Revenge Of The Psycophat (Chapter 1)

Revenge Of The Psycophat

(CHAPTER 1)

 

Author                         : Nurfadeer @nurfa_chan

Genre                          : Psychology, Gender Bender,Angst, Romance, Death Fic.

Main Cast                    : Xi Luhan, Wu Fan

Supporting cast           : Member EXO, Yuri (Girl Generation)

Rate                             : NC-17

Length                         : Multichapter

WARNING

FF ini berisikan kekerasan, adegan diatas 17 tahun yang dijelaskan secara detail, dan beberapa hal yang tidak patut dicontoh lainnya.

FF ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjelekkan salah satu member EXO.

Author ngingetin lagi, tolong baca warning ini sebelum membaca FFnya. Lebih detail dimana adegan 17 tahun ke atas, author letakkan dichapter 2, 3 dan 5. Bagi yang tidak suka, belum cukup umur (termasuk author) bisa langsung tekan back.

Jika ada kesamaan ide, harap maklum. Mohon Kritik dan saran. 😀

Happy reading!

 

Bulan purnama tengah menggantung tepat di atas kepala dan semilir angin membawa hawa dingin masuk kamar tanpa penerangan itu.

Sepasang manusia itu tengah bergelut, lengan yang lebih kekar melingkari pinggang pasangannya hingga tubuh tanpa sehelai benang itupun menempel tanpa jarak.

Mereka adalah pasangan kekasih yang tak perlu kepastian satu sama lain. Tak perlu berkoar-koar mengumumkan hubungannya pada orang-orang. Pada bagian itu, pemilik lengan kekar itu tidak peduli apa hubungan itu ada atau tidak.

Tubuh di bawahnya bergetar, keringat mengucur dan nafasnya tersengal. Tapi wajah yang tengah menatapnya terlihat tenang bahkan nafasnya masih teratur. Tubuhnya naik turun memompa tubuh di bawahnya, nampak seperti terburu-buru untuk mengakhiri kegiatan itu.

“Ahhh…!! Engh!! Ouch…!”

Bersamaan dengan gerakan menyodok yang sepertinya menyakitkan untuk tubuh di bawahnya yang bergetar hebat, pemilik lengan kekar itu mendesah. Setelah itu ia bangkit berdiri, menyambar handuk di sandaran sofa lalu melangkah masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Kris berjalan keluar kamar mandi dengan uap hangat menyembul keluar. Air turun disisi tubuhnya yang dibiarkan sepolos bayi baru lahir. Pasangannya tengah menatapnya, memberi senyum sekilas lalu menggerakkan tangan agar menyusulnya ke ranjang.

Kris pun mengangguk.

“Kris, kau membuatku terkesima seperti biasa. Kau benar-benar hebat,” kata Tao.

Kris menyeringai. Punggungnya membelakangi Tao yang duduk di ranjang. Ia membuka lemari dan mengambil sesuatu dari sana. Bisa jadi itu sebuah kado spesial, bisa jadi sebuah tanda untuk peresmian hubungan mereka, atau bisa jadi apa pun yang akan membuat Tao terhenyak dan berlari menyambar tangan Kris dan menggenggamnya.

Perkiraan Tao meleset. Sekarang, ditangan kanan Kris sebuah gunting tanaman berukuran besar nampak berkilat diterpa cahaya bulan yang sempat masuk melalui gorden yang kemudian tertutupi awan pekat di langit.

Tao menatap Kris sesaat. “Kau mau apa dengan gunting itu Kris?” Tao mundur selangkah dari tempatnya hingga punggungnya menabrak punggung ranjang.

“Jangan khawatir, sayang. Ini tidak akan sakit. Aku janji.” Kris berjalan maju. Seretan langkahnya berdengung keras di telinga Tao. Tapi demi itu Tao berdiri, menantang Kris dengan seringai dan kuda-kuda yang lebar.

“Kau mau bermain-main, Kris. Oke. Kau tahu aku bisa wushu, kan? Dan aku tahu kalau kau itu psikopat dari awal. Tapi aku tidak takut,” Tao memberi jeda. “Kenapa?” Tao bersumpah kalau ia mati sekarang, ditangan orang yang dicintainya, ia tidak akan menyesal. “Aku mencintaimu.”

Kris semakin dekat lalu mendadak tawanya menyembur. “Kau pikir ibuku akan selamat dengan cinta seperti itu?” suara Kris terdengar serak, bahkan seperti tersedak sesuatu. “Aku tidak peduli.”

