So Long (Chapter 1)

So Long (Part 1)

 IMG_5087

 

 

Author : Carla 蓝梅花 (@babycarl308)

 

Rate     : G

Length : Twoshoot

Genre   : Romance, Songfic

Cast: EXO-M Kris / Wu Yi Fan

APINK Chorong / Park Chorong

Support cast: Find by yourself

 

Hello~ I’m back with my new FF titled ‘So Long’! Dengan length yg baru pertama kali aku coba yaitu Twoshoot dan juga yg paling baru adalah, aku tertarik bikin genre Songfic dan accent FF ini bener-bener pure Korea. Anyway, this FF inspired by APINK’s new song in their 4th Mini Album ‘Pink Blossom’ called ‘So Long’. Pertama kali dengar lagunya dan liat lyrics translation nya I thought it will be good ya kalau dijadiin FF dan mungkin juga ini sebagian atau gambaran dari pengalaman pribadi(?) And lagi-lagi dua orang cast nya adalah MY ULTIMATE BIAS aaa Semoga sukses buat comeback EXO & APINK tahun ini ❤ (suka banget kalau KrisRong dijadiin OTP) xD Okay then, ga usah banyak omong lagi. . .

Enjoy your imagination and Happy reading ^^)/ ❤

 

P.s : Read, Comment, Like and SHARE! DON’T COPY W/OUT PERMISSION!!! This FF only published at Carla’s Little Trinkets and EXO Fanfiction on WordPress!

 

 

Music : APINK – So Long~ ♪♫

 

 

 

“You came to me, into my heart, as something more than a friend”

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Angin sore yang berhembus membuat rambutku berterbangan dengan bebasnya. Aku duduk sendiri di tepi sungai Han dengan satu cup Cotton Candy Frappe ditangan kananku dan sesekali aku meminumnya dengan nikmat lewat sedotan berwarna merah yang tertancap dari celah cup nya.

Aku memandangi langit yang berwarna orange kekuningan yang tampak jelas karena matahari akan mulai terbenam kira-kira setengah jam lagi. Tak jarang banyak orang bergandengan tangan dengan kekasih mereka, ikut melihat sunset sampai aku menyadari bahwa hanya akulah yang sendirian disini. Kuhela nafasku perlahan.

Aku jadi teringat sesuatu yang membuat ribuan kupu-kupu seolah terbang mengepakan sayapnya di dalam hatiku saat pertama kali berjumpa dengannya, dengan namja itu. Aku ingin merasakan perasaan itu lagi. Perasaan yang tak bisa dilukiskan dan diterjemahkan oleh kata-kata.

Sewaktu mata coklatnya bertemu dengan mataku dan tangannya meraih tanganku, membantuku berdiri karena tertabrak dirinya yang baru keluar dari ruang ganti pakaian yang tak sengaja kulewati. Huft. Kupegang dadaku yang sedikit berdebar.

Ya, masa-masa sekolah menengah pertama itu yang paling menyenangkan bagiku. Bertemu dengan teman, berkarya dan jadi berprestasi disekolah dan tentu, bertemu dengan cinta pertamaku. Kalian tahu, aku tidak pernah mengalami perasaan berdebar dan menegangkan itu sebelumnya di hidupku. Kupikir aku terlalu muda untuk merasakan itu, tapi walau aku masih terlalu kecil, aku juga punya perasaan, bukan? Dan kurasa semua orang juga pernah dan wajar mengalami itu.

Sayangnya, mendapatkan hatinya adalah hanya mimpi semata. Dia lebih tua satu tahun dariku, dan dia adalah seorang sunbae. Banyak sekali anak perempuan di sekolah itu yang mengidolakannya, bahkan menyukainya, seperti aku menyukainya juga–mungkin perasaanku bukan seperti perasaan anak gadis yang lain yang hanya mengidolakannya karena dia kapten tim basket yang berparas tampan dan bertubuh tinggi, tapi kenangan indah itu yang kurasa aku adalah orang pertama yang merasakannya.

Aku memejamkan mataku, terus merasakan angin yang bertiup dengan tenang dan kuhirup dengan perlahan, mengisi pasokan oksigen di dalam paru-paruku yang terasa hampa dan sesak. Mengapa sesak? Tanpa sengaja aku teringat juga satu kejadian pahit yang tentu pemeran utamanya adalah namja itu. Saat aku mulai terus mengagumi dan menyukainya, namun tanpa sepengetahuanku, sesuatu itu membuat hatiku tersayat. Entah berapa sayatan yang membekas tapi itu rasanya sakit sekali.

Dalam diam, aku mulai mereka-reka semua kejadian dan masa-masa itu dengannya. Layaknya aku membuka kembali buku memori yang tertulis dengan tinta permanen dan membaca lembaran demi lembaran.

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

 

FLASHBACK

 

Pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Setelah berpamitan dengan appa dan eomma aku segera bergegas dan menaiki sepedaku, mengayuhnya menuju sekolah. Udara pagi yang sejuk membuatku tersenyum senang. Kukayuh sepedaku agak cepat. Aku ingin cepat sampai di sekolah supaya bisa melihat pangeran itu lagi.

 

Sesampainya, aku memarkirkan sepedaku di halaman sekolah dan berjalan cepat menuju kelas. Aku mengedarkan penglihatanku ke lapangan basket dan mencari sosok itu. Kuhampiri pagar yang membatasi lapangan basket dengan halaman sekolah. Dia tak ada? Refleks aku mengerucutkan bibirku dan menundukan kepalaku. Apakah dia tidak masuk? Atau dia cedera setelah pertandingan basket? Hm, molla. Daripada memikirkan hal yang membuatku gundah, lebih baik aku cepat masuk kelas.

