Don’t Kiss Me (Chapter 1)

Don’t Kiss Me!

gishafzworkartff2

| Title : Don’t Kiss Me ! (Chapter 1)|

| Author : gishafz (@ginashafanm) |

| Main Cast : Milania Van Dijk as Milan (OC) & Byun Baekhyun as Baekhyun (EXO) |

| Other Cast : Cerliana Van Dijk (Milan’s Mother), Kim Tae Hyun  (Milan’s Father) and etc. |

| Genre : Romance, Little Comedy, Het Fic |

| Lenght : Chapter |

| Rating : PG-17(Dapat berubah sewaktu-waktu) |

Disclaimer: Cerita ini asli imajinasi dan khayalan author sendiri. Jika ada kesamaan cerita saya tidak tahu menahu dan tidak ada unsur kesengajaan. Maaf jika ada kesamaan alur atau plot karena JUJUR author tidak tahu menahu.

Author’s noteWARNING! Typo beredar dimana-mana. GAK SUKA? JANGAN BACA!

| DILARANG KERAS UNTUK COPY+PASTE FANFICTION INI TANPA SEIZIN AUTHOR |

~ Happy Reading ~

Milania Pov

Annyeong ! Nama lengkapku Milania Van Dijk. Umurku 20 tahun. Banyak yang bertanya mengapa namaku Milania Van Dijk? Karena aku dilahirkan dan dibesarkan di negara kincir angin raksaksa yaitu Belanda. Ibuku bernama Cerliana Van Dijk ia lahir di Belanda juga sama sepertiku. Jauh berbeda dengan ayahku. Ia bernama Kim Tae Hyun ia lahir di Korea Selatan.

Tahun 2014 ini, aku dan Ibuku akan ke Korea. Ini kedua kalinya aku ke Korea. Kkkkkk~ Tapi pada tahun 2014 ini. Aku akan pindah kuliah ke Korea Selatan sekaligus menetap disana. Ibuku juga akan pindah kesana untuk menemani ayahku berbisnis. Ya, aku tidak tahu menahu tentang bisnis ayahku. Yang aku tahu ia berbisnis dalam bidang fashion atau design.

*@Schiphol Amsterdam Airport, Dutch (Belanda) *

“Ahhh Ibu. Benarkah kita akan benar-benar pindah ke Korea Selatan?” tanyaku lirih menatap ibuku yang memainkan smartphonenya sambil duduk di kursi tunggu bandara.

Ya memang. Walau ibuku sudah tua umurnya hampir menginjak kepala 5. Ia tetap tidak ingin ketinggalan zaman dan kalah dengan kaum muda. Teknologi sudah maju. Ia juga tidak ingin menyianyiakan kesempatan itu.

“Ya sayangku. Memangnya kenapa?” jawabnya dengan melirik sepintas kearahku.

“Mmm.. Aku canggung, Bu.” Ucapku dengan nada cemas.

Bagaimana tidak? Aku hanya bisa berbahasa Korea itu sedikit tidak terlalu pasih. Karena aku lebih sering berbahasa Inggris atau Belanda. Ya aku takut pada saat  di sekolah, aku tidak bisa banyak bicara bahasa Korea. Apa perlu aku bawa penterjemah ke sekolahku? Impossible!

“Kenapa sayang?” ia mendengus pelan lalu melepas kacamata hitam lekatnya lalu menatapku.

“Aku tidak terlalu pasih Bahasa Korea. Aku takut nanti aku tidak bisa mengikuti kegiatan belajar. Dan ibu tahu sendiri. Tulisan hangulku saja masih jelek. Membacanya saja masih di ejah.”

Ia menghela nafas panjang sebelum merespon perkataanku tadi.

“Sayang, kau jangan sebodoh itu! Ibu akan memanggil guru yang mengajarkanmu Bahasa Korea. Jadi kau jangan khawatir. Buang semua kekhawatiran itu. Seharusnya kaum muda harus lebih pintar berfikir. Mengapa kaum yang sudah masuk usia lanjut ini masih lebih pintar, Mmm?” ujarnya tertawa renyah seakan meremehkan kaum muda yang artinya menyindirku yang masih kaum muda ini.

