Cleansing Cream

CLEANSING CREAM

 cleansing cream

 

Title                 : Cleansing Cream (design: @KarynDp)

Author            : @syarevimizani

Main Cast       : Krystal (f(x)), Kai (EXO)

Support Cast  : Kris (EXO), Jessica(SNSD), etc

Genre              : romance, family, hurt, school

Rating             : PG + 15

Length            : Oneshot

Disclaimer     : Halo, ketemu lagi sama saya. Bwahahaha/(_-. Ini adalah ff kedua author sesudah FISH. Genrenya beda sama fish, dan ff-nya terinspirasi dari lagu Brown Eyed Girls – Cleansing Cream (mv: http://www.youtube.com/watch?v=PSKRffDyWog)  dan dengn judul yang sama. Tapi cerita dari mv-nya udah author rombak abis, dan taraaa… jadilah ff ini. Oke, Happy Reading!! –mohon maaf kalau ada typo dimana-dimana. Buehehehe-J

 

“Eonni! Appa eonni!! Jaebal, hentikan!”

Terdengar teriakan lemah dan pukulan bertubi-tubi dari kamar mandi itu.

“Kau tahu? Pukulan ini tidak cukup! Kau sudah merebutnya!”

Pukulan itu terus menerus menimpa tubuh lemah yeoja itu.

“Eonni, maafkan aku… Aku benar-benar tidak bermaksud eonni. Jaebal, maafkan aku. Tidak sebersit sedikitpun untuk merebutnya darimu.”

Cewek berambut blonde panjang yang diikat itu berhenti. Menampakkan wajah marahnya. Setelah mendengar sebuah suara.

“Jessica! Kau dimana?!”

Cewek itu pun keluar dari kamar mandi. Meninggalkan cewek rapuh itu sendirian.

***

Ting…tong…ting…tong…

Bunyi bel masuk SMA Hongil Seoul berdering nyaring. Seorang yeoja buru-buru berlari ke gerbang, agar dia tidak telat.

Yes! Sahut cewek itu dalam hati, berhasil melewati gerbang tepat waktu. Tapi, karena tidak bisa menahan senangnya,dia juga tidak bisa menahan laju larinya, dan…

BRUUK!

Yeoja itu menabrak seorang namja dengan seragam acak-acakannya sampai mereka terjatuh.

“Ah…ah… Mianhae…”

Cowok itu hanya meliriknya sebentar, dan pergi begitu saja.

Siapa dia? Perasaan aku baru melihatnya.

***

-Krystal POV-

Hari ini, aku masuk lagi ke kelas neraka ini. Mungkin ini hanya dari pikiranku. Karena semuanya sepertinya menikmati keadaan ini. Aku yang bersekolah di sekolah elit, harus terpaksa berteman dan mengikuti apa yang mereka rata-rata kenakan. Aksesoris yang mungkin harga satuannya bisa untuk membeli toppoki selama 2 minggu, make-up terkini, dan hal lain yang berbau uang. Kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi salah satu murid yang dibuang di sekolah ini. Murid minoritas. Karena di sini, uang adalah segala-galanya.

“Hei Krystal! Kau hampir terlambat!” celoteh Min Ah, salah satu teman “uang”ku di kelas ini.

“Ya, begitulah.” Aku hanya berjalan melewatinya, dan langsung menuju kursiku. Di bagian paling belakang. Sendiri. Karena setidaknya, aku bisa merefreshingkan pikiranku dari mereka sejenak.

Karena itulah, aku dicap misterius dan selalu didekati oleh geng Angels – begitulah mereka menamai gengnya – yang isinya aku, Min Ah, dan ada tiga orang lagi. Dari tampangku, aku memang mengakui aku cantik, dan masalah uang, juga belum ada batas. Itu makanya aku bisa dekat mereka – oh bukan, mereka yang mendekatiku duluan. Mungkin, kalau aku menolak ajakan mereka, hidupku tidak akan setenang sekarang.

Ya, sepertinya.

“Hei!Hei!Hei!!! Kalian tahu? Kita kedatangan murid baru!”

Yang teriak tadi Baekhyun. Namja nyentrik tapi lumayan keren, dan sumber dari semua gosip, berita dan fakta dari sekolah ini.

“Wow! namja atau yeoja??” Kali ini Eunji. Ketua kelas kami. Mungkin, di antara kami semua dia yang paling normal – dan tentu saja, aku masuk di dalamnya.

“Cowok!”

“Waaaa!!!” Dan sekarang, aku mendengar semua yeoja di kelas berteriak-teriak dan merapikan penampilannya – dan sekali lagi, kecuali aku – dan anak cowok memasang tampang sedih. Huh, ada-ada saja.

“Krystal-ssiiiii….” Kawanan Angels itu mendekatiku. Huh.

“Ya?”

