My Pervert Devil (Chapter 2)

 cymera_20140410_233930-e1397148383632

Title : My Pervert Devil

Author : AngevilBoo

Main Cast :

Oh Se Hoon (EXO)
Kim HyunRa (OC)

Other Cast : You’ll find them~

Length : Chaptered

Genre : Romance, Family, Angst(?)

Rating : PG17 or Mature

Disclaimer: I dont own anything beside Story and OC. This is pure My Imagination. If there are similarities, it’s not intentional and I apologize. The other cast belongs to God and their parents. Thank You^^

Poster Credit : http://cafeposterart.wordpress.com/ (Andinarima)

—*–*—

Seorang gadis duduk terdiam di pinggiran jendela. Gadis itu menyadarkan kepalanya ke kaca. Matanya menatap butir-butir hujan yang turun dan membasahi kaca jendela itu. Hatinya perih. Ia merasa asing.

Entah berapa lama ia memilih menghabiskan waktu duduk termangu seperti orang bisu begini. Matanya seperti tak sanggup untuk menangis lagi.

Ingin sekali rasanya Hyunra memecahkan kaca itu lalu berlari keluar dari sana. Kamarnya dikunci. Ia dikurung. Benar-benar mimpi buruk. Bibir mungilnya terus berdoa memohon agar segera keluar dari tempat mengerikan ini.

Ucapan Pria itu terus terngiang ditelinganya, membuat tubuhnya merasa merinding dan seperti arus listrik, rasa dingin menjalar hingga keujung kakinya. Melebihi rasa dingin diluar karena hujan.

Gadis itu berusaha keras untuk tak mengingatnya, tapi semua usahanya sia-sia. Wajah, suara, semua yang ada pada Pria itu terus menghantuinya. Ia bahkan baru sekali melihatnya, dan nama Pria itupun ia tak tahu. Yang Hyunra tahu hanyalah betapa ia sangat menakuti Pria itu. Pria yang dengan seenaknya menyentuhnya.

Ucapan pria itu bagaikan pisau yang menusuknya begitu dalam. Aku adalah Tuanmu. Setiap mengingatnya, rasa takut menjalari tubuh gadis itu. Membuat matanya kembali siap menghujani wajahnya. Kenapa seperti ini? Itu terdengar seperti ia adalah sebuah barang dan sekarang diperlakukan seperti seorang budak. Sungguh menyesakkan.

Suara pintu terbukapun terdengar. Hyunra menolehkan kepalanya waspada, melihat siapa yang masuk. Seorang pelayan wanita terlihat tersenyum manis sambil membawa sebuah napan kearahnya. Wanita itu berjalan pelan.

“Permisi Nona, saya datang membawa makanan untuk Nona. Nona belum makan sedari pagi,” ucap pelayan itu lembut dan sopan. Hyunra hanya menatapnya dengan tatapan lesu dan mata yang bengkak.

“Ini juga saya membawakan pakaian yang bisa nona pakai.” Pelayan itu meletakkan sebuah kotak berukuran sedang diatas tempat tidur. Hyunra terdiam memandanginya. Perasaannya bergejolak tiba-tiba. Sudah lama sekali ia tidak diperlakukan seperti ini, dipedulikan oleh orang lain.

“Nona? Nona baik-baik saja?”

Hyunra tersadar dari lamunannya. Gadis itu segera mengangguk pelan, “N-Ne. Aku baik-baik saja. Gamsahamnida.”

Pelayan itu kembali tersenyum. “Jika nona memerlukan sesuatu, Nona dapat memanggil saya. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?”

Hyunra langsung berpikir untuk menanyakan sesuatu. Sesuatu yang begitu ia inginkan dan impikan sejak kemarin. Tetapi ia begitu takut hanya untuk sekedar memikirkannya. Gadis itu terlihat gelisah.

“I-itu… Hmm, Apakah aku boleh pulang?” tanya Hyunra dengan tatapan polosnya. Pelayan itu terlihat terkejut, kemudian segera menjawab.

