I Can Make You Love Me (Chapter 1)

I Can Make You Love Me

 

Tittle : I Can Make You Love Me Part 1

Author : Jongchansshi

Genre : School life, Friendship, Romance

Length : Twoshoot

Rating : General

Cast :

Seok Jinhee

Kim Jongin (Kai)

Yoo Youngjae

 

Sorak-sorai pendukung masing-masing team begitu memekakkan telinga. Pertandingan basket final yang diadakan di lapangan in-door Hannam High School itu memang berlangsung terlalu meriah. Khusus final, anak-anak dibebaskan dari jam belajar agar dapat menyaksikan langsung team basket kebanggaan sekolah mereka kembali mendapatkan piala kemenangan. Tentu saja siswa-siswi yang sudah lama muak memakan rumus ataupun hapalan itu tidak keberatan, mereka malah senang.

Rata-rata murid Hannam tampak bersorak bangga ketika pemain bernomor punggung 1 itu sekali lagi melakukan shooting dan berhasil, Hannam akan kembali menang, tentu saja. Tapi beberapa diantara mereka tampak tak peduli ataupun masa bodoh dengan pertandingan yang sudah diketahui akhirnya ini. Salah satunya gadis yang tengah melamun dibangku penonton paling ujung. Tertulis Seok Jinhee pada nametag seragamnya. Mungkin karena dia tidak menyukai basket, bisa dibilang dia sangat payah dalam urusan olahraga, tetapi bukan itu alasan utamanya kenapa dia tidak tertarik.

Sesuatu membuat kepalanya pusing, surat itu lagi, ini sudah yang kesekian kalinya dan ia tidak begitu rajin untuk menghitung, tetapi lama kelamaan surat-surat itu terlihat seperti terror konyol baginya karena kadang terdengar begitu over protective ataupun possessive.

“You will love me.”

Kata-kata itu masih memenuhi pikirannya, walau dia sudah mensobek dan membuang surat itu ke kotak sampah. Apakah disekolahnya ada psikopat? Awalnya Jinhee yakin itu hanya ulah iseng seseorang yang berniat mebuatnya GR atau sejenisnya, tetapi seiseng apa orang itu hingga seniat ini? Bahkan si pengirim surat memberinya beberapa foto dirinyadi halaman rumahnya. Orang waras mana yang menguntitnya hingga segitunya?

Dari sekian banyak murid cantik di Hannam, mengapa harus dirinya yang mendapat terror tidak penting, bahkan tampak menyeramkan ini? Ayolah Jinhee bahkan tidak terkenal dan bukan anak ekskul elit sekolah. Dan dia tidak punya clue apapun tentang si pengirim yang menurutnya sangat pengecut dan berotak tidak waras.

Jinhee tiba-tiba kembali terfokus ke kenyataan ketika suara riuh disekitarnya terdengar begitu heboh. Nah kan, menang lagi. Dia memperhatikan para pemain saling ber-high five bangga ataupun berpelukkan singkat satu sama lain, pelatih mereka ikut bergabung. Lalu dia langsung mengalihkan perhatian kearah manapun ketika dirinya mengalami kontak mata dengan sang pemain bernomor punggung satu, Kai, yang tentu saja langsung membuatnya salah tingkah.

———

Jinhee berjalan menuju lockernya dengan langkah malas, pelajaran olahraga, tak hentinya gadis itu berharap semoga Mr Kang tidak masuk hari ini karena alasan istrinya melahirkan atau ban mobilya pecah atau sakit kepala atau apalah yang penting tidak masuk. Dia lebih memilih mengerjakan soal fisika 100 buah daripada pelajaran olahraga. Itu semua karena dia benci kenyataan bahwa Mr Kang pasti akan mempermalukannya, seperti biasa.

Jinhee membuka lockernya, ia langsung bergidik dan menghela napas lemah ketika menemukan satu surat lagi yang terselip didalam sana.