Kaki Tao mengayun, tapi tangan kiri Kris yang bebas menyambarnya. Kris melayangkan tinjunya, tapi kali ini memberi ruang bagi Tao untuk membungkuk di bawah tangan Kris dan meninju rahang keras itu.

“Cih! Kau hebat seperti biasa, ya?” Kris meludah.

“Seperti biasa, ya?” Tao mendekat maju ke arah Kris dan kakinya yang mengayun tepat berada di genggaman Kris. Tao menyentakkan kakinya agar terlepas, tapi lebih dari itu ia sendiri tahu kalau jantungnya sendiri yang akan tersentak keluar.

Kris menyeringai dan membanting tubuh Tao yang langsung menabrak tembok.

BRAK

Tao tak sempat mengelak dari tendangan Kris di kepalanya. Tendangan itu diayunkan berkali-kali. Kepala Tao sudah berlumur darah segar dan pekat. Warna merah darah menggumpal di rambutnya dan turun di pelipisnya. Lengkungan bibir Kris terlihat menyeramkan.

“Hahaha. Kau tidak terlalu menyenangkan Tao. Aku pikir kau lebih hebat dari yang lain atau kau bisa membuatku pergi ke neraka sekarang.”

Tao bangkit. “Tidak sebelum kau tahu aku sekarang ingin membunuhmu, Kris.” Tao membanting botol bir dekat jendela dan membuat ujung-ujung runcingnya berkilap dan memantul di mata Kris. Kris balas menguap.

“Membunuhku? Coba lakukan kalau kau bisa.” Kris menerjang tubuh Tao, membalikkan botol yang tengah dipegangnya dan mengarahkannya pada Tao.

JLEB! JLEB! JLEB!

Mata Tao melebar. Pupil dimatanya bergetar dan mulutnya setengah membuka. Kris dengan cepat mencabut botol itu. Menusukkannya lagi di perut Tao. Darah merembes, turun di selangkangannya dan membuat Kris tertawa terpingkal-pingkal. Tapi tangan itu masih menusukkan di sembarang tempat. Gunting tanaman besar yang masih berada di tangan kanannya ia angkat tinggi-tinggi.

“Tunggu. Tidak akan seru kalau cuma begini.” Kris mendorong tubuh berlumur darah ditangannya hingga kepalanya menabrak sudut ranjang lalu berjalan menuju dapurnya. Sebelumnya, ia meletakkan gunting tanaman besar di meja.

Tao sama sekali tak bergerak. Tubuhnya lumpuh, bahkan bernafas pun terasa menyakitkan untuk saat ini. Dengan mata yang hampir sepenuhnya menutup, ia masih dapat melihat Kris yang melesat cepat menuju arahnya dengan pisau daging, beberapa paku yang mencuat dijarinya dan palu sekaligus. Bulu halus Tao meremang saat Kris mengangkat tubuhnya dan mendempetnya ke tembok.

Kris merentangkan tangan Tao dan meletakkan paku di atas telapak tangannya.

“AAAARRRGH!” Tao menjerit. Paku besar menancap ditangannya di sisi tembok. Lalu Kris melakukan hal yang sama dengan tangan Tao yang lain.

“Belum. Ini lebih buruk dari yang lain. Harusnya kau menjadi koleksiku yang paling indah,” Kris berdecak. Ia menatap selangkangan Tao yang dilewati darah. Tangan panas Kris menggenggam batang kejantanan Tao, menggerakkannya pelan dan tersenyum ketika tubuh pemiliknya merespon lebih baik dari yang ia perkirakan.

“Bagus.”

“Hen-hentikan, Kris.”

“Menghentikannya?” Seringai Kris melebar. Tangannya memaju mundurkan batang kejantanan Tao dengan cepat. Terlihat jelas kepuasan dimatanya karena berhasil mempermainkan Tao yang mendesah, antara ngilu dan respon tubuhnya yang harusnya tidak datang sekarang.

“Engh! Ahhh! Ah! Hh! Aahhh!”

Dan tubuh itu pun bergetar, mengeluarkan cairan putih pekat yang menyembur kewajah Kris. Kris tertawa keras lalu membersihkan sisa cairan Tao sampai berkilat dengan lidahnya.

Siksaan Tao tak habis, ia yakin dengan apa yang akan dilakukan Kris selanjutnya. Memotong sedikit kenangan darinya sebelum membiarkannya mati.