“Maaf Nona, Saya dilarang membiarkan Nona keluar dari kamar ini oleh Tuan muda Sehun hingga ia kembali. Saya tidak bisa.” Hyunra mengernyit heran, merasa asing dengan nama yang diserukan pelayan itu.

Sehun?”

“Ya. Tuan muda Sehun adalah putra dari Tuan Oh. Ia sedang keluar.”

Jadi nama pria itu Oh Sehun. Pikirnya sedikit ngeri.

Mendengar namanya saja sudah membuat bulu kuduk gadis itu berdiri ketakutan. Padahal tak ada yang seharusnya ditakuti dari sosok pria yang terlalu tampan itu. Tapi justru itulah yang membuat Hyunra takut padanya, Ketampanannya.

“Nona? Apa ada lagi?”

“Tidak. Gamsahamnida.” Hyunra menundukkan kepalanya kecil, begitu pula dengan pelayan itu. Lalu pelayan itupun berlalu keluar. Meninggalkannya sendiri, lagi.

Hyunra terdiam, tatapannya kosong. Gadis itupun akhirnya memilih bangkit dan berjalan kearah tempat tidur. Ia mengambil kotak yang diletakkan pelayan tadi. Perlahan membukanya, dan tampaklah sebuah Dress pendek polos berwarna krem. Simpel.

Lalu Hyunra pun berjalan membawanya ke kamar mandi. Memilih untuk membersihkan dirinya dan berharap setidaknya itu dapat menenangkan perasaannya sedikit. Ya, hanya sedikit.

***

“Kapan kau pulang?”

Suara berat seorang Lelaki menggema di sebuah ruangan luas yang sangat sepi. Ia tengah duduk santai disebuah sofa besar. Tangan kirinya memegang telepon genggam sementara tangan kanannya sibuk mengarahkan sebuah rokok kemulutnya.

“Sebentar lagi. Mungkin beberapa jam lagi.”

Lelaki itu mengangguk paham sambil menghisap rokok ditangannya, lalu mulutnya menghembuskan gumpalan putih yang kemudian berpencar di udara.

“Hm. Kau tahu syaratnya, bukan?”

Terdengar suara diseberang sana menghela nafas berat. “Ne. Tapi… bagaimana dengan dia?”

“Dia? Huh, lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sekarang. Dia sudah mendapatkannya. Kau bisa kalah jika terlambat.”

“Mendapatkan apa?”

“Calon Istri.”

“Mwo? Calon Istri?”

“Hm, karena itu cepatlah pulang. Iblis itu akan menang jika kau terlambat.”

“Apa sebenarnya maksudmu?”

Lelaki itu menghela nafas sejenak, ia meletakkan rokoknya pada asbak mewah yang terbuat dari besi bening diatas meja. Kali ini raut wajahnya berubah serius.

“Kau pernah mendengar, tentang Malaikat yang dikurung oleh seorang Iblis?”

“Malaikat? Bukankah…”

“Itu sesuatu yang selalu didongengkan Ibumu sewaktu kau kecil.”

“Ya. Kupikir itu tidak nyata. Maksudku, itu hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur.”

“Bagaimana kalau itu nyata.. Dan itu terjadi,” tanya lelaki itu serius. Suasana pun mendadak hening, sebelum suara diseberang sana kembali terdengar.

“Benarkah?”

“Huh, itu nyata. Dan sekarang kau harus membantunya.”

“Apa maksudmu?”

“Gadis itu.”

Hening. Suara diseberang sana tak lagi terdengar. Hanya tarikan nafas yang kini memenuhi telinga Lelaki itu.

Tolong dia.”

Lelaki itu kini menggegam sebuah figura kecil yang memperlihatkan seorang gadis mungil tengah tersenyum dengan manisnya kearah kamera. Lelaki itu pun kembali memfokuskan dirinya pada telepon genggam ditangan kirinya.

