We Are EXO! (Chapter 3)

a

Title : We Are EXO!

Author : Elisa Hutami

Main cast :

Kim Yoo Jung a.k.a Dara
Oh Sehun a.k.a Sehun

Support Cast : Yoo Young Jae a.k.a Young Jae
Kwon Yuri a.k.a Nyonya Oh
Choi Sooyoung a.k.a Bum Ajhumma

Genre : School life, Fantasy, Family, Romance, Friendship, Mystery

Length : Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Original

Summary : Planet bumi yang sudah sangat lama dihuni manusia ini ternyata mempunyai banyak rahasia yang mungkin tidak akan masuk di akal manusia biasa. Salah satunya adalah sebuah pohon yang diberi nama pohon kehidupan yang kini sudah mulai mengering karena suatu alasan, dan ke-12 member EXO diperintahkan untuk tinggal di dunia manusia dengan tugas untuk mencari “sesuatu” yang bisa mengembalikan kesuburan pohon kehidupan. Namun ternyata tugas ini sangat sulit bagi mereka, karena selama di dunia manusia mereka harus bertingkah sewajarnya manusia, dan mereka juga harus pergi ke sekolah yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan, serta memiliki keluarga baru di bumi. Bagaimana cerita selengkapnya? Pantengin terus We Are EXO!

3st We Are EXO !

Suara mobil polisi semakin mendekat bersamaan juga dengan suara mobil ambulans. Orang-orang segera mengerumuni truck tron-ton yang terbalik itu, hanya beberapa orang saja yang masih tinggal di kendaraan mereka.

Karena kecelakaan ini, arus di perempatan itupun macet total.

Angin malam berhembus ke arah Sehun dan Dara yang sekarang sedang berdiri di tengah jalan, membuat mereka sedikit kedinginan karena mereka juga hanya memakai seragam sekolah dengan jaket tipis saat itu.

Sehun masih tetap memeluk Dara, Dara meletakkan kepalanya diatas punggung Sehun nyaman, begitupun Sehun. Tidak lupa Dara melingkarkan tangannya ke punggung Sehun, Sehun melingkarkan tangannya ke lingkar pinggang Dara.

Dara masih tetap menangis kencang dibawah sinar bulan purnama malam itu, namun kemudian tangisannya semakin lama semakin lirih, sampai saatnya kini dia sudah berhenti menangis. Dara kemudian membuka matanya perlahan.

Deg! Begitu kagetnya Dara menyadari bahwa orang-orang yang berada di kendaraan mereka ternyata sedang memandangi Sehun dan Dara sambil berbisik-bisik tidak suka “Lihatlah mereka! Dasar anak muda zaman sekarang, pacaran tidak tahu tempat!” kata seorang pengemudi mobil di jalan itu.

Maka Dara segera melepaskan pelukkannya, Sehun yang kebingungan kini memegangi pundak Dara. Dara menatap Sehun untuk sesaat, lalu dia segera mengusap air matanya dengan kedua tangannya.

Tanpa Sehun sadar, kedua tangannya bergerak membantu Dara untuk mengusap air matanya, namun kemudian Dara menghentikan tindakan Sehun yang pasti akan membuat orang-orang yang melihatnya semakin tidak suka. Dara memegangi kedua tangan Sehun dengan kedua tangannya lembut.

“Oppa gomawo karena telah menyelamatkanku” Dara tersenyum.

“Menyelamatkan..mu?” Sehun bingung.

Dara melepaskan kedua tangan Sehun “Emh..” katanya yang lalu menganggukkan kepalanya “tapi oppa..” tambah Dara ragu.

“Mwo?” tanya Sehun penasaran.

“Sepertinya kita harus segera minggir, dari tadi orang yang melihat kita saling berbisik” kata Dara yang lalu membuat Sehun menatap ke sekitar.

Deg! Kali ini Sehun lebih kaget lagi “Aish.. apa sudah ada wartawan disini? Bagaimana jika aku diliput saat aku sedang berpelukan dengan Dara di tengah jalan? Andwae..!” kata Sehun dalam hati.

“Ah geurae.. kajja” Sehun menarik tangan Dara lalu segera berjalan perlahan karena kaki Dara yang mungkin masih terasa sakit ke pinggir jalan melewati kendaraan yang masih terparkir di jalanan.

Dara tersenyum kecil saat dia ditarik Sehun ke pinggir jalan “Sehun oppa.. terkadang kau perhatian juga” pikir Dara dalam hati.

Mereka sudah sampai di tempat Sehun memarkirkan mobil ferari merah milik Dara.

Sehun melepaskan tangan Dara. Dara mengatur napasnya, sementara Sehun berjalan mendekati mobil.

Deg! Begitu kagetnya Sehun yang melihat sebuah smartphone yang sama seperti miliknya rusak di atas tanah, Sehun merogoh-rogoh saku celananya “Eobso! Berarti smartphone rusak itu milikku! Ah andwae!!” jerit Sehun dalam hati.

