Phobia (Chapter 4)

Title: Phobia (Chapter 4)

Author: Kim Ria

Genre: Romance(?),School life,Friendship

 Length: Multi Chapter

Ratting: 13+

Main Cast: Jung Ga In | Woon Jin Ah | EXO (K&M) | Oh Yoo Hyun

 New Picture (19)

(Hwangdoong High School)

Gain melihat ponselnya.Pukul 4 lebih 25 menit sore.Batin Gain. Gain menghela nafas karena harus tertinggal bus lagi.Ia pulang terlambat dari yang lain karena harus ikut rapat dengan Suho,Kris dan Luhan untuk membahas perayaan festival gugur tadi agar besok hari bisa lebih baik lagi. Dan hal itu  membuatnya  harus berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Karena bosa menunggu, Gain mencoba masuk ke dalam toko buku saat ia berteduh tempo hari.

Klining..

“Selamat dat…Wua.. Jung Gain! Bisa kau tanda tangani buku ini?” Tanya suara pria paruh baya yang tak lain pemilik toko buku itu. Gain menoleh dan memperhatikan pria itu. Gain tersenyum lalu mengangguk.

Gain mengambil pulpen yang telah pria itu sediakan dan menandatangani buku itu dengan rasa bangga dan senang karena buku karyanya benar-benar diakui oleh orang lain.

“Kamsahamnida ajusshi…”Ucap Gain sambil membungkuk.

“Ne, seharusnya aku yang berterima kasih. Apa yang nona hendak beli?” Tanyanya. Gain menggelngkan kepalanya sambil mengangkat bahunya, karena tujuannya kemari hanya melihat-lihat.

“Ani.. Aku hanya ingin melihat-lihat ajusshi.Jika ada yang menarik mungkin aku akan membelinya.” Jawab Gain dengan sopan.

Gain membungkukkan tubuhnya lagi untuk permisi.Gain emmasuki toko itu lebih dalam.Bukunya masih ada di rak buku best seller dengan jumlah 6 buku. Gain melangkahkannya lagi perlahan untuk melihat buku-buku yang tersusun rapih di rak satu per satu.

Saat Gain hendak mengambil buku yang membuatnya tertarik, ponselnya berdering. Dari layar ponselnya menunjukkan bahwa yang menelepon adalah eommanya.

“Ne, eomma.. Yeoboseyo?”

“Eomma dan appa sudah di rumah nenek..Mianhae tidak sempat melihatmu.Nenek sedang sakit dan ada pekerjaan penting di daerah tempat inggal nenek. Jadi eomma dan appa langsung pergi.Kau sudah di rumahkan?”

“Aeeuumm..Ani, aku sedang di toko buku. Aku akan segera pulang.”

“Ya, segeralah pulang.Bibi Choi menelepon eomma kenapa kau tak kunjung pulang. Bibi sudah menyiapkan makan malammu dan menyiapkanmu air hangat. Sebaiknya cepat pulang ne? Arrachi?”

“Hhhh.. Ne.. Arraseo…..”

–***–

(Rumah Gain)

Gain makan malam bersama bibi Choi. Bibi Choi adalah ketua pelayan di rumah Gain dan umurnya paling tua. Dialah yang membantu eomma Gain merawat Gain dari saat di dalam kandungan eommanya sampai umurnya 16 tahun ini. Terkadang Gain akan memanggil bibi Choi dendan sebutan eomma.

“Nona, apakah tadi lelah?” Tanya bibi Choi. Gain menjawab dengan anggukan kepalanya.

“Mmmp… Untung saja eomma menyiapkan air hangat. Badanku menjadi lebih segar sekarang.. “ Lanjut Gain sambil tersenyum. Bibi Choi hanya tersenyum membalas senyuman Gain dan kembali melanjutkan makan malamnya.

“Eomma, nenek memangnya sakit apa kenapa eomma dan appa sepertinya terburu-buru sekali?” Tanya Gain.Bibi Choi terdiam sejenak sambil melihat ke arah Gain tidak yakin.