Seingatnya, kali ini dia mengunci lockernya dengan benar dan kunci itu selalu bersamanya. Berarti si pengecut ini memiliki kunci lockernya juga? Jinhee bersumpah tidak akan menyimpan apapun ataupun membuka lockernya mulai hari ini, tidak akan.

“I believe you will be the prettiest tomorrow night, Princess.”

Jinhee awalnya tidak mengerti apa maksud surat ini. Tapi untunglah kali ini otaknya bekerja dengan cepat. Dia memang diundang ke pesta ulang tahun Kim Haneul, kapten cheers yang digilai murid lelaki satu sekolah dan kebetulan satu kelas dengannya, tapi bukan artinya dia pasti datang. Setelah membaca surat itu, tentu saja minatnya untuk datang semakin sedikit.

“Jinhee-ya, mari ke lapangan,” ajak salah satu temannya yang mendapati gadis itu bengong didepan lokernya. Tapi Jinhee menggeleng dan menyuruh mereka pergi duluan saja.

Kali ini Jinhee tidak membuang surat itu, senyum gadis itu terpasang ketika menemukan sebuah pena yang kebetulan ada dalam loker. Dia menulis dibawah tulisan sebelumnya sebagai balasan.

“If you really a man, show who the hell you are, coward. Or better you stop doing this shit. I will never love you, note this!”

Jinhee sempat berpikir bahwa si pengecut ini salah kirim, mengingat locker Haneul terletak tak jauh dari lockernya. Kalau saja ia lupa bahwa si pengirim pernah mengirimkan banyak sekali foto dirinya.

Gadis berkulit putih pucat itu hanya menginginkan satu hal, setelah ini si pengecut itu akan berhenti, setidaknya menunjukkan siapa dia sebenarnya dan cukup berkelakuan sewajarnya saja.

Lalu dia menutup kembali lokernya, sengaja tidak dikunci dan kembali masuk kelas untuk menyimpan seragamnya didalam tas, Jinhee tidak perduli akan dimarahi guru olahraga menyebalkan itu karena pasti terlambat.

—–

Beruntung Jinhee tidak terlambat sendirian, gadis itu bersama Youngjae, teman baiknya yang kebetulan masih berada didalam kelas ketika Jinhee menaro seragam gantinya.

Daritadi Jinhee terus memikirkan sesuatu, mungkinkah semua surat itu dari Youngjae? Well, bisa dibilang Youngjae adalah satu-satunya lelaki yang dekat dengannya disekolah. Youngjae baik dan mau menemaninya kemana saja. Jinhee juga sering menitipkan kunci lokernya pada Youngjae. Dan lelaki berkacamata itu bisa dikatakan sangat pemalu.

“Jinhee-ya, apakah kau akan datang ke pestanya Haneul?”

Jinhee terdiam, terlihat berpikir. Keyakinannya semakin besar jika Youngjae yang mengirim semua ini. Bodohnya, kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Selama ini tidak terpikirkan oleh Jinhee kalau Youngjae akan setidak ada kerjanya seperti ini. Dan kenapa Youngjae dengan teganya melakukan semuanya? Mengintainya dan….. Ah pasti dia punya alasan. Youngjae adalah anak baik, Jinhee yakin walaupun pria itu melakukan hal yang agak gila, dia pasti punya alasan.

“Tidak tahu, kau sendiri bagaimana?”

“Aku…..a..aku akan datang,” jawab Jinhee yakin dan membuat Youngjae tersenyum simpul. “Kau juga harus datang,” pintanya halus.

Youngjae mengangguk mengiyakan. Pokoknya malam itu pria itu harus mengaku pada Jinhee. Urusan dia menyukai Youngjae atau tidak itu urusan belakangan. Yang jelas jika Youngjae sudah mengaku, hidupnya mungkin akan kembali tenang. Tapi bagaimana jika bukan Youngjae? Ah itu tidak mungkin.

Jinhee ingin berlari ke lockernya dan membuang saja balasan itu. Dia pasti tidak enak jika Youngjae membaca balasannya tadi. Sewaktu Jinhee berniat untuk berbalik, Mr Kang telah lebih dulu meneriakkan namanya.