Lalu Sehun segara berjongkok untuk mengambil smartphonenya yang terjatuh di tanah dekat dengan pintu mobil.

“Oppa wae ?” tanya Dara penasaran yang kini berdiri di belakang Sehun.

Sehun berdiri lalu menghadap Dara “Ah.. smartphoneku jatuh, tapi gwenchana..” Sehun menyembunyikan smartphonenya dibelakang punggungnya dengan tangan kirinya.

“Oh..” kata Dara singkat “pasti smartphone oppa rusak sekarang, lihat saja pecahan screen yang ada di tanah, benar-benar pembohong yang buruk” pikir Dara.

“Oppa, aku sangat lelah, bisa kita pulang sekarang?” tanya Dara merubah topik.

“Ah geurae.. kajja! Kita pulang sekarang, ajhumma dan ajhussie pasti sedang menunggu kita” kata Sehun polos.

Dara menundukkan kepalanya lalu tersenyum miring “Ajhumma dan ajhussie.. haha.. lucu sekali..”

Sehun hanya diam, lalu dia segera masuk ke mobil diikuti Dara kemudian pergi pulang, ya meskipun di perjalanan sempat macet karena telah terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh Sehun.

* * *

Saat mereka sudah sampai dirumah, mereka tidak saling ngobrol, sampai saat ketika mereka sudah di depan pintu kamar mereka masing-masing.

Dara sudah sedikit membuka pintu kamarnya “Tidurlah yang nyenyak, besok tidak sekolah juga tidak apa-apa” kata Sehun yang lalu membuka dan menutup pintu kamarnya cepat.

Dara berbalik badan, dia mengedip-edipkan matanya “Tadi.. apa yang oppa katakan?” pikirnya “ah molla..” lalu Dara segera masuk ke kamarnya.

Dara menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur king sizenya setelah dia berganti pakaian, lalu dia menarik napas dalam-dalam.

“Sehun oppa..” Dara memiringkan tubuhnya “tadi aku melihat sumber angin besar yang menerbangkan truck itu, tapi… kenapa sumbernya malah.. seperti dari mulutmu Sehun oppa? Aku salah lihat sajakan? Atau..” Dara terduduk “siapa sebenarnya kau Sehun oppa?”

1 detik.. 2 detik.. 3 detik..

“Yah oppa! Apa kau avatar?” Dara terkejut dengan pikirannya sendiri “ah maldandwae.. aish..” Dara mengacak-acak rambutnya “ah molla.. aku harus tidur, besokkan sekolah” Dara kembali membaringkan tubuhnya.

Dara susah tidur malam itu karena memikirkan Sehun, namun dia tetap menutup matanya untuk mencoba tidur.

* * *

Sekitar pukul 01.00 di kamar Dara.

Tiba-tiba abu hitam muncul di pojokkan yang lalu membuat seorang namja hadir di tengah-tengah kegelapan kamar milik Dara.

Saat ini namja itu tidak berjubah lagi seperti biasanya, namun namja itu memakai kaos lengan pendek, celana jeans hitam, dan sepatu kulit serta wajahnya penuh dengan coretan hitam besar yang hampir memenuhi pipi kirinya.

Namja itu langsung berlari mendekati Dara yang sedang tertidur begitu dia sudah ada di kamar itu.

“Dara gwenchana?” kata namja itu panik yang lalu membuka selimut yang menutupi Dara “ah.. syukurlah kau baik-baik saja..” kata namja itu lega karena melihat tubuh Dara tidak terluka sedikitpun. (ya iyalah.. diakan pake celana dan baju panjang, ya yang keliatan cuman pergelangan tangan, kaki dan kepala -_-“)

Namja itu memegangi dadanya lega “Aku benar-benar khawatir karena aku melihatmu hampir tertabrak tadi, tapi karena ada Sehun sialan itu disana, aku jadi tidak bisa mendekatimu.. mian..” namja itu tertunduk sambil terduduk di atas tempat tidur Dara.

Dara masih saja tetap menutup matanya di atas tempat tidurnya yang sangat nyaman, tidak perduli suara sekeras apapun yang menghampirinya saat tidur, dia akan tetap menutup matanya.

Namun tiba-tiba pintu terbuka, cahaya terang masuk ke dalam kamar gelap itu, membuat namja itu sedikit silau karena cahaya yang datang tiba-tiba.

Deg! Tiba-tiba muncullah sosok Sehun di antara pintu itu sambil memegangi makanan sebuah tongkat panjang yang terbuat dari kayu.. ya bisa dibilang tadi dia telah mematahkan sapu, lalu tongkat yang dia pegang saat ini adalah gagang sapunya.

