Don’t Kiss Me! (Chapter 2)

| Title : Don’t Kiss Me ! (Chapter 2) |

| Author : gishafz (@ginashafanm) |

| Main Cast : Milania Van Dijk as Milan (OC) & Byun Baekhyun as Baekhyun (EXO) |

| Support Cast : – |

| Genre : Romance, Little Comedy, Hurt/Comfort, and Het Fic |

| Lenght : Multi Chapter |

| Rating : WARNING! PG-17 |

| My Personal Blog : http://gishafz.blogspot.com/ |

| Credit Poster : http://changtseusite.wordpress.com/ |

Disclaimer : Baekhyun dan casting yang lain seutuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa dan orang tuanya masing-masing. Tetapi fanfiction ini seutuhnya milik author. Cerita ini asli imajinasi dan khayalan author sendiri. Jika ada kesamaan cerita author tidak tahu menahu dan tidak ada unsur kesengajaan.

Author’s note WARNING! Typo beredar dimana-mana. Mohon maaf kalau readers tidak mengerti sama ceritanya. Kayaknya ini moment Baek-Mil, soalnya chapter ini Baek-Mil semua. Bisa dibilang ini kaya side story.

Summary : Lelaki bernama Baekhyun yang menyukai gadis keturunan Korea-Belanda terlebih dengan bibir mungil gadis itu begitu menggodanya. Mereka dijodohkan oleh orang tua mereka sejak tahun 2012. Baekhyun menerima perjodohan itu tetapi bagaimana dengan gadis bermarga (Belanda) Van itu? Ia baru tahu jika ia (Milania) dijodohkan. Untuk menyetujuinya, Milania ingin mengetahui bagaimana sifat dan karakter calon kekasihnya itu (Baekhyun).

SIDERS DAN PLAGIATOR DILARANG UNTUK BACA !

FILM THE RAID 2 EMANG SADIS, TAPI DI READ DOANG LEBIH SADIS !

| DILARANG KERAS UNTUK COPY+PASTE FANFICTION INI TANPA SEIZIN AUTHOR |

~ Happy Reading ~

-^- Author POV -^-

‘Kita dijodohkan.’  Kalimat itu membuat otak Milan bekerja lebih cepat untuk mencerna kembali kalimat itu. Untuk mencerna perkataan Baekhyun membuat otak Milan terasa berasap. Bahkan menurut Milan, kalimat itu lebih sulit dari 100 soal Matematika.

What? Dijodohkan? Mengapa Ayah tidak memberitahuku?” pertanyaan itu menghiasi kepala Milan. Lebih tepatnya memenuhi ruangan otak Milania.

Milan meneguk air liurnyaa sebelum bicara, “Se-se-sejak kapan?” tanya Milan polos dan menatap penuh bingung ke arah Baekhyun.

Baekhyun tersenyum, “Sudah lama. Kita sudah lama dijodohkan, Chagiya. Kira-kira tahun 2012.” Baekhyun menggoda Milan dengan sebuah senyum mengembang dimulutnya. Lalu mengacak puncak rambut Milan.

Milan membelalakkan matanya sambil menatap Baekhyun tak suka, “Hei! Jangan mengacak rambut orang dengan seenaknya! Dan jangan panggil aku Chagiya! Aku belum menjadi kekasihmu, Baek!” tegas Milan pada Baekhyun. Dia paling tidak suka jika ada orang yang baru di kenal mengacak rambutnya.

Raut wajah Baekhyun kecewa. Ia hanya bisa mengerucutkan bibirnya, “Mengapa? Aku ini memang kekasihmu, Milan-ssi.” Nada Baekhyun seperti anak kecil. Saat ini Milan sangat ingin tertawa keras, karena melihat raut muka Baekhyun layaknya anak kecil meminta susu terutama suara Baekhyun yang tadinya berat berubah menjadi suara anak kecil berumur 6 tahun.

Milan kembali ke topik pembicaraan mereka.

“Benarkah? Mengapa aku tidak diberitahu?” Milan mendengus kesal lalu mengerang kecil. Ah sungguh, ini justru membuat Milan tak suka. Dengan cara perjodohan seperti ini sangat ia tak suka. Bagaimana jika ia tak mencintai Baekhyun? Tapi tidak mungkin jika Milan tak menyukai Baekhyun, di taman belakang Milan mengagumi ketampanan pria bermarga Byun itu.

“Karena Ayahmu yang meminta. Ini sebagai kejutan katanya.” ucap Baekhyun tidak menatap lawan bicaranya melainkan sibuk memandangi tiap sudut kamar Milan.