“Seok Jinhee, Yoo Youngjae, darimana saja kalian? Pacaran?”

Mau tidak mau Jinhee membatalkan niatnya dan bersama dengan Youngjae menyangkal tuduhan seenaknya Mr Kang.

“Maaf pak, tadi baju olahraga saya sempat hilang,” ucap Youngjae gugup, itu jawaban jujur dan yang sebenarnya. Tetapi guru yang paling tidak disukai Jinhee itu tidak mau memerima alasan apapun.

“Saya juga pak,” tambah Jinhee tidak terpikirkan alasan yang lebih bagus.

“Dasar pemalas, kalian pasti ingin bolos jam olahraga dan berpacaran, iya kan?” Bentak Mr Kang lagi, Jinhee sangat malu karena dibentak-bentak ditengah lapangan dan parahnya tidak hanya ada teman sekelasnya yang menyaksikan, melainkan juga anak basket inti yang entah ada urusan apa berada disini. Jinhee yakin guru olahraga nya ini memang punya masalah dengannya makanya selalu membuatnya tersudut atas dasar apa saja.

“Tidak pak,” jawab Jinhee membela diri, sedangkan Youngjae hanya diam saja.

“Baiklah, kalau begitu sebagai hukuman…”

Jinhee melemas, dia benci mendengar kata ‘hukuman’ terutama di jam olahraga dan disuruh oleh Mr Kang pula. “Kau harus memasukkan satu bola saja ke dalam Ring…hanya satu….” Jinhee masih menahan napasnya, satu bola saja bahkan terlalu susah apalagi dalam mood yang tidak baik seperti sekarang. Guru berkepala agak botak ini memang tidak bisa melihatnya senang sedikit saja, ya? “Agar kau sedikit bersemangat, Kai akan menemanimu dan menjadi lawanmu!” lanjut Mr Kang dengan senyum menangnya.

“Apa?” Jinhee reflek berteriak, yang terkejut bukan dirinya saja, tentu juga seseorang yang namanya baru saja disebutkan, Youngjae, anak basket yang lain, dan juga teman satu kelasnya. Mereka tertawa, lebih tepatnya mentertawakan Jinhee yang semakin terlihat bodoh dimata semua orang. Atau mungkin beberapa siswi merasa iri dan berpikir kenapa mereka tidak datang terlambat saja seperti Jinhee agar bisa bermain bersama Kai, karena itu adalah impian mereka.

Tapi, ayolah apakah Mr Kang otaknya sudah tidak waras? Kai merupakan SF terhandal team basket, dia bahkan kebanggan Hannam, dan harus satu lawan satu melawan Jinhee? Hiburan macam apalagi yang diinginkan Mr Kang?!

“Ta..tapi pak..” Kai mau menolak, mungkin terhina karena harus menjadi lawan seorang Jinhee. Tapi setidaknya Jinhee betul-betul berharap bahwa Kai menolak ini. Setidaknya tidak perlu ikut membantu mempermalukan dirinya.

“Bukankah tadi kau bilang sedang jam kosong?!” Tanya Mr Kang yang membuat Kai tidak memiliki alasan lain untuk menolaknya dan disetujui oleh teman-temannya sendiri. Mereka sepertinya juga bersemangat untuk mempermalukan Jinhee.

Muka Jinhee memerah sekaligus pucat karena malu setengah mati, tangannya dingin, dan rasanya dia ingin menangis ataupun lebih baik pingsan saja sekarang. Apa perlu dia pura-pura pingsan? Dia berdoa semoga terjadi sesuatu agar hal ini dibatalkan. Tetapi harapannya itu tinggallah harapan apalagi ketika Mr Kang melempar bola basket kearahnya tetapi hanya dibiarkan berlalu saja oleh Jinhee.

Kai berdecak sebal dan dia berlari untuk mengambil bola basket yang terlantun dibelakang Jinhee. Hari ini panas dan mereka dilapangan terbuka, ayolah apakah gadis ini tidak bisa bersemangat sedikit saja?