 

 

 

KRING

 

 

 

Bel istirahat makan siang berbunyi. Ah, akhirnya. Aku sudah lapar sejak tadi. Tanpa basa-basi, aku mengambil bekal di tasku, membawanya ke kantin dan memakannya sendirian disana. Uh, jinjja. Makanan buatan eomma selalu enak rasanya, apalagi saat lapar seperti ini, yang tak enak pun bisa jadi enak dalam sekejap.

 

 

Aku menghabiskan makananku cepat dan mengelap bibirku dengan tisu. Monster-monster di perutku akhirnya berhenti berteriak juga. Kuberanjak pergi meninggalkan kantin itu dan berencana untuk kembali ke kelas. Aku melewati ruang ganti pakaian dan tanpa sengaja aku menabrak seseorang dengan lumayan kencang dan aku pun terhuyung dan akhirnya jatuh ke lantai. Aigoo, sebegitu bodohnya sampai aku tidak bisa melihat orang yang lewat?

 

 

“Kau tidak apa?” sebuah suara serak mengagetkanku dan kurasa orang ini berbicara denganku, atau orang lain? Kutolehkan kepalaku ke

sumber suara itu.

 

O-omo. K-kris sunbae? Kupikir dia tidak masuk tadi? Tuhan, tolong katakan ini adalah mimpi. Dia, namja ini, seseorang yang selama ini ada dipikiranku dan yang telah mencuri perhatianku saat pertama kali berjumpa dengannya dan sekarang dia ada didepanku–dekat, dekat sekali.

 

 

“Nan gwaenchana,” jawabku gugup. Ia mengulurkan tangan kanannya kearahku dan aku kaget. Dia ingin membantuku berdiri? Melihatku diam dan menatapnya aneh, ia memiringkan kepalanya mengisyaratkanku untuk menerima uluran tangannya. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan menerima uluran tangannya lalu segera berdiri. Aku menunduk untuk merapikan rokku dan saat aku kembali mendongakkan kepalaku, mataku dan matanya bertemu. Tatapannya seolah mengikat mataku dan kepalaku seakan tak mampu bergerak untuk mengakhiri acara tatap menatap kami yang berlangsung hampir lebih dari 1 menit ini.

 

Lama kelamaan aku rasakan pipiku memanas, jantungku berdebar lebih kencang, dan salah satu dari kami tetap tak mau mengalah untuk berhenti menatap satu sama lain, bahkan diapun tidak. Jika ini mimpi, aku ingin terbangun secepatnya. Bagaimana bisa aku berada sedekat ini dengan sosok namja yang aku sukai sejak beberapa bulan lalu? Aku tentu tahu dia terkenal dingin dan cuek, tapi tatapannya yang lembut dan penuh kedamaian ini membuatku ragu dengan persepsiku tentangnya selama ini.

 

“E-eung. G-gomawo, sunbae. Maaf aku ceroboh karena menabrakmu, aku tak sengaja. Joesonghabnida,” aku segera membungkukkan badan di depannya dan sekali lagi menatap wajah tampan itu lalu kemudian berlari pergi–kembali ke kelas.

 

Aku tidak yakin dia memperhatikanku yang berlari seperti orang melihat hantu atau tidak. Yang pasti aku tak kuasa menahan gejolak dan detak jantungku yang berdebar tak seperti biasanya jika terus ingin berkeras kepala memenangkan lomba tatap menatap yang terjadi tanpa disengaja itu. Aku juga tidak biasa merasakan jantung yang seolah bergetar hanya karena melihat seorang namja.

 

Bagaimana jika aku pingsan atau jantungku melompat dari tempat asalnya? Kau tahu, tatapannya seolah menelanku hidup-hidup. Dan juga, ia semakin tampan dengan wajah yang sedikit basah, kutebak ia habis latihan basket untuk yang kesekian kalinya.

 

 

Aish, kurasakan pipiku memanas dan kurasa warnanya sudah berubah merah sejak tadi. Kutangkup kedua pipi chubby-ku dan sudut bibirku tertarik keatas membentuk senyuman malu dan huh, aku sendiripun tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku ini. Apakah aku benar-benar menyukai Kris sunbae? Apa dia juga menyukaiku dan lewat tatapan itu, ia pun merasakan apa yang aku rasakan? Mollayo.

 

 

 

 

…  A few days later …

 

 

 

Hari ini adalah hari Sabtu dan itu berarti hari ini Kris sunbae akan bertanding basket dengan sekolah lain. Ah, jeongmal. Aku merasa seperti fans fanatiknya yang menantikan hari spesial ini sejak jauh-jauh hari.

 

 

 Aku berpenampilan sederhana yang kira-kira serasi dengan umurku. Dress selutut dengan tangan pendek berwarna hijau pastel bercorak bunga-bunga kecil berwarna merah yang sangat kontras juga dengan polesan bedak tipis di wajahku. Tak lupa aku menyemprotkan parfum beraroma bunga lavender kesukaanku yang wanginya tak akan menusuk hidung. Kubiarkan rambut hitam sebahuku tergerai bebas tanpa hiasan rambut satupun.