 “Saya tidak tahu nona, yang jelas tuan dan nyinya Jung kesana arena bibi Kim sedang pergi ke China, dan tidak ada yang menjaga nenek.Makanya mereka berangkat lebih cepat.” Jawab bibi Choi. Gain ber-O ria lalu menganguk tanda jika ia mengerti.Mereka berdua pun melanjutkan makam malamnya kembali.

Setelah makan malam, Gain beralih untuk mencari camilan yang dapat ia maka sambil menonton televisi. Gain membuka semua lemari yang biasa di buat untuk menaruh makanan kecil ternyata kosong.

“Apa nona mencari camilan?” Tanya pelayan Gain yang membuat Gain terperanjat . Gain mengangguk lemas sambil meringis seperti anak kecil.

“Kalau begitu bias saya yang akan keluar mencari camilan ne?” Tawar pelayan itu sambil berlalu. Keluar? Ah bir aku saja! Batin Gain.Cepat-cepat Gain menyusul pelayannya.Gain mencekal lengan pelayannya itu, dan mmebuatnya menoleh ke arah Gain.

“Ani, biar aku keluar sendiri. Tolong beritahu bibi Choi!” Ucap Gain sambil pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

–***–

Gain memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sweater tebalnya.Musim gugur dingin dan keluar di malam hari. Tentu saja rasa dingin luar biasa itu Gain rasakan sekarang. Ia sengaja untuk membeli camilannya sendiri karena ia tengah bosan di rumah.

“Gain!” Terdengar suara namja memanggilnya. Gain mencoba menoleh ke arah namja itu. Ia berani menolehkannya karena tahu betul siapa pemilik suara itu.Baekhyun berlari mendekati Gain.Gain menghentikan langkahnya dan berbalik agar bisa meihat Baekhyun.

“Apa yang kau lakukan di malam hari ini eoh? Apa kau tak menggigil hanya memakai syal sebagai penghangat?” Tanya Baekhyun. Gain hanya menggelengkan kepalanya.

“Kau sendiri, sedang apa?” Tanya Gain datar.Baekhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.

“Hehehehe entahlah, aku hanya bosan di rumah.” Jawabnya santai.

“Apa aku boleh ikut denganmu” Tanya Baekhyun lagi.Gain hanya tersenyum kecil lalu mengangguk.

Hyuuu..Hyuu…

Angin malam yang amat dingin memasuki tubuh Gain.Gain hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri sambil menahan dinginnya angin malam. Badan Gain juga menjadi tak seimbang saat berjalan, tubuhnya bergerak kesana ke mari mengikuti arah angin.Baekhyun yang mendapati Gain menggigil sampai seperti itu, segera melepas jaket tebalnya dan memakaikan ke Gain.

“Sepertinya kau butuh itu, kau seperti anak kucing baru lahir.. Untuk berdiri saja tak bisa seimbang.” Kata Baekhyun.Gain hanya mendengarkan ucapannya, ia terlalu malu mendapati perlakuan Baekhyun baru saja.

“Gomawo…”Ucap Gain sangat lirih.Baekhyun yang tidak begitu mendengar, mencoba mendekatkan telinganya ke wajah Gain.

“Kau bilang apa?”

“Gomawo!”Seru Gain tepat di telinga Baekhyun.Baekhyun langsung menarik wajahnya dan mengusap-usap telinganya yang mungkin sekarang sudah rusak karena mendengar lengkingan Gain. Gain hanya menahan tawanya melihat ekspresi Baekhyun yang sangat koyol itu.

“Kau gila, berteriak seperti itu.Kau bisa membuatku tuli!” Gerutu Baekhyun.Gain menoleh dan hanya menjulurkan lidahnya lalu memalingkan wajahnya lagi dan tertawa. Pipi Baekhyun memerah sesaat saat melihat tawa Gain, bukan karena suaranya tapi wajahnya yang amat menawan dan leukakan bibirnya yang terlihat begitu sempurna.Tahan dirimu Baekhyun… Tahan dirimu…

Kini angin dingin itu seakan tidak terpengaruh lagi bagi Gain dan Baekhyun. Mereka asyik bercanda seolah melupakan dinginnya malam itu.Dan membuat kehangatan tersendiri bagi mereka. Mungkin ini awal mencairnya es di antara Gain dan Baekhyun.Dan Baekhyun sangat menikmati waktu yang berharga ini, waktu yang mungkin tak akan ia lihat setiap hari.

