanku bernama Saejin.

He’s good. Dia hanya sedikit flu kemarin,” jawabku sambil terus mengetik beberapa laporan untuk rapat direktur. Saejin mengangguk. “Beberapa minggu kebelakang ini… Kau tahu, banyak sekali orang yang terserang flu. Apa ia sedang kurang daya tahan tubuhnya?” Aku memiringkan kepalaku sedikit.

Aku sedang bingung karena pikiranku tak bisa focus. “Mungkin,” jawabku lagi sekenanya. “Jangan lupa, ia harus makan banyak vitamin.” Aku mengangguk sambil terus mengetik. Terdengar tawa dari mulut Saejin. “Hei, kalau kau ibu yang baik, kau harus bisa membagi waktu antara kerjaan dan rumah.” Aku berhenti sebentar, merasa terusik dengan Saejin.

“Jadi? Aku harus membagi tubuhku menjadi dua?” Ia tak mengerti betapa susahnya menjadi ibu rumah tangga sepertiku. Saejin seumuran denganku, dan kami masih kekanak-kanakan. Tempat kesukaan kami adalah taman bermain, dan kami selalu menyukai permainan merry-go-round yang sekarang pastinya sangat membosankan.

Ia belum menikah, padahal banyak sekali lelaki yang ingin menjadi pacarnya. Ia tertawa lagi. “Well, tidak. Kau bisa menyewa pembantu rumah tangga.” Hmm, mudah baginya mengatakan hal itu. Aku tak pernah menyukai para pembantu rumah tangga. Walaupun, dirumahku, banyak pelayan yang bersedia membantuku. Aku tak pernah bisa mempercayakan anakku pada mereka, karena mereka tak mengerti Joon.

“Mudah sekali kau katakan itu,” ujarku sambil melanjutkan kegiatanku. Ia tertawa meremehkan dan segera mengecek beberapa berkas yang harus diserahkan ke direktur. “Tak juga. Sejak kecil aku sudah merasakan menjadi anak yang selalu diurus oleh para pembantu, bukan ayah atau ibuku,” bantahnya dengan pelan yang menyadarkan ku bahwa ada cerita yang lebih sedih lagi.

Saejin memang anak seorang pemimpin perusahaan ternama. Ia tak pernah disuapi, ataupun diurus oleh ibu dan ayahnya sendiri. Mereka mempercayakannya pada pembantu, dan akhirnya Saejin menjadi anak yang sedikit gila dan brengsek, walaupun ia anak yang sangat pintar. Well, aku menyukainya sebagai rekan kerja ku.

“Aku ingin pulang ke NewYork,” gumamnya sambil mengecek kalender di meja kerjanya. Aku menghentikan pekerjaanku dan meliriknya sebagai tanda simpati. “Banyak deadline bulan ini. Mustahil kau berhasil kabur ke NewYork malam ini, besok, ataupun lusa,” ucapku mengingatkannya. Wajah putihnya menyiratkan kesedihan mendalam.

I miss central park.” Aku menyadari bahwa kata-kata konyolnya tadi itu bukanlah main-main. “Hei, jangan sedih. Lagipula, mari lewati semua deadline ini, dan mari lakukan banyak kegilaan,” ajakku yang membuat ukiran indah di wajahnya.

“Haha, kau ingin menjahili sajangnim?” Aku tertawa. “Kau ingin?” Kilatan matanya begitu jahil dan segera ia menyusun rencananya.

***

Dengan sedikit kedinginan, aku terus melanjutkan perjalananku menuju café depan kantorku bersama Saejin. Benar katanya, cuaca sedang tak bersahabat. Ia membantuku yang sedang kedinginan dengan mendorongkan pintu kaca café tersebut. “Kedinginan? Kau butuh pelukan suamimu,” candanya sambil tersenyum jahil.