Kai mendribble bola itu dihadapan Jinhee, dia tidak perlu memasukkan bola karena tugasnya hanya sebagai center, tetapi gadis itu tetap diam saja, seperti pasrah, dan ini betul-betul membuang waktu.

“Seok Jinhee, kau mau kutambah hukumanmu?” Teriak Mr. Kang dari pinggir lapangan yang tak terhibur melihat kelakuan Jinhee yang bagaikan patung, pria berambut nyaris botak itu juga terlihat sedang memikirkan hukuman apa yang tepat untuk Youngjae.

Tidak tahu harus melakukan apa, Jinhee mengangkat kepalanya dan tidak bisa mengelak dari eye contact dengan Kai yang sedang menatapnya datar sambil mendribble bola. Jantung Jinhee berdetak begitu cepat, sangat cepat, dan dia tahu seluruh pandangan orang-orang dilapangan menatap mereka, untuk mentertawakan Jinhee ataupun mengagumi Kai.

Jinhee tidak dekat dengan Kai, walaupun mereka satu angkatan tetapi mereka sepertinya tidak pernah berbicara langsung. Kai selalu dibicarakan oleh teman sekelasnya, pria itu memang sempurna tetapi sayangnya dia sombong dan dingin. Dalam artian Kai bukan tipe yang perduli terhadap orang yang tidak dikenalnya dan suka mengabaikan gadis-gadis yang berupaya mendekatinya.

Seharusnya Jinhee bersyukur diberikan kesempatan seperti ini bersama seorang Kai, kalau saja dia memang tidak memiliki phobia olahraga dan berani menyukai Kai, setidaknya.

Dia kembali tersadar tetapi gadis itu bahkan tidak tahu harus mengambil bola bagaimana, badannya terasa benar-benar keluh, apalagi sengatan matahari yang kontras dengan tubuhnya yang semakin dingin benar-benar membuatnya lelah.

Percaya atau tidak, Kai menyerahkan bola itu terang-terangan kepada Jinhee, untungnya Mr Kang tidak menangkap pemandangan itu walaupun beberapa dari penonton yang hebohnya bahkan lebih dari pertandingan asli itu terkaget melihat apa yang dilakukan Kai. Mereka beranggapan mungkin karena Kai ingin cepat-cepat ini berakhir, tidak peduli meskipun ia akan menyandang status kalah, 20 menit membuang-buang waktu itu tidak sebentar, toh seluruh siswa juga sudah tahu kehebatannya.

“Cepat masukkan, apa kau tidak panas?” Tanya Kai dengan suara seraknya yang terdengar kesal. Jinhee memandang Kai tidak yakin, dia tahu caranya mendribble memang payah sekali sedangkan Kai hanya melihat apa yang dilakukan gadis itu dengan poker facenya, padahal sebetulnya ia ingin ikut bergabung bersama temannya yang lain untuk tertawa terbahak.

Mr Kang kaget, karena menurutnya bola itu tidak akan pernah berada ditangan Jinhee selama 20 menit dan Kai tidak akan membiarkan bola itu berpindah tangan, seharusnya.

Jinhee mencoba memasukkan bola dan yah, seperti yang seluruh orang duga, gagal.

Kai menghela napas pasrah dan mengacak-acak rambutnya ikut frustasi. Jinhee tidak berniat untuk mengambil bola yang melantun sendiri itu, jadi Kai lagi yang harus mengalah dan mengambilnya.

Kai kembali mendribble bola didekat Jinhee, kali ini dengan jarak yang sangat dekat, tidak sampai satu meter dihadapan Jinhee.

“rebut bolanya, jika kau berhasil aku akan memaafkanmu!”

Jinhee percaya bahwa dia salah dengar. Dia tahu kata-kata itu hanya mampu didengar telinganya. Sekali lagi, dia menatap Kai tak yakin. Maaf? Maaf untuk apa? Yah mungkin karena Jinhee telah membuang-buang waktu Kai. Seharusnya pria ini senang karena Jinhee tidak berusaha melawannya. Lagian jika dia mencoba mengambil, pasti Kai akan mampu mencegahnya.