“Kamar tidur gadis ini sangat tertata rapih. Penataannya sangat manis.”Ungkap Baekhyun dalam hatinya.

“Ba-ba-bagaimana bisa kau menyukaiku dan mencin-cin-cintaiku?” tanya Milan penasaran dengan terbata-bata. Baekhyun menoleh dan memandang Milan. Milan menyipitkan matanya menatap mata Baekhyun. Ia sangat butuh penjelasan.

“Itu mudah saja. Aku sudah lebih dulu mengenalmu sebelum kau. Aku selalu mengikuti jejakmu pada saat kau tinggal di Belanda. Haha aku mengikutimu disana.” ujar Baekhyun dengan nada lebih menggoda. Tetapi ia kembali tak menatap Milan melainkan sibuk memandangi tiap sudut bahkan inchi kamar tidur Milan.

Baekhyun membuat Milan melayang. Entah mengapa, Milan dan Baekhyun baru bertemu tadi siang tetapi Milan sudah merasakan hal seperti ini. Rasanya seperti terbang ke luar angkasa raya. Mengapa ia tidak pernah mengetahui itu?

Tampak pipi Milan merah merona akibat perkataan Baekhyun tadi. Ah tidak kau membuat Milan tersipu malu, Baekhyun! Milan merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Tunggu, jantung Milan berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Astaga! Milan bisa gila jika akan digoda lagi oleh Baekhyun.

Milan mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum berkata pada Baekhyun. Milan takut jika nadanya menjadi nada gugup. Dan pasti Baekhyun akan mentertawakannya.

Milan sedikit mencubit lengan Baekhyun, “Yak! Apa kau tidak ada kegiatan lain? Mengapa kau rela mengikutiku?! Astaga, Baek.” Ujar Milan tak percaya jika Baekhyun mengikutinya di Belanda. Ada rasa senang dan juga ada rasa tak suka jika Baekhyun mengikutinya.

Dalam hitungan detik Baekhyun membalikan tubuhnya menghadap Milan lalu menarik tengkuk leher gadis itu hingga wajah mereka kini sejajar dan begitu dekat, “Ini aku lakukan untuk mengenal calon kekasihku.” Baekhyun menjawab pertanyaan Milan dengan enteng lalu ia tersenyum seperti orang gila. Mata Baekhyun kini tertuju pada bibir gadis itu. Entah mengapa bibir Milan yang mungil dan berwarna pink alami sungguh membuat Baekhyun sangat tergoda untuk mencicipinya.

Milan yang tercengang akibat ulah Baekhyun hanya bisa membeku diam, mengerjap-ngerjapkan matanya dan memasang raut wajah yang kebingungan seperti orang tersesat di hutan dan tak tahu jalan keluar. Ia dapat merasakan jelas bagaimana udara yang Baekhyun keluarkan dari hidungnya menerpa lembut kulit wajah Milan. Hangat. Terutama aroma harum tubuh Baekhyun masih sama persis seperti di taman. Itu hal yang paling disukai Milan dari seorang Byun Baekhyun.

Milan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memulihkan kerja otaknya yang terbilang cukup lamban. Milan sangat ingin pake banget mendorong tubuh Baekhyun agar menjauh dari tubuhnya. Tapi tangannya seolah-olah lumpuh total, bukan hanya tangan tetapi seluruh anggota tubuh Milan perlahan-lahan tidak dapat digerakan. Tubuh Milan bisa dibilang seperti patung saat ini.

Baekhyun perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Milan. Milan ingin menangis sekarang, badannya bergetar karena tegang. Ia mengunci rapat-rapat matanya. Ia pasrah jika akan benar-benar terjadi ciuman antara dirinya dengan Baekhyun. Menurut Milan ini adalah kiamat. Dimana first kissnya akan direnggut oleh pria bermarga Byun itu.

“Hey tunggu! Kau seharusnya bangga, Milan! Ciuman pertamamu akan direnggut oleh pria tampan. Ah pikiran apa ini?” batin Milan.

Tapi suara berat Baekhyun memecahkan ketegangan Milan, “Hi! Mengapa kau menutup matamu erat? Apa kau pikir aku akan menciummu?” Baekhyun terkekeh sambil melepas tangannya dari tengkuk leher Milan dan menjauh dari gadis berambut ikal itu. Setelah merasa tangan Baekhyun sudah tidak memegang tengkuk lehernya, perlahan-lahan Milan membuka matanya dan saat itu pula anggota tubuh Milan dengan kontan bisa digerakkan. “Ini aneh.” decak Milan tak percaya.