“Sepertinya, dia akan duduk di sebelahmu. Kyaaa!!! Iriii!!!” teriakan ini berasal dari Suzy, dan disusul yang lainnya.

“Kan kita belum tahu, dia jelek atau tidak. Siapa tahu…”

Sraaak…

Pintu kelas kami terbuka. Sekaligus memotong ucapanku dan membubarkan Angels tadi. Ternyata, Park Chanyeol songsangnim masuk.

“Selamat pagi semua! Baiklah, hari ini ada seorang murid baru. Ayo, perkenalkan dirimu.”

Seperti berita si Bacon itu, ternyata memang ada murid baru. Tunggu, sepertinya… dia kan yang aku tabrak tadi?

“Annyeonghaseyo, Kim Jongin imnida. Kalian bisa memanggilku Kai.”

“Baiklah Kai. Kau bisa duduk di… Nah, sebelah Krisyal!”

Kai langsung menuju bangkuku. Apa dia masih ingat kejadian tadi? Pasti ingat, kan belum sampai setengah jam…

“Hai, namamu Krystal ya? Kita bertemu lagi.”

Nada bicaranya, sedikit sombong. Huh dasar.

“Ah iya. Hai Kai. Mmm… Aku minta maaf soal tadi.”

“Tidak apa-apa.”

Selain sombong, dia juga hemat bicara. Dasar.

-Krystal POV end-

***

Anak baru itu bernama Kai. Dengan tubuh tinggi dan mukanya yang manly. Ditambah, kulitnya yang agak gelap, menambahkan kesan coolnya.

Suasana di bangkunya malah menjadi lebih sepi lagi. Bagaimana tidak? Ada orang yang menemani, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan.

“Kau tidak bosan kita hanya diam dan memperhatikan guru?” Kai membuka percakapan.

“Tidak.”

Hening lagi. Mereka pun sibuk lagi dengan catatan mereka. Tapi Kai masih mau mengajak Krystal berbicara.

“Kau, kenapa diam saja?”

Krystal hanya diam. Tetap bergeming di depan buku catatannya.

“Haaah…” Kai menghembuskan nafasnya keras-keras. “Kau kenapa sih, hanya diam saja? Tidak seperti teman-temanmu yang heboh itu?”

“Aku berbeda dengan mereka. Mending kalau kau tidak mau di damprat Zhang songsangnim, mending kau catat saja apa yang dia katakan.”

Zhang Yixing songsangnim, seorang guru bahasa Cina. Masih muda, tapi sering marah-marah kalau ada murid yang mengobrol.

“Haaah..” Kai menghembuskan lagi nafasnya keras.

“Absen 30! Ayo kau lanjutkan percakapannya!” panggil Zhang songsangnim.

Absen 30 adalah Kai.

Kai langsung berdiri dan menyampaikannya dengan lancar. Seperti orang Cina asli. Tanpa ada kata-kata yang patah-patah.

“Wow, anak baru. Kau hebat! Ayo beri tepuk tangan!”

Semuanya langsung tepuk tangan, takjub dengan Kai. Selain keren, dia juga pandai berbahasa asing.

“Wow. Kau orang Cina?” tanya Krystal, takjub.

“Tidak. Hyungku menetap tinggal di Cina. Dan aku  juga pernah tinggal di sana beberapa tahun.”

Krystal menganggukangguk. Dia keren juga.

***

-Krystal POV-

Setelah melewati ‘neraka’ kecil itu, aku harus kembali ke ‘neraka’ yang lainnya.

Mungkin sebagian besar orang mengatakan ‘rumah adalah surgaku’, tapi menurutku, itu sama saja dengan neraka.

Aku masuk ke dalam rumahku.

Sepertinya dua orang penjaga neraka itu belum pulang.

Aku langsung menghempaskan tubuhku di sofa depan TV. Dan mulai menukar-nukar channel TV itu.

Siaran TV hanya itu-itu saja. Berita bencana alam, kasus korupsi, gosip artis yang membuat skandal. Hah. Untuk apa mereka hidup seperti itu?

Brrruummm…

Aku mendengar suara mobil dari dalam. Itu, Jessica eonni atau, si bajingan Kris?

Klik.

Ternyata bajingan itu. Aku hanya memutar mataku ke arah TV lagi saat melihatnya.

“Krystal-a? Kau tidak menukar bajumu? Apa kau tidak berat memakai riasan sebanyak itu? Ahahaha.”

Cih, aku muak dengan suaranya. Dia adalah suami eonniku. Entah kenapa, padahal dia mencintai eonniku. Tapi aku merasa, dia juga menyukaiku. Entahlah.

Mungkin ini tidak beralasan dan belum ada bukti, untuk aku membencinya. Tapi aku tidak bisa mengungkapkannya langsung. Bagaimana nanti kalau eonni, marah. Lagi.