“Tolong Gadis itu, Xiao Lu!”

***

Hyunra keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan waktu yang cukup lama disana. Ia lebih banyak menghabiskan waktu menangis dan termenung tanpa sadar. Gadis itu keluar dengan Dress rumahan yang simpel, tetapi begitu pas ditubuh rampingnya yang mungil.

Matanya masih terlihat membengkak dan lesu. Rambut panjangnya juga berantakan. Tapi ia sama sekali tak berniat untuk sekedar melirik penampilannya di cermin.

Gadis itu melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul 3 siang. Ia menghela nafasnya. Kenapa waktu lama sekali berjalan ditempat ini? Hyunra kembali melangkahkan kakinya menuju jendela besar dikamar itu. Hujan sudah berhenti, kini hari hanya gerimis.

Hyunra kembali termenung. Ia merindukan sekolahnya. Ia merindukan teman-temannya. Walau sebenarnya ia tak memiliki seorang teman, tapi hanya pada saat itulah Hyunra dapat merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan remaja pada umumnya. Dan bukannya hidup dipenuhi beban, kemudian dijual bagaikan sebuah barang.

Gadis pemilik kulit putih pucat inipun menolehkan kepalanya kekiri. Melirik pintu kamar ini. Otaknya berpikir untuk mencoba membuka pintu itu. Mungkin mereka sudah membuka kuncinya.

Dengan langkah pelan dan ragu, Hyunra berjalan menuju objek yang menjadi pandangannya kini. Tidak ada salahnya mencoba.

Tepat saat berada didepan pintu berdaun dua itu, tangan putihnya mencoba menggapai knopnya. Tapi belum sempat ia menyentuhnya, knop pintu itu sudah bergerak duluan dan dari arah yang berlawanan pintu itupun terbuka. Menampilkan sosok yang begitu ia takuti saat ini.

Hyunra tersentak, dan terdiam kaku melihat seseorang yang berada dihadapannya. Ia menyesal, sangat. Karena mengikuti perintah otaknya.

Raut ketakutan terlihat jelas diwajah cantiknya yang kembali memucat. Menatap Pria dihadapannya.

Oh Sehun.

Pria berkulit putih susu dengan kaus V neck berwarna abu-abu itu menatapnya datar dan tajam. Setelah sebelumnya sempat sedikit terkejut melihat Hyunra yang langsung berada dihadapannya. Apa yang dilakukannya didepan pintu? Apakah ia mencoba untuk kabur?

Hyunra dengan cepat melangkah mundur dengan ketakutan. Ia panik. Sementara Sehun masih diam dan tetap menatapnya tajam. Pria itu pun melangkah masuk dengan santai setelah sebelumnya menutup pintu kamar itu.

Hyunra benar-benar panik sekarang. Ia begitu takut. Sehun memandangnya dari atas hingga bawah. Pria tampan itu menyeringai tipis melihat penampilan gadis itu, lalu melangkah mendekatinya.

“Ja-jangan mendekat!” ucap gadis itu dengan nada bergetar. Sehun pun berhenti sejenak, sebelum tetap kembali berjalan menghampiri gadis itu. Hyunra yang semakin panik pun, terus melangkah mundur. Kemudian tersentak saat Sehun dengan tiba-tiba menarik tangannya hingga ia pun terjatuh kepelukan pria itu.

Hyunra ketakutan. Ia dengan segera meronta berusaha melepaskan pelukan pria itu. Sehun melingkarkan tangannya dipinggang kecilnya dengan begitu erat. Tangannya yang begitu kekar, memeluknya posesif.

“Lepaskan.. Ap-Apa yang kau lakukan?”

Sehun diam, ia masih memperlihatkan wajah dinginnya seperti biasa. Sementara Hyunra terus memukul dada pria itu. Tiba-tiba tubuhnya mendadak sangat kaku saat Sehun meletakkan kepalanya didadanya. Memeluknya semakin erat dan menenggelamkan wajahnya didada gadis itu.

