Frozen EXO Version (Chapter 1)

Frozen EXO Ver Chapter 1

Cast :
Kim Minseok (Xiumin) as Elsa boy ver
Kim Min sung as Anna (OC)
Park Chanyeol as Kristoff
Wu Yi Fan (Kris) as Prince Hans

Other Cast:
Shindong as shopkeeper
Yunho as Westles Duke
Luhan as Chanyeol’s deer
Kangta and Boa as Minseok’s parent
Jongdae (Chen) as Olaf

Rating : G
Genre :family, romance, fantasy
Author : Riana (@Riana19059129) | R.Kim
Length : chaptered
Disclaimer : Semua tokoh di cerita hanya milik Tuhan YME. Kkkk~ maaf jika ada kesamaan ide cerita dan tokoh. Tapi karya ini 100% dari otak author. Mohon dukungan atas ceritanya juga ya J
Maaf jika banyak TYPO juga ya, author agak keburu nulisnya soalnya hehehe~
Mohon dukungannya….~

 

The Story Begin….

 

Di sebuah kerajaan EXOdelle yang tenang dan damai, hidup Raja Kangta yang memerintah kerajaan mungil tersebut. Ia memiliki 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Minseok sebagai kakak dan Min sung sebagai adiknya. Mereka hidup dengan damai.

Minseok memiliki kekuatan istimewa, ia dapat membuat es, salju, membekukan benda, dan beberapa keajaiban lainnya. Ia dan Minsung sangatlah suka membuat boneka salju.

“Minseok Oppa, bangun! Bangun!”

Minsung kecil menarik-narik tangan Minseok yang gempal seperti kapas, Minseok membuka matanya sedikit.

“Tidurlah Minsung, hari sudah malam. Aku ingin tidur….”

“Tidak bisa Oppa! Langitnya terjaga, akupun ikut terjaga. Karena itu kita harus bermain dan bermain…” Minsung merebahkan tubuhnya di atas perut Minseok.

“Kau mau membuat boneka salju, Oppa?”

Minseok membuka matanya dan tersenyum senang. Dengan langkah cepat dan hati-hati kedua anak itu menuruni tangga ke arah ruang pesta dansa yang kosong. Minseok dengan cepat membentuk salju dari kedua tangan ajaibnya.

Mereka membuat boneka salju yang mereka beri nama Chen. Sungguh manis dengan hidung dari sebatang wortel yang mengiasi wajah lonjong Chen.

Dengan gembiranya mereka bermain bersama, membuat boneka salju bernama Chen. Bermain papan luncur, dan Minseok membuat undak-undakan untuk dilompati Minsung.

“Wuhu! Cepat Oppa! Tangkap aku!”

Minsung dengan semangat melompati setiap undakan yang dibuat Minseok dengan kewalahan, tangannya mulai lelah karena harus membuat terus-terusan. Tiba-tiba ia terpeleset sebelum membuat gundukan salju yang cukup tinggi untuk pijakan Minsung.

“Minsung awas!”

Minseok tanpa sengaja mengulurkan tangannya, menembakkan kekuatannya yang tepat mengenai kepala Minsung hingga membuat gadis kecil itu pingsan. Minseok panik setengah mati dan segera mengangkat Minsung.

“IBU! AYAH!”

Minseok meraung sekeras mungkin, ia begitu panik saat Minsung tak juga bangun. Ayah dan ibunya kaget setengah mati melihat keadaan istana menjadi beku dan dingin.

“Minseok! Minsung!” ibunya kaget dan histeris melihat keadaan Minsung.

Sambil menyerahkan Minsung ke tangan ayahnya, Minseok berusaha menjelaskan semuanya. “I-itu kecelakaan, aku tidak sengaja.”

“Aku tahu kemana kita harus membawa Minsung!”

Ayah Minseok segera mengambil keputusan secepat mungkin. Tengah malam yang dingin itu, mereka berempat segera berkuda ke hutan yang berada di seberang danau. Tak ada cara lain untuk menyelamatkan Minsung.

Di hutan yang gelap, Minseok berpegangan erat pada ayahnya. Mereka berhenti ketika berada di tempat penuh batu yang berlumut. Jika tidak hati-hati terlihat seperti batu biasa, tetapi kemudian batu itu berguling dan bergerombol di tengah-tengah memperlihatkan sosok mereka.

“Itu Troll!”

Minseok semakin mempererat pegangan pada ayahnya.

Ketua dari para troll itu segera memeriksa Minsung, ayah Minseok dapat bernapas lega ketika mengetahui Minsung bisa kembali seperti biasa.