“Siapa disa..” kata-kata Sehun langsung terhenti melihat Dara yang sedang tertidur, oke itu bukan masalahnya, masalahnya adalah ada seorang namja yang terlihat seumuran Sehun duduk disampingnya sambil memegangi selimut yang seharusnya menutupi Dara.

Jreng..! Pikiran kotor Sehun langsung mengalir deras di otak kecilnya.

Tangan Sehun mengepal sambil memegangi tongkatnya kuat, mulutnya menyeringai “Apa yang kau lakukan padanya hah?” teriak Sehun yang lalu berlari mendekati namja itu.

Sehun memukulkan tongkatnya ke arah namja itu dengan sekuat tenaga. Namun tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga, namja itu langsung menangkis tongkat dengan tangan kanannya.

“Mwo?” pikir Sehun kaget karena namja itu berhasil menahan tongkatnya “siapa kau sebenarnya?” Sehun masih dalam posisi memukulkan tongkat dan namja itu masih dalam posisi menahan tongkat.

“Nan? Apa kau benar-benar ingin tahu? Atau mau tahu aja?” kata namja itu tidak serius.

“Jawab pertanyaanku, palli!” bentak Sehun tidak sabar lalu menyeringai.

Tiba-tiba namja itu hilang dari pandangan Sehun, dia sudah tidak ada di atas tempat tidur Dara lagi.

“Yah! Dimana kau? Dasar pengecut!”

Lalu tiba-tiba namja itu muncul di belakang Sehun, Sehun menoleh ke belakang karena dia merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Namun saat Sehun sudah menoleh ke belakang, namja itu menghilang lagi.

“Pengecut!” kata Sehun langsung setelah melihat namja itu menghilang lagi.

Saat ini Sehun benar-benar tidak memperdulikan Dara yang entah mungkin terbangun karena teriakannya atau tidak. Dia lebih mementingkan kepada makhluk yang sangat berbahaya kini sedang berhadapan dengannya.

“Aku disini” kata namja itu yang lalu muncul di pojokkan kamar Dara.

Sehun segera menoleh ke arah datangnya suara.

“Sekarang kau sudah tahukan siapa aku, Sehun EXO?” namja itu tersenyum miring.

“Kau..” Sehun menelan ludah, mengepalkan tangannya kuat, lalu membuka mulutnya “mutan pengecut!” kata Sehun dengan nada tingginya.

“Daebak!” namja itu bertepuk tangan “tapi aku tidak pengecut” tambahnya.

“Baru tadi aku menggunakkan EXO Power, dan kini sudah ada mutan yang menemukan rumahku? Apa mulai saat ini aku harus segera pindah rumah dan berhenti sekolah? Dan apa aku harus menggunakkan EXO Powerku untuk membunuhnya? Tapi apa itu tidak membuat semakin banyak mutan yang mengetahui keberadaanku?” pikir Sehun dalam hati.

Namja itu mendekat ke tempat tidur Dara.

Kini namja itu berdiri di samping tempat tidur Dara dan berhadapan dengan Sehun. Mereka saling berpandangan tajam.

“Tapi aku tidak akan melukaimu, Sehun EXO” namja itu tersenyum miring lagi.

“Kau..” otot-otot Sehun tertarik dengan tangannya yang semakin mengepal keras.

“Oh.. tenang saja.. aku serius dengan kata-kataku tadi” namja itu memamerkan tangannya di depan dada.

“Kau kira aku akan mempercayaimu hah? Mempercayai orang yang sudah merusak Pohon Kehidupan? Membuat member EXO saling berpisah? Yang lalu membuatku dan member EXO yang lain diasingkan ke dunia manusia ini? Lalu kau kira aku akan mempercayaimu dengan mudah hah?!” mata Sehun memerah karena terbawa emosi.

“Pohon apa? Aku benar-benar tidak ta..” kata-kata namja itu terhenti begitu merasa lehernya telah disentuh tongkat dengan cepat.

Ternyata tongkat yang dipegang Sehun lumayan panjang, bahkan lebih panjang dari lebar tempat tidur Dara.

“Jangan membuatku semakin marah lalu membunuhmu! Pohon itu sangat berarti untuk kami!” kata Sehun serius sambil tetap memegangi tongkat itu kuat.

“Haha..” namja itu tertawa “membunuhku dengan tongkat seperti ini? Yah! Apa kau sebodoh itu? dan kenapa kau tidak membunuhku dengan anginmu saja? Bukankah itu lebih masuk akal?” namja itu menarik napas “ah.. kau takut jika kau menggunakkan EXO Powermu maka akan semakin banyak rasku yang mengetahui keberadaanmukan?”

Sehun masih tetap fokus memandangi namja itu.

“Tapi kau telat Oh Sehun! Semuanya sudah mengetahui kalau kau adalah salah satu member EXO, kau bisa saja dibunuh oleh salah satu rasku, mungkin hari ini”

“Diam kau! Bahkan sebatang tongkat bisa menjadi senjata yang sangat membunuh jika digunakkan dengan benar!”