“Ap-Apa….”

Sehun menarik nafas sebanyak-banyaknya. Menghirup aroma feromon dari tubuh gadis ini yang begitu pekat dan menggodanya. Sehun belum pernah mencium wangi tubuh sepekat itu sebelumnya. Membuatnya tenang, bagaikan narkoba. Padahal ia baru sehari mengenal gadis ini.

Ya, Sehun sudah mengetahui segala hal tentang gadis ini. Ia sudah mengetahui riwayat hidup menyedihkan seorang Kim Hyunra.

Gadis berkulit putih pucat yang 3 tahun lebih muda darinya. Gadis bersurai panjang kecoklatan yang kehilangan ibunya 4 tahun lalu. Gadis cantik malang, yang dibenci oleh Onnie nya sendiri. Dan Gadis polos yang tak tahu apa-apa yang harus ditakdirkan dijual oleh Ayahnya sendiri, dan kini terjebak dengan dirinya. Iblis tampan mempesona, Oh Sehun.

Gadis ini memberikan sensasi lain bagi dirinya. Padahal ia hanyalah gadis yang sangat biasa dan bukannya apa-apa. Gadis ini hanyalah sebuah hadiah dari Ayahnya yang begitu ia benci, yang bahkan sampai sekarang Sehun belum tahu pasti apa yang harus ia lakukan terhadap hadiah itu.

Haruskah ia bersyukur dan bahagia mendapatkannya, atau hanya sekedar memainkannya hingga ia bosan lalu membuangnya. Bahkan kini status gadis itu tak lebih dari seorang Slave baginya. Tapi dengan derajat yang berbeda.

Yang Sehun tahu, gadis itu membuatnya merasakan sesuatu yang telah lama tak ia rasakan dan begitu rindukan. Perasaan Nyaman. Seperti saat bersama Ibunya. Wajah cantik layaknya boneka milik gadis ini menenangkannya. Tubuh mungil hangatnya. Wangi tubuh alaminya.

Sungguh menggodanya.

Tentu saja, Sehun sudah pernah bersama gadis lain sebelumnya. Tapi tak ada yang seperti Hyunra. Yang membuatnya terobsesi untuk memilikinya hanya dengan pandangan pertama. Sehun telah mengklaim gadis itu sebagai miliknya. Dan tak ada satu orangpun yang boleh menyentuhnya. Kim Hyunra miliknya.

Sehun dapat merasakan tubuh gadis ini bergetar hebat dalam pelukannya. Betapa besar rasa takut Hyunra padanya, membuatnya merasa sedikit kecewa, tetapi juga memberinya rasa bangga hingga tanpa sadar pria itu selalu tersenyum miring setiap kali mengingatnya.

Kau benar-benar seorang Iblis, Oh Sehun.

“Lepaskan aku.. Jebal~,” lirih lembut gadis itu bergetar. Sehun pun mulai merespon ucapan Hyunra. Pria itu mengangkat kepalanya sedikit.

“Diam.”

Perkataan yang sangat singkat dan padat. Dengan nada begitu dingin, cukup untuk membuat gadis itu langsung bungkam.

Sehun kembali menenggelamkan kepalanya didada gadis itu. Lalu dengan sengaja menggerakan hidung mancungnya menyusuri garis tulang dan naik keatas leher jenjang miliknya. Hyunra meringis, tapi ia tak berani membuka mulutnya. Ia takut Sehun marah. Tubuhnya bergetar karena merinding.

Sehun berhenti di leher putih gadis itu. Mengendus aroma tubuh yang membuatnya gila. Dengan perlahan menempelkan bibirnya pada leher mulus itu. Gadis itu semakin merinding. Ia meremas lengan baju Sehun yang dilipat hingga siku dengan begitu kuat. Setetes air mata siap meluncur dipipi mulusnya.

“He-hentikan.. Sakitt..”