“Jangan lakukan Kris. Kumohon!!”

Kris mengambil guntingnya dan ia membungkuk. Sebelumnya ia menatap Tao. Wajah itu begitu keras, tegas dan tanpa belas kasihan. Gunting ditangannya sudah mendekati target.

“Selamat tinggal, sayang.”

Dan yang terdengar selanjutnya adalah suara jeritan teredam dalam ruangan tersebut. Darah menggucur deras dari potongan batang kejantanan Tao yang sudah berada di tangan Kris. Tawanya meledak-ledak, psikopat memang seperti itu jika sudah mendapatkan targetnya.

Bau anyir darah menyebar. Terbawa angin kemudian membaur dengan bau udara malam yang pekat. Tubuh mangsanya tak lagi bergerak. Kaku. Ia mati.

“Baiklah. Kau memang lebih bagus dilihat dari sini, sayang.” Kris melihat Tao yang terpaku di tembok kamarnya. “Sampai aku menemukan mangsa baru.”

Kris berjalan ke dapur, membuka lemari dan mengambil sebuah toples. Batang kejantanan Tao yang masih mengalirkan darah, ia taruh disana. Bersama dengan batang kejantanan mangsanya yang lain.

.

.

.

Luhan menusuk dagingnya, mengirisnya dengan pisau sambil cemberut.

“Dagingnya alot, Kai. Kau payah memilih menu. Untung saja gratis, kalau tidak aku tidak mau.”

Kai menoleh, meletakkan garpunya di daging Luhan dan mengirisnya. “Cobalah makan tanpa pilih-pilih makanan. Bilang saja kau tidak suka daging, manusia vegetarian.”

“Aku tidak suka daging karena aku bukan kanibal,” balas Luhan.

“Oh. Baiklah, aku tidak peduli.” Kai mengangkat daging digarpunya, “Sekarang buka mulutmu.”

Luhan menatap Kai. “Aku ennek Kai. Kau saja yang makan. Lumayan itu kan gratis karena ada yang ulang tahun hari ini. Aku mau pesan yang lain.” Kai memutar bola matanya. “Menurutmu, aku akan pesan yang mana dulu. Salad sayur atau salad buah?”

Kai menelengkan kepala. “Aku memilih daging yang penuh sayuran. Itu kau, Luhan.”

“Ya kanibal!!”

Seseorang berjalan melewati mejanya dan menoleh saat Luhan mengatakan itu pada Kai. Kai ikut menoleh kearah orang itu.

“Maafkan kekasihku. Dia suka menggunakan istilah kanibal untuk pemakan daging.” Payah, Kai menyesali ucapannya yang dirasa kurang pas. Memang orang yang berdiri di depan mejanya ingin tahu soal itu? “Hanya yang bukan vegetarian seperti dia.” Ia meralat cepat, tidak tahu orang itu peduli atau tidak.

Kris mengangguk. “Ya. Aku tahu. Jadi, bolehkah aku duduk di sini?” Kris meletakkan baki makanannya di meja Luhan dan Kai. Hanya Kai yang mengangguk, sedangkan Luhan sudah setengah berdiri akan pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Kai.

“Tentu saja ambil makanan. Aku menyusul kalian nanti.” Luhan melesat dengan cepat.

Tak ada yang mengatakan apa pun setelah Luhan pergi. Kai terlalu canggung untuk berbicara dengan murid lain yang belum dikenalnya. Kai hanya tahu kalau Kris termasuk salah satu murid populer dikampusnya. Sedangkan Kris memang sedikit bicara.

Luhan kembali dengan bakinya yang penuh dengan berbagai macam sayuran dan buah-buahan. Sekarang Kai yang ennek dengan bukit sayuran itu. “Kenapa? Kau tidak menyukainya, berarti kau juga tidak menyukaiku.”

“Kekanakan. Tidak ada kaitannya menyukai orang dengan menyukai kebiasaannya.”

“Bagaimana bisa begitu?

“Tentu saja bisa.”

“Ah tidak-tidak. Mencintai orang itu berarti harus menerima dia apa adanya,” Luhan mengunyah sayurannya.

“Ck, habiskan makanan dimulutmu dulu. Kau juga membenci daging, kan? Dasar bawel.”