“Tapi aku harus menghapus memorinya beberapa, jangan khawatir aku akan menyisakan kebahagiaan pada ingatannya.”

“Apa ia tidak ingat jika aku punya kekuatan khusus?” Minseok bertanya dengan takut-takut.

“Tentu saja nak.”

Segera, Minsung bisa tersenyum meskipun belum membuka matanya. Ketua Troll itu mendekati Minseok dan berbicara banyak hal yang membuat anak laki-laki itu ketakutan,

“Minseok, kekuatanmu terus berkembang. Ada keindahan di dalamnya, tapi ada juga kehancuran di dalamnya. Kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu, jika tidak kekuatan itu sendirilah yang akan menjadi musuhmu.”

Ayah Minseok berpikir sejenak sebelum akhirnya membuat tindakan untuk melindungi Minseok, “Minseok akan kujaga. Kupastikan ia bisa mengendalikan kekuatan, hingga sampai pada waktunya gerbang istana akan ditutup, kami juga akan mengurangi staf kerajaan. Melindungi Minseok dari dunia luar bahkan dari Minsung sekalipun.”

Mulai pada detik itu, kehidupan Minseok benar-benar terisolasi melebihi narapidana yang dikurung di dalam penjara. Ia tidak ingin menemui adiknya lagi, ia terlalu takut untuk menggunakan kekuatannya karena pernah melukai saudaranya sendiri. Ia merasa kesepian, tapi ia benar-benar ketakutan.

Minsung kini kesepian, ia tidak ingat apapun tentang kekuatan Minseok. Ia hanya ingat jika ia suka bermain salju bersama satu-satunya kakak tercintanya. Setiap hari ia tidak lelah mengetuk pintu kamar Minseok dan mengajaknya keluar. Meskipun Minseok selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

“Minseok-ya… apakah kau mau keluar? Ayo kita membuat boneka salju. Tidak membuat boneka saljupun tidak apa-apa.”

Dengan suara ceria yang sedikit cempreng, Minsung kecil berteriak di depan kamar Minseok. Namun, belum terdengar jawaban.

“Bukankah kita dulu dekat? Mengapa kau menghilang begitu saja? Kita bisa mengelilingi istana….” tambah Minsung lagi.

“Pergilah Minsung!”

Wajah ceria Minsung berubah menjadi muram, ia pergi menjauh dari depan kamar Minseok dan bermain sendirian di ruang dansa istana yang sepi. Sejak kehidupan Minseok terisolasi, tidak ada yang datang ke istana selain keluarga kerajaan saja dan beberapa pegawai kerajaan. Minsung benar-benar berusaha untuk bahagia walaupun seorang diri.

Sementara itu Minseok berdiri di dekat jendela dan menyandarkan tangannya di pinggiran tembok. Namun, hal yang tidak biasa terjadi. Kemampuannya keluar begitu saja hingga membekukan bagian dinding tadi.

Ia tahu kekuatannya bertambah besar. Ia semakin takut, ia mengenakan sarung tangan untuk menahan kekuatannya sendiri. Ia takut anggota keluarganya akan terkena dampatk buruk, bukan hanya anggota keluarganya, tapi juga orang lain. Ia berusaha untuk tidak merasakannya, melihatnya, dan memasukkan itu. Ia hanya perlu bertahan dan bersikap biasa.

Bertahun-tahun kemudian, Minseok dan Minsung tumbuh dewasa. Beberapa tahun lagi Minseok sudah bisa memimpin kerajaan EXOdelle. Usianya cukup matang untuk seorang laki-laki.

Namun, menjelang 1 tahun pengangkatan dirinya menjadi raja yang baru, orang tuanya tewas tenggelam di samudra saat mengunjungi kerajaan lain. Ia semakin mengurung dirinya, tidak ada yang bisa mengerti dirinya, tidak ada yang bisa ia ajak bicara. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah, membekukan kamarnya sendiri karena ketakutan terhadap kekuatan ‘spesialnya’ terlalu besar.

“Minseok…..” panggil Minsung di depan pintu kamar Minseok dengan lirih. “Kenapa kau menyembunyikan dirimu? Semua orang bertanya tentangmu. Kita hanya punya satu sama lain….”

Tidak ada jawaban sama seperti biasa, karena sekarang ini Minseok juga putus asa menghadapi hidupnya. Menghadapi kekuatannya.

Tubuh gadis remaja itu merosot pada daun pintu, dari kedua bola matanya mengalirlah aliran air mata yang hampir tidak pernah ia keluarkan. “Apakah kau mau membuat boneka salju….?”