Jinhee tidak mengerti harus bagaimana dan dia malah menatap Kai yang berada dihadapannya dengan pandangan clueless. Dia keterusan memandang Kai yang juga berkeringat, walau tidak sebanyak keringatnya, dan yang terakhir dilihatnya adalah muka Kai yang memerah, mungkin karena kepanasan lalu suara pluit dari Mr Kang yang mengartikan bahwa Jinhee kalah.

Gadis itu tidak peduli dengan apapun karena detik berikutnya pandangannya menjadi kunang-kunang dan gelap seutuhnya. Harapannya itu terkabul, tetapi disaat yang sudah terlambat.

——-

Jinhee membuka matanya perlahan, dia masih menggunakan pakaian olahraga dan dilihatnya Youngjae duduk didekat tempatnya tertidur. Kepalanya masih terasa pening. Ini untuk pertama kalinya dia pingsan, yah harapannya setelah ini mr Kang setidaknya kira-kira memberikan hukuman kepada murid sepertinya.

“Youngjae? Kau tidak masuk kelas?” Tanya Jinhee pelan. Suaranya terdengar serak dan membuat Youngjae langsung menyuruhnya minum air mineral.

“Aku izin. Lagipula Mrs Jung tidak masuk dan hanya memberikan tugas.”

“Jadi kau disini daritadi?” Tanya Jinhee was-was.

Youngjae mengangguk mantap.

“Tidak kemana-mana kan? Dari aku pingsan?”

Youngjae mengangguk lagi, bahkan ia belum sempat mengganti seragam olahraganya.

Jinhee menghela napas lega, itu artinya Youngjae belum membaca surat balasan bodoh darinya itu.

“Kau kenapa?” Tanya Youngjae yang melihat perubahan drastis pada raut Jinhee. “akhir-akhir ini kau tampak aneh dan suka melamun.”

Gadis itu hanya menggeleng, “tidak, tidak ada apa-apa,” ucapnya disertai senyum kikuk.

Suster datang dan menyuruh Jinhee meminum obatnya, hanya beberapa vitamin lalu ia diperbolehkan kembali masuk kelas.

“Youngjae-ya, kau ke kelas duluan saja, ada yang ingin kuambil di lockerku,” ucap Jinhee sambil tersenyum, berusaha membuat Youngjae percaya bahwa ia sudah kembali sehat dan baik-baik saja.

“Kau yakin tidak ingin kutemani?”

Jinhee mengangguk mengiyakan, karena jika Youngjae ikut, sama saja bohong. Lupakan tentang janji awalnya bahwa ia tidak akan membuka locker itu lagi.

“Baiklah, hati-hati,” ucap Youngjae sambil tersenyum manis. Harus Jinhee akui bahwa dia memang menyukai senyum pria polos itu.

Youngjae berjalan lurus menuju kelas sedangkan Jinhee ke ruang penyimpanan. Dia terburu-buru kesana dan langkahnya melambat ketika menyadari kehadiran Kai yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Jinhee tidak tahu harus bagaimana, bahkan ia bingung harus mengucapkan terimakasih karena menurut cerita dari Youngjae, Kai langsung menangkapnya sebelum ia terjatuh kelantai dan membawanya ke ruang kesehatan, atau berkelakuan seperti pura-pura tidak melihat Kai.

Dia memutuskan untuk melakukan pilihan yang terakhir lalu berjalan sambil menunduk. Lagipula dia hanya tidak mau jika ia menegur Kai dan pria itu malah merasa terganggu.

Napas Jinhee kembali tertahan ketika ia merasakan tangannya ditarik seseorang.

“Sudah baikkan?” Tanya Kai datar. Jinhee mengangguk singkat, masih tetap menunduk, tanpa menatap mata pria dihadapannya ini.

“Hmm terimakasih,” ucapnya ragu dan pelan tetapi tulus.