“Aisssh! Ibu! Mengapa disaat serius seperti ini kau masih bisa tertawa bahagia seperti itu Eoh? Sudahlah ayo kita masuk kesana. Jam keberangkatan kita sudah dibuka.” aku berjalan seraya mendelik ke arah Ibuku yang aku lihat masih tertawa bahagia. Cih! Ibu macam apa itu?

Aku menarik koper yang isi seluruhnya adalah kepunyaanku. Aku semakin jauh meninggalkannya. Hingga suara teriakan yang membuat aku tersenyum senang lalu berhenti.

“Kau ini! Milan! Tunggu Ibumu! Haduh. Kau ini. Jangan tinggalkan Ibumu! Tunggu, Milania!” ia berteriak keras ke arahku. Sehingga beberapa orang melihatnya heran. Maklumi saja.

Mengapa daritadi tidak ada ayahku? Karena ayahku lebih dulu berangkat ke Korea Selatan ketimbang aku dan Ibuku.

.

.

.

*@Incheon Airport, South Korean*

Aku dan Ibuku tiba di Bandara Incheon. Aku sedang menunggu jemputan dari ayahku.

15 menit kemudian..

“Selamat Sore Nyonya Kim.” Sahut si sumber. Ia membungkukkan badannya.

Otomatis aku dan Ibuku menoleh. Melihat ia membungkuk. Aku dan Ibuku juga ikut membungkuk.

“Ya Selamat Sore. Kau siapa?” tanya Ibuku.

“Saya adalah supir pribadi Tuan Kim. Nama saya Kang Ha Kyung. Saya diperintahkan untuk menjemput Nyonya dan Nona. Karena Tuan Kim tidak bisa menjemput sebab ada meeting mendadak.”

“Ohhh. Baiklah kalau begitu.” Ibuku menjawab sambil menganggukkan kepalanya.

“Ya. Nyonya Kim. Silahkan masuk.” Ia lalu membuka pintu mobil belakang sebelah kiri.

Tanpa basa-basi. Ibuku pun masuk. Kini giliranku yang masuk.

“Dan Nona. Silahkan masuk.”

“Ne. KamsahamnidaAhjussi .” Ucapku sambil tersenyum ke arahnya.

Tertutupnya pintu. Supir pribadi ayahku langsung cepat masuk ke tempat kemudi yang bertempat disebelah kiri. Beberapa detik kemudian…

RUNNGGGGG! Suara derungan mobil yang melaju menuju Apartement milik ayahku.

.

.

.

Author Pov

*Morning @Bedroom Milania *

Kring… Kring… Kring

Suara alarm yang nyaring itu berusaha membangunkan Milan yang tengah tertidur pulas diranjang miliknya. Ia sangat kelelahan karena perjalan jauh dari Belanda menuju Korea Selatan. Apalagi hari ini ia harus masuk kuliah. Ini hari pertamanya masuk kuliah di Korea. Itulah yang membuat Milania pusing tujuh keliling.

Kring… Kring… Kring…

Kring… Kring… Kring…

Kring… Kring… Kring…

Suara alarm yang nyaring itu terus berusaha membangunkan Milan yang masih menikmati acara tidurnya. Entah mengapa? Suara alarm itu begitu nyaring dan keras. Mengapa tidak bisa membangunkan Milan? Padahal jarak antara kupingnya dan jam alarm itu begitu dekat. Sepertinya ia sangat kelelahan.

“Milan.. Bangun! Lihat jam berapa sekarang! Kau itu kuliah, Sayang!” teriakan yang keras itu bergema di dalam kamar tidur Milan.  Membuat siapapun yang mendengarnya pasti shock dan kaget luar biasa. Kalian tidak terlalu berfikir keras untuk menebak suara siapa ini. Yap! Suara Ibunya.

“Kyaaaaaaaa~!” Milan berteriak kaget dan spontan terbangun.

“Ah akhirnya kau bangun, Tukang tidur!” ujar Ibu Milan sambil bersidakep dada dekat ambang pintu kamar.

“Ahhh, Ibu! Mengapa kau selalu membuat aku shock akhir-akhir ini. Aku masih mengantuk, Bu!” ucapnya dengan nada malas. Ia menarik selimut lagi untuk menutup tubuhnya tapi semua itu terlambat.

Ibu Milan menghela nafas sangat panjang. Lalu ia berlari menuju ranjang Milan.