“Yah! Bahkan sekarang aku bisa saja pergi menghilang lagi, ara?” namja itu menarik napas panjang “ah begini saja, aku tidak akan menyakitimu karena aku berhutang budi pada yeodongshaengmu, apa kau percaya?”

“Mwo?” Sehun bingung “apa Dara pernah bertemu dengan mutan pengecut ini sebelumnya? Tapi dimana? Kapan?” pikir Sehun dalam hati “apa kau rela mati sekarang demi yeodongshaengku? Jika begitu maka aku akan mempercayaimu” kata Sehun.

“Yah yah yah.. mana bisa begitu?” namja itu menatap Sehun heran.

“Cepat katakan apa tujuanmu datang kesini, jangan bilang kau datang ke sini hanya karena ingin menemui yeodongshaengku” kata Sehun yang masih memegangi tongkatnya.

“Tapi memang begitu kenyataannya” namja itu berpikir “yah.. bagaimana jika aku membuatmu menjadi tidak bisa dilacak lagi oleh rasku yang lain, apa dengan begitu kau bisa mempercayaiku? Dan membiarkanku datang setiap malam ke rumahmu?”

“Mwo? Sebenarnya ada apa dengan mutan pengecut ini? Dia bahkan berkata dia tidak tahu apa-apa tentang Pohon Kehidupan, dia mengenal Dara, dan dia bisa membuatku tidak bisa dilacak oleh rasnya? Apa dia ingin bunuh diri hah? Tapi.. aku tidak merasakan aura membunuh saat ini, apa mutan ini bisa dipercaya? Apa aku bisa memanfaatkannya?” pikir Sehun dalam hati yang lalu memiringkan kepalanya “tapi jika benar aku tidak bisa dilacak lagi oleh mutan, itu berarti aku masih bisa tinggal disini, dan sekolah di sekolahku saat ini, lagian aku sudah sangat nyaman menjadi anggota keluarga Oh” pikir Sehun lagi.

Sehun menurunkan tongkatnya, lalu memegangi tongkat itu berdiri di sampingnya “Apa kau kira kau bisa melakukannya? Mutan pengecut?”

“Tentu saja” namja itu langsung menghilang, kemudian muncul tepat di depan Sehun “apa kau benar-benar ingin melakukannya? Aku benar-benar bisa melakukannya untukmu” namja itu mengedipkan mata kirinya *hoek!* Sehun ingin mutah saat itu juga, tapi situasi tidak memungkinkan.

“Bagaimana jika kau tidak bisa melakukannya?”

“Yah.. bunuh aku jika aku tidak bisa melakukannya!”

Sehun masih berpikir.

“Apa kau tidak menghargaiku? Yah.. aku sedang mencoba mengkhianati rasku saat ini demi yeodongshaengmu, ara?”

“Ara.. aku pegang kata-katamu tadi mutan pengecut”

“Apa kau mempercayaiku sekarang?” mata namja itu membesar memandangi Sehun “yah.. itu artinya aku boleh ke rumah ini sesuka hatiku”

Mata Sehun melotot.

“Ah.. tidak boleh? Yasudah.. aku juga tidak akan melakukannya untukmu, kalau begitu aku pergi..” namja itu berbalik badan.

“Kau harus izin padaku dulu mutan pengecut, dengan begitu.. kau boleh datang ke sini” Sehun berbicara sedikit terpaksa.

Namja itu berbalik badan lalu tersenyum “Aku akan melakukannya sekarang, bersiap-siaplah..” namja itu menggosok-gosok tangannya.

Sehun merasa sedikit ketakutan saat itu juga, keringat sedikit keluar dari dahinya, dan napasnya jadi terasa berat “Aku tidak akan apa-apakan? Mutan pengecut ini tidak sedang membohongikukan?” tanya Sehun dalam hati sambil menutup kedua matanya.

Tangan namja itu mengoles coretan hitam yang ada dipipinya, yang membuat tangan namja itu tercoret hitam juga, lalu dia gunakkan tangannya untuk membedaki wajah Sehun *what?*

Sehun yang kaget langsung membuka matanya “A.. apa yang kau lakukan?” tangan Sehun memegangi tangan namja itu, yang membuat tongkatnya terjatuh.

“Diam dan tenanglah.. mantraku ini tidak akan membunuhmu” kata namja itu santai dengan matanya yang masih fokus mengolesi wajah Sehun.

Sampai beberapa menit, setelah wajah Sehun penuh dengan coretan hitam “Nah.. selesai.. bagaimana rasanya?”

“Apa para mutan tidak bisa melacakku sekarang?” tanya Sehun yang mengabaikan pertanyaan namja itu.