 

Aku menatap pantulan diriku di cermin besar di kamarku. Seulas senyuman terbentuk dari bibirku. Sungguh, sespesial inikah aku berdandan hanya untuk datang ke tempat pertandingan basket Kris sunbae?

 

 

CKLEK

 

 

“Chorong-ah. Aigoo, anak eomma sudah cantik. Kau mau kemana?” eomma memasuki kamarku dan itu membuatku terlonjak kaget karena sedari tadi aku terkikik di depan cermin seperti orang aneh. Untung saja eomma tidak melihatnya, huft.

 

“Ani, eomma. Aku mau menonton pertandingan basket sekolah. Apakah boleh?” tanyaku pada eomma yang sedang merapikan rambutku dan mengelusnya sesekali.

 

“Tentu saja boleh. Kau pergi dengan siapa?”

 

“Sendiri saja, nantinya disana juga banyak teman,” jawabku dan mengajak eomma duduk di tempat tidurku yang berwarna pink.

 

“Eomma, apakah penampilanku terlihat berlebihan?” jujur aku ragu dengan pilihan fashionku, tak pernah aku sefeminin ini sebelumnya. Entah kenapa selera fashionku selalu buruk.

 

“Gwaenchana, tidak ada masalah. Kau hanya nampak berbeda dan kelihatan lebih feminine dan hmm perempuan,”

 

“Eoh? Jadi maksud eomma sedari dulu aku bukan perempuan?” kutatap eomma dengan wajah tak percaya. Sontak eomma terkekeh geli dan mencubit pipiku gemas. Aku cemberut karena eomma menggodaku seperti ini.

 

“Hahaha, anak eomma ini. Bukannya eomma mengatakan kamu seorang laki-laki sebelumnya, hanya saja selama ini kau berdandan tomboy dengan celana bermuda kesukaanmu itu, jadi jika kamu berpakaian seperti ini dan berdandan cantik, kau terlihat sangat sangat perempuan dan terlihat lebih dewasa,” jelas eomma dan menarikku kepelukannya.

 

“Yasudah, berangkat sana. Takut-takut nanti pertandingannya sudah mulai, hm?” eomma mencium keningku dan aku mengangguk nurut. Senyuman terbentuk di wajah kami berdua. Sungguh, aku sangat amat menyayangi eomma.

 

Setelah meminta izin pada appa dan berpamitan, aku segera berangkat ke tempat pertandingan basket Kris sunbae dengan menggunakan sepedaku. Kukayuh sepedaku tidak terlalu cepat, berencana ingin merasakan matahari terik yang menyinari pagi ini. Kebetulan sekali aku melewati sungai Han dan melihat banyak orang bersama kekasih ataupun keluarga mereka bercengkerama dan jalan-jalan disana dengan wajah yang penuh bahagia serta canda tawa. Aku juga ikut tersenyum melihat kebahagiaan itu, kapan ya aku bisa berkumpul lagi dengan appa eomma serta keluarga besarku atau mungkin aku mempunyai kekasih seperti mereka dan menikmati waktu berdua bersama? Aish. Park Chorong, kau ini berpikir apa.

 

Kuabaikan pikiran mempunyai kekasih itu, siapa juga yang mau dengan gadis tomboy namun pemalu dan pendiam sepertiku ini? Kris sunbae? Mana mungkin orang tenar sepertinya menyukaiku yang notabene hanya seorang anak dari keluarga sederhana. Itu hal yang mustahil.

 

 

 

Mwo? Ada apa ini? Kenapa setiap sepedaku melintas dihadapan orang-orang, mereka melirik aneh padaku? Apa ada yang salah dengan wajahku atau penampilanku? Apa mungkin juga aku melakukan suatu kesalahan? Andwae. Kurasa sedari tadi aku menaati peraturan pengguna sepeda di jalan raya, aku juga tidak mencuri. Lalu apa?

 

“Yeoja itu cantik sekali”, “Neomu yeppeuda”, kudengar suara-suara berat beberapa orang itu ketika aku baru saja melewati mereka. Mendengar dipuji, bukannya senang aku malah bergidik ngeri. Bagaimana kalau itu adalah ahjussi hidung belang yang senang menangkap gadis remaja sepertiku?

 

Kuputuskan untuk mempercepat laju sepedaku agar tidak dikejar atau mungkin dikeroyok oleh orang-orang asing itu. Bukan apa-apa, aku hanya was-was dan menjaga diri sebelum terjadi hal yang tidak aku harapkan dan merusak hariku.

 

Setelah kelelahan mengayuh sepeda layaknya dikejar hantu, akhirnya aku pun sampai di tempat pertandingan basket Kris sunbae yang sesuai dengan pengumuman di sekolah beberapa hari lalu. Sambil mengusap peluh yang jatuh dari pelipis, kulihat banyak sekali orang yang datang, walaupun anak-anak gadis lebih mendominasi. Hanya beberapa dari mereka yang aku kenal, karena sebetulnya aku tidak mempunyai teman dekat di sekolah, kalau ada juga hanya biasa-biasa saja dan tidak sedekat yang biasanya kalian atau mungkin orang lain punya. Entahlah, aku lebih suka menyendiri.

 

 

Aku memasuki ruang pertandingan itu dengan membawa sebotol air minum dan mengambil tempat duduk yang tidak terlalu depan. Ternyata sudah ramai begini, eoh? Apakah hampir semuanya pendukung tim Kris sunbae? Nado molla.