Sebuah kenampakan Baekhyun yang tertawa geli dan penuh kemenangan tercetak jelas di hadapannya. Milan menaikan salah satu alisnya, “Apa-apaan ini? Jadi ia tadi hanya mempermainkan aku?! Ia tidak mencium bibirku?” ungkap Milan dalam hatinya.

Kini pipi Milan melukiskan semburat merah. Ia sekuat tenaga menahan malu apa yang ia lakukan. Bodoh juga pikirnya. Mengapa ia harus menutup mata rapat-rapat jika ia belum tahu apa yang Baekhyun akan lakukan.

“Yak! Chagi, pipimu memerah seperti tomat. Kau malu?” tanya Baekhyun dengan nada lebih menggoda dari sebelumnya. Setelah itu ia kembali tertawa seperti orang gila di rumah sakit bersalin rumah sakit jiwa.

Milan semakin GILA mendengar nada Baekhyun seperti itu.

Cukup sudah Milan menahan gejolak amarahnya yang membara setiap Baekhyun mentertawainya padahal itu tidak lucu menurut Milan, “Cukup, Baekhyun-ssi! Jangan tertawakan aku! A-a-aku tidak malu.” Perintah Milan. Sialnya nada yang keluar dari mulut Milan persis seperti orang yang sedang berbohong dan malu. Baekhyun tidak mungkin bodoh untuk itu. Ia bisa menebak jika gadis itu malu dan sedang berbohong padanya.

“Apa kau berkata jujur?” ujar Baekhyun menyipitkan matanya tajam dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Milan.

Milan membulatkan matanya, “He-hey-hey! K-k-kau jangan mendekat! Aku perintahkan! Kau jangan mendekat atau sebuah pukulan akan melayang tepat diwajahmu, Baek!” Milan sigap memundurkan tubuhnya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi. Dasar pria mesum! Pikir Milan.

Baekhyun mempercepat pendekatan tubuhnya dengan tubuh Milan. Ia hanya bisa menyeringai melihat raut wajah Milan yang sudah ketakutan. “Memangnya aku hantu?” pikir Baekhyun.

“Jawab dahulu pertanyaanku, Chagi.” Tatapan Baekhyun yang begitu tajam memandang Milan yang sudah ketakutan hebat terlebih dahulu karena ia sangat takut jika melihat mata Baekhyun seperti ini. Mirip seperti pria yang akan berbuat mesum.

Kepala Milan seakan ingin pecah. Ia tak kuat jika Baekhyun memperlakukannya seperti ini.

“BAEKHYUN!!!!! Please, STOP it! Berhenti disitu jangan mendekat!” Milan berteriak keras hingga suaranya bergema di dalam ruangan kamarnya. Bukannya membuat Baekhyun berhenti untuk mendekati Milan, justu membuat Baekhyun semakin mendekat. Entah apa yang menyebabkan Baekhyun sangat bersemangat untuk melakukan ini.

I don’t want to STOP, Baby. Sebelum kau menjawab pertanyaanku tadi.” Baekhyun tersenyum evil kearah Milan. Milan hanya bisa meneguk air liurnya sendiri. Gadis itu sangat terdesak jika seperti ini. Apa ia harus jujur pada Baekhyun agar tidak mendekat? Tetapi ia takut jika ia jujur Baekhyun akan mentertawainya lagi seperti orang stress. Milan tidak suka itu.

Milan mengontrol nafasnya dan berusaha sekuat tenaga agar nada yang terucap dari bibirnya itu bukan nada gugup seperti tadi. “Ak-aku..” Milan menyeretkan perkataanya.

“Aku apa, Baby?”

“Aku malu.” Ucap Milan singkat dan cepat. Tenggorakannya terasa sangat kering tetapi rasa lega pun menjalari perasaaan Milan. Ia bisa jujur pada Baekhyun. Ia terbebas dari jeruji besi yang Baekhyun bangun pada dirinya. Dan Milania bisa menjauhkan dirinya dari lelaki itu.

“Katakan sekali lagi.” Perintah Baekhyun sambil tersenyum manis. ” Tidak itu bukan manis! Itu hanya akal-akalannya saja agar aku terpana akan senyum manisnya. Itu sama seperti senyum kecut.” Pikir Milan.

Milan mengedipkan mata kirinya, “Tidak ada siaran ulang, Mr. Byun Baekhyun.” Milan mengembangkan senyum kecut di bibirnya. Ia sedang tidak berselera untuk tersenyum manis pada Baekhyun, lagi pula ia tidak sudi setelah apa yang Baekhyun lakukan padanya.