“Tentu saja, bahkan aku sudah tidak bisa mencium aroma EXO Power keluar dari tubuhmu, tapi..” kata-kata namja itu terhenti “woahaha… kau lucu sekali, hahahaha…” namja itu tertawa lepas melihat Sehun yang sudah seperti badut saat itu.

Sedetik kemudian tangan kanan Sehun langsung mencekik leher namja itu “Apa kau sedang mempermainkanku? kenapa kau menertawaiku?” Sehun memelototi mata namja itu.

“Uhuk.. uhuk..” namja itu terbatuk “ya.. le.. lepaskan.. du.. dulu” kata namja itu sesak.

Sehun melepas cekikannya namun kedua tangannya memegangi tangan namja itu *so sweet* karena Sehun takut namja itu akan menghilang lagi.

“Ah cenca.. begitukah perlakuanmu pada orang yang telah menyelamatkanmu? Aish..” namja itu menyeringai “tapi.. karena aku sudah tidak bisa mencium aroma EXO Power dari tubuhmu itu artinya..”

“Moya?” Sehun berpikir “apa itu artinya aku beraroma menjijikan sama seperti rasmu?” Sehun memegang tangan namja itu semakin kuat.

“Yah yah yah.. sakit sekali aish..” namja itu merintih kesakitan “sebenarnya sih tidak juga, member EXO yang lain akan mencium aroma EXO Power keluar dari tubuhmu, hanya saja itu tidak berlaku untuk ras mutan, mereka akan mengira kau adalah bagian dari kami”

“Bagian dari mutan? Yah…! kenapa kau tidak bilang dari awal? Apa kau mencoba mempermainkanku?”

“Aku lupa mengatakannya! Ah.. cepat lepaskan tanganku dulu, lama-lama aku bisa mengira kau maho” kata namja itu yang sukses membuat Sehun sedikit malu lalu segera melepaskan pegangannya.

Namja itu menarik-narik tangannya mencoba melenturkan tangannya “Yah.. jadi.. aku boleh setiap hari mampir ke sinikan sebagai balasannya?”

“Apa kau ingin mati?” Sehun memelototi namja itu lagi “kau harus izin dulu padaku, jika tidak aku akan benar-benar membunuhmu mutan pengecut!”

“Haha.. kau benar-benar menakutkan.. yah kalau begitu aku harus pergi” namja itu berbalik badan “jangan basuh wajahmu selama 1 jam, jika tidak efek dari mantraku tidak akan mempan, dan ingat.. selama 1 jam itu, jangan menatap ke cermin sebelum kau membasuh wajahmu, dan… namaku Young Jae bukan mutan pengecut, kau harus ingat itu!” namja itu langsung menghilang setelah menyelesaikan penjelasan panjangnya.

“Sebenarnya apa yang dilakukan namja itu pada wajahku?” Sehun memiringkan kepalanya “yah.. apa dia membuat wajahku jadi jelek?” Sehun langsung berlari menuju kamarnya yang sebelumnya dia mengambil tongkat yang sudah terjatuh ke lantai.

Kamar Dara menjadi hening sekarang.

Tiba-tiba mata Dara terbuka “Oppa..” katanya lirih yang lalu meneteskan air matanya.

* * *

Sehun sudah masuk kekamarnya.

Sehun melemparkan tongkat ke lantai begitu dia sudah masuk kamar.

“Sial!” Sehun menonjok dinding kamarnya yang lalu menyisakan retakan di bagian dinding yang dia tonjok.

Sehun mendengus “Apa sekarang bauku sudah sama seperti para mutan sialan itu?” Sehun menundukkan kepalanya “apa member EXO yang lain masih menerimaku jika mereka tahu?”

*tes.. tes.. tes..*

Tanpa terasa air mata menetes ke lantai “Ah..” Sehun mengelap air matanya lalu mengangkat kepalanya “menjadi makhluk sepertiku memang menyebalkan, jika aku bisa memilih, maka aku ingin menjadi manusia biasa” kata Sehun lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

“Hah..” kata Sehun dengan posisi tidur terlentangnya “aku harap aku bisa segera bertemu member EXO yang lain, banyak sekali hal yang ingin aku katakan kepada mereka, meskipun aku bahkan tidak tahu ada berapa atau siapa saja para member EXO itu” Sehun menutup matanya “tapi aku yakin mereka tidak jauh dariku”

Tidak terasa Sehun langsung tertidur pulas setelah dia berkata-kata tadi.

* * *

*Kring.. kring.. kring..*

“Non Da..” kata-kata Bum Ajhumma langsung terhenti melihat Dara yang kini sedang merapikan rambutnya.

“Yah Bum Ajhumma! Kau lupa tidak mengetok pintu lagi!” bentak Dara langsung.

“Ah chwesong hamnida” Bum Ajhumma membungkuk untuk sesaat “tapi.. kenapa non sudah bangun dan sudah rapi begitu?” tanya Bum Ajhumma penasaran.