“Ah tidak bisa! Lihat jam berapa sekarang! Kau tahu? Berapa kali jam alarm itu berbunyi?!” Ibu Milan membentak anaknya. Secepat kilat Ibu Milan menarik kuat selimut Milan. Hingga membuat badan Milan hampir terjatuh ke lantai.

“Cepat bangun lalu bergegaslah mandi.” Ia memerintah Milan dengan menatap tajam ke arahnya.

“Memangnya jam berapa ini?” Milan mendengus kesal. Ia mengerjap-ngerjapkan mata lalu melirik jam yang tergeletak di dekat lampu tidur.

“Ini masih jam 05.40, Ibu! Itu masih pagi! 20 menit lagi aku bangun. Aku berjanji.” Ia mengacungkan jari kelingkingnya layaknya anak TK.

“Tidak bisa! Kau tahu? Jam berapa bel masuk kuliah barumu Hah?” ujar Ibu Milan kembali bersidakep dada.

“Mana kutahu. Apakah itu begitu penting? Cih~” Jawab Milan malas lalu memeluk bantal kecilnya.

“Jam 6.30! Cepat mandi dan bersiap-siaplah! Ayahmu memberikan supir pribadi untukmu sendiri. Ia akan datang kesini jam 6.15. Cepatlah mandi, Milan! Atau Ibu akan menyita semua gadgetmu itu!” ucapan Ibu Milan semakin serius dan menatap mata Milan lekat.

Milan hanya dapat memalingkan wajah dan meneguk air liurnya sendiri melihat tatapan super tajam dari Ibunya.

“Aku tidak peduli dengan gadgetku dan supir pribadiku! Yang terpenting aku bisa tidur nyenyak!” ia menatap vas bunga yang tertata di ujung sudut kamarnya. Karena sungguh. Milan tidak ingin menatap Ibunya.

“Kau mulai berani sekarang ya! Cepatlah bergegas mandi lalu turun kebawah, Milania Van!!!!” perintah Ibu Milan yang semakin meninggikan nada suaranya.

Milan tidak berkutik. Ia langsung terbangun dari ranjangnya. Ia memeluk Ibunya sambil membisik pelan, “Baiklah.. Baiklah.. Aku kalah kali ini, tapi lain kali Ibu yang akan kalah.” Ia lalu pergi menuju kamar mandi dan menyeringai Ibunya.

“Dasar anak-anak beraninya berkata seperti itu pada Ibunya sendiri.” Tampak Ibu Milan menggelengkan kepalanya karena kesal dengan bergegas keluar dari kamar Milan.

Saat Milan baru menutup kamar mandinya ia teringat sesuatu, “Tunggu dulu. Tapi hari ini itu hari Minggu? Wa-wae aku disuruh kuliah?” ia berdehem pelan lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Moeder! K-k-kau! Kau membohongiku!” ia berteriak keras sambil membuka pintu dan mengejar Ibunya.

Terlihatnya sang Ibu. Ia lalu berlari kencang lalu menghadang jalan.

Tanpa menarik nafas Milan langsung bertanya pada Ibunya, “Moeder! Why did you lie to me?!” nafas Milan menderu. Ia memandang kasar sekaligus kesal pada Ibunya.

Why? Karena Ibu sedang ingin mengerjahimu. Ibu membalas dendam atas apa yang kau lakukakan pada Ibu di bandara kemarin. Kkkkkk~” jawabnya enteng dan menyeringainya. Lalu ia berjalan pergi meninggalkan anaknya yang kesal setengah mati atas perlakuannya sendiri.

“Arghhh! Aku mulai gila karena wanita yang melahirkanku sendiri.” Milan mengacak rambutnya kesal lalu menghentakkan kakinya ke lantai sebelum masuk ke kamarnya.

.

.

.

*Dinning Room @House of Kim Family*

Hening. Di ruangan makan ini sungguh hening. Mereka sibuk dengan makanannya sendiri. Hanya suara dentingan piring akibat gesekan dari garpu dan pisau seakan membuat suasana tidak terlalu hening.Seandainya ada kakak Milan, yaitu Paminia Van Dijk. Pasti ruangan makan ini dipenuhi dengan gelak tawa. Karena Paminia sangat pintar dalam hal menghibur.

Tapi, keheningan ini lenyap ketika Ayah Milan membuka topik pembicaraan.