“Dan sekarang menjauhlah dariku!” Milan mendorong Baekhyun dengan keras hingga ia terjatuh dari ranjang. Milan akhirnya tersenyum puas dan tertawa penuh kemenangan. Ia dapat memastikan bokong Baekhyun kini terasa sakit luar biasa. “Rasakan kau, Baekhyun!” Gumam Milan sambil terkekeh.

“Arghhh~” Baekhyun meringis dengan keras.

“Astaga.. Sakit sekali. Milan, kau makan apa sampai-sampai tenagamu sebesar ini?!” Baekhyun tidak dapat menahan rasa sakitnya lagi. Hanya gara-gara Milan mengedipkan mata itu membuat pertahanan Baekhyun goyah. Hingga seperti pria lemah.

“Itu tidak penting. Kita kembali ke topik pembicaraan!” Milan menatap datar Baekhyun yang masih terduduk dibawah. Saat ini Baekhyun tengah bergelut dengan aktivitas mengelus-ngelus bokongnya. Sepertinya biru pikir Baekhyun.

Chagi, bantu aku berdiri.. Sakitnya itu bagaikan ditusuk ribuan pisau, Milan-ssi.” Pinta Baekhyun sambil mengulurkan tangannya berharap Milan akan membalas uluran tangannya dan akan membantu Baekhyun agar bisa berdiri. Tetapi naas, semua itu hanya harapan Baekhyun. Nyatanya gadis itu menghiraukan Baekhyun. Sungguh malang nasibmu Baekhyun.

Milan menghembuskan nafasnya panjang, “Bangun saja sendiri. Kau kan sudah besar.” Balas Milan dengan nada super dingin. Milan sangat suka jika sudah seperti ini dengan Baekhyun. Membuat semangat di dalam tubuhnya bertambah dengan cepat.

“Yak! Bantu aku!” pinta Baekhyun sambil meninggikan suaranya.

“Aku tidak akan pernah membantumu, Baek. Anak laki-laki harus kuat.” Milan menyunggingkan senyuman miring dan tatapan yang mematikan, siapapun orang yang melihatnya akan kejang-kejang. Bisa-bisa orang itu mati mendadak.

“Milan, ini juga salahmu. Kau harus meminta maaf padaku dan mengobatiku. Ayolah bantu aku. Ini sangat sakit. Milan cantik~~” Baekhyun kembali membujuk Milan agar membantunya. Kali ini Baekhyun mengeluarkan jurusnya yaitu nada menggoda. Dengan jurus ini semoga saja Milan mau menolong dirinya.

“Sial! Nada menggoda itu membuat aku jijik gila. Kali ini kau tidak bisa membuka kunci di hatiku ByunBaek.” Batin Milan.

Milan menggeleng-gelengkan kepalanya, “No! Buktikan padaku jika kau pria, Tuan Byun.” Tantang Milania seraya memasang raut wajah yang seram.

Baekhyun tercekat dengan perkataan Milan. ‘Buktikan padaku jika kau pria’ kalimat itu terus mengelilingi otak Baekhyun. Setelah beberapa menit berfikir keras, Baekhyun tersenyum licik ketika mendapatkan sebuah ide yang menurutnya lumayan gila. “Ia meminta padaku agar aku membuktikan padanya jika aku seorang pria. Baiklah Baek kau akan membuktikannya sekarang. Tak peduli jika gadis itu akan menolak yang terpenting kau membuktikannya.” Ucap Baekhyun dalam hati.

Dengan sekuat tenaga Baekhyun bangkit dari tempatnya terjatuh di lantai. Dengan perlahan Baekhyun berdiri dan mengatur keseimbangannya. Ia sedikit melemaskan otot-ototnya yang agak kaku. Bersiap akan menunjukkan sesuatu pada Milania. Persetan dengan rasa sakit yang Baekhyun rasakan yang terpenting ia bisa menjawab tantangan gadis itu. Baekhyun sedikit pemanasan dan itu membuat Milan aneh. “Untuk apa pria ini pemanasan? Hendak latihan sepak bola?” Pikir Milan.

Baekhyun sedikit membungkukkan badannya berusaha mensejajarkan wajahnya dengan wajah Milan. “Kau ingin aku membuktikan jika aku seorang pria, Chagiya?” tanya Baekhyun sembari membelai rambut ikal Milania. Matanya tetap fokus memandang mata Milan setelah itu beralih ke bibir mungil gadis itu.