“Yah! Memang salah? Aku ini sudah dewasa tahu!” jawab Dara yang tidak ingin mengatakan kalau dia susah tidur setelah mendengar percakapan Sehun dengan Young Jae.

Bum Ajhumma melangkah mendekati Dara “Anio.. hanya saja, tidak seperti Non Dara yang saya kenal”

“Yah! Kau kira aku seperti apa hah? Pemalas?”

Bum Ajhumma mengangguk polos.

“Aish..!” Dara mengangkat kepalan tangannya, lalu menurunkannya “ah.. aku hanya tidak mau dianggap anak-anak lagi, bahkan sebentar lagi aku akan berkemah, mulai sekarang aku harus mandiri!” kata Dara keren.

“Nah begitu dong non.. akhirnya datang juga hari yang seperti ini” Bum Ajhumma tersenyum.

“Apa oppa sudah di bawah?” Dara merubah topik.

“Anio, dia masih dikamarnya”

“Kau membuatkan es teh manis kan?”

“Ye, saya sudah membuatkannya, tapi kenapa anda ingin minum es teh manis di pagi hari? Saya rasa minum es di pagi hari itu tidak baik”

“Karena orang dewasa tidak minum susu” jawab Dara mantap.

“Yah.. non.. saya rasa orang dewasa itu lebih condong ke minuman kopi deh, bukan es”

“Ah molla.. aku tidak suka kopi, kopi itu pahit” Dara menggeleng-gelengkan kepalanya “apa mobil sudah dipanaskan? Sinih mana kuncinya?” Dara memedengkan tangannya.

“Ini non..” Bum Ajhumma memberikan kunci mobil ke Dara.

“Sip..” Dara mengangguk-anggukkan kepalanya “yasudah tempat tidurku dirapikan yah, aku mau pergi kesekolah” Dara lalu segera menyambar tasnya kemudian pergi dari kamar.

Bum Ajhumma masih terdiam di tempat “Aku kira tadi Non Dara ingin mandiri, lalu kenapa dia malah menyuruhku merapikan tempat tidurnya? Haha.. mandiri macam apa yang dia pikirkan? Mandi sendiri? Mungkin..?” lalu Bum Ajhumma segera merapikan tempat tidur Dara.

* * *

Sementara itu Sehun..

“Ah..” Sehun menguap lalu duduk di tempat tidurnya “apa aku ketiduran tadi?” Sehun mengucek-ucek matanya.

“Jam berapa sekarang?” Sehun menatap jam dinding “oh jam 6…”

1 detik.. 2 detik.. 3 detik..

“Mwo?! Sudah jam 6? Yah.. aku akan terlambat lagi hari ini..” Sehun langsung bangun dan segera berlari ke kamar mandi.

Sehun sudah ada di depan cermin yang ada di kamar mandi, namun kepalanya menunduk “Sudah 1 jam lebih, pasti bauku kini sudah sama dengan para mutan itu..” Sehun mengangkat kepalanya untuk menghadap ke cermin.

“Kya..!” teriak Sehun kencang melihat makhluk hitam yang ada dicermin, yang sebenarnya adalah dirinya.

“Apa yang terjadi padaku? Ke.. kenapa wajahku jadi seperti badut?” Sehun berpikir “yah.. apa ini adalah mantra dari mutan itu? mantra seperti ini? Aish cenca.. apa dia membohongiku? Awas saja kalau aku bertemu dengannya..” Sehun segera membasuh wajahnya.

Kini Sehun sudah rapi dengan seragam dan tasnya, dia lalu meninggalkan kamar dan segera menuruni tangga menuju ke ruang makan.

“Yah.. kau bangun duluan?” tanya Sehun melihat Dara sudah duduk di kursi sambil memakan roti tawarnya.

“Emh.. muhai searang ak u” kata Dara tidak jelas karena makanan memenuhi rongga mulutnya.

“Yah.. habiskan dulu makananmu, kalau tidak kau bisa tersedak” saran Sehun yang lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Dara.

“Emh..” Dara mengangguk “uhuk.. uhuk.. uhuk..” Dara tersedak.

Dengan sigap Sehun segera berdiri lalu mengambil air putihnya kemudian menyodorkannya ke depan Dara “Yah.. minum ini palli..” Sehun khawatir.

“Hahaha.. “ Dara tertawa “oppa kau lucu sekali dengan wajah khawatirmu itu.. hahaha yes! Akhirnya bakat artisku sudah mulai muncul!” kata Dara yang merasa sudah berbakat menjadi artis.

Sehun menatap Dara kesal “Yah!” lalu dia duduk kembali dan segera menyambar roti tawarnya.