“Milan.” Ucap pria paruh baya itu dengan nada serak. Pria paruh baya itu duduk berseberangan dengan Milan.

Kini keluarga Kim sedang sarapan di meja makan.

Ne?” jawab Milan yang masih sibuk memotong dagingnya dengan pisau.

“Kau tahu? Jika Ayah memberikanmu seorang supir pribadi?” ia menghentikan kegiatan makannya, menaruh garpu dan pisau di sebelah piring lalu memandang Milan.

Ne. Aku tahu dari Ibu.” Jawab Milan yang masih mengunyah kecil makanan yang ada di dalam mulutnya.

“Oh. Begitu. Dan apa kau tahu siapa yang akan mengajarkanmu Bahasa Korea?”

Aniya Ayah. Aku tidak tahu. Memang siapa? Wanita kah?” ia menatap penasaran Ayahnya.

“Tebakanmu salah. Ia seorang pria. Menurut ayah ia lumayan tampan. Ia anak dari teman ayah.” Ia tersenyum kecil seakan sedang menggoda Milan.

“Aissh~ Ayah. Jangan menggodaku. Aku sedang tidak ingin mempunyai kekasih. Aku ingin fokus dengan kuliahku dulu.” Milan meneguk segelas air lalu menaruh gelas itu dengan kasar di atas permukaan meja makan sehingga membuat dentingan keras. Membuat Ibunya kaget.

Aigoo! Jangan seperti itu Milan. Tidak sopan.” Ucap Ibu Milan sambil menyeruput secangkir teh yang dipegang tangan kanannya.

I’m Sorry, Heheheh.” Milan terkekeh kecil ketika melihat bibir Ibunya yang mengerucut untuk menyeruput tehnya.

“Hey! Apa yang kau lihat, Milan?” ia bertanya dengan tangan kanannya yang masih menggenggam cangkir teh.

“Sudah-sudah. Milan, Ayah akan perkenalkan pria itu.” Pria paruh baya itu berjalan menuju kursi duduk anaknya.

Ne, Ayah. Kajja.” Milan berdiri lalu menggenggam lengan kiri Ayahnya.

Ayah Milan membawa anaknya menuju taman belakang rumahnya. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong menuju halaman belakang. Mereka berbagi canda dan tawa ketika berjalan. Hingga tak terasa mereka telah sampai di depan pintu menuju halaman belakang.

“Biarkan aku yang membuka pintu, Ayah.” Ia menurunkan tangan Ayahnya yang memegangi kenop pintu. Ia tersenyum ramah pada Ayahnya.

TRRRIIITTTT

Suara decitan pintu yang terbuka. Sekerjap angin berhembus damai menelusup ke sela-sela rambut panjang Milan. Sweater tipis milik Milan terangkat perlahan akibat hembusan angin tadi. Harum semerbak bunga-bunga yang tertanam di taman belakang rumahnya. Sedangkan Milan sama sekali tidak melihat ada seseorang disana. Apa Ayahnya membohonginya? Arggh! Jangan sampai!

“Ayah? Mana supir pribadiku?” Milan mengistirahatkan kepalanya dipundak Ayahnya.

“Dia ada disini. Kajja.” Ia menarik tangan Milan menuju pohon Maple.

Tapi langkah mereka terhenti ketika handphone Ayah Milan berdering. Itu sebuah telefon.

“E.. Milan kau pergi ke pohon itu. Ayah akan menerima telepon ini dulu.” Ia menunjuk pohon itu dengan dagunya. Lalu ia pergi menjauh dan masuk ke dalam rumah untuk menerima telepon.

Kini tinggal Milan. Ia meneguk air liurnya sendiri. Berjalan menuju pohon itu.

Milania Pov

‘Sebegitu pentingkah aku bertemu dan berkenalan dengan supir pribadi itu? Oh ya. Kata Ayah dia adalah anak dari teman bisnisnya. Mengapa anaknya mau menjadi supirku?’ ujar batinku.

Aku berjalan perlahan menuju pohon itu. Aku tidak melihat sama sekali seseorang di pohon itu. Hingga aku menemukan seorang pria dengan batang hidung yang tajam, matanya tertutup, menyandar pada pohon, sebuah headseat yang terpasang di kedua kupingnya, dan rambut yang agak berantakan akibat hembusan angin. Oh sungguh tampan! Apa benar ia supir pribadiku?