Gadis itu berusaha menyanyi seperti saat ia kecil, kebiasaan yang tidak pernah berubah. Tetapi suaranya tercekat oleh isak tangis. Ia hanya bisa menangis sedih di depan pintu kamar satu-satunya keluarga yang ia punya.

 

Pagi itu, gerbang istana kerajaan EXOdelle terbuka dengan lebarnya sejak subuh. Hari ini adalah pengangkatan Minseok menjadi raja yang baru. Hari itu adalah pertama kalinya sejak ia tidak menampakkan diri di depan umum. Ia berusaha keras untuk tidak menggunakan kekuatannya saat ia melepas sarung tangannya.

Berbeda dengan Minseok yang gugup, Minsung sangatlah bersemangat menyambut musim panas hari itu. Sejak pagi dengan gembira ia telah mengelilingi istana yang telah dibuka untuk umum, berlari gembira melihat cahaya memenuhi ruangan mereka yang pengap.

Tidak cukup sampai sana, Minsung juga berjalan mengelilingi area luar istana sambil menyapa semua penduduk yang juga antusias merayakan pengangkatan raja Minseok, atau yang mereka lebih kenal dengan nama Xiumin. Semua orang berbondong-bondong menuju halaman istana, dan gereja untuk melihat pengangkatan raja baru mereka.

Saking gembiranya Minsung tak sengaja menabrak seorang laki-laki yang sibuk dengan kudanya hingga terjatuh. Agak malu, Minsung meminta maaf pada laki-laki muda itu.

“Ups, maaf aku tidak sengaja tadi. Maafkan aku.”

Laki-laki itu hanya menggeleng dan tersenyum, “Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kau siapa? Apakah kau penduduk EXOdelle?”

“Aku putri Minsung. Aku adik dari raja Xiumin, dan kau adalah…..”

“Pangeran Kris dari Esemtown. Jadi kau adiknya…. kau datang ke gereja hari ini ‘kan?” Laki-laki bernama Kris tadi memperkenalkan dirinya dengan sopan.

Minsung menjadi tersipu melihat tingkah Kris yang sopan. Ia tersenyum dengan cerah melihat senyum pria itu, “I-iya, aku harus pergi sekarang. Sampai nanti.”

Minsung berlari meninggalkan Kris yang terus melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah. Ia dibuat salah tingkah oleh gadis muda itu. Bahkan ia masih saja tersenyum walaupun Minsung sudah menghilang dari pandangannya.

 

Xiumin menjalani upacara pengangkatan dirinya dengan gugup. Ia benar-benar sempat ketakutan saat harus memegang benda logam khas kekuasaan kerajaan. Ia tahu sangat berbahaya membiarkan ketakutan terus menguasai dirinya, membuat dirinya dikendalikan oleh kekuatannya.

Namun, syukurlah Xiumin bisa mengantisipasi semua itu, dengan tetap mengenakan sarung tangan berharganya.

“Inilah Raja Xiumin, dan Putri Minsung!” Penasihat kerajaan memanggil mereka berdua untuk berkumpul di ballroom istana. Walaupun agak canggung, mereka berdua berdiri berdampingan layaknya saudara. Saat itu Xiumin dapat sedikit tenang karena tak perlu melakukan apapun selain melihat rakyat dan relasinya berkumpul di ballroom untuk berdansa dan menikmati pesta.

Xiumin melirik ke arah adiknya yang berdiri canggung, berinisiatif untuk memanggilnya karena sudah lama sekali ia tidak berbicara, “Hai…”

Minsung menoleh dengan kaget, ia berusaha bersikap biasa. Tentu itu mudah baginya, karena ia adalah anak yang ceria, “Oh hai. Hai untukku? Oh, oh… selamat untuk pengangkatan dirimu.”

“Terima kasih. Jadi, inikah yang disebut dengan pesta?”

Xiumin bergumam dengan tidak jelas. Melihat orang-orang menikmati pesta di hadapan mereka, Xiumin berpikir pastilah sangat menyenangkan bisa ada di tengah-tengah orang-orang di sana. Sayang, ia tetap tidak bisa.

“Bukankah menyenangkan? Aku harap kita bisa seperti ini. Selamanya. Pintu gerbang selalu terbuka, orang-orang bergembira.”

Minsung bercerita dengan mata berbinar, ia sangat senang. Mendambakan pesta yang luar biasa adalah kebiasaannya sejak kecil, dan sekarang pesta itu terwujud. Menyenangkan sekali.