Hyunra mengigit bibirnya kuat, berusaha menahan desahannya. Jika Sehun mendengarnya, ia pasti tidak selamat. Pria itu masih sibuk mengecup dan menciumi leher gadis itu, hingga kini leher jenjang itu dihiasi beberapa tanda kemerahan bahkan kebiruan. Begitu kontras dengan kulitnya yang pucat.

Walaupun begitu, Sehun masih berusaha menahan dirinya. Ia masih memiliki hati untuk tidak langsung menyerang seorang gadis polos yang lebih muda 3 tahun darinya. Setidaknya semua butuh proses.

“Kumohon…” suara lembut gadis itu terdengar begitu bergetar. Air mata sudah kembali menghujani pipinya. Sehun menyadarinya, perasaan tak tega pun menghampirinya. Dengan terpaksa, ia pun menarik wajahnya dari leher Hyunra.

Pria tampan itu pun menatap wajah gadisnya yang kini terlihat semburat merah dan juga tetesan air mata dipipi tirusnya. Akibat ulah Sehun. Keduanya saling menatap satu sama lain. Terhanyut dalam pikiran masing-masing.

Hyunra sendiri yang tadinya menangis, kini justru terdiam. Memandang wajah yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Sebelum akhirnya sadar. Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali, lalu kembali berusaha mendorong tubuh pria itu.

Sehun yang terhanyut memandang wajah gadisnya, membuatnya lengah. Hingga dengan sekali dorongan dari Hyunra, pelukan pria itu pun terlepas. Sehun menggeram kecil. Hyunra dengan cepat memundurkan tubuhnya menjauhi Sehun. Pria itu kembali menatapnya tajam.

Sehun menghela nafas sejenak sebelum bergumam, “Kau. Cepat kemasi barang-barangmu!” perintahnya tegas. Hyunra terdiam, ia masih mencerna ucapan pria itu.

“A-Apa aku sudah boleh pulang?” tanya Gadis itu polos. Sehun yang melihat itu meringis pelan, wajahnya sungguh menggemaskan.

“Tidak.”

“La-lalu?”

“Kau ikut denganku.” Hyunra memandang Sehun dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara sedih dan bimbang. Haruskah aku menurut?

“Lalu kapan aku boleh pulang?” tanya gadis itu lirih. Sehun mengernyitkan alisnya. Ia tidak menyangka gadis ini masih begitu lugu. Bukankah tadi pagi Pria itu sudah mengatakannya dengan jelas.

Ia pun melangkahkan kakinya mendekati gadis itu. Hyunra yang melihatnya kembali menunjukkan ekspresi ketakutannya, dan segera mundur hingga punggungnya membentur dinding. Sehun yang melihat itupun menyeringai kecil. Membuat Hyunra semakin panik karena kembali terkurung dengan tubuh pria itu.

“Memangnya kau mau pulang kemana, hm?” tanya Pria itu seduktif. Suaranya lebih terdengar seperti bisikan yang menggoda.

Hyunra buru-buru menundukkan kepalanya. Ia dapat merasakan nafas Sehun diwajahnya. Kedua tangan pria itu berada disamping kiri dan kanan tubuhnya. Tangan kanan Sehun bergerak menyentuh dagu runcing milik gadis itu, lalu mengangkatnya perlahan. Memperlihatkan raut sedih dan ketakutan miliknya. Sungguh wajah yang menggoda bagi Pria tampan itu.

“Dengar, bukankah sudah kukatakan. Kau milikku. Kau tidak diperbolehkan pergi kemanapun tanpaku dan seizinku. Kau harus menuruti perintahku, karena aku Tuanmu. Dan satu hal lagi..”

Sehun menggantungkan ucapannya. Mata tajamnya menatap dalam bola mata jernih dihadapannya. Mencoba memberikan kesan tegas agar gadis ini tahu bahwa itu perintah yang tak boleh dilanggar, sebelum kembali melanjutkan,

“Jangan pernah mencoba untuk kabur dariku. Atau kau tahu akibatnya! Mengerti?”