Aku memukulnya pelan dan tertawa. “Selamat datang. Apa yang ingin anda pesan?” Saejin hanya memandangi menu tersebut bingung, karena semua yang terpampang adalah menu kesukaannya. “Kau dulu,” ucapnya dengan mata yang tak bisa lepas dari daftar menu. Dengan sedikit terkikik, aku segera memesan. “Satu Americano.”

Saejin menghabiskan waktunya hanya untuk menatap menu tersebut. Aku dengan pelan menyikut tubuhnya. “Baiklah… Greentea Latte, medium sugar.” Saejin menatapku kesal sambil duduk di ujung dekat perapian. “Sebaiknya aku menelpon Sehun sebelum kau mati membeku.” Aku hanya tersenyum kecil meremehkan. “Tidak juga. Suhu udara hari ini hanya 10 derajat celcius.”

“Apa Sehun tak menjemputmu?” tanyanya tiba-tiba. Anak ini, gemar sekali menanyakan Sehun. Aku mengangkat bahu sebagai tanda tak tahu. Mungkin saja ia ada rapat mendadak atau sudah menjemput Joon dari rumah ayahku. “Aku bisa naik taksi.” Ia tiba-tiba berdecak. “Biar aku antarkan kau pulang. Aku ingin bermain dengan Joon.”

Joon dan Saejin memang sangat mirip. Bisa dikatakan, mereka seperti kembar identik. Saejin pernah mengajak Joon bermain ke taman bermain, dan saat aku jemput mereka ketiduran di mobil karena kelelahan. “Kau tak takut tertular oleh Joon?” Ia menggeleng dan tertawa. “Kau tahu, aku tak gampang terjangkit penyakit seperti itu.”

Tak lama, seorang waiter mengantarkan pesanan kami. Aku dan Saejin buru-buru menyesapnya karena kami berdua kedinginan. Mata Saejin mengarah ke arah pintu kaca yang terdengar terbuka dan ia tersenyum kecil. “Wah, lihat siapa yang datang,” ucapnya sambil mengisyaratkan padaku untuk melihat sesuatu yang sedang ia lihat juga.

Aku melihatnya menggandeng tangan Joon dan melambaikan tangannya padaku. Ia mendekat dengan bersenandung kecil. “Hey, your mommy is here,” ucapnya sambil menyerahkan Joon yang langsung memelukku erat. “Mommy, apa kau menjadi tawanan Saejin lagi?” Saejin langsung menatap Joon tajam. “Tak sopan sekali kau, anak kecil.”

“Kau ingin ikut kami pulang?” tawar Sehun pada Saejin. Saejin hanya menggeleng. “Tak perlu tumpangan, aku menyetir sendiri. Kalau ada waktu, kuusahakan mampir.” Sehun mengangguk. “Kau ingin pulang atau tetap di sini?” Aku tak menjawab dan malah asik menyesap Americano ku. Ia menurunkan tubuhnya sedikit, hingga sejajar dengan bahu ku, dan ia berbisik pelan, “Atau kau ingin menjadi tawananku?”

Aku segera menghabiskan minumanku dengan kilat dan pamit pada Saejin. “Jangan lupa, kau masih punya hutang padaku,” teriak Saejin dengan sedikit bercanda.

***

How’s your school?” tanyaku berinisiatif bertanya pada Joon. Jika tak seperti itu, ia justru akan terus bungkam. Ia hanya terdiam dan mengangkat kedua bahunya. “Menurut mom?” tanyanya tak berminat dengan subjek ‘sekolah’. “Kau punya masalah?” tanya Sehun. Joon tetap tak menjawabnya dan malah mengalihkan pandangannya ke samping.

Aku dan Sehun saling bertatapan. Sehun seakan-akan mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan Joon. Mungkin saja, tapi terkadang itu mustahil bagi anak berumur 4 tahun seperti Joon. Joon segera berlari masuk ke rumah segera setelah Sehun memarkirkan mobil ke garasi. “Apa joon punya masalah?” tanya Sehun saat kami turun.

Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. Sehun segera menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam rumah. Rindu sekali rasanya memeluk bantal-ku di kasur. Hampir tiap hari aku merasa pegal karena harus lembur. Sehun datang sambil melepas jam tangannya. “Apa kau ingin aku memarahi Baekhyun karena terlalu kejam padamu?” candanya sambil bersenandung kecil.

“Haha, I can handle it.” Sehun berdecak seakan meremehkan diriku. Ia masih berfikir bahwa aku wanita yang sangat kejam dan pantas mendapatkan siksaan dari bos ku hingga menjadi wanita malang yang merindukan bantalnya. “Well, aku tak suka melihatmu berusaha menjadi wanita yang kuat,” ejeknya sambil menyalakan tv kamar.

“Jadi? Maksudmu?” Ia terkekeh geli dan segera berbaring di atas kasur. “Aku lebih suka memegang prinsip bahwa kau adalah nenek sihir yang pantas mendapat siksaan itu. Aku suka melihatmu butuh bantuan.” Aku menggeleng tak peduli. Lelaki ini, suami yang… bisa dibilang ia bukanlah suami yang sangat baik. Karena pada nyatanya, ia adalah lelaki yang gemar mengejek dan meremehkanku.

Sehun memang bukan tipe yang sering perhatian. Ia juga tak menyadari pada saat aku membutuhkannya. Ia lebih menyukai segelas coklat hangat dan membaca Koran Amerika di pagi hari. “Kau suka istrimu merana?” tanyaku mulai mulai memejamkan mata setelah aku mengganti baju kerja menjadi piyama.

“Aku senang melihatmu butuh bantuanku.” Cih, dia bilang seperti itu. Ia tak bisa membuktikan perkataannya tadi. Besok harinya, ia pasti lupa apa yang ia katakan padaku malam ini. Dan saat aku meminta bantuannya, ia akan bilang: Kau wanita kejam yang pantas mendapat hukuman itu. Aku takkan membantumu, Princess.

Setelah mematikan lampu tidur, aku berbaring memunggunginya. Terasa tangannya memeluk pinggangku erat dari belakang. “Haha, have a nice dream. We still have long way to go.

Ya, we still have long way to go…

-TBC-

Evilhyung’s:

 

Hiii, Sullivan’s fellas and Archie’s fox!

Evilhyung back with the first chapter!

Memang rada geje, di sini aku menggunakan Rachel POV karena… Kita lihat aja dulu ya sudut pandang Rachel mengenai Sehun:p. Untuk yang pertama ini, evilhyung tak bisa berkata-kata…. aku menyadari FF sedikit… membosankan. Mudah ditebak, yakan yakan?? LOLOLOLOL

Nah, kapansih evilhyung menampilkan masalahnya?

I don’t know. Aku hanya ingin memberikan penjelasan dulu tentang situasi dan keadaan pada kalian, supaya gaada yang protes GARAGARA EVILHYUNG GEMAR SEKALI MEMBUAT FF DENGAN AWALAN GEJE DAN GAJELAS GITU DEHHH.

Sebenernya, itu bukan intinya. Aku ingin ngebiarin masalah itu terurai sendiri. Karena, just like what I say before (at the teasers) you should search the clues or keys between the chapters. Kalian akan menemukan kepingan2 yang hilang dari sebuah puzzle kalau kalian rajin dan telaten nyari setiap potongannya, ya kan? Sama dengan ff ini, kalau kalian mau menjadikan ff ini sebagai satu gambaran puzzle yang utuh, kalian cari setiap kepingan itu untuk melengkapi bagian kosongnya! (LOLOL kepanjangan ahhh~~~)

Tunggu nextnya, and ILOVEYOU!

 

4 pemikiran pada “Wonderland (Chapter 1)

  1. next next next!!! menurutku ini ga membosankan,, dan ini keren! yaaa lebih bagus ga langsung ke permasalahan.. dan ini ga bisa aku tebak alurnya,, jadi aku penasaran banget sama kelanjutannya.. jd next chap jangan lama” ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s