 

Tak berapa lama kemudian, diumumkan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Tim basket sekolah lain itu memasuki lapangan dan sontak yeoja-yeoja disekelilingku berteriak histeris. Aish, bisakah kalau teriak biasa saja dan tidak perlu sekeras itu, berlebihan sekali. Rutukku dalam hati.

 

Sepersekian menit setelahnya, tim basket sekolahku yang dipimpin oleh Kris sunbae pun menyusul memasuki lapangan. Sontak yeoja-yeoja ini semakin berteriak histeris dan memanggil nama ‘Kris’ sambil berdiri dan juga ada yang membawa banner bertuliskan ‘Kris Oppa, hwaiting! Saranghae!’. Tidak kuabaikan teriakan mereka kali ini, aku terus berusaha melihat Kris sunbae dari tempat dudukku karena didepan hampir semuanya berdiri dan menghalangi pandanganku. Huft. Sesusah inikah untuk melihatnya?

 

Tanpa kusadari, pertandingan yang ditunggu-tunggu akhirnya mulai. Kris sunbae yang dengan cekatan merebut bola basket yang dilemparkan keatas oleh kapten tim basket lawan dan mulai berusaha mengoper bola itu ke teman-teman satu timnya. Saat salah satu dari anggota tim Kris sunbae mendapatkan bola dan bersiap untuk memasukan bola tersebut ke ring lawan, bola itu direbut oleh tim lawan dan mendepaknya hingga sedikit terhuyung. Kudengar suara kekecewaan para yeoja-yeoja ini dan aku pun sebenarnya ikut kecewa. Aku ingin melihat tim Kris sunbae menang. Tidak apa, ini masih pemanasan. Kuyakin ada kesempatan bagi Kris sunbae untuk mendapatkan skor dan mengalahkan tim lawan.

 

Kutebak ini kesempatan kedua bagi tim sekolahku. Namja yang tadi mendorong teman Kris sunbae ternyata salah mengoper bola dan akhirnya bola itu sampai di tangan Kris sunbae. Omo! Inikah yang dinamakan keberuntungan? Dengan cepat dan lihai Kris sunbae berlari sambil terus men-dribble bola basketnya dan sesampainya ia di depan ring lawan yang jaraknya agak jauh, ia mengambil ancang-ancang untuk melompat dan. . .

 

 

TAK!

 

 

Kris sunbae berhasil memasukkan bola itu secara one-shoot ke ring lawan dan papan skor berubah menjadi 3 untuk timnya. Aku tersenyum dalam diam dan bertepuk tangan dengan bangga. Kalian tahu apa? Ia terlihat sangat mengagumkan ketika berlari dan memasukkan bola itu ke dalam ring yang membuat otot-otot yang terbentuk di lengannya terlihat jelas karena lengan bajunya yang sedikit terangkat. Bagaimana mungkin ia tidak membuat yeoja-yeoja yang menonton–termasuk aku–merasakan darah mereka berdesir dan berteriak sehisteris itu?

 

Skor terus bertambah dan bertambah untuk tim Kris sunbae. Dan setelah 1 setengah jam permainan berlangsung, akhirnya pertandingan resmi selesai dan kemenangan jatuh ke tangan sekolah kami–Kris sunbae. Kali ini aku berdiri dan bertepuk tangan, aku bangga dengan Kris sunbae yang mampu menaikan derajat kehebatan sekolah kami dalam bidang olahraga, basket tentunya.

Setelah hampir semua penonton pergi meninggalkan lapangan, aku juga ikut pergi dan memutuskan untuk pulang sampai aku melihat Kris sunbae dari kejauhan yang kelihatan lelah memberikan tanda tangannya kepada yeoja-yeoja penonton tadi. Layaknya artis terkenal, ia dengan senang hati melakukannya tapi tentu dengan senyum dingin yang tidak pernah hilang dari wajahnya.

 

Aku berniat untuk ikut mengantri di antrian yang menuju ke Kris sunbae. Aku tidak ingin tanda tangannya, aku hanya ingin memberikan air minumku yang belum aku minum sama sekali kepadanya yang terlihat sangat letih dengan keringat yang tak berhenti mengucur dari keningnya. Ini tak seberapa, tapi kurasa ini mampu membuatnya merasa senang dan tidak kecapekan lagi.

 

Beberapa langkah lagi aku akan sampai tepat di depan Kris sunbae sampai akhirnya. . .

 

 

BRAK!

 

 

“Kris oppa!” seorang yeoja menabrakku dengan sangat kencang dan aku pun terjatuh ke bawah di depan kaki Kris sunbae.

 

“Omo, kau siapa? Aku belum pernah melihat dirimu sebelumnya. Apa aku membuatmu terjatuh? Eh, camkamman, cara berpakaianmu tampak norak sekali, ahahahaha,” ucap yeoja asing itu mencibirku.

 

DEG. Kenapa aku jadi dihina seperti ini?

 

“Neo gwaenchana?” Kris sunbae berjongkok dan meraih tanganku, membantuku berdiri.

 

“Yak! Oppa! Kenapa kau membantu yeoja norak sepertinya? Aku ini pacarmu! Kalau aku jatuh kau tidak pernah memba–“

 

“Diam kau yeoja aneh! Berhenti mengurusi urusanku dan jangan seenaknya mengklaim kalau aku ini pacarmu! Aku tidak pernah mempunyai selera dengan yeoja murahan sepertimu! Dan aku tidak peduli kau mau jatuh atau tenggelam ke dalam laut sekalipun itu bukan urusanku!” Kris sunbae berteriak di hadapan wajah yeoja itu dan semua orang memperhatikan kami bertiga dan seakan bertanya-tanya apa yang terjadi.