“Bukan urusanmu Oppa. Aku nyaman kok.”

“Hei, jangan kasar-kasar denganku.” Tiba-tiba dia duduk di sampingku dan merangkulku. Aku langsung menepis tangannya.

“Jessica eonni sudah pulang,” kataku saat mendengar suara mobil yang lainnya.

***

Jessica eonni hari ini membawa beef steak dari restoran dekat kantornya. Aku yang belum tukar baju, langsung saja menghambur ke meja. Karena eonni juga langsung makan steak itu. Dan juga, bajingan itu.

Seleraku langsung hilang.

Kami makan dalam keheningan seperti kuburan. Eonni makan dengan gaya elegannya yang biasa dan Kris makan dengan gaya sengaknya sambil memperhatikan berkas-berkasnya, dan sesekali melirikku.

Brak!

Aku langsung berdiri dan menuju kamarku tanpa pamit. Aku muak dengan suasana ini, dan tatapan Kris itu. Aku jijik.

Dari ekor mataku, aku melihat eonni, marah?

Huh, aku tidak peduli.

***

Aku duduk di kamarku. Aku lelah. PR menumpuk belum lagi, urusanku dengan eonni saat ini.

Mendadak, pintu kamarku terbuka.

“Eonni?”

Aku melihat, mukanya yang merah karena kesal. Bukan kelas, marah.

“Maumu apa hah? Apa?!”

Aku menutup mataku.

“Kau tidak bisa menghargaiku dan Kris. Kau sudah untung aku urus. Aku memberi uang belanja dan seluruh make up beserta aksesoris yang kau kenakan ini!”

Dia menjambak rambutku.

“Ap… Appa eonni… Jaebal, lepaskan..” aku merintih menahan sakit.

“Huh.” Dia melepaskan jambakannya, tapi tidak berhenti sampai disitu. Dia mulai memukul kepalaku dan terakhir, menamparku. Sakit.

“Perbaiki sikapmu.” Setelah semua penyiksaan itu, dia keluar dari kamarku.

Setelah dia benar-benar keluar, aku berdiri perlahan, menahan semua sakit ini. Perlahan juga, aku duduk di meja riasku.

Aku melihat mukaku yang merah, riasanku yang berantakan dan rambutku yang acak-acakan.

Perlahan, aku bersihkan make up di mukaku. Bersamaan dengan turunnya air mataku.

-Krystal POV end-

***

 

Krystal berjalan perlahan ke gerbang sekolahnya. Pagi ini, saat eonninya masih tertidur, dia memilih untuk cepat-cepat pergi ke sekolah.

Pipi mulus Krystal masih tersisa bercak merah, dan ditutupi dengan make up tebalnya.

Krystal membuka pintu kelasnya. Dia kira, dia akan sendiri di kelasnya sepagi ini. Tapi ternyata…

Sejak kapan…?

“Hai Krystal!” sapa Kai.

“Hai.” Krystal langsung duduk di bangkunya.

Kai memperhatikan Krystal yang sedang mengambil buku di tasnya.

“Mukamu, kenapa?”

Krystal terdiam. Masih terlihatkah?

“Tadi, aku jatuh dari kamar mandi…” Aduh!”

Krystal menyentuh pipinya. Kai ternyata menempelkan plester bening di mukanya.

“Kalau mau menutup lukamu, tuutp pakai ini. Jangan pakai bedak tebal itu.”

Krystal berusaha menahan senyumnya. Ternyata, dibalik sikap dingin Kai, dia baik juga.

Mereka pun kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Krystal sibuk dengan buku matematikanya dan Kai sibuk dengan rotinya. Sebentar-sebentar Krystal melirik ke arah roti Kai.

Kruyuk…kruyuk…

Krystal memegang perutnya. Uuuhhh… Aku lapar-_-

“HHAHAHAHHAAH!!!” Kai tertawa terbahak-bahak. “Kau terlalu cepat datang tapi belum sarapan ya? Ini, aku ada satu lagi.” Kai menyodorkan rotinya. Roti isi strawberry. “HAHAHAHHA!”

“Cih, berhenti tertawa,” Krystal memukul tangan Kai pelan. “Oh iya, terima kasih rotinya,” Krystal langsung melahap makanan pertama yang masuk ke perutnya hari ini.

“Jadi, kau kenapa cepat datang?” tanya Kai, setelah menghabiskan rotinya.

“Aku, pengen saja. Aku hanya ingin menyendiri. Aku kira aku yang akan datang pertama. Kau sendiri?”

“Hahaha, maaf sebelumnya udah mengacaukan rencana menyendirimu. Aku ya, kecepetan bangun bangun dan, ya begitulah. Aku malas berlama-lama di rumah. Aku malas mendengar teriakan-teriakan kedua orang tuaku. Kau tau, mereka selalu bertengkar tapi tidak mau berpisah. Menggelikan.” Entah kenapa, Kai ingin berbagi cerita ke teman sebangkunya itu.