Kris memandang mereka bergantian. Terselip sesuatu dihatinya untuk ikut menggabungkan diri dengan percakapan yang dipastikan akan menjadi rentetan panjang jadwalnya hari ini.

Luhan mendongak, menabrak mata Kris yang tepat melihatnya. “Mau?” Luhan menyodorkan sesendok penuh sayuran dan potongan buah ke Kris.

“Tidak. Aku tidak suka sayuran.”

“Setuju. Kita, kan, bukan ulat.”

Kai menoleh ke Kris dan untuk sesaat mata keduanya bertemu. Mendadak jantung Kai berdegup lebih kencang, matanya seolah tertarik untuk tetap menatap mata tegas milik Kris. Karena merasa bertingkah aneh, Kai langsung menoleh ke Luhan yang menunduk menatap piring yang hampir licin dimejanya. Ini pasti karena ia sedang bersama kekasihnya. Ya, ia yakin begitu. Dan ia lebih menyukai mata polos kekasihnya daripada mata elang Kris. Ia tipe yang setia, ia sedang mengingatkan dirinya untuk begitu.

Kris menekuk sedotannya dan meminum habis jus digelas. Setelah itu ia meletakkannya dibakinya dan bangkit berdiri. Tak ada kata pamit, tak ada ucapan apa pun. Hanya saja ia sempat memutar lehernya. Hanya satu detik untuk menatap Kai lagi.

Kai bergeming ditempatnya. Mencoba sebisa mungkin mengenyahkan perasaan singkat itu. Tapi rupanya, ia bukan tipe setia. Kai menyeringai ke arah Kris. Tidak akan ada yang menyalahkan Kai untuk tidak terpesona dengan Kris dan tidak akan ada yang menyalahkan Kris karena membuat semua orang tak bisa berpaling menatapnya.

Kris memunggunginya dan sudah setengah jalan meninggalkan kantin. Bibirnya melengkung, menampakkan barisan gigi putihnya dan kembali menatap jalan lurus-lurus.

“Mangsa berikutnya.”

.

.

.

Kai sudah mengirim pesan pada Luhan untuk membatalkan janjinya hari ini. Padahal hari ini tepat dua tahun hubungan mereka. Kai tahu dengan pasti Luhan sedang mengomel dalam kamarnya atau sedang menangis sampai ia tertidur.

Kai melewati jalan setapak yang hanya berpenerangan lampu jalan. Jarak masing-masing tiang lampu hampir lebih dari tigapuluh meter. Angin membawa udara malam yang pekat dan dingin menampari kulitnya. Kemudian ia berhenti, menyandarkan punggungnya ditembok dengan coretan-coretan tak beraturan.

“Menunggu lama?” Kris membuka tudung jaketnya.

“Lumayan. Kau membuatku merasa bersalah dengan Luhan,” Kai menegakkan tubuhnya.

“Kalau begitu kau boleh pergi. Aku tidak akan memaksamu. Gadis manis sepertinya memang tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu darimu.”

“Kau mengusirku?” nada suara Kai terdengar santai. Bahkan cenderung menggoda untuk Kris.

Kris tersenyum. “Tidak. Hanya mengingatkanmu kalau saja kau ingin berubah pikiran.”

Kai berpura-pura berpikir. “Bagus. Tapi aku tidak bisa lari lagi darimu.”

“Oke.” Kris mengulurkan sebelah tangannya untuk Kai. Kai menatap tangan itu sesaat lalu menggenggamnya. Ia bahkan menyandarkan kepalanya di bahu Kris dengan mesra.

Bunyi berkeriet pintu apartemen Kris serasa memekakkan telinga Kai. Ada sesuatu yang seperti berbisik agar ia berbalik pergi, berlari sejauh mungkin dan menghindari apa pun yang berhubungan dengan Kris. Atau itu hanya akibat dari rasa bersalahnya dengan Luhan saja?

“Masuk.” Kris mengedikkan kepalanya.

Kai mengamati apartemen kecil itu. Letaknya dilantai dua−lantai paling mentok−dan paling ujung setelah keluar dari lift lalu belok ke kanan. Apartemen itu tertata rapi lengkap dengan perabotan yang bahkan lebih baik dari bayangan Kai. Kamar Luhan saja tidak lebih baik dari ini apalagi kamarnya yang semprawut itu.