“Salam Raja Xiumin, aku Yunho dari kerajaan Westles, sebagai relasi terdekat kita bisa membicarakan bisnis kita.”

Seorang raja muda berdiri di hadapan Xiumin. Seperti biasa Xiumin hanya tersenyum dan menyuruh raja itu menikmati pesta terdahulu. Ia tidak ingin pusing membicarakan masalah kerajaan.

Sebenarnya, Yunho bukanlah orang yang baik-baik. Sejak awal ia sudah curiga ada yang aneh dengan kerajaan EXOdelle yang terlalu tertutup dengan dunia luar, bahkan ia baru tahu jika kerajaan EXOdelle cukup terisolasi. Yunho bukanlah orang yang suka berpusing ria, ia hanya membiarkan kesempatan yang datang untuk menguak rahasianya.

“Hei Oppa, kau senang ‘kan? Aku harap kita bisa selalu seperti ini.”

Xiumin tertegun. Ia tidak bisa membayangkan keadaan seperti itu setiap saat, ia terlalu takut berada di depan umum. Terpaksa dengan sedikit bentakan ia membalas perkataan Minsung.

“Tidak! Kita tidak bisa!”

“Tapi kenapa!?”

“Sudah kubilang, kita tidak bisa selalu seperti ini!”

Minsung terdiam, ia benar-benar heran dengan tingkah kakaknya seorang. Ia ingin menghabiskan waktu bersamanya, tapi kakaknya aneh. Dengan kecewa Minsung meninggalkan Xiumin sendirian.

 

Lagi, Minsung bertemu dengan Kris, tentu itu bisa mengobati kekecewaan hati Minsung tadi. Tanpa basa-basi ia mengajak Kris mengelilingi istana, berdansa, dan bercerita satu sama lain.

“Yah…. aku belum pernah bertemu pangaran lain, atau menciumnya. Aku selalu bermimpi mencium troll dan itu buruk bagiku.” Minsung menceritakan pengalaman cintanya yang masih melompong. Ia tidak tahu apa arti suka atau cinta.

“Tentu saja kau harus bertemu dengan laki-laki yang kau suka. Hehe….” Kris menanggapinya dengan sedikit tertawa.

“Ngomong-ngomong kau berapa bersaudara?”

Kris menaruh tangannya di pundak Minsung, “12 dan semuanya laki-laki. 3 di antaranya menganggapku tidak ada, itu secara harafiah.”

“Oh itu sama dengan kakakku. Maksudku, aku dan Xiumin dulunya sangat dekat. Tapi suatu hari ia mendiamkanku sampai sekarang ini, dan aku tak tahu alasannya hingga hari ini kenapa.” Minsung tertawa ringan sambil melahap buah anggur di tangannya.

Kris tersenyum lagi, “Yah itulah kadang seorang kakak. Kau tidak bisa mengatakan sesuatu yang tiba-tiba soal mereka, mereka mudah berubah.”

“Bersamamu… aku menemukan satu tempat Minsung…..”

“Itu gila, aku ingin mengatakan satu hal yang gila padamu.” Minsung membalasnya dengan senyum yang lebar.

“Oh tentu saja, aku suka kegilaan.”

Minsung menyentuh tangan Kris di bahunya, “Aku juga menemukan satu hal bersamamu Kris.”

“Kau tahu apa itu?”

“CINTA.”

Mereka berdua terkikik pelan karena mengatakan hal yang sama bersama-sama. Malam itu mereka menyanyi dan menari soal cinta di sekitar istana. Meskipun hanya satu hari, tetapi mereka berani mengatakannya, perasaan mereka masing-masing.

“Apakah kau mau menikah denganku?”

Kris berlutut sambil menyerahkan bunga yang ia dapat dari taman tadi. Meskipun kedengarannya sangat pelit dan tiba-tiba untuk seorang pangeran seperti dia.

Minsung tertawa pelan, “Apakah aku boleh mengatakan hal yang lebih gila lagi? Tentu saja IYA.”

 

Pesta masih berlanjut di malam itu, dan Minsung kembali ke ballroom sambil menyeret Kris dengan gembira menemui Xiumin.

Oppa aku kembali. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Ujar Minsung bersemangat sekali.

“Aku akan menikah dengan Kris. Aku ingin meminta restu darimu.”

Xiumin melotot kaget, ia sangat tidak setuju dengan permintaan Minsung yang terkesan tanpa persiapan itu, “Kalian baru saja berkenalan beberapa jam saja. Bagaimana kalian bisa memutuskan secepat itu?”