Milania kembali masuk keperangkap sebuah penjara milik seorang Byun Baekhyun. Milan terkunci LAGI saat ini. Walau tubuhnya masih bisa bangkit lalu berlari menghindar dari Baekhyun tetapi lagi tubuhnya tak dapat digerakkan setelah tangan Baekhyun yang saat ini sedang membelai wajahnya penuh kelembutan. “Jari Baekhyun begitu lembut. Hey apa yang kau pikirkan, Milania Van!!!” ungkap Milan dalam hati.

Tak hanya disitu, Baekhyun memajukan kepalanya mendekatkan bibirnya dengan kuping sebelah kanan milik gadis berparas agak orang barat itu. “Jadi, bagaimana hmmm? Apa kau bersedia, Baby?” nada berat Baekhyun membuat Milan mau tak mau memejamkan mata sambil meremas kain seprai dengan kencang terlebih lagi Baekhyun dengan sengaja menghembuskan nafasnya panjang dan menerpa kulit leher putih Milan membuat gadis itu lebih menutup matanya rapat dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Baekhyun-ssi?” ucap Milan dengan nada yang sedikit mendesah karena saat ini Baekhyun sedang mengecupi leher putihnya. Baekhyun sangat ingin menandai leher Milan dengan tanda kepemilikannya.

Milan mabuk dengan sentuhan seorang pria bermarga Byun ini. Terlebih dengan wangi tubuh Baekhyun dan nada menggodanya membuat Milania seakan merasa dialah orang gila di dunia ini.

Entah apa yang merasuki pikiran Milan hingga otaknya tidak bekerja seperti biasa. Seharusnya Milan menghentikan aktivitas Baekhyun yang sedang mengecupi eemm tidak lebih tepatnya menghisap kuat dan menggigit kecil lehernya. Tetapi Milan malah menikmati sensasi kecupan seorang Byun Baekhyun. Sensasi yang ia baru rasakan walau ciuman ini baru di lehernya saja. Belum di bibirnya.

Menurut Baekhyun mengecupi dan menghisap leher Milan itu rasanya seperti sedang menjilati es krim kesukaan Baekhyun yaitu paddle pop royal jelly #iklan. Sehingga membuat Baekhyun ingin lagi, lagi, dan lagi menikmati leher Milania. Baekhyun tidak dapat menghentikan dirinya untuk menjelajah tiap sudut bahkan inchi leher jenjang Milan. Hingga sekarang leher gadis itu sudah tergambar jelas warna ungu dan biru-biru yang nyata dari ulahnya. Baekhyun sudah berhasil mencetak kiss mark di leher Milan.

Baekhyun menjauhkan kepalanya dari leher jenjang Milania. Kini ia kembali mensejajarkan wajahnya dengan wajah Milan agar ia bisa melihat jelas bagaimana raut wajah calon kekasihnya itu. Raut wajah yang ketakutan, senang, dan tegang terlukis jelas di wajah Milania. Melihat itu semua Baekhyun merasa puas, lebih puas dari kegiatan menciumi leher Milan.

“Jadi bagaimana, Milan-ssi? Kau bersedia tidak?” Baekhyun menanyakan lagi hal itu pada Milan. Dengan pikiran yang masih belum bekerja normal, Milania hanya menundukkan kepalanya berusaha menyaring kembali apa maksud dari pertanyaan Baekhyun yang terbilang agak aneh menurut gadis itu.

Baekhyun tak ingin dihiraukan oleh Milan. Ia mengangkat tangan kananya menuju dagu runcing milik gadis keturunan Korea-Belanda itu. Ia mengangkat dagu Milan agar gadis itu bisa mendongakkan kepalanya. Mata Milan tengah terpejam dan pipi putih gadis itu menyemburkan warna merah merona membuat Baekhyun tersenyum selebar mungkin. “Gadis ini malu ternyata.” batin Baekhyun.

“Dia bilang ‘Kau ingin aku membuktikan jika aku seorang pria, Chagiya?’ apa maksud dari kalimat itu? Ayolah berfikir Milania! Tunggu apa maksudnya ia akan melakukan? Kyaaaaaaaaaaaaa! Dasar pria mesum!” rutuk Milan dalam batinnya.

Milania membuka matanya perlahan. Rasanya terasa berat seperti habis bangun tidur. Ingin rasanya setelah ini ia kabur tetapi sayangnya Baekhyun sudah mengunci tangan Milania dengan tangannya sendiri. Badan Milania tegang begitu saja ketika Baekhyun dengan sengaja menyentuh daerah sensitifnya. “ssssh.. Baekhyun, apa yang kau maksud itu? Dasar kau pria mesum.” Tanya Milan dengan nada serak tak karuan.