‘Inilah jatuh cinta pada pandangan pertama. Aigoo! Aku menyukai pria ini.’ Ujar batinku.

Aku perlahan melangkah mendekati pria itu yang tengah tertidur di bawah pohon. Mengapa jantungku berdegup dengan kencang dari batas normal? Apa aku gugup? Aku semakin dekat dengan pria itu. Hingga akhirnya aku berada disamping kiri tubuhnya. Aku terdiam dulu memandang wajahnya hingga akhirnya aku memutuskan duduk sambil menatap wajah damai pria itu.

Aku menyingkirkan beberapa helai rambut yang sedikit menutup matanya dengan tanganku. Ah aku sungguh penasaran dengan pria ini. Sifatnya, kepribadiannya, semuanya aku ingin tahu itu. Aku melihat kedua matanya, kedua alisnya, hidung mancungnya, dan yang terakhir bibir pria itu. Oh jangan! Aku harus menjaga jarak denganya.

“mmmpphhh..” suara deheman kecil dari pria itu. Sontak membuat aku terkesiap.

Aku semakin menjaga jarak dengannya. Tapi aku terkekeh kecil.

“Pada saat tidur saja kau terlihat tampan. Sebenarnya siapa kau? Apa benar kau supir pribadiku? Dengan wajah tampan seperti ini? Bisa-bisa aku jatuh cinta dengan ketampananmu.” aku terkekeh kecil ketika mengatakan kalimat itu dengan pelan.

‘Bodoh! Bagaimana jika pria ini mendengar omonganku tadi?’ gerutuku. Aku menjitak kepalaku sendiri dengan keras. Yap itu sakit.

“Apa benar yang kau bilang tadi?” ucap pria itu sambil menguap kecil lalu mengusap kedua matanya. Pria ini bangun ternyata.

Kedua bola mataku membulat melihat ia terbangun.  ‘Apa sedari tadi ia itu sudah terbangun? Karena kedatanganku ia berpura-pura tertidur? Aigoo! Dan dia mendengar perkataanku? Kyaaaaaaaaaaaaaa~’ ujarku dalam hati.

Aku tidak berkutik sama sekali. Aku lebih baik bungkam.

“Enak sekali tidur dibawah pohon ini.” Ia merenggangkan tubuhnya yang masih terduduk.

Kyaa! Mengapa ia sangat tampan?

“Kau Milania?” kali ini ia menatap kearah wajahku. Nadanya sangat lembut. Tatapannya juga sangat hangat.

“N-n-ne. Aku Milania. Apa benar kau supirku? Siapa namamu?” aku bertanya untuk memastikan apa benar ia supir pribadiku. Ah kemana Ayahku mengapa lama sekali?

“E-e-e-e-e a-a-ku. Ya aku supir pri-pribadimu. Namaku Byun Baekhyun.” Ia menjawab pertanyaanku dengan terbata-bata. Apa ada yang disembunyikannya?

“Oh ne.” Aku mengangguk-anggukan kepala lalu membenarkan jaket tipisku yang agak miring.

Pada saat aku sudah membenarkan jaketku. Aku binggung dengannya. Ia menatap kearah mana? Mataku? Bukan, jika ia menatap mataku pasti tatapan matanya fokus ke mataku. Tatapannya itu mengarah ke bawah hidungku. Sebentar, dibawah hidung? Ia memandang bibirku? Untuk apa? Hah lebih baik aku pergi saja darisini daripada terjadi hal-hal yang aneh. Seperti ciuman. Dan aku takut terbawa suasana.

“Baekhyun-ssi. Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi.” Aku melangkah untuk segera pergi. Tapi sebuah tangan melingkar dipinggangku. Membuat langkahku terhenti.

Tangan itu milik Baekhyun. Kini tangannya naik dan melingkar diperutku. Deruan nafasnya begitu hangat sehingga menyentuh daun telingaku. Aku terkesiap dengan perlakuannya. Ingin rasanya aku mendorong dan meninjunya, tapi tidak bisa. Aku mabuk karenanya. Kita baru berkenalan tadi! Ta-tapi kenapa ia bisa-bisanya melakukan hal ini?