Hyunra hanya bisa pasrah, Gadis itu menatap Sehun dengan wajah sedihnya. Lalu kembali menundukkan kepalanya. Sehun yang melihat itu tersenyum miring penuh kemenangan. Ia dapat melihat tubuh Hyunra yang bergetar karena menahan tangis. Pria itu menjauhkan tubuhnya yang tadinya condong kearah gadis itu.

Hyunra menggigit bibirnya kuat berusaha menahan isakannya. Ia terus menyembunyikan wajahnya dengan rambut coklat panjang sepinggangnya. Tiba-tiba terkejut saat menyadari kakinya sudah tak menapak lantai.

Sehun dengan mudahnya menggendong tubuh mungil gadis itu. Hyunra secara refleks melingkarkan satu tangannya pada leher pria itu. Sementara Sehun meliriknya sebentar, hingga kini pandangan mereka pun kembali bertemu.

Kali ini Sehun tak tinggal diam, ia mendekatkan wajahnya, dan tanpa bisa dihindari. Bibir pria itu kini sudah melumat bibir mungil milik gadis digendongannya kini untuk kedua kalinya. Ciuman yang tak sekasar tadi pagi, tapi juga tak bisa dikatakan lembut. Hyunra tetap berusaha menahan dada Sehun agar tak terlalu menyesaknya. Tapi Pria itu terus mengeratkan gendongannya dan menarik tubuh gadis itu mendekat.

Hyunra mulai memukul pelan dada pria itu, kehabisan nafas. Tapi Sehun tak sebaik tadi pagi yang mau melepaskan bibir mungil yang dicumbunya begitu saja. Ciuman itu mulai menuntut, membuat Gadis itu meremas kaus Pria itu kuat. Lagi, matanya siap menangis. Dan tubuhnya kembali melemas.

Tangan gadis itupun beralih kearah rambut halus milik Sehun. Menjambaknya pelan untuk menarik wajah Pria itu menjauh. Sementara tangannya yang lain memukul-mukul dada Sehun. Pria tampan itu meringis pelan, menahan gejolaknya. Ia pun mulai merasakan tubuh dalam gendongannya itu mendingin dan melemas. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi, Sehun dengan tak rela melepaskan ciumannya.

Dan benar saja, Hyunra langsung melemas dan kepala gadis itupun terjatuh di bahu bidang Sehun. Pria itu menatap wajah cantik pucat yang kini antara sadar dan tidak sadar itu. Ia tersenyum miring, sebelum kembali berjalan menuju pintu.

Sehun melangkahkan kakinya dengan wajah datar seperti biasa sambil membawa bobot ringan gadis ditangannya itu. Ia berpikir jika Hyunra terus larut dengan kesedihannya, itu akan membuang waktu. Dan tahu bahwa gadis itu akan menolak dan melawannya saat ia menggendongnya, membuatnya justru tergoda dan menciumi gadis itu secara tidak manusiawi. Dan inilah hasilnya, Gadis itu pingsan. Tapi sebenarnya, memang jauh lebih mudah begini untuk membawa Hyunra pergi dari sini.

Ya, Sehun harus segera membawa Gadis itu pergi dari rumah ini. Rumahnya sendiri. Sebelum Pria itu datang.

Sehun tidak ingin Hyunra bertemu dengannya. Dengan siapapun. Sehun harus menyembunyikan Gadisnya dari Pria itu. Dari siapapun. Sehun tidak ingin siapapun mengetahui keberadaan Hyunra, terkecuali Ayahnya. Tentu saja.

Sehun memang sangat posesif dan protective pada setiap hal yang berstatuskan miliknya. Apalagi Hyunra. Walaupun status gadis itu tidak jelas. Tetapi ia sudah mengklaim dirinya duluan. Maka ia tak ingin siapapun bertemu dengannya. Tak terkecuali Hyung nya sendiri.

.

OOO

.