Baekhyun dengan sengaja menyentuh dan mengusap bibir Milan dengan tangan kirinya sekilas. Ia sangat ingin mencicipi bibir gadis itu sekarang juga, “Aku bukan pria mesum. Aku hanya akan menjawab tantanganmu. Kau ingin aku membuktikan jika aku seorang pria bukan?” Baekhyun menyunggingkan senyuman jahat bercampur jahil.

Mendengar itu semua Milania hanya membulatkan mata. Otak Baekhyun sudah terkontaminasi hal-hal yang jorok. Bukan itu yang dimaksud Milania pada saat Baekhyun meminta tolong padanya, gadis itu hanya bermaksud jika kau pria berdiri saja sendiri pria harus kuat. Tetapi Baekhyun justru salah pemikiran. Dasar otak yadong pikir Milan.

“Baekhyun!! Mengapa otakmu begitu jorok?!” geram Milan sembari meronta-ronta berusaha melepaskan genggaman kuat tangan Baekhyun. Kini pikirannya sudah pulih dan bekerja normal, tidak seperti tadi otaknya begitu lamban untuk bekerja. Layaknya otak Patrick yang tertukar.

Baekhyun mengakat sebelah alisnya, “Kau sendiri yang salah dalam pengucapan kalimat! Kau menantangku untuk membuktikan bahwa aku seorang pria dan aku akan menjawab semua tantanganmu agar aku tidak dipandang remeh!” jelas Baekhyun dengan nada sengit dingin yang menawan.

“Ya! Tetapi kau harusnya tahu maksudku, Baekhyun-ssi!” balas Milan dengan nada sengit melebihi Baekhyun. Milan memandang Baekhyun tak suka sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Baekhyun.

“Astaga. Aku baru menyadari. Pria ini menggunakan eyeliner begitu tebal!” batin Milan.

Baekhyun tak tinggal diam. Dia mengencangkan genggamannya supaya tawanannya tidak lolos. Milan tak tinggal diam juga, ia mengerahkan semua tenaganya untuk lepas dari penjara mengerikan seorang Byun Baekhyun.

“BAEKHYUN! LEPASKAN AKU!” seru Milan dengan dada yang naik turun karena tenaganya sekarang sudah menipis diibaratkan seperti orang yang habis berlari marathon 300 meter.

“Aku tidak akan melepask—AWWWW!” tangan kanan Baekhyun digigit keras oleh Milan. “Sial! Berdarah.” desis Baekhyun kesal mengamati luka dalam di lengannya. Dia harus merelakan tawanannya kabur begitu saja.

Setelah Milan menggigit tangan Baekhyun dengan sengaja, otomatis membuat pria bermarga Byun itu melepaskan genggamannya. Dengan cekatan Milan langsung menjauh dari tubuh Baekhyun, ia secepat mungkin menghindar dari pria mesum itu. Lebih tepatnya kini ia berada di ujung ranjang. Jarak Baekhyun dan Milania diperkirakan 100KM 1,5 meter.

“Aku ingin kita kembali ke topik pembicaraan, Byun Baekhyun. Anggap semua yang kau lakukan padaku itu hanya kekhilafan mu saja. Dan kita lupakan itu semua.” Ujar Milan sambil menekankan nadanya tiap kata. Ia ingin berbicara serius sekarang.

“Baiklah-baiklah. Aku takut kau menggigit tanganku lagi,” jawab Baekhyun dengan nada mencibir lalu melanjutkan perkataanya, “Lihatlah sampai biru dan bekas gigitanmu tercetak jelas disini.” Baekhyun menunjukkan lukanya ke arah Milan dengan antusias.

“Siapa peduli? Itu salahmu sendiri, Tuan Baekhyun.” tanggap Milan dengan raut wajah tanpa ekspresi seolah-olah tidak ada masalah.

Sejujurnya Milan lumayan miris melihat luka di tangan Baekhyun. Terkejut? Ya, siapa yang mengira tubuh mungil Milan ternyata menyimpan kekuatan seperti itu. Milan saja terperangah melihat ulahnya. Ada rasa bersalah dan rasa puas. Tetapi lebih dominan rasa puas meracuni perasaan gadis itu saat ini.

Baekhyun tak berkutik. Ia hanya memerhatikan luka ditangannya. Ia juga sudah malas jika berdebat permasalahan konyol dengan Milan.