Masih dengan tersenyum Minsung melanjutkan kata-katanya, “Entahlah, tapi mungkin kami butuh beberapa hari untuk menyiapkan pernikahan kami, mungkin ada makanan, tamu undangan,….”

“TIDAK!”

“Apa?”

Xiumin mempertegas kata-katanya, “Kau meminta restu dariku? Aku katakan tidak. Apa yang kau tahu tentang cinta Minsung?”

Minsung menatap kecewa Xiumin, “Seharusnya aku yang harus bertanya padamu. Kau hidup sendirian selama ini. Kaulah yang tidak tahu soal cinta.”

Xiumin menggelengkan kepalanya tidak setuju, “Minsung bisa kita bicara berdua. Hanya berdua.”

“Tidak.” Minsung menggenggam lengan Kris, dan Kris membalasnya, “Jika ada yang kau ingin bicarakan, bicaralah pada kami berdua.”

Kris menyela dengan cepat membela Minsung, “Yang Mulia, aku…”

“Cukup dan tidak ada yang menikah. Tutup pintu gerbangnya, pestanya selesai. Sebaiknya kau juga ikut keluar dari sini.”

Kekesalan Minsung tak tertahanka, ia menarik sarung tangan Xiumin hingga lepas hingga membuat Xiumin marah besar, “Kembalikan!”

“Kenapa kau selalu menjauh dari orang lain, kenapa kau….” protes Minsung.

“Cukup Minsung.” Xiumin berjalan menjauhi Minsung sebisanya.

“Kenapa kau selalu mengurung dirimu? Kenapa kau tidak pernah berbicara pada orang lain ataupun padaku? Kenapa kau tidak pernah bercerita? Apa yang kau takutkan!?”

Xiumin benar-benar tidak tahan, ia membalikan tubuhnya dan tanpa sadar membuat kekuatannya melesat menimbulkan kristal es yang tajam, “AKU BILANG CUKUP!”

“Hah… penyihir….”

“Sudah kuduga ada yang aneh.”

Bisikan hinaan mulai memenuhi ruangan itu, dengan panik Xiumin berusaha lari keluar dari penjaga kerajaan Westles suruhan Yunho untuk menangkapnya. Tak dipedulikan rakyatnya yang melihat dengan panik karena setiap langkahnya menimbulkan kristal es yang dingin.

Tidak hanya itu kekacauan yang ia buat,butiran musim salju tiba-tiba saja turun di tengah musim panas bulan Juli itu, menimbulkan keanehan di kerajaan EXOdelle. Membuat semua orang harus bertahan di tengah dingin yang menyerang secara mendadak.

Di depan Xiumin terbentang danau yang luas. Tanpa pikir panjang laki-laki itu melangkahkan kakinya di atas danau dan membekulah permukaan danau itu. Maka dengan mudahnya Xiumin bisa berlari dari kejaran adiknya yang terus berteriak kepadanya memohon untuk kembali.

Minsung berhenti mengejar di tepian danau, kakinya mulai lelah karena Xiumin terus saja berlari tanpa henti dan semakin sulit untuk dijangkau. Kris datang menyusul Minsung dan membantunya berdiri.

“Kau tahu semua ini?” Kris mengusap-usap kaki Minsung yang sedikit lecet.

Minsung menggeleng dan mengangkat bahunya, “Aku sama sekali tidak tahu, padahal aku saudaranya.”

“Dengarlah, semua akan baik-baik saja.” Kris memeluk Minsung dengan erat, “Tunggu, Minsung lihat ke danau itu!”

Ingatlah jika Xiumin menyebrang danau itu hanya dengan bermodalkan kekuatannya, dan sekarang permukaan es yang membeku semakin meluas, menutup semua jalur perairan kerajaan EXOdelle. Tidak hanya itu, musim dingin abadi mengancam kehidupan rakyat EXOdelle yang kini tidak ber-pemimpin.

“Kris, ini buruk. Aku akan menyusulnya, ini salahku.”

“Apa?!”

 

-TBC-

31 pemikiran pada “Frozen EXO Version (Chapter 1)

  1. udh tau alur cerita.a soal.a udh pernah ntn.. tp ini sedikit berbeda.. di chap 2 kristoff muncul? pgen cepet” ada olaf 😀
    pas bgt pokonya chen jadi olaf.. haha
    aku baca chap 2 dulu ya 🙂

  2. udh tau alur cerita.a soal.a udh pernah ntn.. tp ini sedikit berbeda.. di chap 2 kristoff muncul? pgen cepet” ada olaf 😀
    pas bgt pokonya chen jadi olaf.. haha
    keren keren!
    aku baca chap 2 dulu ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s