–***–

(Departemant Store)

Gain tersenyum lebar saat melihat departemant store. Rasanya sudah lama ia tidak berbelanja di sini semenjak pelayan di rumahnya di tambah menjadi 6 orang.Baekhyun sendiri memandang Gain dengan aneh. Karena Gai terlihat begitu berbinar-binar matanya saat masuk departement store, padahal baginya ini biasa saja sama seperti dengan yang sebelumnya tak ada yang berubah.

“Kenapa kau tersenyum-tersenyum sendiri?” Tanya Baekhyun.Gain menoleh dan masih dengan senyuman manisnya,Baekhyun yang melihat senyumannya hanya bisa menahan nafasnya karena wajah Gain menjadi terlihat imut.

“Aku lama tidak kesini.Bisakah kau mengantarkanku ke bagian makanan?” Pinta Gain.Sambil menggoyang-goyangkan tangan Baekhyun dengan manja.Baekhyun mengangguk lalu menelan ludahnya.Apa aku mimpi? Seyumannya berbeda sekali saat aku bertemunya di jalan tadi..Batin Baekhyun sambil terus mencubit pipinya itu sampai memerah.

Gain dan Baekhyun memasuki daerhan bagian makanan. Gain dengan semangatnya mengambil beberapa camilan ke sukaannya tanpa ada rasa malu saat Baekhyun. Saat makanan yang di ambil sudah di rasa cukup oleh Gain, ia mengajak Baekhyun untuk mengajaknya ke kasir.

Saat berjalan dan hendak melewati daerah daging, terlihat banyak wanita ya sebut saja dengan ‘ibu-ibu’ tengah berebut diskon daging.Baekhyun dan Gain menelan ludahnya bingung mau bagaimana, jika memutar hanya untuk kek kasir akan memakan waktu tapi jika melewati lautan ibu-ibu itu mungkin saat berhasil dagingnya tak bersisa.Wajah mereka mneunjukkan ngeri melihat ibu-ibu itu. Tubuh mereka tegap seperti batu.Matanya masih melihat ibu-ibu tanpa berkedip sedikitpun.

“Kau suka petualangan?” Bisik Baekhyun.Gain mengernyitkan dahinya sesaat, tidak mengerti ddengan yang dibicarakan Baekhyun.

“Apa maksudmu?” tanya Gain kemudian.

“Jika kau suka.. Sepertinya ada level terakhir… Level terakhirnya ada di sana..” Jawab Baekhyun sambil menunjuk ke arah ibu-ibu itu.

“Kakiku mengatakan tidak mau berjalan 1000 langkah hanya untuk ke tempat kasir di samping bagian daging itu.Sepertinya aku memilih level terakhir itu….” Jawab Gain ragu. Baekhyun menoleh lalu menggenggam erat tangan Gain.

“Berjanjilah, jika kita berhasil keluar kau akan utuh.” Kata Baekhyun sambil menarik lengan ke arah ibu-ibu itu.

Gain hanya bisa menutup matanya dan mendengarkan suara ibu-ibu itu yang terdengar cukup mmebuat gendang telinganya pecah. Ayolah tahan, ini level terakhir…Batin Gain.Saat melewati terasa tubuh Gain mulai goyah karena bertubrukan dengan seorang ahjumma yang terdorong dengan ahjumma yang lain.Karena sedikit terkejut dan masih takut, Gain memperkuat menggenggam tangan Baekhyun lebih erat lagi.

Ia masih memejamkan matanya, dan samar-samar suaraitu mulai menghilang. Gain mencoba membuka matanya.Gain menghela nafas lega.Jika saja tidak ada Baekhyun mungkin Gain lolos dengan sisa tulang belulang saja. Selesai melewati ibu-ibu itu, Gain segera membayar makanannya ke kasir.

–***–

Selesai membeli camilan, Gain dan Baekhyun memilih untuk ke kedai sekedar mengisi perut walaupun hanya ke kedai. Kedai ‘Chocolatte’ yang menjadi pilihan mereka. Kedai yang hanya membuat makanan dan minuman rasa coklat saja.

“Kau mau apa?” Tanya Baekhyun ke arah Gain.