“Di Belanda, kau tinggal dimana?” tanya Milan seraya mengambil minuman yang terletak di nakas sebelah kanan ranjang tidurnya. Semua ini sangat menguras seluruh energinya. Sedikit minum mungkin akan menambah sedikit tenaganya. Keringat dingin perlahan menuruni pipi Milania.

“Aku tinggal di sebuah apartement di Amsterdam sana. Semua ini aku jalani untuk dapat mengenalmu dan  belajar mencintaimu. Walaupun kau belum mengenalku dan belum mengetahui tentang perjodohan ini.” Baekhyun tersenyum simpul. Jujur. Baekhyun sangat gugup untuk menyatakan ini. Untuk menghilangkan kegugupannya, Baekhyun hanya bisa mengolah nafasnya dan sedikit mengayun-ayunkan kakinya.

Milan mendengus pelan tak membalas senyuman Baekhyun, “Mengapa aku tidak tahu semua itu? Kau mengintaiku? Kau memerhatikanku?  Aku tidak tahu itu semua. Jangan-jangan jika aku ke toilet, kau mengikutiku?” Milan langsung menghujani Baekhyun dengan pertanyaan. Itu membuat Baekhyun sedikit pusing.

Baekhyun memutar badan dan kini sepenuhnya menghadap Milania, “Aku ini orang jenius. Kau harusnya bersyukur mempunyai kekasih sepintar ini.” Ujar Baekhyun dengan bangga sambil menepuk-nepuk dadanya dengan tangan kiri.

Milan menggeleng kepalanya. “Kau jangan berbangga dulu, Baekhyun! Cihh~.” Milan melempar jam alarm berbentuk hati yang di pegang tangan kirinya ke arah Baekhyun dengan keras. Masih bisanya ia tertawa atas apa yang Baekhyun lakukan tadi di taman dan disini. Oh tidak jangan ingat itu lagi!

Dan TAP! Lemparan itu tepat mengenai kepala Baekhyun.

“Ya! Sakit!” Baekhyun mendengus kesal sambil mengusap-usap kepalanya. Ia menatap tajam gadis itu. Tatapan membunuh. Gadis ini makan apa? gumam Baekhyun.

“Ya, itu salahmu sendiri Baekhyun! Masih bisanya kau tertawa atas perlakuan yang kau berikan padaku di taman tadi siang dan disini.” Ia balas menatap lebih tajam mata Baekhyun. Baekhyun bergidik ngeri melihat tatapan gadis itu. “Crazy.” Desis Baekhyun.

Baekhyun menghentikan kegiatan mengusap-usap kepalanya. “Kau masih mengingat itu? Kau sendiri menyuruhku untuk melupakannya. Dan aku sudah melupakannya.” Balas Baekhyun tersenyum jahil. Baekhyun mendekati Milan hingga gadis itu mundur sedikit.

“He-hey! Jangan mendekat!” Milan lalu menghentikan gerak Baekhyun untuk mendekatinya dan bertanya, “Tapi jika aku tidak mau dijodohkan denganmu. Bagaimana?” Milan bertanya dengan nada dingin. Ia sengaja. Ia ingin melihat respon dari lelaki itu.

Baekhyun memandang mata Milan dengan pandangan yang penuh e..e.. gairah. Dasar pria mesum pikir Milan lagi.

“Benarkah kau tidak menyukaiku dan mencintaiku? Tadi aku dengar kau menyebutku tampan di taman belakang.” ujar Baekhyun datar lalu makin mendekatkan dirinya dengan Milan. Sontak membuat Milan kaget. Ia mundur dan mundur hingga ia terhenti karena tertahan tembok.

“Baekhyun! Berhenti disitu!” perintah Milan sambil menunjuk jari telunjuknya yang berarti Baekhyun harus berhenti disitu sekarang juga.

Bukan Byun Baekhyun jika ia akan menyerah begitu saja. Mata Baekhyun kini tertuju kembali pada bibir mungil gadis itu. Sama seperti di taman belakang tadi dan disini.

“A-a-apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Milan sambil menutupi bibirnya dengan kedua tangan. Suaranya sedikit teredam akibat tangan Milan menutup bibirnya.

Tangan kiri pria itu beranjak mendekat ke wajah Milan. Ia membelai rambut panjang Milan lalu mengusap pelan pipi gadis itu dengan tangan kanannya. Mata Milan terpejam lagi karena tak kuat dengan sentuhan Baekhyun. Ini membuat Milan lupa diri. Kini tangan Baekhyun mengusap lembut bibir mungil Milan lagi. Baekhyun mendekatkan bibirnya dengan telinga Milan.