“Mungkin, kita hampir sama. Aku, muak dengan suami eonniku. Dan juga, takut melihat eonniku.”

“Wae?”

“Sejak orang tua kami bercerai, mereka meninggalkan kami dan pergi entah kemana. Untung eonniku saat itu sudah bekerja, dan dialah yang menanggung hidup kami berdua,” cerita Krystal terus bergulir. Dia merasa, Kai bisa menjadi teman curhatnya. “Beberapa tahun kemudian, yaitu 6 bulan yang lalu, dia menikah dengan Kris. Sejak saat itu, sikapnya berubah. Membuatku…hiks..hiks..” tangisan Krystal pecah. Menahan pedih dari semua yang dia rasakan selama ini.

“Tenangkan dirimu Krystal-a,” kata Kai sambil mengelus punggung Krystal. “Kau bisa saja mengungkapkan semuanya padaku, dan aku akan selalu ada di sampingmu untuk mendengarkanmu.” Kai pun membawa Krystal ke pelukannya. Memberi ruang bagi Krystal untuk menumpahkan segalanya.

Sejak itu, Krystal pun menemukan setitik “surga” di dalam balutan “neraka” yang membelenggunya. Yaitu, seorang Kai.

***

Pulang sekolah, Krystal pun pulang bersama Kai. Semua mata pun memandang ke arah mereka berdua. Mereka terlihat sangat cocok. Membuat pandangan iri semua yeoja di sekolah ini, dan gak luput juga para namja yang merupakan fans dari Krystal.

Sejak kejadian tadi pagi, mereka menjadi sangat dekat. Berhubung cerita mereka hampir sama – walaupun mungkin Kai lebih beruntung – Kai juga ternyata sangat bisa menghibur Krystal.

Seperti sore ini, dia mengajak Krystal ke sungai Han. Suasana sungai yang adem dan cocok untuk merendamkan kaki di sana. Krystal langsung melepaskan sepatunya dan merendamkan kakinya di sana. Kai pun duduk di sebelah Krystal.

“Kau ternyata benar-benar teman yang baik Kai. Tidak seperti yang lain. Yang hanya mengukur semuanya dengan uang,” ucap Krystal tanpa menoleh ke arah Kai.

Kai hanya memandangi wajah Krystal yang damai. Dengan dihiasi oleh plester pemberiannya tadi.

“Aku juga suka berteman dengan orang yang asyik diajak ngobrol. Hehehe.”

Hari semakin sore. Krystal dan Kai pun memutuskan untuk pulang. Kai pun mengantar Krystal pulang dengan motornya.

“Wow, rumahmu keren juga,” kata Kai saat sampai di depan rumah Krystal.

“Ya, begitulah.” Krystal menyerahkan helmnya kepada Kai.

“Oh iya,” Kai mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Ini, kalau kau jatuh dari kamar mandi lagi, lukanya ditutup pakai ini. Takutnya kalau hanya ditutup dengan bedak, nanti bisa infeksi. Hehe,” Kai menyerahkan satu kotak plester kepada Krystal.

“Gomawo.” Krystal masuk ke rumahnya, sambil melihat Kai yang mulai menjauh dari rumahnya.

***

-Krystal POV-

Hari ini setidaknya aku sangat terhibur karena Kai. Aku pikir, dia itu dingin dan tidak asyik diajak bicara. Tapi peristiwa tadi pagi membuktikan kalau Kai itu asyik!

Aku  masuk ke dalam rumah. Dari garasi, aku melihat sepertinya dua orang itu sudah pulang. Aku pun segera pergi ke kamarku di lantai 2. Rumah sangat sepi. Kemana mereka?

Saat aku tiba di kamar, terdengar suara mesin mobil keluar dari rumah. Aku melihat ke jendelan. Dari mobilnya, itu Jessica eonni.

Aku pun memutuskan mandi dan tidak lupa, menempelkan plester dari Kai tadi dimukaku. Walaupun lukanya sendiri hampir sembuh dan mulai menghilang.

Aku perhatikan wajahku di cermin. Aku bukan sombong, tapi memang wajahku terlihat lebih menarik kalau tidak memakai makeup-makeup itu.

Tapi sepertinya makeup ini sudah menjadi teman terbaikku. Untuk menutup bekas-bekas memar ini.

Aku pun turun ke lantai bawah untuk sekedar mengambil minum dari lemari es. Tiba-tiba, ada seseorang yang merangkulku dari belakang. Pasti Kris.

“Jessica sedang membeli makanan. Dan kalau kau lapar, kita tunggu di ruang TV saja yuk?” ajaknya.