 

“Oppa! Ish, dasar kau wanita jalang! Beraninya kau mencuri perhatian pangeranku!” yeoja itu terus menggerutu, meneriaki Kris sunbae dan juga aku yang sekarang sedang dibopong olehnya ke ruangan yang entah apa ini. Aku mendengar kata-kata itu. Ia menyebutku wanita jalang. Sungguh aku merasa rendah dan seakan ingin berbalik dan menampar wajah yeoja itu sampai berhenti berkata yang tidak-tidak tentangku.

 

“S-sunbae,” kataku gugup setelah ia mendudukkanku pada sebuah sofa dan ia duduk di kursi kecil di hadapanku.

 

“Mana yang sakit? Apakah ada yang terluka?” tanyanya sopan dan aku hanya menggeleng tanpa menjawab satu katapun.

 

“Mianhae, aku telah membuat sunbae ribut dengan yeojachingu sunbae,” aku merasa tidak enak dan meminta maaf padanya. Aku menunduk, mengucapkan kata ‘yeojachingu sunbae’ membuatku tertohok. Apa benar yeoja itu yeojachingunya?

 

“Aniyo, dia bukan siapa-siapaku. Bertemunya saja hanya berapa kali. Lupakan saja ucapan dari mulutnya yang menghinamu itu. Oh ya, apa kau ingin meminta tanda tangan padaku juga?” ia bertanya padaku dan aku menggeleng lemah. Tanganku mengulurkan botol air minum yang sedari tadi kupegang kepadanya.

 

“Untukku?”

 

“Ne, sunbae,” jawabku seadanya dan mengangguk lalu kembali menunduk lagi. Dapat kurasakan dirinya tersenyum. Aku tak melihat wajahnya tapi aku tahu dari hela nafasnya yang menggambarkan ia sedang tersenyum sekarang.

 

“Gomawoyo,” ucapnya senang dan aku pun mendongakkan kepalaku, melihatnya meminum air dari botol itu dengan sekali teguk.

 

“Ah, geurom. Kau yeoja yang menabrakku Senin pagi itu, ‘kan? Siapa namamu?” nama? Ia menanyakan namaku? Sungguh?

 

“N-nan… Naneun, P-park… Park Chorong imnida,” aku memperkenalkan diriku tanpa melihat wajahnya. Aku gugup dan takut.

 

Ia mengulurkan tangan kanannya dan meraih tanganku, “Kris imnida, senang bertemu denganmu, Chorong.” katanya.

“Nan arra,” namaku terdengar berbeda saat dia yang memanggilku untuk pertama kalinya. Tuhan, tolong hentikan detakan jantung ini yang samar-samar aku pun bisa mendengarnya.

 

“Kulihat kau selalu sendirian. Apakah kau tidak mempunyai sahabat?” tanyanya memulai percakapan. Tunggu, apa maksudnya ‘kulihat kau selalu sendirian’? Apa berarti ia sering memperhatikanku?

 

“A-aniyo, aku tak punya teman dekat. Apakah sunbae sering melihatku?”

 

“Ya, kadang. Kau suka ada di belakang pagar memperhatikanku yang sedang latihan basket,” Aduh. Jadi, selama ini ia diam-diam melihatku yang seperti penguntit mesum melihatnya latihan basket dari pagar pembatas itu?

 

Ia mengguncangkan tubuhku. “Hei, kenapa diam? Kau sakit?”

 

“E-eung, tidak. Nan gwaenchana, sunbae,”

 

“Kau boleh jadi temanku jika kau mau,” ia menatapku dengan seksama, seakan-akan mengajak mataku untuk menjawab tatapannya dan itu berhasil, mata kami bertemu lagi–untuk yang kedua kalinya.

 

“T-teman? Aniya, sunbaenim. Bagaimana bisa aku menjadi teman seorang yang terkenal dan hebat sepertimu?” aku memelas.

 

“Jangan berkata seperti itu. Aku juga manusia biasa sepertimu. Lagipula, apakah kau tidak bosan sendirian terus, hm?” Kris sunbae menepuk punggung tanganku beberapa kali dan aku berusaha menelan air liurku paksa. Lidahku kelu, aku tidak tahu ingin menjawab apa. Bertanya-tanya apakah ini mimpi atau bukan.

 

“T-tidak, aku tidak merasa bosan. Geundae–“

 

“–hush! Sudah, jangan banyak mengelak lagi. Chorong-ah, sekarang kita teman, kalau kau ada masalah, kau bisa bicara padaku. Arraseo?”

 

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

 

Aku merasa lapar. Kuputuskan untuk makan siang di salah satu restoran Korea favoritku. Sambil melihat-lihat sekitar aku mampir di salah satu toko butik wanita dan sekedar menengok ada baju baru apa yang kira-kira bagus dan mampu menarik perhatianku. Ada sepotong dress tanpa lengan berwarna pink tua dengan motif bunga berwarna-warni di bagian bawah roknya dan aku tertarik untuk mencobanya di fitting room.

 

Kulihat penampilanku lewat kaca besar yang terpampang di dalam bilik kecil ini dan aku tersenyum. Lumayan. Dan serasi dengan warna kulitku. Hitung-hitung menambah koleksi baju feminine, hehehe. Kuputuskan untuk membelinya. Setelah berganti pakaian, aku pun keluar dari kamar ganti dan segera ke kasir untuk membayar baju itu.