Kai melepaskan genggamannya pada tangan Jinhee lalu berlalu begitu saja tanpa berkata-kata apapun lagi, dan akhirnya Jinhee kembali bisa bernapas dengan normal.

Gadis itu memasuki ruang penyimpanan dan menuju lockerernya yang akhir-akhir ini adalah alasannya menjadi sedikit paranoid.

Tetapi…dia terkejut bukan main. Lockernya nihil, tidak ada kertas itu didalam sana. Hanya ada sebuah pena yang dia gunakan tadi, lalu sisanya tidak ada lagi.

Bukankah Youngjae berkata dia tidak kemana-mana? Atau mungkin Youngjae berbohong? Atau mungkin juga tadi lockernya sempat terbuka dan orang iseng membuang suratnya. Semoga saja yang terakhir benar.

Hal-hal seperti ini tentu saja membuat Jinhee semakin berpikiran yang tidak-tidak dan juga cemas.

———

Jinhee merasa seperti kambing congek ketika Minri yang tadinya mengajaknya kekantin berhenti dihadapan Haneul dan bercengkrama tidak jelas tentang PR Biologi yang belum mereka kerjakan, tidak usah berlebihan, bahkan Jinhee juga belum mengerjakannya.

Gadis itu lebih memilih menatap kearah lapangan karena tidak tertarik untuk bergabung membicarakan topik yang telah berubah menjadi ‘anak basket yang semakin hari semakin keren’ bersama mereka. Kai, Chanyeol, Sehun, Suho, D.O dan Baekhyun memang begitu mengangumkan, mereka bisa dibilang sempurna. Sedangkan Jinhee sadar dari awal bahwa mereka terlalu keren untuk dia gapai. Jadi mending tidak usah berharap sama sekali, bukan? Kecuali jika dirinya terlahir sebagai Haneul.

Jujur, Jinhee lebih menyukai pria biasa saja, asal dia baik hati, Jinhee akan mudah menyukainya. Ibunya terus mengingatkan agar dia mengharapkan sesuatu yang pantas dan terjangkau olehnya, agar tidak menyakitkan, dan Jinhee akan melakukan itu, dia harus realistis.

Dua gadis yang tengah asyik bercengkrama dan satu gadis lain yang sibuk melamun disana sama sekali tidak sadar bahwa sebuah bola basket melaju cepat kearah mereka. Peringatan ‘awas’ dari orang yang dilapangan telah dilontarkan dengan keras. Tetapi itu pasti terlambat jika saja seseorang tidak menangkis bola itu sehingga tidak jadi menghantam wajah cantik Haneul.

“Kau baik-baik saja?” Tanya orang-orang disekitar sana yang mulai mendekati Haneul dan khawatir melihat gadis itu masih terlihat shock bukan main, sedangkan Kai menatap adik kelasnya yang hampir mencelakai Haneul dengan pandangan marah dan dingin. Anak itu pasti akan dihabisi Kai setelah ini.

Jinhee hanya melihat Haneul yang ditenangkan oleh Minri tanpa melakukan apa-apa, dia sendiri masih sedikit shock. Yah kalau saja bola itu melambung kearahnya, bisa ia pastikan hidungnya sudah berdarah sekarang. Setidaknya gadis itu kagum dengan aksi ‘pahlawan’ Kai barusan, pantas saja banyak yang menyukai dan mengagumi pria itu.

No one can hurt you, I promise.’-

———

Setelah berbagai kejadian menyebalkan yang terjadi hari ini, bel pulang akhirnya berdering juga. Jinhee lelah meyakinkan teman-teman perempuan dikelasnya bahwa ia tidak menyukai Kai dari kemaren. Kai terlalu jauh untuk dia sukai dan Kai bukan orang baik, itu adalah alasan mutlak kenapa dia tidak mungkin menyukai Kai. Lagipula Kai mana mungkin menyukainya, ayolah Jinhee yakin bahwa anak itu masih waras.