Seorang Namja tampan berjalan memasuki ruangan mewah berdesign klasik itu dengan langkah tegas dan terkesan angkuh. Ia mengenakan pakaian casual biasa, tetapi terlihat begitu keren sehingga tak heran sedari tadi ia berjalan, para wanita bahkan pria melirik kearahnya kagum.

Kesan dingin begitu terasa setiap kali namja itu melangkah. Wajahnya yang begitu tampan ditutupi dengan kacamata hitam.

Terlihat sesosok Lelaki tua langsung menyambutnya saat ia masuk kedalam ruangan itu.

“Yifan, kau datang rupanya.”

Namja itu hanya menatapnya datar dari balik kaca matanya. Dengan nada berat dan dingin ia berucap,

“Aku tidak punya banyak waktu. Sekarang cepat katakan kenapa kau memanggilku?”

Lelaki tua itu terkekeh, entah apa yang lucu baginya. Ia menepuk pundak Yifan-Namja itu, bagaikan mereka seorang teman dekat. Sementara Yifan sendiri hanya tetap diam dan terus menatap dingin kearahnya.

“Santailah sedikit. Aku justru ingin memberimu kabar bahagia, kau tahu?”

Yifan mengernyitkan alisnya. Lelaki tua itu kembali berjalan menuju kesebuah sofa mewah disana. Setelah sebelumnya ia memberi isyarat pada Yifan untuk mengikutinya. Setelah ia duduk santai di sofa itu, Yifan tetap berdiri dengan tatapan dinginnya dihadapan lelaki tua itu.

“Kau tidak mau duduk dulu?” tawar Lelaki itu, dan tak mendapat balasan apapun dari lawan bicaranya.

“Cepat katakan.”

Lelaki tua itu menghela nafas sejenak sebelum kembali berbicara, “Baiklah, Kau tahu.. kau sudah mengerjakan semua tugasmu dengan begitu baik selama 5 tahun ini. Dan sekarang… sebagai balasannya, aku sudah memikirkan.”

Yifan menatap lelaki dihadapannya ini dengan pandangan tidak sabar. Kenapa ia harus menggantungkan kalimatnya? Sial.

“Lanjutkan,” ujarnya dingin. Lelaki tua itu tersenyum miring.

“Aku.. akan melepaskanmu. Aku akan memperbolehkan kau kembali ke Negara asalmu.”

“Mwo?”

“Kau tidak dengar? Kau bebas sekarang, Yifan-ssi. Kau boleh pulang ke negaramu, dan kembali menjalani hidupmu. Karena sepertinya aku sudah tak membutuhkan bantuanmu lagi. Dan.. kau juga tidak sudi lagi bekerja untukku.”

Aku memang tidak pernah sudi bekerja untukmu.

Yifan tidak dapat mengungkapkan perasaannya saat ini. Benarkah? Setelah hampir 5 tahun ia hidup dan bekerja untuk lelaki tua ini. Pekerjaan yang sebenarnya begitu terlarang dan haram dilakukan. Ia bahkan dilarang untuk kembali ke Negaranya, dan harus melupakan keluarga dan orang-orang yang disayanginya.

Tetapi kini, ia mendengar secara langsung dari Lelaki tua yang selama ini mengurungnya bahwa ia dilepaskan. Ia bebas.

“Kau.. serius?” tanya Yifan dengan nada sedikit tidak percaya, tetapi tetap terdengar kesan dingin yang begitu mendalam disana.

Lelaki tua itu mengangguk, “Ya. Kau bebas. Dan ah.. Satu lagi. Kau juga akan mendapatkan hasil kerja kerasmu selama 5 tahun ini. Kau bisa bayangkan berapa. Tapi karena aku sudah mengaggapmu sebagai anakku sendiri, Aku sudah menyiapkan uang yang sangat lebih dari cukup untukmu. Mungkin untuk 10 tahun kedepan atau lebih.”