“Hahaha…” Dara tertawa lepas saat itu, lalu dia meminum es teh manisnya. Karena saat meminum es teh manis Dara masih sedikit tertawa, maka es batu yang ada di gelasnya ikut tertelan dan sukses membuat Dara tersedak beneran “Uhuk.. uhuk.. uhuk..”

“Yah.. aku tidak akan terjebak ke lubang yang sama dua kali” kata Sehun yang lalu membuka lembaran koran paginya yang sudah disediakan di meja.

“Op.. oppa.. uhuk.. aku.. uhuk uhuk..” Dara seperti orang yang sekarat saat itu.

“Aish cenca! Kau sangat berisik!” Sehun menatap Dara “yah.. apa kau benar-benar tersedak?”

“Op.. oppa..” Dara membuka mulutnya lebar, napasnya berat, dan kedua tangannya memegangi lehernya.

“Yah? Cencaya?” mata Sehun langsung membesar “ah.. kau pasti membohongiku lagi..” kata Sehun yang lalu santai duduk di tempatnya kemudian membuka lembaran koran paginya lagi “aku benar-benar tidak akan terbohongi olehmu lagi..” tambah Sehun.

“Op.. ha..” Dara memukul-mukul dadanya.

“Aish cenca.. yah apa kau serius?”

Dara mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tangannya yang masih memukul-mukul dadanya.

“Kau benar-benar tidak sedang membohongiku?”

Dara masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau berani bersumpah?”

“Op..ha..” Dara sedikit sudah sangat tersiksa dengan es batu yang nyangkut di tenggorokannya itu.

“Apa kau serius? Yah! Kalau kau membohongiku lagi aku benar-benar akan membunuhmu..” Sehun bercanda.

Dara tetap mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aish.. awas saja kalau kau membohongiku lagi” Sehun lalu berdiri dan segera berjalan santai ke arah Dara sekarang berdiri “Dara kau siap?” Sehun sudah berancang-ancang siap memukul punggung Dara dari belakang, dia sudah megira-ira di mana seharusnya dia memukulnya.

*Plak!* sebutir es batu keluar dari mulut Dara, dan kini pas masuk kembali ke gelas es teh manis milik Dara.

“Hoah..” Dara lega “oppa kenapa lama sekali? Aku sudah sekarat tadi!” kata Dara yang lalu berbalik badan.

“Aku kira kau sedang membohongiku lagi, lagian siapa suruh tadi kau juga berpura-pura tersedak, jadi aku juga harus berpikir dulu untuk menolongmu” Sehun menyilakan tangannya di depan perut “Kajja! Kita berangkat sekarang”

Dara memandang jam dinding “Tapi ini masih jam 6 lebih 10 menit”

“Terserah, aku akan pergi sekarang” kata Sehun yang lalu berjalan meninggalkan Dara.

“Oppa kau lupa? Kunci mobilnya ada padaku!” kata Dara sambil berdiri yang lalu memamerkan kuci mobilnya.

“Ah aku lupa!” Sehun berbalik badan “kau akan berangkat kapan?”

“Sekarang” Dara menaruh kunci mobil ke tangan Sehun “kajja! Aku ingin melihat ekspresi teman-temanku saat aku berangkat pagi”

Sehun dan Dara berjalan bersama ke depan rumah, namun saat mereka sudah di depan rumah, tiba-tiba langkah mereka berhenti.

“Taxi? Oppa apa kau memanggil taxi?” tanya Dara bingung karena di depan rumahnya terparkir taxi sekarang.

“Anio, apa kau yang memanggilnya?” Sehun menatap Dara.

“Yah.. jika aku bertanya padamu itu artinya bukan aku yang memanggil taxi..” Dara menatap Sehun datar “mu.. mungkinkah..?” mata Dara langsung membesar memandangi taxi itu.

Pintu taxi itu terbukam sedikit, memperlihatkan sepatu kulit hitam yang sangat indah. Lalu seorang ajhumma keluar dari taxi itu.

“Eomma!” teriak Dara setelah melihat bahwa ajhumma itu adalah Nyonya Oh.

Sehun melihat ke arah Nyonya Oh untuk sesaat, lalu segera memalingkan pandangannya ke samping.

Dara segera berlari ke arah Nyonya Oh lalu memeluk Nyonya Oh untuk sesaat “Eomma.. kau sudah pulang?”

“Oh.. aku sudah pulang”

Dara memeluk Nyonya Oh lagi, lalu melepaskannya.

“Apa eomma akan tetap tinggal dirumah? Aku sangat kangen dengan eomma” kata Dara manja “eomma lihatlah.. selama 2 tahun ini aku sudah tumbuh tinggi, lihat lihat..” Dara menegakkan badannya.

Nyonya Oh mengukur tinggi Dara dengan tangannya “Em.. tidak ada yang berubah” Nyonya Oh memiringkan kepalanya “masih tetap lebih tinggi eomma”

“Ah eomma..” Dara memegangi tangan Nyonya Oh yang dibalut sarung tangan.