“Mau pulang bersamaku?” Tawar Youngjae. Jinhee menggeleng yakin, dia terlihat agak dingin pada Youngjae karena menurunya Youngjae membohonginya dan dialah yang mengambil surat itu kemarin. Youngjae yang menyadari mood buruk temannya itu tidak mau mencoba memaksa. “Aku pulang duluan ya, kau hati-hati,” ingatnya. Jinhee hanya mengangguk seadanya lalu berjalan pulang sendirian. Dia bisa saja menyukai Youngjae, atau memang sudah? Tetapi kelakukan menyebalkannya ini membuat Jinhee menjadi muak. Dia sama sekali tidak suka dengan cara norak seperti ini.

Jinhee membuka handphonenya ketika berada diperkarangan rumahnya, mungkin itu pesan dari ibunya yang belum pulang atau sebagainya. Tapi kelopak mata bulat gadis itu langsung melebar ketika melihat pengirim tidak ada dikontak dan membaca pesannya.

“Fine, I will show you who the hell I am. Just come to Haneul’s party and you will know! I believe you will love me no matter what, note this Princess.”

Jinhee memutar matanya. Apalagi ini? Darimana si gila ini kembali mendapatkan nomor handphonenya? Dia baru saja mengganti nomornya beberapa hari yang lalu, tapi seingatnya dia sudah memberi tahu Youngjae tentang nomor barunya.

Karena Jinhee tahu sendiri jika dia menelpon tidak akan diangkat seperti biasanya, Jinhee memutuskan untuk membuat pesan baru dan membalas.

“I won’t come to her party. Its over now, okay? Stop disturbing me and better let me know who you are right now. And I will forgive you”

“You won’t know who I am, then. Just come, Princess, I promise I will show you and end this all!”

Dasar Youngjae kurang ajar, betul-betul tidak ada kerjaan. Aku tidak akan memaafkanmu kali ini bodoh…..!

“Fine, I will come. But don’t forget your promise.”

——-

Ulang tahun Haneul memang bisa dibilang sangat mewah. Diadakan dihotel bintang lima ditambah beberapa artis papan atas yang mengisi acara. Jinhee menyaksikan Haneul sedang bercengkrama riang dengan beberapa anggota team basket ataupun murid eksis Hannam disekililingnya yang tampak tampan ataupun cantik dan high class. Sang pemilik acara juga terlihat sangat cantik dengan gaun merah lembut membaluti kulit putihnya, persis gambaran seorang tuan putri. Jinhee tidak berminat untuk menghampiri Haneul dan mengucapkan selamat, mereka tidak terlalu dekat sebenarnya dan gadis itu lebih memilih untuk mencari keberadaan Youngjae yang sama sekali tak kelihatan batang hidungnya.

“Like I said, you re the prettiest, princess. Thanks to that baby blue gown.”

Jinhee menghela napas dan rasanya dia ingin membanting handphonenya didetik itu juga. Apa perlu dia melaporkan orang ini ke polisi? Yah jika saja dia melupakan bahwa Youngjae merupakan kandidat tersangka yang paling meyakinkan.

“Well, I came, right? So tell me, who are you?”

“Just wait, Princess, you will know later and I will make you be mine. Trust me, okay?”

“No I can’t trust you, coward. And can you stop calling me ‘princess’? It sounds so nasty, you know.”

Lalu setelahnya tidak ada balasan lagi. Jinhee berusaha untuk menikmati pesta ini sekaligus mencari-cari keberadaan Youngjae yang masih belum kelihatan. Perlukah dia menghubungi Youngjae dan menanyakan langsung teman tiga tahunnya itu berada dimana?

Sudah berjam-jam dia disini dan orang yang diyakininya Youngjae itu masih ingin bermain-main dengannya. Jinhee dapat menyaksikan beberapa temannya sudah mulai mabuk, sedangkan dirinya belum mencoba minuman yang lain selain cola disini.

Apakah dia pulang saja? Dia bosan bukan main dan dari awal sebetulnya dia tidak mau datang.

“Ya jika kau tidak mau menunjukkan siapa dirimu, baiklah. Aku pulang. Lagipula aku tahu kau siapa, coward!”