“Aku tidak lapar.” Segera setelah mengambil minum, aku langsung keluar dari dapur. Tapi dia menahan tanganku.

“Bisa tidak, sekali saja kau bersikap baik? Aku lebih tua sepuluh tahun darimu Krystal.”

“Dan aku tidak suka orang yang tua!”

Tiba-tiba saja kata-kata itu keluar, dan membuat Kris terdiam. Dengan kalimat itu saja, aku yakin dari ekspresinya dia benar-benar menyukaiku.

“Wae? Kau kan sudah memiliku Jessica eonni? Wae?!”

Tiba-tiba dia memelukku. Aku ingin melepaskannya, tapi pelukannya sangat kuat.

“Aku, entah kenapa lebih menyayangimu dari pada Jessica. Memang, awalnya aku sangat mencintainya. Tapi lama kelamaan rasa itu sudah hilang. Dia sudah berubah.”

Tepat setelah Kris mengatakan itu, aku mendengar suara bungkusan plastik jatuh ke lantai. Aku mengangkat wajahku. Jessica eonni.

Kris langsung melepaskan pelukannya. Dan dia pun langsung keluar dari dapur. Kami terdiam lama. Jessica eonni menatapku dengan tajam. Di luar, terdengar suara mesin mobil menderu.

Aku tahu, mungkin saja ini menjadi akhir hidupnku.

­-Krystal POV end-

***

Jessica yang baru sampai di rumah, langsung menuju dapur. Dia melihat Kris memeluk Krystal. Dan dia mendengar semua perkataan Kris.

Jessica benar-benar marah. Dia menatap sengit Krystal yang ada di depannya.

“Kau sudah keterlaluan Krystal.” Jessica terlihat sangat marah.

“Eon… eonni, kau salah paham. Aku… aku…”

Tanpa mendengarkan perkataan Krystal, Jessica langsung menarik Krystal dengan kasar. Krystal berteriak tertahan, memohon untuk melepaskan dan mendengarkan pejelasannya. Tapi Jessica tetap menariknya.

Mereka sampai di depan kamar mandi. Jessica membuka pintu dengan kasar dan mendorong Krystal ke dalam kamar mandi. Jessica pun mengunci pintunya.

“Eonni, dengarkan dulu penjelasanku. Aku bisa menjelaskannya,” ucap Krystal yang mulai terisak.

Jessica hanya diam menatap Krystal, dan langsung melayangkan pukulannya. Bertubi-tubi. Diselingi dengan siraman air yang berasal dari shower yang di arahkan ke arah Krystal.

“Eonni! Appa eonni!! Jaebal, hentikan!”

Terdengar teriakan lemah dan pukulan bertubi-tubi dari kamar mandi itu.

“Kau tahu? Pukulan ini tidak cukup! Kau sudah merebutnya!”

Pukulan itu terus menerus menimpa tubuh lemah yeoja itu.

“Eonni, maafkan aku… Aku benar-benar tidak bermaksud eonni. Jaebal, maafkan aku. Tidak sebersit sedikitpun untuk merebutnya darimu.”

Cewek berambut blonde panjang yang diikat itu berhenti. Menampakkan wajah marahnya. Setelah mendengar sebuah suara.

“Jessica! Kau dimana?!”

Cewek itu pun keluar dari kamar mandi. Meninggalkan cewek rapuh itu sendirian.

Krystal terisak di kamar mandi, menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Perlahan Krystal berdiri dan memandangi wajahnya di cermin. Terlihat beberapa memar di wajahnya – dan mungkin lebih banyak lagi di tubuhnya – dan kulit dahinya yang mengeluarkan darah. Sepertinya terkena kuku Jessica yang panjang.

Krystal membuka pintu kamar mandi perlahan. Dia melihat keluar. Terdengar cek-cok di dalam kamar Jessica dan Kris. Krystal pun memutuskan pergi ke kamarnya. Tubuhnya benar-benar sakit.

***

Krystal terbangun sekitar jam 5 pagi. Tubuhnya masih sakit, tapi dia menahan sakitnya dan pergi mandi.

Setelah mandi, Krystal langsung siap-siap pergi sekolah. Walaupun sekarang baru menunjukkan pukul 6 kurang.

Krystal memandangi wajahnya. Memar itu benar-benar terlihat. Krystal pun langsung melapisi wajahnya dengan make up sampai memarnya sedikit tidak terlihat.

Dia memandangi goresan di dahinya. Dia pun mengambil plester dari Kai, dan menempelkannya di sana.

Krystal pun menggerai rambutnya, dan menutupi plester itu dengan poni panjangnya.

***

Krystal sampai di kelasnya. Sesuai tebakannya, hanya Kai yang baru datang di kelasnya.

“Annyeong Krystal!” sapa Kai, sambil mengunyah rotinya.