“Aku? Coklat panas saja… Badanku masih terasa dingin..” Jawab Gain dengan datar. Baekhyun mengangguk lalu memanggil pelayan dan memesan 2 gelas coklat panas.

Dimanapun Gain berada, ia pasti memlih tempat ia bisa melihat pandangan selain kedai.Mana lagi jika bukan dekat dengan jendela.Gain bertopang dagu sambil melamun melihat ke luar jendela.Jika Gain sudah sibuk dengan pikirannya, ia seolah egois tidak memikirkan orang yang ada di dekatnya.

“Gain?” Panggil Baekhyun. Gain terlonjak lalu hanya menoleh sekilas.

“Mmm… Jika kau melukis apa yang aku pikirkan?” Tanya Baekhyun. Gain menoleh ke arah Baekhyun tak menyangkan jika Baekhyun akan bertanya seperti itu.Gain mengatur posisi duduknya agar nyaman dan berhadapan dengan Baekhyun.

“Entahlah, sesuai dengan hatiku saja. Aku hanya mengikuti kata hatiku.Jika alami dari hati orang yang melihat pasti tahu apa yang di rasakan pelukis itu.” Jawab Gain lalu tersenyum. Baekhyun ikut tersenyum, mendengar jawaban Gain membuat dia makin kagum dan senyumannya membuatnya ia juga makin mengaguminya.Entahlah, ia hanya sekedar kagum atau ada yang ‘lebih’ dari itu.

Akhirnya yang di tunggu-tunggu oleh Baekhyun dan Gain datang juga, yaitu 2 gelas coklat panas yang akan membuat tubuh mereka hangat kembali.

“Wuaa… Akhirnya…”Ucap Gain senang. Tanpa di minta, Gain langsung menyeruput coklatnya panas itu dengan cepat. Sedangkan Baekhyun perlahan, Gain seperti anak kecil yang sudah tak tahan menunggu susu hangat sebelum tidur.

Selepas meneguk coklat panas, Gain meletakkan gelasnya lalu melihat ke arah gelas Baekhyun lalu melihat gelasnya sendiri. Gelasnya hanya tinggal ¼ sedangkan Baekhyun ½. Baekhyun meletakkan ponselnya dan hendak menyeruput coklat panasnya namun ia tertawa saat melihat tampang Gain. Ya, daerah atas bibir Gain banyak noda coklat yang membuatnya seperti kumis.Gain yang tak mengerti melihat Baekhyun tertawa tanpa alasan membuat Gain mengacuhkannya. Baekhyun yang melihat raut wajah Gain menjadi tak suka, cepat-cepat mengambil tisu.

“Gain!”Panggil Baekhyun agak keras agar Gain menoleh.Tepat saat menoleh, Baekhyun langsung memegang dagu Gain dengan tangan kirinya lalu tangan kanannya mengusap daerah bibir Gain dengan selembut mungkin.Gain hanya bisa diam menurut apa yang dilakukan Baekhyun, perlahan pipinya merona dan saat Baekhyun selesai.Gain langsung menyeruput coklatnya lagi untuk menutupi wajahnya yang sudah merah padam itu.Baekhyun hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Gain.Apalagi melihat wajahnya memerah. Aigoo…Aku benar-benar ragu jika ini kenyataan… Batin Gain sambil melirik ke Baekhyun sekilas.

–***–

(Di Jalan)

Jalan yang di lewati oleh Gain dan Baekhyun cukup ramai dengan pejalan kaki lain. Dan membuat jalan mereka sedikit lambat. Baekhyun memasukkan tangan kanannya ke saku celananya dan tangan kirinya menggenggam tangan Gain.Ia takut jika terjadi apa-apa dengan Gain .Karena mereka sudah bertemu 3 orang mabuk di jalan tadi, ia berniat untuk melindunginya dari orang-orang tersebut.

Tak terasa Gain dan Baekhyun sudah dekat dengan jalan tempat mereka bertemu.Gain menghentikan langkahnya dan membuat Baekhyun berhenti juga.

“Aku mau pulang, apa kau mau mampir?” Tawar Gain sambil menoleh ke arah Baekhyun.Baekhyun menjawab dengan gelengan kepala yang disertai senyuman kecil. Gain mengangguk mengerti.