Jinhee membuat satu lagi pesan baru. Walau ‘coward’ terdengar agak kasar, Jinhee yakin Youngjae akan memaafkannya. Ah tidak, Jinhee yang tidak akan memaafkan Youngjae. Dan kali ini dia akan benar-benar pulang jika basa-basi tak jelas ini masih berlanjut.

“Wow, cool! So, siapa aku, menurutmu?”

“Yoo Youngjae.” Tulisnya seadanya, tetapi dengan penuh percaya diri. Seharusnya Youngjae tahu bahwa Jinhee tidak akan memaafkannya semudah itu setelah dia mengaku nanti. Tapi bagaimana jika bukan Youngjae, ini pasti memalukan.

“Jika kau masih ingin tahu, kau bisa ke taman belakang sekarang.” Balas orang itu lagi. Entah kenapa Jinhee menjadi penasaran. Jadi Youngjae sedaritadi berada disana? Dia memutuskan untuk pergi kesana dan meninggalkan hiruk-pikuk pesta yang memang telah membuatnya pusing dari awal.

Jinhee mencari-cari orang itu disekeliling, tapi suasana betul-betul sepi. Sebuah pesan baru kembali muncul di handphonenya dan itu tertulis nama pengirim, dari Youngjae.

Isinya… “Jinhee-ya, maaf aku betul-betul tidak bisa datang karena jantung ayahku mendadak kambuh. Maaf, baru memberitahumu sekarang. Aku betul-betul minta maaf”.

Apalagi ini? Youngjae tidak datang kemari, jadi siapa orang tidak ada kerjaan itu jika bukan Youngjae…….. Tubuh Jinhee menegang dan yang dia takutkan itu akan terjadi. Ini diluar dugaan dan kendali nya.

How can you think I’m that nerd, Princess.”

Jinhee berbalik, “KAI?” gadis itu betul-betul kaget ketika mendapati Kai yang berada dibelakangnya, menyeringai penuh kemenangan yang tampak sangat creepy dimata Jinhee. Well, Jinhee mungkin saja berani kemari karena baginya Youngjae tidak mungkin mencelakainya. Tetapi jika Kai? Dia betul-betul semakin ketakutan, apalagi setelah dia memanggil Kai dengan ‘Coward’ , pria dingin yang begitu terkenal disekolahnya ini pasti tidak akan memaafkan Jinhee begitu saja.

“Aku suka melihatmu ketakutan, kau tampak cantik, Princess.

Jinhee tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa itu Kai. Ayolah orang seperti Kai terlalu terhormat untuk melakukan hal seperti ini, menurutnya. Tapi yang ada dihadapannya sekarang membuka matanya lebar-lebar. Yang sedaritadi memenuhi otaknya adalah ‘bagaimana bisa?’ dengan beragam pertanyaan lanjutan.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Jinhee dengan suaranya yang mulai bergetar dan mungkin terdengar begitu menggelikan ditelinga Kai. Dia mau menangis karena ketakutan dan mengutuk dirinya kenapa begitu bodoh dan pergi ke tempat sesepi ini sendirian. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya mimpi dan ketika bangun tidak ada yang tekrjadi. Dia akan tertawa terbahak mengingat Kai, si pria yang terkenal dingin dan most wanted boy disekolahnya menjadi psikopat dalam mimpi buruknya.

Tapi ia tahu ini nyata. Apalagi ketika Kai semakin mendekat dan memeluknya erat, tercium bau alkohol bercampur wangi parfum mint milik Kai. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan berteriak pun dia tidak berani.

You are mine tonight, princess.

Psikopat!

Jinhee tahu ini adalah mimpi buruknya dan ternyata orang yang menerornya ini segila isi suratnya. Bukan hanya sekedar bercanda atau main-main, melainkan ancaman yang terbukti.

Gadis itu berteriak dalam hati, dia tidak akan mencintai Kai, tidak akan pernah. Semoga perkataannya itu terbukti.

——–

Tbc

43 pemikiran pada “I Can Make You Love Me (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s