“Aku ingin. Akulah orang yang merebut ciuman pertamamu, Chagiya.” Bisik Baekhyun membuat Milan geli. Lalu Baekhyun mengecup leher jenjang milik Milan sekilas.

“Kyaa~ DON’T KISS ME! Jangan cium leherku lagi. Lihat atas perlakuanmu! Leherku jadi biru-biru begini! What?” Milan terkesiap ketika mendengar ucapan Baekhyun tadi. Ia sontak mendorong dada Baekhyun untuk menjauh darinya.

“Hey! Kau tidak ingat dengan perkataanmu di taman belakang?” nada Baekhyun semakin meninggi. Ia juga menatap tajam ke arah Milan. Tatapan membunuh lagi.

“Perkataan apa?” tanyanya dingin dengan menjulurkan lidah seakan Baekhyun itu berbohong padanya.

“Kalimatnya seperti ini ‘Aku akan memberikan ciuman pertamaku dengan kekasihku kelak’.” Ujar Baekhyun dengan percaya diri. Karena memang benar. Milan berkata seperti itu tadi.

“E-e-e-e itukan hanya-hanya-hanya… Tangkap aku jika kau bisa wleee!” Milan dengan gesit langsung berlari untuk keluar kamar.

“Baiklah! Siapa takut!” tantang Baekhyun lalu mengejar Milania. Ia menerima tantangan Milan, karena Baekhyun yakin ia akan menangkap gadis itu. Tidak peduli dengan rasa sakit yang Baekhyun rasakan yang terpenting ia bisa mendapatkan gadis itu.

Tapi pada saat Milan sampai tepat di depan pintu kamarnya dan akan memutar kenop, pintu itu terkunci. “Pintu ini dikunci oleh siapa? Jangan-jangan oleh pria mesum itu.” pikir Milan.

“Kyaaa! Kenapa tidak bisa dibuka! Aigoo! Mati aku.” Ujar Milan dengan panik karena Baekhyun semakin mendekat. “Bagaimana ini!” gerutu Milan di dalam hatinya sambil menggigit jari telunjukannya supaya mendapat lampu terang menyala yang keluar dari kepalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

\^-^/ TBC \^-^/

Hi Readers~! Ketemu sama calon istrinya D.O ^-^ /bow/ *ditendangReaders *dibacokReaders

Gimana dengan chapter 2 nya? Semoga kalian suka yah ^^ .. Author udah buat semaksimal mungkin 😀 Jeongmal Mianhae kalau gak puas T^T || Maaf kalau masih pendek 😀 tapi menurut author ini udah panjang J || Inimah kaya side story ya ._. kagak ada cast lain kecuali Baek-Mil :P||

Jujur sama author *todong pistol*, kalian bacanya ngefeel sama bisa ngebayang  gak sih? Kalau author sih yes gak tau kalau mba Raisa ._. *kokjadiIndonesianIdol?

Memang bener Fanfiction ini bisa dibilang gak lebih dikata buruk -.- ceritanya abal gini ;_;  Author minta review dari kalian dong Readers ^^~  maklum aku masih author level rendah || Jujur author gak nyangka ternyata lumayan banyak yang komentar 😀 dan aku sudah baca semunya kok. Makasih ya J  /bow/  ||

Author berharap kalian gak bosen buat ngikutin kisah Milania sama Baekhyun atau Baek-Mil ^^ || Bahasa Inggrisnya amburadul ya? Emang ;_; author gak pandai Bahasa Inggris *aku rapopo*|| Aku gak bisa buat Summary/ Ringkasan jadinya gitu deh :v || Maaf jika masih ada kata-kata yang tidak baku dan ada typo. ||

FILM THE RAID 2 EMANG SADIS, TAPI DI READ DOANG LEBIH SADIS ! :v *cr : Meme & Rage Comic Indonesia *

Satu lagi makasih buat admin yang bertugas udah mau posting fanfiction abal ini 😀

Yaudah segitu aja yang ingin author sampein. Udah panjang-_-

Bye *lambai tangan*!! Sampai bertemu di chapter selanjutnya ya /bow/

-Gishafz Park (@ginashafanm)-

142 pemikiran pada “Don’t Kiss Me! (Chapter 2)

  1. Baekhyun suka banget deh menggoda Milania…..
    Ya ampun,gimana yah nasih Milan bila punya kekasih yang Byuntae seperti Baekhyun….
    lanjut thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s