 

20.000 Won. Harga yang terjangkau dan masuk akal untuk baju sebagus itu. Aku mengambil kantung kertas berisi baju itu dan beranjak meninggalkan toko tersebut.

 

Tidak sampai berapa menit, aku telah tiba di restoran Korea favoritku di kawasan Gangnam ini. Huft. Mengantri lagi. Entah kenapa restoran ini selalu ramai pengunjung padahal di sekitar juga masih banyak restoran lain. Mungkin karena disini cita rasa masakannya lebih enak dan menggugah selera.

 

“Berapa orang?” seorang waitress (namja) menghampiriku dan bertanya padaku.

 

“Uh-oh, 1 orang,” jawabku lembut dan tersenyum kepadanya dengan sedikit mendongak karena tinggi badannya yang jauh lebih tinggi daripadaku.

 

“Ireumi mwohaeyo?”

 

“Chorong. Park Chorong,”

 

“Arra, gomawo. Nanti namamu akan dipanggil jika sudah ada tempat,” eh? bahkan tempat untuk 1 orang saja tidak ada? Aku mengangguk mengerti dan tersenyum lagi pada waitress jangkung ini.

 

Sambil menunggu, aku menyalakan ponselku dan ternyata ada 2 buah pesan singkat dari Seunghee, adik sepupuku.

 

‘Eonni, neo eodiseo?’

 

‘Nanti malam, appa dan eommaku akan datang kerumah eonni untuk berkumpul makan malam. Pastikan dirimu ada dirumah ne, eonni? Jeongmal bogoshippeo^^’

 

Aku tersenyum membaca pesan itu dan segera membalasnya.

 

‘Huuuu~ aku pasti ada di rumah. Nado bogoshippeo, Seunghee-ya. Eonni masih ada diluar rumah sekarang, tapi nanti aku akan pulang cepat, arraseo? Sampai bertemu nanti malam^^’

 

Send. Betapa aku sangat merindukan Seunghee adik sepupuku itu selama tidak bertemu kira-kira 5 bulan yang lalu saat tahun baru. Ia sangat lucu dan selama ini dia juga yang menjadi tempat curhatku.

 

“Park Chorong-ssi!” mendengar namaku disebut, aku segera melirik kearah waitress tadi dan berjalan masuk ke dalam restoran dan duduk di tempat yang disiapkannya untukku.

 

“Mau pesan apa, agasshi?”

 

“Eung, 3 porsi jokbal (kaki babi), 1 porsi bulgogi bibimbap oh ya dan juga 1 porsi buddae jiggae. Minumnya teh saja,” kuserahkan kembali buku menu padanya dan menundukkan sedikit kepalaku tanda ucapan terima kasih.

 

Entahlah, aku ingin makan banyak hari ini. Kalian tahu kan perutku ini perut karet, dan tentu kalian juga tahu kesukaanku adalah jokbal. Menyantap 1 porsi jokbal dengan 10 kaki babi di dalamnya tidak akan cukup bagiku. Kalau sedang kambuh food monster nya, aku bisa saja memesan 5 sampai 6 porsi jokbal. Kira-kira 60 kaki babi, jika dibagi 2 berarti 30 ekor babi yang kakinya kumakan. Hahaha menyeramkan, bukan? Babi-babi itu lumpuh karenaku. Ckckck.

 

 

‘Seulpohajima No No No~ honjaga anya No No No–’

 

 

Handphone ku berdering dan langsung kuangkat.

 

“Yeoboseyo?”

 

‘Chorong eonni!’ sapa seorang yeoja dari seberang sana. Tanpa melihat nama di layarnya saja sudah bisa kutebak ini adalah Bomi. Si perut karet kedua setelahku.

 

“Ne, ppomi-ya! Waegeurae?”

 

‘Aniyo, eonni dimana? Ada waktukah untuk makan siang bersama?’

 

“Oh, geurom. Tentu saja. Kebetulan aku ada di restoran favoritku di Gangnam. Ya, camkamman! Baru saja aku memesan buddae jiggae, kau ini peramal eoh? Atau kau memata-mataiku? Bagaimana kau bisa mengajakku makan bersama disaat aku memesan itu?” sambitku padanya.

 

‘A-ani. Mwo?! Buddae jiggae? Kau memesannya untukku? Oh jinjjayo?! Waaa~ arrata! Aku akan segera kesana, eonni! Gidaryeo~!’ PIP. Sambungan telepon terputus olehnya. Cih. Anak itu. Kalau mendengar kata buddae jiggae seakan lupa akan segalanya. Dasar.

 

“Eonni~!” BRUK. Sepasang tangan memeluk leherku dari belakang dan itu membuatku tersedak saat aku baru saja mencoba meminum teh.

 

“Ya! Kau ini mengagetkanku. Aku ini sedang minum. Dasar anak nakal,” kucubit pinggangnya lalu menatapnya sinis setelah aku selesai batuk-batuk dan  membersihkan mulutku dengan tisu. Merasa dirinya ditatap ia menyengir tak bersalah dan seenaknya duduk disampingku.

 

“Hm, jangan marah seperti itu, eonni. Oh, geurae. Mana buddae jiggae nya?”

 

“Hey, kau kira yang memasak itu robot? Aku juga baru sampai dan baru memesannya,” kusentil keningnya pelan.