Nyonya Oh menatap ke sekitar “Sehunnie? Kenapa kau masih disana? Apa kau tidak merindukan eommamu ini?” tanya Nyonya Oh yang lalu membuat Dara melepaskan pegangan tangannya yang lalu menatap Sehun.

“Oppa.. palli..!” Dara menggerak-gerakkan bibirnya tanpa bersuara.

Sehun menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah Nyonya Oh “Eomma.. selamat datang kembali” kata Sehun datar.

*Bleg!* Nyonya Oh langsung memeluk Sehun “Eomma.. apa yang..?”

“Diamlah! 2 tahun tidak bertemu denganmu membuat ajhumma tua ini benar-benar sangat ingin memelukmu” kata Nyonya Oh yang sukses membuat wajah Sehun sedikit memerah.

“Nyonya Oh.. jika kau benar-benar eommaku, aku pasti akan sangat bahagia” pikir Sehun dalam hati yang lalu menutup matanya untuk sesaat, merasakan pelukan hangat seorang eomma yang merindukan anaknya.

Nyonya Oh melepaskan pelukannya, kedua tangannya kini memegangi pundak Sehun “Sehunnie, yah.. kau tambah tinggi sekarang” kata-kata itu sukses membuat Dara iri.

“Eomma.. aku cemburu!” Dara memanyunkan bibirnya.

Nyonya Oh dan Sehun tertawa kecil.

“Tapi Sehunnie, kenapa kau tidak menjemputku?”

“Menjemput eomma? Aku bahkan tidak tahu eomma akan pulang” kata Sehun jujur.

“Mwo? Eomma sudah mengirim pesan padamu, tapi kau tidak membalas juga, wae?”

Sehun menundukkan kepalanya “Aduh gimana nih? Kalau aku bilang smartphoneku rusak, Dara akan tahu aku bohong kemarin, tapi kalau aku bilang smartphoneku baik-baik saja.. pasti eomma akan merasa aku sudah mengkacangi pesannya, aduh.. gimana nih?” pikir Sehun dalam hati.

“Eomma mian..” dua buah kata yang Sehun pikir adalah jawaban terbaiknya.

“Ah gwenchana, lagian di bandara juga banyak taxi dan eomma juga ditemani, jadi eomma tidak merasa kesepian”

Deg! Mata Sehun dan Dara langsung melebar “Apa appa juga ikut pulang?” tanya mereka kompak.

“Gawat! Mulai sekarang berarti aku harus membersihkan barang-barangku sendiri, belajar, pulang selalu tepat waktu.. ah.. kenapa appa harus pulang segala sih?” pikir Dara tertekan.

“Matilah aku! Aku baru membeli DVD dewasa! Aku bahkan belum menontonnya, apa sekarang aku harus membuanya karena takut appa akan melihatnya? Ah.. tapi DVD itu benar-benar sulit untuk aku dapatkan..” pikir Sehun tertekan juga.

“Anio” Nyonya Oh membantah.

Sehun dan Dara membuang napas lega “Syukurlah..” pikir Sehun dan Dara kompak dalam hati.

“Lalu kau pulang bersama siapa eomma?”

“Kau.. keluarlah” kata Nyonya Oh yang menghadap ke pintu taxi.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari dalam taxi. Anak itu memakai kaos warna putih dengan warna biru di lengannya dan dia memakai celana jeans hitam, rambutnya pendek, dan kulitnya begitu putih.

Anak laki-laki itu tersenyum memandangi Sehun dan Dara.

“Eomma, siapa anak ini?” Dara memandang anak laki-laki itu penasaran, begitupun Sehun.

Nyonya Oh tersenyum lalu memandangi Sehun dan Dara bergantian “Dia namdhongshaeng kalian” Nyonya Oh masih terenyum.

Anak laki-laki itu membungkukkan badannya 90 derajat lalu kembali berdiri “Nuna! Hyung!” kata anak laki-laki itu yang lalu memamerkan gigi putih dan rapinya pada Sehun dan Dara.

Sehun dan Dara saling berpandangan.

1 detik.. 2 detik.. 3 detik..

Mereka masih berpandangan, Dara mengedip-edipkan matanya, Sehun memasukkan jarinya ke dalam mulut *what?* lalu mereka kembali menatap anak laki-laki itu dengan posisi yang tidak berubah.

“Mwo…………..?????!!!!!!” teriak Sehun dan Dara kompak.

= TBC Chapter 4=

Lampiran :

 

b

 

 

 

Penampilan Young Jae saat menemui Sehun.

 

c

 

 

 

 

 

Namdhongshaeng Dara dan Sehun.

 

d

 

 

 

Ekspresi lebay Sehun saat melihat namdhongshaengnya.

7 pemikiran pada “We Are EXO! (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s