Kini ia mengistirahatkan kepalanya dipundakku. Pipiku bersemu merah akibat perlakuannya. Deruannya nafas yang menyentuh leherku membuat aku geli dan sekarang mataku terpejam. Aku dapat mencium aroma tubuhnya dengan jelas karena jarak kami sangatlah dekat. Aku mabuk dengan perlakuannya. Jangan seperti ini kumohon!

Beberapa menit kemudian secepat kilat ia membalikan tubuhku hingga badanku menubruk dan kini menyandar pada pohon maple. Ia langsung menghimpit tubuhku dengan kedua tangannya. Wajah kami sangatlah dekat. Ia memandang mataku sepintas lalu tertuju pada bibirku. Ia mulai memiringkan wajahnya dan mendekat ke wajahku. Jangan sampai aku terbawa suasana!

I will kiss you, Milania.” Ucapnya lalu menyeringai. Aku membulatkan mataku seperti O_O karena kalimatnya tadi. ‘I will kiss you, Milania.’

Matanya sudah terpejam. Deruan nafasnya menerpa kulit wajahku. Hanya tinggal 2 inchi lagi bibir kami bersentuhan. Pada saat mataku mulai terpejam, sebuah alarm berbunyi keras dipikiranku. Sial, aku terbawa suasana. Aku tersadar. Tadi ia ingin menciumku. Dengan sigap aku mendorong dan memukul dadanya.

“Aku tidak ingin namja yang baru aku kenal ini merenggut ciuman pertamaku. Kecuali jika ia kekasihku.”Ujarku dalam hati.

Don’t Kiss Me!” perintahku dengan nada terengah-engah.

Ia menghela nafas pendek lalu mengacak rambutnya. “Sial, padahal tadi sedikit lagi.”

“Kau hampir merenggut ciuman pertamaku!” aku berteriak keras sambil mendorong lagi tubuhnya untuk menyingkir dari hadapanku.

Baekhyun tertawa ketika mendengar pernyataanku, “Jadi kau belum pernah berciuman?”

“Ya! Aku belum pernah berciuman! Aku akan memberikan ciuman pertamaku dengan kekasihku kelak.” Nadaku meninggi karena ia seolah-olah menganggapku remeh.

Aku memutuskan untuk kembali masuk ke rumah. Aku meninggalkan Baekhyun yang masih tertawa seperti orang gila.

“Cih~ Dasar gila! Wleeee.” ucapku lalu menjulurkan lidah ke arahnya.

Author Pov

Baekhyun masih tampak tertawa meskipun Milan sudah masuk ke dalam rumah. Ia heran dengan Milan. Apa dia tidak diberitahu oleh orang tuanya? Yang akan menjadi kekasihnya adalah Byun Baehyun. Karena Keluarga Kim Tae Hyun menjodohkan Milan dengan seorang anak laki-laki dari Keluarga Byun yaitu Byun Baekhyun.

“Aku tidak masalah jika dijodohkan dengan wanita cantik, kulit seputih susu, rambut yang panjang, pintar, ah kau memang tipeku Milania.”Ujar Baekhyun dalam benaknya.

“Akulah kekasihmu, Milania.” Ia menenggelamkan kedua tangannya di saku celana. Berjalan santai untuk memasuki rumah keluarga Kim.

Sesampainya Baekhyun didalam rumah keluarga Kim ada seseorang yang memanggil Baekhyun, “Baekhyun!”

Ne? Nugu?” ia mencari-cari si sumber suara. Nampak pria tua yang Baekhyun lihat. Sedang berada dipinggir pembatas pagar lantai dua.

“Disini nak Baekhyun.” Teriak Ayah Milania sambil melambaikan tangan kanannya.

Baekhyun mengangguk, “Ne. Baiklah, Aboeji.” Ia berlalu pergi menuju lantai dua tempat Ayah Milan berada.

Sesampainya Baekhyun disana. Baekhyun mendapat tepukan di bahu dari Ayah Milan. Membuat sedikit Baekhyun terperanjat.

“Silahkan duduk. Apa kau sudah bicara pada Milan?” tanya pria itu sambil duduk di sofa berbentuk huruf L.

Baekhyun pun ikut duduk mengikuti perintah calon mertuanya itu.

“Kamsahamnida, Aboeji. Tadi saya hendak mencium anak Aboeji setelah itu aku akan menceritakan semuanya. Tapi ia sudah marah lebih dulu. Ia marah mungkin aku hendak menciumnya.” Baekhyun tertunduk kaku karena menyesal tidak dapat memberitahu Milan jika dia adalah kekasihnya yang terbentuk dari perjodohan.