Ia mengeluarkan sebuah kertas tipis dari kantong celananya dan menyerahkan itu kepada Yifan. Namja itu masih terdiam, denga ragu ia mengambil cek bertuliskan uang jutaan dollar itu. Kemudian tersenyum miring melihatnya.

“Cukup bukan? Jika tidak, kau boleh datang lagi padaku. Manatahu kau butuh bantuanku. Aku akan dengan senang hati membantumu. Karena sejauh ini, semua kerjamu memuaskanku. Kau memang ahli dalam bidang itu, Yifan-ssi.”

Senyuman Yifan semakin melebar dan terkesan menakutkan. “Baiklah, Terima kasih. Ada lagi yang ingin kau sampaikan?”

“Tidak, itu saja.”

Yifan mengangguk pelan, namja itupun menatap lelaki didepannya. “Baiklah, kalau begitu aku pergi.”

Lelaki tua itu mengangguk seiring dengan Yifan yang sudah berbalik berjalan kearah pintu. Ia mengangkat sebelah tangannya. “Selamat melanjutkan hidupmu!” serunya yang hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Yifan sebelum namja tampan itu menghilang dibalik pintu.

Yifan tidak dapat menyembunyikan kebahagiannya. Ia terus tersenyum kecil sambil berjalan menuju parkiran. Dalam pikirannya, ia menyusun berbagai rencana mengenai apa saja yang akan ia lakukan saat kembali nanti. Bagaikan menghirup udara bebas setelah bertahun-tahun di penjara.

Pikirannya pun tiba-tiba hanya terpusat pada suatu objek. Sosok. Yang begitu ia rindukan selama 5 tahun ini. Rasa rindu begitu besar hingga hampir membuatnya sesak setiap kali memikirkannya.

Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?

Namja tampan itu tersenyum. Begitu tak sabar untuk kembali pulang ke negaranya. Korea. Dan bertemu dengan sosok itu. Sosok yang selalu menemaninya dulu, sebelum akhirnya ia harus pergi meninggalkannya begitu saja.

Mungkin sosok itu begitu membencinya sekarang. Atau bahkan sudah melupakannya. Tapi ia akan segera mengubahnya. Ia akan kembali meraih sesuatu yang pernah menjadi miliknya dulu.

Dengan senyuman terkembang ia berucap,

Hime, Aku kembali!”

-TBC-

Huhu.. Oke, segini dulu ya Chapter 2 nya^^

Mian makin pendek dan mengecewakan. Saya sedang UAS SMP sekarang. Makasih banget yang udah mau koment. Saya masih terharu loh/? Beneran Makasih~ kalo bisa komentnya tolong dipertahanin ya, biar Nextnya ngebut 🙂

Disinilah ceritanya mulai awal dari hidupnya si Hyunra. Huhu.. Maafkan saya Baby(?) Soalnya kemarin banyak yang nggak tega dan kasihanin Hyunra nya. Jadi saya undur aja :)) Moment HunRa nya juga saya usahain banyak disini, tapi yg dapat cuman segini.

Hihi… Mian ya^^
Dan juga mungkin nextnya akan berubah genre menjadi School Life ato Marriage Life. Ato mungkin kedua-keduanya.

Ohya, di chapter ini banyak rahasianya loh.__. Banyak yang akan pulang kampung(?) 😀 dan awal Konfliknya mungkin dimulai di chapter depan, atau yang didepannya lagi(?) dan Lelaki tua itu, bukan berarti Ayah nya Sehun terus ya. Soalnya bukan Ayahnya Sehun aja yang udah tua.

Oke, nextnya tergantung peminatnya^^ Saya nggak maksa kok, cuman nyuruh-_- 🙂 Juga saya mau bilang, kemungkinan FF ini mungkin lebih cepat di publish di WP pribadi, karena disinikan ngantri^^ jadi mohon bersabar ya 😀

Tertanda,

Luhan beserta Istri

 

318 pemikiran pada “My Pervert Devil (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s