Bau harum bunga menyesak masuk ke paru-parunya. Terlalu menyengat dan berlebihan untuk ukuran laki-laki. Tapi Kai tidak terlalu peduli dan langsung duduk di sofa. Tak ada sekat apa pun antara kamar tidur dan ruang tamu. Menurut perkiraannya, ruangan dalam apartemen itu hanya berisi dapur dan kamar mandi.

Kris berlalu ke kamar mandi dan ia mengatakan pada Kai untuk menganggap apartemennya seperti miliknya sendiri.

Sesaat Kai masih mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya mengangguk.

Bosan menunggu Kris yang tak segera keluar, ia pun iseng-iseng tiduran di ranjang. Tapi nampaknya kasur empuk itu akan membuatnya tertidur, jadi ia pergi ke ruangan lain. Ke dapur.

Kai melihat meja makan di depannya dengan kagum. Meja batu itu terlihat megah dengan warna abu-abunya yang khas dan mengkilap. Ia melihat cerek di atas kompor yang masih menguapkan asap putih. Kemudian ia ingat perkataan Kris untuk menganggap apartemen itu seperti miliknya, seperti saat Kai dengan setia selalu membuat berantakan kamar Luhan. Kai berinisiatif membuat teh dan membuka lemari karena tak menemukan cangkir bersih. Dan ia tidak ingin berbasah-basah dengan mencuci salah satu cangkir di wastafel.

Kai berhenti beberapa saat hanya untuk mengamati lemari di depannya. Ia mengendus bau busuk dari sana. Gerakan membuka lemari itu ia jaga agar tak terdengar terlalu keras untuk Kris yang berada di kamar mandi.

Mata Kai melebar, suaranya tercekat walau mulutnya sudah bergerak mengatakan sesuatu. Tangannya yang memegang kedua pintu lemari bergetar.

“Kau benar-benar menganggap apartemen ini seperti milikmu, ya?” Suara Kris langsung membuatnya membalikkan tubuh. Entah ada apa dengan lantai yang diinjaknya, tapi itu membuatnya berpaling sesaat dari Kris sebelum ia sendiri ikut menyeringai.

“Seperti yang kau lihat, psikopat. Pantas kau menoleh saat Luhan mengatakan kanibal.”

“Well. Benar. Apa kau ingin salah satu dari tubuhmu menjadi koleksiku juga?” Kris maju selangkah mengimbangi Kai.

“Kau yang akan menjadi koleksi penjara Seoul, Kris.”

Kai merunduk ke bawah, menjulurkan kakinya dan mencoba menendang kaki Kris dengan kakinya. Kris dengan mudahnya mengelak.

Kai langsung berguling. Kakinya menyambar kaki Kris−yang kali ini berhasil dan membuatnya terjerembab. Sebelum Kris bangkit, ia sudah melayangkan tinjunya lagi. Tapi Kris seperti dengan sengaja tak menghindari pukulan itu.

Kris mendorong tangannya ke lantai dan langsung berdiri. Ia menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri, terdengar suara tulang yang bergemeretak. “Kau akan membuat ini lebih menarik, kan? Harusnya kita bercinta dulu sebelum kau mengetahui soal ini.”

“Cih! Aku bahkan tidak rela disentuh seujung jari pun olehmu.”

“Oke. Terserah. Yang jelas kau tidak boleh mengecewakanku seperti yang lainnya. Aku memperingatkanmu… kau bisa pergi dari sini dalam keadaan utuh kalau kau berhasil mengirimku ke neraka.”

Peringatan Kris berdentum di telinganya. Kai setengah membohongi dirinya bahwa ia tidak takut.

“Yap neraka. Di sanalah aku akan langsung mengirimmu.” Kai maju sambil melayangkan tinjunya. Tangan Kris terulur, mencengkram lehernya dan memitingnya. Kai tersedak dan terbatuk. Kai tak tinggal diam, ia juga melakukan hal yang sama dengan Kris.

“Berusahalah lebih keras untuk membunuhku Kai.” Kris menendang pinggang Kai dan membuatnya menabrak tembok. Kris menyambar pisau di dekat wastafel dan mengarahkannya ke Kai yang langsung mengelak.

Tak ada senjata apa pun ditangannya dan ia mulai berkeringat dingin ketika Kris memegang gunting besar dari lemari di belakangnya yang terbuka. Kai tak punya pilihan lain selain harus pergi dari sini. Tak ada gunanya mencoba mempertaruhkan nyawa tanpa persiapan menghadapi seorang psikopat.