“Geurae, aku pulang dulu ne? Annyeong…” Ucap Gain sambil melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Baekhyun.

 Baekhyun tersenyum melihat kepergian Gain, bukan senang karena Gain pergi.Karena ia senang bisa bertemu Gain tadi. Ia memandang punggung Gain sambil memutar pikirannya saat ia bertemu Gain sampai ia berpisah. Baekhyun mengangkat kedua tangannya dan memandang tangannya itu sambil tersenyum.

“Hhh, tangan yang hebat. Aku bisa menggenggam erat tangan Gain..” Gumam Baekhyun, ia lalu ber alih ke tangan kanannya itu.“Kau juga hebat.. Bisa menyentuh daerah bibirnya.Wuaaaa….” Ucap Baekhyun. Ia mulai tersenyum-senyum sendiri. Ia berpikir jika ia mulai menggila dengan Gain ia juga tidak tahu sejak kapan mulai memperhatikan Gain.

–***–

(Penitipan Parkwoon)

“Huwaaaa!! Shireo!!Shireo!!Huhuhuhu…Shireo hyung…” Yoohyun masih menangis sampai matanya basah dan wajahnya memerah.

“Ya, eomma dan appa sudah menunggumu…Ini sudah malam…” Ucap Sehun menenengkan Yoohyun yang sudah menangis sejak ia jemput pukul 6 sore tadi.

“Hiks..Shrieo!Aku mau menunggu Gain noona!Pasti Gain noona datang!”Tolak Yoohyun.Sehun dan 2 yeoja yang bekerja di penitipan Parkwoon bingung bukan kepalang. Sehun mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Noona, apakah Gain pekerja di sini juga?Kenapa tidak datang?”Tanya Sehun menahan emosinya karena adiknya tak kunjung berhenti menangis.

“Aniyo, nona Gain dan nona JinA datang berkunjung saja. Dan datangnya juga tidak rutin.” Jawab salah satu pekerja di situ. Sehun membelakkan matanya llau kembali mengacak-acak rambutnya lagi dengan kesal.

“Aigoo..Apa yang harus kulakukan?” Gumam Sehun sambil memandang adiknya dengan sedih.Ia melihat ke arah jam tangannya, menunjukkan pukul 8 lebih 45 menit. Adiknya terus manangis, entah apa yang ada di pikirkan Yoohyun sampai terus menangis menolak pulang sebelum melihat Gain.

Dengan langkah berat, Sehun mendekati Yoohyun lagi dan menggendongnya. Cukup sulit karena ia memberontak walaupun sudah berhasil Sehun gendong. Sehun membungkukkan badannya ke pada 2 pekerja tadi untuk memonta maaf dan berterima kasih lalu pergi ke mobilnya.Sehun mencoba menengkan hati dan pikirannya, ia penasaran dengan Gain ada benda apa yang ada di tubuhnya membuat Yoohyun begitu senang di dekatnya.Sampai-sampai membuat Yoohyun menangis hebat saat tidak melihat Gain di tempat penitipan. Sehun menyetir mobil sambil melirik ke arah Yoohyun yang terus menangis.

“Hhhh.. Yoohyun…Kau ingin melihat Gain?” Tanya Sehun tanpa memnadang ke arah Yoohyun karena fokus mengemudikan mobilnya.

“Huh?Hiks..Ne, ..” Jawab Yoohyun. Sehun menarik nafas berat.

“Kalau begitu, besok kita akan ke sekolah hyung lagi… Tapi kau berjanji tidak menangis jika tidak bertemu Gain di penitipan ne? Karena Gain tidak bekerja disini….Dan jangan marah atau menangis jika Gain tidak ada, karena ia juga sibuk…Arrachi?” Tawar Sehun agar Yoohyun tak menangis lagi. Yoohyun mengusap-usap mata dan hidungnya lalu mengangguk.

***Next(?)

[[Buat para readers, Minta bantuannya buat ngasih kritik sama saran,. Hehehe^^ maaf kalo banyak typo di sini.. Dan ceritanya makin gak jelas.. Hehehe, #peace! (‘-‘v 😀 ]]

Iklan

15 pemikiran pada “Phobia (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s