“Annyeong,” jawab Krystal. Memaksakan dirinya untuk semangat, dan seperti tidak terjadi apa-apa.

“Wae geurae?” Ternyata Kai menangkap gelagak Krystal.

“Ani. Waeyo?”

Tiba-tiba Kai memegang dagu Krystal dan menggeser wajah Krystal ke arahnya.

“Dahimu kenapa? Dan, dari dekat ada memar… Jangan katakan kalau ini karena jatuh dari kamar mandi.”

Krystal terdiam lama. Tiba-tiba air mata langsung mengalir di wajahnya.

“Krystal?” tanya Kai sambil menurunkan tangannya.

Perlahan, Krystal menceritakan semua yang dia alami. Dari awal, sampai terakhir kali apa yang dilakukan Jessica padanya. Kai tidak memotong perkataan Krystal. Dia membiarkan semuanya mengalir dari mulut Krystal.

Terlihat makeup di wajah Krystal sedikit luntur karena air mata. Kai mengambil sapu tangannya.

“Ayo, tenangkan dirimu dan lap dulu wajahmu oke? Apa mau aku antar ke toilet?”

“Gwencanha.” Krystal masih sedikit terisak. “Aku akan ke sana sendiri. Tunggu sebentar ya?”

Krystal pun berjalan ke toilet sendiri. Sesampainya di toilet, dia langsung mengolesi krim pembersih wajah yang dia bawa dan mencuci wajahnya.

Dia melihat wajahnya di cermin. Terlihat wajahnya yang mulus dihiasi oleh beberapa memar yang masih terlihat jelas.

Krystal memegang bedaknya. Dan mulai mengolesi lagi wajahnya dengan bedak itu. Terlihat memar itu mulai tertutup.

Krystal pun keluar dari toilet dan langsung menuju kelasnya. Di sana masih ada Kai yang duduk di bangkunya. Krystal pun duduk di bangkunya.

“Ini, aku ada roti. Kau pasti belum makan kan?” Kai menyambut Krystal dengan roti cokelatnya. “Cokelat bisa menenangkan perasaanmu yang sedang kacau,” ucap Kai sambil tersenyum.

Krystal menerimanya, dan langsung memakan roti itu.

“Krystal-a.”

“Mmm?” jawab Krystal sambil menoleh ke arah Kai.

“Aku akan melindungimu dari eonnimu itu. Aku janji.” Kai melihat ke mata Krystal. Sangat dalam.

Krystal terdiam sebentar.

“Gomawo Kai-a!”

Kai tersenyum. Mereka pun sama-sama tenggelam dalam kesibukan masing-masing kembali.

***

-Krystal POV-

Aku sangat senang saat Kai mengatakan bahwa dia akan melindungiku. Setidaknya ketakutanku sedikit hilang.

Sudah seminggu ini Kris dan Jessica eonni jarang sekali pulang ke rumah, sejak cek-cok hebat hari itu. Aku tidak tahu alasannya, tapi ya setidaknya, aku bisa melepaskan syaraf “ketakutan”ku sebentar. Ya, hanya sebentar.

Sekarang, setelah sampai di rumah, aku melihat mobil Kris sudah terparkir di depan rumah. Aku pun masuk ke dalam rumah.

Terlihat dia sedang meminum soju. Sudah botol kelima.

Melihatku datang, dia langsung tersenyum. Bukan senyum seperti biasa. Tapi… senyumnya sangat mengerikan. Dia benar-benar mabuk sekarang.

“Krystal-a, kau sudah pulang?” Kris berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku.

Aku mundur perlahan. Takut dengan langkah Kris  yang semakin mendekatiku.

“Wae? Kenapa kau menjauh Krystal-a?”

“KYAAA!!!”

Mendadak dia mendorongku ke sofa dan menahan kedua tanganku dengan kuat. Mukanya hanya berjarak sekitar 20cm dari mukaku. Tercium bau alkohol di sela nafasnya.

“Wae?! WAE?!”

Dia berteriak di depan mukaku. Perlahan, aku meraba ponselku di saku rokku. Aku menekan ponselku dengan dial speed nomor 1. Menelfon Kai.

Yang pasti, sambungan telefon sudah masuk dan aku harus menelfon jarak jauh dengan Kai.

“Kris-a, kumohon, menjauh,” ucapku agak besar, setelah terdengar kata “halo” di ponselku. Kai mengangkat telfonku!

“Aku mencintaimu Krystal! Dulu aku memang mencintai Jessica, tapi perlahan rasa itu menghilang! Saranghae Krystal-a!!!” Kris mendadak mendekati mukanya ke mukaku.

“Andwe Kris!! ANDWE!!!”

Ya Tuhan. Terdengar suara eonni dari ruang tamu.