 

“Kenapa cepat sekali datang kemari? Kau naik apa?” tanyaku penasaran. Ya bagaimana tidak, baru beberapa menit setelah menelepon tiba-tiba sudah sampai disini dengan secepat kilat. Aish.

 

“Hehehe, kebetulan aku ada disekitar sini juga tadi. Kau marah ya kalau aku ikut makan denganmu?”

 

“Aniyo, aku tidak marah. Untuk apa juga marah padamu? Membuatku semakin tua saja,”

 

 

“Jadi kau mengaku dirimu tua?”

 

 

Aku membuka mataku lebar dan menatapnya dengan tatapan membunuh. “Bomi. Kau mau makan bersamaku atau pulang saja?” kubertanya padanya dengan suara selembut mungkin tapi mengandung dendam disetiap kata.

 

“Ani, ani. Eonni aku hanya bercanda,” ia memelukku manja dan aku hanya menghela nafas paksa. Kalau ada maunya pasti manja seperti anak kecil. Maniak makanan. Shikshin. Babo.

 

 

Tak berapa lama setelah Bomi datang dan memelukku seperti anak memeluk eomma nya, makanan yang telah kupesan tadi pun datang. Waitress itu menyajikan semuanya dihadapanku dan Bomi. Dengan mata yang berbinar-binar, Bomi menatap buddae jiggae dan aku menatap jokbalku yang seakan-akan bersinar terang.

 

 

 

“Jogiyo, aku pesan ttukbokki 1 porsi dan teh satu lagi ne?” Bomi berkata pada waitress itu dan berbalik badan padaku “Tenang, yang ini aku yang bayar,” ia menyiramku dengan air terlebih dahulu sebelum aku meledak dan marah padanya karena memesan tanpa seizinku dan nanti ujung-ujungnya aku juga yang bayar. Dalam hati aku berkata ‘anak pintar’ dan mengangguk mengerti.

 

 

Tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera menyantap jokbal dengan lahap. Sesekali juga aku menyuap bibimbap lalu meminta buddae jiggae milik Bomi.

 

“Eonnih, eumh igeo neomu hmm mashsheoyoh” ia berbicara dengan tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.

 

“Kalau mau berbicara, telan dulu makananmu. Pantas saja tidak ada namja yang mendekatimu kalau lihat tingkahmu seperti ini,” kuseka bibirnya yang berwarna merah karena kuah buddae jiggae dengan tisu. Ia tersenyum sekilas.

 

“Bolehkah aku minta jokbalnya?”

 

“Tentu,”

Acara makan siang kami berlangsung dengan menyenangkan dan kami saling bertukar dan mencicipi makanan satu sama lain. Tiba-tiba datanglah seorang yeoja dan seorang namja yang wajahnya tak asing bagiku dan mereka duduk di bangku sebelah kiri kami–tepatnya namja itu duduk di samping kiri Bomi. Aku hampir saja tersedak dan langsung meminum teh dan menelannya sekejap.

 

“Ya! Eonni, kau kenapa?” tanya Bomi sambil mengusap-usap punggungku guna membantuku berhenti batuk. Tak kuhiraukan pertanyaannya dan terus saja kuperhatikan namja itu dengan seksama. Bomi yang merasa aku memperhatikan sesuatu mengikuti arah mataku ke namja itu.

 

“Namja itu… nugu?” Bomi berbisik padaku dan aku pun segera tersadar lalu menggeleng pelan dan mengalihkan perhatianku dari namja itu. Bagaimana bisa ia ada disini setelah menghilang dari peradaban 7 tahun lalu tanpa kabar dan…aku mengenal jelas yeoja itu. Itu. . . . .

 

 

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

 

FLASHBACK

 

 

 

Sudah seminggu sejak Kris sunbae mengajakku menjadi temannya. Selama ini ia selalu menemaniku dan aku juga selalu menemaninya latihan basket. Kadang, aku merasa tak nyaman berteman dengannya. Bukan karena dia jahat. Dia baik, bahkan sangat baik. Parasnya yang dingin tapi hatinya sangat lembut dan baik. Tapi, para yeoja-yeoja satu sekolah tidak menyukai kalau Kris sunbae berteman denganku. Mereka semua memandangku sebelah mata. Aku juga sering berpikir untuk menjauhinya, tapi apa daya aku tak tega melakukan itu. Ia sudah baik padaku, tidak mungkin kan aku mengkhianatinya?

 

“Chorong-ah!” suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Segera kutolehkan kepalaku kebelakang dan Kris sunbae melambai padaku lalu berlari menghampiriku.

 

“Annyeong sunbae,” sapaku ramah dan membungkukkan badan. Aku tetap memanggilnya sunbae walau ia sudah beribu-ribu kali mengatakan jangan memanggilnya dengan sebutan sunbae alias senior. Ia ingin aku memanggilnya ‘oppa’ tapi aku keras kepala tak ingin merusak image ku dan di cap kurang ajar dengan yang lebih senior. Akhirnya diapun mengalah dan berkata boleh memanggilku apa saja sesuai keinginanku.

 

“Hey. Pagi sekali datangnya,” tegurnya ramah sambil mengacak pelan rambutku. Aish. Bisakah dia tak melakukan ini? Nanti yang lain melihat dan sudah pasti aku makin direndahkan.

 

“E-eung. Geurae, aku hanya ingin duduk di taman sekolah terlebih dahulu sebelum masuk kelas,” kataku menjelaskan.