Ayah Milan menggelengkan kepalanya, “Wah. Mengapa anak itu tidak ingin dicium pria se-tampan ini?” tanyanya tersenyum menggoda sambil meminum secangkir kopi hangat.

“Ia bilang, Ia hanya ingin berciuman dengan kekasihnya. Padahal aku inikan kekasihnya.” Jawab datar Baekhyun mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal lalu tertawa.

Ayah Milan pun ikut tertawa.

“Maafkan aku, Aboeji.” Ia kembali tertunduk. Oh, Baekhyun menyesalinya. Seharusnya ia tidak perlu pakai rencana mencium gadis itu.

Gwaenchana. Kau beritahu sekarang pada Milan. Ia sedang berada di kamar.” Ia menyuruh Baekhyun pergi ke kamar Milan dan menceritakan semuanya. Baekhyun pun mengangguk mengerti dan beranjak pergi menuju kamar Milan.

.

.

.

*@Bedroom Milania*

Milan mecubit-cubit keras bantal yang sedang dipeluknya. Ia duduk dan tertunduk diam mengingat kejadian tadi. Kejadian paling mendebarkan selama hidupnya.

“Arghh! Kau itu hanya supir pribadiku! Beraninya kau!!!!” Milania berteriak kesal sambil melempar bantal kesegala arah. Dia tak peduli jika lemparannya mengenai benda yang mudah pecah. Ia hanya ingin melampiaskannya kekesalannya melalui bantal itu.

GREP!

Satu buah bantal ditangkap sempurna oleh Baekhyun. Tadi ia baru membuka pintu kamar Milan. Ketika melihat bantal akan menghantamnya ia sigap menangkapnya. Mata Baekhyun kini tertuju dengan pakaian yang Milan kenakan. Milan hanya mengenakan kemeja putih kebesaran dengan celana pendek yang panjangnya hanya sampai setengah paha.

Baekhyun hanya meneguk air liurnya sendiri. Mungkin dalam pikirannya itu WOW! SEXY GIRL. Ia kembali fokus ke tujuannya.

“Hey! Kau kenapa?” tanya Baekhyun sambil mengambil beberapa bantal yang berjatuhan dilantai.

“Apa urusanmu hah? Kau kekasihku kah? Bukan!” Milan membuang muka lalu menghadap ke jendela. Milan amat kesal atas kejadian tadi di taman.

“Tentu saja itu urusanku! Karena aku ini kekasihmu!” Baekhyun membentak sambil melempar bantal yang tergeletak di lantai. Membuat Milan terkesiap dengan membulatkan matanya.

“A-a-a-apa katamu? Kau tidak salah dengan kalimat itu?”

“Tidak. Kita ini dijodohkan.” Ujar Baekhyun dan terduduk di pinggir ranjang Milan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

\^-^/ TBC \^-^/

 

Hello Readers ^^ ketemu sama author gishafz #lebaaaaay :v

Kayaknya nih judul ff kagak nyambung sama isi ceritanya ya? Hahahaha 😀

Bagaimana menurut kalian? Semoga kalian suka ya ^^ .. Ikutin terus kelanjutan Milan sama Baek, Okay!?

Awalnya ini mau dibuat oneshot tapi gatau kenapa kok jadi ingin berchapter ya? Ya sudah mungkin udah kehendak Yang Maha Kuasa …

Author ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya  buat readers yang mau baca dan berkomentar fanfiction ini J .. Aku berharap kalian suka sama ceritanya, walau cerita fanfiction ini rada gaje ._.

Buat siders, komentar dong? Aku sangat berterimakasih buat kalian yang mau komentar dan meninggalkan jejak.

Bagi para plagiat, author mohon kalian jangan plagiat. Kasiankan author yang udah nulis dan berimajinasi cape-cape malah di plagiatin 😀

Maaf kalau memang ada kekurangan, maklum author hanya manusia biasa J

Apa kalian tahu fanfiction “Maybe.. I Should Choose One” ?? Itu fanfiction aku juga :v

Bye~ Sampai bertemu di chapter selanjutnya J

171 pemikiran pada “Don’t Kiss Me (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s