-Krystal POV end-

***

Kai sedang santai di atas motornya sambil memandang pemandangan di taman kota setelah mengantar pulang Krystal. Dia mendengar suara ponselnya. Dan langsung mengangkatnya. Dari Krystal.

“Halo? Ya Krystal?”

“Kris-a, kumohon, menjauh…”

Terdengar suara Krystal dari sebrang sana.

Perasaan Kai tidak enak.

Dia pun langsung memacu motornya ke rumah Krystal.

***

Jessica terlihat sangat kacau. Terlihat, dia memegang sebuah pistol ditangan kanannya.

“Andwe Kris!! ANDWE!!!”

Mendengar Jessica datang, Kris langsung menarik diri dari tubuh Krystal.

“Annyeong Jessica! Cepat sekali kau pulang?” Terlihat Kris benar-benar mabuk berat.

“Huh, saat ini pun kau masih bisa berbasa-basi?”Jessica melayangkan pistolnya ke arah Kris.

“Wae Jessica? Apa yang kau lakukan?”

“Setelah apa yang ku beri padamu, kau mengkhianatiku Kris? Kau benar-benar kurang ajar!” Jessica berteriak.

“Eon… Eonni.. Waeyo..?” Krystal angkat bicara. Khawatir dengan perbuatan eonninya yang sudah berlebihan.

“Diam kau! Kau juga adik yang tidak berguna Krystal! Kau mengambilnya dariku!”

Terlihat wajah Jessica yang memerah, dan raut wajah yang menunjukkan dia benar-benar marah.

Jessica kembali mendekati Kris.

“Kau benar-benar keterlaluan Kris!”

Dor!dor!

Terdengar 2 kali tembakan, ke arah tubuh Kris. Tubuhnya langsung terhuyung, jatuh kebawah.

“Eonni!!! Apa yang kau lakukan? Kau membunuhnya!” Teriak Krystal sambil mendekati tubuh Kris.

“Kau tidak tau apa yang aku rasakan!” Sekarang Jessica mengarahkan pistolnya ke arah Krystal.

“Dia, telah merampas semuanya. Uangku, jabatanku. Dan sekarang, dia mencampakkanku! Lebih baik dia mati!!!” Pistol Jessica mulai turun.

Air mata keluar dari mata Jessica dan membasahi pipi mulusnya.

“Eonni, tapi tidak begini caranya…”

“Kau diam! Kau sama saja dengannya Krystal!”

Jessica kembali menyodorkan pistolnya ke arah Krystal.

“Kau juga menghancurkan hidupku! Kau merebut Kris dariku!”

“Aku tidak melakukan apa-apa eonni!”

“Lebih baik kau mati!!!”

Bersamaan dengan itu, seseorang masuk ke rumah dan langsung menjatuhkan Jessica bersama pistolnya.

“Kai?”

“Krystal? Gwencanha?” kata Kai sambil memegang wajah Krystal.

“Aku tidak apa-apa Kai. Tapi Kris oppa…”

Kai melihat ke arah Kris. Terlihat Kris sudah tidak berdaya.

“Cepat kau telfon ambulans dan polisi,” kata Kai.

Krystal langsung menjangkau ponselnya. Dan menelfon ambulans dan polisi.

Jessica yang terjatuh, kembali berdiri sambil memegang pistolnya.

“Kau tidak akan lolos Krystal!!”

Jessica kembali menembakkan pistolnya.

Kai yang melihat ini, langsung mendorong Krystal. Untungnya peluru itu meleset. Hanya mengenai guci yang ada di belakang Krystal.

“Kau sudah menelfon mereka kan? Kau tidak apa-apa?” tanya Kai.

“Ya, mereka akan datang dalam sepuluh menit. Aku tidak apa-apa kok.”

Dengan tatapan membunuh, Jessica kembali mendekati mereka berdua.

“Huh, kau memanggil bala bantuan? Silahkan saja! Toh kau juga akan mati! AHAHAHHA!!”

Kali ini Kai tidak ingin Jessica kembali memainkan pistolnya. Dia pun mendorong tubuh Jessica, menahan tubuhnya dan memukul tangannya. Pistol itu pun terjatuh jauh dari tempat Jessica.

“Lepaskan aku! Lepaskan!”

“Tidak akan!” ucap Kai sambil tetap manahan Jessica.

Krystal pun mendekati Kris. Terlihat dia tergeletak bersimbah darah. Kris masih hidup! batin Krystal. Nafasnya sedikit-sedikit masih bisa dirasakan.

“Mi… mianhae Krystal… Mian…”

“Shhh… Kau jangan berbicara dulu. Sebentar lagi ambulans akan datang.”

Jessica yang melihat adegan itu mulai panas.

“Kau hanya meminta maaf padanya? Lancang sekali!”

Entah kekuatan dari mana, Jessica langsung menendang kaki Kai. Dan mengambil pisau di dapur.