Kai mendobrak pintu tapi terkunci. “Sial. Kau ternyata pecundang. Menggunakan senjata melawan musuhmu yang bahkan tak memegang apa pun. Dimana kuncinya, berengsek!!”

“Maksudmu ini?” Kris memamerkan kumpulan kunci di depan Kai. Lalu menendang tubuh itu tepat diperutnya. Ketika tubuh itu membungkuk, Kris langsung menyambar kepala Kai dan menghantamkannya dengan keras di tembok.

Melihat Kai yang diam beberapa saat, Kris langsung melepas celana milik Kai. Kai berontak dengan menggeliat tapi kepalanya luar biasa sakit dan tangannya menekan kepalanya agar tak terus mengeluarkan darah. Hingga pada potongan celana yang terakhir Kai mencoba menendang Kris, tapi Kris dengan sigap menekan kakinya.

“Diamlah, sayang.” Kris mengangkat guntingnya tinggi-tinggi dan mendekatkannya ke batang kejantanan Kai.

“AAARGGH!!” Teriakan teredam kembali menggaung di apartemen itu.

CRASH… CRASH…. Cairan pekat berwarna merah itu menyembur.

Tapi batang kejantanan Kai belum sepenuhnya terpotong. Mata Kai memburam tapi ia masih bisa menggerakkan salah satu tangannya untuk mendorong dada Kris ke belakang.

Kai membanting tubuh Kris ke meja dan meninjunya di setiap sisi wajah. Wajah tegas itu membiru, lebam dan lecet−entah semua luka itu didapatkannya dari Kai atau sudah ada sebelumnya. Dan tanpa membuang waktu, Kai mengambil kunci yang tergeletak di lantai dan memasukkannya ke lubang kunci.

Beruntung ia langsung menemukan kunci pintu dan membanting cepat pintu di depannya.

Kai berjalan tergopoh. Menunggu lift terbuka dengan waspada. Di tangannya tidak ada senjata apa pun dan ia tidak memakai potongan kain apa pun untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang mengalirkan darah. Ketika lift itu terbuka, Kris sudah berjalan melewati beberapa kamar apartemen lainnya dan berjalan mendekat.

Kai langsung menekan tombol untuk ke lantai satu. Ia hanya tidak ingin mati ditangan psikopat itu. Psikopat yang meniduri mangsa-mangsanya dan mengambil organ kelamin mereka. Harusnya ia menjadi seorang laki-laki yang seratus persen normal, bukan setengah gay dan normal seperti ini.

Beruntung atau entah sial untuk Kai. Beruntung karena apartemen dua lantai dengan kamar tak lebih dari sepuluh itu sunyi senyap. Jadi tak ada yang harus meracau dan menutupi mata mereka dari selangkangannya. Sialnya, dengan begitu tak ada yang bisa mencegat Kris untuk tak berlari mengejarnya.

Kai sampai di sebuah gang. Lebih jauh dari yang bisa ia perkirakan. Tapi Kris hanya berjarak tiga meter darinya. Ia sudah tidak kuat, nafasnya putus-putus dan semua rasa sakit menyetrum sel-sel tubuhnya. Ia tidak tahu mana yang lebih sakit, kepala yang berdarah? Selangkangan yang bahkan hampir putus itu atau tulang-tulangnya yang tertusuk dinginnya malam.

Kris menyambar sebelah kaki Kai. Membantingnya ketanah lalu mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. “Jangan bergerak, berengsek!” Kris menancapkan pisaunya di telapak kaki Kai, merambah ke betis, paha sampai ke perut.

JLEB! JLEB!

Membuat tubuh mangsanya berlubang mengucurkan darah. Bau amis terbawa angin.

Kris membalikkan tubuh Kai menghadapnya. Pisaunya mengayun mencongkel kedua mata Kai dan dibiarkannya menggelinding begitu saja. Ia fokus pada selakangan Kai lalu mengirisnya. Darah kental mengucur sesaat, kemudian mengalir sebelum akhirnya akan mengering.

Kai sudah tak bergerak. Sesaat sebelum semuanya menggelap, ia melihat siluet panjang yang mengamati mereka. Kai membuka mulutnya, tapi suaranya di ambang udara. Rohnya melayang bersama angin menuju langit yang lain. Menyusul tubuhnya yang diseret oleh Kris.

TBC

 

 

 

 

 

Iklan

83 pemikiran pada “Revenge Of The Psycophat (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan ke Icha Kim Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s