 

“Yasudah, kajja,” ia menarik tanganku dan membawaku ke taman sekolah yang kumaksud. Kami berdua duduk di bangku taman dan bercengkerama sambil mendengarkan kicau burung juga udara pagi yang menyegarkan.

 

“Sunbae tahu apa? Sunbae adalah orang pertama yang mau menjadi teman dekatku.  Walaupun sering direndahkan oleh teman-teman lain karena berteman dengan orang terkenal sepertimu, aku tidak merasa kesepian lagi. Sunbae juga suka menemaniku dan mendengarkan ceritaku,” apakah ada kesempatan untukmu datang kedalam hatiku sebagai seseorang yang lebih dari teman? Ingin sekali aku bertanya satu hal itu padanya. Tapi aku tidak mau lancang.

 

“Jinjja? Baguslah kalau begitu, aku akan selalu menjadi temanmu dan abaikan saja omongan orang-orang aneh itu, kau yeoja baik dan pantas untuk ditemani,” ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku tersenyum, bahkan ia pun juga ikut tersenyum. Tuhan, kumohon hentikan waktu sekarang juga.

 

 

“Chorongie, mau makan siang denganku?”

 

“O-omo! Sunbae, kau mengagetkanku,” Kris sunbae menunggu di depan toilet sedari tadi dan mengagetkanku yang baru saja keluar.

 

“Hehehe, mianhae. Ayo, kutemani kau makan di taman sekolah,” ia menarik tanganku dan aku mau tak mau harus mengikutinya. Dalam diam aku terkekeh geli dan menggeleng pelan.

 

 

“W-wae? Hm maksudku kenapa makan disini? Bukannya lebih enak di kantin?” tanyaku gugup setelah kami duduk di bawah pohon rindang beralaskan rumput nan hijau.

 

“Aku hanya tidak ingin kau diejek lagi, aku juga ingin kamu merasa tenang selama berteman denganku,” katanya dengan suara lembut.

 

“Nah, kau bawa bekal apa hari ini?” ia membantu membukakan tas bekalku.

 

“Eomma membuat kimchi bibimbap dan bulgogi bibimbap. Terserah sunbae mau pilih yang mana,” kuulaskan sebuah senyum padanya.

 

“Eh? Aku juga dapat?” kagetnya.

 

“Majjayo! Aku meminta eomma membuatkan masakan khas Korea yang enak untukmu. Aku tahu sunbae belum lama di Korea, ‘kan? Dan pasti rasa makanan China dan Korea sangatlah berbeda. Maka kumohon terimalah,” tawarku sambil menatapnya, memelas.

 

“Ah, kenapa jadi repot-repot begini, aku tidak pernah ingin merepotkanmu, Chorong-ah. Tapi, baiklah, aku akan memilih hmm… bulgogi bibimbap, nona Park?” ia menggodaku dan sontak aku tertawa dan memberikan kotak bekal berisi bulgogi bibimbap dan juga sendok untuknya.

 

“Wah~ kelihatannya enak, aroma nya juga sedap. Kucoba ne?” ia membuka bekalnya dengan mata yang berbinar-binar sambil menghirup aroma bibimbap itu. Aku mengangguk, menyetujui perkataannya.

 

“Daebak!!! Ini, enak sekali. Neomhmuh eumhh mashiehsohyeoh,” Kris sunbae bergumam tak jelas karena mulutnya dipenuhi makanan yang belum sempat ia telan. Melihat itu, aku segera mengambil tisu dan membersihkan noda makanan dari mulutnya.

 

“Percuma saja sunbae berbicara seperti itu, aku tak bisa mendengarnya. Ditelan dulu. Ini minum,” kuberikannya sebotol air dan setelah menelan bibimbap itu, ia meminum air nya untuk membantu mencerna makanan yang baru saja ditelan. Ia dan aku tersenyum. Mata kami bertemu lagi untuk yang kesekian kalinya.

 

Aku dan Kris sunbae menikmati acara makan siang itu yang terasa lama itu di taman sekolah yang hanya ada kami berdua disini. Sesekali kami tertawa bersama, menggambar apa saja di selembar kertas dan melihat gambar buatan Kris sunbae yang terlihat seperti gambar anak usia 3 tahun, alhasil aku tertawa terbahak-bahak.

 

 

 

KRING KRING KRING

 

 

 

Bel tanda istirahat usai tiba-tiba berbunyi. Sontak aku dan Kris sunbae langsung merapihkan semuanya dan beranjak kembali ke kelas.

“Sampaikan terima kasihku untuk eomma mu ne? Bibimbapnya enak sekali. Maaf jika aku merepotkanmu, gomawo Chorongie,” ia mengusap puncak kepalaku dan beranjak pergi kembali ke kelasnya, tapi sebelumnya, ia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aigoo, bisakah ia tak melakukan itu? Kuhela nafas dengan lembut. Aku lega dan merasa senang, sangat amat senang. Akhirnya semua mimpiku untuk menjadi dekat dengannya terkabul. Walau masih dengan status teman. Tak lebih dari itu.

 

 

 

Kalian tahu apa, sepertinya aku sudah benar-benar menyukainya.

 

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUED. . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

30 pemikiran pada “So Long (Chapter 1)

  1. A Simple Romantic Story but make entice me to read it…
    I Like this story thor 🙂
    Nggak sabar mau baca yang lanjutannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s