“Kalian tidak akan lolos!!!”

Jessica mengangkat tangannya, siap melayangkan pisau itu ke arah Krystal yang sudah berdiri. Krystal menutup matanya.

Sraap!!

Pisau itu tertancap dan mengeluarkan darah. Krystal membuka matanya. Bukan dirinya yang tertusuk. Tapi Kai!

Ternyata Kai sudah berdiri di depan Krystal.

Kai melepas pisau itu dari perutnya.

“Kai, Kai! Bertahanlah Kai!!!” Krystal terduduk di sebelah Kai yang jatuh sambil memegang perutnya.

“Krystal… ap… appa…” Kai mengerang menahan sakit di perutnya.

Jessica tertawa terbahak-bahak. “Sekarang giliran kau Krystal!!”

Jessica kembali mengayunkan pisaunya.

Dan…

“Kau! Letakkan pisau itu dan angkat tanganmu!!”

Jessica kaget dan berbalik. Polisi!

Jessica terjebak. Polisi pun segera membawanya keluar.

“Andwe! Mereka yang salah!!! ANDWE!!!” teriaknya saat digiring oleh polisi.

Polisi tersebut mendekati Krystal. Diikuti oleh paramedis.

“Jae.. jaebal, tolong dia,” Krystal menangis sesenggukan melihat keadaan Kai. “Kumohon…”

Paramedis pun segera menangani Kris dan Kai ke ambulans. Dan mereka pun segera menuju rumah sakit.

***

Krystal mendekati tempat abu Kris yang sudah tersimpan rapi. Ya, Kris meninggal karena kejadian itu.

Jessica sendiri sekarang sudah berada di rumah sakit jiwa. Ternyata, Jessica menjadi stres dan gila akibat perusahaan yang sudah dipegangnya tiba-tiba bangrut, karena campur tangan Kris yang akan merebut perusahaan itu. Belum lagi perlakuan Kris padanya yang akan menceraikannya saat perusahaan itu sudah ada di tangan Kris.

Saat ini, Krystal tidak lagi tinggal di rumah Jessica. Dia tinggal di rumah bibinya, yang ternyata selama ini masih selalu mengawasi Krystal dan Jessica.

Lalu, Kai?

Krystal sedang menuju rumah sakit tempat Kai di rawat. Untungnya Kai cepat ditangani. Kai harus dioperasi karena tusukan pisau itu sangat dalam menusuk perutnya.

Krystal sampai di ruang 401. Dia pun membuka pintunya.

Terlihat Kai sedang menulis sesuatu.

“Hei, kau belum boleh terlalu lelah,” ucap Krystal sampai duduk di sampingnya.

“Hehehe. PR Shim songsangnim banyak sekali. Dia pasti tidak akan menerima alasan apa pun kalau aku tidak mengerjakannya.”

Krystal memegang tangan Kai.

“Jadi, kalau aku datang, kau akan tetap mengerjakan PR dan nyuekin aku?” Krystal pura-pura ngembek.

Kai pun tersenyum. “Dasar kau ini,” ucapnya sambil menyimpan PR-nya.

“Mmm… Gomawo. Sepertinya setelah kau siuman, aku baru berterima kasih sekarang.”

“Ah, sudahlah. Yang penting kita selamat kan? Hehee.”

Kai memandangi wajah Krystal. Dan mengecup keningnya.

Krystal kaget dengan gerakan Kai yang tiba-tiba itu.

“Saranghae, Krystal-a”

Krystal terdiam.

“Kau tahu? Sejak pertama kali melihatmu, kau benar-benar unik dan beda dari yang lain. Kau tidak seheboh mereka. kau memang terihat misterius dengan sikap pendiammu itu. Itu makanya aku suka. Aku mencintaimu Krystal.”

Krystal tersenyum.

“Jadi, detik ini kau menjadi namja chinguku nih?”

Kai tertawa. “Kau menerimaku ya?”

“Bagaimana ya..?” Krystal pun pura-pura berpikir.

“Ah, jinja…”

“Iya deh,” ucap Krystal, sambil secara spontan menyikut perut Kai.

“Aw…aw…awww! Sakit Krystal….”ucap Kai sambil meringis memegang perutnya.

“Ah, mianhae…” Krystal menampilkan senyum di wajahnya.

 

-FIN-

 

 

 

 

17 pemikiran pada “Cleansing Cream

  1. Ff nya bagus kok, pas yg krisnya ke tembak itu feelnya lumayan dapet.
    Teruuus di tingkatkan ya penulisannya!!! Fighting

  2. Hanya ada 1 kta untk ni ff DAEBAAAAAAKKKKKKK!!!!!!!
    Pas adgan bnuh2 feelnya dpt bgt thor, dtunggu karya2 selanjutnya thor
    keep writing 🙂 😉 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s